Showing posts with label horror. Show all posts
Showing posts with label horror. Show all posts

Friday, March 10, 2017

The Boy who Drew Monsters


The Boy who Drew Monsters
Maria Renata (Terj.)
Qonita – November 2016
420 hal.

Jack Peter, tidak akan pernah mau diajak keluar rumah. Dia juga hidup dalam dunianya sendiri. Jarang berkomunikasi dengan orang tuanya, bahkan sering kali menolak sentuhan kasih sayang dari orang tuanya.  Menurut dokter, kondisi ini disebut dengan Syndrome Asperger, atau gangguan dalam perkembangan yang mempengaruhi seorang anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Satu-satu teman Jack Peter, adalah Nick. Ibu Jack Peter ingin agar anaknya ditangani oleh seorang ahli, sejak Jack Peter masih  bayi, ia sudah merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan anaknya. Ketika Nick tertawa-tawa, menangis dan bermain dengan ceria, Jack Peter menurutnya terlalu tenang untuk seorang bayi. Tapi, ayah Jack Peter beranggapan, ini hanyalah soal waktu, ada saatnya nanti Jack Peter akan keluar dari dunianya, dan bersosialisasi dengan normal. Setiap bulan, kunjungan rutin ke dokter menjadi saat-saat yang paling ‘mengerikan’ dan melelahkan. Karena kedua orang tuanya harus bekerja keras mengajak Jack Peter untuk keluar rumah. Namun, kondisi ini semakin membuat ibunya khawatir, ketika tanpa sengaja Jack Peter meninjunya, hanya karena ia kaget ibunya membangunkannya.

Jack Peter senang menggambar. Akhir-akhir ini, ia sering menggambar monster. Awalnya, orang tua Jack Peter justru mendukung kegiatan Jack Peter ini. Bahkan, ia diberikan satu set alat menggambar oleh ibunya sebagai hadiah Natal. Tapi, tampaknya ada yang aneh dengan gambar-gambar itu. Dan hanya Nick yang pada akhirnya menyadari hal itu. Apa yang digambar oleh Jack Peter seolah menjadi nyata. Kedua orang tua Jack Peter mulai khawatir ketika mereka juga merasa melihat hal-hal aneh tapi tak bisa dijelaskan dengan nyata.

Novel ini semakin dibuat ‘spooky’ dengan sebuah cerita tentang legenda kapal yang tenggelam di lautan dekat mereka tinggal. Sebagian mayat-mayat penumpang kapal itu tidak ditemukan. Ibu Jack Peter merasakan menjadi sedikit terobsesi dengan kisah ini, karena beberapa musim panas yang lalu, Jack Peter dan Nick hampir tenggelam. Ditambah lagi, ditemukan sebuah tulang yang diyakini Holly, ibu Jack Peter, sebagai salah satu tulang dari mayat-mayat itu.

Awalnya gue kira ini adalah novel untuk anak-anak, ya at least seumuran Mika, udah bisa lah menikmati ini. Gue sempet bilang ke Mika untuk baca, karena dia lagi suka-sukanya novel misteri macam Goosebumps. Untung banget belum gue kasih, karena ternyata ada bagian-bagian dalam novel ini, meskipun sekilas, tapi untuk konsumsi orang dewasa.

Tokoh Jack Peter, dalam diamnya, dia berhasil membuat ‘teror’ tersendiri untuk orang-orang di sekitarnya. Dan gak ada yang sadar kalau dia ketakutan, gak ada yang percaya dengan cerita-cerita monster yang ia ceritakan ke orang tuanya. Hanya Nick yang tau dan yakin bahwa ia harus menyelamatkan Jack Peter.

Di awal, buku ini memang agak lambat alurnya. Suara-suara yang didengar oleh orang tua Jack Peter, seolah hanya halusinasi mereka masing-masing, kehidupan yang nyaman di rumah impian di tepi pantai, di musim dingin ini tiba-tiba jadi mimpi buruk. Baru di bagian-bagian tengah ke belakang, cerita ini mulai jadi lebih menegangkan dengan munculnya monster-monster yang seolah jadi nyata.

Aura novel ini udah membuat gue merinding sejak awal. Musim dingin, tempat yang sepi, karena daerah ini adalah tempat orang-orang berlibur ketika musim panas, tokoh yang hanya beberapa orang, rasa takut dari masing-masing tokoh dengan problemnya masing-masing, legenda kapal tenggelam, tambahan seorang tokoh perempuan Jepang dengan cerita mistisnya, bahkan lukisan kapal yang tenggelam ini, bikin gue juga merinding ngebayangin nasib para penumpang, seolah - seperti Holly - ikut 'tersedot' ke dalam pusaran air yang gelap. Ending-nya juga seolah bisa bikin cerita baru dengan horor yang berbeda.



Submitted for: Fantasy

Friday, June 29, 2012

Perfume: The Story of a Murderer



Perfume: The Story of a Murderer
Patrick Süskind
Bima Sudiarto (Terj.)
Dastan Books
Cet. 1 – Maret 2006
428 Hal.

Novel ini mengajak pembacanya berjalan menelusuri lorong-lorong kota-kota di Perancis yang kumuh, bau dan kotor pada periode sekitar abad ke-18. ‘Bertemu’ dengan tokoh utama yang unik, kalau tidak bisa dikatakan aneh.

Jean-Baptiste Grenouille, lahir di warung ikan, dari rahim seorang wanita yang akhirnya dihukum mati karena dianggap sengaja membunuh anak-anaknya yang lain. Jadilah Grenouille anak yatim piatu. Grenouille selalu berganti-ganti ibu susu karena tidak ada yang tahan dengan dirinya. Penyebabnya, selain karena nafsu minumnya yang besar, juga karena ia dilahirkan tanpa bau badan, tanpa bau khas bayi, khas manusia. Para ibu susu itu menganggap Grenouille sebagai anak yang aneh, monster. Sampai akhirnya, Grenouille dibawa oleh pendeta gereja ke rumah seorang wanita yang tidak memiliki indera penciuman karena hidungnya rusak dipukul, bernama Madam Gaillard.

Di rumah Madam Gaillard inilah Grenouille belajar mengenal benda-benda di sekitarnya, bukan berdasarkan nama-nama, tapi dengan memakai penciumannya. Ya, Grenouille dikarunia bakat penciuman yang luar biasa.

Sampai akhirnya ia merantau pun, ia belajar mengenal arah dengan mengandalkan penciumannya. Penciumannya pula yang mengantarkan Grenouille ke rumah seorang pembuat parfum yang hampir bangkrut, Baldini. Di sini dengan suka rela, Grenouille membantu Baldini, sekaligus diam-diam menyerap semua ilmu Baldini. Dan Baldini sendiri, akhirnya menjadi bangkit kembali. Parfum racikan Grenouille menjadi terkenal di mana-mana.

Selepas dari tempat Baldini, Grenouille ‘merantau’ lagi, ia ingin menemukan cara penyulingan demi mendapat formula untuk parfum yang selama ini mengendap di kepalanya, yaitu parfum aroma ‘perawan’. Mulailah serangkaian pembunuhan terhadap 25 gadis remaja, semua tewas dengan cara yang aneh.

Sekilas, akan terkesan kalau tokoh Grenouille adalah seorang psikopat, pembunuh berdarah dingin, atau bahkan seperti monster. Tapi, sebenarnya tokoh Grenouille adalah seorang tokoh yang mandiri. Terbiasa hidup dalam tatapan aneh orang-orang di sekitarnya membuat ia juga tidak tahu apa namanya cinta. Grenouille sendiri adalah sosok yang cerdas, dan mampu mempengaruhi orang lain.

Novel ini adalah kisah perjalanan hidup Jean-Baptiste Grenouille. Ritme di novel ini bisa dibilang naik-turun. Ada sedikit ketengangan di awal, kemudian turun lagi, sampai bisa merasa bosan karena datarnya cerita, lalu di bagian akhirnya mulai menanjak lagi.

Sebenarnya kisah pembunuhannya sendiri tidak disajikan dalam porsi yang banyak, malah terkesan singkat. Jadi, jangan berharap kisah pembunuhan yang berdarah-darah, karena semua itu dilakukan dengan cara yang ‘dingin’, a la Jean-Baptiste Grenouille.

Buku ini udah ada filmnya. Jean-Baptiste Grenouille diperankan oleh Ben Wishaw. 



Monday, April 23, 2007

Penulis Hantu

Judul asli: The Ghost Writer
Penulis: John Harwood
Penterjemah: Fahmi Yamani
Editor: Siska Yuanita
GPU, Maret 2007
416 Hal.

Gerard Freeman, tinggal di Mawson. Sejak kecil, ibunya selalu menceritakan keindahan kampung halamannya di Staplefield. Tapi, cerita itu berhenti ketika suatu hari, Gerard menemukan sebuah cerita hantu di laci kamar ibunya. Sejak itu ibunya selalu tutup mulut dan tidak pernah lagi bercerita tentang Staplefield dan masa remajanya.

Ibu Gerard, Phyllis Hatherley memang bersikap sangat protektif terhadap Gerard. Sedikit saja Gerad pulang terlambat dari sekolah, maka ketika pulang, ia akan menemukan ibunya sedang mondar-mandir di dekat telepon.

Suatu hari, Gerard mendapat sebuah surat dari sebuah lembaga korespondensi intertasional (AFS jaman dulu itu kali ya…). Dikatakan di surat itu, ada seorang gadis bernama Alice Jessel yang ingin menjadi teman Gerard. Meski takut ibunya tidak setuju, diam-diam Gerard membalas surat itu dan mengiyakan ajakan berteman itu.

Seperti yang sudah diperkirakan, Phillys tidak menyetujui hal itu. Tapi, Gerard berani menentang ibunya, dengan alasan ibunya tidak mau berbagi cerita lagi dengannya.

Alice adalah seorang gadis seumuran dengan Gerard. Menurut cerita Alice, ia adalah gadis berkursi roda dan ada kemungkinan cacat seumur hidup. Alice mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan yang dialaminya bersama orang tuanya. Orang tua Alice sendiri meninggal dalam kecelakaan tersebut.

Sikap Alice begitu misterius. Meski Gerard sudah mengirim foto dirinya, Alice membiarkan Gerard untuk membayangkan sosok dirinya. Lama-lama, pertemanan di antara mereka menjurus ke arah yang lebih jauh. Mereka mulai saling menyatakan cinta. Tentu saja, Gerard yang agresif. Hubungan Alice dan Gerard berlanjut sampai mereka dewasa. Cara mereka berkomunikasi tidak lagi dengan tulisan tangan, tapi sudah lewat email. Alice terus menjanjikan bahwa tidak lama lagi mereka akan bertemu karena sekarang ia sedang menjalani sebuah pengobatan yang memungkinkan ia berjalan kembali.

Sampai dewasa, Gerard tidak pernah tahu rahasia yang disembunyikan ibunya. Gerard masih penasaran dengan cerita hantu yang ditulis oleh neneknya, Viola. Gerard pun mencari berbagai referensi di perpustakaan, dan menemukan beberapa cerita lagi yang ditulis Viola.

Ibu Gerard bersikap penuh rahasia. Ia selalu tampak ketakutan. Dan ketika Gerard pernah bertanya tentang cerita hantu itu, ibunya berkata, “Dan salah satunya menjadi nyata.”

Setelah Phyllis meninggal, Gerard bertekad untuk menyelidiki masa lalu keluarganya. Berangkatlah ia ke London. Ia memasang iklan untuk mencari tahu tentang keluarganya. Dan, tanpa disangka-sangka, iklan itu dijawab oleh Mrs. Hammish yang mengaku sebagai sahabat Anne Hatherley, kakak Phyllis.

Gerard pun mendapat kunci rumah masa kecil ibunya. Di sana menemukan buku harian Anne Hatherley yang setelah diresapi ternyata mirip dengan salah satu cerita yang ditulis Viola, yaitu ‘Sang Hantu’.

Semakin lama, semakin terungkap rahasia masa lalu ibu Gerard, dan memang benar, salah satunya ada yang menjadi nyata.

Terpengaruh oleh cover, anggapan cerita horror sudah ada sejak awal. Tapi, lama-lama, sedikit membosankan. Tentang Alice, sedikit banyak sudah bisa diperkirakan sejak awal. Sosok misteriusnya, pasti berhubungan dengan ‘dekat’ dengan Gerard. Lalu, tingkat ketegangan juga naik-turun, seperti nonton film hantu dengan sosok melayang-layang dengan gaun yang indah.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang