Showing posts with label buku pinjeman. Show all posts
Showing posts with label buku pinjeman. Show all posts

Wednesday, March 20, 2013

The Devil in Black Jeans




The Devil in Black Jeans
aliaZalea
GPU – Februari 2013
352 Hal.
(Pinjem sama @pipitkuprit)

Kepulangannya ke Indonesia, tujuan awalnya hanyalah untuk menghadiri pemakaman dan pembacaan surat wasiat ayahnya. Tapi, tak pernah disangka-sangka oleh Johan Brawijaya, bahwa ayahnya ‘mewariskan’ Blu, adik angkatnya, untuk di’urus’ oleh dirinya selama ibu Blu menyelesaikan pendidikannya di Le Cordon Bleu. Selama ini, sebagai drummer yang ‘katanya’ paling ganteng se-Indonesia, kehidupan Jo ya, bebas-bebas aja. Tapi, kini ia harus bertanggun jawab atas diri remaja berusia 15 tahun itu.

Blu, adalah penyanyi opera Indonesia. Yah, mirip-mirip Connie Talbot gitu kali suaranya ya? Semakin Blu dikenal banyak orang, kesibukan Blu juga semakin bertambah. Belum lagi, Blu juga tidak boleh ketinggalan pelajaran di sekolah, latihan yang intens menjelang pentas, fitting kostum, dan juga urusan sehari-hari. Jo termasuk kakak yang overprotective. Ia mengatur jadwal Blu dengan ketat. Ia juga mengawasi pergaulan Blu dengan teman-temannya.

Tapi, lama-lama, seiring dengan kesibukannya sendiri sebagai drummer-nya Revel (baca: Celebrity Wedding), Jo juga kewalahan mengurus Blu. Maka pihak manajemen memutuskan sudah waktunya Blu memiliki Personal Assistant.

Waktu interview, Jo sudah pasang muka ‘jutek’ dan sikap yang sangat ngeselin. Tapi, sebagai mantan PA dari penyanyi kawakan, Dara tidak gentar. Meskipun kesal dengan sikap Jo yang maunya ngajak perang aja.

Dan benar saja, terkadang apa yang dilakukan Dara sering kali tidak sesuai dengan pandangan Jo. Padahal Blu sendiri menyukai Dara.

Ehem.. tapi ya, pastinya gak perlu dikasih tau apakah ini spoiler apa gak, pembaca juga ngerti arah dari hubungan ‘marah-marah’ ini ke mana. Jo, yang terbiasa dengan perempuan yang mengejar-ngejar dirinya justru berusaha menolak perasaannya sendiri yang penasaran dengan sikap Dara yang justru berani menentangnya. Sementara Dara, juga sama, ia berusaha meyakinkan dirinya kalau ia mencintai tunangannya, Panji dan mengingkari kalau ia pelan-pelan juga suka sama Jo.

Ada fase sama-sama menerima, tapi ada juga fase yang bikin si tokoh langsung down dan memilih untuk menyepi, atau kalo gue bilang fase ‘penolakan’, fase yang bikin susah diri sendiri dengan cara yang gak jelas. Ya, soalnya, udah tau sama-sama suka, tapi pake nyari kejelekan dari diri lawan atau malah diri sendiri. Yang bikin kedua tokoh sama-sama berurai air mata dan well… aliaZalea juga berhasil membuat gue gemes. Ehem.. gemes sama Jo (langsung mikir seperti siapakah sosok Jo ini di dunia nyata?), gemes sama drama-drama antara Jo dan Dara.

Kadang-kadang ya, udah tau sih cerita yang begini bakal ke mana arahanya, tapi memang pinter-pinternya si penulis untuk bikin sesuatu yang baru dari cerita yang temanya udah umum begini.

Tuesday, March 19, 2013

Blind Date




Blind Date
aliaZalea
GPU – Cet. III, September 2012
272 Hal.
(Pinjem sama @pipitkuprit)

Saat memutuskan putus dengan Brandon, Titania berniat untuk membuktikan kalau dia bisa menemukan cowok lain sebagai pengganti Brandon. Hal ini dipicu oleh kata-kata Brandon yang bilang kalau dia adalah satu-satunya laki-laki yang menginginkan Titania. Ihh.. Brandon ini ya, tipe laki-laki yang minta ‘ditendang’, sok pe-de, sok paling oke, padahal, dia yang udah jelas-jelas selingkuh tapi masih juga merasa gak bersalah.

Gara-gara ini, Titania nekat membayar dua ribu dolar Amerika untuk memperoleh jasa blind date professional. www.MyBlindDate menjanjikan akan menemukan pasangan untuk Titania dalam waktu 6 bulan. Jasa blind date satu ini bahkan direkomendasikan oleh Oprah Winfrey di dalam salah satu episode yang menayangkan tentang blind date. Kerahasiaan data terjamin dan konsumen tinggal menyebutkan persyaratan yang mereka inginkan, agen MBD juga akan memberi saran-saran.

Akhirnya, Titania menjalani serangkaian kencan buta dengan beberapa pasangan sesuai dengan karakter yang sudah ia tetapkan. Yah namanya kencan buta, seberapa pun miripnya cowok itu dengan syarat yang diinginkan, tetap saja ada yang kurang. Titania merasa cocok dengan beberapa orang, tapi, ia tahu, dengan mereka rasanya lebih cocok untuk  berteman. Untungnya, gak ada tuh yang namanya ketemu dengan pasangan kencan yang ‘aneh’ atau konyol. Titania sempat putus asa dan takut perkataan Brandon itu memang benar.

Seiring dengan berjalannya waktu, secara kebetulan Titania bertemu dengan Reilley di beberap kesempatan. Semua secara tidak sengaja. Sosok Reilley justru lebih membuat Titania deg-degan dibandingkan dengan beberapa pria yang ditemui saat kencan buta. Bahkan Reilley ‘menyelamatkan’ Titania saat Brandon menguntitnya di sebuah pesta. Meskipun Titania merasa Reilley is the one, tapi tetap saja, Titania belum yakin.

Cerita ini ber-setting di Amerika. Dan satu nih yang positif dari buku ini, meskipun sudah hidup di negara asing, tapi tetap Titania berpegang teguh pada budaya timur – yaitu tetap menjaga keperawanannya sampai menikah.

Reilley bagaikan pahlawan yang ‘jatuh dari langit’, selalu muncul di saat yang tak terduga, bahkan seperti ‘mengikuti’ Titania. Tapi, kalo gue sih… bukan tokoh yang justru bikin gue klepek-klepek… terlalu baik dan ‘lurus’…. Hihihi… still love the bad boy character :D

Tuesday, December 11, 2012

Truly, Madly




Truly, Madly
Heather Webber @ 2010
Utti Setiawati (Terj.)
Penerbit Ufuk, Cet. I – April 2012
462 hal.
(Pinjam sama Pipit)

Lucy Valentine, terpaksa menggantikan ayahnya menjalankan usaha biro jodoh milik keluarga, Valentine Inc. Biro jodoh ini bukan perusahaan sembarangan karena Valentina Inc. termasuk perusahaan terkemuka. Ayahnya yang terkena serangan jantung saat sedang berada di pantai bersama selingkuhannya, membuat berita yang cukup menggemparkan di kota tempat mereka tinggal.

Keluarga Valentine dianugerahi kemampuan melihat aura/warna cinta sehingga mereka bisa menjodohkan setiap klien mereka berdasarkan aura tersebut. Sebenarnya Lucy juga sempat memiliki kemampuan itu, sampai suatu hari ia tersambar petir dan kemampuan itu hilang, digantikan dengan kemampuan lain, yaitu bisa menemukan benda-benda yang hilang lewat tangan orang yang disentuhnya.

Suatu hari, Valentine Inc. kedatangan seorang client bernama Michale Lafferty. Saat Lucy menjabat tangan pria itu, ia melihat gambaran cincin tunangan Michael yang sudah lama hilang. Tapi… cincin itu ada pada tengkorang  yang terkubur di sebuah taman dekat rumah Michael.

Naluri Lucy berkata ada yang tidak beres. Tapi, bagaimana ia bisa melakukan penyelidikan, sementara ia tidak mau ada orang lain yang tahu dengan kemampuannya itu. Akhirnya, Lucy meminta  bantuan investigator pribadi yang berkantor di gedung yang sama dengan Valentine Inc, bernama Sean Donahue.

Di saat yang sama, seorang bocah laki-laki  bernama Max hilang di hutan. Lucy ingin sekali membantu menemukan anak laki-laki itu, tapi, sayangnya, Lucy hanya bisa menemukan benda mati, bukan makhluk hidup.

Penyelidikan cincin misterius, pencarian Max, membawa Lucy pada peristiwa-peristiwa yang tak terduga. Tak hanya berusaha meyakinkan kliennya tak bersalah, tapi juga Lucy harus bersembunyi dari wartawan amatir yang ingin memuat gosip seputar keluarganya. Belum lagi usaha Nenek Dovie yang coba-coba jadi mak comblang.

Buat gue, asyik mengikuti aksi Lucy. Cerita misteri gak melulu harus menegangkan, tapi bisa juga dibuat dengan gaya yang santai. Mau romance-nya juga ada, tapi gak berlebihan. Di seri pertama ini, sih, gaya percintaan Lucy masih pdkt, malu-malu tapi mau.. Hehehe.. Yang unik nih, keluarga Valentine berusaha mencarikan cinta sejati untuk orang lain, tapi justru mereka sendiri terkena yang namanya ‘Kutukan Cupid’, alias percintaan mereka sendiri akan berantakan.

Menantikan kelanjutan kisah Lucy Valentine yang lain untuk diterjemahkan sama Ufuk. Terjemahannya cukup oke, koq.

Kadang ya, ada buku-buku yang awalnya gue pandang sebelah mata, atau males-malesan di awal, tapi begitu diterusin ternyata koq malah jadi seru dan suka. Salah satunya ya, buku ini. Sempat terpikir, kalo ini seperti sejenis chicklit dengan tokoh perempuan yang konyol atau cenderung ‘bodoh’…   yah Lucy sih emang sedikit kocak, tapi dengan kemampuan menemukan barang hilang itu, jadi memberi nilai tambah untuk tokoh Lucy, plus novel ini gak memaksakan untuk memasukkan kisah cinta-cintaan yang berlebihan.

Beautiful Mistakes





Beautiful Mistakes
Sefryana Khairil & Prisca Primasari
Gagas Media
512 hal
(Pinjam sama Pipit)

Cerita pertama – Dreamland (Sefryana Khairil)

Nadine sakit hati karena kekasihnya membatalkan rencana pernikahan mereka. Ia pun memilih menenangkan diri di Bali, bersama kedua sahabatnya. Di sebuah café, ia melihat seorang bartender sedang menunjukkan kebolehannya meracik minuman. Rasa tertarik membuatnya ingin mengenal lebih jauh pria bernama Fajar itu.

Sementara Fajar, juga menyembunyikan sebuah luka, yang membuatnya takut menjalin hubungan baru. Ia belum bisa melupkan kenangan akan almarhumah istrinya.


Cerita kedua – Chokoreto (Prisca Primasari)

Akai Fukuke terpaksa menyimpan mimpinya untuk jadi pianis demi merawat ayahnya dan membantu di toko minuman cokelat milik keluarganya. Akai ini ‘clumsy’ banget, sering mecahin gelas-gelas yang di toko itu.

Yuki Akihara, tetangga Akai, yang sering mampir ke Chokoreto. Diam-diam sih, keduanya suka saling memerhatikan. Yuki ini juga belajar piano, alunan suara piano ketika Yuki latihan, membuat Akai semakin tertarik.

Yuki ingin jadi penulis, tapi ia takut untuk tampil di muka umum, karena trauma yang disebabkan saat ia sekolah.

Tapi, Yuki dan Akai, saling memberi semangat satu sama lain. Berjuang bersama untuk meraih mimpi-mimpi mereka dan mengalahkan rasa takut dan kekhawatiran lain.

-----

Hmmm…hmmm…. Mungkin nih karena abis baca ‘Sweet Nothings’, gue jadi masih terbayang karakter Saskia dan Harsa saat gue membaca Dreamland. Soalnya gue merasa ada kemiripan karakter dengan Nadine dan Fajar . Kalo di Sweet Nothing, Saskia yang kehilangan pasangannya, di sini Fajar yang istirnya meninggal. Lalu, antara Harsa dan Nadine sama-sama ditinggalkan kekasihnya yang memilih menikah dengan orang lain.

Saskia dan Fajar sama-sama menutup diri untuk menjalin hubungan baru, sedangkan Harsa dan Nadine keukeuh kalau mereka bisa membuat Saskia atau bahagia dengan hubungan yang baru.

Lalu, Harsa dan Fajar juga digambarkan memilih (akan) pergi ke luar negeri, demi melupakan Saskia/Nadine.

Yah… lagi-lagi, gue merasa ‘biasa’ aja. Setting di Bali, gak membantu cerita ini untuk  jadi ‘lebih’ berkesan buat gue.

Dan, untuk cerita kedua, lagi-lagi Prisca Primasari memilih setting di luar negeri dengan tokoh yang asing. Kali ini, ia memilih tokoh dari Jepang. Di setiap cerita Prisca Primasari, pasti terselip musik klasik dan tokoh dari Rusia.

Buat gue, cerita ini simple… tokohnya juga gak macem-macem. Semua mengalir aja dan tenang. Aduh, lagi-lagi, gue membayangkan secangkir cokelat hangat, pasti sedap banget diminum pas lagi hujan… Hmmm…

Tapi, kenapa Prisca selalu memilih luar negeri ya? But still, I love Prisca’s story better than the first one.

Kesamaan dari dua cerita ini, adalah semua tokoh punya masa lalu yang sedikit banyak membuat rasa takut untuk bikin langkah selanjutnya, mereka semua punya mimpi, karakternya yang satu ceria, yang satu tertutup – dua karakter ini ada pada dua tokoh utama di masing-masing cerita. O ya, dua cerita ini sama-sama punya minuman yang jadi andalan: Dreamland dan Stravinsky Berrychoco.


Note to myself:
Jangan baca buku jenis seperti ini secara berurutan, kalo gak pas sama selera, bawaannya malah jadi kesel, gak puas dan pengen kasih kritik aja.

Tuesday, December 04, 2012

Sweet Nothings




Sweet Nothings
Sefryana Khairil
Gagas Media – Cet. I, 2012
316 hal
(Pinjam sama Pipit)

Saskia, pemilik toko kue Sweet Sugar, seorang orang tua tunggal. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Setelah suaminya meninggal, Saskia menutup diri dan menolak untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Pernikahannya tidak bahagia dan Saskia takut akan merasakan sakit hati lagi karena percaya dengan laki-laki.

Harsa, seorang chef terkenal, bekerja di Sweet Sugar, setelah ia melepas pekerjaannya di bakery sebuah hotel terkenal. Harsa juga punya masa lalu yang pahit dalam menjalin hubungan percintaan. Kekasihnya lebih memilih untuk menikah dengan pria lain, ketimbang menunggunya.

Dan di Sweet Sugar mereka bertemu. Harsa sejak awal menunjukkan rasa tertarik terhadap Saskia, tapi Saskia membangun tembok pertahanan yang tinggi. Ia tidak mau membiarkan dirinya terhanyut dengan perasaannya sendiri, meskipun diam-diam, tanpa bisa ditolak, dirinya tertarik pada Harsa.

Membaca buku ini, gue sempat rada kesal dengan tokoh Saskia – terlalu kaku, meskipun gue coba ngerti apa alasannya. Tapi, tetap aja… terlalu keras kepala menurut gue. Dan, hmm.. tokoh Harsa, bisa jadi sanggup bikin perempuan ‘meleleh’. Ganteng, baik hati dan jago masak lagi.

Biasanya nih, gue cukup ‘kena’ dengan buku-bukunya Sefryana Khairil. Tapi, koq yang satu ini berasa ‘lewat’ gitu aja. Untuk buku-buku seperti ini, gak perlu susah-susah mikir ending-nya seperti apa. Yang suka drama sih, pasti oke-oke aja.. Tapi, tampaknya, kali ini jiwa gue lagi gak ‘romantis’. Hehehe…

Sejujurnya, gue mau kasih 2 bintang aja… tapi karena yah.. gue (selalu) suka dengan ide novel yang ada makanannya, ditambah membayangkan suasana Sweet Sugar yang tampak klasik dan ‘wangi’ kue yang menebar, gue tambah satu lagi deh… gue kasih 3 potong cheese cake strawberry…

Thursday, October 11, 2012

Safe House




Safe House
Meg Cabot (writing as Jenny Carroll)
Simon Pulse - 2004
262 hal.
(Rental di ReadingWalk)

Salah satu anggota cheerleaders di sekolah Jessica Mastriani ditemukan tewas – dan tiba-tiba saja Jess merasa seolah semua orang di sekolah menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Amber. Peristiwa itu terjadi kala Jess sedang berlibur bersama temannya, Ruth. Dan saat Heather, seorang anggota cheerleader juga, menghilang, Jess lagi-lagi diharapkan bisa menemukan gadis itu sebelum terlambat.

Selama ini Jess dikenal mempunyai kemampuan menemukan orang hilang. Kasih saja salah satu barang milik si orang hilang itu, dan saat tidur Jess akan bermimpi tentang keberadaan orang tersebut. Dan, saat ini Jess mengaku kalau kemampuan itu sudah hilang. Tapi, tak ada yang mempercayai perkataan Jess dan mau tak mau Jess menuruti permintaan temannya untuk mencari Heather.

Misteri selanjutnya adalah siapa pembunuh Amber? Apa motifnya dan apakah orang ini juga yang menculik Heather?

Jess adalah gadis biasa-biasa saja di sekolah, bukan termasuk kelompok yang popular. Tapi, Jess lumayan sering dipanggil ke kantor kepala sekolah karena ia ternyata sering berkelahi. Well, kalau pun Jess itu populer, bukan karena dia termasuk gank yang cantik atau pintar, tapi karena sering dapet hukuman. Emosinya gampang meledak. Suka dengan cowok tipe-tipe bad boy. Jess juga anak yang tomboy. Kalau sebelumnya dia ke sekolah pake jeans, t-shirt dan sneakers, di term kali ini, Jess pengen jadi anak yang lebih 'manis'. Makanya dia ganti penampilan jadi lebih 'girly'.

Buku ini adalah buku ketiga dari seri 1-800-WHERE-R-YOU. Mungkin karena belum pernah baca buku sebelumnya, ada beberapa hal yang bikin jadi gak nyambung. Seperti, awal mula Jess punya kemampuan yang istimewa itu – katanya sih gara-gara kesamber petir. Terus, ada apa dengan kakaknya, Douglas yang katanya mengidap schizophrenia. Dan kenapa Jess begitu mudah meledak emosinya.

Buat gue buku ini gak terlalu istimewa. Datar aja gitu. Gak ada emosi, atau yang bikin penasaran banget. Mungkin karena ini untuk pembaca remaja, buku thriller-nya jadi gak rumit. Kalo untuk pembaca yang lebih dewasa dan pengen baca thriller a la Meg Cabot, silahkan baca seri Size 12 is not Fat. Kurang lebih setipe, lah.

Monday, September 24, 2012

Rufus M



Rufus M
Eleanor Estes @ 1943
Odyssey – 2001
235 hal.
(Pinjam dari Reading Walk)

Well.. ini adalah kisah tentang anak kecil yang kocak, sok tau dan pantang menyerah tapi tetap lucu. Apa yang dia mau, maka ia akan berjuang supaya tercapai.

Namanya Rufus Moffat, tapi si Rufus ini terbiasa menuliskan namanya hanya Rufus M. Dia adalah anak terkecil dari 4 bersaudara Moffat. Ada aja akalnya yang bisa bikin gue jadi senyam-senyum gemes saat membaca kisah Rufus ini. Ini adalah buku ketiga dari kisah Moffat bersaudara ini.

Baca aja gimana usaha Rufus biar bisa minjem buku di perpustakaan, biar harus bolak-balik, tapi Rufus tetap gigih berjuang sampai akhirnya si pustakawati luluh.

Semua begitu simple di mata Rufus. Di tengah-tengah suasana Perang Dunia I, Rufus tetap ceria bersama kakak-kakaknya. Di sekolah, setiap anak wajib merajut handuk untuk para prajurit yang akan pergi ke medan perang. Dan saat melepas kepergian prajurit itu di stasiun kereta api, Rufus bersikeras untuk menyampaikan sendiri handuk hasil buatannya itu ke salah satu prajurit. 



Salah satu ilustrasi - via Collecting Children's Books

Siapa yang gak bakal jatuh cinta dengan tokoh yang menggemaskan seperti ini?

Ini adalah salah satu buku klasik. Mungkin gak banyak pembaca di Indonesia yang mengenal Eleanor Estes ini. Karena kalo ngeliat di Goodreads, yang kasih review pembaca dari luar semua. Yah, gue sendiri baru tau setelah baca buku ini. Rufus M ini mendapatkan penghargaan Newberry Honor. Buku lain beliau, selain seri The Moffats (The Moffats, The Middle Moffat dan The Moffat Museum) adalah Ginger Pye (yang meraih medali Newberry), Pinky Pye, The Witch Family, The Hundred Dresses dan Miranda the Great.

Ide The Moffat Museum keren juga ya… hehehe.. ini cocok untuk para melakolis yang selalu sayang sama barang-barang yang ‘dianggap’ punya nilai sejarah dan kenangan.

Kira-kira adakah penerbit di Indonesia yang mau menerjemahkan buku-buku Elanor Estes?

Thursday, September 06, 2012

Gadis Kretek



Gadis Kretek
Ratih Kumala @ 2012
GPU – Cet. I, Maret 2012
275 hal
(Pinjem sama Om Tan)

Boss besar Kretek Djagad Raja sedang sekarat. Dalam keadaan ‘ngelindur’, Pak Raja malah menyebutkan nama seorang perempuan yang karuan membuat istrinya berang dan cemburu. Jeng Yah – demikian nama perempuan itu. Ketiga anak laki-laki mereka pun bertanya-tanya, siapakah Jeng Yah? Bertanya pada ibu mereka sama saja memicu pertengkaran, karena ibunya berkata “Jangan berani-berani menyebut nama perempuan itu!” Waduh…

Maka, Tegar, Karim dan Lebas pun mencari informasi tentang siapakah sosok Jeng Yah itu. Bergulirlah sebuah kisah di balik kesuksesan Kretek Djagad Raja.

Diawali dengan persaingan antara Soedjagad dan Idroes Moeria di masa perang kemerdekaan. Kala itu jaman serba susah. Pada dasarnya Soedjagad dan Idroes ini berteman sejak kecil. Tapi, persaingan diam-diam dalam memperebutkan seorang gadis bernama Roemisa, membuat mereka akhirnya menjauh. Syarat untuk bisa mendapatkan hati sang gadis adalah harus bisa baca-tulis. Sebuah syarat yang berat kala itu.

Awalnya Idroes-lah yang mulai dengan usaha kretek ini. Tapi, selalu saja tak selang berapa lama, muncul kretek sama produksi Soedjagad, entah dengan nama yang berbeda, atau kemasan yang nyaris sama. Tak ketinggalan pula slogan yang menarik hati para konsumen. Tentu saja Idroes gemas. Meskipun ia berhasil memenangkan ‘hati’ Roemisa, tapi tetap saja tak membuat Soedjagad menyerah. Puncaknya adalah ketika tiba-tiba Idroes menghilang kala masa pendudukan Jepang. Nyaris saja Roemisa jatuh ke pelukan Soedjagad.

Persaingan terus berlanjut bahkan sampai pasangan ini memiliki anak perempuan bernama Jeng Yah. Tapi selalu saja, Idroes selalu selangkah lebih maju. Kretek Gadis-lah yang membuat Idroes semakin sukses. Saat itu, seorang pemuda bernama Soeraja tengah dekat dengan Jeng Yah. Pemuda yang tak jelas asal-usulnya ini membuat Jeng Yah jatuh cinta. Mereka nyaris menikah, tapi sayang, peristiwa G30S/PKI membuat rencana mereka berantakan. Soeraja pun menghilang, Kretek Gadis juga sempat mengalami masa koma.

Dan… bagian yang lucu adalah saat pembaca rahasia luka di wajah Soedjagad terbuka apa penyebabnya. Dan terbongkar pula sebuah rahasia lain, yang membuat ketiga anak laki-laki Soedjagad justru merasa bersalah.

Wah, sebuah usaha yang sangat sederhana, melahirkan perusahaan kretek yang kemudian jadi nomer 1. Cover novel ini bisa membuat pembaca bertanya-tanya, siapakah si Gadis Kretek? Si Gadis yang tengah memegang rokok (yang kalo di iklan rokok aja kan gak boleh keliatan ada rokoknya… CMIIW). Tapi, gue suka cover-nya, tampak klasik.

Pembaca juga diberi ‘pengetahuan’ tentang segala sesuatu tentang kretek, mulai dari cara memilih tembakau dan cengkeh, sejarah kretek, bahan pembungkus kretek, plus resep rahasia yang membuat kretek itu jadi ‘enak’.

Tak hanya itu, Soedjagad juga mengajarkan pada anak tertuanya, bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu bersikap, bahwa banyak yang menggantungkan hidup pada pabrik kretek mereka. Para buruh bukan hanya pekerja, tapi juga keluarga mereka.

Tapi, kenapa gue merasa porsi si Gadis Kretek ini terlalu singkat ya? Justru begitu panjang kisah cinta Idroes dan Roemisa, plus cerita tentang persaingan Idroes dan Soedjagad.

Saturday, June 30, 2012

The Postmistress



The Postmistress
Sarah Blake @ 2010
Meggy Soejatmiko (Terj.)
Elex Media Komputindo, Cet. I – April 2012
588  hal.
(Pinjam sama Astrid)

Ini adalah kisah dua perempuan yang bertugas menyampaikan berita. Sama-sama berperan penting dalam kehidupan ‘kelangsungan’ hidup seseorang.

Amerika – masa-masa Perang Dunia II, pemerintah sudah berjanji bahwa tidak akan ada pemuda yang dikirim ke medan perang. Tapi, tetap saja warga was-was. Bisa-bisa sewaktu-waktu tentara Jerman muncul di perairan Amerika.

Harry Vale, setia memantau perairan di di pesisir Franklin, di sekitar daerah tempat ia tinggal. Meskipun banyak yang menganggap remeh usahanya ini. Bahkan ia meminta kepala kantor pos yang baru, Iris James, untuk segera memotong sedikit tiang bendera di depan kantor pos yang terlalu menjulang. Khawatir ini akan menjadi tanda bagi tentara Jerman.

Iris James, si kepala kantor pos baru ini, sangat serius dengan pekerjaannya. Baginya, surat-surat yang masuk ke kantor posnya adalah sangat penting bagi kehidupan seseorang. Bisa saja di salah satu surat itu ada panggilan kerja untuk seorang pencari kerja, surat undangan, surat lamaran pria pada kekasihnya. Jika ini terlambat sampai ke orang yang bersangkutan, maka akan menghambat hari-hari orang lain.

Sementara, nun jauh di London, Frankie Bard, reporter asal Amerika, setia mengabarkan kepada dunia – Amerika tepatnya – akan kondisi perang yang sesungguhnya. Bom yang nyaris dijatuhkan di London setiap malam, orang-orang yang kehilangan sanak-saudara, teman dan tempat tinggal. Frankie mencoba membuka mata, bahwa perang itu sungguh ada. Ia meninggalkan kehidupan yang nyaman demi menyampaikan berita.

Adalah Will Fitch yang jadi benang merah antara kedua perempuan ini. Karena gagal membantu menyelamatkan nyawa seorang ibu saat melahirkan, Will Fitch merasa bersalah, ia pun ingin menebus rasa bersalahnya itu dengan pergi ke London, menjadi sukarelawan di sana. Meski berat, Emma, istrinya melepas kepergian suaminya. Will tak tahu kalau Emma sedang hamil. Dan, Will berjanji akan terus mengirimkan kabar dan segera pulang.

Di awal, kabar itu lancar, sampai suatu malam, terjadi tragedi yang merengut nyawa Will. Saat itu, Frankie yang baru saja berkenalan dengan Will, melihat surat yang akan dikirim Will pada Emma. Kejadian ini, membawanya mengambil keputusan untuk mencari berita dengan mewawancarai para pengungsi. Kembali ia harus menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis. Selain itu, masih ada beban – surat Will, dan bahwa ia adalah sebagai salah satu penyampai berita buruk.

Dan, surat yang mengabarkan kematian Will juga tiba di kantor pos tempat Iris. Iris yang melihat bagaimana setiap hari Emma selalu melihat kotak pos-nya, menanti datangnya surat dari Will, tak tega untuk menyampaikan berita ini. Sosok Emma yang begitu rapuh, membuat semua orang ingin melindunginya.

Siapakah yang nantinya akan menyampaikan berita itu ke Emma? Iris atau Frankie? Yang jelas dua-duanya mempunyai beban yang berat.

Inilah cerita perang tapi tanpa dar-der-dor. Malah perangnya sendiri seolah gak ada. Padahal sesungguhnya ada di sekeliling mereka. Coba aja baca, saat Frankie masih sempat minum-minum di klub, atau teman-teman Harry yang masih asyik mancing. Padahal mereka semua juga was-was.

Dan bagaimana, keputusan seseorang bisa sangat mempengaruhi jalan hidup orang lain. Bagaimana juga rasa curiga justru lebih besar ada di tempat yang adem-ayem. Yang bikin sedih, saat seorang ibu melepas anaknya untuk pergi sendiri, biar anaknya selamat, lalu saat seorang anak melihat rumahnya sudah luluh lantak terkena bom dan gak tau keluarganya di mana. Ini adalah bagian-bagian yang bikin sesak. Hiks….

Gue sempat merasa bagian soal tiang bendera itu bagian yang gak penting. Tapi itu justru bagian itu yang jadi ‘penanda’ hubungan antara Iris dan Harry.

Cerita ini juga menggambarkan sosok perempuan yang ‘gagah’. Bukan berarti macho sih. Tapi berani. Frankie Bard dengan berita-beritanya di medan perang – tak sekali nyawanya pun terancam, dan Iris James, si lajang yang sempat jadi bahan omongan di tempat barunya karena penampilannya yang katanya rada gak cocok dengan lingkungan sekitar.

Judulnya sih rada gak nyambung atau menyesatkan kali ya, soalnya ternyata yang paling banyak rasanya justru si Frankie Bard, bukan Iris. Bahkan Emma rasanya juga lebih berperan di sini. 

Dan sekedar intermezo aja sih, di jaman itu sepertinya merokok untuk perempuan jadi hal yang hip, bahkan Emma yang sedang hamil pun masih terus merokok. 

O ya, inilah sosok Edward R. Murrow - wartawan perang yang jadi pembimbing Frankie


Monday, June 25, 2012

Hujan dan Teduh



Hujan dan Teduh
Wulan Dewatra
Gagas Media  - Cet. IV, 2011
250 hal
(pinjam sama pepito)

Cerita pertama, saat Bintang duduk di  bangku SMA di Bandung. Hubungannya dengan teman sebangkunya, Kaila, terbilang sangat akrab. Suatu hari, saat mengerjakan tugas di rumah Kaila, Bintang harus menginap. Dan, tercetuslah sebuah pengakuan dari bibir Kaila, bahwa ia menyukai Bintang lebih dari sekedar teman. Gayung bersambut, Bintang membalas perasaan Kaila. Sejak itu, dimulailah hubungan diam-diam. Mereka berdua berlaku normal di depan keluarga dan teman-teman. Sama-sama punya pacar dan saling cemburu saat salah satu harus bersama pacar ‘normal’nya.

Rahasia terbongkar karena kecerobohan Kaila, beredarlah foto-foto mereka berdua.  Bintang lebih kuat menghadapi cemooh teman-teman sekolah. Tapi tidak dengan Kaila. Kisah  bersama Kaila berakhir tragis, tapi Bintang tetap menyimpan potongan hatinya untuk Kaila.

Cerita kedua, tentang Bintang yang kuliah di Jakarta. Bintang berkenalan dengan Noval, dan akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Awalnya Noval begitu perhatian pada Bintang, tapi lama-lama, Noval jadi posesif. Bintang dilarang macam-macam – sebut saja dilarang berenang karena banyak cowoknya, padahal renang adalah olahraga favorit Bintang. Gak boleh pake rok, gak boleh jalan sama cowok lain. Kalau Bintang melawan sedikit, secara tak sadar, Noval menyakitinya secara fisik. Noval juga kerap memaksakan keinginannya.

Meskipun demikian, Bintang tak punya keberanian untuk meninggalkan Noval. Hubungan mereka lambat laun jadi dingin.

Wah, udah lama gak baca buku romance begini, ternyata lumayan untuk selingan. Sehari selesai, dan ceritanya juga oke lah. Buku ini jadi juara I dalam lomba penulisan 100% Roman Asli Indonesia yang diselenggarakan oleh Gagas Media. Temanya, tentu saja tentang cinta. Tapi, yang membuatnya jadi menarik adalah pelakunya, dan dengan siapa percintaan itu terjadi. Ada dua cerita yang selang-seling, dengan setting waktu yang berbeda.

Buat gue, mengangkat tema percintaan seperti ini cukup berani, meskipun jaman sekarang udah bukan suatu rahasia kali ya.

Ada satu yang ‘ganggu’ dan ngeselin… endingnya itu, lho. Mengakhiri cerita dengan pertanyaan yang ‘menggantung’ itu bikin kesel pembaca… tau gak?!  :D Gue sampai berpikir, apa ada halaman yang sobek, atau hilang. Tapi, gak ternyata… Yah, tapi, it’s oke lah, daripada dilanjutin kalimatnya malah bikin ceritanya lebih klise lagi…

Tuesday, January 17, 2012

Hotel on the Corner of Bitter and Sweet


Hotel on the Corner of Bitter and Sweet
Jamie Ford @ 2009
Leinovar Bahfein
Penerbit Matahati - Cet. 1, November 2011
398 hal.
(pinjam sama @balonbiru)



“Berapa lama kau akan menungguku, Henry?”

”Selama yang dibutuhkan…”
“Bagaimana kalau aku tetap di sini sampai tua dan ubanan __”
“Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat.”

(hal. 317)

Ah, betapa romantisnya kalimat-kalimat di atas. Didukung dengan cover-nya yang cantik, cuaca dingin-dingin abis hujan :D

Diceritakan dalam dua kurun waktu yang berbeda, tahun 1942 dan 1986, ber-setting di Amerika. Henry, anak laki-laki berusia 11 tahun, hidup dalam masa perang. Sebagai keturunan Cina, tidaklah mudah bagi Henry. Ayah Henry, seorang pria nasionalis sejati, ia sangat membenci Jepang yang sudah memporak-porandakan Cina. Ia sangat mendukung diusirnya rakyat Jepang dari Amerika. Dan ayah Henry menginginkan anaknya untuk menjadi ‘Amerika’, ia tidak diperbolehkan bicara bahasa Canton di rumah. Padahal orang tuanya sendiri tidak begitu paham bahasa Inggris. Di sekolah pun, Henry kerap jadi bahan ejekan. Ditambah lagi, ia wajib memakai bros ‘Aku Orang Cina’ ke mana pun ia pergi. Mungkin tujuannya biar gak dikira orang Jepang dan demi keselamatan Henry sendiri. Di sekolah, Henry bekerja di kantin, membantu menyediakan makan siang untuk para siswa.

Suatu hari, datanglah seorang gadis cantik bernama Keiko. Malang bagi Keiko, meskipun ia lahir di Amerika, tapi tetaplah di mata orang, ia tetap seorang Jepang. Keiko tinggal di kawasan Nihonmachi. Keiko dan Henry sama-sama bekerja di kantin. Dan saat itulah, dimulai persahabatan mereka. Hubungan yang sangat terlarang di mata ayah Henry. Tapi, bahkan, saat Keiko dan keluarganya, beserta warga keturunan Jepang lainnya harus tinggal di dalam kamp pengungsian, Henry tetap setia menemui Keiko dan kerap berkirim surat.

Tapi, hubungan ini tidak mulus. Ayah Henry yang mempunyai kuasa di kalangan keturunan Cina, menggunakan pengaruhnya untuk menjauhkan Henry dan Keiko. Dalam keadaan sakit pun, ayah Henry bisa ‘mensabotase’ surat-menyurat antara Henry dan Keiko. Yang pada akhirnya membuat Henry terpaksa mengalah dan hubungan itu pun terputus.

Tahun 1986, Henry yang baru saja kehilangan istrinya, lewat di depan hotel Panama yang sedang dibongkar. Hotel Panama ini adalah tempat warga Jepang menyimpan barang-barang mereka sebelum mereka dulu dibawa ke kamp pengungsian. Daripada menghancurkan kenangan mereka, para warga Jepang memilih untuk menyimpannya. Meskipun tak tahu kapan bisa diambil lagi.

Tanpa sengaja, Henry melihat sebuah benda yang membawanya kepada kenangan 40 tahun silam. Dan ia pun tergerak untuk mencari potongan kenangan yang lain.

Wahh.. tanpa terasa gue ikut terhanyut dalam kenangan Henry, kenangan akan cinta monyet, saat anak laki-laki 11 tahun berusaha untuk jadi dewasa, mencoba bertanggung jawab atas anak perempuan seusianya dan bahkan pengen ngajak kabur… Begitu lugu…

Buku ini gak hanya melulu soal hubungan Keiko dan Henry, tapi juga menyorot hubungan Henry dengan ayahnya yang kaku, ibunya yang terombang-ambing, antara kadang kasihan sama anaknya, tapi juga harus nurut sama suaminya. Padahal gue pengen lebih mengenal Keiko, tapi sayangnya, justru Henry yang paling dominan. Suka dengan Keiko yang manis.. pinter gambar. Dan uniknya nih, dua anak ini punya soundtrack lagu jazz.


Gue juga tertarik dengan fakta-fakta dalam buku ini. Misalnya Hotel Panama yang memang benar adanya. Dibangun oleh arsitek Jepang di tahun 1910, bernama Sabro Osaza. Sekarang, di dalam hotel ini, dibuat semacam lantai kaca, di mana para pengunjung bisa melihat ke basement di mana masih ada barang-barang yang ditinggalkan warga Jepang.

Penulisnya sendiri, Jamie Ford, adalah seorang keturunan Cina, yang akrab dengan sejarah Chinatown dan Nihonmachi. Kakek buyutnya hijrah ke San Fransisco pada tahun 1865.

Dan gue juga suka endingnya… gak banyak basa-basi… tapi manis…

4 payung cantik untuk Keiko dan Henry

Tuesday, January 10, 2012

The Truth about Forever


The Truth about Forever
Sarah Dessen @ 2004
Puffin Books – 2008
391 pages
(pinjem dari Mia)

Macy Queen, harus berjuang untuk mengatasi kesedihan setelah ayahnya meninggal. Ibunya, kembali tenggelam dengan kesibukan sebagai sales perumahan, kakaknya tinggal bersama suaminya. Tinggallah Macy dengan kehidupannya yang membosankan. Ia ingin bicara dengan ibunya, tapi tampaknya, bekerja adalah salah satu cara ibunya untuk mengalihkan kesedihannya.

Hubungan Macy dengan ayahnya bisa dibilang lebih dekat, dibanding dengan ibunya. Macy dan ayahnya kerap lari pagi bersama. Dua-duanya sama-sama menyukai olahraga lari. Dan, sebelum meninggal, di pagi itu, ayah Macy sempat mengajaknya untuk lari pagi bersama, tapi, rasa kantuk dan malas membuat Macy menolak ajakan ayahnya. Itulah satu kejadian yang sangat ia sesali.

Di liburan musim panas ini, Macy kembali sendiri. Pacarnya, Jason, ikut ‘Brain Camp’. Yah, si Jason ini adalah anak yang pintar, teratur, terjadwal dan terkoordinasi. Semua harus sesuai dengan daftar yang dia buat. Pokoknya, Jason adalah laki-laki yang ‘sempurna’. Tapi, ehmm.. menurut gue sih rada ‘menyebalkan’. Tapi, bagi Macy, kesempurnaan Jason membuatnya nyaman. Macy terlindungi dengan adanya Jason.

Macy pun menggantikan Jason bekerja di perpustakaan. Pekerjaan yang sangat membosankan, dengan dua orang teman yang juga membosankan, yang memandang Macy sebelah mata, menganggapnya gak becus. Dan parahnya lagi, saat Macy mengeluh dan curhat sama Jason, ehh.. Jason malah bilang, Macy gak serius dengan pekerjaan di perpustakaan itu. *pengen jitak Jason*

Secara gak sengaja, Macy akhirnya punya pekerjaan double. Ia juga ambil bagian membantu Wish Catering. Yang membawanya berkenala dengan cowok bernama Wes. Keakraban mereka berdua menimbulkan perasaan-perasaan lain. Tapi, sayang, dua-dua masih mempunya hubungan dengan orang lain. Dan, ditambah lagi konflik Macy dengan ibunya yang tidak menyukai Wes dan teman-teman baru Macy. Ya, biasa deh, orang tua selalu menuntut anaknya untuk jadi yang terbaik, punya pergaulan yang baik. Masa lalu yang kelam membuat Wes langsung dicap negatif oleh ibu Macy.

Pergaulan Macy dengan orang-orang di Wish Catering juga membuat Macy berubah. Ia merasa lebih bebas dan lepas. Seolah beban yang ada selama ini pelan-pelan menghilang.

Buku pertama Sarah Dessen yang gue baca, genre YA (young adult). Rada lama untuk ‘nyambung’ dengan novel ini. Gue suka bagian Macy dan Wes main ‘Truth’. Justru lewat permainan ini, gue jadi lebih ‘kenal’ dengan karakter Macy maupun Wes.

Tuesday, November 08, 2011

Thing Your Mother Never Told You

Thing Your Mother Never Told You
Olivia Lichtenstein @2009
Orion Books – 2009
312 hal.
(pinjam dari mia)

Ketika seseorang sudah tiada, ada saja hal-hal yang baru diketahui kemudian. Begitulah yang dialami Ros. Ia menemukan banyak rahasia yang tak sempat disampaikan ibunya, Lilian ketika ia masih hidup.

Buku ini bercerita tentang Ros, yang sedang mengalami gonjang-ganjing dalam pernikahannya. Pernikahan yang sudah berjalan selama 20 tahun diambang perceraian, karena Ros tidak tahan dengan suaminya yang punya masalah dengan pengendalian emosi.

Suatu hari, ia menemukan sebuah selebaran yang berisi iklan seorang cenayang. Keinginan untuk ‘bertemu’ dengan Lilian, membuat Ros menelpon Clare Voyante – yang ternyata sudah tahu kalau Ros akan menghubunginya.

Lilian dibesarkan di Afrika Selatan. Ia tidak setuju dengan adanya perbedaan perlakuan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Semasa kuliah dan setelah lulus, Lilian terlibat dalam suatu organisasi yang membela hak-hak orang kulit hitam. Bahkan Lilian sempat terlibat hubungan asmara dengan Sipho, salah satu aktivis yang berkulit hitam. Mereka menjalani hubungan ini secara sembunyi-sembunyi.

Selama ini Ros hanya mengetahui sedikit tentang kehidupan masa lalu Lilian. Tapi, suatu hari ia menerima kiriman paket berisi tulisan Lilian yang akan dibukukan. Dari sinilah, Ros banyak mendapat kejutan.

Sementara itu, kehidupan sehari-hari Ros dipenuhi dengan hal-hal baru berkaitan dengan ‘status’ yang yang sebentar lagi akan berubah. Ros nekat men-tato kakinya, sampai-sampai ia diprotes karena memberi contoh yang kurang baik bagi anak didiknya. Lalu, memberanikan diri untuk mendaftar kencan online.

Gue sih lebih tertarik baca tentang kehidupan Lilian di Afrika Selatan, kaya’nya lebih banyak misteri dan dramanya. Karakter Lilian, ibu yang kaya’nya normal, tapi punya kebiasaan-kebiasaan unik. Yang lucunya, kalo tiba-tiba dia seolah ‘bicara’ sama Ros dari alam lain. Sementara tentang Ros rasanya udah sering gue baca di buku-buku lain, jadi gak terlalu 'mencuri perhatian'.

Wednesday, October 12, 2011

If I Stay

If I Stay (Jika Aku Tetap di Sini)
Gayle Forman @ 2009
Poppy D. Chusfani (Terj.)
GPU – February 2011
200 hal.,
(pinjem dari Mia)

Kehidupan Mia tampaknya menyenangkan. Tinggal dengan orang tua yang selalu mendukungnya, adik yang manis. Meskipun bisa dibilang orang tuanya rada ‘nyentrik’, tapi semua berjalan dengan baik-baik saja. Mia menyukai musik klasik, sementara orang tuanya cenderung ke arah rock. Di masa mudanya, ayah Mia pernah ikut bermain band. Dan sekarang, Mia juga bermain alat musik, cello. Saat ini ia tengah bersiap-siap untuk audisi masuk sekolah musik ternama, Julliard. Pacar Mia sendiri juga pemain band.

Pagi itu semua baik-baik saja. Salju turun, menyebabkan sekolah-sekolah diliburkan, dan ibu Mia memutuskan untuk tidak masuk kantor. Akhirnya, orang tua Mia memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabat mereka.

Perjalanan juga diawali dengan santai, berebut ingin memutar lagu pilihan mereka masing-masing di mobil. Semua begitu sempurna…. Dan tiba-tiba saja, semua berubah jadi bencana.

Dalam kecelakaan itu, hanya Mia yang ‘selamat’, Mia dalam keadaan koma. Jiwanya ‘melayang-layang’, tapi ia bukan hantu. Mia bisa melihat tubuh ayah dan ibunya yang sudah meninggal, tapi ia tak bisa menemukan adiknya, Teddy. Mia bisa melihat tubuhnya sendiri yang diterbangkan ke rumah sakit dengan helicopter, dimasukin segala macam selang yang membantunya untuk tetap hidup. Mia juga melihat bagaimana Adam, pacarnya, berbuat nekat agar bisa menjenguknya yang ada di ICU.

Dalam keadaan ‘melayang’ itu, semua kisah hidupnya seolah terputar kembali, Mia bercerita tentang ayahnya yang mantan pemain drum, ibunya yang bergaya bak rocker, saat Mia menemani ibunya ketika melahirkna Teddy, saat bersama sahabatnya, Kim dan kencan pertamanya dengan Adam.

Dan dalam keadaan itu juga, Mia harus memilih, apakah ia harus kembali hidup, tapi tanpa keluarga yang menantinya, atau pergi meninggalkan orang-orang yang terus berharap agar ia bertahan?

Mungkin ada baiknya siap-siap sedia tissue, yah buat jaga-jaga kalo-kalo nangis pas lagi baca buku ini. Meskipun sedih, tapi buku ini gak terkesan cengeng dan terlalu ‘menye-menye’, Liat aja gimana Adam, yang meskipun hancur lebur tapi tetap berusaha tegar, atau kakeknya yang sedih, tapi tetap menyerahkan semua pilihan ke Mia. Ini gak hanya tentang kisah cinta Mia dan Adam, tapi juga cinta dalam keluarga dan juga untuk sahabat.

“Aku punya tujuan mengatakan semua ini,” dia melanjutkan. “Ada sekitar dua puluh orang di ruang tunggu sekarang. Beberapa di antara mereka berhubungan darah denganmu. Beberapa lagi tidak. Tapi kami semua keluargamu.”

…. “Kau masih punya keluarga,” bisiknya.

Hal. 183 - 184


Untung buku keduanya udah mau beredar, jadi gue gak perlu terlalu lama penasaran gimana ‘nasib’ Mia selanjutnya.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang