Showing posts with label dystopia. Show all posts
Showing posts with label dystopia. Show all posts

Tuesday, January 31, 2017

The Circle


The Circle
Dave Eggers @ 2013
Marcalais Fransisca (Terj.)
Bentang – Agustus 2016
594 Hal.

Menjadi bagian dari The Circle adalah sebuah kebanggaan. Perusahaan internet dan teknologi yang paling berkuasa saat ini. Bekerja di The Circle menjadi sebuah gengsi tersendiri. Beruntung bagi Mae Holland untuk bisa bekerja di sana berkat bantuan Annie, sahabatnya. The Circle dibangun oleh 3 orang yang ahli di bidangnya, yang disebut ‘Wise Men’. Para pekerja di The Circle memuja mereka – Ty, yang misterius, Tom Stenton dan Eamon Bailey – para jenius di balik The Circle. Tujuan The Circle adalah ‘transparansi’ – artinya tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan, semua orang berhak untuk tahu apa yang menjadi minat orang lain, semua orang harus berbagi. Mungkin ada tujuan baiknya , misalnya masalah keamanan – para orang tua tidak keberatan jika suatu saat di dalam tubuh anak mereka ada sebuah chip, yang tujuannya adalah mengontrol keberadaan anak mereka, hal ini dimaksudkan untuk mencegah penculikan atau tindak kejahatan lain terhadap anak. Atau misalnya, mencari buronon, dengan aplikasi SoulSearch, hanya dalam waktu 20 menit, dijamin, buronan itu akan segera ditemukan.

Penemuan mereka yang paling mutakhir adalah SeeChange, sebuah kamera kecil yang dipasang di setiap sudut, di mana saja – agar semua orang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi. Semua tentu saja bertujuan mulia.

Tapi, sampai titik manakah seseorang akan rela untuk menjadi ‘transparan’, ketika mereka pada akhirnya gak punya lagi kehidupan untuk pribadi mereka sendiri, gak punya rahasia lagi sekecil apa pun – karena bagi The Circle – Rahasia adalah sebuah kejahatan dan  berbagi adalah salah satu bentuk kepedulian – apa pun itu.

Mae Holland yang awalnya ditugaskan di bagian Customer Experience, perlahan mulai menarik perhatian. The Circle penuh dengan segala komunitas, dan setiap pekerja secara halus diwajibkan untuk ambil bagian. Hidup Mae jadi dipenuhi angka-angka, statistik, follower. Setiap saat wajib memberi tanggapan atas segala berita, wajib kasih tanda ‘senyum’, atau emoticon-emoticon lain. Mae jadi ambisius mengejar peringkat, sampai akhirnya ia jadi menjauh dari orang tuanya. Apa yang tadinya menjadi minat Mae sebelum masuk The Circle, menjadi hal yang biasa-biasa saja.

Mengerikan ya … apalagi kalau diliat, sekarang ini media sosial menjadi saran untuk eksis. Banyak selebriti dadakan gara-gara media sosial. Teknologi yang katanya mendekatkan yang jauh, tapi juga menjauhkan yang dekat. Liat aja orang tua Mae yang akhirnya milih bersembunyi, dan bahkan Mae juga semakin jarang menghubungi orang tuanya.

Latar belakang cerita ini menarik – memberi peringatan pada kita nih, bahwa bisa jadi apa yang ada di buku ini benar-benar kejadian, semua mau di-sharing, mau dibagi-bagi, nyaris tanpa saringan. Segala macem di-publish, di-posting.

Tapi, koq gue kurang mendapat kesan tentang Mae. Mae, memang jadi tokoh penting dalam buku ini, tapi, apa yang dia lakukan terasa kurang ‘greget’ gitu, berasa datar aja. Lalu, tokoh yang gue pikir akan muncul sebagai ‘pendobrak’ atau yang melawan, justru menghilang dengan cepat dan kurang menonjol. Pengennya Annie juga lebih banyak gitu peranny, gak hanya muncul, terus ilang, padahal dia kan sahabat dekatnya Mae. Atau, tentang Ty yang misterius .. Terus gue juga merasa, kadang-kadang penjelasan terlalu panjang dan muter-muter gitu. Dan yang gue kurang suka adalah novel ini terasa tanpa ‘jeda’, gak ada pergantian bab, nyambung aja gitu. Terus.. kenapa ending-nya menggantung begitu …. Jadi, apa dong .. gimana??

Tapi eniwei…. Terima kasih untuk memilihkan buku ini ya… tuntas sudah rasa penasaran gue ….

Hmmm… tebakan gue, si secret giver ini – tak lain adalah ‘speakercoret’ alias mute …
Dari awal banget , even baca paragraf pertamanya aja, gue langsung nebak beliau ini. Hihihi… ternyata kita pernah ngubek-ngubek tempat yang sama …


Terima kasih buku-bukunya, dan tentu saja ma kasih loh, indomie-nya … J

Submitted for:



Kategori: Brick Books


Friday, September 12, 2014

The Giver





The Giver (Sang Pemberi)
Lois Lowry @ 1993
Ariyantri Eddy Tarman (Terj.)
GPU – Agustu 2014

222 Hal.


Hidup di dunia serba sempurna dan teratur enak gak ya? Semua terima beres, apa-apa diatur, disediain, gak ada konflik. Peranan semua orang di Komunitas sudah diatur, tidak ada pilihan, tidak ada yang namanya rasa sakit.

Dunia seperti itulah tempat Jonas tinggal, di dalam sebuah Komunitas yang semua serba diatur. Dalam setiap pertambahan usia, artinya setiap anak ‘naik tingkat’ dan mendapatkan sebuah fasilitas baru – misalnya boleh memakai jaket berkancing, boleh mendapatkan sepeda, boleh potong rambut dan lain-lain. Mereka juga harus mengikuti kerja sukarela yang nantinya akan menentukan profesi mereka ketika dewasa. Semua itu dikukuhkan dalam sebuah upacara resmi. Jika ada cacat, akan menjadi aib seumur hidup.

Usia ke 12, adalah usia yang sangat dinanti, di mana setiap anak dianggap sudah dewasa dan akan diumumkan di unit mana mereka nanti akan bekerja, misalnya ada yang menjadi Pengasuh karena telaten dengan para bayi, atau mengurus para lansia, ada yang jadi Asisten Direktur Rekreasi, karena sifatnya yang santai atau menjadi Petugas Pengantar Makan dan lain-lani. Semua anak 12 tahun itu harap-harap cemas, jangan sampai mendapatkan profesi yang sebenarnya gak mereka sukai.

Satu lagi yang absurd, setiap anak ini tinggal dalam satu unit keluarga, yang bukan keluarga kandung. Ada satu tugas bernama ‘Ibu Kandung’, perempuan ini bertugas melahirkan tapi kemudian bayi itu diserahkan ke bagian kesehatan, untuk ditimbang, dirawat, untuk akhirnya diberikan kepada keluarga yang sudah mendapatkan persetujuan untuk memiliki anak. Untuk menikah pun, para pasangan itu harus mengajukan permohonan. (Dan gue pun bertanya-tanya, ada peran Ibu Kandung, tapi gak pernah disebutin siapakah yang berhak menjadi Ayah Kandung?) Dan yang ngilunya lagi, jika bayi-bayi tersebut tidak memenuhi syarat, maka mereka akan ‘dilepasklan’.

Nah, ketika diumumkan tugas-tugas baru bagi para 12 tahun, nomor urut Jonas tidak dipanggil, ia dilewatkan begitu saja, tapi ternyata justru Jonas mendapatkan tugas atau peranan yang paling istimewa, ia terpilih sebagai Penerima – yang akan meneruskan tugas berat selanjutnya dari Sang Pemberi – The Giver. Dalam pelatihan bersama Sang Pemberi, Jonas mendapatkan sebuah pelajaran tentang rasa cinta, kehangatan keluarga, warna-warna dan juga rasa sakit yang mendalam, semua rasa yang tak pernah ia ketahui selama ini. Jonas juga mengetahui, di balik segala keteraturan, ternyata menyimpan kebusukan dan banyak kebohongan.

‘Lelah’ dengan dystopian yang penuh cinta segitiga, maka buku ini jadi sangat menarik buat gue. Tokohnya cenderung pemikir, cocok dengan peran baru yang menantinya. Dan layaknya anak abg, maka ada saatnya Jonas mulai merasakan ada rasa-rasa gimana gitu ketika ngeliat Fiona dan dalam dunia Jonas, gak boleh tuh ada perasaaan lebih sama teman atau orang lain. Gue suka sama Lily, adik Jonas, yang terkadang gregetan tapi, langsung minta ma’af kalau dia merasa kelewatan.

Mungkin ada bagusnya juga sih jika semua serba teratur, di mana norma kesopanan dan rasa hormat terhadap sesama sangat ditekankan, semua serba jelas, apa peranannya, lalu, meskipun, kalo ada pelanggaran, maka sanksi yang akan diterima menyisakan misteri. Konon katanya, mereka dilepaskan – apa maksud dilepaskan itu sangat misterius.

Tapi, jeleknya, mereka jadi lupa apa itu yang namanya keceriaan, cinta dalam keluarga atau rasa lain layaknya manusia biasa. Mereka jadi kaya’ robot, begitu dapat ada yang mengganggu keteraturan itu jadi kelimpungan dan panik.

Dunia yang rapi dan teratur gak selamanya enak. Jadi gak ada emosi dan gak seru … Dan owwww… endingnya … bikin garuk-garuk kepala … bingung, penasaran dan bertanya-tanya … but I did enjoy reading this book …



Submitted for:
- New Author Reading Challenge 2014
- Children Literature Project
- Young Adult Reading Challenge 2014

Thursday, August 14, 2014

Prodigy



 

Prodigy

Marie Lu @ 2013

Lelita Primadani (Terj.)

Mizan – Cet. I, Agustus 2013

465 hal.


Melarikan diri dari Republik, June dan Day mencari jalan ke Koloni. Mereka bergabung dengan kelompok Patriot, yang berniat menjatuhkan Elector Primo. June yang selama ini jadi anak emas di Republik, berbalik menjadi buronan bersama Day. Di saat yang sama, Elector Primo meninggal dunia dan Elector terpilih yang baru adalah Anden, anak dari Elector Primo lama. Razor, pimpinan Patriot, menyusun rencana untuk melakukan kudeta. June dijadikan ‘umpan’ untuk kembali masuk ke Republik dan Day sebagai eksekutor.

Ketika kembali ke Republik dan bertemu dengan Anden, June merasa bahwa Anden berbeda dengan ayahnya, bahwa Anden bisa membawa Republik ke keadaan yang lebih  baik, dan semakin lama, ia juga menemukan kejanggalan dalam rencana yang dibuat Razor.

Tapi, bagaimana cara June agar ia bisa memberitahu Day? Sementara Day sendiri, semakin lama semakin ‘terpengaruh’ oleh Razor.

Ada yang mengganjal dalam hubungan June dan Day – terutama karena mereka berdua sebenarnya berasal dari dua kubu yang berlawanan. Tess, sahabat Day pun meragukan hal tersebut.

Fakta yang menarik adalah justru berasal datang dari Day, di mana pada akhirnya ia mengetaui kenapa ia sampai tak lulus ujian.

Ada rasa bosan saat gue berusaha menuntaskan buku kedua ini. Entah gue merasa, ada sesuatu yang kurang antara June dan Day, ditambah lagi masalah cinta segitiga. Rasanya unsur ‘romance’ di antara mereka berdua kurang kuat. Gue jadi merasa gak perlu terburu-buru untuk lanjut ke buku berikutnya.

Untuk cover, meskipun masih kurang sreg, tapi lumayanlah. Pilihan warnanya terasa ‘dingin’.



Submitted for:
- Young Adult Reading Challenge 2014

Friday, July 18, 2014

Legend



 

Legend

MarieLu @ 2011

Lelita Primadani (Terj.)

Mizan – Cet. I, November 2012

382 hal.

(hadiah giveaway dari Oky)



Setiap hari berarti 24 jam yang baru. Setiap hari berarti segalanya kembali mungkin. Kau hidup pada saat ini, kau mengambil itu semua dalam satu hari, dalam satu waktu - Kau mencoba berjalan dalam cahaya 
-- hal. 382

Inilah Amerika Serikat tahun 2130, ketika negara ini terpecah menjadi dua kubu – Republik dan Koloni.  Keduanya berusaha saling menghancurkan. Saat ini, Republik yang berkuasa. MIliter berperan sangat kuat. Kesenjangan sosial begitu terasa, di tempat bagian orang-orang kaya, suasana terang-benderang, listrik lancar, sementara bagi kaum miskin, mereka harus bertahan dengan lilin, api unggun atau listrik yang byar-pet.

Sebuah peraturan yang ketat dibuat, yaitu bahwa anak-anak usia 10 tahun harus mengikuti suatu ujian dan harus mendapatkan standard nilai tinggi yang akan menentukan masa depan mereka dan menjamin kehidupan mereka selanjutnya. Jika anak-anak itu mendapatkan nilai rendah, maka mereka tidak lulus ujian dan dikirim ke suatu kamp atau pabrik.

Wabah penyakit mematikan menyerang rakyat Republik, di mana obat-obatan sangat mahal. Dan hanya golongan orang kaya yang mendapatkan vaksin, sementara orang-orang miskin yang terjangkit wabah itu akan dikarantina dan dibiarkan meninggal secara perlahan.

Nah, muncullah sosok ‘Robin Hood’ masa depan bernama Day – yang kemudian menjadi buronan paling dicari Pemerintah. Ia melakukan berbagai kejahatan – seperti membobol bank, menerobos rumah sakit untuk mencuri obat – yang terakhir ini ia lakukan demi menyembuhkan adiknya, Eden. Karena kelihaiannya, kegesitan dan keuletannya, ia tak pernah tertangkap oleh patroli, bahkan pihak pemerintah pun tak tahu seperti apa wujud Day sebenarnya, mereka gak punya rekam sidik jari Day. Setiap hari, wajahnya ditayangkan di JumboTron, tapi dengan wajah yang berbeda-beda. Hingga sampai satu malam, ketika ia menyelundup ke Institusi Kesehatan, ia nyaris tertangkap dan melarikan diri, di mana ia berjumpa dengan Kapten Metias, pimpinan patroli itu. Di malam itu pula, Kapten Metias terbunuh, sudah pasti Day jadi tertuduh utama. Dan June, adik Metias tidak tinggal diam. Sebagai murid yang berprestasi dengan hasil terbaik, June pun direkrut sebagai Agen untuk menangkap Day.

Yah … bertemulah mereka dan seperti yang sudah diketahui, mereka pun jatuh cinta. Tapi, tentu saja sulit, mengingat posisi masing-masing… apalagi yang June tahu, Day lah yang membunuh kakak tersayangnya itu.

Gue suka sama Day sejak awal … ya, tipe-tipe cowok misterius tapi baik hati sama keluarga. Ada orang-orang baik yang selalu jadi korban, dan Day adalah salah satunya. Ia berusaha bertahan hidup di dalam persembunyian, ia menolak bergabung dengan kelompok pemberontak dan lebih memilih jalannya sendiri. Ia sudah dianggap ‘tewas’, bahkan keluarganya sendiri juga gak tahu kalo dia masih hidup.

Sementara June, ia hanya seorang adik yang ingin mencari keadilan untuk kakaknya. Ia percaya bahwa Republik memberikan yang terbaik, dan terkejut saat mendapati fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini.

Alur cerita ini berlangsung cepat dan menurut gue seru, karena ada adegan lari-lari, ada adegan eksekusi yang bikin tegang. Yang membuat gue ‘tersentuh’ adalah keakraban antara Metias dan June, tapi yang bikin mules adalah kesadisan dari pihak Pemerintah yang gampang banget main eksekusi. Kebayang dinginnya Thomas itu kaya’ kalo ngeliat tentara-tentara Jerman di film-film gitu … dingin tanpa ekspresi.

Nah, kalo Komandan Jameson, kaya’ gini nih justru bayangan gue … hehehe..

via IMDb


Tapi tau gak …. Entah kenapa ketika baca buku ini, tiba-tiba gue malah ngebayangin kalo si capres yang ‘satu’ itu beneran jadi presiden … Indonesia dikuasai sama militer, terus semua berubah jadi ‘mencekam’ dan jadi seperti kaya’ yang ada di cerita-cerita dystopia …. *amit-amit*.. abaikan deh... itu hanya khayalan yang gak bener ...

Dan, yang ganggu lagi adalah COVER-nyaaaa… kenapa lagi-lagi berwujud manusia, tapi gak pas gitu rasanya … cover aslinya padahal keren menurut gue … sedikit merusak imajinasi gue akan sosok Day … Day di cover ini rasanya terlalu gagah dan tangguh, gak keliatan sisi rapuhnya.


Submitted for:
- 2014 TBRR Pile – Reading Challenge
- Lucky No. 14 Reading Challenge – Freebies Time
- New Author Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014

Monday, May 19, 2014

Found



 

Found

June Oldham @ 1995

Scholastic

199 hal.


Cerita ini berkisah tentang kehidupan di abad 21. Orang-orang kebanyakan bekerja di rumah, semua diatur oleh pemerintah pusat, setiap keluarga hanya punya satu anak, karena jika lebih, maka akan dikenakan pajak yang besar untuk tambahan anak tersebut. Seperti buku dystopia yang lain, maka, di dalam buku ini pun keberadaan buku cetak sangat langka, mereka juga jarang melakukan rekreasi. Dalam salah satu ceritanya, Ren, tokoh utama di novel ini berkata, kalau mau merasakan namanya pantai, tinggal duduk, cari makanan yang pas, dan pasang di screen gambar pantai… maka, bayangkanlah kalau sedang ada di pantai, dan berjemur di bawah sinar matahari. Hmm… tampak garing banget kehidupan kaya’ gitu.

Awal mula buku ini, bercerita tentang Ren yang ‘terpaksa’ diserahkan ibunya ke salah satu kerabatnya, karena ibunya sedang hamil dan tak akan mampu membayar pajak yang lebih besar. Maka, Ren pun ‘diselundupkan’. Tapi, gara-gara jam malam yang berlaku, perempuan yang seharusnya mengantar Ren terpaksa pulang. Ren pun harus bersembunyi di dalam sebuah gua. Status Ren sekarang adalah seorang ‘pelarian’.

Ternyata, di sana ia bertemu dengan Brocket, Lil dan Hillary, di mana mereka akhirnya berusaha menyelamatkan seorang bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Bayi itu mereka beri nama ‘Found’. Mereka melakukan perjalanan yang berat, melewati hutan, salju, belum lagi bayi harus diberi makan, minum, baju yang hangat, diganti popoknya dan sakit. Tak hanya itu, mereka juga harus bersembunyi, melarikan diri dari orang lain yang juga mengejar Found.

Ada yang rasanya gak jelas dalam buku ini. Gak tau deh, buku ini tergolong tipis, tapi, gue nyaris seminggu menyelesaikannya karena alur cerita yang sejujurnya nanggung. Misalnya siapa Cob? Kenapa dia mengejar Found? Siapa Mrs. Gimmer, yang selalu menolong mereka itu? Lalu, koq mereka nyaris aman-aman saja dari petugas keamanan yang katanya ketat dan selalu awas itu?

Baca buku seperti, terkadang antara penasaran, tapi pengen udahan. Pengen tahu ending-nya gimana, tapi koq menuju ke sana jalan ceritanya ‘ngeselin’.

Tapi ya sudahlah, it was just ok…,



Submitted for:

- Lucky No. 14 Reading Challenge – Category: First Name Rule
- Books in English Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014
- New Author Reading Challenge 2014

Wednesday, May 07, 2014

Lord of the Flies


 

Lord of the Flies

Faber and Faber – June 2002
225 hal

Sekelompok anak-anak asal Inggris, terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, setelah pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Tak ada orang dewasa yang selamat, hanya anak-anak. Awalnya sih, mungkin menyenangkan bagi anak-anak itu – mereka melupakan rasa takut, dan terpesona dengan area bermain baru yang l uas.

Anak-anak itu pun, sepakat untuk memilih ketua. Ada dua anak yang ‘dijagokan’ yaitu Ralph dan Jack. Tapi, akhirnya Ralph lah yang terpilih sebagai ketua. Ia pun berusaha mengatur ‘kehidupan’ mereka di pulau itu, seperti membuat api dan menjaganya agar tetap menyala, agar jika ada kapal yang lewat bisa melihat asap dari api itu dan menyelamatkan mereka. Sementara, Jack, yang berambisi juga untuk jadi ketua, diputuskan untuk menjadi ‘pemburu’, yang mencari makan untuk mereka. Tapi, lama-kelamaan, Jack malah ‘memberontak’ dan membentuk kelompok sendiri yang lebih ‘bar-bar’ dan merasa lebih jagoan karena mereka adalah pemburu.

Kelompok itu pun terpecah menjadi dua. kelompok yang baik dan beradab, serta yang buruk dan tak mau ikut aturan. Pada akhirnya malah semakin kacau dan Ralph bersama teman-teman yang masih setia padanya jadi buruan ‘The Hunter’.

Meskipun tokohnya anak-anak, tapi ini bukan novel yang mudah untuk dicerna, terkadang gue harus baca berulang-ulang untuk bisa lebih memahami dan mengerti apa yang maksud dari kalimat tersebut. Buku ini menggambarkan sisi baik dan buruk dari manusia. Ada yang egois, ambisius dan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan kekuasaan, ada yang bijaksana dan berusaha menjaga agar tetap di jalur sesuai dengan aturan, dan ada pula yang ‘tertindas’ – yang dalam hal ini diwakili oleh tokoh Piggy.

Membaca kalimat-kalimat di awal, sempat gue bayangin kalau buku ini akan jadi sebuah buku petualangan, dengan kisah yang lebih ‘ceria’. Ternyata, buku ini sangat serius dan ‘berat’. Lord of the Flies, adalah terjemahan dari Bahasa Hebrew – Beelzebub – yang artinya ‘Satan’. Agak ngeri ya jadinya … tapi, ada benarnya sih, kalo ngeliat tokoh Jack, yang makin lama makin gila kekuasaan, makin semena-mena.

Setelah baca buku ini, gue mampir ke Wikipedia, dan gue pun jadi lebih ngeh tentang isi  buku ini.

William Golding, adalah peraih Nobel untuk bidang literature tahun 1983. Dan salah satu buku beliau, Rites of Passage juga meraih penghargaan Booker Prize.

Submitted for:

- 2014 TBRR Pile – Reading Challenge (additional challenge: classic)
- Lucky No. 14 Reading Challenge – category: Once Upon a Time
- New Author Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014
- Books in Englishh Reading Challenge 2014

Wednesday, April 23, 2014

The Handmaid’s Tale



 

The Handmaid’s Tale

Vintage, 1996
324 hal.

Republik Gilead dikuasai oleh sebuah rezim militer yang ‘mengaku’ religius. Dalam rezim ini, mereka mengambil hak para perempuan dalam segala hal. Misalnya saja, membekukan tabungan mereka. Televisi, buku-buku, majalah dan segala bentuk keriaan dilarang. Banyak pekerja dari berbagai profesi dihukum. Sekolah, toko-toko, bioskop ditutup.

Di Republik Gilead, kedudukan perempuan itu ada ‘tingkatannya’. Ada kelompok Istri, Martha (semacam pengurus rumah tangga), Aunt (pengawas para Handmaid) dan Handmaid sendiri. Tugas Handmaid sehari-hari adalah berbelanja, memenuhi kebutuhan dapur. Pakaian para Handmaid ini baju panjang dan tertutup warna merah, kepala mereka ditutupi topi, dengan tudung berwarna putih, mereka berjalan harus menunduk, tidak boleh ada yang melihat wajah mereka. Kalau mau keluar rumah, ada jadwalnya, dan tak boleh sendiri, gak boleh bicara sama siapa pun. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, mereka melewati sebuah tembok tinggi, yang membatasi dunia mereka dengan dunia luar. Tembok itu juga sebuah tembok yang 'mengerikan', di mana hukuman gantung dilakukan. Mayat para terhukum akan dibiarkan di sana berhari-hari, sebagai peringatan bagi yang lain biar gak macem-macem.

Tugas mereka yang lain adalah ‘berkembang biak’. Para Istri, ingin punya anak, tapi, karena sebagian dari mereka sudah ‘steril’ maka tugas Handmaid-lah untuk menyediakan ‘anak’. Secara rutin, mereka berhubungan dengan suami-suami dengan cara yang ‘konyol’ banget menurut gue. Waktu baca bagian ini, gue bengong dan pengen ketawa. Gue pengen banget menertawakan si Istri-istri yang akting tapi jadi tampak bodoh. Makanan para Handmaid sangat dijaga, karena ya itu, biar kondisi mereka tetap prima. Tiap bulan kontrol ke dokter, kalo masih belum  menunjukkan hasil, ada aja dokter yang nakal, ‘menawarkan’ jasa mereka untuk membuahi si Handmaid. Itu baru proses untuk hamil, pada saat mau melahirkan, juga tingkah laku Istri-Istri gak kalah konyol. Ceritain di sini gak ya?? Gak usah deh, ntar spoiler lagi.

Intinya, Handmaid ini berkewajiban ‘menyediakan’ keturunan. Kalau gak, mereka akan dibuang ke tempat lain – di mana perlahan-lahan mereka akan meninggal, atau malah langsung dihukum gantung.

Offred adalah menjadi Handmaid sebagai hukuman karena berusaha melarikan diri, dan buku ini semacam ‘biografi’ dirinya, yang bercerita tentang masa-masa aneh di Republik Gilead. Offred bukanlah nama aslinya. Dulu ia punya kehidupan yang nyaman, dengan suaminya, Luke dan anak perempuannya yang diketahui hilang. Offred ditempatkan di rumah Serena Joy, dan ‘ditugaskan’ untuk melayani suaminya, sang Commander. Offred sendiri merupakan generasi awal dari para Handmaid, sehingga ia tahu dunia sebelum dan sesudahnya. Meskipun berusaha tunduk dan patuh, ada jiwa ‘pemberontak’ dalam dirinya.

Dalam buku ini, para perempuan di’doktrin’ untuk tidak percaya dengan yang namanya cinta. Bahwa keadaan seperti inilah yang terbaik, dan menjadi yang pertama memang sulit, tapi lama-lama semua akan terbiasa dan berjalan dengan normal. Adakalanya di dalam rumah, para Handmaid ditunjukkan sebuah film yang menggambarkan betapa brutalnya perlakukan kaum pria terhadap perempuan. Sehingga, mereka ini mau tidak mau bersyukur bahwa mereka hanya harus ‘melayani’ satu laki-laki.

Seorang turis yang berkunjung ke Republik Gilead sempat bertanya apakah Offred bahagia dengan keadaan ini? Dan itu hanya bisa ia jawab dalam hati, karena kan mereka gak boleh bicara dengan orang asing atau siapa pun. Banyak mata-mata di sekitar mereka dan ketahuan melanggar, siap-siap menerima hukuman.

Mungkin bakal banyak pertanyaan ketika membaca buku ini, misalnya, apa yang terjadi sama Luke, siapa nama asli Offred. Dan, di dalam cerita seperti ini, ada orang-orang yang mulai bergerak secara rahasia untuk melakukan pemberontakan.

Kalau abis baca buku-buku dystopian begini, rasanya ngilu dan ngeri. Sebuah dunia yang dari luar tampak teratur, tapi penuh dengan peraturan yang membatasi. Sebuah pelanggaran akan berakibat sangat fatal. 

Salah satu penghargaan yang diraih novel ini adalah Arthur C. Clarke Award tahun 1987, sebagai novel science-fiction terbaik. Dan ternyata, The Handmaid's Tale ini juga sudah pernah difilmkan, pemerannya adalah Natasha Richardson sebagai Offred dan Faye Dunaway sebagai Serena Joy.


Submitted for:

- 2014 TBRR Pile – Reading Challenge (Book Award Winner)
- New Author Reading Challenge 2014
- Books in English Reading Challenge 2014

Friday, February 07, 2014

Pandemonium



 

Pandemonium

Harper Collins USA - 2012
455 Hal

Ada dua bagian di dalam buku sequel Delirium ini – Now dan Then.

Di bagian ‘Then’, bercerita tentang Lena yang berhasil diselamatkan oleh kaum Invalid atau Simpatasian, kisah Lena yang hidup di Alam Liar. Bersama-sama dengan Raven, Tack dan teman-teman barunya di Alam Liar, Lena mencari tempat aman untuk persembunyian mereka. Di sini, Lena belajar bagaimana caranya bertahan hidup dengan peralatan yang seadanya.

Kehidupan di Alam Liar terkesan primitif – mereka harus berburu untuk mendapatkan makanan dan berpindah-pindah sesuai musim. Kehidupan kaum Simpatisan begitu keras, tapi mereka tetap bertahan dan tidak akan berpindah melintasi daerah perbatasan demi mendapatkan sebuah kenyamanan.

Sementara di bagian ‘Now’ – adalah kisah di mana Lena, Raven dan Tack menyamar sebagai warga negara yang sudah ‘disembuhkan’. Mereke menyusup di antara warga kota New York dengan identitas baru. Lena ditugaskan untuk mengawasi Julian Fineman, anak dari pimpinan DFA (Deliria Free America) –Thomas Fineman. Julian ini bisa dianggap sebagai ikon anak muda yang sangat mendukung DFA. Meskipun ia sakit keras dan dianggap tidak  memenuhi syarat, tapi Julian tetap ngotot ini menjalani proses penyembuhan.

Seharusnya…. Julian dan Lena ada di pihak yang berlawanan… tapi ternyata.. ketika mereka berdua diculik, situasi berubah.

Di bagian ‘Then’, alur bergerak rada lambat dan sedikit membosankan di awal. Tapi, karena berganti-ganti dengan bagian ‘Now’ maka cerita jadi semakin seru dan bikin penasaran. Memang sih, sempat bingung dengan perpindahan cerita dengan waktu yang berbeda. Tapi, makin lama, akan ketemu ‘titik tengah’nya. Meskipun, masih ada pertanyaan, gimana caranya Lena, Raven dan Tack bisa akhirnya sampai di New York, gak ada cerita tentang persiapan mereka untuk menjalankan misi mereka itu.

Lena yang dulu di Delirium ‘hancur lebur’ karena harus berpisah dengan Alex, di Pandemonium, berhasil menata perasaan kehilangannya dan menjadi perempuan yang lebih kuat dan tangguh, bahkan ada bagian di mana Lena jadi nekat.

Yang pasti, ‘perang’ antara DFA dan The Wilds semakin terbuka. Apalagi, endingnya, lumayan bikin ‘terkejut’ – tapi juga bikin kesal…. Soalnya, di akhir cerita, gue bertanya-tanya “Jadi…. Gini aja nih….? Terus, jadinya gimana dong?” Dan mari tunggu kelanjutannya di Requim (udah ada sale-nya belum ya? :D)


Submitted for:


Wednesday, December 04, 2013

Unwind




Unwind (Pemisahan Raga)
Mery Riansyah (Terj)
GPU – Agustus 2013
456 hal
(via Bukumoo123)

Untuk usia 13 tahun ke atas

Mendonorkan organ tubuh sesungguhnya tidaklah salah, dan tentunya bukanlah hal yang baru. Dan tentu saja apa pun yang didonorkan akan sangat berguna bagi yang membutuhkan, sebut saja donor ginjal atau donor mata. Biaya atau pun harganya tentulah sangat mahal, inilah yang menyebabkan donor illegal juga menjadi marak. Konon kabarnya, di Cina, donor illegal jadi bisnis. Harganya juga lebih ‘murah’ dibandingkan dengan yang resmi. Tapi masalah higienis atau ‘jaminan’ dari apa yang didonorkan juga jadi pertanyaan atau meragukan. Masalah donor ini diolah Nell Shusterman menjadi cerita yang bikin merinding kalau membayangkan prakteknya.

Dalam sebuah RUU Kehidupan, ada bagian mengenai Pemisahan Raga atau Unwind, di mana setiap anak mulai dari janin sampai 13 tahun tidak boleh dibunuh, sedangkan ketika anak itu mencapai usia 13-18 tahun, maka orang tua mereka boleh memilih apakah anak itu akan tetap ‘dipertahankan’, atau mereka para orang tua bisa menandatangani  surat untuk mengikutsertakan anak itu ke dalam proses Unwinding – di mana mereka akan menjalani proses Pemisahan Raga – seluruh anggota tubuh si anak akan ‘dipisah-pisah’ – dari ujung kaki sampai ujung kepala – bahkan sampai organ-organ bagian dalam. Si anak akan tetap ‘hidup’ dalam bentuk yang berbeda dengan di dalam tubuh orang lain. Lewat usia 18 tahun, maka anak itu akan menjadi manusia yang bebas.

Ajaibnya lagi, dalam RUU ini juga diatur mengenai anak dari hasil hubungan di luar pernikahan. Orang tua mereka ‘bebas’ meninggalkan anak mereka di depan pintu rumah orang lain – sepanjang tidak ketahuan. Dan orang yang ‘ditinggalin’ sama bayi, wajib merawat bayi itu sebagai anak adopsi. Dalam sebuah rumah, bukan tidak mungkin ada 2 atau 3 anak hasil adopsi.

Tiga tokoh utama dalam buku ini akan menjalani Proses Pemisahan Raga mereka. Connor, ‘diserahkan’ oleh orang tuanya karena mereka sudah tidak tahan dengan sikap Connor yang sering menyebabkan masalah. Ia tipe anak pemberontak, sukar mengendalikan emosinya.

Risa, seorang anak panti asuhan yang berbakat bermain piano, ia harus menjadi Unwind karena panti asuhan mereka sudah kekurangan tempat, sehingga ada anak-anak yang harus ‘dikorbankan’.

Lain lagi dengan Lev. Ia menjalani proses ini dengan sukarela. Lev tumbuh dalam keluarga yang sangat taat beragama. Proses ini sudah direncanakan sejak ia lahir. Sebagai anak terakhir, Lev adalah sebuah ‘persembahan’. Nah, anak-anak persembahan terkadang menganggap ‘derajat’ mereka lebih tinggi daripada Unwind lain.

Jika mereka sudah menjadi Unwind, maka tak ada pilihan lagi bagi mereka. Anak-anak ini akan dicekoki dengan doktrin bahwa mereka akan menjadi pahlawan, mereka akan sangat berguna bagi orang lain.

Ada anak-anak yang pasrah, ada anak-anak yang memberontak. Seperti Connor dan Risa. Di usia 13 tahun, mereka harus bersembunyi, menyelamatkan diri dan bertahan sampai usia 18 tahun. Karena jika tertangkap, maka mereka akan berakhir di meja operasi.

Membaca buku ini ada yang membuat gue ‘terganggu’. Sejak awal, sejak lembar pertama gue tahu apa itu Pemisahan Raga dan ketika Nell Shusterman ‘melengkapinya’ dengan gambaran sebuah proses pemisahan raga terhadap salah satu anak, dengan begitu smooth… perlahan, tapi pasti… dengan cara yang sangat bikin ngilu.

Dan gue ‘lega’ ketika tokoh Connor, Risa dan Lev tidak berakhir dan terjebak ke dalam sebuah cinta segitiga yang biasanya jadi pemanis di cerita-cerita dystopia. Mereka ini adalah remaja-remaja yang ‘terjebak’ karena gak punya pilihan, hingga akhirnya memutuskan untuk berontak. Dan apa yang mereka usahakan pada akhirnya, meskipun ‘sedikit’, menyulutkan semangat pada anak-anak Unwind lainnya. Bahkan dengan sebuah cerita yang singkat, tokoh antagonisnya bisa mendapatkan simpati gue.

Menutup buku ini, ada sebuah pertanyaan, apakah mungkin hal seperti ini benar-benar bakal ‘terjadi’, ketika dunia semakin padat dan gak ada pilihan lain untuk menekan laju penduduk? Dan, koq rasanya anak-anak usia jadi gak punya hak untuk bersuara dan berpendapat, semua jadi tergantung dengan keputusan orang tua.

Penghargaan yang pernah diraih untuk buku ini adalah Sakura Medal di tahun 2009.




Friday, November 22, 2013

The Knife of Never Letting Go




Chaos Walking #1: The Knife of Never Letting Go
Patrick Ness @ 2008
Walker Books
479 hal
(untuk 12 tahun ke atas)

Tersebutlah sebuah kota bernama Prentisstown. Penduduk kota ini hanya terdiri dari para laki-laki. Konon para perempuan meninggal karena terkena wabah yang dibawa oleh para alien yang mereka sebut Spackle. Ketika anak laki-laki berumur 13 tahun, maka ia resmi menjadi seorang pria dewasa. Di kota ini, tak seorang pun bisa menyimpan rahasia, karena apa yang mereka pikirkan akan ‘terdengar’ oleh orang lain. Apa yang ada di hati seseorang, bisa ‘terbaca’. Bahkan, binatang pun bisa bicara. Inilah wabah itu. Hanya laki-laki yang pikirannya bisa didengar oleh semua orang, tapi apa yang ada di pikiran para perempuan tidak bisa didengar oleh laki-laki. Konon katanya, para perempuan gak tahan dengan ‘kebisingan’ itu, makanya secara perlahan, para perempuan meninggal dunia.

Di kota ini pula, yang namanya buku itu dilarang. Semua hanya mengikuti satu petunjuk dari Mayor Prentiss dan antek-anteknya.

Todd Hewitt adalah anak laki-laki terakhir yang ada di Prentisstown. Sebulan lagi, ia akan berumur 13 tahun dan resmi jadi pria dewasa. Ia tidak punya teman, karena ketika anak laki-laki menjadi dewasa, maka mereka gak mau berteman lagi dengan anak laki-laki lain. Tentu saja Todd excited menunggu datangnya usia 13 tahun itu. Todd yang yatim piatu diasuh oleh Ben dan Cillian, teman orang tua Todd.

Tapi, sebelum usia 13 tahun itu datang, secara tak sengaja Todd menemukan sebuah keanehan. Hal ini yang membuat Todd harus segera menyingkir dari Prentisstown dan menemukan sebuah Dunia Baru, di mana dunia tidaklah ‘sebising’ tempat Todd sekarang tinggal.

Tapi, tentunya tak mudah untuk menuju tempat itu, karena seluruh penduduk Prentisstown memburunya. Sebagai anak laki-laki terakhir, posisi Todd jadi ‘istimewa’. Ada tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh Mayor Prentiss. Di usia yang masih belia, Todd harus menempuh sebuah perjalanan panjang dan sulit. Belum lagi, orang-orang ‘gila’ yang ingin membunuhnya sebagai upaya ‘pembuktian’ diri.

Untungnya Todd gak sendiri, selain ditemani anjingnya Manchee, Todd bertemu dengan seorang gadis bernama Viola.

Buku ini untuk remaja, tapi ‘isu’ yang ada di buku ini lumayan berat. Mulai dari politik, gender dan bahkan agama. Mungkin gak setegang Hunger Games, tapi gue lebih tertarik untuk mengikuti serial ini daripada serial Matched (Ally Condie). Untung isinya bukan cerita dystopian ‘berbalut’ cinta segitiga. Gue suka karena di buku ini tokoh utamanya laki-laki, bukan perempuan plin-plan kaya’ di Matched (kenapa gue jadi sebel sama Matched ya?). 

Ada dua adegan yang bikin gue ngilu, yaitu ketika Todd harus milih antara Manchee dan Viola, dan ketika Todd harus pisah sama Ben untuk yang kedua kalinya.

Buku ini meraih penghargaan sebagai pemenang dari The Booktrust Teen Fiction. Dan, rasanya perlu segera nyari sequelnya – The Ask and the Answer dan Monster of Men. O ya, bahkan ada prekuelnya juga – The New World.

Submitted for:

Monday, March 18, 2013

A Long Long Sleep




A Long Long Sleep
Anna Sheehan @ 2011
Barokah Ruziati (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, Juni 2012
398 hal.
(Dari Penerbit Serambi @ IRF 2012)

Ini adalah kisah Putri Tidur dalam versi futuristik. Selama 62 tahun, Rosalinda Samantha Elroy berada dalam keadaan statis – tertidur – di dalam stase-nya. Ia tidak menua sedikit pun, sementara orang-orang yang ia kenal selama ini sudah tiada. Ia terbangun ketika seorang pemuda bernama Bren memberinya bantuan napas buatan. Bren menemukan tabung stase Rose di ruang bawah tanah.

Karuan semua orang langsung panik dan heboh. Karena Rose adalah pewaris tunggal dari UniCorp, sebuah perusahaan yang besar dan sangat berpengaruh. Saat ditemukan, Rose berusia 16 tahun. Dalam keadaan letih karena di-stase terlalu lama, tubuhnya jadi lemah. Dan ia juga bingung dengan keadaan yang sudah berubah.

Guillory, pimpinan UniCorp yang saat ini, bertindak sebagai wali dari Rose. Dan ia mengatur agar semua kebutuhan Rose tersedia. Bahkan Rose bisa kembali ke rumahnya yang lama dan diasuh oleh orang tua angkat yang sama sekali tidak peduli dengan keadaannya.

Di sekolah, semua hal jadi dipermudah, karena Guillory sudah memberi beberapa peringatan dan catatan pada setiap guru. Untung ada Bren, yang mengajak Rose berkenalan dengan beberapa teman, yang orang tuanya memiliki peranan penting di UniCorp. Di kelompok itu, Rose mengenal satu anak yang unik, bernama Otto. Otto tidak berkomunikasi melalui suara, tapi melalui tulisan.

Alat-alat yang digunakan dalam buku ini sangat canggih, misalnya tablet (ini sih udah biasa kali ya sekarang), kendaraan yang canggih,

Gue jadi kasihan sama Rose, bukan hanya sekali atau dua kali Rose dimasukkan ke dalam stase, tapi berulang-ulang. Alasan orang tuanya adalah demi keamanan Rose. Ya, sebagai pewaris tunggal, banyak yang ingin menculik Rose. Tapi, bukan hanya itu, orang tua Rose, terutama ayahnya, termasuk tipe yang gak suka dibantah. Sedikit Rose membantah atau berargumen, mereka akan menganggap Rose sedang ‘bingung’ atau resah, dan gak ada salahnya untuk di’statis’kan selama beberapa hari atau minggu. Lama-lama, perlakuan ini ‘mencuri’ masa kecil dan remaja Rose. Ia berkembang dengan tidak wajar. Bayangkan… Xavier, pacar Rose, ‘seharusnya’ berusia jauh lebih muda daripada Rose. Saat Xavier lahir, Rose sudah berumur 7 tahun dan sering menggantikan popok Xavier. Tapi, beberapa kali mengalami masa statis, akhirnya justru Xavier jadi lebih tua dari Rose.

Gue nyaris ‘ngamuk-ngamuk’ baca saat-saat Rose akan di-stase. Rose gak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Gila aja, alasan sayang, demi keamanan malah bikin Rose jadi anak yang gak berkembang, gak punya teman dan kehidupan. Satu-satunya pengalihan Rose biar tetap memiliki kenangan adalah dengan cara melukis.

Namun, soal keberadaan orang-orang yang ingin menggangu Rose memang mungkin ada, buktinya Rose kerap diburu oleh Plastine, sebuah robot canggih yang akan selalu mematuhi perintah dan melaksanakan tugasnya sampai selesai.

Di awal, terus terang, rada membosankan membaca buku ini dan sedikit malas untuk nerusinya. Karena tokoh Rose, bisa jadi rada gak ada gregetnya, selalu dalam keadaan bingung dan tak bersemangat, lelah., selain memang karena perlu banyak adaptasi, juga karena fungsi tubuh yang belum semuanya normal. Rose terlalu polos, sehingga sering merasa apa pun yang terjadi adalah kesalahannya.  Untunglah ada tokoh yang membuat cerita jadi lebih ‘segar’, yaitu Otto. Makhluk berwarna biru yang merupakan hasil rekayasa genetika. Selain bersama Bren, saat berkomunikasi dengan Otto, Rose jadi lebih ‘ceria’.

Tapi dengan alur cerita yang maju mundur ini, pelan-pelan mulai terkuak sebuah rahasia yang mengejutkan, sekaligus ‘menyakitkan’. Ada begitu banyak kenyataan yang mulai terungkap, dari mulai tentang orang tuanya, sampai tentang Xavier yang selalu dirindukan Rose. Tebakan gue di awal tentang siapa tokoh antagonisnya ternyata salah.

Tentu saja, namanya buku remaja, pastilah ada ‘percikan-percikan’ asmara dan ada patah hati. Tapi, tenang… buku ini berakhir dengan tidak biasa. Sang putri tidur masih tetap mencari cinta sejatinya… *ooppss… apakah ini spoiler?*
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang