Showing posts with label Review 2014. Show all posts
Showing posts with label Review 2014. Show all posts

Friday, October 31, 2014

Bridge to Terabithia




Bridge to Terabithia
Katherine Paterson @ 1977
Harper Teen – 2008
191 hal

Jess Arron adalah adalah anak laki-laki dengan 4 orang saudara perempuan. Ia berada di tengah-tengah di antara 2 kakak perempuan yang beranjak remaja dan 2 adik perempuan yang masih kecil. Di usia yang 10 tahun, ia mulai merasa terlalu ‘tua’ untuk bermain dengan 2 adiknya yang masih kecil itu, tapi kedua kakak perempuannya juga mulai sibuk dengan dunia ABG mereka. Sementara itu, ayahnya terlalu lelah untuk berinteraksi dengan Jess.

Maka, salah satu pelampiasan Jess adalah dengan berlari. Ia berambisi untuk menjadi yang tercepat di antara teman-temannya di sekolah. Ia berlatih setiap hari selama liburan, hingga saat masuk sekolah, ia bisa membuktikan bahwa ia adalah yang tercepat. Tapi … sayangnya, impian itu kandas, seorang anak baru bernama Leslie Burke berhasil mengalahkannya. Bayangkan, udah berlatih tiap hari, eh… kalah sama seorang anak perempuan.

Awalnya Jess marah dan kesal .. plus malu juga. Tapi, Leslie ini anak yang ‘unik’, berbeda dari teman-teman Jess yang lain. Leslie ini dianggap aneh, karena pakaian yang dikenakannya terlalu ‘nyentrik’ untuk ukuran di mana Jess tinggal. Lama-lama Jess dan Leslie bersahabat, mereka mempunyai sebuah tempat yang mereka namakan Kerajaan Terabithia, di mana mereka adalah Raja dan Ratunya. Di tempat ini, mereka bisa berkhayal, melarikan diri dari rutinitas sehari-hari, merancang sebuah ‘jebakan’ untuk membuat seorang anak yang suka mem-bully kapok.

Buku-buku Newbery selalu menyajikan kisah persahabatan dengan latar yang sederhana. Apalagi ini dengan setting tahun 70an, teknologi masih sederhana dan gak semua orang punya. Bahkan Leslie pun di sini gak punya televisi, yang bikin dia sempat jadi bahan ejekan teman-teman sekelasnya. Dengan segala kesederhanaan itu, mereka jadi bebas berimajinasi. Tapi, kenapa oh kenapa, buku Newbery juga sering banget menyajikan ending yang sedihhhh dan menyayat hati?? (paling gak sih, dari beberapa buku Newbery yang gue baca)

Yang gue suka ketika baca buku-buku Newberry ini adalah, tokoh-tokohnya yang ‘membumi’. Untuk menunjukkan suatu hal yang baik dan buruk, gak perlu menghadirkan tokoh antagonis yang berlebihan atau kebangetan sifat buruk atau jahatnya.

Submitted for:


-          Baca Bareng BBI bulan April 2014 – tema: Buku yang diterbitin bertepatan dengan tahun lahir
-          Books in English Reading Challenge 2014
-          Children Literature Project

Tuesday, October 28, 2014

Every Day





Every Day
Knopf – August 2012
324 pages


"Tomorrow is tomorrow. Let's end today on a nice note."




Setiap hari, A terbangun di dalam tubuh yang berbeda-beda. A mengalami hal yang berbeda setiap harinya. Setiap hari, A juga belajar mengendalikan perasaan dan emosinya, tidak terlibat dalam kehidupan pribadi dengan tubuh yang ia ‘pinjam’. Sampai satu hari, ketika ia terbangun dalam tubuh Justin dan bertemu dengan kekasih Justin, Rhiannon, A pun jatuh cinta dan berusaha menjalan sebuah hubungan dengan normal.

Tapi, gimana bisa? Kehidupan pribadi yang sebenarnya saja A gak punya. Dan sebagai seorang perempuan, Rhiannon juga pengen dong punya cowok yang ‘nyata’. Yang dia tau selalu aja dalam wujud yang sama, yang bisa ia temui setiap hari. Yang bisa diajak bergaul dengan teman-temannya, yang bisa menjalani hari-hari mereka bersama dengan normal. Tapi, ya gak mungkin lah, pribadi A aja udah gak normal kan ...

Tak selamanya perjalanan A ini mulus, suatu hari, seorang remaja bernama Nathan menuntut untuk bertemu dengan A. A pernah berada dalam tubuh Nathan dan sayangnya meninggalkan memori yang tak terlalu bagus. Hingga Nathan beranggapan itu semua adalah kerjaan ‘setan’ atau aliran sesat.

Yang gue suka dari buku ini adalah, tokoh A – setiap hari, kita akan ‘bertemu’ A dengan karakter yang berbeda – baik laki-laki atau perempuan, bahkan transgender – mulai dari remaja normal, cowok metal, remaja broken home, remaja obesitas, cewek populer di sekolah, remaja dengan keluarga yang sangat harmonis bahkan dengan orang tua yang otoriter, atau bahkan jadi seorang pelayan keturunan Portugis. Kejadian sehari-hari mereka pun beragam – ada yang mau liburan ke Hawaii, atau bahkan menghadiri pemakaman kakeknya. Tapi untungnya, A selalu berada di dalam tubuh yang sesuai dengan usia yang sebenarnya. Bayangin  kalo tiba-tiba terbangun di dalam tubuh orang yang lanjut usia atau bayi … sementara dia sebenarnya adalah seorang remaja?

Sementara karakter Rhiannon, gue beranggapan dia adalah cewek yang kesepian. Pacarnya Justin, terkadan menganggap dia gak ada. Mungkin perhatian dan usaha A yang akhirnya membuat Rhiannon pun luluh … tapi untuk berkomitmen lebih jauh rasanya sangat sulit. Ada saatnya gue merasa A itu egois, memaksakan diri untuk memiliki hubungan, bahkan jadi rada ‘posesif’ dengan setiap hari berusaha bertemu dengan Rhiannon, dan kalo gue jadi Rhiannon, gue bakal parno banget. Dan sangat mengerti Rhianon yang pengen banget menjalani hubungan yang normal. Dan rasanya ikutan sakitttt bareng A dan Rhiannon ….

Gue sama sekali gak bisa ngebayangin apa yang sebenarnya terjadi pada diri A. Apakah ada penjelasan ilmiah dalam kehidupan nyata? Apakah ini hanya fantasi? Tapi yang jelas, buku ini bikin gue ‘sesak napas’. Antara kasihan sama A, ikutan depresi. Siapa sebenarnya A? Siapakah keluarga A? Apa mereka gak merasa kehilangan? Dan saat ia remaja, A bisa mengendalikan perasaannya, tapi ketika masih anak-anak, bingung gak sih tiap hari bangun dengan identitas diri yang berbeda? Di akhir cerita, gue masih pengen tau seberapa jauh usaha A untuk berusaha kembali normal. Tapi… aduh.. gue bahkan menghela napas ketika menutup buku ini… sedih aku .. huhuhu ..

Submitted for:

-          Young Adult Reading Challenge 2014
-          Books in English Reading Challenge 2014

Tuesday, October 21, 2014

The Clockwork Three




The Clockwork Three (Tiga Anak dan Satu Jam)
Julanda Tantani (Terj.)
Gramedia – September 2014
448 Hal.

Lama ya, kaya’nya blog ini terbengkalai … entahlah, mood untuk nulis di sini lagi rada lenyap, padahal ada beberapa buku yang selesai dibaca. Untuk kali ini, rasanya gue perlu ‘memaksakan diri’ lagi – biar gak keterusan malesnya, biar blog ini jadi ‘idup’ lagi. Untunglah gue menemukan buku yang bisa bikin gue semangat untuk nulis lagi.

The Clockwork Three. Cover-nya mengingat gue akan buku ‘The Invention  of Hugo Cabret’, yang bercerita tentang automan.

Ini tentang kisah 3 anak, dengan penderitaan dan masalah mereka masing-masing. Yang berat dan rumit untuk anak-anak seusia mereka.

Pertama ada Giuseppe, pengamen jalanan yang diculik dari Italia. Setiap hari Giuseppe harus menyetor sejumlah uang kepada padrone-nya. Ia harus bersaing dengan pengamen jalanan yang lain. Jika tak dapat cukup uang, maka hukuman berat dari Stephano sudah menantinya. Tapi, di tengah kehidupannya yang keras di jalanan, ia masih bermimpi untuk pulang ke Italia. Bertemu kembali dengan adiknya. Sebuah biola hijau yang ia temukan, menjadi jalan untuk mewujudkan mimpinya.

Lalu, ada Frederick, asisten Mister Branch, seorang pembuat jam. Sebagai pegawai magang, ia mempunyai keinginan untuk membuka toko sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, diam-diam ia sedang membuat jam berbentuk manusia, sebuah jam yang paling hebat di masanya. Tapi, sebuah kendala muncul, bagaimana agar jam tersebut menjadi ‘hidup’ dan bekerja sesuai keinginannya. Dan, dari mana ia bisa menemukan bagian yang cocok dan tepat untuk ditempatkan di bagian kepala.

Terakhir, adalah Hannah, gadis ini bekerja sebagai tulang punggung dalam keluarganya. Ayahnya terkena stroke, ia merelakan dirinya tidak sekolah agar bisa bekerja. Untung hotel tempat ayahnya bekerja dulu mau menerimanya sebagai pelayan. Tanpa sengaja, ia mendengar cerita tentang harta karun yang tersembunyi. Dan Hannah bertekad menemukan harta karun tersebut, agar keluarganya bisa keluar dari himpitan masalah yang mereka hadapi sekarang.

Mereka bertiga akhirnya bertemu, dalam berbagai peristiwa yang tak disengaja. Dan tanpa mereka sadari, satu sama lain bisa saling membantu untuk memeccah masalah mereka masing-masing.

Tiga anak ini, tadinya sama-sama asing, tapi kesulitan yang mereka hadapi akhirnya membuat mereka bersatu dan menjadi sahabat.

Happy ending …. tapi juga bikin sedih. Gue sedih karena mereka saling berpisah, gue terharu dengan akhir cerita yang manis. Yang membuat gue suka cerita ini adalah kesederhanaan para tokoh, sifat mereka yang pantang menyerah, tapi gak selamanya mereka berhasil menahan godaan.

Jalanan memang kejam ya untuk anak-anak yang kurang beruntung. Ada anak-anak yang jadi penguasa, yang menimbulkan kesulitan untuk anak yang lemah, orang dewasa juga beranggapan, hanya karena mereka anak-anak, mereka bisa diancam dan dihina dengan bebas. Hanya yang cerdik dan tangguh, yang akan berhasil melewati berbagai kesulitan.

Memang sih, beberapa kali gue membaca buku dengan latar yang setipe, seperti Peter Nimble and His Fantastic Eyes (Peter Nimble dan Mata Ajaib), tentang anak-anak yang kurang beruntung yang pada akhirnya mendapatkan keajaiban.



Submitted for:

-          New Author Reading Challenge 2014
-          Young Adult Reading Challenge 2014

Thursday, September 18, 2014

The Runaway King



The Runaway King (Raja yang Minggat)

Cindy Kristanto (Terj.)
Gramedia – 2014
376 Hal.

Setelah Jaron kembali ke Carthya dan menduduki takhta sebagai Raja, keadaan di Carthya masih belum stabil. Para regen, atau petinggi/penasihat raja masih belum percaya terhadap Jaron, yang memang masih suka bicara dan bertindak seenaknya. Mereka bahkan memutuskan untuk mengangkat wali untuk mendampingi Jaron, sampai ia dirasa sudah cukup umur untuk memerintah Carthya.

Sementara itu, selain persoalan di dalam kerajaan sendiri, Jaron juga mendapatkan ancaman pembunuhan dari pihak luar Carthya yang ingin mengambil alih wilayah Carthya. Perang pun dikhawatirkan akan segera pecah, jika Jaron tidak mengambil tindakan. Satu-satunya cara adalah dengan pergi dari Carthya dan mendatangi sendiri ‘sumber’ masalah tersebut.

Maka, Jaron kembali menjadi Sage, ia kembali menyamar sebagai anak jalanan yang suka mencuri dan mencoba bergabung dengan bajak laut – salah satu pihak yang ingin ia mati.

Sikap Jaron yang masa bodoh, gak peduli dan suka bicara seenaknya, beberapa kali nyaris membuatnya kehilangan nyawa, tapi tampaknya, hal itu juga yang membuat ia selamat.

Di buku kedua ini, tingkat ketegangan jauh lebih tinggi, karena tokoh utama, Jaron, berada di kandang musuh, di mana ia harus berhadapan sendiri dengan Devlin, sang Raja Bajak Laut, lalu ada Roden, teman ‘seperjuangan’ ketika dulu dididik untuk jadi raja.

Di sini juga Jaron berhadapan dengan dua perempuan, Imogen, pelayan istana sekaligus juga teman Jaron, dan Putri Amarinda, putri yang akan dinikahkan dengan Jaron. Kelihatan kalau Jaron sangat peduli dengan Imogen, meskipun Jaron masih ‘terlalu buta’ untuk merasakan hal lain terhadap Imogen, tapi dia gak mau Imogen celaka karena ada orang-orang yang tahu, Jaron akan melakukan apa pun agar Imogen tidak terluka. Tapi, Putri Amarinda sendiri juga sangat baik, meskipun Jaron masih belum bisa sepenuhnya percaya sama sang putri.

Gak semuanya menjadi musuh Jaron, ada orang-orang yang masih mau melindungi dan mendukung Jaron, seperti Tobias dan  Mott. Jaron juga mendapatkan sahabat baru, seperti Fink dan Erick, juga seorang kakek bernama Harlowe.

Tapi, adakalanya gue merasa Jaron sedikit egois dan membuat gue jadi sedikit 'lelah' dan kesal dengan sikap Jaron yang keras kepala itu. Dia gak peduli dengan saran orang-orang yang khawatir dengan keselamatannya, karena kalau dia hancur, maka Carthya juga akan tinggal sejarah.Tapi dengan dalam proses petulangan singkatnya di dalam buku ini yang begitu mendebarkan dan bikin sport jantung, maka pelan-pelan, Jaron jadi manusia yang lebih dewasa dan bijaksana.

Tentu saja, karena ini bakal jadi trilogy, maka ending-nya masih menyisakan pertanyaan dan rasa penasaran. Pastinya di buku ketiga bakal lebih menegangkan karena bayang-bayang perang mulai semakin nyata, plus nasib Carthya akan jadi seperti apa setelah Jaron kembali.



Submitted for:


-          Young Adult Reading Challenge 2014

Friday, September 12, 2014

The Giver





The Giver (Sang Pemberi)
Lois Lowry @ 1993
Ariyantri Eddy Tarman (Terj.)
GPU – Agustu 2014

222 Hal.


Hidup di dunia serba sempurna dan teratur enak gak ya? Semua terima beres, apa-apa diatur, disediain, gak ada konflik. Peranan semua orang di Komunitas sudah diatur, tidak ada pilihan, tidak ada yang namanya rasa sakit.

Dunia seperti itulah tempat Jonas tinggal, di dalam sebuah Komunitas yang semua serba diatur. Dalam setiap pertambahan usia, artinya setiap anak ‘naik tingkat’ dan mendapatkan sebuah fasilitas baru – misalnya boleh memakai jaket berkancing, boleh mendapatkan sepeda, boleh potong rambut dan lain-lain. Mereka juga harus mengikuti kerja sukarela yang nantinya akan menentukan profesi mereka ketika dewasa. Semua itu dikukuhkan dalam sebuah upacara resmi. Jika ada cacat, akan menjadi aib seumur hidup.

Usia ke 12, adalah usia yang sangat dinanti, di mana setiap anak dianggap sudah dewasa dan akan diumumkan di unit mana mereka nanti akan bekerja, misalnya ada yang menjadi Pengasuh karena telaten dengan para bayi, atau mengurus para lansia, ada yang jadi Asisten Direktur Rekreasi, karena sifatnya yang santai atau menjadi Petugas Pengantar Makan dan lain-lani. Semua anak 12 tahun itu harap-harap cemas, jangan sampai mendapatkan profesi yang sebenarnya gak mereka sukai.

Satu lagi yang absurd, setiap anak ini tinggal dalam satu unit keluarga, yang bukan keluarga kandung. Ada satu tugas bernama ‘Ibu Kandung’, perempuan ini bertugas melahirkan tapi kemudian bayi itu diserahkan ke bagian kesehatan, untuk ditimbang, dirawat, untuk akhirnya diberikan kepada keluarga yang sudah mendapatkan persetujuan untuk memiliki anak. Untuk menikah pun, para pasangan itu harus mengajukan permohonan. (Dan gue pun bertanya-tanya, ada peran Ibu Kandung, tapi gak pernah disebutin siapakah yang berhak menjadi Ayah Kandung?) Dan yang ngilunya lagi, jika bayi-bayi tersebut tidak memenuhi syarat, maka mereka akan ‘dilepasklan’.

Nah, ketika diumumkan tugas-tugas baru bagi para 12 tahun, nomor urut Jonas tidak dipanggil, ia dilewatkan begitu saja, tapi ternyata justru Jonas mendapatkan tugas atau peranan yang paling istimewa, ia terpilih sebagai Penerima – yang akan meneruskan tugas berat selanjutnya dari Sang Pemberi – The Giver. Dalam pelatihan bersama Sang Pemberi, Jonas mendapatkan sebuah pelajaran tentang rasa cinta, kehangatan keluarga, warna-warna dan juga rasa sakit yang mendalam, semua rasa yang tak pernah ia ketahui selama ini. Jonas juga mengetahui, di balik segala keteraturan, ternyata menyimpan kebusukan dan banyak kebohongan.

‘Lelah’ dengan dystopian yang penuh cinta segitiga, maka buku ini jadi sangat menarik buat gue. Tokohnya cenderung pemikir, cocok dengan peran baru yang menantinya. Dan layaknya anak abg, maka ada saatnya Jonas mulai merasakan ada rasa-rasa gimana gitu ketika ngeliat Fiona dan dalam dunia Jonas, gak boleh tuh ada perasaaan lebih sama teman atau orang lain. Gue suka sama Lily, adik Jonas, yang terkadang gregetan tapi, langsung minta ma’af kalau dia merasa kelewatan.

Mungkin ada bagusnya juga sih jika semua serba teratur, di mana norma kesopanan dan rasa hormat terhadap sesama sangat ditekankan, semua serba jelas, apa peranannya, lalu, meskipun, kalo ada pelanggaran, maka sanksi yang akan diterima menyisakan misteri. Konon katanya, mereka dilepaskan – apa maksud dilepaskan itu sangat misterius.

Tapi, jeleknya, mereka jadi lupa apa itu yang namanya keceriaan, cinta dalam keluarga atau rasa lain layaknya manusia biasa. Mereka jadi kaya’ robot, begitu dapat ada yang mengganggu keteraturan itu jadi kelimpungan dan panik.

Dunia yang rapi dan teratur gak selamanya enak. Jadi gak ada emosi dan gak seru … Dan owwww… endingnya … bikin garuk-garuk kepala … bingung, penasaran dan bertanya-tanya … but I did enjoy reading this book …



Submitted for:
- New Author Reading Challenge 2014
- Children Literature Project
- Young Adult Reading Challenge 2014

Tuesday, September 09, 2014

Before I Go to Sleep





Before I Go to Sleep
S.J.Watson @ 2011
Harper  - 2013

363 hal.


Setiap pagi, ketika terbangun dari tidur, Christine Lucas tidak bisa mengingat siapa dirinya. Ia akan terkejut  melihat ruangan tempat ia terbangun, melihat sosok lelaki di sampingnya, bahkan melihat raut wajahnya sendiri di cermin. Christine tidak punya bayangan sama sekali apa yang sudah terjadi dengan dirinya.

Ben Lucas, suami Christine, dengan sabar, menjelaskan apa yang sudah terjadi terhadap diri Christine, setiap hari, berulang kali. Menurut Ben, Christine kehilangan ingatan karena kecelakaan mobil. Setiap hari pula, muncul berbagai pertanyaan, yang jawaban itu akan langsung terlupakan bila Christine terbangun dari tidurnya.

Tanpa sepengetahuan Ben, Christine menjalani terapi dengan seorang dokter bernama Dr. Nash. Setiap hari, Dr. Nash akan menelepon Christine, mengingatkan Christine untuk membaca buku harian yang ia simpan di dalam lemari. Dari buku harian itu, Christine mempelajari kehidupan yang ia lewati, dan setiap hari pula, ia harus mencatat apa yang sudah ia lalui di hari itu.

Lewat buku harian dan terapi yang ia jalani, perlahan Christine mulai mendapat sebuah bayangan akan kehidupannya di masa lalu. Ada sebuah rahasia yang ia sendiri tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya, tapi ia yakin itu salah.

Ia mencoba percaya pada Ben, meskipun ia tahu ada sesuatu yang salah. Mengapa ia tidak bisa mengingat hari pernikahannya dengan Ben, kenapa Ben tidak mau jujur tentang anak mereka, profesi Christine sebelum kejadian itu dan kehidupan yang lainnya? Kenapa Ben menjauhkan Christine dari sahabatnya? Tapi, mau gak mau, Christine bergantung pada Ben, karena ia hanya seorang diri dan hanya Ben yang ia miliki.

Bayangkan jadi Ben, hidup dengan seorang perempuan selama puluhan tahun, tapi perempuan itu selalu lupa akan kehidupan mereka bersama. Seorang Ben yang sabar merawat Christine, melewati masa-masa sulit yang entah kapan akan berakhir.

Sementara bagi Christine, pastinya bikin frustasi ketika setiap hari loe harus bangun dengan pikiran kosong…. Lupa segala hal dan selalu mulai dari nol lagi setiap harinya.

Gue suka buku ini sejak awal gue membaca lembaran pertama. Gue yakin ada yang salah, tapi gak tau apa dan siapa. Meskipun ending-nya rada drama, tapi sepanjang buku ini sukses bikin gue ikut deg-degan baca buku hariannya Christine. Gak tau gitu apa yang bakal muncul selanjutnya.


Submitted for:
- Books in English Reading Challenge 2014
- New Author Reading Challenge 2014

Friday, August 29, 2014

There’s a Boy in the Girl’s Bathroom




There’s a Boy in the Girl’s Bathroom
Louis Sachar @ 1987
Yearling

195 hal.


Judulnya bikin penasaran, provokatif dan bikin ngikik, tapi isinya malah bikin gue pengen nangis terharu.

Jadi nih, Bradley Chalkers, udah dicap sebagai anak nakal, gak ada yang mau temenan sama dia. Karena Bradley sendiri juga ‘menunjukkan’ kalo dia itu anak yang nyebelin, gak mau diatur, suka gangguin temen-temennya. Satu hari, ada anak baru di sekolah Bradley, namanya Jeff. Jeff berusaha berteman sama Bradley.

Dan di sekolah itu juga, kedatangan seorang guru baru, khusus untuk konseling para murid. Bradley dianjurkan untuk ke sana. Awalnya, sikap Bradley terhadap Ms. Clara menyebalkan, dia gak mau mengakui apa yang dia suka, selalu bilang benci sama apa pun. Tapi ,Clara pantang menyerah, ia terus mendekati Bradley, mengajak Bradley bicara tentang apa saja, meladeni ‘silly conversation but fun’nya Bradley.

Sejujurnya gue malah ‘kagum’ sama Bradley, bagaimana seorang anak yang begitu dibenci, bertahan seorang diri tanpa teman di sekolahnya. Gue malah pengen kenalan sama Bradley, pengen bisa ngobrol seperti Bradley dan Ms. Clara, ngobrol yang gak harus tanpa tujuan, tapi justru bisa membuat Bradley ‘terbuka’ dan berbicara. Gue juga kagum dengan semangat Bradley yang berusaha untuk bikin pr sebaik-baiknya dan ngedapetin gold star.

Bagian unik dalam buku ini adalah percakapan Bradley dengan ‘teman-teman’ khayalannya, yang malah kelihatan nyata.

Buku ini bikin gue sadar, kalo semua orang itu pasti punya sisi baiknya, asal dia diberi kesempatan dan jangan di’judge’ negatif terus.


Submitted for:
- Young Adult Reading Challenge 2014
- Books in English Reading Challenge 2014
- Children Literature Project
- New Author Reading Challenge 2014

Kedai 1002 Mimpi



 

Kedai 1002 Mimpi

Valiant Budi (@vabyo)

Gagas Media - 2014

384 hal.


Manusia itu kalo udah ngerasa yang namanya bebas merdeka, seharusnya merasa nyaman, aman dan damai … tentram gitu, gak perlu deg-degan … semua berjalan lancar. Tapi, adakalanya harga sebuah kebebasan justru perlu dibayar dengan rasa was-was dan teror.

Valiant Budi alias Vabyo berkisah tentang apa yang beliau alami setelah kembali ke Tanah Air dan menerbitkan buku Kedai 1001 Mimpi yang isinya tentang pengalaman Vabyo selama menjadi TKI di Arab Saudi. Membaca buku ini pasti bakalan menuai pro-kontra. Ada yang percaya, ada yang gak. Ada yang simpati, ada yang mencaci.

Gue pun ikutan miris, kalo baca komentar orang-orang yang kebetulan ketemu Vabyo tentang keadaan TKI di Arab Saudi sana. Meskipun banyak kisah duka, tapi toh, banyak yang gak kapok dan bahkan pengen meraih mimpi di sana.

Yang kontra, bukan hanya berkoar-koar via media sosia, entah dengan kata-kata manis atau dengan kalimat pedas yang bikin telinga merah dan sakit hati, tapi juga dalam bentuk teror, seperti ban mobil yang dikempesi, account facebook yang dibajak atau disenggol motor.

Di buku ini, tak hanya bercerita tentang mimpi buruknya selama tinggal di Arab Saudi, tapi juga suka duka tentang Warung Ngebul-nya.

Mungkin sih, kalo belum baca Kedai 1001 Mimpi, bakalan rada gak nyambung dengan sekuel-nya ini. Bisa bikin bertanya-tanya, kenapa Vabyo sampai resah, gelisah dan gundah … Tapi, gak melulu soal itu yang ditulis, ada juga tentang masa-masa liburan Vabyo di London – yang bikin iri itu …

Memang sih, kadang-kadang di antara bab satu dan yang lain suka rada gak nyambung, atau terasa lompat-lompat, tapi Vabyo tetap mampu bercerita tentang hal-hal yang bikin emosi dengan segala kerendahan hati. Setiap kali emosi, selalu di’ringankan’ dengan doa dan segala harapan positif. Simple aja, kalo kata Vabyo, setiap kali ban mobilnya dikempesin, akan ada senyum untuk tukang tambal ban. Di tengah kalimat-kalimat yang serius, Vabyo tetap menyelipkan humor.

At least, gue bisa belajar untuk selalu berpikir positif dan gak gampang nyerah atau emosi. Banyak orang yang cuma bisa ngomong, kasih pendapat berbusa-busa tanpa mau tau fakta dari sisi yang lain.

Semangat terus untuk Vabyo, cuekin orang-orang yang nyinyir itu … :D


Submitted for:

-          Baca Bareng BBI 2014
-          Lucky No. 14 Reading Challenge – category: cover lust

Tuesday, August 26, 2014

Escape from Mr. Lemoncello’s Library



 

Escape from Mr. Lemoncello’s Library

Chris Grabenstein @ 2013

Yearling - 2014

290 hal.


Untuk ‘merayakan’ dibukanya kembali perpustakaan Alexandriaville – setelah 12 tahun ditutup – maka, akan dipilih 12 anak berusia 12 tahun untuk menjadi pengunjung pertama yang menghabiskan malam di perpustakaan itu, sebelum dibuka untuk umum. Pemilihan itu didasari dari hasil essay yang mereka buat tentang apa yang mereka harapankan dengan adanya ‘perpustakaan

Salah satu pesertanya adalah Kyle, yang sebenernya gak terlalu tertarik sama buku, ia lebih suka main game-game seru. Dan Kyle beserta 11 anak lainnya dibawa ke perpustakaan yang super keren dan canggih. Dipandu oleh pustakawati yang sangat ‘chic’ bernama Dr. Zinchenko dan juga Mr. Lemoncello sendiri, mereka memasuki sebuah dunia yang menarik. Ada robot pustakawati, hologram, tangga yang membawa kita seolah melayang – yang akan membawa kita ke rak-rak yang paling tinggi dan lain-lain (langsung dong .. pengen ikutan ada di sana)

Ternyata, Mr. Lemoncello sudah menyiapkan sebuah game yang seru dan rumit. Anak-anak itu ditantang untuk memecahkan teka-teki, yang hasilnya akan memberikan petuntuk jalan keluar dari perpustakaan itu. Bagi Kyle yang bukan kutu buku itu, tentu saja membuatnya bingung, karena sebagian besar petunjuk berhubungan dengan buku, tapi, ketangkasan dan kecerdikan Kyle yang pengalaman dengan berbagai games buatan Mr. Lemoncello, membuat ia berhasil memecahkan berbagai petunjuk.

Tapi intinya ternyata bukan hanya ‘ambisi’, tapi juga anak-anak itu belajar berbagi, saling membantu, tidak curang dan gak boleh mencuri atau culas. Ketahuan berbuat curang, mereka akan keluar dari pertarungan itu. Tapi, setiap kebaikan juga diganjar dengan bonus-bonus yang menguntungkan dari Mr. Lemoncello.

Tentu saja, ada peserta yang sangat ambisius seperti Charles Chiltington – yang katanya seumur-umur, keturunan Chiltington gak pernah kalah. Atau Haley Daley, gadis popular di sekolah, yang pengen menang karena hadiah lainnya adalah jadi spokeperson Mr. Lemoncello, atau ada Sierra, yang kutu buku.

Tokoh Mr. Lemoncello sendiri sangat ‘ajaib’, eksentrik dan unik, yang mau gak mau langsung membuat gue terbayang sama Willy Wonka. Ada kesamaan karakter di antara kedua tokoh ini. Setiap Mr. Lemoncello muncul, pasti akan ada sebuah kejutan. Nah, ada hal-hal yang pribadi dari Mr. Lemoncello di sudut-sudut perpustakaan ini. Setiap anak yang jeli, akan menemukan petunjuk yang berguna ini.

Yang unik lagi, terkadang, dalam setiap kalimat yang diucapkan Mr. Lemoncello, terselip hal-hal yang berhubungan dengan buku, misalnya:

“The other team’s penalty gives you a wrinkle in time.”
“Keep working the puzzle but try to avoid Mrs. Basil E. Frankweiler’s files. They’re all mixed up”
“Of course.” Mr. Lemoncello pointed to a smudge on Charles’s shirt. “If you like, I will also have Al Capone do your shirts.”

Nah, di akhir buku ini, juga ada bonus puzzle – Chris Grabenstein mengajak kita untuk ikutan ‘seru-seruan’. Plus, ada daftar buku yang muncul di dalam buku ini, gue pun jadi sibuk bikin tanda, mana aja buku yang pernah gue baca.

Wuiiihh.. ini jenis buku yang bisa bikin gue ikutan membayangkan atau berimajinasi seperti apa Mr. Lemoncello’s Library, ditambah lagi, ikutan penasaran dengan clue-clue yang misterius. Chris Grabenstein jadi penulis yang buku lainnya pengen gue baca. (bonus lagi, cover-nya yang lucu)



Submitted for:
- Young Adult Reading Challenge 2014
-  Lucky No. 14 Reading Challenge – category: (Not So) Fresh from the Oven
- Books in English Reading Challenge 2014
- Children Literature Project
- New Author Reading Challenge 2014

Monday, August 18, 2014

The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out of the Window and Disappeared



 

The Hundred-Year-Old Man who Climbed Out of the Window and Disappeared

Jonas Jonasson @ 209

Hesperus Press 2012

396 hal.


Terpesona dengan judul yang panjang, cover yang unik dan sinopsis yang bikin penasaran, maka jadilah buku ini ada di tangan gue dan .. tentu saja gue baca. Jarang-jarang gue baca cerita yang tokohnya udah ‘sangat’ tua – dan terakhir gue ‘terharu’ ketika baca The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry. Konon katanya, buku ini mirip-mirip sih ..

Tapi, ternyata … gue bukan terharu, tapi pengen ketawa atau senyum-senyum sendiri karena ceritanya yang kocak dan ‘unpredictable’. Gue bahkan gak menyangka kalau gue akan memasukkan buku ini ke dalam ‘histrical fiction’ di rak buku goodreads gue .

Jadi, di hari perayaan ulang tahunnya yang ke 100, Allan Karlsson memutuskan untuk ‘kabur’ dari panti jompo tempat ia selama ini tinggal. Ia keluar dari jendela kamarnya dan berjalan tanpa tujuan, masih dengan sandal tidurnya. Ia memutuskan untuk ke stasiun bus dan membeli tiket dengan tujuan yang paling jauh dan berangkat paling cepat. Di stasiun bus itu, ada seorang laki-laki memakai jaket bertulisankan ‘Never Again’ dan membawa sebuah koper. Karena laki-laki itu mau ke kamar kecil, maka ia menitipkan koper tersebut ke Allan. Dan karena busnya sudah mau berangkat tapi si laki-laki itu belum keluar dari kamar kecil, dibawalah koper itu bersama Allan, kali-kali di dalam koper itu ada baju dan sepatu yang pas dengan Allan.

Sementara itu di panti jompo juga terjadi kehebohan, karena the birthday man-nya hilang, direktur panti pun memanggil polisi.

Sampai di stasiun bus paling ujung, Allan menemukan sebuah rumah terpencil dan memutuskan untuk mampir, sekedar minta tempat untuk istirahat. Sambil bongkar-bongkar koperlah, nyari baju dan perlengkapan lainnya. Di sana ia bertemu seorang pria bernama Julius. Tau-tau, pas buka koper, ia menemukan uang dalam jumlah yang banyak.

Si laki-laki berjaket ‘Never Again’ itu pun berusaha mengejar Allan, karena kalau sampai boss-nya tau koper itu hilang, pastinya si boss bakalan murka.

Petualangan ajaib dan aneh seorang Allan Karlsson pun dimulai – pertama ada Julius, lalu anggota membengkak dengan adanya Benny, si penjaga kios hot dog, lalu ada The Beauty ditambah Sonya dan seekor anjing. Petualangan itu pun berkembang.

Sementara itu, pembaca diajak untuk menelusuri perjalanan hidup seorang Allan Karlsson selama 100 tahun, sebuah perjalanan hidup yang ‘menakjubkan’. Ia hanyalah seorang pembuat bahan peledak yang tanpa pendidikan yang memadai, tapi ia berhasil membuat berbagai keputusan yang berpengaruh bagi sejarah dunia, kenalannya bukan orang biasa, tapi para pemimpin negara besar. Seorang Herbert Einstein bilang, Allan ini punya 9 nyawa. Seorang laki-laki biasa dengan pengalaman hidup yang luar biasa.

Susah buat gue menilai karakter Allan Karlsson – kakek yang polos, lugu tapi justru banyak akal. Sosok yang jujur, apa adanya, membuat ia bertahan dan lolos dari berbagai masalah. 

Sementara karakter lain, juga gak kalah 'ajaib' - yang paling kocak adalah Benny - yang getol banget belajar segala hal, sekolah apa aja dia ikutin, tapi gak ada yang sampai selesai, hingga ia jadi 'master in almost everything' yang end up jadi penjaga stand hot dog. 

Sonya yang besar itu memiliki nasib yang mirip dengan Allan - sama-sama kabur. Bosse, kakak Benny, yang 'katanya' jujur dalam berbisnis, polisi dan penyidik yang dibuat bingung sendiri sama Allan dan teman-temannya.

Indonesia, lumayan banyak diceritakan dalam satu bab perjalanan hidup Allan. Tapi, entah gue harus bangga atau malu ya?? Katanya ,”Indonesia is a country where everything is possible”. Habislah di bagian ini, Indonesia disorot dalam hal korupsi dan suap-menyuap. Apa aja bisa dibeli kalo ada uang … hmmm…

Gue sempet sebel dengan banyaknya pembicaraan politik di sini, tapi Allan yang ‘innocent’ itu bikin senyum-senyum. Dan membuat gue jadi kembali semangat untuk nerusin baca buku ini.

Submitted for:
-          New Author Reading Challenge 2014
-          Books in English Reading Challenge 2014

The Cuckoo’s Calling



 

The Cuckoo’s Calling  (Dekut Burung Kukut)

Robert Galbraith

Siska Yuanita (Terj.)

GPU - 2014

520 Hal.



Akhirnya … gue membaca juga buku yang bikin heboh ini … gue pun jadi sempat bertanya-tanya, seandainya identitas asli dari Robert Galbraith ini gak terungkap, apakah buku ini akan ‘booming’ dan langsung pengen dibaca sama banyak orang ya? Tapi, terlepas dari siapakah dibalik identitas asli Robert Galraith ini, ternyata gue suka sih sama buku ini.

Cerita misteri yang bikin gue penasaran, biasanya berkisar tentang pembunuhan, mencari siapa pelakunya dan cerita di balik kejadian tersebut. The Cuckoo’s Calling bercerita tentang kematian tragis seorang model terkenal bernama Lula Landry. Saksi mata melihat Lula ‘melayang’ dari balkon apartemennya dan terjatuh di salju. Tapi, kakak Lula yang bernama John Bristow, tidak percaya bahwa Lula bunuh diri. Ia yakin, Lula dibunuh. Yah.. namanya juga orang terkenal, banyak mungkin yang iri dengan keberadaan Lula. Maka John meminta bantuan Cormoran Strike, seorang detektif dan veteran.

Cormoran Strike, dengan kantor detektifnya yang ‘lusuh’ dan sepi order. Bagi Cormoran, kasus Lula Landry, akan memberi ‘penyegaran’ dalam hal keuangan – yah, hutangnya bertumpuk, sewa kantor belum dibayar. Sementara, kehidupan pribadi Cormoran juga gak begitu baik. Ia baru saja ‘didepak’ oleh kekasihnya dan mengharusnya ia tinggal di kantor.

Dengan bantuan Robin, sekretaris temporer, Cormoran melakukan penyelidikan ke orang-orang terdekat Lula, yang tanpa ia sadari semakin lama juga semakin membahayakan dirinya sendiri.

Dari awal, gue ‘kasihan’ sama Cormoran – dari kondisi fisiknya yang membuat Cormoran terkadang merasakan kesakitan, kehidupan percintaan yang kacau, dan kaya’nya berantakan banget deh. Tapi, ketika Robin datang, meskipun ‘diam-diam’, Robin membuat Cormoran jadi lebih ‘terawat’ dan teratur.

Ada kalanya harus sabar ketika mengikuti penyelidikan Cormoran, karena bakalan terasa panjang dengan penjelasan latar belakang Lula yang ribet. Tapi, pelan-pelan aja gak pa-pa lah, karena di buku ini, kita akan menemui banyak tokoh, banyak karakter yang unik – seperti teman-teman Lula, atau tipe yang ngebosenin seperti John Bristow dan pacarnya.

Seperti biasa, kalo setting-nya ada di Inggris, kesannya selalu suram, abu-abu. Cuaca juga seakan juga gak bersahabat, hujan lah, salju lah … muram durja gitu.

Satu harapan gue, semoga aja Rowling, eh Robert Galbraith tetap ‘mempertahankan’ hubungan Cormoran dan Robin seperti ini … gak usah ditambah pakai romance-romance segala (eh.. suka-sukaan dalam hati boleh deh …). Karena gue bakalan sebel banget, kalo mereka sampai punya hubungan asmara.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang