Showing posts with label non-fiction. Show all posts
Showing posts with label non-fiction. Show all posts

Friday, August 29, 2014

Kedai 1002 Mimpi



 

Kedai 1002 Mimpi

Valiant Budi (@vabyo)

Gagas Media - 2014

384 hal.


Manusia itu kalo udah ngerasa yang namanya bebas merdeka, seharusnya merasa nyaman, aman dan damai … tentram gitu, gak perlu deg-degan … semua berjalan lancar. Tapi, adakalanya harga sebuah kebebasan justru perlu dibayar dengan rasa was-was dan teror.

Valiant Budi alias Vabyo berkisah tentang apa yang beliau alami setelah kembali ke Tanah Air dan menerbitkan buku Kedai 1001 Mimpi yang isinya tentang pengalaman Vabyo selama menjadi TKI di Arab Saudi. Membaca buku ini pasti bakalan menuai pro-kontra. Ada yang percaya, ada yang gak. Ada yang simpati, ada yang mencaci.

Gue pun ikutan miris, kalo baca komentar orang-orang yang kebetulan ketemu Vabyo tentang keadaan TKI di Arab Saudi sana. Meskipun banyak kisah duka, tapi toh, banyak yang gak kapok dan bahkan pengen meraih mimpi di sana.

Yang kontra, bukan hanya berkoar-koar via media sosia, entah dengan kata-kata manis atau dengan kalimat pedas yang bikin telinga merah dan sakit hati, tapi juga dalam bentuk teror, seperti ban mobil yang dikempesi, account facebook yang dibajak atau disenggol motor.

Di buku ini, tak hanya bercerita tentang mimpi buruknya selama tinggal di Arab Saudi, tapi juga suka duka tentang Warung Ngebul-nya.

Mungkin sih, kalo belum baca Kedai 1001 Mimpi, bakalan rada gak nyambung dengan sekuel-nya ini. Bisa bikin bertanya-tanya, kenapa Vabyo sampai resah, gelisah dan gundah … Tapi, gak melulu soal itu yang ditulis, ada juga tentang masa-masa liburan Vabyo di London – yang bikin iri itu …

Memang sih, kadang-kadang di antara bab satu dan yang lain suka rada gak nyambung, atau terasa lompat-lompat, tapi Vabyo tetap mampu bercerita tentang hal-hal yang bikin emosi dengan segala kerendahan hati. Setiap kali emosi, selalu di’ringankan’ dengan doa dan segala harapan positif. Simple aja, kalo kata Vabyo, setiap kali ban mobilnya dikempesin, akan ada senyum untuk tukang tambal ban. Di tengah kalimat-kalimat yang serius, Vabyo tetap menyelipkan humor.

At least, gue bisa belajar untuk selalu berpikir positif dan gak gampang nyerah atau emosi. Banyak orang yang cuma bisa ngomong, kasih pendapat berbusa-busa tanpa mau tau fakta dari sisi yang lain.

Semangat terus untuk Vabyo, cuekin orang-orang yang nyinyir itu … :D


Submitted for:

-          Baca Bareng BBI 2014
-          Lucky No. 14 Reading Challenge – category: cover lust

Wednesday, December 04, 2013

The Dahlmanac




The Dahlmanac: A Year with Roald Dahl, Fun Facts and Jokes

Quentin Blake (Illustration)
Puffin Books
156 hal
(via BukuKoe)

Memutuskan membeli buku ini tanpa tahu isinya apa. Tapi, ya sudahlah, cukup melihat nama Roald Dahl di cover-nya, gak perlu alasan apa-apa lagi. Isinya sangat menyenangkan, lucu dan menghibur.

Dibagi dalam tiap bulan, yang masing-masing bulan diawali dengan surat yang ditulis Roald Dahl untuk ibunya atau saudara-saudaranya.

Tapi ya, namanya juga Roald Dahl, apa yang berkaitan dengan beliau pastinya unik dan ajaib. Almanak ini tidak diawali dari bulan Januari, tapi dari bulan September, sesuai dengan bulan kelahiran Roald Dahl. Isinya hal-hal sederhana aja yang berkaitan dengan Roald Dahl dan karya-karya beliau. Juga ada fakta-fakta – ada yang penting, ada yang ‘gak penting’, tapi ya sudahlah, tetap asyik untuk dibaca.

Mau tau resep memasak buaya yang enak… ada di buku ini. Es krim dengan pilihan rasa yang ajaib… ada juga di buku ini.

Buat penggemar Roadl Dahl, buku ini wajib untuk dikoleksi.


Monday, November 18, 2013

The Laureate’s Party






The Laureate’s Party
Red Fox - 2000
128  hal.
(via Bukumoo123)
Terpilih sebagai penulis pertama untuk Children Laureate, Quentin Blake diminta untuk membuat daftar yang berisi 50 buku anak-anak yang berkesan untuk beliau. Menurut Quentin Blake, ada buku-buku yang begitu berkesan hingga beliau dewasa,  bahkan sudah terbit dengan edisi yang terbaru, ada juga buku-buku yang baru beliau kenal tapi bagus dan juga membuatnya terkesan. Layaknya sebuah pesta, maka Quentin Blake mengundang teman-teman lama – pengen  bernostalgia tentang masa lalu, dan juga teman-teman baru, yang rasanya pengen untuk dikenal lebih jauh.

Jadi di dalam buku The Laureate’s Party ini, Quentin Blake memberikan referensi 50 buku untuk anak-anak, yang terdiri dari picture books, story books dan poetry books.

Wah, dari 50 judul buku, ternyata banyak yang ‘asing’ untuk gue. Di antara pilihan Grandpa Blake ini, yang familiar untuk gue ada  Beatrix Potter di bagian picture books, lalu Stuart Little, - E.B White, Five Children and It – E. Nesbit, Northern Light- Phillip Pullman. O ya, ada juga referensi buku untuk anak-anak yang lebih tua – mungkin sekitar 10 tahun ke atas kali ya, beliau kasih beberapa judul, seperti: Great Expectation – Charles Dickens, Through the Looking Glass and What Alice Found There – Lewis Caroll, atau Huckleberry Finn – Mark Twain, dan gak ketinggalan bukunya Roald Dahl dong. Di antara sekian banyak buku Roald Dahl yang dibuat ilustrasinya oleh Quentin Blake, beliau memilih The Esio Trot.

Quentin Blake menuliskan kesan-kesan kenapa beliau memilih 50 judul buku tersebut – entah karena kesan ketika pertama kali baca, karena temenan sama yang nulis atau gambar ilustrasi bukunya, atau juga karena ilustrasinya dibuat sendiri oleh beliau.

Gak puas hanya 50,  Quentin Blake kasih lagi 20 judul buku sebagai tambahan – di antaranya Northanger Abbey – Jane Austen, Christmas Carol – Charles Dickens, Catcher in the Rye – JD Salinger, Wind in the Willows – Kenneth Grahame atau Lord of the Flies – William Golding

Meskipun bukunya gak masuk dalam daftar, Quentin Blake juga menyebut nama JK Rowling dan Jacqueline Wilson di dalam pengantarnya.

Di akhir buku ini, ada lembar-lembar kosong untuk menulis daftar buku-buku favorit kita sendiri. Sampai 50 gak ya? Selain tentu saja ada ilustrasi dari Quentin Blake, buku ini bisa jadi referensi untuk cari buku anak-anak.

Dalam program Children's Laureate ini, penulis yang terpilih mengadakan serangkaian kegiatan untuk mempromosikan buku anak-anak, misalnya mengadakan acara baca di sekolah, pameran buku, kolaborasi menulis buku dengan penulis lain. Intinya, untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak dan memberi penghargaan bagi bacaan anak.

Monday, October 28, 2013

The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More



The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More
Roald Dahl @ 1977
Puffin - 2011
213 hal.

Selama ini, gue hanya tau Roald Dahl itu nulis buku anak-anak, seperti Mathilda, Charlie & The Chocolate Factory, The Twits, BFG dan lain-lain (yah, karena ini yang baru ada terjemahannya). Tapi, ternyata, buku Roald Dahl itu banyak banget, dan ini gue tau setelah ikutan quiz di @HobbyBuku. Salah satunya adalah buku The Wonderful Story of Henry Sugar – yang merupakan kumpulan tulisan, fiksi dan non-fiksi. Thank you, Dewi, yang udah  mau dititipin buku ini.

Seperti halnya cerita-cerita Roald Dahl yang lain, pastilah terselip sebuah kisah yang ‘ajaib’. Meskipun ternyata, buku ini masih lebih ‘normal’ dibandingkan buku untuk anak-anak yang udah gue baca. Keajaiban dan segala hal yang absurd dalam buku ini masih lebih diterima.

Di dalam buku ini, beberapa cerita Roald Dahl ‘menekankan’ biar gak jadi orang yang serakah, misalnya di dalam cerita The Boy Who Talked with Animals, The Mildenhall Treasure dan The Wonderful Story of Henry Sugar.

Roald Dahl juga bercerita tentang ‘bullying’ di The Swan. Ini bener-bener bikin gue gemes. Kacau banget, dan kasus seperti ini banyak terjadi di masa-masa sekarang.

Yang menarik adalah tulisan Lucky Break- di sini Roald Dahl bercerita awal mulanya beliau menjadi seorang penulis. Ini mirip-mirip memoar singkat. Dan, ada tips-tips untuk yang mau jadi penulis. Kata Roald Dahl, tulis aja sedikit apa yang ada di kepala kamu, gak harus jadi satu cerita penuh, yang sedikit itu bakalan berguna suatu hari nanti.

Dan seandainya, Roald Dahl tidak bertemu dengan C.S Forester, mungkin A Piece of Cake – karya perdana Roald Dahl ini tidak akan pernah diterbitkan, dan kita gak akan pernah mengenal karya-karya Roald Dahl yang lain.

Well, as always, gue gak begitu bisa nulis ‘review’ kalo dari kumpulan cerpen or kumpulan tulisan. Tokoh-tokoh dalam buku ini semua tampak ‘normal’, gak ada yang ajaib macam pasangan The Twist, gak ada tokoh-tokoh yang jahatnya keterlaluan seperti Mrs. Trunchbull. Kalo mau dibilang rada ‘nyentrik’, adalah Henry Sugar, yang dengan kemampuannya ‘melihat tanpa melihat’ itu, mencoba menjadi seorang Robin Hood.

Tapi ya, gue agak bingung nih, mau masukin buku ini ke kategori anak-anak atau dewasa ya? Pesan moralnya sih oke buat anak-anak, tapi untuk cerita, rasanya masih terlalu berat. Bahkan, sejujurnya, ada bagian-bagian, di mana gue merasa bosan dengan cerita yang rada berputar-putar.

Dan… di dalam edisi ini, aku ‘kehilangan’ ilustrasinya Quentin Blake yang buat gue udah jadi salah satu ciri khas di buku-bukunya Roald Dahl.

Friday, September 27, 2013

Boy: Tales of Childhood



Boy: Tales of Childhood (Boy: Kisah Masa Kecil)
Roald Dahl @ 1984
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – September 2004
232 hal.

Menyenangkan membaca sebuah biografi yang ditulis dengan bahasa yang santai. Tidak membosankan, gak bikin ngantuk. Mungkin yang menulis seorang Roald Dahl, salah satu penulis cerita anak-anak favorit gue.

Menurut Roald Dahl sih, ini bukan biografi – Autobiografi adalah buku yang ditulis seseorang mengenai kehidupannya sendiri dan biasanya penuh detail yang membosankan. Aku tidak akan pernah menulis tentang sejarah diriku sendiri”  

Roald Dahl lahir tanggal 13 September 1916, sebagai anak laki-laki satu-satunya dan Dahl sangat dekat dengan ibunya. Semasa ia bersekolah dan mulai bekerja, Dahl selalu menulis surat untuk ibunya, dan disimpan dengan rapi oleh ibunya. Dalam buku ini ada beberapa gambar potongan-potongan surat yang dikirim Dahl untuk sang Ibu.

Di buku biografi bagian pertama ini berisi kisah sejak Dahl lahir dan semasa ia bersekolah di asrama. Hingga akhirnya lulus dan bekerja di Shell.

Sebagai anak kecil, Dahl juga suka iseng. Ia memberi ‘pelajaran’ untuk seorang penjaga toko permen yang selalu merengut setiap melihat anak-anak, atau memasukkan kotoran kambing ke dalam pipa tunangan kakaknya.

Sekolah tempat Dahl belajar begitu ketat menerapkan disiplin. Dan sejujurnya bikin gue ngilu dan sebal dengan sikap guru dan para pengawas yang semena-mena. Agar anak disiplin tak segan mereka menerapkan hukuman dengan cara memukul dengan rotan. Anak-anak juga nyaris tidak diperkenankan menyuarakan pendapatnya atau membela diri. Terkesan, jika kita membela diri, berarti guru yang salah. Dahl pun juga tak luput dari hukuman itu.

Lulus dari sekolah, ketika ditawari oleh ibunya untuk memilih melanjutkan ke Cambridge atau Oxford, Dahl lebih memilih untuk langsung bekerja. Ia mencoba melamar ke Shell – hal ini sempat mendapatkan komentar sinis dari kepala sekolahnya. Dan beruntung Dahl diterima di Shell. Alasan Dahl lebih memilih bekerja adalah agar ia bisa ditempatkan di tempat-tempat yang eksotis. Mungkinkah dari tempat eksotis ini, lahir kisah James and the Giant Peach atau, The Enormous Crocodile?

Kejadian-kejadian di masa kecilnya memberi inspirasi bagi buku-buku cerita anak-anak yang ditulisnya. Salah satunya adalah cokelat Cadbury yang mengilhami cerita Charlie and the Chocolate Factory.

Dan kalau gue pikir-pikir, ketika membaca sosok kepala sekolah yang kaku, matron yang galak dan guru yang senang dengan anak-anak yang mendapatkan hukuman, gue terbayang sosok Miss Trunchbull di Mathilda, atau sosok ibu yang hangat dalam gambaran Miss Honey.

Atau sosok menyebalkan lagi, seperti penjaga toko permen, mungkin digambarkan dalam tokoh The Twists atau neneknya George di George’s Marvelous Medicine?

Cerita anak-anak Roald Dahl dipenuhi dengan tokoh-tokoh yang ‘ajaib’ – begitu hitam putih. Yang salah akan berakhir dengan tragis, yang baik akan mendapatkan balasan yang setimpal. Roald Dahl juga mengajarkan anak-anak untuk mencintai hewan dan tentang indahnya sebuah persahabatan. Tapi emang sih, gak semuanya bisa langsung dibaca sama anak-anak sendiri, ada beberapa kisah yang sepertinya butuh orang tua sebagai pendamping.

Monday, November 26, 2012

The Not-so Amazing Life of @aMrazing




The Not-so Amazing Life of @aMrazing
Gagas Media, Cet. I - 2012
220 Hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Sebenernya gue gak terlalu tertarik dengan buku-buku seperti ini. Karena suka sok lucu, lebay dan norak. Tapi, dari hasil iseng-iseng baca di toko buku, koq, malah jadi penasaran pengen tau lebih lanjut apa isi buku ini. Akhirnya, gue pun beli deh buku The Not-so Amazing Life of @aMrazing yang bercover cerah ini.

Pengalaman seorang Alexander Thian selama ia menjadi penjaga counter hp di salah satu mall. Alexander Thian, yang di dunia twitter dikenal dengan nama @aMrazing, juga pernah menyumbangkan ceritanya di buku Cerita Sahabat.

Bayangin kalo kita lagi jalan-jalan di salah satu mall yang penuh dengan counter-counter penjual HP, bisingnya mbak-mbak dan mas-mas yang saling becanda dan menggoda, beradu dengan suara musik yang ‘jedag-jedug’. Kadang kalo ngomong harus bervolume keras, saking berisiknya. Kebayang suasana kaya’ begini, pasti pengaruh banget dengan mood orang-orang yang kerja di sana. Belum lagi ketemu pelanggan yang ajaib, bawel, ngeyel plus ngeselin dan kadang bergaya seperti OKB tapi gaptek dan sok tau.

Yang seperti ini, bisa dibaca di cerita ‘Maria Kere vs Selin Dion’, ‘Kondom Ona Sutra’, ‘Fesbuk of Fesbuk’, atau ‘Napas dari Neraka’. Rata-rata pelanggan yang ngeselin ini, ulahnya adalah minta hp-nya diisiin lagu yang banyak, tapi minta discount, atau salah nyebutin nama penyanyi tapi keukeuh kalo dia yang bener, punya handphone canggih, tapi gak tau cara makenya, yang penting gaya dan bisa facebook-an.

Tapi, ternyata di antara cerita-cerita yang lucu ini, ada beberapa kisah yang membuat terharu. Seperti kisah: ‘Dummy Seharga 2 Juta’, ‘Nggak Canggih, Nggak Gaya? Nggak Gaul!’, ‘Don’t Judge The Heart by The Look’ atau ‘Jujur itu Mahal’. Sedih rasanya membaca cerita seorang bapak yang ditipu, pengen beli handphone buat anaknya yang autis, eh, malah dapet hp dummy, atau berasa pengen teriak-teriak di depan seorang anak yang pengen banget minta dibeliin handphone canggih demi gaul dan gaya di depan teman-temannya.

Well, at least, buku ini gak hanya berisi cerita yang bikin ketawa-ketiwi gak jelas, tapi juga bisa membuat pembacanya melihat hal yang lain. Tapi, cara @aMrazing bercerita emang terkadang bikin pengen jitakin pelanggannya satu-satu karena ngeselin. Tapi sayangnya nih, kadang-kadang @aMrazing menggambarkan pelanggan perempuan rada-rada ‘seronok’. Entah emang bener begitu, atau dilebih-lebihin…

Gue kasih 3 hyena deh buat nemenin @aMrazing kalo mau jaga counter lagi.

Thursday, May 31, 2012

Garis Batas



Garis Batas
GPU – April 2011
510 hal
(Hadiah #GPU100 dari @Gramedia)


untuk Mama di surga tanpa batas

Halaman persembahan dengan kalimat yang membuat gue terharu. Betapa besar cinta seorang Ibu, mendoakan anaknya yang berada di negeri ‘antah-berantah’.

Jika di Selimut Debu, Agustinus Wibowo berkunjung ke Afganistan, sebuah negara yang rawan dengan ‘ranjau’. Di Garis Batas, ia menjelajah negeri-negeri Asia Tengah yang dulu bersatu di bawah naungan Uni Soviet – sebut saja Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Dulu, kalau ngeliat atlas, ngeliat Uni Soviet itu besarrrr banget. Rasanya mungkin menghabiskan setengah halaman dari atlas itu sendiri. Berada di dua benua – Eropa dan Asia (inget kalo dulu ada salah satu pertanyaan kalo ulangan: sebutkan negara yang berada di Eurosia?) Negeri yang dingin – itu yang ada di benak gue – dingin dalam arti cuaca, tapi juga orang-orangnya (berdasarkan pengamatan di foto atau ngeliat di film). Udah gitu, ini negara kaya’nya jagoan banget kalo pas Olimpiade.

Tapi apa iya, setelah mereka masih hidup ‘makmur’ setelah Uni Soviet terpecah dan menjadi negara-negara kecil. Apa iya mereka masih ‘sekuat’ dulu?

Setelah terpecah-pecah, mereka yang dulunya hidup dalam satu negara besar kini menetapkan otoritasnya masing-masing, menentukan batas-batas negara mereka dengan birokrasi yang ribet dan penuh dengan korupsi.

Gue gak akan membahas negara-negara yang dikunjungi Agustinus Wibowo ini satu per satu. Tapi secara garis besar, negara-negara ini hidup dalam kesusahan. Korupsi merajalela, para pria kebanyakan kongkow-kongkow di warung minuman dan mabuk, malas bekerja.

Dari segi fisik sih, perempuannya cantik-cantik, laki-laki juga ganteng… tapi ya itu, ternyata si cowok-cowok ini kebanyakan ‘pemalas’. Meski mengaku beragama Islam, terkadang mereka sama sekali gak merasa perlu sholat atau baca Al-Qur’an. Bahkan mereka gak tau arti syahadat. Bahkan saat Idul Fitri pun tak terasa kalau hari itu adalah hari yang istimewa.

Sejarah yang hebat menjadi latar belakang yang menarik dari negara-negara ini. Keriuhan di pasar-pasar mungkin jadi gambaran perdagangan Jalur Sutera. 


Yang menarik adalah negara terakhir – Turkmenistan. Hehehehe.. aduh terus terang ya, gue ngikik geli baca bagian ini. Membayangkan betapa narsisnya sang pemimpin. OMG … bahkan saat nulis ini pun gue senyum-senyum geli. Gimana gak narsis… Patung emasnya berdiri tegak dan dapat berputar! Foto-nya di mana-mana, tari-tarian, lagu-lagu dan segala puja-puji bagi sang Turkmenbashi. Bahkan ada kitabnya sendiri yang mungkin posisinya lebih tinggi daripada kitab suci. Aduh..duh..duh.. Foto di depan patung jadi salah satu tempat yang wajib untuk para pengantin baru.

Memang sih, dibandingkan dengan Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan dan Uzbekistan,  Turkmenistan bisa dibilang lebih ‘makmur’. Pendidikan gratis, gedung-gedung megah dengan air mancur, jalanan mulus. Pemandangan yang menyilaukan mata. Tapi, eitss.. tunggu dulu… itu di tengah kota. Coba melongok sedikit ke bagian belakang gedung, masih ada juga pemukiman kumuh.
O ya.. yang ‘unik’ lagi adalah perbatasan antara di mana satu bangunan rumah bisa berada di dua negara. Yang tinggal di rumah itu, bisa makan dan tidur di Negara yang berbeda. Perbatasannya hanyalah sebuah gang kecil yang sepertinya gampang banget ‘diselundupi’.

Ternyata ya, sebuah Negara yang selama ini bersatu, begitu terpisah-pisah oleh garis batas langsung berubah drastis segala aspek kehidupannya. Dan yang tadinya rukun, tiba-tiba bisa saling menjelekka dan merasa dirinya lebih baik daripada yang lain.

O ya, selain bercerita tentang keluh kesah, pengalaman selama perjalanan, di buku ini, Agustinus Wibowo juga bercerita tentang kisah pribadinya menjadi warga keturunan Cina di Indonesia. Tentang diskrimninasi yang ia dan keluarganya alami.

Tau gak sih, kalo baca Selimut Debu dan Garis Batas, hehehe.. kadang gue kasian sama Agustinus Wibowo ini… abis kadang sepertinya menderita banget.. entah karena nyaris ditangkep polisi, ‘diperas’, ditinggal sama mobil angkutan, udah gitu, kalo pun di mobil, jangan bayangkan itu mobil travel yang oke, tapi truk atau bis yang desek-desekan, kadang mogok dan harus ikutan dorong. Belum lagi, pengalamannya naik keledai… Uang pas-pasan, tidur di warung-warung.. belum lagi ngurus perijinan yang ribet.

Tapi, mungkin semua itu terbayar dengan pengalaman yang pastinya belum semua orang mau menjalaninya.

Monday, February 06, 2012

The Naked Traveler #3

Link
The Naked Traveler #3
Trinity
B – First (2011)
324 hal.
(hasil swap sama @ayund)

Setelah beredar cukup lama, baru sekarang gue akhirnya bisa membaca buku The Naked Traveler #3. Biarpun udah ada bukunya, gue masih cukup rajin buat menengok blog-nya TNT ini. Masih tetap, membuat *ngeces*. Tapi kalo kata Trinity , “Worrying get you nowhere.” Jadi jangan hanya ngeces atau iri, ayo.. segera bikin planning untuk berlibur.

Tapi… yah.. apa boleh buat.. sementara belum ada kesempatan untuk berlibur, gak ada salahnya baca-baca ceritanya Trinity dulu. Masih tetap menghibur dan lucu – malah gak terlalu garing kaya’ dulu. Buat gue, humornya malah lebih segar. Trinity gak malu untuk mentertawakan diri sendiri.

Di buku ketiga ini, tampaknya pembagian bab atau cerita lebih teratur dan sistematis. Membuat pembaca jadi lebih gampang mengikutinya. Gak campur aduk atau berulang-ulang seperti yang gue temui di buku pertama. Mungkin karena Trinity udah lebih canggih dalam menulis.

Gara-gara semakin nge-top dengan TNT-nya atau makin terkenal sebagai travel writer, Trinity kerap mendapat kesempatan istimewa. Sebut aja, berhasil masuk Metro TV plus jalan-jalan ke Sumba gratis.

Cerita yang paling kocak (plus menjijikan) adalah cerita tentang betapa joroknya orang-orang di Cina Daratan, plus cerita tentang Poo Pants Man. Satu lagi yang lucu adalah cerita tentang kendala bahasa di Cina.

Gak hanya bertabur cerita jalan-jalan ke luar negeri, Trinity juga mengajak kita untuk jalan-jalan di Indonesia, dan pengen membuat kita sadar, kalo di Indonesia juga banyak tuh tempat-tempat yang bagus. Jangan demi gengsi atau ‘naik status’ di Facebook atau Twitter, kita terus-terusan milih tempat berlibur ke luar negeri. Dan yang pasti, jangan males browsing atau cari info.

Yuk.. jalan-jalan….

Monday, January 30, 2012

Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia


Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia
Luigi Pralangga @ 2011
Penerbit Qanita, Cet. I – November 2011
332 Hal.
(swap sama Alvina)

Bekerja di PBB rasanya suatu hal yang keren. Kantornya di Amerika gitu lho… Selama ini kan, kalo ngeliat di film-film, kaya’ya keren banget.. gak semua orang bisa ngator di situ, bahkan pasti susah banget buat masuk ke gedung PBB.

Nah, tersebutlah Luigi Pralangga – yang menyebut dirinya sebagai Ondel-Ondek Nekat di buku ini. Ia beneran nekat melepas pekerjaan di sebuah perusahaan telekomunikasi bergengsi di tanah air demi berjuang di Amerika. Padahal selama ini tempat tujuan impiannya bukanlah Amerika, tapi Kanada. Yah, dengan pikiran positif, Luigi nekat berangkat.

Di Amerika, kerjaan gak langsung enak. Lagi-lagi modal nekat, dan pe-de yang sangat tinggi, akhirnya membuat Luigi berhasil menembus berbagai test dan resmi berkantor di salah satu kantor perutusan/perwakilan Indonesia di PBB. Tapi, ternyata Luigi bukan jadi pekerja kantoran di belakang meja., ia tergabung dalam sebuah misi sebagai ‘peacekeeper’, salah satunya adalah misi di Irak, yaitu tergabung dalam misi inspeksi Senjata Pemusnah Massal (mengerikan bukan?). Dan selanjutnya, ia bergabung dalam UNMIL – misi perdamaian dan kemanusiaan untuk Liberia.

Sebagaian besar buku ini bercerita tentang kehidupan Luigi di Negeri Bau Kelek (yuksss….), negeri yang orang-orangnya berkulit maghrib alias gelap (ooppss… maaf untuk yang berkulit gelap.. bukan gue lho yang nulis.. gue hanya ‘mengutip’).

Sebagaiman Negara yang sedang konflik, kehidupan di sana jauh dari yang namanya enak. Harga serba mahal, lebih miris lagi melihat anak-anak dan para perempuannya. Anak-anak bersekolah dengan membawa bangku sendiri, memakai seragam yang warnanya sudah pudar dan sekolah yang kondisinya menyedihkan. Itu baru sebagian yang beruntung bisa sekolah. Yang lainnya, terpaksa membantu orang tuanya berjualan di pasar, dengan baju yang robek sana-sini. Para perempuan juga bekerja sambil membawa anak-anak mereka yang masih bayi. (mungkin gak jauh beda dengan kondisi di beberapa tempat di Indonesia kali ya)

Tapi mereka ternyata juga mengenal ajang “Miss-Miss’an lho… adanya Miss Liberia dipergunakan sebagai salah satu sarana untuk menyerukan perdamaian. Tugas si Miss Liberia ini menyampaikan berita di kota untuk para penduduk desa, atau sebaliknya.

Yang membuat pekerjaan ini semakin terasa berat adalah harus berjauhan dengan keluarga. Apalagi saat bulan Ramadhan… duh.. rasanya ‘perihhh’… hehehe

Pengalaman yang unik, yang patut di-share ke banyak orang. Untuk memotivasi terutama para kaum muda. Tapi, buat gue, cerita di setiap bab terasa terlalu singkat. Entah mungkin banyak yang pengen diceritain, daripada bukunya ketebelan, jadi diceritakan sesingkat mungkin plus bonus banyolan yang kadang garing, tapi bikin bingung.. apakah ini beneran ataukah khayalan penulis.

Ini pertama kali gue membaca buku bertinta biru. Gak masalah sih. Font-nya besar, jadi enak bacanya. Tapi yang rada bikin ‘masalah’ adalah foto-fotonya. Beberapa ukuran terlalu kecil, dan gak jelas gambarnya apa. Apalagi objek fotonya ‘berkulit gelap’, jadi menambah ketidakjelasan foto itu.

3 ondel-ondel nekat untuk buku ini.

Silahkan kalo mau kenalan sama si Ondel-Ondel Nekat ini di http://pralangga.org/

Thursday, December 29, 2011

Life Traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Windy Ariestanty @ 2011
Gagas Media – Cet. I, 2011
382 hal.
(via Gramedia Pondok Indah Mall)


"Home is a place where you can find your love, young girl"
(hal. 350)

Semoga gak berlebihan kalo gue bilang, gue menemukan buku yang bagus untuk menutup tahun 2011. Membaca buku ini, gue seolah menemukan sesuatu untuk me-recharge otak gue, energi gue dan berpikir lebih positif menuju tahun 2012.

Banyak hal menarik yang gue temukan sejak gue membuka lembar pertama buku ini. Pertama, daftar isi yang seolah ditulis dengan tulisan tangan, ilustrasi yang cantik, pembatas buku yang seperti potongan boarding pass, plus foto-foto yang keren. Ditambah lagi berbagai tips seputar traveling dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di negara-negara yang ada di buku ini.

Buku ini bukan sekedar buku ‘traveling’ yang hanya memuat info tempat-tempat wisata (ini sih yang terbersit di benak gue pada mulanya, apalah bedanya buku ini dengan buku traveling lain?). Tapi, salah satu cerita di dalam buku ini pernah dimuat di majalah Cleo, dan ini yang mengubah pikiran gue tentang buku ini.

Sepertinya, seorang Windy tidak hanya melakukan perjalanan untuk sekedar bersenang-senang, liburan, tapi juga mencari sesuatu yang untuk mengisi batin (aduh.. bahasa gue…). Baginya, berkenalan dengan orang asing – terutama penduduk setempat – akan memberi nilai lebih dalam sebuah perjalanan. Gue ‘menangkap’ persahabatan yang hangat, ketulusan dan kebahagiaan. Mencoba mencari makna apa artinya ‘pulang’, apa artinya ‘cinta’.

Banyak quote yang bagus, rasanya pengen gue share di sini semua… tapi, kalo ditulis semua… gak seru lagi dong…

Gue mau membuat satu pengakuan…. “bukan buku romance menye-menye yang membuat gue menangis, tapi… buku ini… berhasil membuat gue menitikkan air mata.” Beneran…. Membaca salah satu cerita, tentang bagaimana orang yang sebelumnya ‘asing’, ternyata mampu menawarkan sebuah kehangatan yang tulus.

Dua tulisan terakhir, tak kalah menarik. Windy mengajak dua sahabatnya, Dominique dan Yunika untuk ikut berbagi.


"Tapi saya tidak merasa sendirian. Tidak kesepian. Dan tidak pula merasa terasing
Saya ada bersama mereka. Ya, mereka. Orang-orang yang saya temui di perjalanan

And… I call them: family."

(hal: 158 – 159)

Friday, October 28, 2011

Tweets for Life

Tweets for Life: 200 Wisdoms for a Happy, Healthy, and Balanced Life
Desi Anwar @ 2011
GPU - 2011
428 Hal
(dari kuis #tweetsforlife – via @Gramedia)

Hmmm… untuk menulis ‘review’ buku ini, gue berpikir keras. Buku yang susah buat gue untuk di-review. Ya sudah… cerita dulu aja deh. Buku ini, gue dapet dari hasil menang kuis #tweetsforlife di twitter-nya Gramedia Pustaka Utama. Dapetnya pas di hari terakhir, malah, gue gak ngeh kalo gue menang. Sebenernya, gue juga punya kesempatan untuk dateng ke acara lauching buku ini di Kinokuniya Plaza Senayan, tapi sayang, pas hari itu, Mika sakit, jadi terpaksa gue pulang cepet. Padahal, berharap bisa sekalian minta tanda tangan di buku ini.


Always make time to read a good books.
It adds depth to our thinking and feed our our imagination
(Sediakan selalu waktu untuk membaca buku yang bermutu, karena dapat memperkaya pemikiran and daya khayal kita)

Hal. 50

Fisik bukunya kecil, covernya berwarna kuning, gambar bunga (salah satu hasil jepretan Desi Anwar saat beliau jalan-jalan ke luar negeri – lupa ini diambil di mana). Setiap halaman, ada satu kalimat tweet-nya, plus foto-foto yang cantik.

Buku ini adalah kumpulan-kumpulan tweet-nya Desi Anwar. Awalnya, beliau hanya nge-tweet hal-hal yang remeh-temen, kaya’ hari ini makan apa, tweet pas lagi macet di jalan. Tapi, lama-lama, semakin banyak follower, mau gak mau beliau merasa ‘bertanggung jawab’ untuk men-tweet hal-hal yang lebih bermakna. Makanya lahirlah #tweetsforlife ini.

Always have a book handy.
A good books is a good friend
(Bawalah selalu buku ke mana pun kita pergi, karena buku dapat menjadi teman setia)

Hal. 76


Ditulis dalam dua bahasa – bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Terdiri dari tiga bagian: (1) Taking Care of Your Body (Memelihara Tubuh), (2) My Self and Others (Saya dan Orang Lain) dan (3) Peace Within (Kedamaian di Hati)

Nah, saat nulis ini nih, gue membayangkan momen yang ‘pas’ untuk baca buku ini. Lagi hujan-hujan – jangan lebat sih hujannya, ada angin sepoi-sepoi, duduk deh di teras (kalo ada pake kursi goyang lebih pas), jangan lupa sediain teh atau kopi. Terus, baca deh buku ini… pelan-pelan aja… Setiap kalimat harus dicerna pelan-pelan, diresapi biar bisa nangkep maknanya. Jangan lupa, nikmati juga berbagai foto yang melengkapi tweet itu (atau tweet yang melengkapi foto itu… terserah aja sih, kata Desi Anwar, mana yang enak menurut pembaca). Buku ini pas untuk koleksi atau kado.

Monday, October 17, 2011

Selimut Debu

Selimut Debu
Agustinus Wibowo
GPU – Januari 2010
461 Hal.
(swap sama melmarian)

Selama membaca buku ini, sejujurnya, gue hanya bisa ‘bengong’, mencoba membayangkan perjalanan seorang Agustinus Wibowo. Dari beberapa buku bergenre ‘travel’ yang pernah gue baca atau artikel di majalah, nyaris semua pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan, bikin iri dengan segala foto-foto yang indah, makanan yang enak-enak dan akomomodasi yang memadai. Ya, sebut aja, tempat-tempat di Eropa, atau Bali, Pulau Komodo, bahkan negara-negara di Afrika pun, tampaknya masih lebih menyenangkan kalau membaca tentang wisata safari-nya meskipun deg-degan, takut kalo-kalo ketemu singa laper.

Tapi, ke Afghanistan, sebuah nama yang kalau gue baca koran atau liat berita di tv isinya perang, bom, penculikan dan segala teror lainnya. Rasanya rada gak ‘waras’ kalo ada orang yang nekat ke sana dengan tujuan melihat ‘keindahan’.

Ke negeri penuh debu itu, seorang diri, dengan modal yang ‘terbatas’, Agustinus Wibowo menelusuri hampir seluruh pelosok Afghanistan. Duh, membaca petualangannya, rasanya miris banget. Mengenakan pakaian tradisional penduduk yaitu shalwar qamiz yang kumal, tidak mandi berhari-hari, tidur menumpang di kedai teh, bepergian dengan truk atau jip yang bolak-balik mogok, bahkan pernah naik traktor. Jalannya tentu tidak mulus – lubang besar-besar, kiri-kanan jurang atau harus menyeberang sungai. Belum lagi, kecopetan dan diperlakukan tidak ‘senonoh’. Apalagi, bepergian di tanah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, bagi seorang Agustinus Wibowo yang non-muslim, masalah agama jadi hal yang sensitif. Meskipun mayoritas orang-orang yang ia temui tergolong baik hati, karena mereka selalu memperlakukan orang asing sebagai tamu, tapi ada saja yang berusaha memerasnya dengan mengenakan tarif kendaraan dengan harga yang tak masuk akal, sengaja ditinggal ketika sedang tidur.

Tapi, ternyata, di balik ‘penderitaan’ dan kesusahan itu, ia bisa melihat keindahan dan keanekaragaman budaya Afghanistan. Mengenal berbagai etnis di Afghanistan, Mendengar penduduk yang saling menjelekkan etnis satu dengan yang lainnya.

Bertualang dengan cara seperti ini, membuat Agustinus Wibowo jadi lebih mudah berinteraksi dengan penduduk setempat. Menginap di rumah penduduk, ia menangkap mimpi-mimpi mereka, mendegar kegetiran dan penderitaan mereka. Sejarah masa lalu yang kelam, penuh dengan perang,

Ada perempuan tak bernama karena selalu terbungkus burqa, tapi di desa lain, perempuan justru berpakaian warna-warni dan bebas bekerja di luar rumah. Peninggalan bersejarah yang dihancurkan, atau kalau pun ada tampak terlupakan.

Akhirnya… kesampaian juga baca Selimut Debu. Buku ini sudah lama ada di wishlist gue. Gue mendapatkan sebuah ‘pandangan’ baru tentang Afghanistan. Pengetahuan gue yang minim, jadi bertambah. Foto-foto yang keren hasil jepretan Agustinus Wibowo membantu untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Gue *speechless* ...

Monday, October 03, 2011

Kedai 1001 Mimpi

Kedai 1001 Mimpi
Valiant Budi
Gagas Media, Cet. I - 2011
444 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Kecintaan pada dongeng 1001 Malam, membuat seorang Valiant Budi nekad untuk menjadi TKI di negeri Arab Saudi. Kenapa memilih ke sana? Ya itu, salah satu alasannya. Akhirnya, ia pun nekat mengirim lamaran sebagai barista di kedai kopi international di Arab Saudi. Tak peduli banyak kisah miris tentang TKI yang selama ini sering terdengar di berita-berita di tanah air. Proses keberangkatan juga tidak mudah, bolak-balik medical check-up dan penantian yang cukup panjang sampai akhirnya Valiant Budi benar-benar berangkat ke tanah Arab.

Valiant Budi – atau di sana akrab dipanggil Vibi – akhirnya bekerja di sebuah kedai kopi bernama Sky Rabbit. Mungkin kalau dibaca, rasanya Vibi ini kesellll terus sepanjang ada di sana. Maunya marah-marah aja. Mulai dari disebut ‘Indunisi’, sering dikira orang Filipina, dikejar-kejar lelaki Arab yang punya kelainan, pelanggan yang gak sabar, sok tau, boss dan rekan sekerja yang gak kalah ngeselin. Kenalan dengan sesama TKI yang juga punya kisah gak kalah ajaib.

Semua jadi satu… culture shock. Gak nyangka di tanah Arab, tempat agama Islam diturunkan, justru segala bentuk kejahatan ada di sana. Hukum dan peraturan gak berlaku untuk warga asli. Sementara warga pendatang, salah sedikit langsung dihukum. Hati-hati banyak muttawa atau polisi gadungan berkeliaran. Susah ngebedain antara yang asli dan yang palsu. Termasuk pasangan muhrim palsu. Karena perempuan pada pakai cadar, jadi gak ketauan deh yang digandeng itu istri beneran atau selingkuhannya. Hehehe…

Di waktu luangnya, Vibi menulis blog dengan tema ‘Arabian Undercover’ yang ternyata menuai caci-maki dan ancaman.

Terlepas dari buku ini, meskipun banyak kisah-kisah menyedihkan dan tragis yang sering kita dengar, entah itu pembantu yang disiksa majikan, pembantu yang dihukum karena kesalahan kecil aja. Dari yang terbaca di sini, orang-orang Arab ini jago ngeles, jadinya, biarpun mereka salah, pada akhirnya, tetap aja si pembantu (baca: TKI) yang jadi salah dan akhirnya dihukum. Tapi, kenapa tetap banyak yang tergoda untuk pergi ke sana, faktornya adalah karena uang, hasil yang ‘berlimpah’ yang bisa dikirim ke kampung. Asal mau ‘menuruti’ keinginan majikan, uang dan kemewahan lainnya akan terjamin. Misalnya mau dijadikan istri yang kesekian, mau ‘diapa-apain’ aja sama majikan, atau bahkan ketemu Om-om Arab di tengah jalan pun bisa langsung dapat uang banyak – asal ya itu, mau diajak ‘ngapain’ aja sama Om-om Arab itu.

Belum lagi, orang-orang Arab yang merasa dirinya kaya banget itu sering bersikap arogan dan merendahkan orang-orang pendatang. Udah ngerasa paling oke, tapi ada aja akalnya, dari norak sampai yang ajaib.

Gak heran sih, kalo Valiant Budi ini, bawaannya kesel dan marah-marah aja. Tapi, gue bolak-balik ketawa, senyum-senyum saat membaca buku ini. Kadang kasian, tapi karena ditulis dengan gaya yang kocak jadinya antara terenyuh, kasian tapi pengen ketawa. Siap-siap tersenyum kecut, senyum geli atau malah 'jijay'. Foto-foto yang sedikit gak terlalu penting buat gue, karena di sini yang ditulis bukan kisah jalan-jalan ke Arab.

Friday, September 30, 2011

Around the World in 80 Dinners

Around the World in 80 Dinners
Cheryl & Bill Jamison
Kania Dewi (Terj.)
Gagas Media, Cet. II - 2010
384 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Cheryl & Bill Jamison, penulis buku masakan yang kerap melalang buana ke luar negeri untuk berwisata kuliner. Karya-karya mereka sudah diakui dengan beberapa penghargaan di bidangnya. Nah, kali ini, kembali mereka membuat rencana untuk berwisata kuliner ke 10 negara, dengan menggunakan fasilitas frequent flier miles mereka. Perjalanan ini akan memakan waktu selama 3 bulan.

Setelah dipilah-pilah, dipilih-pilih, akhirnya mereka berdua memutuskan 10 negara itu adalah: Indonesia - tempat yang dipilih adalah Bali, Australia, Kaledonia Baru, Singapura, Thailand, India, Cina, Afrika Selatan, Perancis dan berakhir di Brazil.

Dimulailah petualangan pertama mereka di Bali. Sebuah boneka kertas bernama Flat Stanley setia menemani mereka selama perjalanan. Namun malang, nasib Flat Stanley pertama berakhir di tangan kera nakal di Monkey Forest

Tidak hanya restoran-restoran mahal dan ternama yang mereka cicipi, tapi juga makan di sea food di tenda-tenda di Singapura, makan bebek betutu masakan rumah di Balii dan semua itu memberi pengalaman tersendiri untuk mereka. Mereka berdua gak ragu untuk melihat-lihat pasar tradisional dan mencicipi makanan yang aneh-aneh.

Namun, gak selamanya perjalanan mereka mulus. Selain insiden flat Stanley, Cheryl dan Bill sempat terserang demam, ketinggalan kartu ATM dan nyaris kehilangan uang dan paspor gara-gara Bill yang ceroboh meninggalkan jaket di kamar mandi. Belum lagi kemacetan di beberapa tempat dan makanan yang terkadang kurang memuaskan.

Di akhir setiap cerita perjalanan mereka, Cheryl dan Bill membuat sebuah rangkuman tempat di mana mereka menginap, makan dan yang mereka kunjungi. Plus sebuah resep salah satu makanan yang mereka cicipi. Hmmm… lebih oke, kalo resep ini juga dikasih foto kali ya.

Agak pusing sebenernya baca buku ini, terlalu banyak informasi tentang tempat wisata dan makanan, tapi gak punya bayangan, kaya’ apa wujud makanan itu sendiri. Foto-foto yang ditampilkan juga minim banget, kalo pun ada, kecil dan gak berwarna. Terlalu banyak yang mau mereka sharing, buat orang awam kaya’ gue, jadi akan membingungkan.

Meskipun begitu, buku ini sukses membuat gue pengen makan mie tom yam yang seger… pengen es kacang yang menggunung itu… pengen makan sea food tenda di Benhil… pengen makan kare...

Mau liat foto-foto yang lebih lengkap dan berwarna tentunya, bisa berkunjung ke website mereka di: http://www.cookingwiththejamisons.com/

Wednesday, May 18, 2011

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)
Ligwina Hananto @ 2010
Literati – Cet. III, Maret 2011
240 Hal

Apakah anda termasuk orang yang punya gaji tapi selalu habis gak tau ke mana? Mampu beli buku, makan di resto, weekend ke mall, nonton di 21, berlibur – tapi gak punya tabungan? Selamat… berarti anda termasuk yang ‘wajib baca buku ini’. Golongan seperti ini – termasuk gue – yang disebut mbak Ligwina dengan Golongan Menengah.

Nah, di buku ini, beliau mengajak kita untuk ‘berpikir’, berhitung dan lebih aktif dalam mengatur keuangan pribadi kita. Mencoba untuk menjadikan Golongan Menengah jadi ‘barisan’ yang kuat. Karena Golongan Menengah inilah yang nantinya akan membentuk Indonesia di masa depan.

Mungkin bakalan ‘stress’ dan pusing melihat angka-angka yang dipaparkan di sini. Bisa membuat kita ternganga, dan langsung berhitung, berapa banyak yang harus kita tabung dengan kata lain juga, berapa banyak kita harus ‘mengorbankan’ gaya hidup kita sekarang – tapi hasilnya nanti adalah untuk membuat hidup kita di masa depan lebih baik. Misalnya dengan memikirkan yang namanya dana pendidikan anak, dana pensiun. Hitungan dan ilustrasinya sederhana, jauh dari teori-teori ekonomi yang njelimet. Membuat kita yang tadinya pusing jadi lebih tenang.

Nah, salah satu bagian dari buku ini bertema ‘Menabung Saja Tidak Cukup’. Di sini dijelaskan berbagai bentuk investasi, seperti property, reksadana, logam mulia. O ya… satu lagi yang gue dapet, jangan ‘terjebak’ dengan asuransi. Gue ketawa pas baca tentang ‘Sendal Jepit Pendidikan’.

Di bagian akhir (dan ada kartunya juga), ada sebuah list yang berisi ‘100 Langkah Untuk Tidak Miskin’. Awalnya sederhana, misalnya ‘Punya penghasilan’, ‘pergi ke ATM 1 kali seminggu’, ‘mengerti cara memakai kartu kredit’, sampai yang bikin gue merasa ‘woooow.. masih jauh banget.’, misalnya ‘Punya dana darurat’ ‘sekian’ kali penghasilan’, ‘punya property pertama’, punya bisnis pertama.’ Hadoooohhh.. . makin ke belakang, lhooo.. check list-nya makin panjang dan kalo diliat sekarang, rasanya gak mungkinnnnn…!!!

Tapi, beneran deh, setelah membaca buku ini, gue langsung berpikir, ambil kertas, alat tulis, dan mulai mengurai pengeluaran gue sebulan…. Berhitung… berhitung… dan… pusinggg… astaga… harus segera dimulai kalau gue gak mau kalang kabut di hari tua gue.

Gue sih berharap semoga buku ini gak hanya jadi pajangan di lemari buku gue. Gue akan seneng buku ini lecek, yang artinya gue bakal terus membolak-balik buku ini biar gue makin pinter.

Friday, April 01, 2011

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @2011
GPU – Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Indra Herlambang, nama yang selama ini rasanya lebih gue ‘kenal’ sebagai presenter acara infotainment atau MC, dengan gayanya yang jail dan lucu. Tapi, ternyata, bakatnya tak sekedar cuap-cuap, ia ternyata bisa juga menulis dari yang ringan sampai yang berat , seperti skenario yang memberinya penghargaan piala Citra.

Cover buku yang kuning cerah, seperti ‘memanggil’ untuk dibaca, buku ini ternyata memang menarik. Sekumpulan tulisan Indra di berbagai media cetak, berbagai tema, berbagai ide dan latar belakang. Ada aja yang bisa dijadikan tulisan menarik, misalnya obrolan dengan supir taksi – Indra malah membuat beberapa kategori supir taksi, atau pengalaman ketika mewawancara Miyabi di Jepang, meliput kedatangan Obama yang malah membuatnya masuk angin.

Indra termasuk kategori ‘family man’. Berulang kali terungkap di dalam tulisannya, betapa ia sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Akrab dengan kakak, adik dan juga para keponakannnya.

Sebuah buku yang menurut gue penuh ‘sentuhan pribadi’, seperti mendengar teman bercerita atau seorang sahabat yang lagi curhat.

Banyak hal sederhana justru jadi sangat menarik melalui tulisan Indra Herlambang. Mengajak kita untuk lebih melihat sekitar kita, mencari hal sederhana untuk bisa dijadikan cerita-cerita unik dan menarik.

Monday, February 28, 2011

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun
Bacharuddin Jusuf Habibie @ 2010
THC Mandiri – 2010
323 Hal.

48 tahun 10 hari, waktu yang sangat panjang dalam sebuah pernikahan. Hal yang sangat sulit, ketika harus kehilangan pasangan yang mendampingi kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan gue sok tau, ya, tapi, putus sama pacar aja, kadang butuh waktu lama untuk recovery perasaan.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan BJ Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Tapi, jangan bayangkan ini sebuah kisah cinta yang romantis. BJ Habibie yang baru pulang dari Jerman, ‘terpesona’ dengan Ibu Ainun, yang padahal dulunya seperti gula jawa (alias item kali ya…), tapi sudah ‘menjelma’ menjadi gadis yang cantik dan anggun.

Percintaan mereka berlangsung kilat. Dalam liburan Pak Habibie yang singkat, mereka bertunangan dan menikah. Untuk selanjutnya, Ibu Ainun diboyong ke Jerman. Di Jerman sendiri, kehidupan mereka belum stabil, kondisi perekenomian mereka masih sangat sederhana. Meskipun pelan-pelan akhirnya mulai meningkat.

Sebagai putra bangsa yang sangat berbakti, atas permintaan Presiden Soeharto, Pak Habibie dan keluarga kembali ke Indonesia. Mencoba merintis cita-cita untuk mempersembahkan hadiah ulang tahun ke 50 untuk Indonesia yaitu sebuah pesawat terbang pertama hasil karya putra-putri Indonesia.

Selama Habibie bertugas, Ibu Ainun selalu setia mendampingi. Dengan senyum dan matanya yang meneduhkan, senantiasa membuat Pak Habibie semangat dalam bertugas.

Mungkin gak banyak yang diceritakan di sini, bagaimana pasang-surut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Memang sih, di awal diceritain gimana waktu mereka baru menikah, tapi setelah itu, selebihnya lebih banyak bercerita tentang kiprah BJ Habibie hingga akhirnya beliau menjadi Menristek, kemudian Wapres sampai akhirnya jadi Presiden. Terasa begitu ‘pribadi’ karena Pak Habibie juga bercerita apa yang beliau rasakan. Bahkan ketegasan beliau ketika berhadapan dengan Presiden Soeharto sekali pun.

Di beberapa bab terakhir, baru kembali diceritakan bagaimana ketika Ibu Ainun mulai sakit dan harus dirawat di Jerman karena kondisi cuaca khatulistiwa tidak cocok untuk kesehatan beliau. Dan, BJ Habibie terus mendampingi ibu Ainun hingga tempat peristirahatan terakhir - sebagaiman ibu Ainun mendampingi BJ Habibie dalam tugasnya.

Bagian-bagian akhir memang bagian yang paling menyentuh, di mana justru rasa cinta di antara mereka lebih terlihat dan begitu mendalam. Alur penuturan yang lamban (dan mungkin kalo dipikir-pikir, gak ada hubungannya sama ‘kisah cinta’ mereka berdua), tapi toh, tetap saja, buku ini memberi inspirasi.

Membaca buku ini, rasanya gak ada tuh yang namanya ‘gonjang-ganjing’ dalam pernikahan. Yang ada justru sebuah rumah tangga yang seimbang, saling menghormati dan sama-sama menikmati peran mereka masing-masing dalam rumah tangga. Betapa Pak Habibie yang dalam kesibukannya selalu diingatkan oleh istrinya, dan betapa Pak Habibie begitu menghargai dan mencintai Ibu Ainun.

Ahhh.. such a beautiful love story…

Thursday, October 21, 2010

The Naked Traveler

The Naked Traveler
Trinity
C Publishing (Bentang Pustaka), 2008
279 Hal.

The Naked Traveler 2
Trinity
B-First (Bentang Pustaka) 2010
348 Hal.

Gue ‘mengenal’ Trinity lewat blog-nya The Naked Traveler. Membaca sekilas beberapa ceritanya, wah, koq asyik banget ya. Dan ternyata, gue mendapatkan buku The Naked Traveler yang pertama, gratis waktu ada acaranya KuBuGil. Wah… udah lama banget, tapi baru sempet baca sekarang bukunya. Cerita di buku pertama ini, sebagian besar udah gue baca di blog-nya. Dan, sekalian aja lah, gue ‘review’ buku The Naked Traveler yang kedua.

Membaca The Naked Traveler, pembaca gak akan banyak diceritain tentang betapa indahnya suatu tempat atau bangunan, atau tentang makanan-makanan yang enak dan bikin ngiler. Karena ini adalah cerita pengalaman pribadi, bukan cerita untuk dimuat di majalah – yang pastinya harus bagus dan menampilkan gambar indah, justru yang disajikan kadang gak ada indah-indahnya. Tapi, menariknya di sini, kita bakalan dibuat ketawa, senyam-senyum sendiri membaca pengalaman menarik dan konyol selama perjalanan keliling dunia seorang Trinity. Yup, Trinity bukan seorang traveler yang pergi melanglang buana dengan kenyaman first class, tapi dia lebih memilih jalan-jalan a la backpacker, di mana segala keterbatasan, banyak hal unik yang ditemuinya selama perjalanan.

Selama ini gue mikir, waduh, kalo mau keluar negeri harus ‘kaya’ dulu. Tapi ternyata yang penting niat dan nabung! Dan tentu saja, jatah cuti yang banyak. Pinter-pinter ngatur waktu sama kerjaan di kantor. Banyak tips yang tentunya berguna banget, terutama untuk yang pengen ber-backpacking ria. Mungkin emang rada gak cocok sih, kalo yang masih punya anak kecil. Jadi, buat yang masih single, marilah jalan-jalan. Sendiri ok, sama teman ok. Gak punya temen.. bisa cari temen di perjalanan.

Banyak joke-joke dan pengalaman lucu. Misalnya kehebohan nyari toilet, begitu ketemu malah tempat pipis untuk anjing. Atau, serunya berburu hiu. Trinity ini termasuk salah satu penggila kegiatan yang memacu adrenalin, baca aja gimana serunya terjun dari gedung tertinggi.

Baca buku kaya’ begini, selalu bikin gue ngiri. Satu-satunya ‘persamaan’ gue dan Trinity adalah sama-sama pernah makan indomie termahal di airport Denpasar.

Buat yang selalu baca blog-nya, mungkin cerita di sini udah gak asing. Untungnya gaya bercerita Trinity yang kocak membuat baca bukunya jadi tetap menarik. Hanya mungkin kurang foto kali ya. Kalau pun ada gak berwarna. Tapi emang, foto yang ditampilkan pun yang unik, seperti tempat pipis anjing itu.

Semoga di buku-buku selanjutnya, akan ada cerita yang lebih seru, lebih kocak dan mungkin yang gak ada di blog (biar orang lebih penasaran dan pengen baca bukunya).
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang