Tuesday, July 27, 2010

Shinjū

Shinjū
Laura Joh Rowland @ 1994
Reni Indardini (Terj.)
Hikmah - Cet. I, Januari 2010
532 Hal.

Sano Ichiro, diangkat sebagai seorang yoriki karena unsur balas budi. Seseorang yang sudah ditolong oleh ayah Ichiro di masa lalu ingin segera ‘menuntaskan’ rasa utang budinya kepada ayah Ichiro. Padahal, Ichiro tidak punya latar sebagai seorang ‘penegak hukum’, ia hanyalah seorang pengajar bela diri.

Dengan kedudukan barunya, orang mulai memandang segan padanya. Tapi tidak demikian dengan rekan-rekan sejawatnya yang tahu bagaimana latar belakang Ichiro sebenarnya. Rasa idealisme yang tinggi juga membuatnya dijauhkan dari lingkungan pergaulan sesama yoriki.

Munculah kasus kematian dua orang muda yang berbeda ‘derajat’. Niu Yukiko, seorang gadis dari keluarga ningrat dan Noriyoshi, seorang pemuda, seniman miskin. Mereka diyakini melakukan Shinjū, atau bunuh diri karena cinta terlarang. Atasan Ichiro, Hakim Ogyu, meminta Ichiro menulis laporan seperti yang sudah ‘diperintahkan’. Tapi, naluri Ichiro yang masih ‘polos’ berkata lain. Ia yakin ada sesuatu yang salah di balik kematian Yukiko dan Noriyoshi.

Ichiro pun mulai melakukan penyelidikan. Ia pergi ke kediaman keluarga Niu dan mendapat sambutan yang dingin dari Nyonya Besar Niu yang enggan kematian anak (tirinya) diungkit-ungkit. Lalu Ichiro pergi ke tempat di mana biasa Noriyoshi bekerja dan bertemu dengan orang-orang yang dianggap berpotensi mengingikan kematian seorang Noriyoshi.

Penyelidikan ini membuat pihak-pihak tertentu gerah, yang tidak ingin apa yang sebenarnya terjadi terungkap. Hakim Ogyu mulai ‘menekan’ Ichiro, beberapa orang jadi celaka. Tapi, Ichiro tetap maju, ia ingin keadilan ditegakkan.

Rumit sistem pemerintahan, peradilan di Jepang jaman dahulu kala. Di mana yang berkuasa senantiasa menekan anak buahnya dan jika tidak dipatuhi, kematian akan jadi akhir. Yang kaya selalu berusaha disembunyikan semua aibnya, sementara jika warga miskin, harus diungkap apa pun kejelekannya.

Yang membuat cerita ini menarik mungkin karena latar belakang cerita. Gue terlalu sering membaca cerita detektif dalam versi modern, jadinya buat gue apa yang ada dalam buku ini ‘menimbulkan rasa baru’. Meskipun nihhhh… gak terlalu membuat gue penasaran. Ending cerita juga gak terlalu dramatis. Tentu saja, Ichiro jadi pahlawan dan dapat kedudukan yang lebih tinggi dibanding jadi seorang yoriki.

Masih ada seri-seri Sano Ichiro selanjutnya, yang rasanya gak akan jauh-jauh dari misteri pembunuhan.

Tuesday, July 20, 2010

Baby Proof

Baby Proof
Emily Giffin @ 2006
St. Martin’s Griffin - 2007
348 hal.

Buat Claudia, menikah adalah karena ia ingin bersama orang yang ia cintai. Tujuannya menikah, bukan untuk memiliki anak atau keturunan. Beruntung ia bertemu Ben yang punya misi dan visi sama. Mereka pun akhirnya menikah.

Tapi, ketika di sekeliling mereka, teman-teman mereka mulai merencakan masa depan dengan ‘anak’, tak urung, Ben pun terpengaruh. Ia mulai meminta Claudia untuk memikirkan kembali pandangannya tentang ‘tidak mau punya anak’. Claudia keukeuh dengan pilihannya. Dan mereka akhirnya memilih untuk berpisah karena kecewa dengan pilihan pasangan mereka.

Wow… ternyata cinta gak bisa menyatukan pandangan mereka, sampai akhirnya mereka lebih memilih untuk berpisah.

Dan setelah perpisahan pun, Claudia tidak bisa benar-benar lepas dari isu seputar ‘anak’. Ada Daphne, adiknya yang sangat ingin punya anak setelah bertahun-tahun menikah, ada Maura, adik/kakak Claudia yang lain, yang punya tiga anak tapi suaminya berselingkuh. Lalu, ada Jess, yang menjalin hubungan dengan pria beristri (yang katanya nih janji mau ninggalin istrinya), yang nekat mau hamil dari pria itu.

Well, ternyata gak setiap orang ingin menikah karena pengen punya anak. Ide cerita yang ‘berat’, tapi jadi ringan di dalam buku ini. Meskipun gue agak kurang ‘merasakan’ chemistry Claudia dan Ben. Apalagi pas di ending cerita (ups… apakah ini sebuah spoiler?)

Ini buku Emily Giffin pertama yang gue baca. Satu lagi hasil bookmooch di tahun 2007 (!). Sebenernya ini yang ketiga kalinya gue baca buku ini. Bukan karena gue suka banget, tapi, di dua kali yang pertama, gue hanya baca sekitar sepertiga buku aja. Baru yang ketiga ini, gue berhasil membaca sampai selesai.

Wednesday, July 14, 2010

The Leap

The Leap
Jonathan Stroud @ 2001
Hyperion/Miramax Books - 2004
240 Hal.


Charlie tidak percaya kalau sahabatnya, Max, sudah meninggal. Max meninggal karena tercebur ke dalam kolam di sebuah pabrik. Charlie yakin kalau Max masih hidup, tapi Max hanya terjebak di alam lain, dan Charlie merasa ia harus mencari Max.

Semua orang beranggapan Charlie depresi karena kehilangan sahabatnya. Tidak ada yang percaya dengan cerita Charlie. Bahkan Charlie sampai dibawa ke seorang psikiater, agar Charlie mau bicara dan keluar dari rasa kehilangan. Charlie jadi sosok yang menjauh dari keluarganya. Ia memilih berdiam diri karena jika ia bicara orang akan beranggapan ia mulai gila.

Charlie seolah mendapat ‘titik terang’ untuk bertemu Max kembali, ketika ia sadar dalam tidurnya ia bermimpi ada sebuah tempat dan melihat ada sosok Max. Charlie yakin ia bisa bertemu Max lagi. Dan sejak itulah, Charlie melakukan berbagai aktivitas yang melelahkan agar ia bisa tidur cepat dan kembali bermimpi.

Ibunya bahkan psikiaternya merasa kembalinya Charlie beraktivitas adalah hal yang positif. Hanya, James, kakaknya, yang merasa tetap ada sesuatu yang aneh dari diri Charlie. Ia yakin, Charlie menyembunyikan sesuatu.

Mimpi-mimpi Charlie semakin panjang dan tampak mulai ‘nyata’. Charlie kerap menuliskan mimpinya ke dalam buku hariannya. Di mimpinya, Charlie bertemu dengan ‘seseorang’ yang menjadi penunjuk jalan untuk bertemu Max. Charlie jadi semakin aneh. Ia akan marah kalau James membangunkannya.

Charlie semakin masuk ke dalam mimpinya dan makin lama, malah makin jauh dari dunia nyata. James merasa ia harus menyelamatkan Charlie dari apa pun itu.

Gue mendapatkan buku ini dari hasil bookmooch. Udah lama banget, mungkin dari sekitar tahun 2008. Gue me-mooch buku ini pas lagi ‘tergila-gila’ sama The Bartimaeus Trilogy. So far, masih ada 2 buku Jonathan Stroud lagi yang menanti untuk dibaca.

Gue nyaris gak menyelesaikan buku ini. Karena bikin ngantuk. Bukunya ‘sepi’ banget. Gue merasa jadi ikut melayang-layang dalam mimpinya Charlie. Ikut berjalan jauh tapi gak tau di mana tujuan akhirnya. Hanya kalo ada giliran James yang cerita gue jadi merasa ada selingan. Dan hanya di bagian akhir gue jadi ikut-ikutan ‘terburu-buru’, bisa karena gue keburu-buru ‘ngikutin’ James, atau terburu-buru karena pengen cepet selesai.

Wednesday, July 07, 2010

Nobody’s Boy

Nobody’s Boy (Sebatang Kara)
Hector Malot @ 1878
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – April 2010
384 Hal.

Remi, bocah kecil yang ketika masih bayi diculik dan ditinggalkan begitu saja di sebuah jalan di Paris. Ia diasuh oleh pemotong batu yang berharap suatu saat Remi akan dicari oleh orang tua kandungnya dan ia akan diberi imbalan karena sudah berbaik hati mengurus Remi.

Remi sangat menyayangi ibu angkatnya, berbeda dengan ayah angkatnya yang akhirnya menjual Remi ke pemusik jalanan bernama Signor Vitalis. Dengan Signor Vitalis-lah, petulangan hidup Remi dimulai. Berkeliling Perancis bersama rombongan Signor Vitalis yang anggota lainnya adalah Pretty Heart si monyet kecil dan 3 ekor anjing. Singor Vitalis mengajarkan Remi tak hanya bermain musik, tapi juga membaca.

Hidup di jalanan memang keras. Tak hanya karena masalah cuaca, tapi tentu saja uang. Pertunjukkan mereka tidak selalu sukses dan menghasilkan uang. Malah, harus berurusan dengan polisi.

Suka duka menerpa Remi. Tapi, Remi tetap kuat. Ia bertemu dengan teman-teman baru yang baik hati. Meskipun cobaan datang silih berganti, seperti kata Mattia – salah satu teman barunya, Remi selalu tabah.

Kisah klasik, yang tiba-tiba, nih, pas gue baca sampul bagian belakang, gue baru ngeh, kalo cerita ini pernah ada kartunnya di RCTI. Samar-samar gue mengingat jalan ceritanya dan berusaha ‘mengingat’ soundtracknya. Cerita yang menurut gue, ampunnnn… sedih banget… bahkan ketika baca novelnya lagi, gue berasa sedih, meskipun gue udah tau ceritanya.

Yang gue suka nih, dari Remi, meskipun kena hujan, badai, ditangkep polisi, dijual, ‘terlunta-lunta’, tapi, tetap aja ceria dan banyak akal.

Cerita yang bener-bener happily ever after… dan mungkin kalo dipikir, klise banget…

Thursday, July 01, 2010

Harry and the Treasure of Eddie Carver

Harry and the Treasure of Eddie Carver (Harry dan Geng Keriput Berburu Harta Karun)
Alan Temperley @ 1997
Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – Agustus 2008
512 Hal.

Well… meskipun Percy Pops alias Kolonel Priestly sudah tertangkap dan dipenjara di Penjara Bukit Cony. Tampaknya Harry dan Geng Keriput belum bisa tenang. Ternyata Gestapo Lil justru masih bebas dan masih ada di Fellon Grange. Malahan komplotan mereka bertambah satu orang, yaitu Mad Ruby yang tak lain adalah ibu dari Percy Pops! Wah, urusan jadi tambah kacau, mengingat mereka menyimpan dendam pada Harry dan Geng Keriput.

Sementara itu, Geng Keriput merencanakan sebuah misi mulia, yaitu mencari dana untuk disumbangkan ke Afrika. Untuk itu tentu saja butuh dana besar. Kebetulannnn… Geng Keriput mendengar bahwa ada seorang narapidana bernama Eddie Carver yang menyimpan harta jarahannya di sebuah tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.

Dicarilah jalan untuk mendekati Eddie Carver. Tapi, Komplotan Percy Priestly juga mengincar harta itu. Dan, kebetulan lagi, Eddie Carver meninggal dalam sebuah kecelakaan ‘misterius’ di dalam penjara. Tak lama kemudian, Percy Priestly kabur dari penjara.

Kaburnya Percy Pops tentu saja jadi mimpi buruk untuk Harry dan Geng Keriput. Geng Keriput yang masih terus mencari di mana lokasi harta karun itu berada. Dengan segala riset dan penyelidikan, membawa mereka ke Skotlandia, ke sebuah pulau, di mana diyakini harta itu ada.

Sayang, Kompoltan Percy Pops juga tidak tinggal diam. Dengan segala cara, mereka juga berusaha mengambil harta karun itu. Mulai dari menyandera Harry sampai menyusul ke Skotlandia. Tapi, tetap aja, Harry lebih cerdik dari mereka.

Harry sempat ‘terjebak’ dilema, dan bertanya-tanya, apakah yang dilakukan bibinya dan teman-temannya ini salah apa betul? Mereka ‘mengambil’ sebagian harta orang kaya demi membantu orang-orang miskin. Hmmm… tapi, ternyata Harry menikmati juga tuh, aksinya bersama The Wrinklies…

Buku kedua makin kocak. Gue jadi ngebayangin film komedi kaya’ Home Alone, yang penjahatnya meskipun udah amburadul, berantakan, babak belur, tapi tetap aja bisa beraksi dan bikin ulah baru. Coba ada ilustrasinya, pasti buku ini makin seru dan kocak.

Thursday, June 24, 2010

Harry and the Wrinklies

Harry and the Wrinklies (Harry dan Gang Keriput)
Alan Temperley @ 1997
Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – Mei 2008
336 Hal.

Harry Potter… Harry Barton… dua Harry yang sangat malang. Orang tuanya meninggal sama-sama gara-gara kecelakaan. Ya, kalo Harry Potter karena lagi ‘bertarung’ sihir-menyihir, tapi kalo Harry Barton, orang tuanya meninggalkan karena kecelakaan ketika mereka lagi berpesiar entah di mana.

Harry Barton adalah anak orang kaya, saking kayanya, kedua orang tua Harry selalu menghabiskan waktu mereka dengan berlibur ke seluruh penjuru dunia. Mereka meninggalkan Harry di rumahnya yang besar, diasuh oleh pengasuh yang judes dan sadis, yang disebut Harry, Gestapo Lil. Hanya karena kewajiban, orang tua Harry pulang ke rumah setiap dua kali setahun. Bahkan natal pun, mereka hanya mengirim hadiah-hadiah mahal, yang bahkan bukan mereka sendiri yang memilih.

Ketika mendengar kabar buruk itu pun, Harry tidak merasa kehilangan orang tuanya. Harry pun terpaksa harus pindah ke rumah bibinya yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Oleh Gestapo Lil yang licik, ia hanya boleh membawa satu koper usang, yang isinya juga hanya baju-baju yang sudah jelek.

Harry Barton lebih beruntung daripada Harry Potter. Bibi-bibi Harry Barton ternyata sangat ramah dan menyenangkan. Meskipun sedikit aneh. Hehehe.. lagi-lagi, gue menemukan buku yang tokohnya nenek-nenek nyentrik dan asyik.

Di hari pertamanya, Harry langsung merasa betah berada di Lagg Hall, demikian mereka menyebut rumah mirip puri itu. Harry mendapat kamar di menara dengan pemandangan yang indah.

Harry berkenalan dengan teman-teman Bibi Florie – si bibi yang pinter banget ngebut, dan Bibi Bridget – yang ternyata adalah seorang professor!

Ternyata, Bibi Florie dan Bibi Bridget, menyimpan sebuah rahasia besar. Mereka dan teman-temannya adalah Robin Hood dalam versi nenek-nenek dan kakek-kakek! Siapa sangka mereka tenyata bekas narapidana dan penjahat. Target mereka adalah mengambil sebagian harta orang kaya dan memberikannya pada si miskin.

Harry pun akhirnya ikut menikmati misi ‘Robin Hood’ mereka dalam menjebak si Beastly Priestly dan tunangannya yang tak lain adalah Gestapo Lil.

Pertama, gue suka cover-nya. Kedua, bukunya lucu. Menyenangkan banget kalo bisa tinggal di dekat daerah yang hijau begitu, ada danau buat berenang. Tinggal nyemplung kalo pengen. Ada hutan kecil tempat main-main. Gue jadi lebih suka ‘tempat’nya dibanding ceritanya sendiri.

Tapi, kalo dari cerita, gue ketawa-tawa sendiri ngebayangin si nenek-nenek funky ini. Masing-masing punya keahlian yang menunjang misi mereka. Misi yang dirancang dengan sangat detail dan nyaris sempurna. Tokoh yang ngeselin tentu saja Kolonel Priestley dan Gestapo Lil, tokoh terpandang dan ternyata jahat. Klise sih, sangat hitam-putih. Tapi.. namanya juga buku anak-anak, biar gimana tetap fun bacanya.

Monday, June 21, 2010

That Silent Summer

That Silent Summer (Saat Kata-Kata Tidaklah Cukup)
Eliane Medline @ 1999
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Juli 2008
184 hal.

Sebagai ‘anak kota’, Minnow (bukan nama aslinya) tentu saja merasa sebal ketika harus menghabiskan musim panasnya bersama tiga orang tua (manula) yang nyaris tidak dikenalnya. Mereka sebenarnya adalah nenek-nenek Minnow sendiri, yaitu: Yanny (nenek kandung Minnow), Cliff dan Anna. Ketiga orang tua itu punya keunikan atau bahkan ‘kenyentrikan’ sendiri. Yanny – di usianya yang ke 80 tahun, masih gemar pakai rok (mini), sepatu hak tinggi dan aksesoris lainnya – serba pink pula. Yanny pintar membuat berbagai macam pie dengan sistem yang ‘aneh’. Lalu, Cliff, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara itu, gemar bersantai di hammock-nya, sambil menyelesaikan proyek ‘Puisi 100 Halaman’, tapi jangan pernah bertanya kapan puisi itu akan selesai. Dan, terakhir, Anna – yang selalu meraih gelar juara untuk bunga Gladiol Tercantik. Tapi, Anna inilah yang paling misterius, Anna ‘berhenti’ bicara sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Anna-lah yang ‘menuturkan’ kisah liburan Minnow di Musim Panas Danau Ungu.

Minnow, yang tadinya ogah-ogahan, mulai menikmati musim panasnya di pondok kayu bersama nenek-neneknya. Ia ikut ‘bertualang’ balet sampan, berenang di Danau Birch, membuat pie kejutan untuk Yanny, memberi dukungan ‘moral’ untuk Cliff dan menemukan Batu tempatnya ‘bertapa’.

Minnow bahkan berani bertanya langsung pada Anna tentang kebisuannya. Tapi, ia justru mengetahui berbagai rahasia dari seorang pendatang baru – cicit ‘musuh’ Yanny, Montogomery Moore. Banyak rahasia di dalam pondok itu, terutama yang berkaitan dengan Anna.. Semuanya diceritakan dalam ‘kebisuan’.

Tokoh favorit gue adalah nenek Yanny.. ampun deh, kebayang punya nenek yang lincah dan nyentrik. Yang temperamental, tapi bisa juga jadi drama queen.

Ahhhh.. jadi pengen nyemplung ke danau.. berenang… kaya’nya enak banget. Tapi, di mana bisa nemu danau buat berenang di Jakarta ya???

Girl Friday

Girl Friday
Jane Green @ 2009
Penguin Books - 2010
401 hal.

Setelah bercerai dari suaminya, Adam, Kit Hangrove pindah ke daerah Highfield. Di sana, ia memulai hidup baru yang lebih ‘sederhana’ bersama kedua anaknya, Tory dan Buckley. Melalui tetangganya, Eddie, Kit mendapatkan pekerjaan baru, menjadi seorang asisten penulis terkenal dan penyediri, Robert McClore. Kit mendapat teman-teman baru, Tracy, yang punya usaha tempat yoga dan Charlie, si perangkai bunga.

Kit juga mulai mencoba menjalin hubungan baru dengan seorang pria yang dikenalkan oleh Tracy, bernama Steve. Tapi, makin lama, Kit sendiri makin tidak nyaman dengan hubungan itu. Meskipun Steve begitu penuh perhatian dengan memberi bunga, parfum dan lain-lain.

Bukan hanya Kit yang jadi tokoh utama di sini. Tapi, juga teman-teman Kit dengan masalahnya sendiri. Tracy, yang kembali menjalin hubungan dengan mantan suaminya dan mengalami KDRT. Tracy berusaha mendekati Robert McClore dengan suatu tujuan. Sementara itu Charlie, mengalami kesulitan financial karena suaminya yang bekerja di Wall Street, ikut terkena dampak krisis moneter.

Belum lagi, Kit yang tiba-tiba kedatangan adik tirinya yang selama ini memang tidak diketahuinya. Annabelle, datang dengan pesona dan kemudaannya, memikat hati mantan suaminya dan juga anak-anaknya. Tanpa ia sadarai, Annabelle juga punya misi ‘tersendiri’.

O ya… gak ketinggalan si penulis yang misterius, Robert McClore. Robert digambarkan sangat terkenal, buku-bukunya selalu jadi best seller. Tapi, ia memilih untuk menyendiri, menghindar dari publikasi dan menyembunyikan masa lalunya yang juga tak kalah dramatis.

Cerita tentang kehidupan sehari-hari di sebuah daerah bernama Dune Road (judul asli buku ini). Gue pikir, tadinya semua cerita bakal berpusat pada Kit, tapi ternyata, yang lain juga gak kalah seru diceritain. Memang sih, Kit tetap dapat porsi yang paling besar.

Well... cerita yang lumayan aja dan menurut gue, cukup ‘serius.

Monday, June 14, 2010

Ghostgirl: Homecoming

Ghostgirl: Homecoming
Tonya Hurley @ 2002
Berliani M. Nugraheni (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. 1, April 2010
346 hal.

Charlotte Usher, si cewek Hawthorne High yang meninggal karena tersedak permen kenyal, sudah lulus dari kelas Pendidikan Kematian. Sekarang, bersama teman-temannya di Alam Kematian, mereka berpindah tempat alam ‘selanjutnya’. Surgakah? Uuu.. ternyata bukan… Charlotte dan teman-temannya dibawa ke sebuah tempat mirip asrama atau apartemen, dan semua ditemani oleh orang-orang yang dekat dan pernah jadi inspirasi mereka… semua… kecuali Charlotte.

Di tempat baru, mereka harus ‘bekerja’ sebagai pekerja online service. Semua sibuk menjawab telepon, kecuali.. lagi-lagi Charlotte. Charlotte BT berat… kenapa hanya dia yang tidak pernah mendapat panggilan telepon, kenapa hanya dia yang tidak dibutuhkan bantuannya? Semua temannya sibuk, sahabat-sahabat lamanya tidak ada yang memperhatikannya lagi. Untung Charlotte dapat teman baru, bernama Maddy yang sering memberinya semangat – meskipun kadang kata-katanya bermakna ‘ganda’.

Di Alam Kehidupan, Petula Kensington sibuk dengan persiapan kencan dengan cowok terbarunya. Tapi sayang, gara-gara pedicure-manicure yang sembarangan, Petula koma. Tanpa sadar ia berada di alam ‘in-between’ (ini istilah gue aja sih..) Dalam keadaan Petula yang tidak sadar itu, Scarlett, adiknya, tiba-tiba sadar kalau ia menyayangi kakaknya, meskipun tidak pernah ditunjukkan selama ini. Scarlett bertekad untuk mengembalikan kakaknya ke Alam Kehidupan, meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Untuk itu… ia butuh bantuan Charlotte. Tapi sayang, ada yang cemburu dengan kehadirannya. Maddy tiba-tiba jadi aneh. Maddy memanfaatkan pesona Damen, cowok yang ditaksir Charlotte dan diam-diam masih mampu membuatnya terpesona.

Charlotte lagi-lagi terombang-ambing, antara Alam Kehidupan dan Alam Kematian. Tubuh Petula bagaikan benda yang ‘menggoda’ yang bisa membawanya kembali berdekatan dengan Damen. Bukan itu saja, kesempatan untuk jadi Homecoming Queen ada di depan mata jika ia bisa menguasai tubuh Petula. Menjadi pusat perhatian, yang selama hidup diimpikan Charlotte.

Gue lebih suka cerita yang kedua ini daripada yang pertama. Lebih kocak. Emang sih banyak banget yang konyol, kaya’ tingkah lakunya The Wendys yang ajaib. Tapi… buku ini menghibur banget. Endingnya juga lebih mengharukan.

Gue sering banget merasa tiba-tiba ‘sayang’ dengan tokoh-tokoh cerita – terutama perempuan, kaya’ yang ada di buku-bukunya Jacquline Wilson. Dan Charlotte juga jadi salah satu yang gue sayang, meskipun dia konyol dan pemimpi banget.

Thursday, June 10, 2010

Perfect Match

Perfect Match (Pasangan Sempurna)
Jodi Picoult @ 2002
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – Mei 2010
504 hal.

Nina Frost, adalah seorang pengacara yang membantu anak-anak yang menjadi korban penganiayaan. Nina Frost terkenal gigih dalam memperjuangkan hukum untuk menjerat para pelaku. Tapi, ketika Nathaniel, anak semata wayangnya, menjadi korban pelecehan seksual yang mengakibatkan trauma pada Nathaniel, Nina Frost mencari cara sendiri untuk menghukum si pelaku.

Jalan yang diambil Nina bertentangan dengan apa yang selama ini ia hadapi. Ia mengambil jalan yang bertentangan dengan hukum, yang ada di benaknya hanyalah melindungi anaknya, dan agar tidak ada lagi korban. Nina nekat menembak si pelaku di persidangan pertama, di depan semua orang.

Di sinilah semuanya bermula. Nina Frost bukan lagi tampil sebagai pengacara, tapi sebagai seorang ibu yang mencari keadilan untuk melindungi anaknya. Nina Frost harus duduk di kursi terdakwa, meminta pengertian dari dewan juri untuk berpihak padanya.

Rumah tangga Nina dan Caleb kacau balau. Sementara Nathaniel masih berjuang mengatasi traumanya, ia juga harus melihat ibunya di penjara. Tak ada hal lain yang diinginkannya, kecuali ibunya kembali ke rumah. Hiks…

Khas novel Jodi Picoult, drama banget… mengaduk-aduk emosi pembacanya. Membaca novel-novel Jodi Picoult butuh kesabaran. Bukan karena bahasanya yang rumit, tapi karena alurnya yang lambat dan nyaris tanpa kejutan. Kalau berhenti di tengah-tengah, gue yakin bakal males untuk melanjutkannya lagi. Ada sih, sedikit kejutan-kejutan kecil, terutama pas ending cerita.

Meskipun gak sampai berurai air mata, tapi satu nih yang bikin gue kepikiran, tentang anak laki-laki Nina yang mengalami trauma, dan pada saat yang sama di majalah femina ada topik tentang pelecehan terhadap anak-anak juga. Gue jadi parno… gila… dunia makin kejam dan gak aman (lebay mode: on).

Monday, June 07, 2010

The Hunger Games

The Hunger Games
Suzanne Collins @ 2008
Hetih Rusli (Terj.)
GPU – Cet. 1, Oktober 2009
408 Hal.

The Hunger Games, adalah sebuah reality show yang dibuat oleh penguasa Panem, untuk mengingatkan para warganya akan tragedi yang pernah menerima mereka. Semacam sebuah bentuk hukuman, sebuah peringatan bahwa sedikit saja ada upaya pemberontakan, maka mereka akan segera dihancurkan.

Panem, yang mempunya pusat kota bernama Capitol, adalah sebuah negara yang dulunya Amerika Utara. Upaya pemberontakan pernah dilakukan yang berujung pada pembagian wilayah menjadi 13 Distrik. Tapi, sekali lagi, untuk memberi peringatan, Distrik ke 13 dihancurkan. Tersisa 12 Distrik, yang ‘berkubang’ dalam kemiskinan.

Setiap tahun, diadakan Hari Pemungutan, di mana semua warga berharap-harap cemas, apakah ada di antara anak-anak mereka yang terpilih untuk ikut dalam The Hunger Games. Hunger Games, sebuah acara di mana dari setiap distrik dipilih sepasang anak – laki-laki dan perempuan – untuk ‘bertarung. Mereka akan ‘bermain’ habis-habisan, hanya satu pemenangnya, yang artinya akan mereka harus saling membunuh untuk jadi pemenang. Distrik yang menang, biasanya akan dibanjiri hadiah dan lebih makmur dibanding distrik lainnya. Ironisnya, di hari itu, justru semua warga tampil maksimal, mengenakan busana terbaik mereka.

Katniss Everdeen, tahun ini harus ikut berlaga dalam Hunger Games. Sebenarnya, bukan dia yang terpilih, melainkan adiknya, Primrose Everdeen. Tapi, sebagai anak tertua dan biasa bertanggung jawab, maka ia tidak mau mengorbankan adiknya. ‘Mendampingi’ Katniss adalah Peeta Mellark, yang di masa kecil Katniss, pernah menjadi ‘pahlawan’ baginya.

Mereka dipersiapkan dengan sangat maksimal, seolah ini adalah pertandingan yang sangat ‘mulia’, sangat ditunggu-tunggu. Padahal, bisa jadi, ketika anak mereka terpilih, itu adalah kali terakhir mereka bertemu dengan anak-anak mereka. Akhirnya mulailah pertarungan para peserta, mencari keselamatan diri sendiri, untuk jadi pemenang meski itu artinya harus membunuh. Panitia penyelengara 'menciptakan' sebuah arena yang penuh dengan kejutan, jika berhasil menghindar dari para peserta, belum tentu selamat dari bencana yang dibuat oleh panitia. Dan, demi mendapatkan sponsor yang mungkin akan membantu para peserta, dibuatlah skenario sedemikian rupa, agar peserta disukai penonton, yang nantinya bisa 'mengundang' sponsor.

Gue membeli buku ini karena ‘terpengaruh’ pas baca review di blog ini. Well.. thank you, Astrid, karena ternyata gue suka bukunya. Meskipun, gue agak ‘terkejut’ karena tau ini buku anak-anak. Gue yakin ‘harusnya’ buku ini penuh ‘darah’, tapi, yang gue suka, pertarungan berdarah-darah itu gak digambarkan secara detail, kecuali tokoh-tokoh utamanya, yang lain tidak terlalu banyak dibicarakan bagaimana mereka akhirnya tewas.

Ketebak sih, siapa yang bakal menang. Karena gak mungkin dong tokoh utamanya yang harus tewas, nanti ceritanya jadi sad ending. Tapi, karena ini trilogy, ending-nya pun dibuat menggantung. Seolah meskipun menang, gak berarti si pemenang lolos dari The Hunger Games.

Membaca buku ini, perasaan gue sama seperti kalo gue baca Maximum Ride, meskipun tempo-nya gak secepat Maximum Ride, tingkat ketegangan cukup tinggi. Dan gue jadi inget sama film The Condemned, tujuan reality show-nya sama, satu pemenang dengan cara apapun, tapi pesertanya kalo di film itu para narapidana yang udah pasti akrab dengan hal bunuh-membunuh, tapi, kalo di buku pesertanya adalah anak-anak. – ada yang memang sudah dipersiapkan oleh para Distriknya – terutama Distrik yang sering menang, ada yang hanya mengandalkan pengalaman sehari-hari seperti Katniss dan Peeta.

Gue sering mencoba membayangkan seperti apa keadaan sebuah cerita yang gue baca. Dari awal, gue membayangkan Distrik 12 sebagai wilayah yang sepi, kumuh dan suram. Dalam bayangan gue, Katniss, berwajah pucat dengan pakaian yang lusuh dan muka yang kotor.

Semoga sekuelnya segera terbit terjemahannya.

Wednesday, June 02, 2010

Ayu Manda

Ayu Manda
I Made Iwan Darmawan @ 2010
Grasindo - 2010
330 hal.

Ayu Manda, atau lengkapnya Gusti Ayu Mirah Mandasari, putri tertua di Puri Munduk Sungkal. Keturunan Brahmana. Sejak kecil ia dididik untuk jadi penari Legong, seperti para pendahulunya. Tiada hari tanpa latihan tari Legong, meskipun hati kecilnya kadang menolak. Ia ingin bermain dengan teman-teman sebayanya. Tapi, kedudukannya sebagai putri dari kasta Brahmana, tidak memungkinkannya untuk melakukan itu.

Ayu Manda ‘terpaksa’ dewasa sejak kecil. Ia harus melihat ibunya ‘tersingkir’ dari tempat utama, karena tidak bisa memberikan anak laki-laki. Ia harus melihat ayahnya membawa pulang ibu-ibu lain yang menggantikan posisi ibunya.

Ayu Manda juga harus bersaing dengan saudara tirinya sendiri dalam menari. Persaingan ini berlanjut sampai bertahun-tahun kemudian, menimbulkan dendam yang terus mengikuti mereka sampai mereka dewasa.

Lewat tarian, Ayu Manda melanglang buana sampai ke Benua Eropa. Ayu Manda dan juga para penari, pemain gamelan yang lugu, yang tidak pernah keluar jauh, yang mengetahui hanya apa yang terjadi di sekitar tempat mereka tinggal.

Kemampuan tari Ayu Manda pada akhirnya tidak hanya terbatas pada tari Legong, tapi memperlebar sayapnya jadi penari Joged, tarian yang dianggap erotis dan tidak pantas ditarikan oleh bangsawan seperti Ayu Manda. Tapi, di tangan Ayu Manda, tarian itu jadi eksotis. Karena tari Joged ini, Ayu Manda terlibat partai terlarang, padahal, yang ia tahu hanya menari. Ayu Manda tidak tahu bahwa keberadaan dirinya untuk menari Joged, adalah untuk menarik simpati rakyat agar mau berpihak pada partai yang mengajaknya bergabung.

Sampai akhir cerita, Ayu Manda tetap gadis lugu, tapi ia kaya pengalaman dan punya pendirian serta sikap. Ayu Manda harus kecewa, karena dibohongi, dikhianati dan harus kehilangan.

Dari awal cerita, gue langsung ‘jatuh cinta’, karena disuguhi dengan bahasa-bahasa yang indah, menggambarkan suasana sebuah desa di Bali di tahun 60an. Bali yang belum modern, Bali yang kaya’nya masih sejuk banget. Gue langsung membayangkan, ada di Bali, ada di tengah pura-pura, terus ada anak-anak yang lagi pada main-main, masih pake kebaya atau kain tradisional.

Monday, May 31, 2010

If You Could See Me Now

If You Could See Me Now
Cecelia Ahern @ 2005
Harper Collins – 2006
410 hal.

So far, gue sudah membaca 3 buku Cecelia Ahern, dan seperti dua yang sebelumnya, - PS I Love You dan When Rainbow Ends - If You Could See Me Now juga membuat gue ‘tersentuh’.

Ceritanya tentang Elizabeth Egan, perempuan single, yang harus mengurus adiknya yang alcoholic dan anak adiknya, Luke. Trauma karena ditinggal ibunya, membuat Elizabeth jadi orang yang praktis, kadang gak sabaran, apalagi harus berurusan dengan yang namanya ‘mengasuh anak’.

Ditambah lagi, Luke, membuatnya kesal dengan ‘teman khayalan’ yang bernama Ivan. Ivan suka pizza yang ada olive-nya, Ivan begini, Ivan begitu. Elizabeth sampai browsing di internet, mencari referensi tentang menghadapi anak kecil yang punya teman khayalan.

Mungkin, karena Elizabeth pelan-pelan bisa menerima sosok Ivan yang datang dari negeri Ekam Eveileb itu, makanya, Elizabeth pun bisa melihat sosok Ivan pada akhirnya.

Hubungan pertemanan itu menjadi complicated, Elizabeth benar-benar beranggapan Ivan itu ‘visible’. Dia ada di saat Elizabeth butuh dirinya. Ivan hampir ‘melupakan’ tugasnya yang sebenarnya. Dan, nyaris lupa kalau suatu hari dia harus bisa meninggalkan Elizabeth dan Luke.

Tanpa disadari, Elizabeth jatuh cinta pada sosok yang invisible buat orang lain. Elizabeth bahkan tidak sadar kalau orang lain tidak bisa melihat Ivan.

Buat gue, buku ini tentang kisah cinta, kisah persahabatan yang unik. Gue yakin, gak banyak orang yang percaya sama sosok khayalan.. bahkan gue sendiri, gak percaya. Tapi, one thing for sure, looks like keep on dreaming makes someone happier.

Buku ini akhirnya selesai juga, setelah beberapa kali ‘tersalib’ karena gue baca buku yang lainnya. Padahal, buku ini udah ada di rak buku gue sejak tahun 2006, meskipun ini sih buku adek gue.

---- Hey.. kenapa akhir-akhir ini, isi blog ini begitu ringkes ya? Gue lagi agak kesulitan menggambarkan buku yang baru gue baca? Apa karena buku-buku ini kurang ‘nendang’, atau gue yang lagi ‘lack of imagination’? Hmmm….

Tuesday, May 25, 2010

The Help

The Help
Kathryn Stockett @ 2009
Berkley – Mei 2010
464 hal.

Jackson, Mississippi, tahun 1960-an. Membaca buku ini, gue merasa ikut ‘kepanasan’. Bukan hanya karena memang cuacanya yang panas (at least, yang tergambar dalam buku itu), tapi juga gregetan dengan tingkah laku salah satu tokohnya.

Ada tiga tokoh utama, yaitu Aibeleen, Minny Jackson dan Skeeter Phelan. Aibileen dan Minny Jackson, dua warga kulit hitam yang menjadi pelayan di rumah Elizabeth Leefolt dan Hilly Holbrook. Sedangkan Skeeter adalah teman dari dua orang perempuan kulit putih itu.

Di tahun 1960an, perbedaan warna kulit masih benar-benar jadi masalah. Warga kulit hitam adalah warga kelas dua, warga pinggiran, mereka tidak punya hak dalam segala hal. Semua harus dibedakan. Tidak boleh sekolah di sekolah yang sama dengan warga kulit putih, bahkan kamar mandinya pun dibedakan. Karena orang kulit hitam dianggap membawa virus penyakit berbahaya.

Skeeter ‘sedikit’ berbeda dari teman-temannya. Ia merasa perlakukan terhadap orang-orang kulit hitam sudah keterlaluan. Skeeter sangat dekat dengan pengasuh lamanya, Constantine, yang pergi begitu saja tanpa pamit dengannya.

Skeeter pun terobsesi untuk membuat sebuah perubahan. Ia mengajak Aibileen untuk bekerja sama dengannya menulis sebuah cerita tentang bagaimana bekerja menjadi pelayan di rumah orang-orang kulit putih.

Sepak terjang Skeeter membuatnya tersingkir dari pergaulan eksklusif. Teman-temannya menjauh, atau terlalu takut dengan si Ibu Ketua Hilly yang ‘diktator’ itu.

Menyelesaikan buku ini ternyata sedikit lebih lama dari yang gue rencanakan. Tapi, gpp, gue suka isinya. Kathryn Stockett menggambarkan settingnya dengan bagus. Gue sampai bisa membayangkan suasana ketika itu, gimana dandanan para ibu-ibu, yang kaya’nya seperti para Stepford Wives.

Di akhir buku ini, Kathryn menuliskan pengalamannya sendiri dengan pelayan kulit hitamnya yang akhirnya menjadi inspirasi untuk menulis The Help.

Ada lucu, ada ‘tragis’, ada konyolnya. Karakternya juga beragam banget, Hilly yang perfeksionis, Elizabeth yang rada plin-plan, Skeeter yang idealis, Celia yang konyol. Aibilen si pemberani dan bijak, Minny yang keras. Sebenernya gak semua tokoh perempuan kulit putih benci sama orang kulit hitam atau Negro, tapi mereka terlalu takut untuk bicara dan terlalu 'tunduk' sama Hilly.

Tuesday, May 18, 2010

Tempurung

Tempurung
Oka Rusmini @ 2010
Grasindo – 2010
460 hal.

Membaca buku-buku Oka Rusmini, selalu membawa gue ke tengah-tengah budaya masyarakat Bali. Mulai dari Tarian Bumi, Sagra dan Kenanga, Oka Rusmini jadi salah satu penulis favorit gue. Kalo biasanya, buku-buku itu tidak terlalu tebal, kali ini, dalam Tempurung ketebalannya lumayan juga.

Bercerita tentang perempuan, khususnya perempuan Bali. Perempuan yang kadang tidak yakin, tidak nyaman akan tubuh mereka sendiri, di mana mereka harus datang bulan, harus hamil dan merasakan kesakitan yang luar biasa, sementara kaum laki-laki terus-menerus ‘menuntut’ mereka untuk punya anak – terutama anak laki-laki. Perempuan bukanlah perempuan sejati apabila belum melahirkan anak laki-laki.

Terbagi dalam 3 cerita, mungkin akan sepintas dibuat bingung, karena tidak ada tokoh utama, banyaknya cerita yang ‘turun-temurun’. Tapi, tentu saja, tokoh utamanya seorang perempuan, meskipun tidak ada nama yang spesifik.

Dalam keseharian, sering kali terjadi ‘benturan’ antara budaya, agama dan perasaan. Terkadang tragis, tapi juga bikin kita terkagum-kagum dengan ‘kuatnya’ seorang perempuan. Pernikahan yang harusnya ada cinta, tapi malah bikin sengsara karena harta. Mereka ingin anak, tapi malah membuat mereka jadi seperti ‘pabrik anak’. Bikin anak-anak mereka justru jadi benci pada ibunya.

Mungkin karena adanya bumbu-bumbu adat-istiadat Bali, bikin beberapa bagian di buku ini terkesan ‘mistis’.

Monday, May 10, 2010

Rindu

Rindu
Sefryana Khairil @ 2010
Gagas Media – Cet. I, 2010
244 hal.

Kehilangan, apa pun bentuknya itu, pasti sangat nyakitin. Jangankan kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kehilangan benda ‘mati’ aja, duuuhhh, kadang rasanya kesel banget, sedih dan nyesel.

Buku ‘Rindu’ ini menceritakan tentang pasangan Zahra dan Krisna yang harus kehilangan anak mereka, Daffa, karena sebuah kecelakaan. Masing-masing kemudian terpuruk dalam kesedihannya, saling menyalahkan diri sendiri, tapi tidak mampu ‘memperkuat’ pasangan masing-masing.

Rasa sedih yang berkepanjangan, akhirnya malah membuat jarak di antara mereka. Masing-masing tetap pada ego-nya sendiri. Berharap dimengerti dan dipahami oleh pasangannya. Tapi, tak mampu untuk berbuat sama.

Wuiih… buku ini (nyaris) membuat gue menangis… ditambah lagi abis baca blog ini. Makin hiks.. hiks.. hiks…

Awal gue baca buku ini, sih biasa aja, malah gue menanggap, koq isinya hanya sediihhhhhh yang panjang, sama-sama ‘terpuruk’, sama-sama gak pedulian, tapi minta diperhatiin. Tapi, menjelang ending, mungkin karena gue udah merasa ‘masuk’ ke dalam tokoh-tokohnya, gue jadi ikut ngerasa sedih. Gue jadi ngerti pelan-pelan, kenapa mereka seperti itu. Dan, Ya Allah.. gue sampai berharap, semoga gue gak mengalami hal yang sama seperti mereka. Jangan sampai…

Monday, April 19, 2010

Fragile Eternity

Fragile Eternity (Keabadian yang Rapuh)
Melissa Marr @ 2009
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU - Maret 2010
416 hal.

Di buku ketiga ini, semua makin rumit, tumpang-tindih dan bikin pusing.

Aislinn yang sudah jadi Ratu Musim Panas, seharusnya mendampingi Keenan memerintah Kerajaan Musim Panas, tapi, Aislinn masih ‘terjebak’ dalam hubungan percintaan dengan seorang mortal, Seth Morgan. Sementara Keenan sendiri mencintai Ratu Musim Dingin yang baru, Donia. Belum lagi, adanya Kerajaan Kegelapan yang sekarang dipimpin oleh Niall, mantan penasihat Kerajaan Musim Panas.

Di Kerajaan Agung, Bananach, sang Perang, terus-menerus mencari cara agar timbul perang untuk menuntaskan rasa laparnya akan darah.

Seth dan Aislinn berada dalam sebuah dilemma. Aislinn takut suatu saat ia tetap harus kehilangan Seth. Sementara Seth berkeinginan untuk mengubah dirinya menjadi immortal agar bisa terus mendampingi Aislinn.

Tapi, makin lama, semakin mendekati musim panas, Aislinn nyari tidak bisa menolak ‘pesona’ Keenan. Mau gak mau, karena memang Aislinn harus mendampingi Keenan. Baik Keenan maupun Seth, berusaha menahan diri, menahan rasa cemburu.

Sampai akhirnya Seth, mencari cara sendiri untuk menjadikan dirinya seperti Aislinn sekarang. Selama ini, baik Aislinn, Keenan atau pun Niall, tidak ada yang mau membantu agar Seth bisa jadi immortal. Tapi, salah satu anggota Kerajaan Agung menawarkan bantuan itu dan tentu saja tidak disia-siakan oleh Seth.

Seth menghilang, Aislinn jadi kalang-kabut. Adanya Keenan membuat Aislinn jadi lebih tenang. Tapi, apa iya, hatinya bisa berpaling dari Seth?

Pusing gue baca buku ketiga ini. Pengen cepet-cepet selesai aja bacanya. Semuanya berkisar antara Aislinn yang masih setengah-setengah hati dan gak tegas, terus Seth yang jadi egois. Semua di sini gak ada yang benar-benar baik. Niall yang tampak baik, tapi tetap aja menyimpan aura jahat karena ia Raja Kegelapan. Belum lagi sosok mengerikan Bananach.

Dan ternyata… masih ada yang keempat… tokohnya si Ani, makhluk setengah mortal, setengah faery, anaknya Hound Gabriel (yang muncul di buku kedua) – gak tau deh, masih pengen lanjut apa nggak.

Tuesday, April 13, 2010

Magical Giveaway @ Books of Dela


wow... ada giveaway buku Alice in Wonderland di sini.

Iseng-iseng, ikutan yukkk... sapa tau beruntung

Blue Remembered Heels

Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Nell Dixon @ 2008
Tisa Anggriani (Terj.)
M-Pop (Penerbit Matahati) - Cet. I, Maret 2010
311 Hal.

Charlie, Abbey dan Kip Gifford – 3 bersaudara yang masih sangat muda, terpaksa hidup sendiri karena ditinggal oleh ibu mereka. Mereka tidak tahu ke mana ibu mereka pergi. Di awal-awal mereka terpaksa tinggal dengan Bibi Beatrice.

Mereka bertiga hidup dari menipu. Yup… Charlie yang cantik yang menjadi pemimpin. Menggoda orang-orang – terutama pria, yang kaya raya. Lalu mengambil uang mereka dan kabur. Abbey, sebagai asisten Charlie dan Kip yang rada ‘nerd’ bagian riset.

Setelah melakukan penipuan, biasanya mereka langsung mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak mereka.

Tapi… gara-gara Abbey tersambar petir, rencana mereka untuk menipu Freddie nyaris gagal. Masalahnya, Abbey jadi gak bisa berbohong. Setiap ditanya, ia akan selalu berkata jujur. Karuan Charlie jadi sangat kesal.

Belum lagi, tiba-tiba ada yang seolah mengawasi mereka. Seorang polisi ganteng bernama Mike.

Ternyata urusan dengan Freddie, tidak berhenti sampai di situ saja. Freddie sadar kalau mereka sudah menipunya dan terus mengirimkan ancaman-ancaman lewat telepon.

Akibat tersambar petir, bukan hanya masalah Abbey yang tidak bisa berbohong, tapi juga, Abbey selalu mendapatkan mimpi tentang seorang perempuan bersepatu biru.

Cerita ini menurut gue, biasa aja. Kurang ‘greget’, padahal misteri si sepatu biru mungkin bisa di-ekspos lebih (duhhh… kaya’ gue yang bisa nulis aja). Dan hubungan Freddie dan perempuan bersepatu biru itu rada dipaksakan, gak jelas asal mula dan penyebabnya apa. Ada konflik apa antara Freddie dan perempuan itu. Cerita yang maunya complicated jadi so simple. Karakter-karakternya juga kurang 'kuat'.

Monday, April 12, 2010

Twenties Girl

Twenties Girl
Sophie Kinsella @ 2009
Dell Mass Market International Edition – 2010
497 Hal.

Sadie muncul tepat di hari seharusnya ia dimakamkan. Acara pemakaman hanya dihadiri segilintir orang, padahal umur Sadie mencapai 105 tahun! Sadie memilih ‘menghantui’ cucunya, Lara Lington. Sadie jadi ‘arwah penasaran’ karena ia kehilangan salah satu miliknya yang paling berharga. Ia pun menugaskan Lara untuk mencari barang berharga itu.

Lara Lington, tidak percaya ia bisa melihat hantu. Interupsi Lara di acara pemakaman, membuat ia sempat dikira depresi berat akibat putus cinta sama pacarnya. Lara mengemban tugas yang sangat berat, karena keberadaan barang itu yang tidak diketahui. Padahal, Lara sendiri nyaris tidak mengenal sosok neneknya itu.

Keinginan Sadie ternyata tidak hanya terhenti pada barang itu, tapi ada saja yang aneh. Ia minta Lara berkencan dengan seorang pria yang dianggapnya sangat keren, Lara harus berdandan a la tahun 20an, lalu mengajak pria itu berdansa gaya tahun 20an juga.

Ternyata, barang yang sangat berharga itu menyimpan berjuta rahasia – termasuk rahasia kehidupan seorang Sadie Lancaster.

Awalnya sosok Sadie itu terkesan sangat menggangu, dan reseh banget. Udah gitu Sadie sangat bossy dan egois. Sering banget ‘memaksakan kehendaknya’, sampe-sampe gue kadang kasian sama Lara dan gregetan sama Sadie. Tapi.. gue sedih ketika harus pisah sama Sadie… hiks…

Buku ini adalah salah satu buku yang masuk dalam daftar yang ‘wajib’ gue baca di tahun ini. Beruntung adek gue ternyata duluan beli, jadi gue tinggal pinjem. Ya… Sophie Kinsella adalah salah satu penulis chicklit yang buku-bukunya masih selalu gue baca, karena selalu ada yang lain di tiap bukunya. Beda dengan yang lain, yang rata-rata mirip.

Nah, di buku ini, yang beda dari buku-bukunya yang lain, adalah tokohnya yang berwujud ‘hantu fashionista’. Jangan bayangkan penampilan hantu yang menyeramkan dengan muka pucat seputih-putihnya, rambut panjang terjurai ke depan, mata dengan lingkaran hitam. Wow, Sadie Lancaster tidak seperti itu. Sadie Lancaster, ‘tampil’ dalam wujud gadis remaja tahun 20an. Penampilannya selalu bergaya dengan baju-baju yang trend di tahun 20an.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang