Tuesday, May 01, 2007

The Liebermann Papers: A Death in Vienna

The Liebermann Papers: A Death in Vienna
Frank Tallis
Esti A. Budihabsari (Terj.)
Qanita, Cet. I 2007
580 Hal.

Seorang wanita ditemukan tewas di apartemennya dengan meninggalkan pesan misterius. Wanita itu bernama Charlotte Löwenstein, dan dikenal sebagai seorang mediator. Setiap minggu, sekelompok orang datang ke apartemennya untuk upacara pemanggilan arwah.

Lötte, begitu ia dipanggil, meninggal dengan luka tembak di dadanya. Tapi, fakta yang ada menunjukkan berbagai keanehan, pintu terkunci dari dalam, tidak ada tanda-tanda orang bisa melarikan diri, lalu ketika dilakukan otopsi, tidak ditemukan peluru dalam tubuh Lotte.

Tepat di malam kematian Lötte, badai hebat sedang melanda Wina. Kematian Lötte kemudian dikaitkan dengan persekutuan dengan setan. Ada kekuatan supranatural yang ‘terlibat’ dalam kematian itu. Fakta itu didukung dengan pesan teakhir yang ditinggalkan Lotte.

Kepolisian setempat yang dipimpin Inspektur Oskar Rheinhardt berusaha memecahkan kasus ini. Meskipun berusaha menggunakan akal sehat dan dengan berdasarkan fakta yang ada, penyelidikan menemui jalan buntu. Akhirnya, Inspektur Rheinhardt meminta bantuan Max Liebermann, seorang psikiater, untuk ikut dalam penyelidikan. Lieberman berusaha menganalisa fakta yang ada dilihat dari sisi yang berbeda. Para tersangka kemungkinan adalah tamu-tamu yang terlibat dalam upacara pemanggilan arwah.

Sementara itu, selain membantu Inspektur Rheinhardt, Liebermann sendiri menghadapi masalah di rumah sakit tempat ia bekerja. Sebuah eksperimen sedang diuji coba. Liebermann tidak setuju dengan sesi elektropi yang dilakukan rekan sejawatnya dalam pengobatan pasien. Ia lebih memilih pendekatan psikologis dalam mengobati trauma seseorang. Salah satu pasiennya, Amelia Lydgate, mengalami kelumpuhan dan ada kecenderungan memiliki kepribadian ganda. Liebermann melakukan pendekatan lewat metode hipnotis untuk menelusuri penyebab trauma yang dialami pasiennya. Miss Lydgate inilah yang nantinya akan membantu Inspektur Rheinhardt dan Liebermann dalam memecahkan kasus kematian Charlotte Löwenstein.

Melalui berbagai analisa dan penyelidikan, akhirnya terungkaplah siapa Charlotte Löwenstein sebenarnya, bagaimana masa lalunya, dan apa benar ia terlibat persekutuan dengan setan.

Masalah pribadi Liebermann juga sempat ‘diulik’, tentang keraguannya untuk meneruskan pertunangannya dengan Clara ke jenjang selanjutnya.

Novel ini dibuka dan ditutup dengan kalimat yang sama, kalimat yang diucapkan Max Liebermann, yaitu:

Itu adalah hari saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahku
– Mendel Liebermann – mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga
bahwa dia punya maksud tertentu…

Buku ini mengajak kita menelusuri kota Wina, diiringi alunan piano musik klasik yang dimainkan oleh Liebermann dan diiringi nyanyian Oskar Rheinhardt. Alur cerita sedikit lambat, tapi bab-babnya yang pendek bisa membuat pembaca penasaran, karena di akhir setiap bab ada misteri baru yang menyisakan tanda tanya.

Monday, April 23, 2007

Penulis Hantu

Judul asli: The Ghost Writer
Penulis: John Harwood
Penterjemah: Fahmi Yamani
Editor: Siska Yuanita
GPU, Maret 2007
416 Hal.

Gerard Freeman, tinggal di Mawson. Sejak kecil, ibunya selalu menceritakan keindahan kampung halamannya di Staplefield. Tapi, cerita itu berhenti ketika suatu hari, Gerard menemukan sebuah cerita hantu di laci kamar ibunya. Sejak itu ibunya selalu tutup mulut dan tidak pernah lagi bercerita tentang Staplefield dan masa remajanya.

Ibu Gerard, Phyllis Hatherley memang bersikap sangat protektif terhadap Gerard. Sedikit saja Gerad pulang terlambat dari sekolah, maka ketika pulang, ia akan menemukan ibunya sedang mondar-mandir di dekat telepon.

Suatu hari, Gerard mendapat sebuah surat dari sebuah lembaga korespondensi intertasional (AFS jaman dulu itu kali ya…). Dikatakan di surat itu, ada seorang gadis bernama Alice Jessel yang ingin menjadi teman Gerard. Meski takut ibunya tidak setuju, diam-diam Gerard membalas surat itu dan mengiyakan ajakan berteman itu.

Seperti yang sudah diperkirakan, Phillys tidak menyetujui hal itu. Tapi, Gerard berani menentang ibunya, dengan alasan ibunya tidak mau berbagi cerita lagi dengannya.

Alice adalah seorang gadis seumuran dengan Gerard. Menurut cerita Alice, ia adalah gadis berkursi roda dan ada kemungkinan cacat seumur hidup. Alice mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dialaminya bersama orang tuanya. Orang tua Alice sendiri meninggal dalam kecelakaan tersebut.

Sikap Alice begitu misterius. Meski Gerard sudah mengirim foto dirinya, Alice membiarkan Gerard untuk membayangkan sosok dirinya. Lama-lama, pertemanan di antara mereka menjurus ke arah yang lebih jauh. Mereka mulai saling menyatakan cinta. Tentu saja, Gerard yang agresif. Hubungan Alice dan Gerard berlanjut sampai mereka dewasa. Cara mereka berkomunikasi tidak lagi dengan tulisan tangan, tapi sudah lewat email. Alice terus menjanjikan bahwa tidak lama lagi mereka akan bertemu karena sekarang ia sedang menjalani sebuah pengobatan yang memungkinkan ia berjalan kembali.

Sampai dewasa, Gerard tidak pernah tahu rahasia yang disembunyikan ibunya. Gerard masih penasaran dengan cerita hantu yang ditulis oleh neneknya, Viola. Gerard pun mencari berbagai referensi di perpustakaan, dan menemukan beberapa cerita lagi yang ditulis Viola.

Ibu Gerard bersikap penuh rahasia. Ia selalu tampak ketakutan. Dan ketika Gerard pernah bertanya tentang cerita hantu itu, ibunya berkata, “Dan salah satunya menjadi nyata.”

Setelah Phyllis meninggal, Gerard bertekad untuk menyelidiki masa lalu keluarganya. Berangkatlah ia ke London. Ia memasang iklan untuk mencari tahu tentang keluarganya. Dan, tanpa disangka-sangka, iklan itu dijawab oleh Mrs. Hammish yang mengaku sebagai sahabat Anne Hatherley, kakak Phyllis.

Gerard pun mendapat kunci rumah masa kecil ibunya. Di sana menemukan buku harian Anne Hatherley yang setelah diresapi ternyata mirip dengan salah satu cerita yang ditulis Viola, yaitu ‘Sang Hantu’.

Semakin lama, semakin terungkap rahasia masa lalu ibu Gerard, dan memang benar, salah satunya ada yang menjadi nyata.

Terpengaruh oleh cover, anggapan cerita horror sudah ada sejak awal. Tapi, lama-lama, sedikit membosankan. Tentang Alice, sedikit banyak sudah bisa diperkirakan sejak awal. Sosok misteriusnya, pasti berhubungan dengan ‘dekat’ dengan Gerard. Lalu, tingkat ketegangan juga naik-turun, seperti nonton film hantu dengan sosok melayang-layang dengan gaun yang indah.

Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweller

Judul asli: From the Mixed-Up Files of Mrs. Basil E. Frankweller
Penulis: E. L. Konigsburg
Penterjemah: Cuning K. Goenadi
Editor: Poppy Damayanti
GPU, April 2007
200 Hal.

Karena merasa gak diperhatikan dan tidak istimewa, Claudia memutuskan untuk kabur dari rumah. Sebagai anak sulung, Claudia bertanggung jawab atas beberapa pekerjaan di rumah, seperti membuang sampah dan menjaga salah satu adiknya, Kevin. Claudia punya tiga orang adik, James, Steve dan Kevin. Karena ia merasa mendapat perlakuan yang tidak adil, Claudia memutuskan untuk ‘memberi sedikit pelajaran’ pada orang tuanya.

Claudia merencanakan aksi melarikan diri itu dengan matang. Tapi, berhubung ia hanya punya sedikit uang saku (lagi-lagi ia merasa ada yang tidak adil), ia mengajak salah satu adiknya, James. Kenapa Claudia ngajak James? Karena James punya banyak uang. Adiknya satu ini memang tergolong teliti dalam menyimpan uang sakutnya.

James tadinya sama sekali tidak tertarik dengan apapun rencana kakaknya. Tapi, petualangan yang dijanjikan Claudia membuatnya memutuskan untuk ikut dalam pelarian kakaknya. James diberitahu semua detail rencana dan diharuskan menjaga rahasia.

Tibalah mereka di hari yang telah ditetapkan untuk melarikan diri. James ditunjuk untuk jadi bendahara. Tentu saja, karena sebagian besar uang kan adalah milik James. Dan James memang benar-benar pelit, irit dan penuh perhitungan dalam menggunakan uangnya. James tidak mengijinkan kakaknya untuk naik bis, apa lagi naik taksi. Semua harus dilakukan dengan jalan kaki!

Entah apa yang membuat Claudia memilih Museum Seni Metropolitan di New York sebagai tempat persembunyian mereka. Bagi Claudia, New York adalah kota sebenarnya. Di sana begitu sibuk dan tampak begitu ‘penting’, dibanding tempat tinggalnya selama ini di Greenwich.

Agar petugas museum tidak curiga, karena hari itu adalah hari sekolah, mereka berdua berlagak seperti anak-anak yang sedang mengadakan kunjungan ke museum. Claudia dan James menyusup ke dalam rombongan anak sekolah.

Di malam hari, mereka berdua menunggu di dalam toilet sampai petugas selesai memeriksa museum setelah tutup. Kemudian mereka mencari tempat untuk tidur. Claudia pun menemukan tempat tidur antik untuk mereka berdua.

Masalah lain adalah masalah makan. Pengeluaran harus diperhitungkan secermat mungkin, mereka harus berhemat agar bisa bertahan. Sampai suatu malam mereka menemukan sebuah tempat yang memberi ‘pemasukan’ untuk mereka, dan Jamie pun agak sedikit royal.

Di siang hari, mereka berkeliling museum, mengikuti rombongan anak sekolah dan mempelajari isi museum. Di hari pertama, mereka memutuskan untuk belajar seni Renaissance Italia. Saat itulah, Claudia terpukau pada sebuah patung malaikat yang jadi tontonan banyak orang.

Mereka berdua memutuskan membongka misteri di balik patung itu yang disebut-sebut sebagai karya Michaelangelo, yang dibeli museum itu dengan harga yang sangat murah untuk ukuran benda seni dari seorang perempuan tua kolektor barang antik bernama Mrs. Basil E. Frankweller.

Dan cerita di dalam buku ini, adalah surat yang dikirim oleh Mrs. Basil kepada Mr. Soxenberg. Tapi, siapa Mrs. Basil dan Mr. Soxenburg ini ya?

Buku ‘Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweller’ ini dicetak kembali dalam rangka memperingati 40 tahun buku ini ditulis. Jadi tahun 1967, buku ini ditulis oleh E. J. Konigsburg dan pada tahun 1968 mendapatkan penghargaan Newbery Award.

Sunday, April 15, 2007

Buku-Buku BJ Habibie


Inilah hasil dari acara Book Signing 'Detik-Detik yang Menentukan' di Kinokuniya - Plaza Senayan hari Sabtu tanggal 14 April 2007.

Saturday, April 14, 2007

When a Man Lost a Woman

When a Man Lost a Woman
Ita Sembiring
Gagas Media, Cet. 1 – 2007
202 Hal.

Kaya’nya nih, cerita tentang perempuan patah hati udah banyak banget, yang ditulis dengan gaya yang meratap, mendayu-dayu, atau ada juga yang ditulis dengan semangat alias lebih optimis ‘menatap masa depan’. Tapi, gimana kalau sekarang para pria yang patah hati, apakah akan menangis meraung-raung, apa akan mengunci diri dalam kamar, gak makan, gak minum, gak tidur? Atau dengan mudah mencari pengganti perempuan lain?

Ita Sembiring – yang sebelumnya pernah menulis novel ‘Jerit: Suatu Ketika Di Lho’seumawe’ dan ‘Negeri Bayangan (Terrorist Free)’ – mencoba ‘menggali’ perasaan para pria yang ditinggalkan atau kehilangan perempuan yang mereka cintai. Seorang penulis perempuan tapi menulis tentang rasa sakit hati cowok-cowok. Gimana jadinya ya? Berhubung Ita Sembiring bermukim di Belanda, maka setting cerita dalam novel ini banyak mengambil tempat di negara Kincir Angin itu.

Terdiri dari beberapa cerita pendek dengan tokoh-tokoh yang kalau diulik-ulik saling berhubungan. Kalau pernah nonton film ‘Crash’ pasti ngerti, deh.

Diawali dengan Perus yang berusaha menjalin hubungan lagi setelah bercerai dengan istrinta, karena istrinya selingkuh. Tapi, Perus malah akhirnya terjebak cinta yang mungkin tidak akan bisa berlanjut dengan sepupunya sendiri, Erdas.

Sementara Erdas, yang ternyata juga mencintai Perus, punya teman namanya Purjil. Purjil adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan Boris agar bisa mendapatkan kewarganegaraan Belanda.

Lalu, Boris berteman dengan Jan Peter, yang beristri orang Indonesia, Rasti, tapi Rasti ini juga mengkhianatinya.

Jan Peter yang kemudian sempat menjalin hubungan dengan Aguisa – yang sempat membuat liburan Perus di Spanyol lebih berwarna.

Tapi, apa jadinya kalau Perus, Jan Peter dan Boris bertemu? 3 orang patah hati, 3 orang pria yang pernah disakiti perempuan? Hehehe.. mereka akan bilang, “Aku mau berlibur ke satu tempat yang tidak ada perempuannya.” (Hal. 177)

Kalau melihat tokoh-tokoh pria dalam novel ini, memang terkesan bahwa mereka sudah menyerahkan seluruh cinta mereka untuk seorang perempuan tapi, ternyata si perempuan malah meninggalkannya setelah mendapat keuntungan dari laki-laki itu. Contoh Rasti, ia dipercaya untuk mengelola hotel milik Jan Peter di Bali, tapi ternyata ia bukannya mengurus hotel itu, tapi malah membuat guest house lain demi keuntungannya sendiri. Perempuan di novel ini seolah digambarkan hanya terpikat pada pria karena nafsu dan harta. Hmmm…

Friday, April 13, 2007

Mogok Lagi... Mogok Lagi....

*bacalah judul di atas sambil bernyanyi sebuah lagu anak-anak* (garink mode: on)

Menindaklanjuti comment Kobo di posting sebelumnya tentang The Historian dan My Name is Red yang 'terhenti' di tengah jalan (baca: separo buku), gue mau menjawab pertanyaan apa yang terjadi dengan buku-buku yang 'diberhentikan dengan paksa' itu.

Penyebabnya tentu karena ada buku lain yang amat sangat lebih menarik, lebih menggoda hati dan iman. Dan, ada yang akhirnya gue baca lagi, ada yang dengan niat "Mau diterusin ah, abis baca buku lain", ada yang, "Well.... good bye, my friend.. 'till we meet again."

Daftar buku yang 'terlantar' lumayan banyak:
- Ada 'Orange Girl' (Jostein Gaarder): ini hadiah ultah dari suami gue dua tahun yang lalu (dulu belum jadi suami), baru dibaca separo... sekarang ada di samping tempat tidur gue, dengan niat yang kuat untuk dibaca lagi....
- Ada 'Jonathan Strange & Mr. Norell' (Susanna Clarke): gue hentikan baca buku ini, karena tebalnya yang luar biasa dan tulisannya yang kecilnya juga luar biasa. Belum ada niat untuk diterusin.
- Terus, The Bartimaeus Trilogy Book 1: The Amulet of Samarkand (Jonathan Stroud): dihentikan karena apa gue lupa... belum ada niat juga untuk diterusin.
- Klan Otori 2 : abis ngebosenin - gak seseru yang pertama
- Gadis Icarus: serem soalnya.. buku ini gue taro di lemari bagian belakang, biar gak keliatan lagi... sama nasibnya dengan Sihir Perempuan (Intan Paramaditha)

Masih ada beberapa lagi yang bahkan gue udah lupa judulnya apa aja. Biasanya nih, ketika gue lagi 'memandang' lemari buku gue, gue akan liat buku-buku yang gak selesai itu, dan, kalo ketemu buku yang kepingin gue baca lagi, buku itu akan gue keluarin dari lemari dan gue taro di sebelah tempat tidur... meskipun belum tentu juga akan langsung gue baca. Penyakit jelek gue nih, kalo gue udah beli buku, terus gak selesai bacanya, terus gue punya buku baru lagi, nah... buku lama itu semakin malas untuk gue baca. Alhasil, buku di samping tempat tidur gue semakin bertambah tinggi...

Jadi, mungkin jawaban gue atas pertanyaan kobo, mostly, adalah "yah sudahlah sampai disini dulu teman-teman, merdeka!"

Yang 'tersendat' lalu 'terhenti' di tengah Jalan

Karena sesuatu dan lain hal.. dua buku ini, gue hentikan dulu. Lemah, letih, lesu kalo baca kedua buku ini... (hmmm... alesan aja sih...). Alasan sebenernya, karena ada buku-buku lain yang lebih menggoda hati dan 'berpenampilan' lebih bersahabat alias lebih gampang dibawa-bawa dan ceritanya lebih menarik.

Jadi, sampai batas waktu yang tidak ditentukan... gue mengucapkan sampai jumpa lagi untuk The Historian dan My Name is Red...

Thursday, April 12, 2007

Molly Moon Stops the World

Tapi kita semua debu bintang

--- Molly Moon (Hal. 287)


Molly Moon Stops the World (Molly Moon Menghentikan Dunia)
Geogia Byng
Poppy Damayanti (Terj.)
GPU, April 2007
384 Hal.

Setelah melewati berbagai kejadian melalui kemampuan hipnotismenya, Molly Moon berjanji pada Rocky, sahabatnya, untuk tidak menghipnotis orang lagi. Padahal terkadang, Molly kepingin sekali melakukan hipnotis. Dan kesempatan itu datang ketika seorang teman lama, Lucy Logan, pustakawati yang menghipnotis Molly agar menemukan buku hipnotisme, mengirim surat dan mengundangnya datang ke rumahnya.

Di rumah Lucy, Molly diberi ‘tugas’ untuk menghentikan seseorang yang bernama Primo Cell, yang juga mempunya kemampuan hipnotisme yang lebih hebat dari Molly. Tugas Molly ini berkaitan dengan tujuan Primo Cell untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Selain itu, hilangnya Davina Nuttell, bintang cilik yang perannya di ‘Bintang-Bintang di Mars’ digantikan oleh Molly ketika ia berada di New York. Ternyata Primo Cell juga seing menghipnotis para bintang terkenal agar mereka mau menjadi model iklan produk yang dimiliki Primo Cell. Singkatnya, Primo Cell hampir menguasai seluruh public figure, mulai dari bintang film Hollywood sampai politisi.

Berangkatlah Molly, beserta sebagian penghuni Happiness House – termasuk Mrs. Trinklebury dan Mr. Nockman – ke Los Angeles, tempat markas Primo Cell berada. Ketika sampai di Los Angeles, kota itu sedang sibuk mempersiapkan ajang akbar malam anugerah Piala Oscar. Molly dan Rocky segera mencari cara agar mereka bisa masuk ke dalam tempat acara itu diadakan, karena mereka yakin bisa bertemu dengan bintang-bintang yang sudah dihipnotis Primo Cell.

Ternyata, tidak semudah itu membebaskan mereka dari pengaruh hipnotis Primo Cell. Otak dan benak mereka benar-benar terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kata kunci tertentu. Secara kebetulan, mereka bertemu dengan Primo Cell. Dan ternyata, wajah Molly sudah tidak asing bagi pemirsa tv, pertama karena perannya di ‘Bintang-Bintang di Mars’ dan juga karena iklan layanan masyarakat yang dibuatnya bersama Rocky. Mereka berdua diundang untuk makan malam di rumah Primo Cell. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki ruang-ruang di rumah Primo Cell.

Tugas Molly Moon kali ini lebih sulit daripada yang ia duga. Berbeda dengan Mr. Nockman yang penghipnotis amatir, Primo Cell lebih tangguh dan kejam. Bahaya menunggu Molly dan Rocky yang bahkan bisa berujung pada kematian.

Banyak kejutan yang diterima Molly kali ini. Di usianya yang baru 11 tahun, Molly menemukan bahwa dirinya punya kemampuan lain yang membuat dirinya sendiri terkejut.

Petualangan Molly semakin seru dan lucu. Molly juga semakin pintar, cerdas dan cerdik.

Wednesday, April 11, 2007

Can't Hardly Wait...

Buku Baru Tracy Chevalier

Hari ini buku pesanan gue dateng... Buku Tracy Chevalier yang baru, judulnya 'Burning Bright'. Dan di dalamnya ada tanda tangan Tracy Chevalier. Ini nih, sinopsis singkatnya:

No. 13 Hercules Buildings, Lambeth, 1792. Poet, artist, and printer William Blake - local eccentric and political radical - works anonymously amidst the raucous din of a teeming, jittery London. Across the Channel, revolution is imploding in France. Nearby, the renowned Astley's Circus is rehearsing its upcoming show, and next door the Kellaway family, recently arrived from the countryside, is moving in. Maggie Butterfield, the streetwise daughter of a local rogue, is looking for trouble - or at least a friend. When she and young Jem Kellaway are dawn into Blake's spell, the chance meeting of three unusual souls sets the stage for an impassioned journey. Jem and Maggie spark for an impassioned of the poet, influencing one of the greates and most mystical works in English literature, Songs of Innocence and of Experience.

Tracy Chevalier
Dutton, March 2007
311 Hal.
ISBN: 978-0-525-94978-7

Monday, April 09, 2007

Tiga Venus

Tiga Venus
Clara Ng
GPU, Maret 2007
296 Hal.

Pertama kali liat ‘promo’ buku ini, gue inget sama bukunya Andrei Aksana yang judulnya Pretty Prita, tentang seseorang yang make a wish untuk jadi orang lain, dan beneran kejadian.

Di buku ini, 3 perempuan memulai harinya dengan keruwetan masing-masing, hal-hal yang bikin stress yang bikin mereka mengucap keinginan, “Aku ini semua kegilaan ini segera berlalu.” Dan… ‘pop’… di pagi hari mereka terbangun dan mereka sudah jadi orang lain.

Pertama, Emily, seorang lajang, wanita karir dengan kedudukan yang ok, super sibuk, dan modis. Emily memulai paginya dengan telepon dari boss besar, lalu rapat di kantor seharian, bahkan ketika dalam perjalanan pulang, boss besar itu minta ia kembali ke kantor untuk berdiskusi lagi hingga larut malam. Belum lagi ditambah dengan telepon dari ibunya yang ribut tentang masalah jodoh.

Lalu, Juli, tetangga Emily. Juli adalah ibu rumah tangga model Lynette di Desperate Housewives. Punya 3 anak – sepasang kembar laki-laki dan perempuan bernama Maretta dan Marcel, lalu satu lagi anak laki-laki bernama Nico. Kesibukannya dimulai di pagi buta. Anak-anak yang sakit, anak-anak yang nakal, ditambah dengan kesibukan usaha catering dan yang gak kalah heboh, urusan ibu mertua yang seperti nenek sihir. Juli makin stress ketika suaminya kadang cuek-bebek, ditambah lagi, ternyata Juli baru tahu kalau ia sedang hamil lagi.

Tokoh ketiga adalah Lies, masih teman Juli juga. Lies adalah seorang guru sastra di sebuah SMU. Ia seorang janda yang bercerai karena mantan suaminya suka ‘main tangan’. Lies kerap jadi bahan omongan para abg di sekolahnya. Lies juga menghindari kedekatan dengan laki-laki karena trauma, termasuk ketika salah satu rekan guru, Moza, mendekatinya. Masalah terbesarnya adalah ketika salah satu murid favoritnya, Kim, hamil di luar nikah dan melakukan aborsi.

Di malam yang sama mereka mengucapkan permohonan yang sama, dan di pagi hari… sama-sama terkejut ketika mereka memandang cermin dan mendapati diri mereka ternyata ‘bukan’ diri mereka masing-masing.

Emily menjadi Juli – Juli menjadi Lies – Lies menjadi Emily

Untungnya mereka tinggal berdekatan, dan ketika saling melihat ke diri mereka yang baru, mereka saling membantu. Dan, segala kehebohan pun dimulai.

Emily yang serba praktis tiba-tiba harus menjadi ibu rumah tangga yang sedang hamil muda
Juli yang ibu rumah tangga harus jadi guru, dan menahan cemburu karena harus jauh dari suami dan anak-anaknya.
Dan Lies yang mungkin bisa dibilang rada konservatif harus mendadak jadi direktur dan mempimpin sejumlah rapat, dan berhasil balas dendam ke mantan suaminya.

Mereka bertiga bukan hanya mendapat pengalaman baru, tapi juga memperoleh sebuah persahabatan.
Be careful of what you wish…

Neverwhere (Kota Antah Berantah)

Neverwhere (Kota Antah Berantah)
Neil Gaiman
GPU – Maret 2007
440 Hal.

Richard Mayhew, laki-laki biasa yang punya kehidupan yang biasa-biasa saja. Pindah dari Skotlandia ke London untuk bekerja di tempat yang baru, lalu bertemu Jessica dan bertunangan dengannya. Meskipun Jessica adalah tipe perempuan yang ‘mendominasi’, tapi, Richard sangat mencintainya. Richard punya koleksi boneka Troll yang dipajang rapi di mejanya. Kadang Richard menganggap hidupnya membosankan, tapi merasa sangat beruntung memiliki Jessica.

Sampai di suatu hari, ketika hendak makan malam bersama Jessica, Richard melihat seorang perempuan tertelungkup dalam keadaan luka-luka. Richard bersikeras untuk menolong perempuan itu, tapi, Jessica marah dan memutuskan pertunangan mereka. Richard pun membawa perempuan itu yang bernama Door ke apartemennya. Dan keesokan harinya, Richard didatangi dua orang aneh bernama Mr. Croup dan Mr. Vandemar yang sadis dan menjijikan.

Setelah Door pergi, Richard kembali ke kehidupannya sehari-hari. Paling tidak itulah yang ia kira. Karena, ketika ia hendak berangkat ke kantor, terjadi berbagai keanehan – tidak ada taksi yang mau berhenti, tidak diakui lagi di kantornya, yang paling parah, Jessica tidak bisa mengingatnya.

Richard sampai ke sebuah tempat yang namanya London Bawah. Richard bertemu dengan orang-orang yang menurutnya ‘ketinggalan’ jaman. Richard kembali bertemu dengan Door, yang ternyata menyimpan misi tertentu.

Keluarga Door dibunuh dengan sadis. Door ‘beruntung’ masih hidup karena ketika kejadian itu ia tidak ada di rumah. Tapi, Door dikejar-kejar orang yang ingin membunuhnya. Karena Door dan keluarganya punya kemampuan luar biasa.

Bersama Door, Marquis de Carabas dan Hunter, Richard menelusuri lorong-lorong London Bawah –saluran-saluran air, stasiun kereta bawah tanah. Awalnya Richard selalu tidak percaya jika mereka bertiga menyebut tempat-tempat yang Richard tahu sudah lama ditutup dan dilupakan orang. Tapi, makin lama, Richard semakin percaya dengan keanehan yang ada, misalnya: pasar terapung yang diadakan di Harrod’s, mencari malaikat Islington, bertemu rat speaker, berteman dengan penipu, dan hampir saja mati karena ‘terhisap’ oleh wanita penghisap kehidupan bernama Lamia yang beramora lily white-honeysuckle.

Di London Bawah, Richard, Door, Marquis de Carabas dan Hunter berusaha lari dari kejaran orang-orang yang memburu mereka.

Novel ini bergenre fantasi, tapi bukan untuk anak-anak, melainkan untuk orang dewasa. Neil Gaiman membuat novel dengan latar dunia yang (seolah-olah) sudah kita kenal, tapi ternyata menyimpan rahasia lain di baliknya. Buat gue… mmm… novel ini terkesan… mmm… unik… seru aja ‘mengunjungi’ dunia bawah tanah yang gelap gulita, bau, tapi misterius…

Monday, March 26, 2007

OUCH!!!

... Ini bukan buku biografi. Ini bukan sekedar cerita
tentang diri gue…

-- Melanie Subono (hal. 1)

OUCH!!!
Melanie Subono
Gagas Media, Cet. I – 2007
132 Hal.

Siapa bilang jadi Liaison Officer itu enak? Bisa deket-deket sama artis asing terkenal… bisa ngobrol bareng, bisa tahu semua kebiasaannya… apalagi kalo artis itu artis yang selama ini kita idolakan.

Tapi, Melanie Subono ‘mengungkapkan’ fakta yang sebenarnya. Bekerja di Divisi Talent di Java Musikindo yang kerap mendatangkan artis luar negeri, meskipun milik ayahnya sendiri, Adrie Subono, Melanie gak begitu aja bisa nonton penampilan mereka dengan mudah.

Melanie memulai ‘karir’-nya sebagai asisten sang (mantan) pacar yang kebetulan punya jasa penyewaan kendaraan yang biasa dipakai artis-artis. Dan ketika Java Musikindo dibentuk, Melanie pun bergabung di sana menjadi Liaison Officer.

Liaison Officer (LO) adalah divisi yang paling sibuk ngurusin segala tetek-bengek yang berhubungan dengan sang artis. Mereka mulai bekerja begitu promoter menandatangani kontrak dengan pihak si artis. Para LO punya ‘kitab suci’ yang disebut Rider. Dalam Rider ini, tertera segala macam persyaratan yang harus dipenuhi untuk si artis. Contohnya, Mariah Carey, jendela kamarnya harus ditutupi karton hitam, lalu, harus tersedia jenis bunga tertentu dengan warna tertentu di dalam vas tertentu!!! Atau Alanis Morisette yang minta disediain teh erbal merk tertentu. Gak akan jadi masalah, kalau permintaan mereka tersedia di Jakarta, atau gampang ditemui, kalau gak… LO harus siap memikirkan segala alternatif yang kreatif.

Para LO terkadang tidak punya waktu untuk memikirkan diri mereka sendiri. Lapar, cape’, tekanan tinggi… adalah kondisi yang harus dihadapi LO. Apalagi, tingkah laku para artis itu kadang ‘ngeselin’. Misalnya, boyband Westlife, meskipun udah bolak-balik datang ke Indonesia, tetap gak belajar dari pengalaman. Kadang dengan seenaknya, tidak sesuai dengan yang tertulis di Rider.

Belum lagi ulah para fans yang ingin melihat artis-artis pujaan mereka itu dari dekat. Tingkah laku yang nekat membuat LO juga pusing tujuh keliling.
Kehebohan lainnya: nemenin Maksim nyari teh yang katanya paling enak sedunia; rela jagain kuskus pinjemannya Alanis Morisette; ganti semua pesanan sushi dan sashimi-nya Diana Krall yang tiba-tiba ngaku vegetarian, tapi koq masih makan sop daging??!! Kalo kata Melanie, para artis ini emang suka terserang 'amnesia mendadak'. Hehehe...

LO juga harus up to date soal gosip-gosip artis teranyar, biar tahu kebiasaan atau hal-hal pribadi mereka. Bukan biar sok deket atau sok akrab, karena ketika Avril Lavigne datang ke Indonesia, dia gak mau tinggal di Hotel Hilton, karena alasan pribadi.

Tapi, seperti kata Melanie, tidak akan ada yang bisa membuat dia meninggalkan profesi ini. Seperti Cinta… biar menyakitkan.. tapi tetap aja indah…

Buku ini ditulis dengan bahasa yang santai... gak kaku. Melanie bercerita dengan bahasa ‘loe-gue’, membuat pembacanya merasa sedang mendengarkan seorang teman bercerita. Seru ngebayangi gimana pontang-pantingnya, gimana serunya, gimana ngeselinnya, dan segala suka-duka lainnya. Jadi gak perlu sirik atau mikir, “Ah.. Melanie… jelas aja, dia, kan anak yang punya Java Musikindo”.

Di buku ini, ada juga beberapa foto-foto Melanie bareng ‘baby bule’-nya (nah.. ini baru bikin sirik…)

Saturday, March 24, 2007

The Diet

Diet (dÎ’∂t) k.b. dari Bahasa Yunani diaita, sebuah jalan hidup



The Diet
Edita Kaye
Cahya Wiratama (Terj.)
CPublishing – Cet. 1, Februari 2007

Ketika ia menyaksikan tubuh gemuk ibunya yang terbujur kaku digotong oleh petugas kesehatan, Cate Blain membuat janji pada dirinya sendiri, “Aku tidak akan pernah gemuk.” Ibu Cate meninggal akibat kegemukan dan pola makan yang tidak sehat.

Dua puluh tahun kemudian, Cate memang menepati janjinya. Kehidupan Cate cukup sempurna. Pernikahannya dengan Charles cukup bahagia, lalu, ada Sam, adik semata wayangnya yang sangat ia sayangi. Tubuh langsing, sukses dengan kursus memasaknya – Cate’s Cookery, mempunyai kolom sendiri di sebuah surat kabar.

Cate hidup dari makanan. Ia menjadi terkenal karena masakan yang ia racik. Cate tidak pernah makan berlebihan, ia hanya mencicipi sedikit saja makanan yang ia buat. Bahkan Cate mendapatkan tawaran untuk membuat buku masak dari sebuah penerbit terkenal.

Tapi, ternyata, makanan juga yang justru ‘mengkhianati’nya. Makanan yang menghancurkan kehidupannya. Di suatu malam di bulan Oktober, Cate sudah mempersiapkan makanan yang sempurna untuk sebuah perayaan. Malam itu, ia akan memberitahu Charles sebuah kabar bahagia. Namun perayaan itu berantakan. Justru kabar buru yang ia peroleh.

Dalam keadaan tertekan, Cate lari ke makanan. Tanpa sadar ia mulai mengudap dan selalu merasa lapar. Tanpa sadar, Cate mengulangi apa yang sudah ibunya lakukan. Dokter kandungannya sudah memberi peringatan akan bahaya obesitas bagi bayi dalam kandungannya. Tapi, Cate semakin tidak terkendali.

Buntutnya, Cate kehilangan semua yang ia miliki. Charles meninggalkannya, ia kehilangan bayi laki-lakinya, sedangkan bayi perempuannya direnggut darinya. Cate juga kehilangan kontrak pembuatan bukunya dan harus mengembalikan uang muka yang sudah diterimanya. Cate semakin terpuruk dalam kesedihan. Lagi-lagi, makanan yang jadi tempat pelarian Cate. Berat badan Cate semakin melambung. Bahkan Cate berencana untuk makan sampai mati.

Suatu hari, datanglah Josh, mantan editornya, membawa setumpuk artikel tentang kesehatan, tawaran untuk menulis lagi dan selembar cek. Kejadian itu membawa perubahan bagi diri Cate.

Cate mulai sadar.. Ia menyusun menu diet untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan menjauhi makanan, ia hanya perlu mengatur apa yang ia makan, dan kapan ia akan makan. Makanan tetap akan menjadi teman baiknya. Pelan-pelan kepercayaan dirinya mulai pulih. Tujuannya hanya satu, yaitu kembali berkumpul dengan Charles dan anak perempuannya.

Tapi, ternyata tidaklah semudah itu untuk mewujudkan mimpinya. Cate kembali takut, kalau dietnya kali ini akan berakhir seperti diet-diet yang telah ia jalani sebelumnya.

Bagi gue, buku ini cukup memberikan inspirasi. Gak seperti model-model chicklit lainnya. Menurut Edira Kaye, penulis buku ini, meskipun pola diet yang dibuat oleh Cate adalah fiktif, tapi memiliki dasar penelitian. Jadi, boleh juga tuh diterapkan buat yang mau diet. Dan memang, membaca masakan yang diracik Cate, bias membuat membuat air liur menetes. Dan, memang betul, kita gak bisa hidup tanpa makan, tapi hati-hati, bisa jadi makananlah yang akan menjerumuskan kita.

Friday, March 23, 2007

Somewhere, Home

Somewhere, Home
Nada Awar Jarrar
Catherine Natalia (Terj.)
Qanita, Cet. I – Januari 2007
284 Hal.

Buku ini bercerita tentang 3 perempuan yang rindu akan rumah dan kampung halamannya. Terbagi ada 3 cerita terpisah, masing-masing mengungkapkan kerinduan yang timbul karena permasalahan yang sama, yaitu, terpisah jauh dari rumah yang mereka anggap sebagai ‘rumah’ yang sesungguhnya. Model cara berceritanya juga sama, kilas balik tokoh utama, mengenang masa lalunya, diselang-selingi dengan kehidupannya di masa sekarang.

Kisah pertama adalah tentang Meysa. Menjelang kelahiran putrinya, Meysa memilih untuk kembali ke rumah masa kecilnya, rumah yang dulu adalah milik kakek dan neneknya, di atas bukit Gunung Lebanon.

Meysa merasa tidak nyaman di tempat tinggalnya sekarang. Untuk itu, ia memilih pulang ke rumah neneknya, meskipun suaminya, Waldi, sedikit keberatan. Di rumah neneknya, Alia, Meysa hanya ditemani pengurus rumah tangga, Selma. Meysa berusaha mengenang ketika ia berada di sana.

Bagian ini tidak hanya berkisah tentang Meysa. Tapi juga menceritakan babak kehidupan Alia. Pada bagian Alia, menceritakan bagaimana ia harus hidup sendiri bersama anak-anaknya, sementara suaminya pergi berdagang keluar kota dan hanya pulang sesekali. Ada bagian di mana Alia ingin suaminya pulang, yaitu ketika dua anaknya hampir menjadi korban ketika gedung sekolah mereka runtuh.

Cerita lain di bagian pertama, adalah tentang Saeeda, bibi Meysa. Saeda adalah anak perempuan Alia satu-satunya. Ia terpaksa menikah muda, dan diboyong oleh sang suami, tinggal bersama mertuanya. Sehari-hari, ia harus mengurus mertuanya, sampai akhirnya mertua dan suaminya meninggal dan ia kembali ke rumah Alia.

Lalu, cerita ketiga dalam kisah Meysa adalah tentang Leila, yang tak lain adalah ibu Meysa. Leila menikah dengan Adel, anak ketiga Alia. Sebelum menikah, Leila tinggal di Amerika. Maka itu, ketika kembali ke Lebanon, Leila merasa tidak nyaman dengan suasana di sana.

Kisah kedua adalah tentang Aida yang berusaha menelusuri kenangan masa lalunya bersama Amou Mohammed, pelayannya. Aida dan saudara-saudaranya begitu dekat dengan Amou Mohamed, bahkan Amou Mohammed rela hanya sesekali bertemu keluarganya di tempat penampungan demi melayani Aida. Sedemikian dekat hubungan mereka, sehingga ketika Amou Mohammed meninggal dunia, bayangannya seolah menghantui Aida dalam kenangannya. Aida ingin kembali lagi ke Lebanon.

Aida pun pulang ke Lebanon. Bertemu kembali dengan keluarga Amou Mohammed. Mencoba mencari bayangan Amou Mohammed dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terjawab di masa lalu.

Dalam kisah ketiga, adalah tentang Salwa, seorang perempuan Lebanon yang terpaksa mengikuti suaminya pindah ke Australia untuk bekerja. Di masa tuanya, dalam keadaan sakit, Salwa mengenang kembali masa-masa ketika ia masih berada di Lebanon, sebelum ia menikah dengan Adnan. Dulu, ia sama sekali tidak ingin menikah dengan Adnan, karena merasa masih terlalu muda. Tapi, toh ia tidak bisa menolak perjodohan itu.

Semua perempuan dalam buku ini, terpisah jauh dari tempat kelahiran mereka. Dan, mereka merasakan hal yang sama, yaitu tidak menemukan kenyamanan seperti di rumah mereka sendiri. Mereka mencoba kembali pulang, mencoba menggali kenangan mereka dan mencoba mencari kembali ‘rumah’ mereka, meskipun mereka terkadang harus kecewa karena rumah yang mereka dulu tempati tidak sama lagi seperti yang selalu mereka bayangkan.

Thursday, March 22, 2007

The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)

The Amber Spyglass (Teropong Cahaya)
Philip Pullman
B. Sendra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, Februari 2007
624 Hal.

Will akhirnya bertemu dengan ayahnya, John Parry, yang menghilang setelah sekian lama. Tapi, di pertemuan itu pun, Will harus menyaksikan ayahnya meninggal dunia, ‘dibunuh’ oleh penyihir yang sakit hati karena cintanya tak berbalas. Will membawa pesan terakhir dari ayahnya, bahwa ia harus menyerahkan pisau gaib kepada Lord Asriel.

Tapi… ketika Will kembali ke tempat ia dan Lyra beristirahat di bawah pengawasan para penyihir, ternyata Lyra sudah lenyap. Will pun bingung… bagaimana ia bisa mencari Lord Asriel kalau Lyra tidak ada? Hanya ada ransel kecil Lyra yang berisi alethiometer tertinggal di sana.

Sementara itu, Lyra berada di sebuah gua dalam keadaan tertidur. Mrs. Coulter-lah yang ternyata sudah ‘menculik’ Lyra. Kepada penduduk desa setempat, Mrs. Coulter sebagai petapa yang sedang merawat anaknya. Dalam tidurnya, Lyra bermimpi bertemu dengan Roger yang meminta pertolongannya.

Dibantu dua malaikat, Balthamos dan Baruch, Will mencari keberadaan Lyra. Di tengah perjalanan, Will bertemu dengan Iorek Brykinson, beruang baju besi sahabat Lyra. Akhirnya, Will bisa menemukan Lyra dan menyadarkan Lyra dari tidur panjangnya. Mrs. Coulter berhasil dilumpuhkan dengan racun oleh dua orang Gallivespia, Chevalier Tiallys dan Lady Salmakia. Mereka bertubuh mungil, tapi merupakan prajurit yang sikapnya cenderung sombong. Mereka juga adalah mata-mata Lord Asriel.

Di saat yang sama, semua terasa sibuk… Lord Asriel sibuk di bentengnya, mengatur rencana untuk mengambil Lyra dari Mrs. Coulter. Sementara itu, Mary Malone, ilmuwan dari dunia Will, juga mencari Lyra dan malah mendapati dirinya berada di dunia yang aneh, yang penuh dengan makhluk-makhluk beroda. Lalu, adalagi Pater Gomez yang bertugas membunuh Lyra.

Setelah bebas, Will dan Lyra tidak mau mengikuti Tiallys dan Salmakia menemui Lord Asriel. Mereka punya rencana sendiri. Lyra ingin Will membuka jendela ke dunia kematian. Lyra ingin bertemu Roger seperti yang ia janjikan dalam mimpinya.

Ketika berhasil menemukan dunia kematian, Lyra terpaksa harus meninggalkan Pantalaimon, karena tidak ada dæmon yang boleh ikut ke dunia kematian, dan tidak ada jaminan bagi Lyra, Will dan dua orang Gallivespia itu bisa keluar dari dunia kematian.

Bagian ketika Will dan Lyra berada di dunia kematian, adalah bagian yang paling mencekam. Mereka berada di tempat yang sepi, suram dan bertemu arwah-arwah yang bertatapan kosong dan tak bahagia. Lyra berhasil bertemu kembali dengan Roger, dan Will bertemu dengan ayahnya. Lyra dan Will membimbing arwah-arwah untuk keluar dari dunia kematian, bukan untuk hidup lagi, tapi untuk mati dengan cara yang lebih membuat mereka bahagia.

Sementara di dunia nyata, terjadi pertempuran antara Lord Asriel melawan Metatron. Mrs. Coulter mengorbankan dirinya, bekerja sama dengan Lord Asriel. Kadang, membingungkan menebak-nebak sifat dan karakter Lord Asriel dan Mrs. Coulter, siapa yang jahat, siapa yang baik. Bener gak Mrs. Coulter sayang sama Lyra? Atau Lord Asriel sama Mrs. Coulter tuh, masih suka-sukaan gak sih?

Cerita ini juga gak luput dari bagian yang romantis. Ternyata, ketika Will dan Lyra keluar dari dunia kematian dan berada di dunia tempat di mana Mary Malon berada bersama Mulefe-mulefa, mereka berdua menyadari, setelah sekian lama saling menjaga, bahwa mereka jatuh cinta. Dan, tentu saja sangat menyakitkan ketika semua harus kembali ke dunia masing-masing.

Bagian yang paling menarik di buku ketiga ini, adalah bagian ketika ada di dunia kematian. Seremmm… dan bikin merinding. Tapi, entah kenapa, gue males banget baca bagian Mary Malone dan mulefa-mulefa-nya itu, sedikit membosankan buat gue. Tokoh favorit gue di buku ketiga ini adalah pasangan Chevalier Tiallys dan Lady Salmakia - kecil, mungil, imut-imut, tapi galak and sombong.

Tuesday, March 13, 2007

Chocoluv

“Everybody deserves a second chance”

------
Bambang (hal. 192)



Chocoluv
Ninit Yunita
Gagas Media - Cet. 1. 2007
200 Hal.

Cinta adalah rasa (pertama kali baca kalimat ini, gue inget sama film Brownies dengan tag-nya “Biarkan Rasa Yang Memilih” – diadaptasi ke bentuk novel oleh Fira Basuki – Gagas Media, 2004). Ok… lanjut.. cinta emang penuh dengan rasa yang campur aduk… Manis kalau lagi sayang-sayangan, lagi manja, tapi pahit banget kalo disakitin apalagi sampai putus. Gagas Media (didukung oleh salah satu produsen es krim di Indonesia), mencoba menghadirkan cinta dalam berbagai jenis ‘rasa’. Tiga novel sudah diracik, yaitu: Chocoluv – Ninit Yunita, Luv You Berry Much – Yennie Hardiwidjaja (keduanya untuk seri Kamar Cewek), dan Blackforest Blossom - Endang Rukmana untuk seri Komedi Cinta.

Dan, sekarang, gue coba menjabarkan rasa yang ‘dihidangkan’ Ninit Yunita dalam Chocoluv.

Rere atau lengkapnya Renia Siregar, gadis berusia 19 tahun. Fakta pertama tentang Rere, adalah dia tergila-gila sama sepatu… (bayangkan… mungkin sama ‘gila’nya dengan para kutu buku..hehehe). Sale sepatu adalah sebuah kesempatan yang gak mungkin terlewatkan… sama aja seperti sebuah ‘panggilan perang’… wajib hukumnya. Rere bahkan memposisikan dirinya sebagai ‘titisan’ Imelda Marcos, mantan first lady Filipina yang terkenal dengan koleksi sepatunya yang ratusan (atau bahkan ribuan itu).

Fakta kedua: Rere adalah orang yang plin-plan, susah banget make up her mind. Mau nonton, bolak-balik mikir: komedi… horror… komedi… horror… sampai membuat antrian panjang dan membuat mbak-mbak petugas tiket pengen menaburkan arsenic ke dalam pop corn-nya. Atau ketika lagi milih sepatu bingung mau stiletto emas… atau flat hitam… bahkan untuk Rere juga bingung – beli sepatu dulu atau beli kado untuk pacar dulu, ya…

Beruntung Rere punya pacar yang pengertian dan sabar menghadapi sikap Rere yang plin-plan itu. Aldiansyah, namanya. Cowok yang baru jadi pacar Rere selama 3 bulan ini.

Sebelum sama Aldi, Rere punya pacar namanya Bambang (ehmm.. koq namanya rada kurang komersil ya?). Tapi, Bambang ternyata adalah cowok buaya darat, yang suka tebar pesona sama cewek-cewek lain.

Entah kenapa, tiba-tiba Bambang kembali muncul dalam kehidupan Rere. Berawal dari ketemu secara gak sengaja waktu Rere mau nonton sama Aldi. Bambang memperkenalkan Rere dengan pacar barunya, Wulan, yang calon the rising star itu.

Dan sejak itu… setiap berurusan dengan yang namanya Bambang, kesialan menimpa Rere. Mulai dari stiletto emas yang jadi incarannya ‘direbut’ tanpa basa-basi oleh Wulan… lalu lagi-lagi Wulan memborong ice cream Chocoluv pesanan mamanya tanpa menyisakan satu pun untuk Rere… sampai ban mobil yang kempes gara-gara Bambang yang tiba-tiba sms.

Tapi, apa bener Bambang gak pernah berubah? Dan apa Rere bisa percaya gitu aja waktu Bambang bilang Aldi selingkuh? Huh, buaya darat koq malah nuduh orang selingkuh? Sementara yang dituduh adalah cowok paling baik dan paling setia yang pernah Rere kenal. Siapa yang harus Rere percaya, Bambang atau Aldi ya?

Semua orang pasti pernah berbuat salah, tapi ada kalanya orang itu sadar dan berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Cerita dalam novel ini, gak hanya tentang manisnya cinta, asyiknya berburu sepatu… tapi juga sebuah kisah yang mengharukan, yang bisa bikin cewek-cewek ‘meleleh’ kaya’ ice cream.

O ya, ada satu yang ‘salah’… di cover belakang ditulis, kalo nama pacar baru Bambang yang ‘pencuri stiletto’ itu adalah Sarah, padahal yang bener adalah Wulan. (Sedikit koreksi aja)

Monday, March 12, 2007

Molly Moon’s Incredible Book of Hypnotism

Molly Moon’s Incredible Book of Hypnotism (Buku Hipnotisme Molly Moon)
Geogia Byng
Poppy Damayanti (Terj.)
GPU, Februari 2007
368 Hal.

Molly Moon adalah seorang gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan bernama Hardwick House. Panti asuhan ini adalah milik seorang wanita yang tidak menyukai anak-anak, Miss Adderstone. Molly ditemukan di depan pintu panti asuhan ini dalam sebuah kotak. Nama Molly Moon diambil dari tulisan iklan di kotak tempat Molly diletakkan.

Molly tumbuh jadi anak yang sering jadi bulan-bulanan anak-anak lain di panti asuhan itu. Ia sering diejek oleh teman-temannya karena matanya yang besar dan suaranya yang membuat orang mengantuk. Molly juga sering mendapat hukuman dari Miss Adderstone. Tapi, Molly bukanlah jenis anak yang cengeng, ia bahkan cenderung keras kepala dan pemberontak.

Satu-satunya teman Molly adalah Roger. Tapi, ketika Roger pun mulai kesal dengan tingkah laku Molly yang keras kepala dan pemalas itu, Roger pun memusuhinya. Molly akhirnya sendirian, apalagi Roger diadopsi oleh pasangan suami istri dari Amerika dan pergi tanpa berpamitan dengan Molly.

Tempat favorit Molly ketika sedang kesal dan ingin menyendiri adalah perpustakaan. Suatu hari, karena kesal dengan Roger, Molly pergi ke perpustakaan itu. Tanpa sadar ia tertidur. Ia terbangun karena suara seorang laki-laki yang marah-marah karena buku yang dicarinya tidak ada. Dan, tanpa disadarinya, buku yang dicari laki-laki yang mengaku bernama Profesor Nockman ada di depan mata Molly… sebuah buku Hipnotisme karangan Profesor Logan.

Otak Molly langsung bekerja. Menurutnya, inilah buku yang ia perlukan selama ini, buku yang mungkin akan merubah jalan hidupnya, buku yang bisa menghukum orang-orang yang selama ini bersikap jahat pada dirinya.

Diam-diam, Molly membawa buku itu pulang dan dengan cermat ia menyembunyikan buku itu. Ia sengaja berpura-pura sakit agar ‘diasingkan’ di sanatorium dan agar ia bisa membaca buku itu diam-diam. Dalam waktu singkat, Molly bisa mempraktekkan apa yang ada dalam buku itu. Tapi, ada dua bab yang hilang, yaitu bab menghipnotis dengan suara dan hipnotisme jarak jauh. Siapa yang sudah merobek buku itu?

Molly berhasil menghipnotis anjing Miss Adderstone, Petula. Kemudian ia pun berhasil menghipnotis Miss Adderstone dan Edna, si juru masak.

Molly bisa melakukan apa pun yang ia mau dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan kemampuannya ini, ia bertekad mencari Roger di Amerika.

Mulailah petualangan Molly di kota New York. Petualangan yang begitu mencengangkan banyak orang.

Tapi, ada bahaya yang mengincar Molly, yaitu Profesor Nockman, yang juga menginginkan buku Hipnotisme itu untuk mewujudkan rencana jahatnya. Dan Profesor Nockman berniat memanfaatkan Molly agar rencananya itu bisa terlaksana.

Di New York… sendirian, hanya ditemani Petula… bisakah Molly bertemu dengan Roger kembali dan menghidar dari kejaran Profesor Nockman?

Apa ya, yang gue dapet dari buku ini? Hmmm… sepertinya tentang pengendalian diri kali ya. Gak boleh serakah, meskipun semua bisa dapet dengan cara yang mudah.

(gak nemu cover yang edisi Indonesia-nya)

Saturday, March 10, 2007

The Subtle Knife (Pisau Gaib)

The Subtle Knife (Pisau Gaib)
Philip Pullman
B. Sandra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, Januari 2007
408 Hal.

Will dan Ibunya hidup dalam ketakutan akan orang-orang yang selalu mengejar mereka dan mengobrak-abrik rumah mereka. Entah apa yang dicari orang-orang itu, pastilah sesuatu yang berharga, yang mungkin berhubungan dengan ayah Will yang hilang sejak ia masih bayi. Suatu hari, Will menyembunyikan ibunya di rumah seorang wanita yang dapat ia percaya, dan ia pun memulai misinya untuk mencari ayahnya yang menurut cerita ibunya adalah seorang penjelajah. Ketika ia kembali ke rumahnya mengambil barang berharga itu, tanpa sengaja ia membuat salah seorang pengejarnya terbunuh. Sejak saat itu, ia menganggap dirinya adalah seorang pembunuh. Will pun lari menghindari pengejar yang lain. Dalam pelariannya ia menemukan sebuah celah seperti jendela yang ternyata membuatnya masuk ke dunia lain.

Cittágazze, nama dunia lain itu. Dunia ini begitu sepi dan mencekam, nyaris tanpa penghuni dan kehidupan. Yang ada di dunia ini adalah anak-anak. Dunia ini dibayang-bayangi Spectre yang menghisap jiwa manusia. Oleh karena itu, hanya ada anak-anak yang tinggal di sana, karena para orang dewasa sebagian besar sudah melarikan diri atau sudah ‘mati’ terhisap Spectre.

Di Cittágazze ini pula, Will bertemu dengan Lyra dan Pantalaimon, yang ternyata masuk ke dunia ini melalui jembatan yang dibuat ayahnya, Lord Asriel. Lyra masih dalam misi mencari apa itu Debu. Mereka pun belajar untuk saling menyesuaikan diri dan menghormati misi mereka masing-masing.

Sementara itu, di Cittágazze, ada sebuah menara yang disebut Torre degli Angelil, yang diduga menyimpan sebuah pisau ajaib yang bisa membuka jendela ke berbagai dunia, pisau ini juga dipercaya bisa membunuh Spectre. Oleh karena itu, anak-anak yang masih tinggal di Cittágazze begitu beringas ketika mengetahui pisau ajaib tersebuh berhasil dikuasai Will. Mereka tidak segan-segan untuk mencoba membunuh Will dan Lyra.

Berbagai kesulitan menerpa Will dan Lyra. Jari-jari Will yang terputus ketika bertarung untuk merebut pisau ajaib, lalu Lyra yang kehilangan alethiometernya. Belum lagi ancaman Mrs. Coulter yang masih berambisi untuk merebut alethiometer dari Lyra.

Cerita semakin menegangkan dan semakin kompleks. Perubahan watak Lyra tampak dari sikapnya yang semakin bertanggung jawab dan lebih bisa menahan diri dan emosinya. Tapi, siapa sebenarnya Will? Kenapa Will yang harus menerima takdir sebagai ‘pembawa pisau gaib’ yang berbahaya itu?

Sementara itu, beberapa tokoh dari buku pertama, The Golden Compass, mempunyai misi masing-masing yang membuat mereka terpisah dan berjalan sendiri-sendiri. Seperti penyihir Serafina Perkalla, merasa bertanggung jawab untuk mencari dan melindungi Lyra, lalu, Lee Scorebsy memuaskan rasa penasarannya untuk mencari keberadaan Stanislaus Grumman yang diduga masih hidup . Sementara itu, Mrs. Coulter masih tetap menyusun rencana jahat untuk berkuasa.

Monday, March 05, 2007

Arthur dan Suku Minimoy


Kata-kata seringkali menyembunyikan kata-kata lain
----
William Shakespeare
hal. 73


Judul asli: Arthur and the Minimoys
Penulis: Luc Beson
Penterjemah: Mutia Dharma
Qanita, Cet. I – Januari 2007
260 Hal.

Arthur adalah bocah berusia 10 tahun yang punya imajinasi yang hebat. Ia tinggal bersama neneknya. Orang tua Arthur tinggal di kota lain untuk mencari pekerjaan. Sementara itu, kakek Arthur - Archibald, sudah empat tahun menghilang entah kemana. Arthur gemar masuk ke ruang kerja kakeknya meskipun sudah dilarang. Ia suka membaca buku-buku peninggalan kakeknya tentang petualangannya di Afrika.

Kehidupan Arthur dan neneknya berjalan dengan tenang dan damai, meskipun mereka hanya tinggal berdua. Nenek Arthur selalu berusaha membuat Arthur bahagia, meskipun terkadang Arthur nakal dan kelewat kreatif.

Setiap malam, Nenek Arthur selalu mendongengkan cerita sebelum Arthur tidur. Arthur suka sekali mendengar cerita tentang petulangan kakeknya yang membuatnya terpesona, terutama tentang pertemanan kakek Arthur dengan suku Minimoy. Apalagi ketika Arthur melihat gambar Putri Selenia yang seketika membuatnya jatuh cinta.

Tapi, suatu hari datanglah Davido, orang kaya yang sombong. Ia berniat membeli tanah tempat tinggal Arthur dan neneknya, apabila nenek Arthur tidak bisa melunasi hutang-hutang mereka. Mereka diberi waktu 3 hari untuk melunasi hutang itu, atau mereka harus segera angkat kaki dari rumah itu. Ancaman itu tidak main-main, karena Perusahaan Listrik Davido memutuskan aliran listrik di rumah mereka dan Perusaahan Susu Davido juga menghentikan pasokan susu mereka karena nenek Arthur belum membayar tagihannya.

Nenek Arthur terpaksa menjual semua peninggalan kakek Arthur, topeng antik, buku-buku antik, semuanya, agar ia bisa membayar hutang dan tetap mempertahankan rumah itu. Arthur tidak rela buku-buku kesayangan kakeknya berpindah tangan begitu saja. Arthur yang cerdik mencari cara agar bisa menyelamatkan rumah itu.

Untung Arthur pernah membaca petunjuk harta karun yang tersembunyi yang dulu juga menjadi misi kakek Arthur. Arthur hanya punya waktu 3 hari untuk menemukan suku Minimoy dan menyelidiki keberadaan harta karun tersembunyi itu. Dengan petunjuk yang ditinggalkan oleh kakeknya, saat tengah malam, Arthur memulai petualangannya memasuki dunia suku Minimoy.

Ternyata semua itu tidak mudah, selain karena ukuran tubuh Arthur mengecil hingga sebesar suku Minimoy, Arthur juga harus menghadapi musuh suku Minimoy, yaitu Malthazard (yang namanya hanya boleh disebut dengan M), penyihir yang terkutuk. Tapi, dengan gagah berani, Arthur ditemani Putri Selenia dan Betameche, adik Putri Selenia, berangkat menuju tempat M berada. Di tengah perjalanan, mereka harus menghadapi berbagai bahaya yang hampir saja mengagalkan misi mereka.

Nah, buku ini adalah buku pertama, jadi di akhir cerita, Arthur dan teman-teman berhasil lolos dari jebakan musuh, tapi perjalanan menuju tempat M masih sangat jauh dan petualangan itu akan berlanjut di buku kedua, Arthur dan Kota Terlarang.

Buku ini sudah ada filmnya. Disutradarai oleh penulis buku ini sendiri, Luc Beson, yang juga pernah menyutradarai film The Fifth Element, Nikita dan masih banyak lagi. Bintang dalam film ini adalah Mia Farrow sebagai Nenek Arthur, Freddie Highmore sebagai Arthur. Sedangkan pengisi suara Putri Selenia adalah Madonna, lalu ada Robert De Niro yang mengisi suara Raja atau ayah Putri Selenia.

Monday, February 26, 2007

Travelers’ Tale


We always question life. But can life question us?


--- Francis (hal. 118)

Travelers’ Tale
Belok Kanan: Barcelona!

Aditya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat & Ninit Yunita
Gagas Media, Cet. 1, 2007
230 Hal.

Apa jadinya ya, kalo empat penulis berkolaborasi nulis cerita tentang traveling. Pastinya udah pada makan asam garam di dunia per-traveling-an. Paling nggak, gak asal nulis dan ngarang deh soal tempat-tempat yang ada di buku. Salah satu yang bikin gue tertarik beli buku ini, ya, karena ditulis sama empat orang, plus, cerita tentang tempat-tempat asyik di penjuru dunia.

Inti sebenernya, apa lagi kalo bukan cerita cinta, cerita persahabatan. Retno, Farah, Jusuf dan Francis sudah bersahabat sejak jaman mereka SD. Awalnya gak ada tuh, rasa yang aneh-aneh… murni persahabatan. Tapi, tindakan yang simple, tiba-tiba bikin mereka sadar kalo ada sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan.

Di sini ‘ruwet’nya. Pertama, Francis suka sama Retno, tapi dua kali ‘nembak’, dua kali pula Retno menolaknya. Tapi, diam-diam, gara-gara peristiwa bakpao, Farah ternyata suka sama Francis… dan ternyata, gara-gara ada acara bedah kodok di pelajaran biologi, Jusuf yang garink pun jatuh hati sama Farah.

Gak ada gayung bersambut… semua malah bertepuk sebelah tangan. Semua menyimpan rahasia di hati masing-masing. Persahabatan tetap berjalan seperti biasa.

Selesai sma, mereka berpisah. Bekerja di negara yang berbeda, tapi tetap berhubungan via email. Dan… datanglah email yang mengejutkan… email undangan pernikahan dari Francis. Dalam emailnya tertulis kalau Francis akan menikah dengan gadis Katalunya di Barcelona. Dan Francis sangat mengharapkan ketiga sahabatnya itu bisa hadir.

Perjalanan melintas negara di mulai. Dengan perhitungan budget yang ketat, mereka berangkat ke Barcelona, dengan misi masing-masing. Mencoba mencari jawaban atas masa lalu yang bikin penasaran demi masa depan.

Farah terbang dari Hon An di Vietnam – Amman – Budapest…
Jusuf terbang dari Cape Town – Abidjan… (plus di tengah peperangan…)
Retno terbang dari Kopenhagen...
Francis terbang dari Kansas City...

Ke satu tujuan… Barcelona…

Asyik banget baca buku ini… (Ups, nyontek comment-nya Wimar Witoelar di Kata Pengantar). Banyak tempat-tempat yang bikin gue mikir, “Wah.. kapan gue kesana ya?” Poin plus untuk buku ini, ada beberapa tips-tips untuk melakukan traveling.. tips yang diselipin dengan kata-kata kocak… tapi, berguna lho…

Sesekali ada foto hitam-putih yang sayangnya suka gak jelas itu gambar apa. Foto yang berwarna hanya ada di setiap awal bab. Iya, sih.. kalo semuanya berwarna… harga bukunya pasti jadi lebih mahal, tohhh… Di setiap awal bab, diselipkan quotation yang bikin kita semakin pengen traveling around the world…

Gue pun menebak-nebak: siapa nulis tentang siapa? Hmmm… let me guess: Farah is Alaya; Retno is Ninit; Jusuf is Aditya (gelo soalnya) and Francis is Iman.

The Golden Compass (Kompas Emas)

The Golden Compass (Kompas Emas)
Phillip Pullman
B. Sendra Tanuwidjaja (Terj.)
GPU, November 2006
488 Hal.

Lyra Belacqua tinggal di Akademi Jordan. Dia tidak tahu siapa keluarganya. Yang dia tahu, Lyra diasuh di Akademi Jordan, tempat para Cendikiawan. Lyra hanya tahu bahwa dia memiliki seorang paman, yaitu Lord Asriel. Lyra mempunyai dæmon bernama Pantalaimon. Dæmon bisa dibilang seperti binatang peliharaan… atau lebih dari itu… pelayan? Soulmate?. Setiap orang mempunyai dæmon. Ketika seseorang masih kecil, dæmon mereka belum mempunyai bentuk tetap, bisa berubah-ubah, kadang bisa jadi tikus, bisa jadi macan tutul atau cerpelai. Ketika dewasa, dæmon memiliki bentuk tetap, yang menunjukkan sifat pemiliknya. Dæmon dan pemiliknya tidak bisa dipisahkan dalam jarak yang jauh. Mereka harus selalu berdekatan. Jika mereka berpisah dengan dæmon, maka mereka akan merasakan kerinduan dan kesedihan yang sangat mendalam pada dæmon mereka. Seseorang yang tidak memiliki dæmon, akan jadi sangat mengerikan, seperti mayat hidup, seperti ‘terpenggal’. Jika mereka meninggal, maka mereka akan dikubur bersama dæmon mereka.

Lyra gemar bertualang. Ia dan temannya, Roger, menjelajah seluruh isi Akademi Oxford. Bahkan ia sering bermain dan bertengkar dengan orang-orang Gipsi. Suatu ketika, banyak anak-anak kecil menghilang. Gosip beredar, mereka diambil para Pelahap. Kehilangan mereka berhubungan dengan isu Debu.

Dan ketika Roger ikut menghilang, Lyra tidak tinggal diam. Ia bertekat mencari di mana Roger berada. Tapi, belum sempat Lyra mengadakan penyelidikan, datanglah seorang Cendikiawan wanita bernama Mrs. Coulter dengan dæmon-nya monyet emas. Lyra begitu mengagumi Mrs. Coulter, meskipun Pantalaimon curiga dengan monyet emas itu. Ketika Mrs. Coulter mengajak Lyra tinggal bersamanya, Lyra senang sekali. Sebelum pergi ke rumah Mrs. Coulter, Lyra dibekali sebuah alethiometer oleh Master Akademi. Alethiometer adalah sebuah alat yang bisa memberi petunjuk sebuah kebenaran.

Lyra pun tinggal di rumah Mrs. Coulter, di mana tempatnya begitu mewah dan berkelas. Lyra bagai dimanja oleh Mrs. Coulter. Tapi, itu sebelum Lyra mengetahui sebuah kebenaran tentang Mrs. Coulter.

Lyra kabur dari rumah Mrs. Coulter ketika sedang berlangsung pesta di rumah itu. Tapi, Lyra yang sempat tidak tahu tujuan, diselamatkan oleh keluarga Gipsi. Lyra menjadi salah satu anak yang paling diburu oleh para polisi.

Ketika Lyra tahu ada anak-anak Gipsi yang juga menghilang, Lyra mengajak orang-orang Gipsi untuk mau membantunya menyelamatkan anak-anak yang diambil para Pelahap, sekaligus menyelamatkan Lord Asriel yang ditawan dan dijaga oleh beruang berbaju besi.

Lyra menjadi satu-satunya perempuan yang ikut ekspedisi ke Utara. Dalam ekspedisi ini, Lyra ikut bersama pemimpin orang-orang Gipsi, yaitu Lord Faa dan Farder Coram. Mereka juga dibantu oleh beruang besi yang terbuang dari kaumnya, Iorek Byrnison. Tapi, dalam sebuah pertempuran, Lyra tertangkap. Bukan hanya sekali… tapi dua kali… dan ketika ia berhasil bebas dan bertemu Lord Asriel, Lyra harus menerima sebuah kenyataan yang menyakitkan…

Awalnya cerita ini sempat membosankan. Persis seperti gambaran Lyra tentang kehidupan di Akademi Jordan yang banyak aturannya. Tapi, begitu memasuki bagian ketika orang-orang Gipsi mempersiapkan ekspedisi ke Utara, mulai terasa ketegangannya, dan semakin menarik untuk diikuti.

The Golden Compass adalah bagian pertama dari Trilogi His Dark Materials. Dunia dalam kisah ini terbagi tiga, pada bagian pertama adalah sebuah dunia yang mirip dengan dunia kita, tapi berbeda dalam berbagai hal. Sehingga kalau kita baca buku bagian pertama ini, kita akan merasa dunia mereka sama dengan dunia kita. Sedangkan di buku kedua, yaitu The Subtle Knife (Pisau Gaib), cerita terbagi dalam tiga dunia, yaitu dunia yang ada di The Golden Compass, lalu dunia yang kita kenal dan dunia ketiga yang berbeda dari dunia kita dalam banyak hal. Lalu di bagian terakhir dari trilogy ini, The Amber Spyglass, cerita akan berpindah-pindah di antara beberapa dunia.

The Golden Compass sudah dibuat filmnya dan dibintangi oleh Nicole Kidman (sebagai Mrs. Coulter), Daniel Craig (Lord Asriel) dan Dakota Blue Richards (Lyra).

Summer in Seoul

Summer in Seoul
Ilana Tan
GPU, Oktober 2006
280 Hal.

Setelah 'berkunjung' ke Belgia, hari sabtu ini gue 'main-main' ke negeri Ginseng alias Korea... menikmati cerita cinta yang menurut gue kocak juga a la Han Soon-Hee and Jung Tae-Woo. Tiga perempat novel ini gue baca selama menemani suami gue belanja komputer di Mangga Dua. Untung gue bawa buku, kalo gak gue bisa bt nungguin dia belanja sementara gue gak dapet apa-apa di sana.


Entah apa yang ada di benak Sandy alias Han Soon-Hee, gadis blasteran Indonesia-Korea, ketika ia menerima permintaan untuk berpose sebagai kekasih penyanyi muda terkenal di Korea, Jung Tae-Woo. Bukan karena alasan uang, bukan karena alasan Soon-Hee adalah penggemar berat Jung Tae-Woo. Malah ketika pertama kali bertemu Jung Tae-Woo, sikap Soon-Hee amat sangat biasa-biasa saja.

Semua ini diawali ketika secara tidak sengaja, handphone Han Soon-Hee tertukar dengan milik Jung Tae-Woo. Han Soon-Hee terpaksa mengembalikan handphone itu ke rumah Jung Tae-Woo. Padahal ini semua bukan kesalahan Han Soon-Hee, asisten manajer Jung Tae-Woo yang tidak sengaja mengambil handphone Soon-Hee di sebuah toko makanan karena ternyata model dan deringnya sama. Dan di rumah Tae-Woo-lah, pertama kali Han Soon-Hee bertemu dengan penyanyi yang diidolakan perempuan se-Korea.

Dari pertemuan itu, terbersit ide untuk menjadikan Han Soon-Hee sebagai kekasih rahasia Jung Tae-Woo. Semua ini dilakukan hanya untuk menepis gosip yang menyatakan bahwa Jung Tae-Woo adalah seorang gay. Gosip ini dianggap kurang menguntungkan bagi kemunculan perdana Tae-Woo setelah empat tahun.

Ternyata semua ini tidak hanya berakhir dengan foto pertama yang segera tersebar luas di tabloid-tabloid gosip. Wartawan semakin penasaran dengan sosok misterius perempuan yang bersama Tae-Woo karena tidak pernah tampak dengan jelas wajahnya di foto. Soon-Hee juga harus merahasiakan semu ini dari orang-orang terdekatnya.

Di balik semua kepura-puraan ini, diam-diam, mereka mulai saling tertarik. Mulai merasakan cemburu dan bertanya-tanya jika tidak ada kabar.

Tapi yang paling membuat mereka resah adalah kisah empat tahun lalu, sebuah kejadian ketika Jung Tae-Woo sedang mengadakan acara jumpa penggemar, kejadia yang membuat Jung Tae-Woo vakum selama empat tahun. Ada kenyataan tak terduga yang mungkin membuat mereka tidak bisa bersatu.

Wednesday, February 21, 2007

Four Seasons in Belgium

Hidup adalah pilihan. Kita yang harus memilih jalan
hidup kita. Pilih senang atau susah? Menang atau kalah? Kaya atau miskin?

--- Lala, hal. 175

Four Seasons in Belgium
Fanny Hartanti
Gramedia, Juli 2006
232 Hal.

Di tengah-tengah baca The Historian yang tuebeeelll itu, gue ngerasa perlu sedikit refreshing… untuk meredakan ketegangan. Akhirnya gue memutuskan untuk baca novel metropop. Udah lama sih, gue gak baca novel metropop. Gue pun ‘melirik’ dua novel dengan judul yang 'manis' “Summer in Seoul” and “Four Seasons in Belgium”.

Yang pertama gue baca ada Four Seasons in Belgium. Cerita tentang Dewi Andini atau Andin yang dikirim oleh perusahaan consumer goods di Jakarta untuk bekerja selama dua tahun di Belgia. Tugas ini disambut Andin dengan suka cita, karena ternyata, selain untuk karirnya, Andin punya misi khusus, yaitu, bertemu lagi dengan kekasihnya, Dave.

Andin adalah tipe gadis yang mandiri, cuek dan bergaya. Berada jauh dari keluarga dan tanah air tidak serta merta membuatnya homesick berlebihan. Dengan cepat, Andin beradaptasi dengan lingkungan di Belgia. Andin cepat bergaul dengan teman-teman bulenya, ikutan gaul ke pub, jalan-jalan ke negara-negara di Eropa, yang pastinya, semakin menyenangkan dengan adanya Dave, kekasihnya yang tampan itu.

Urusan pekerjaan tidak ada masalah, tapi urusan percintaan yang malah membuat emosi Andin naik turun. Semandiri apa pun seorang perempuan, setegar apa pun dia, ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya hamil, tetap saja bagai petir di siang bolong. Ditambah lagi, sambutan Dave yang ternyata di luar dugaannya. Dave ternyata lebih memilih pekerjaan dari pada Andin dan calon bayi mereka. Andin pun harus memilih, apakah mempertahankan kandungannya atau pergi ke Belanda untuk melakukan aborsi. Pilihan yang berat bagi Andin. Ketika karirnya sedang cemerlang, kehamilan yang datang bisa menjadi salah satu hambatan.

Selama ini, Andin selalu rajin baca majalah Cosmo, Elle, dll, yang jadi panduannya dalam mode dan kehidupan sehari-hari. Tapi, bisa gak Cosmo dan teman-temannya membantu Andin ketika dalam masa sulit seperti ini?

Beruntung Andin punya sahabat yang baik, Lala dan Nick. Lala, teman asal Indonesia, yang diam-diam menyimpan sebuah rahasia besar dalam kehidupannya, dan Nick, pemuda blasteran Indonesia, yang baik banget dan ternyata menyimpan rasa pada Andin.

Sekali lagi, Andin membuktikan kalau dia perempuan yang tough. Andin gak serta-merta jadi cengeng, menuntut pertanggungjawaban Dave dan meratap sepanjang hari. Andin tetap melanjutkan hari-harinya meskipun ia jadi harus super hemat… gak ada lagi shopping barang-barang ber-merk yang lagi sale, gak ada lagi clubbing and merokok…

Dan, gimana ketika Dave memutuskan untuk kembali sama Andin, akankah Andin menerima Dave begitu saja… apa gak nanti Dave akan meninggalkannya lagi? Lalu, gimana ketika tiba-tiba Nick bilang cinta sama Andin? Nick yang super baik… akankah membuat keputusan Andin pulang ke Indonesia jadi batal?

Sekali lagi gue membaca, cerita tentang sebuah pilihan… sanggup gak membuat pilihan, gak hanya atas nama cinta, tapi juga yang rasional?

Monday, February 12, 2007

The Sisters Grimm: Petualangan Detektif Dongeng

Judul Asli: The Sisters Grimm, Book One: The Fairy Tale Detectives
Penulis: Michael Buckley
Penterjemah: Mutia Dharma
Qanita, Cetakan I Januari 2007
320 Hal.
Rp. 39,500

Siapa yang tidak kenal Grimm Bersaudara – Penulis karya-karya klasik tentang dongeng dan keajaiban, seperti: Cinderella, Snow White, Hansel & Gretel, dan masih banyak lagi.

Tapi, siapa yang tahu kalau keturunan Grimm Bersaudara masih ada sampai saat ini.

Sabrina dan Daphne Grimm adalah kakak-beradik. Mereka yatim piatu, orang tua mereka diculik dan tidak pernah ada kabar berita, apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal. Sabrina dan Daphne tinggal di panti asuhan . Sudah beberapa kali mereka berganti orang tua asuh, tapi, mereka selalu berhasil kabur dari rumah orang tua asuh mereka itu.

Sampai akhirnya, Sabrina dan Daphne dibawa ke sebuah kota bernama Ferryport Landing. Mereka dijemput oleh seorang perempuan tua yang mengaku sebagai nenek mereka, bernama Relda Grimm. Padahal, ayah mereka pernah bercerita kalau nenek mereka sudah meninggal.

Mereka dibawa Nenek Relda ke rumahnya yang aneh. Rumah itu harus dibuka dengan ratusan kunci yang berderet. Ketika di dalam rumah, Nenek Relda akan berkata, “Kami pulang!” Rumah itu juga dipenuhi tumpukan buku-buku yang ada di lantai, meja, di bawah sofa dan kerpet. Judul bukunya juga tak kalah aneh: 365 Cara untuk Memasak Naga, Autobiografi Ratu Jahat, atau, Sepatu, Mainan dan Kue: Tradisi Kerajinan Tangan Khas Kaum Elf.

Makanan yang dibuat Nenek Relda lebih aneh lagi: spaghetti berwarna hitam yang dibuat dari tintai cumi-cumi, serta sausnya yang berwarna oranye terang yang rasanya sedikit berkari. Tidak ketinggalan bakso berwarna hijau jambrud.

Tidak seperti Daphne yang langsung menyukai Nenek Relda, Sabrina masih tetap menunjukkan sikap bermusuhan. Dia menganggap Nenek Relda adalah orang yang aneh, dan curiga bahwa Nenek Relda punya maksud buruk terhadap mereka berdua. Sabrina berencana kabur dari rumah Nenek Relda, seperti yang ia lakukan di rumah orang tua asuh sebelumnya.

Tapi, pelarian mereka tidak berhasil. Di halaman rumah Nenek Relda, mereka disengat makhluk seperti kunang-kunang yang ternyata adalah segerombolan pixie.

Ferryport Landing dulunya bernama Fairyport Landing. Di sini tinggal berbagai tokoh dongeng, yang disebut Everafter. Menurut Nenek Relda, buku Kumpulan Dongeng Grimm bersaudara bukanlah dongeng, tapi fakta sejarah. Jaman dahulu, manusia dan Everafter hidup berdampingan, hingga suatu saat terjadi ketegangan di antara mereka. Everafter diburu, sihir dilarang, naga ditangkap. Grimm Bersaudara menyadai masa dongeng akan berakhir, karena itu mereka mendokumentasikannya. Tapi, ketegangan tidak hanya berhenti sampai di situ.

Petualangan Sabrina dan Daphe dimulai ketika Nenek Relda diculik oleh raksasa. Ternyata, Nenek Relda adalah seorang detektif dongeng di Ferryport Landing. Ketika penculikan itu terjadi, Nenek Relda sedang mengajak Sabrina dan Daphne untuk menyelidiki rumah seorang petani yang diduga diinjak oleh raksasa. Banyak hambatan yang menghalangi kemajuan penyelidikan itu, salah satunya datang dari Walikota Charming yang berniat menggagalkan penyelidikan itu karena ada ‘kepentingan politik’.

Sabrina dan Daphne harus menggantikan peran nenek mereka sebagain detektif dongeng. Ternyata Nenek Relda sudah meninggalkan petunjuk apabila terjadi sesuatu dengan dirinya. Agar bisa menyelamatkan Nenek Relda, Sabrina dan Daphne harus meminta bantuan Cermin Ajaib yang akan memberikan petunjuk yang mereka butuhkan.

Di buku ini banyak tokoh-tokoh dongeng yang ternyata menjalani babak kehidupan yang berbeda dari dongeng-dongeng yang selama ini kita kenal. Misalnya, Putri Salju yang menjadi seorang guru dan gagal menikah dengan Prince Charming. Sementara itu Prince Charming sendiri menjadi walikota Ferryport Landing dan sudah menikah enam kali, di antaranya dengan Rapunzel, Cinderella dan Putri Tidur. Lalu, Jack si Penakluk Raksasa yang malah dipenjara dan punya ambisi untuk jadi pahlawan dengan cara yang licik.

Ternyata kisah dalam dongeng tidaklah selalu berakhir dengan “… happily ever after…”

(thank's to Kobo, buat cover-nya)

Tuesday, February 06, 2007

Size 14 is not Fat Either

Size 14 is not Fat Either: A Heather Wells Mystery
Meg Cabot
Pan Books, 2007
345 Hal.

Fischer Hall kembali menjadi Death Dorm dengan ditemukannya kepala seorang pemandu sorak, Lindsay, di dalam sebuah pot di kantin Fischer Hall. Heather Wells, sebagai asisten direktur yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di Fischer Hall, kembali ‘beraksi’. Meskipun sudah diwanti-wanti agar menjauh dan jangan ikut campur dalam masalah ini, seperti kasus terdahulu di Size 12 is not Fat, Heather tetap saja membandel. Rasa penasaran dan rasa tanggung jawabnya membuat ia kembali ‘tercebur’ dalam kasus ini.

Heather menyelidiki orang-orang terdekat Lindsay. Heather mendapatkan petunjuk dari rekan-rekan Lindsay sesama pemandu sorak. Dari Kimberly, Heather menduga adanya hubungan khusus antara Lindsay dan Coach Andrew. Tapi, petunjuk lain mengarah pada anak pemilik perusahaan kontraktor yang paling berkuasa, Doug dan Steve Winner.

Belum lagi ‘sisa’ tubuh Lindsay ditemukan, salah seorang petugas kebersihan di Fischer Hall, Manuel, dianiaya sekelompok orang tak dikenal. Dalam keadaan lemah, Manuel memberikan petunjuk baru bagi Heather. Ternyata kematian Lindsay berkaitan dengan sindikat pengedaran obat terlarang di antara para siswa. Hal ini juga melibatkan sebuah persekutuan di kalangan siswa, Tau Phi. Sebuah persekutuan turun-temurun yang usianya sudah sangat tua.

Tapi, penyelidikan Heather ini membuat dirinya kembali terjebak dalam bahaya dan hampir membuat dirinya ikut jadi korban. Bahkan salah satu siswanya, Gavin, harus ikut mengalami penyiksaan agar Heather mau menyerah. Tapi, Heather adalah perempuan yang berani. Dia gak nyerah begitu saja, malah ia menantang Winner bersaudara yang sangat berpengaruh itu.

Masalah Heather bukan hanya kasus kematian Lindsay, tapi juga masalah pribadinya. Mulai dari kedatangan ayahnya yang baru keluar dari penjara, lalu, mantan tunangannya, Jordan Cartwright, yang memaksanya untuk datang ke pernikahanya yang katanya akan jadi Celebrity Wedding of the Year, dan juga perasaan terpendamnya pada Cooper Cartwright.

Buku ini gak lebih menarik dari yang pertama. Malah biasa-biasa aja. Pengulangan kalimat, “… dorm, I mean, Residence Hall…” berkali-kali malah jadi bikin bosan dan jadi gak penting. Size 12 yang berubah jadi Size 14 menunjukkan kalo Heather agak sedikit lebih gemuk.. tapi, toh, kata Heather, Size 14 masih ukuran rata-rata perempuan Amerika..

Friday, February 02, 2007

Free Booklet & Map

Waktu abis baca Everyboy's Got One - Meg Cabot, gue iseng-iseng browsing, pengen tau yang namanya Le Marche itu seperti apa. Le Marche adalah tempat Holly, tokoh utamanya, jalan-jalan, adalah tempat di Italia yang jadi lokasi untuk Holly dan teman-temannya menginap.

Nah, gue pengen tau, kaya' apa sih puri-puri di Le Marche. Lalu gue cari-cari di google, ketemulah website: http://www.le-marche.com/Marche/, di sana ada tulisan 'Free Offer: free booklets & map'. Gue klik bagian itu, dan gue kirim email yang isinya alamat pengiriman. Gak berharap banyak juga sih, bakal dikirimin.

Eh.. ternyata, setelah kira-kira dua minggu, datang sebuah amplop besar ke kantor gue, dengan tulisan yang gue tau kiriman dari luar negeri. Ternyata isinya, gue dapet booklet gratis, isinya ada map Le Marche, brosur-brosur tentang tempat wisata di Le Marche dan juga directory kalo kita mau jalan-jalan ke Le Marche (Hahaha.. I wish...)

Dasar gue hobi ngumpulin brosur & peta tempat wisata (luar negeri terutama), gue seneng banget dapet kiriman gratis ini. Nice service...
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang