Thursday, March 19, 2009

Cinta Andromeda

Cinta Andromeda
Tria Barmawi @ 2007
GPU – Januari 2007
336 Hal.

Indonesia tahun 2070? Wow… seperti apa ya? Yang ada dibayangan gue adalah kota Jakarta – tentunya – yang sibuk banget, kendaraan yang bersliweran, gak hanya di darat dalam hal ini mobil biasa, tapi juga mobil yang bisa terbang. Monorail, terus, apalagi ya… gue jadi inget film-nya Will Smith yang I Robot.

Jadi, dalam ‘rekaan’ Tria Barmawi, Indonesia di tahun 2070, penuh dengan berbagai kecanggihan, seperti smartphone, mobil yang bisa dioperasikan secara manual ataupun dengan mesin, dan yang paling keren adalah para robot yang semakin lama semakin mirip dengan manusia. Robot gak hanya untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tapi juga sedang diusahakan menciptakan robot yang punya ‘perasaan’, bahkan bisa bereproduksi - yang dalam bahasa kerennya disebut Humanoid.

Vinidici sebuah perusahaan teknologi tengah mengembangkan Nunoid Project – sebuah proyek untuk menciptakan robot yang semakin menyerupai manusia dari segi fisik bahkan emosional. Terciptalah humanoid dengan nama Andromeda. Berjenis kelamin laki-laki, berwajah ganteng dan memiliki ‘sifat’ yang nyaris jadi dambaan setiap perempuan. Andromeda diprogram untuk bisa jatuh cinta, tapi program itu haruslah sealamiah mungkin. Vinidici berambisi menciptakan robot yang tercanggih yang pernah ada di abad itu.

Untuk mewujudkan ambisi itu, maka ditentukanlah target – seorang perempuan yang memiliki kriteria cowok impian yang mendekati sosok Andromeda. Pilihan itu jatuh kepada Salsabilla atau yang biasa dipanggil Salsa. Salsa, seorang konsultan keuangan, memimpikan seorang laki-laki yang gentle, dan bisa mengerti perasaan perempuan. Ketika Andromeda muncul dalam kehidupannya, semua jadi terasa sempurna. Keanehan Andromeda saat mereka bersama-sama jadi tertutup karena Salsa yang sedang jatuh cinta berat sama Andromeda.

Hanya Wina, sahabat Salsa, yang membaca keanehan Andromeda. Andro, yang tahu segalanya, data-data orang yang baru sekali ia lihat, bisa berbagai macam bahasa, kecanggihan dalam berhitung dan lain-lain, tak luput dari pengamatan Wina yang wartawan majalah mode itu. Instingnya sebagai wartawan berkata ada sesuatu yang ‘salah’ dalam diri Andromeda.

Tapi, hal itu ditampik Kika, sahabat Salsa dan Wina, yang bekerja sebagai programmer computer. Malahan Salsa berkata Wina cemburu karena Andromeda tak sedikit pun tertarik pada Wina yang biasanya selalu jadi pusat perhatian laki-laki.

Sifat ingin tahu Wina malah membuatnya celaka, sementara Vinidici malah semakin ambisi untuk membuat terobosan baru dalam diri Andromeda – yang artinya juga semakin membiarkan Salsa terjebak dalam situasi yang diciptakan orang lain untuk dirinya.

Tinggallah Kika, yang akhirnya harus memilih antara sahabatnya dan ambisinya dalam pekerjaannya.

Ide cerita yang menarik. Salsa kaya’nya emang target yang pas. Dia hidup tidak dalam keadaan yang serba canggih karena kondisi keuangan yang gak memungkinkan, berbeda dengan dua sahabatnya. Maka itu, Salsa jadi gak ngeh kalo ada yang aneh dengan Andromeda. Gue baru ngerti benang merahnya ketika di tengah-tengah ada ‘kejutan’ kecil. Tapi, yang rada gak asyik, adalah orang seambisius Harison - otak di balik Nunoid Project ini - gampang banget dibujuk sama tunangannya, padahal dia lagi di tengah-tengah 'perburuan' orang-orang yang menentangnya. Masa' sih segitu mudahnya?? Harusnya, dia lebih bisa 'bertahan' dong dengan segala rencana jahatnya di depan orang-orang yang ketakutan itu. (ups... otak 'psikopat' lagi kumat.) Terus, bagian Wina ngomel-ngomel di kantor orang gara-gara ada android seksi yang jadi resepsionis... agak berlebihan kaya'nya.

Gila ya, ambisi manusia emang gak ada abisnya. Udah tercapai target yang satu, malah mau bikin target baru… gak peduli harus gimana.

Tuesday, March 17, 2009

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi

Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi (Beneath a Marble Sky: A Novel of the Taj Mahal)
John Shors @ 2004
Meithya Rose (Terj.)
Mizan – Cet. VII, Maret 2008
457 Hal.

Waktu baca buku ‘Mehrunissa’ dan ‘Nur Jahan’, gue tau, gimana ‘berdarah-darah’nya sejarah kesultanan Mughal di India. Gimana seorang ayah bisa demikian kejam sama anaknya, atau bahkan, anak yang rela melakukan apa pun demi mendapatkan kedudukan tertinggi sebagai Sultan Mughal, rela membunuh saudaranya sendiri untuk memuluskan jalan dengan berbagai intrik-intrik yang mengerikan.

Seperti yang diketahui, dari tiga anak Sultan Jahangir: Pangeran Khusrau, Pangeran Khuram dan Pangeran Parvis – hanya Pangeran Khuram-lah yang sejak awal dianggap berpotensi menggantikan kedudukan ayahnya.

Memang setelah berbagai pemberontakan, akhirnya, Pangeran Khuram pun naik tahta menggantikan ayahnya. Ia pun bergelar Shah Jahan. Beristrikan Arjumand, yang kemudian diberi gelar Mumtaz Mahal. Shah Jahan dan Mumtaz Mahal memiliki banyak anak – yang paling menonjol di buku ini adalah Pangeran Dara, Putri Jahanara dan Pangeran Aurangzeb. Anak-anak laki-laki yang lain tidaklah terlalu menonjol, sehingga jarang diberi tugas penting oleh ayah mereka, sementara anak-anak perempuan, lebih banyak diasuh oleh para dayang-dayang di dalam harem. Hanya Putri Jahanaralah yang mirip sekali dengan ibunya.

Dalam buku ini, Putri Jahanara membagi kisahnya kepada dua orang cucunya, Gulbadan dan Rurayya tentang sejarah keluarga yang penuh dengan rahasia dan sangat berbahaya. Di masa tuanya, Putri Jahanara harus hidup dalam penyamaran demi keselamatan dirinya dan keluarganya.

Jauh sebelum kedua cucu itu lahir, ketika Putri Jahanara masih hidup di balik Benteng Merah, ketika kakek mereka – Shah Jahan masih berkuasa dan Mumtaz Mahal masih hidup, persaingan terselubung antara Pangeran Dara dan Pangeran Aurangzeb sudah mulai terasa. Mungkin bukan Pangeran Dara yang menghendaki adanya persaingan, tapi sikap Pangeran Aurangzeb yang sangat ambisius menimbulkan percikan-percikan itu.

Pangeran Dara, lebih santun, pendiam dan lebih memilih membaca kitab-kitab sejarah, seni daripada mengasah keterampilan di medan perang. Berbeda dengan Pangeran Aurangzeb, yang dengan senang hati menunjukkan kekuasaannya di arena perang dan bangga dengan luka-luka yang ia dapat. Ia tak segan-segan membunuh dan selalu berdalih dengan mengambil ayat-ayat di kitab suci Al-Qu’ran demi membenarkan tindakannya.

Sementara Jahanara, ia adalah gadis yang cerdas, cerminan ibunya. Tapi, tetap saja, ia tak kuasa menolak ketika harus dinikahkan dengan saudagar kaya oleh ayahnya demi kepentingan kerajaan. Khondamir nama suaminya itu, adalah laki-laki yang kasar, tamak, sombong dan gemar main perempuan. Ia kerap menyalahkan Jahanara karena tak kunjung hamil dan memberinya seorang anak laki-laki.

Jahanara yang sejak kecil bermimpi agar bisa jatuh cinta seperti ayah dan ibunya harus menerima kenyataan. Tapi, Jahanara bukanlah perempuan yang mudah putus asa. Ia mencari jalan agar bisa berada sejauh mungkin dari Khondamir. Kesempatan itu datang setelah kematian ibunya karena melahirkan bayi yang hmmm… kesekian belas.

Jahanara berjanji pada Arjumand untuk selalu menjaga ayahnya. Sementara Shah Jahan yang sangat berduka karena wafatnya Arjumand, mengurung diri di dalam kamar, melupakan tanggung jawabnya sebagai sultan. Demi cintanya pada Arjumand, ia memerintahkan seorang perancang bangunan bernama Ustad Isa untuk membangun sebuah bangunan megah untuk tempat peristirahatan terakhir istrinya dan untuk mengenang cintanya pada Mumtaz Mahal. Bangunan yang harus mencerminkan kecantikan istrinya dan mencerminkan cinta kasihnya yang begitu besar.

Jahanara diperintahkan untuk mengawasi jalannya proyek itu dan mengharuskan Jahanara tinggal di dalam lingkungan Benteng Merah. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Jahanara dan Isa pun jatuh cinta, tapi, statusnya sebagai seorang istri, menahan dirinya untuk berbuat lebih. Namun, tak disangka-sangka, ternyata Shah Jahan, merestui hubungan itu. Hubungan cinta itu pun berlangsung sembunyi-sembunyi. Jahanara yang ingin memiliki anak, mengatur bagaimana caranya agar Khondamir berpikir bahwa Jahanara mengandung anaknya dan bukan anak dari Isa.

Arjumand - nama anak Jahanara dan Isa - lahir di tengah-tengah perselisihan keluarga yang makin meruncing. Aurangzeb makin melebarkan pengaruhnya untuk melancarkan jalannya sebagai sultan. Ia membenci Dara, membenci para seniman, membenci kaum Hindu. Ketika ayahnya jatuh sakit, kesempatan baginya untuk mengambil alih kepemimpinan. Usaha untuk menghalangi Aurangzeb gagal. Puteri Jahanara ditahan bersama ayahnya, di sebuah menara di Benteng Merah dengan pemandangan yang mengarah ke Taj Mahal. Sedangkan, Pangeran Dara pun dihukum mati.

Kalau mau dibilang ini ‘pure’ tentang kisah cintanya Shah Jahan dan Mumtaz Mahal, rasanya gak juga ya. Malah lebih banyak cerita ‘cinta terlarang’nya Jahanara yang terlalu muluk dan penuh mimpi dan bahasa yang berbunga-bunga. Belum lagi, gimana mungkin, seorang ayah yang notabene seorang sultan – penguasa tertinggi kesultanan yang sangat dihormati – mendukung anaknya untuk perselingkuh. Padahal, taruhannya kan adalah harga diri dan kehormatan para anggota keluarga kesultanan itu sendiri. Kaya’nya di dalam buku ini, gak disebut-sebut adanya pernikahan antara Jahanara dan Isa… jadi sampai tua, mereka gak nikah dong??

Masih gak kebayang gimana seorang anak bisa begitu sadis sama keluarganya sendiri. Dengan enteng, memerintahkan hukuman mati untuk saudara kandungnya sendiri, memenjarakan ayahnya. Meskipun Aurangzeb gak berani untuk menghancurkan Taj Mahal. Bahkan ia membiarkan ayahnya dimakamkan di dalam Taj Mahal, berdampingan dengan Mumtaz Mahal. Karena kalau Aurangzeb – kemudian dikenal dengan nama Sultan Alamgir – memperlakukan ayahnya dengan semena-mena, hanya akan menyulut pemberontakan dari orang-orang yang masih mencintai dan setia pada ayahnya.

Gara-gara membaca buku ini, gue jadi berangan-angan – semoga suatu saat, gue bisa membuktikan sendiri keindahan Taj Mahal… Hmmm….


-> Koboooo... minta covernya ya.. ma kasih :)

Monday, March 16, 2009

Citizen Girl

Citizen Girl
Emma McLaughlin & Nicola Kraus
Penguin Books, 2004
307 hal.

Satu kata yang bisa gue berikan untuk buku ini, ‘membosankan’. Mungkin gak pas kalo dibilang book review, karena gue gak selesai bacanya… udah keburu bosen duluan.

Ceritanya, tentang Girl, cewek yang kerja di majalah, punya boss yang aneh, yang meskipun Girl udah berusaha sebaik mungkin, sesempurna mungkin, tetap aja, salah dan Doris, bossnya, bukan termasuk orang yang suka dikasih tau kalo dia salah. Dan akhirnya, Girl pun dipecat.

Girl jadi pengangguran, yang kerjanya cuma tidur-tiduran aja di apartementnya. Someday, Jack, adiknya Girl, datang dan atas ‘perintah’ ibunya, ngajak Girl ke ‘Career Days’. Tadinya, Girl udah pesimis bakal dapet kerjaan dengan cara kaya’ gitu. Di sana dia bahkan kenal sama cowok namanya Buster, yang seneng banget sama YGames.

Terus, Girl ketemu sama Guy, pemilik My Company, website yang membahas tentang isu-isu perempuan. Setelah, melewati test, Girl keterima di My Company. Girl dipercaya untuk menangani ‘anak’ My Company, MsMagazine Jadilah, dia mengundang aktivis perempuan, dan pemimpin majalah perempuan termasuk Doris.

Udah.. sampai sini, gue males nerusinnya. Gak tau deh, cara ceritanya rada ngebosenin. Sempet bingung, sebenernya Buster sama Girl itu pacaran gak sih.

Mungkin karena abis baca Bergdorf Blonde yang lucu, begitu baca ini, koq jadi datar banget.

05.08.01

Ungu Violet - The Novel

Ungu Violet - The Novel
Miranda
Gagas Media - Cet. I, 2005
256 Hal.


Tadinya aku udah gak mau beli buku ini, karena aku pikir, toh kita juga mau nonton. Dari yang udah-udah, adaptasi novel dari scenario film biasanya cenderung sama dengan apa yang ada di film. Tapi.. untung aku beli buku ini… karena ternyata ada bedanya.

Karena aku udah nonton filmnya duluan, baru baca bukunya, jadinya aku berasa buku ini kurang ‘nendang’. Mungkin akan berasa sebaliknya, kalo aku baca bukunya dulu.

Buku ini bagus, sama seperti filmnya. Hanya kalo di film, kita langsung bisa ngeliat ekspresi Kalin & Lando, di buku, kita bisa tau apa sih kata hati mereka, apa yang ada di benak mereka. Covernya, adegan waktu Lando meluk Kalin di rumah sakit.

Banyak bagian yang ada di buku ini, tapi gak ada di film atau bahkan beda sama sekali. Misalnya, di film, setelah Rara ngucapin selamat tinggal via handycam, Lando & Rara gak pernah ketemu lagi, tapi di buku, waktu Lando lagi belanja di supermarket, dia ketemu sama Rara & cowok barunya.

Terus, ada lagi, kalo di film, untuk ngucapin terima kasih, Kalin belanja makanan dan minuman untuk Lando terus langsung dianter sendiri ke apartemen Lando, kalo di buku, Kalin dan Lando belanja bareng ke supermarket terus mereka ‘party’ di apartemen Lando.

Kalo di buku, diceritain juga, sebelum ke agency yang besar, Kalin sempet ikut audisi di agency yang gak jelas alias agency ‘ecek-ecek’. Terus, di buku dibilang kalo Lando beliin Kalin baju untuk audisi di agency yang lebih besar.

Kalo buat aku, ‘keromantisan’ cerita di buku baru berasa di akhir buku ini. Waktu Kalin membaca surat yang tertinggal di baju Lando.

Dan… hehehe.. dengan baca buku ini, jadi ketauan deh… siapa yang donor mata untuk Kalin, dan apakah Lando akhirnya meninggal atau nggak…

Buku gue baca dalam waktu satu hari saja… rekor… karena udah lama aku gak baca buku yang selesai dalam satu hari….

Lagi-lagi… jadi pengen nonton filmnya lagi….

05.06.27

Bergdorf Blondes

Bergdorf Blondes
Plum Sykes
Penguin Books, 2004
312 hal

Buku ini menurutku sih, lumayan lucu. Yup, another chick-lit. Cerita tentang kehidupan kaum ‘jet-set’ di Manhattan. Di awal buku ini, disebutkan, “Bergdorf Blondes are a things, you know, a New York craze. Absolutely everyone wants to be one, but it’s actually trés difficult. You wouldn’t believe the dedication it takes tp be a gorgeous, flaxen-haired, dermatologically perfect New York girl wit a life that’s fabulous beyond beliefe. Honestly, it all requires a level of commitment comparable to, say, learning Hebrew or quitting cigarettes. (page 1).

Tokoh utamanya, seorang cewek yang gak disebutin namanya, cuma dia selalu menyebut Moi. Si Moi ini punya sahabat namanya Julie Bergdorf, cewek blonde yang tajir banget, dia selalu bisa ‘membeli’ apa aja yang dia mau. Kakeknya Julie ini pemilik department store Bergdorf. Tapi, anehnya, meskipun dia bisa beli segalanya yang dia mau, Julie punya penyakit ‘klepto’ di ‘toko’nya sendiri.

Moi sendiri, sebelum ke Manhattan, dia tinggal di Inggris bareng ortunya. Ayahnya orang Inggris, tapi Ibunya, perempuan Amerika yang pengen banget dibilang orang Inggris. Ibunya pengen banget ngejodohin Moi sama tetangga sebelah rumah mereka yang sering disebut-sebut ‘Little Earl’.

Cerita dimulai, waktu si Moi cerita ke Julie kalau ada salah satu teman mereka yang baru aja tunangan dan saling memamerkan cincin pertunangan mereka. Langsung aja Julie bilang, “E-mail me the whole things, lie everyone but me having a fiancé. It’s so unfair.” (page 16). Sepertinya Julie gak mau ketinggalan ‘trend’ tunangan di antara teman-temannya, dia bilang, “Fiancés are so glam!” (page 18)

Akhirnya, mereka berdua (dengan Julie sebagai ‘penggagas’ utama), datang ke pesta demi mencara ‘Potential Husband’. Pokoknya buat Julie, asal cowok itu ‘tidak terlalu kreatif’, maka si cowok bisa dikategorikan sebagai Potential Husband. EO pesta itu temen mereka berdua, yang sering banget ngadain pesta dengan tema ‘Saving bla… bla.. bla…’ Diaturlah supaya mereka berdua bisa duduk di antara cowok-cowok keren dan kaya. Moi ini dari awal udah gak terlalu antusias pergi ke dinner party itu, karena bosan, Moi jalan-jalan keliling ruang pesta, sampai akhirnya ketemulah dia dengan seorang fotografer nge-top, Zach. Bisa ketebak, akhirnya Moi jatuh cinta and pacaran sama Zach, bahkan akhirnya mereka bertunangan. Julie yang punya ide, malah belum dapat PH yang dia impikan itu.

Tapi, ternyata Zach, yang romantis di awal-awal pacaran mereka, malah berubah justru di saat-saat menjelang pesta pertunangan, bahkan akhirnya pertunangan mereka pun bubar. Di pesta pertunangan, Moi sempat berkenalan dengan seorang sutradara muda yang lagi naik daun, Charlie. Charlie sempat digambarkan tertarik sama Moi, tapi Moi malah menjodohkan dia sama Julie.

Kalut karena putus sama Zach, sempat membuat Moi ingin bunuh diri. Tapi di detik-detik terakhir, justru Charlie datang menyelamatkannya.

Moi sempat menjalin hubungan dengan beberapa pria kaya, tapi selalu aja gak mulus. Misalnya, ketika berhubungan dengan Eduardo, seorang ‘bangsawan’ Spanyol, ternyata dia sudah berkeluarga. Terus, coba-coba dekat dengan Patrick Saxton, taunya malah diancam sama istrinya yang rada ‘psikopat’.

Dan, Charlie selalu menjadi ‘penyelamat’ Moi di setiap dia dalam kesulitan, yang malah sempat membuat Moi sebal banget sama Charlie.

Tapi, toh, akhirnya Moi menemukan juga cowok idamannya, the Potential Husband, seperti kata Julie, yang gak lain adalah the ‘Little Earl’. Siapa sih Little Earl ini sebenarnya?

Di buku ini ‘bertebaran’ merk-merk terkenal. Julie bisa dibilang ‘berteman dekat’ sama Emanuel Ungaro, Vera Wang – bahkan Vera Wang ini, waktu Julie mau tunangan, katanya bakalan ‘resign’ kalau Julie gak pakai gaun pengantin rancangannya. Kekonyolan juga ada, misalnya, waktu Julie mau ngadain ‘book club’, tujuannya biar teman-temannya gak hanya tau tentang fashion tapi juga tentang dunia sastra.

Kalau ngebayangin tokoh Julie, yang muncul adalah Paris Hilton, cocok banget kaya’nya sama sosok seorang Julie yang blonde, keturunan keluarga kaya’, rada manja dan centil.

05.07.26



=> 'Bergdorf Blondes' ini udah diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Cewek-Cewek Bergdorf ", tapi sayang... cover-nya, koq gak ceria banget. Gak sesuai dengan betapa 'centil'nya isi buku ini.

Buku-Buku di Blog Lama

Sepertinya, gara-gara Facebook yang gak bisa dibuka lagi di kantor (entah untuk sementara atau for good), waktu gue jadi untuk menguntak-atik blog gue jadi lumayan banyak (hmm.. di sela-sela pekerjaan kantor tentunya). Tiba-tiba gue terpikir, untuk mengumpulkan buku-buku yang pernah gue baca yang ceritanya gue 'review' di blog gue yang lama. Jadi nih, di beberapa postingan ke depan, bakalan ada re-post dari blog ceritaceritaku. Hehehe... akibat 'mati gaya', gak tau mau ngapain kalo lagi bosen di kantor nih. Sempet kemarin nyari-nyari template baru... tapi.. aduh, kenapa ya, gue koq masih blom bisa mencari 'pengganti' si burung gendut ini?

Wednesday, March 11, 2009

Eclipse

Eclipse
Stephanie Meyer
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Cet. 1, September 2008
688 Hal.

Sebenernya buku ini udah lama selesai gue baca. Tapi, entah kenapa, waktu itu gue males banget nulis di blog ini. Mungkin karena udah cukup dibuat bosan dengan cerita yang makin lama makin panjang dan koq jadi rada bertele-tele. Sekarang, akhirnya gue buat juga karena bentar lagi bakal ‘tayang’ Breaking Dawn yang akhirnya juga setelah berbulan-bulan sudah mendekati lembar-lembar terakhir.

Jadi, buku ini diawali dengan gaya pacaran ‘kucing-kucingan’-nya Bella dan Edward. Charlie marah besar karena Bella lagi-lagi kabur demi Edward. Charlie tentu saja khawatir sama keselamatan Bella.

Setelah mengetahui ‘identitas’ baru Jacob dan ternyata ada perasaan khusus Jacob kepada Bella, terjadi perang dingin antara Jacob dan Edward. Karena, permusuhan yang ada sejak jaman dahulu kala antara kaum vampire dan kaum werewolf.
Di buku ini juga, adalah saat-saat di mana Bella harus membuat pilihan antara menjadi vampire atau tetap menjadi manusia. Banyak pihak vampire yang menginginkan Bella segera menjadi bagian dari mereka – seperti Victoria yang ingin membalaskan dendamnya atas kematian James atau klan Volturri yang ada di Italia.

Untuk itu, mereka berdua – meskipun Edward masih sangat berat menjadikan Bella sebagai vampire – merancang skenario dengan cermat agar nantinya Charlie tidak curiga terhadap perubahan Bella. Mereka berdua akan segera melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pilihan mereka jatuh pada perguruan tinggi di Alaska – tempat yang cocok bagi kaum vampire dan juga jauh dari kontrol Charlie maupun Renee.

Sementara itu, di Seattle, terjadi pembunuhan misterius – yang menurut Edward disebabkan oleh adanya vampire-vampire baru. Pergerakan para vampire itu mengarah ke Forks – segera saja Edward berkesimpulan bahwa semua itu akan segera mengarah ke Bella sebagai sasaran utama.

Penjagaan terhadap Bella segera diperketat. Karena pelaku utamanya sudah diduga dengan pasti. Demi Bella, keluarga Cullen – khususnya Edward, harus menekan egonya dan meminta bantuan kaum werewolf untuk melawan para vampire. Bella ‘diungiskan’ ke sebuah tempat yang dingin, selain untuk keamanan Bella, juga untuk memancing Victoria keluar dari persembunyiannya.

Selain usaha untuk membantu memusnahkan para vampire, Jacob juga masih usaha untuk mendekati Bella, mencoba membuat Bella berubah pikiran dan tetap jadi manusia. Jacob juga gak segan-segan menyatakan cintanya secara langsung kepada Bella. Tapi, Bella tentu saja gak bisa memilih antara Jacob dan Edward, karena dia menyayangi keduanya dengan cara yang berbeda.

Tenang... di buku ini, Bella belum jadi vampire, meskipun keputusannya sudah bulat. Tapi, ya, lagi-lagi Bella masih belum berubah, masih nyaris seperti anak manja yang ngerepotin semua orang. Makin tebal buku ini, makin cape’ baca romance antara Bella dan Edward (hahaha.. tapi tetap aja dibaca terus…)

Tuesday, March 10, 2009

You Need a Good Lawyer to Set You Free form the Jail of Your Heart

You Need a Good Lawyer to Set You Free form the Jail of Your Heart
(Kumpulan Cerita Hukum)

Zara Zettira ZR & Blogger Indonesia
Rose Heart Publishing, Januari 2009
305 Hal.

Gue baru menyadari betapa panjang judul kumpulan cerita ini waktu udah di rumah. Yang membuat gue tertarik membeli buku ini adalah karena nama seorang Zara Zettira yang pernah jadi penulis favorit gue waktu masih baca majalah Gadis, lalu, kedua, hmmm… niatnya sih gue pengen ‘godain’ temen-temen gue yang jadi lawyer, karena kebetulan juga gue kerja di konsultan hukum.

Ada 18 cerita pendek dalam buku ini – yang kasusnya beragam, begitu pula dengan penyelesaiannya. Ada tentang pelecehan seksual, narkoba, pembunuhan, KDRT, penolakan terhadap perempuan PSK, dan lain-lain.

Ya, jujur gue gak terlalu bisa menulis komentar tentang kumpulan cerpen. Tapi secara keseluruhan, gue gak terlalu terkesan dengan kum-cer ini. Di buku ini, sebagian besar pengacara (yang rata-tara perempuan) adalah pengacara yang berhasil, kerja di kantor hukum ternama, kehidupannya udah mapan, dan aduh… kalo ngomong, kaya’nya susah banget ya, pake bahasa Indonesia. Terus, selalu menang dalam setiap kasus. Gue malah pengen menemukan sebuah cerita di mana si pengacara adalah pengacara baru, dari kantor hukum yang biasa-biasa aja, terus berjuang demi mendapat pengakuan dari orang-orang yang pernah mandang dia sebelan mata. Atau, pengacara yang ‘tersandung’ sedikit. Soalnya di buku ini, lawyer-nya rata-rata ‘lurus’ semua. Gimana ya, seandainya dibuat cerita pengacara yang idealis, tapi ternyata harus ‘tersandung’ masalah suap-menyuap? Hmmm… gue gak pinter nulis, jadinya gue hanya bisa kasih ide…

Zara Zettira-nya hanya menyumbang satu cerita. Cerita-cerita di sini juga banyak berakhir dengan buru-buru, terkadang juga rada bertele-tele. Gue malah gak sabar pengen menuntaskan buku ini. Gue berharap menemukan satu cerita yang special, tapi ternyata gak.

Udah ah.. gue koq jadi nyela melulu ya? Hehehe… Ma’ap…

Friday, March 06, 2009

Kira-Kira

Kira-Kira
Cynthia Kadohata
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Februari 2009
200 Hal.

Katie Takeshima, anak perempuan keturunan Jepang yang tinggal di Amerika Serikat. Bersetting masa sesudah perang dunia ke 2, tahun 1950-an, warga keturunan Jepang menjadi warga minoritas yang dipandang sebelah mata oleh warga asli Amerika.

Bersama keluarganya – ayah, ibu dan kakaknya Lynn – awalnya Katie tinggal di Iowa, di mana ayah dan ibunya membuka toko kelontong, dengan harapan akan mendapat untung dengan berjualan barang kebutuhan bagi sesama warga Jepang. Tapi, ternyata, usaha itu tidak kunjung berhasil. Keluarga itu pun memutuskan untuk pindah ke Georgia. Di sana ada paman Katie, Paman Katsuhisa yang sudah lebih dulu mencoba peruntungannya.

Tapi, toh, tak banyak pilihan yang bisa diambil oleh orang tua Katie. Di Georgia, mereka bekerja lebih keras di sebuah perusahaan pengolahan ayam. Katie pun hanya tinggal ditemani Lynn. Sebagai adik, Katie sangat bergantung dengan Lynn, ditambah lagi memang sikap Lynn yang protektif terhadap adiknya. Lynn yang selalu mengajari Katie kata-kata baru – kata favoritnya adalah ‘Kira-Kira’ yang artinya ‘gemerlap’.

Keadaan tak banyak berubah, mereka masih tetap miskin. Katie dan Lynn menabung untuk membantu orang tua mereka mewujudkan mimpi mereka memiliki rumah sendiri. Seorang anggota keluarga baru pun hadir, adik laki-laki yang dipanggil Sammy.

Berbeda dengan Katie, Lynn adalah anak yang cerdas. Di sekolah, ia selalu mendapatkan nilai yang bagus. Pujian selalu datang untuk Lynn. Katie juga sempat cemburu ketika Lynn mempunyai teman bernama Amber. Sikap Lynn jadi berubah, sok dewasa dan membuat Katie selalu dianggap seperti anak kecil.

Tapi, Lynn tetaplah kakak kesayangan Katie. Ketika Lynn tiba-tiba menjadi sakit-sakitan, Katie selalu setia mendampingi Lynn, meskipun terkadang kesabarannya diuji saat Lynn sering berubah-ubah mood.

Dan, Katie harus jadi gadis kecil yang tabah, ketika tiba saatnya Lynn untuk pergi. Tapi, Lynn selalu mengajarkan bahwa selalu ada sesuatu yang ‘gemerlap’ – kira-kira – di balik semua yang terjadi.

Cerita di novel ini sederhana banget, tapi menyentuh. Gak bisa banyak-banyak comment, karena ‘gak terlalu berbekas’ dalam hati gue. Lewat novel ini, Cynthia Kadohata memperoleh penghargaan Newberry Medal.

Friday, February 27, 2009

Anne of Green Gables

Anne of Green Gables
Lucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita, Cet. 2 - 2008
516 Hal.

Hampir gak pernah, gue mau baca buku-buku klasik kaya’ gini. Soalnya, takut… bahasanya ngebosenin, ceritanya yang ribet dan jadi gak menarik untuk dibaca. Buku Anne of Green Gables edisi Bahasa Inggris, udah lama banget ‘mengendon’ di dalam lemari buku gue. Mungkin ada kali hampir 10 tahun, nyaris terlupakan. Untungnya buku ini gratisan (upss… dari my mantan.. hehehe..) Lahh.. koq jadi curhat.

Buku edisi bahasa Indonesia ini, gue beli dengan rasa ketertarikan yang beda. Koq, tiba-tiba gue pengen tau, siapa sih si Anne ini? Koq sampai demikian ngetop-nya dia di dunia ‘perbukuan’. Huh… gue aja nih yang ternyata ketinggalan jaman banget.

Anne Shirley, begitu nama lengkapnya, hadir dalam kehidupan Matthew dan Marilla Cuthbert – pasangan kakak beradik yang tinggal di Green Gables, Avonlea – karena ketidaksengajaan. Pasangan yang ‘kaku’ ini tadinya berniat mencari anak yatim piatu laki-laki untuk membantu mereka bekerja. Tapi, entah kenapa, ada sebuah kesalahpahaman. Ketika Matthew menjemput anak yang dijanjikan di stasiun, yang ia temukan bukanlah anak laki-laki, melainkan anak perempuan berambut merah, berwajah bintik-bintik dengan baju yang kekecilan.

Matthew Cuthbert, yang pendiam dan pemalu, tidak terbiasa menghadapi perempuan – selain Marilla tentunya – terkejut dengan keberadaan Anne. Anne, bisa dibilang, anak yang unik. Satu halaman bisa penuh dengan percakapannya sendiri. Topik pembicaraannya juga bukan hal yang biasa, tapi penuh imajinasi – seperti yang diakui sendiri oleh Anne.

Matthew sendiri makin bingung, apa yang harus ia sampaikan pada Marilla. Marilla sempat ingin mengembalikan Anne ke Panti Asuhan. Tapi, meskipun Anne anak yang cerewet, banyak omong, ternyata, mampu memikat hati Marilla. Anne nyaris ‘hancur’, ketika ia tahu ia akan dikembalikan ke panti asuhan.

Kenakalan, imajinasi Anne yang katanya romantis… menggetarkan, sering membuat Marilla menilai Anne tidak bersikap semestinya sebagai anak perempuan. Tapi, itulah yang sebenarnya kelebihan Anne. Sifat jelek Anne, adalah saking asyiknya dia melamun, berkhayal, Anne suka lupa dengan pekerjaannya. Anne juga terkadang temperamental, gampang marah, apalagi kalau sudah menyinggung rambut merahnya.

Belum lagi kegemarannya memberi nama pada tempat-tempat yang menurut Anne begitu menggetarkan dan romantis – sebut saja Kanopi Kekasih, Buih-Buih Dryad, Ratu Salju, Danau Air Riak Berkilau. Lalu, peristiwa-peristiwa menghebohkan yang bikin semua orang yang tadinya kesal, malah tertawa – seperti bikin kue pakai minyak angin, jalan di atas genteng, hampir tenggelam. Tapi, tetap, Anne ternyata anak yang berprestasi.

Gak hanya teman-teman sebayanya yang jatuh hati pada Anne, orang dewasa pun, yang sempat sebal sama Anne, bisa luluh karena sikap Anne yang polos. Ia gak akan segan minta ma’af, meskipun awalnya gengsi setengah mati.

Buku ini jadi ceria, gue pun tersenyum-senyum dalam hati, membaca betapa ‘ribut’nya Anne. Kepolosan tapi, sebenarnya menunjukkan kedewasaan yang mungkin belum pada waktunya. Tapi, rasa sayangnya pada Marilla mampu mengalahkan keinginan Anne untuk meraih mimpinya. Toh, ia yakin, di setiap belokan, mungkin ada satu kejutan lain yang menyenangkan.

Di buku ini, dikisahkan masa empat tahun Anne tinggal di Green Gables. Masa sekolah Anne yang ceria, persaingan di antara teman-temannya, persahabatannya dengan Diana Barry, cerita tentang semua teman sejiwanya, sampai diam-diam jatuh cinta sama saingannya sendiri.

Ternyata buku ini asyik banget dibacanya. Sambil baca, gue ngebayangin setting-nya, di padang rumput a la Laura Ingalls. Begitu ‘menggetarkan’…. ‘romantis’….. Apa jadinya seseorang tanpa imajinasi? Gue pun jatuh cinta sama Anne Shirley…

Thursday, February 26, 2009

The Mysterious Benedict Society

The Mysterious Benedict Society
Trenton Lee Stewart @ 2007
Carson Ellis (Ilustrasi)
Litter Brown, April 2008 (Soft Cover)
485 Hal

Sebuah iklan di surat kabar menarik perhatian Miss Perumal. Iklan yang isinya mencari anak-anak berbakat yang menginginkan sebuah kesempatan istimewa. Langsung saja iklan ini ia sampaikan ke Reynard Muldoon, yang biasa dipanggil Reynie. Reynie adalah anak yatim piatu yang tinggal di Panti Asuhan Stonetown. Ia anak yang cerdas, tapi sering jadi olok-olokan temannya. Reynie sudah merasa sangat jenuh dengan kesehariannya di panti asuhan itu. Ia tidak boleh masuk ke sekolah berbakat, bahkan tidak juga ke sekolah biasa. Untung ada Miss Perumal yang menjadi pengajarnya. Reynie langsung tertarik dengan iklan itu, berkat bantuan Miss Perumal, Reynie bisa mengikuti tes itu.

Tes yang diadakan itu sangat aneh. Meskipun banyak yang berminat, tapi, hanya sedikit sekali anak-anak yang lolos tes tersebut. Tes-nya juga tidak hanya satu kali, tapi ada beberapa tahap yang harus dilewati Reynie. Belum lagi, ‘tes-tes’ terselubung yang ikut menentukan kelulusan tiap peserta. Hanya empat anak yang lolos dari tes itu. Empat anak dengan keistimewaan dan bakal yang berbeda… yang unik-unik. Tapi, punya satu persamaan… yaitu, kesendirian mereka.

Keempat anak itu – selain tentu saja Reynie – ada: Sticky Washington yang kurus, berkacamata dan berkepala botak, yang jenius, bisa mengingat banyak hal yang ia baca. Sticky punya nama asli George Washington. Lalu, ada Kate Wetherhal – yang selalu membawa ember yang berisi berbagai macam peralatan. Dan, terakhir, si kecil Constance Contraine – selain memang berbadan kecil mungil, Constance memang baru berusia dua tahun! Meskipun kecil, tapi Constance sangat keras kepala. Ia lulus bukan karena kepintarannya, tapi, karena sikap masa bodoh dan cueknya yang menarik perhatian si penilai.

Lalu… siapakah si Penilai ini? Si Penyelenggara sayembara atau tes aneh ini. Dia adalah Mr. Benedict. Seorang laki-laki tua yang punya misi rahasia. Meskipun kesannya misterius, tapi Mr. Benedict ini adalah orang yang kocak. Dan, punya satu ‘penyakit’ aneh, yaitu, dia akan tertidur kalau kebanyakan ketawa.

Mr. Benedict mencurigai adanya sebuah misi atau propaganda yang disebarluaskan melalui televisi, radio atau malah suara-suara ‘tersembunyi’ yang akan membuat kita selalu terngiang-ngiang. Untuk itu, Mr. Benedict mengirim tim kecil ini untuk menyelidiki kegiatan rahasia yang ada di Pulau Nomansan. Dengan briefing singkat, Reynie, Sticky, Kate dan Constance berangkat ke pulau itu dengan misi hidup atau mati.

Di Pulau Nomansan, mereka berempat datang sebagai murid baru yang akan belajar di sebuah institusi yang didirikan oleh Ledroptha Curtain. Tempat itu sangat tertutup dan penuh rahasia. Meskipun isinya adalah anak-anak yang tak kalah berbakatnya dari mereka berempat, tempat itu penuh dengan bahaya. Keempat anak itu harus ekstra hati-hati menjalani misi rahasia mereka ini.

Di L.I.V.E, mereka menemukan banyak kejanggalan, banyak teka-teki, yang harus segera mereka sampaikan ke Mr. Benedict dengan sangat hati-hati. Jika ketahuan, mereka akan segera dikirim sebuah ruang penyiksaan yang konon kabarnya sangat mengerikan.

Untuk mendapatkan informasi dan agar lebih mudah mengamati gerak-gerik Mr. Curtain, mereka berempat pun berusaha keras menjadi Messanger – murid yang punya akses ke fasilitas-fasilitas khusus. Dengan akal Reynie yang cerdik, kepintaran Sticky, kesigapan Kate dan kekeraskepalaan Constance, mereka mencari berbagai cara untuk itu.

Ceritanya menarik, meskipun kadang males juga untuk ‘ngikutin’ program Mr. Curtain yang ambisius. Tapi, tingkah laku, aksi-aksi, kecerdasan dan ide-ide Reynie dan teman-temannya – lalu rasa deg-deg-an, takut mereka ketauan kalo lagi ngumpul malem-malem, membuat gue bertahan mengikuti novel ini sampai selesai. Bahkan, rasa persahabatan mereka juga diuji, ketika Reynie harus mengalahkan rasa nyaman yang ia peroleh ketika duduk Favorit gue adalah Constance – si kecil mungil, yang ngeselin, tapi, seperti kata Reynie – yang gak akan bisa ngebayangin kalo Constance gak ada.

O ya, di buku ini, gak pernah dibilangin siapa nama depan Mr. Benedict, tapi, menurut Om Wikie… kalo kita ngerti Morse, kita bisa tau tuh, nama depan Mr. Benedict di cover buku ini.

Endingnya… tentu saja bahagia… dan, mari kita tunggu petualangan selanjutnya di buku kedua.

Monday, February 23, 2009

Tea for Two

Tea for Two
Clara Ng @2009
GPU – Pebruari 2009
312 Hal.

Tea for Two, bukan nama sebuah tempat minum-minum teh. Itu adalah perusahaan ‘perjodohan’ milik Sassy – alias sebuah usaha ‘percomblangan’. Sassy sendiri adalah seorang lajang yang sedang menanti-nantikan datangnya jodoh bagi dirinya sendiri. Tea for Two yang tadinya hanya berupa sarana pencarian jodoh, berkembang menjadi usaha wedding organizer – yang kebanyakan kliennya adalah peserta Tea for Two.

Perkenalannya dengan Alan juga karena kebetulan Sassy membantu mengurus pernikahan tante Alan. Awalnya, Sassy tidak berharap banyak dari perkenalannya itu. Tapi, siapa yang gak luluh dengan sikap Alan yang super duper romantis. Yang selalu menghujani Sassy dengan hadiah, bunga, kata-kata romantis. Meskipun, demi Alan, kadang Sassy harus mengorbankan pekerjaannya. Tapi, Sassy yang sedang jatuh cinta berat, buta dengan segala keganjilan dalam diri Alan. Bagi Sassy, sedikit berkorban demi Alan, toh, tidak akan apa-apa.

Puncaknya, adalah ketika Alan melamar Sassy, yang tentu saja diterima Sassy dengan rasa haru dan hati yang penuh cinta (aihhhh… lebaiiiii…). Bagi Sassy, kehidupan yang sempurna terbentang lebar di depan mata. Calon suami yang tampan, baik hati, romantis. Bulan madu super romantis juga sudah dirancang dengan sempurna.

Tapi, ternyata, semua yang indah itu hanya ada di kulit luarnya saja. Di hari kedua… bayangkan.. di hari kedua bulan madu mereka berdua, Sassy terkejut dengan sosok lain di balik Alan yang romantis itu. Di bulan madunya, Sassy mendapatkan ‘hadiah’ tamparan manis di pipinya, hanya karena Alan cemburu buta dan gak mau mendengarkan penjelasan Sassy.

Dan, tamparan pertama itu bukanlah jadi yang terakhir. Masih banyak kekerasan lain yang dialami Sassy, baik secara fisik maupun batin. Kehamilan Sassy pun tidak merubah perangai buruk Alan. Teman-teman Sassy juga dianggap sebagai teman yang baik oleh Alan. Singkat kata, Alan mau semua yang dia inginkan dipatuhi Sassy… kalau gak… hmmm… siap-siap menerima tanda biru di pipi.

Kenapa Sassy masih bertahan sedemikian lama? Karena, Alan bisa berubah jadi makhluk manis yang penuh penyesalan dan membuat Sassy kembali luluh. Bahkan, ketika Alan ketauan berselingkuh pun, Sassy masih mau mema’afkannya.

Ironis banget… Sassy yang setiap harinya ‘merancang’ kebahagiaan yang sempurna untuk para klien-nya, justru mendapati hidupnya bukanlah berakhir seperti dongeng-dongeng.

Dari sekian banyak novel Clara Ng (yang gue baca), rasanya ini yang paling serius. Tema KDRT, tapi untungnya dikemas dengan cukup bagus, sehingga gak menjadikan novel ini berurai air mata karena menuturkan penderitaan Sassy.

Selain ‘Malaikat Jatuh’ yang ogah gue baca karena temanya yang gak nyaman buat gue, sedikit banyak, novel ini cukup meninggalkan bekas. Tapi… apa iya, kekerasan malah bikin perempuan ‘addicted’ sampai dia gak sadar kalo dirinya udah dimanfaatkan? Apa iya, alasan perempuan pasrah ketika suaminya melakukan KDRT, justru karena hal itu seolah memacu ‘adrenalin’nya?

Monday, February 02, 2009

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)

Spring-Heeled Jack (Jack si Pelompat)
Philip Pullman
Yashinta Melati F (Terj.)
GPU – September 2008
128 Hal.

Satu lagi buku Philip Pullman yang lebih ditujukan untuk anak-anak. Tapiii… Karena, gue suka buku-bukunya Philip Pullman, buku yang tipis ini segera masuk jadi daftar bacaan… Dan… selesai hanya dalam waktu singkat.

Ceritanya sih sederhana aja. Ada tiga orang kakak-beradik – Rose, Lily dan Ned Summers. Mereka terpaksa tinggal di Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial, di kota London, sejak ayah mereka pergi ke Australia dan ibu mereka meninggal dunia. Di panti asuhan itu, mereka dijaga oleh dua orang pengurus yang jahat, bernama Mr. Killjoy dan Miss Gasket. Mungkin buat menggambarkan situasinya nih, bayangkan film atau sinetron a la Ratapan Anak Tiri. Hehehe… Orang-orang jahat dan anak-anak baik hati yang terlantar, tak terurus.

Untungnya, Rose, Lily dan Ned bukanlah anak yang penakut. Mereka memebuat rencana agar bisa kabur dari tempat mengerikan dan menyebalkan itu. Rencana untuk segera kabur dan menumpang kapal menuju Amerika sudah matang. Malam yang direncanakan pun tiba.

Tapi… mana ada rencana yang mulus di awal cerita.. karena kalau mereka berhasil kabur… cerita pun selesai… dan mereka pun hidup bahagia selamanya. Gak.. gak begitu .. masih panjang dan penuh liku-liku. Terpisah satu sama lain, tertangkap Mack si Pelempar Pisau yang jahat banget.

Ada orang-orang yang masih berbaik hati membantu mereka, seperti pasangan kekasih Jim, kelasi dan Polly, pelayan hotel Saveloy. Tapi, tetap saja, kepolosan mereka, malah membuat ketiga bersaudara itu kembali jatuh ke tangan Mr. Killjoy dan Miss Gasket yang licik. Tapiii… si pahlawan penyelamat dan pembela kebenaran pun muncul, dialah Jack si Pelompat. Yang mendengar nama saja sudah bikin merinding…

Dengan kostum merah menyala lengkap dengan tanduk, Jack si Pelompat malah lebih mirip ‘setan’ atau tokoh jahat. Tapi, emang bikin takut dan membuat orang harus berpikir dua kali untuk menghadapinya kalo gak mau mengalami nasib sial. Namanya juga Jack si Pelompat. Aksinya bukan dengan terbang di udara, atau merayap di dinding, atau pake alat-alat canggih seperti Batman, tapi hanya dengan melompat dari atap rumah yang satu kea tap yang lain dengan saaanggaatttt tinggi.

Ceritanya sih simple banget, alur yang mudah ditebak. Yang pasti bisa bikin kita mikir, “Pasti si anu ada hubungannya sama si anu.” Hehehe.. lagi-lagi sinetron style kan?? Tapi, ya itulah, cerita anak-anak gak mungkin dibuat ribet. Yang bikin menarik adalah ilustrasinya, yang bukan hanya sekedar penghias cerita, tapi, tetap menjadi bagian cerita yang gak mungkin dilewatkan.

Kapan ya, seri Sally Lockhart akan ada terjemahannya?

The Thirteenth Tale(Dongeng Ketiga Belas)

The Thirteenth Tale(Dongeng Ketiga Belas)
Dianne Setterfield
Chandra Novwidya Murtiana (Terj.)
GPU – November 2008
608 Hal.

Vida Winter, penulis perempuan yang novelnya selalu jadi best-seller. Novelnya selalu terkesan misterius, semisterius jati diri Vida Winter yang sebenarnya. Di setiap wawancara, kisah hidupnya selalu berubah-ubah. Sesukanya, akan seperti apa kisah dirinya ketika sedang diwawancara. Sampai suatu hari, pertanyaan – atau lebih tepat permintaan seorang wartawan mengusik hatinya. Sebuah permintaan yang sederhana: “Ceritakan padaku yang sesunggunya.” Kalimat yang menyentil Vida Winter untuk mengisahkan masa lalunya sebelum ajalnya tiba.

Margaret Lea, seorang penulis biografi muda, dipilih untuk mewujudkan keinginan Vida Winter. Margaret menerima surat yang misterius dari Vida Winter. Buku-buku Vida Winter bukanlah kategori buku-buku yang jadi favoritnya. Ayah Margaret mempunyai toko buku yang khusus menjual buku-buku langka. Itulah yang kerap jadi bacaan Margaret. Tapi, agar lebih mendapat gambaran sosok Vida Winter, Margaret membaca sebuah bukunya yang secara kebetulan ada di toko itu – buku yang paling fenomenal yang berjudul Tiga Belas Dongeng.

Dengan rasa penasaran dan berbagai pertanyaan di otaknya, Margaret pun berangkat menuju kediaman Vida Winter. Vida Winter, di masa tuanya, menyimpan banyak rahasia. Tapi, dengan berbagai aturan, rasa penasaran Margaret tidak dapat dituntaskan. Cerita harus mengalir, tanpa pertanyaan, tidak boleh melompat langsung ke bagian akhir.

Margaret pun dibawa ke masa lalu Vida Winter, ke masa kecilnya di rumah keluarga Angefield. Keluarga aneh dan cenderung menyimpan kegilaan. Charlie, si kakak laki-laki yang menyimpan cinta pada adiknya, Isabel. Lalu, Isabel yang menyia-nyiakan si kembar, anaknya. Sosok si kembar Adeline dan Emmeline yang terlantar, tapi tak terpisahkan. Lalu, tokoh pendukung, seperti tukang kebun, John-the-Dig, pengurus rumah tangga, Missus dan Hester, guru yang punya misi tersendiri.

Seperti biasa, sebenernya gue rada gak suka dengan buku ber-cover kelam, hitam seperti ini. Tapi, cerita yang rada misterius jadi ‘teredam’ dengan adanya gambar anak kembar yang lagi main-main, terus gambar nenek berpayung di cover buku. (Mirip bukunya John Connoly - The Book of Lost Things, ya?)

Buku ini kesannya sepi banget, tokohnya yang memang sedikit, lalu percakapan yang sering hanya satu arah. Lambat, tapi menarik banget. Ending cerita rada gak terduga. Misteri di cerita ini banyak banget, tapi ‘mengikuti’ aturan Vida Winter, cerita yang pelan malah jadi menarik dan masa lalunya pun pelan-pelan terungkap. Jangan langsung ke bagian akhir, karena bakal banyak banget bagian menari yang terlewatnya. Tapi, ya, memang harus sabar…

Tuesday, January 27, 2009

L

L
Kristy Nelwan @ 2008
Grasindo – Agustus 2008
394 Hal.

‘L’… judul yang simple banget tapi, cenderung mengundang ‘pertanyaan’. Apakah ‘L’ itu? Atau malah ‘siapa’?, terus, ‘kenapa L? koq gak F, atau X atau Q? Oke… oke… mari kita telusuri, ada apa dengan ‘L’ ini…

Jadi, tersebutlah cewek duapuluh tahunan bernama Ava Torino. Cewek yang kalo dibaca deskripsinya termasuk cewek tomboy, cuek banget, easy going, perokok berat, bekerja di sebuah stasiun televisi. Mungkin gayanya ini yang bikin banyak cowok tertarik sama Ava.

Tapi, Ava bukanlah orang yang betah dengan satu cowok aja. Entah apa yang membuatnya memilih ‘bertualang’ dari satu cowok ke cowok lain demi mengumpulkan nama cowok sesuai abjad. Dari A sampai Z. Luar biasakan.. bahkan untuk huruf X dan Q pun, Ava berhasil mendapatkannya. Dan, ia juga dengan mudah mendepak cowok-cowok itu dalam waktu singkat kalau sudah saatnya berganti abjad.

Ava sudah berhasil mengumpulkan 25 abjad. Satu yang tertinggal, yaitu huruf ‘L’. Bagi Ava, ini adalah pertanda. ‘L’ untuk Love, ‘L’ untuk ‘the Last’ dan artinya ‘L’ adalah ‘the Last Love’ – waktunya bagi Ava untuk menghentikan petualangan cintanya. Saatnya Ava percaya pada yang namanya cinta sejati.

Memang akhirnya, Ava menemukan si L ini – yang bernama asli Ludi. Mereka pun akhirnya berpacaran dan siap melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius alias pernikahan. Ludi adalah seorang auditor, yang di mata Ava adalah sosok pria yang baik dan pengertian. Bagi Ava – atau setidaknya harapan Ava – Ludi benar-benar akan menjadi the ‘L’ one.

Dalam perjalanan menuju hari H yang panjang, ternyata Ava menemukan sebuah sosok lain yang tanpa disadarinya membuatnya mengakui akan namanya cinta. Rei namanya. Perkenalan singkat di Yogyakarta yang aneh, lalu pertemuan tanpa sengaja di Bali yang memberikan kejutan-kejutan kecil yang mungkin gak berarti tadinya, tapi ternyata malah memberikan sebuah kenangan manis yang gak pernah ditemukan Ava sebelumnya.

Sampai akhirnya, mereka satu kantor, pertengkaran-pertengkaran kecil, kelakuan dua orang yang sama-sama gila, membuat teman-teman mereka melihat apa yang gak mau diakui oleh mereka berdua. Ava yang cuek, Rei yang gila, tapi mereka sama-sama gak mau ngaku atau sedikit berkilah untuk gak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Demi menjaga kesetiaanya sama Ludi, Ava harus berusaha keras meredam perasaan yang tiba-tiba saja ia sadari, tapi, ketika ia sadar dan siap untuk mengatakan yang sebenarnya, Ava justru harus rela kehilangan.

Tadinya, gue sempet males banget untuk melanjutkan novel ini. Abis, gak jelas banget sih, apa coba maksudnya si Ava ngumpulin cowok berdasarkan abjad. Dia nolak dibilang ‘player’, tapi dendam masa lalu juga gak jelas banget. Terus, kenapa Ludi harus gak setia?

Tapi, momen atau bagian yang gue suka adalah waktu mereka ngumpulin kalimat-kalimat yang menurut mereka berarti dari buku ‘Tuesday with Morrie’. Gue sempet agak ‘mendua’ waktu menebak ending ceritanya ini, hmmm… meskipun sebenernya, ninggalin surat rasanya suatu yang biasa untuk orang yang akan pergi jauh, tapi, still… it was touchy…

Friday, January 16, 2009

Mirror, Mirror on the Wall

Mirror, Mirror on the Wall
Poppy Damayanti Chusfani @ 2008
GPU – September 2008
176 Hal.

Menjadi anak yang biasa-biasa aja, gak populer dan cenderung culun emang gak mudah. Karin, kerap jadi bulan-bulanan gank anak-anak populer di sekolahnya. Karin memang anak yang kurang percaya diri, dia lebih suka menyendiri, menjadikannya seolah sosok yang tidak kelihatan. Pasrah meskipun ia harus diejek oleh Lisa and the gank.

Di rumah, Karin tinggal dengan ayahnya dan kakaknya, Lis, plus pembantu mereka. Ibu Karin sudah meninggal, dan Lis adalah manusia super sempurna yang berusaha menjadi pengganti ibu mereka dengan mengatur semua urusan rumah tangga. Satu-satunya teman Karin adalah Shawn, cowok belasteran Belanda yang sudah jadi temannya sejak mereka berdua masih ‘ngompol’.

Suatu hari, ketika mereka sedang membereskan gudang di rumah mereka (tentu saja atas perintah Lis), Karin menemukan sebuah cermin antik yang tersembunyi di sebuah sudut gudang dengan permukaan menghadap ke belakang. Cermin itu langsung menarik perhatian Karin yang memang kebetulan tidak punya cermin di kamarnya.

Keanehan pun mulai muncul. Di malam pertama cermin itu ada di kamar Karin, Karin seolah melihat ada pendar cahaya yang datang dari dalam cermin itu, tapi toh, tidak ia hiraukan. Karin pikir ia hanya mimpi. Tapi, di malam kedua, cermin itu berpendar lagi, dan Karin merasa ada sebuah suara yang memanggilnya yang datang dari arah cermin itu.

Itulah pertama kali Karin berkenalan dengan Nyi Rajadharma, Nyi Rajasturi dan Nyi Rajasita. Cermin itu dulunya adalah milik Nini (Nenek) Karin. Ketiga perempuan itu masih buyut-buyut Karin. Karin juga punya pelindung dua ekor macan ‘konyol’ bernama Cagra dan Wulung. Di antara ketiga perempuan itu, Nyi Rajadharma-lah yang paling ambisius.

Dengan adanya ‘teman-teman’ barunya, Karin jadi berbeda. Tanpa disadarinya, ia mulai terpengaruh dengan maksud-maksud tersembunyi dari perempuan-perempuan itu. Perlahan-lahan, Karin berubah. Bukan lagi Karin yang pemalu, penakut, tapi jadi Karin yang super pemalas bahkan ‘penggoda’. Dengan bantuan, Nyi Rajadharma, Karin berhasil melakukan aksi balas dendam terhadap Lisa, juga berhasil mengambil hati cowok impiannya selama ini. Karin juga bukan lagi manusia yang tak kasat mata, tapi jadi pusat perhatian.

Peringatan Cagra dan Wulung untuk tidak bergantung pada cermin tidak dihiraukannya. Malah ia mulai menganggap kalau orang-orang yang selama ini disayanginya tidak ada yang memperhatikannya, berbeda dengan teman-teman barunya yang benar-benar memperhatikan dan mau membantunya apa pun itu caranya.

Energi Karin mulai terserap, Karin mulai lemah. Cepat atau lambat, Karin akan mati dan membiarkan kekuatan jahat menguasainya. Harus ada yang menyelamatkannya kalau gak mau Karin terjebak di dunia lain.

Seru juga buku ini, meskipun sempat mengingatkan gue sama Coraline. Ya, gak aneh sih, karena mbak Poppy adalah penggemar buku-bukunya Neil Gaiman. Tapi, sekali lagi, baca teen-lit a la mbak Poppy memberi ‘penyegaran’ di antara teen-lit yang lain.

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports (Menyelamatkan Dunia dan Olahraga Ekstrem Lainnya)
James Patterson @ 2007
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Desember 2008
504 Hal.

Melarikan diri lagi dari Sekolah. Di akhir buku kedua, Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, serta Total, sempat terperangkap di dalam Sekolah lagi. Tapi, berkat kerjasama dan saling mendukung yang kuat, mereka kembali berhasil meloloskan diri.

Pihak Sekolah tidak tinggal diam. Menurut mereka, sudah waktunya memusnahkan para makhluk gagal itu – setidaknya gagal menurut versi mereka. Semuanya, tidak terkecuali. Bahkan para Pemusnah pun akan turut dihancurkan.

Sementara itu, dalam pelariannya, para kawanan memutuskan bahwa mereka harus kembali menemukan tempat untuk menetap. Sebagai pemimpin, Max merasa wajib melindungi mereka. Akhirnya, Max dan Fang terbang berkeliling mencari tempat yang cocok untuk mereka.

Ketika Max dan Fang pergi, anggota kawanan yang lain diserang oleh Pemusnah jenis baru, yang dinamakan Flyboy. Ternyata, Flyboy bukanlah makhluk hidup, tapi lebih tepat disebut robot. Tubuh mereka terbuat dari besi dan mereka deprogram untuk menghancurkan para kawanan. Nudge dan kawanan yang lain tidak bisa menandingi Flyboy yang terlalu banyak jumlahnya. Mereka akhirnya tertangkap lagi dan menyadari ada pengkhianat di antara mereka.

Max dan Fang yang yang sedang berkeliling tidak menyadari apa yang terjadi dengan teman-teman mereka. Mereka malah sibuk bertengkar, sempat mampir ke rumah dr. Martinez yang kemudian berhasil mengeluarkan microchip dari lengan Max.

Ketika mereka menyadari bahwa teman-teman mereka tertangkap, Max dan Fang tahu harus menuju ke mana, ke tempat di mana mereka pun sudah ditunggu.

Akal dan siasat Max lagi-lagi berhasil meloloskan mereka dari Sekolah. Tapi, kawanan harus terpecah dua, karena Max dan Fang bersikeras pada pendirian mereka masing-masing. Sebuah kejutan membuat perpecahan itu terjadi.

Kawanan itu berpisah, melanjutkan misi menyelamatkan dunia dan menyebarkan kebusukan Itex dengan cara yang berbeda. Max memilih menyeberangi lautan menuju daratan Eropa, langsung ke titik sasaran yaitu markas besar Itex yang berada di Jerman. Sementara, Fang bersama Gasman dan Iggy, memilih berjuang lewat blog Fang yang semakin terkenal dan semakin banyak diakses oleh para pembacanya. Dukungan melalui blog pun mengalir deras, protes-protes dan demonstrasi berlangsung di berbagai cabang Itex.

Max yang berada di Jerman, harus menghadapi banyak kejutan yang mengaduk-aduk emosinya. Tapi, untung aja, Max pintar, jadi gak mudah terpengaruh dengan segala hal itu. Max juga harus menghadapi makhluk ciptaan Itex yang lebih ajaib lagi.

Banyak hal yang mengharukan muncul dalam buku ketiga ini. Siapa orang tua Max pun terungkap, tapi, tetap, perjuangan Max dan teman-temannya belum selesai. Di akhir cerita, mereka kembali terbang untuk menyelamatkan dunia.

Apakah ini akan jadi buku terakhir dari seri Maximum Ride? Tampaknya gak tuh… masih ada lanjutannya di ‘The Final Warning’… Uhhh.. tak sabar menanti. Apakah masih akan seseru seri-seri sebelumnya?

Thursday, January 15, 2009

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)
Anthony Capella
Gita Yuliani K. (Terj.)
GP, Oktober 2008
568 Hal.

Desa Fiscino, sebuah desa di lereng Gunung Vesuvio, Italia, sedang dalam keadaan penuh kegembiraan. Ada Festival Buah Aprikot, pemilihan buah apricot terbaik. Gak hanya itu, para kembang desa, juga memperebutkan gelar gadis tercantik di desanya.

Mungkin hanya Livia Pertini yang tidak tertarik dengan gelar gadis tercantik itu. Baginya, sebagai anak pemilik osteria yang terkenal lezat itu, yang penting adalah menyajikan masakan yang lezat. Konsentrasi penuh agar bisa menghasilkan masakan yang membuat orang berdecak dan kekenyangan.

Di hari itu juga, Livia jatuh cinta pada seorang perwira muda bernama Enzo. Usaha Enzo mendekati Livia yang galak tidak sia-sia, mereka pun menikah. Karena, di jaman itu, jangan coba-coba mendekati seorang gadis kalau si pemuda tidak berniat menikahinya.

Tapi, Perang Dunia memporak-porandakan kehidupan yang tenang dan bahagia. Italia pun hancur lebur, luluh lantak gara-gara perang. Datangnya tentara sekutu juga tidak banyak membantu. Malah timbul peraturan-peraturan aneh – tidak boleh menimbun bahan makanan, yang artinya banyak osteria gulung tikar atau sepi.

Para laki-laki dikirim ke medan perang – yang tinggal hanya anak-anak dan manula. Para perempuan memilih jadi pelacur, dengan harapan akan jadi pengantin perang tentang Inggris.

Gara-gara alasan itu pula, ada sebuah jabatan yang mengatur agar perempuan-perempuan Italia itu tidak bisa dengan sembarangan menikah dengan tentara-tentara sekutu. Adalah James Gould, perwira asal Inggris yang bertugas untuk memastikan hal itu .

Ditempatkan di Neapolitan, tanpa orang yang dia kenal, disajikan masakan dari ransum yang makin hari makin kacau, James mulai ‘pasrah’. Sampai Livia pun datang ke kediaman James.

Pertemuan pertama mereka lumayan kocak. Dan gara-gara perbuatan Livia yang dianggap melanggar segala aturan, Livia pun harus ikut ke Neapolitan, meninggalkan ayah dan adiknya. Tadinya, Livia terkatung-katung di awal kedatangannya di Neapolitan. Livia tidak mau ikut-ikutan jadi pelacur, sementara lowongan pekerjaan dipenuhi orang-orang lain. Akhirnya, Livia tiba di sebuah bar yang ditutup oleh James. Konspirasi antara pemilik bar dan orang-orang lain yang tidak puas dengan James, ‘menyelundupkan’ Livia untuk jadi juru masak di kediaman James.

Tentu saja, Livia pun memukau James dan yang lainnya dengan masakannya yang lezat itu. Livia bertemu lagi dengan James. Sempat terjadi kesalahpahaman sebelum akhirnya… ya.. tentu saja mereka jatuh cinta.

Tapi, gak mudah untuk mereka bersatu – karena perang membuat mereka harus berpisah sementara.

Dibanding ‘The Food of Love’, meskipun tentu saja masih soal cinta, buku ini ‘rada berat’, lebih tebal dan serius. Masakan lezat masih bertaburan. Tapi, banyak banget bagian yang menurut gue terlalu berpanjang-panjang dan sempat bikin cerita jadi gak asyik… yaitu, bagian perang di tengah-tengah cerita. Terus, gak asik waktu Livia jadi ‘serius’ pas dia gabung sama kelompok pemberontak.

Bagian yang gue suka adalah di awal cerita, gimana menyenangkannya Festival Buah Aprikot, kaya’nya hari itu indah banget. Ada bagian-bagian lucu juga, waktu pertama James ketemu Livia, plus, waktu Livia mikir James itu cowok yang ‘beda’.

Wednesday, January 07, 2009

To Tokyo to Love

To Tokyo to Love
Mariskova
GPU, Desember 2008
296 Hal.

Cita-cita Nina sebenarnya simple aja, hanya pengen jadi istri yang baik dan punya anak. Jadi ibu rumah tangga aja. Pekerjaan… biarlah urusan suami. Nina pun sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Ian. Yang ada di gambaran Nina, adalah sebuah kehidupan pernikahan, sebuah keluarga yang sempurna. Ian, adalah senior Nina di kampus. ‘Cowok idola’ yang mulanya hanya bisa dipandang Nina dari jauh. Nina yang penyendiri dan tomboy sering mendengar gosip para cewek-cewek membicarakan Ian. Suatu kejadian, malah mendekatkan diri Ian dan Nina. Gak ada yang menyangka kalau Ian bisa jatuh cinta pada cewek berpenampilan biasa-biasa aja seperti Nina.

Nina yang tomboy, pelan-pelan berubah jadi feminin, atas ‘permintaan’ Ian. Nina yang cuek, jadi ‘kebanjiran’ hadiah-hadiah dan kejutan romantis. Berbeda dengan Nina yang dulu.

Tapi, ternyata, cita-cita Nina gak semudah itu untuk terwujud. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi batal. Ian berselingkuh dengan Karina, mantan pacarnya, dan harus bertanggung jawab karena Karina hamil.

Nina down, nyaris patah semangat. Untung di kantor Nina, seorang boss dari Jepang, Mr. Fujita, menawarkan beasiswa ke Jepang. Kesempatan itu mendapat dukungan penuh dari keluarga Nina yang ingin menjauhkan Nina dari Ian. Ian, yang meskipun sudah menikah dengan Karina, tetap ingin mendekati Nina lagi.

Jepang yang kaku, yang teratur, membuat Nina kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Perjalanan ke kampus dengan kereta, memberi warna tersendiri bagi Nina. Di dalam kereta, Nina kerap memperhatikan seorang pria dengan pakaian hitam-hitamnya. Bagi Nina, si man-in-black itu seperti menyimpan sesuatu dalam benaknya, begitu rapuh, membuat Nina ingin mendekatinya. Nina pun diam-diam jatuh cinta pada pria berstelan hitam itu.

One day, Nina yang jarang bergaul itu mendapat email dari seorang pria bernama Takung. Kegiatan chatting, yang berlanjut ke acara telepon-teleponan, menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap malamnya oleh Nina. Takung menjadi tempat Nina untuk bercerita tentang man-in-black pujaannya, dan Nina juga menjadi tempat curhat Takung tentang gadis penyendiri di kampusnya. Dan, sempat membuat Nina sedikit cemburu. (Hmmm… agak mirip ‘You’ve Got Mail’).

Tapi, kehidupan Nina yang tenang kembali terganggu oleh datangnya Ian ke Jepang. Ian yang anak orang kaya, tentu saja tidak punya kesulitan untuk pergi ke mana pun yang ia mau. Dan Ian, nyaris membuat Nina bimbang, antara mema’afkannya atau melupakannya. Karena ternyata, bukan hanya Ian yang mengejar Nina, tapi juga Karina. Karina jadi rada ‘psikopat’, karena dia pikir, Nina bakalan mau balik lagi sama Ian. Nina nyaris celaka, kalo aja si man-in-black gak datang menolongnya.

Jadi siapa sih si man-in-black itu? Ketemu gak si Nina sama Takung? Ketebaklah kalo baca ceritanya. Dan, hehehe.. rada kecewa dengan gambaran si man-in-black. Kebayangnya sih, cowok dengan rambut melambai tertiup angin, kaya’ Takuya Kimura gitu deh… tapi, di sini, rada terlalu macho (menurut gue lhooooo….)

Yang rada kocak dan bikin gemes adalah waktu Takung cerita tentang cewek misterius idamannya itu dan membuat Nina keliling taman di kampus biar dia bisa liat seperti apa idola Takung.

O ya, yang satu lagi rada ‘berlebihan’, adalah waktu Ian lagi pdkt sama Nina… Booooo…. Mobil jeep Nina and abangnya, bertaburan bunga mawar dan ada poster bertuliskan ‘I Love You’, dan itu terjadi di kampus mereka. Entah emang berlebihan, atau, pas lagi baca, gue yang gak in the mood of romantic??

Gambaran kota Jepang yang kaku jadi ‘lumer’ gara-gara cantiknya bunga sakura yang lagi berguguran… Cerita ringan di awal tahun 2009…

Tuesday, December 30, 2008

Book of the Year 2008

Tampaknya udah waktunya memilah buku-buku yang jadi favorit di tahun 2008. Semenjak ada Mika, sepertinya waktu gue untuk baca agak berkurang (tapi.. hehehe.. tetap tidak diikuti dengan berkurangnya frekwensi membeli buku). Waktu baca biasanya kalo lagi di mobil atau kalau Mika tidur. Udah gitu, gue juga jadi rada males untuk nulis tentang buku yang gue baca di blog. Makanya, blog buku gue di tahun 2008 agak sepi.

Nah, buku-buku yang jadi favorit gue rata-rata adalah buku yang punya 'arti' tertentu buat gue, yang terjemahannya enak dibaca, atau kalo pun bahasa inggris, yang gak terlalu memusingkan. Di antaranya:

1. Chocolat
2. The Penderwicks
3. Maximum Ride (1 & 2)
4. The Alchemyst
5. The Book of Lost Things
6. Ways to Live Forever
7. The Space between Us
8. My Sister Keeper
9. I was a Rat
10. The Food of Love

Ini 'terpilih' di antara buku-buku yang sedikit itu... malah jadi bingung.. :) Target tahun depan... mmm... seperti biasa, membaca buku-buku yang udah lama dibeli, yang selama ini hanya jadi penghias lemari buku... tapi... mmm, kalo ada buku baru, pasti tergoda juga... :)

Wednesday, December 24, 2008

Vanishing Act (Hati yang Hilang)

Vanishing Act (Hati yang Hilang)
Jodie Picoult
Gita Yuliani (Terj.)
GPU, November 2008
528 Hal.

Delia Hopkins, seorang polisi bagian Search and Rescue, yang tugasnya mencari dan mengembalikan orang-orang hilang kepada keluarga mereka. Tinggal di New Hampshire, bersama ayahnya, Andrew Hopkins, yang mengelola sentra manula dan dikenal sebagai warga kota yang baik. Delia mempunya satu orang putri, bernama Sophie, hasil dari hubungannya dengan Eric, tunangannya yang sudah menjadi temannya sejak kecil.

Satu hari, ketika polisi datang mencari – dan bahkan menangkap ayahnya – Delia mendapati dirinya bernasib sama dengan orang-orang yang ditolongnya selama ini. Ternyata, ia adalah korban ‘penculikan’ yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Selama 28 tahun, Delia ‘menerima’ bahwa dirinya bukanlah dirinya yang sebenarnya. Nama aslinya adalah Bethany Matthews. Ketika berusia 4 tahun, ia pergi bersama ayahnya yang sudah bercerai dengan ibunya, dan tidak pernah ‘dikembalikan’ lagi ke rumah ibunya. Andrew – yang bernama asli Charles – mengganti identitas mereka berdua dan pergi ke sebuah kota di mana tidak ada satu pun yang mengenal mereka.

Andrew pun ditangkap. Delia minta Eric, yang seorang pengacara, untuk membela ayahnya.

Drama mulai bergulir. Demi kepentingan persidangan, Delia pun pindah ke Arizona, tempat ayahnya akan diadili, tempat di mana penculikan itu dulu terjadi. Delia bertemu dengan ibunya, Elise.

Delia bergulat mencari identitas masa lalunya, sementara ia juga harus berdebat dengan dirinya sendiri, apakah harus mema’afkan ayahnya yang sudah menculiknya – apa pun itu alasannya, atau, harus mema’afkan ibunya yang karena salahnya ia ‘diculik’ oleh ayahnya.

Berbagai fakta yang dianggap akan meringankan Andrew dicari oleh Eric. Yang terkadang justru mengundang pertanyaan yang jawabannya sangat bias.

Kaya’nya khas Jodie Picoult untuk mengemas novelnya dengan menceritakan isinya dari sudut pandang setiap tokoh yang terlibat. Jadi, gak hanya tentang kebimbangan Delia, tapi juga gimana Andrew harus bertahan di penjara yang ‘ganas’. Atau, cerita tentang Elise yang menurut aku ‘eksotis’. Lalu, Eric, yang mantan pecandu alkohol.

Gue jadi sempat bertanya-tanya, sejauh mana ya, kita bisa membenarkan sesuatu ketika kita melakukan sebuah kesalahan dengan alasan untuk ‘kebaikan’?

Monday, November 24, 2008

Selebriti

Selebriti
Alberthiene Endah @ 2008
GPU – Juli 2008
488 Hal.

Dunia selebriti kadang bagai dunia mimpi bagi para penikmat acara gosip atau kerennya infotainment. Gimana rasanya diburu-buru wartawan? Gimana rasanya dieluk-elukkan sama fans? Atau gimana rasanya dihujat? Acara infotaiment yang bertubi-tubi – nyaris setiap jam, dari pagi sampai sore (atau ada yang malam?) di hampir semua stasiun televisi, serasa membuat kita ‘kenal’ dengan si seleb.

Tak kecuali, Icha, gadis dusun yang gak pernah ketinggalan satu pun acara gosip. Silahkan tanya gosip teranyar, pasti dia akan menjawab dengan lancar dan lengkap. Kegilaannya nonton acara gosip membawanya pada sebuah mimpi untuk jadi manajer artis. Tapi, mana mungkin sih? Mimpi itu terlalu indah untuk seorang gadis desa seperti Icha. Bagi Emak dan ketiga adiknya, kehidupan di desa yang sederhana udah cukup buat mereka. Tapi, Icha beda… dia punya mimpi, punya cita-cita.

Kesempatan itu datang dari Deden – mantan pacar Icha yang sudah berganti ‘haluan’ jadi penyuka sesama jenis. Di Jakarta, Deden bekerja sebagai penata rambut artis-artis top. Deden yang sekarang berpenampilan sangat ajaib bagi ukuran orang di kampung. Deden, yang kini jadi sahabat Icha, tahu betul akan impian Icha. Kebetulan, salah satu penyanyi dangdut yang ngetop dengan hits-nya, ‘Keringat Cinta’ (???!!!!), mencari asisten pribadi. Deden langsung memilih Icha untuk ‘menempati’ posisi itu.

Dengan restu yang setengah hati dari sang Emak, Icha pun berangkat ke Jakarta dengan berjuta bayangan yang sangat indah. Tentu saja… Icha bakalan ketemu banyak artis yang selama ini hanya ada di poster yang memenuhi dinding kamarnya.

Tapi… ternyata oh ternyata, semuanya gak semudah itu. Poppy Luisa, si penyanyi dangdut adalah ‘titisan’ drama queen, mak lampir, nenek sihir… apalah sebutkan berjuta-juta julukan yang ajaib. Poppy bisa berubah mood dalam sekejap, kata-kata kasar kerap keluar dari bibirnya. Dan, Poppy bukanlah menjadikan Icha ‘asisten pribadi yang profesional’, tapi malah mirip ‘pembantu pribadi’ yang kerjanya ngurusin hal-hal sepele, seperti ngelap keringetnya Poppy, bawain tissue – Icha cenderung seperti ‘babysitter’ dengan seragam yang dibagikan Poppy.

Lepas dari Poppy yang pulang kampung dan ‘lupa’ untuk membayarnya, Icha ‘terjebak’ dalam hubungan professional plus pribadi dengan seorang rapper yang gayanya cuek banget, Boyke Brik. Boyke Brik gak kalah ajaib dengan Poppy. Sikap yang semaunya, gak peduli jadwal yang ketat, membuat Icha sering jadi sasaran kemarahan dari para panita acara yang mengundang Boyke. Icha lagi-lagi berusaha jadi pahlawan ketika Boyke kedapatan mengkonsumsi shabu-shabu.

Tapi, Icha harus kecewa lagi lantara cowok yang dicintainya itu membohonginya. Keinginan pulang kampung makin kuat. Tapi, Deden masih terus memberi semangat pada Icha.

Dan, akhirnya Icha pun jadi manajer artis Donna Valencia, penyanyi muda berbakat, calon diva yang kehidupannya nyaris tanpa cela. Gak ada gosip miring tentang Donna. Kesehariannya tampak sempurna dengan ‘sepasukan’ asisten yang disiplin dan teratur. Tapi… tetap saja semua itu hanya topeng. Donna juga punya kekurangan dan masalah yang gak kalah ajaib.

Nah… masihkah Icha ‘mengagungkan’ kehidupan artis – setelah ia harus jatuh bangun, merendahkan martabatnya?

Buku yang tebel banget ini mungkin cukup mewakilkan kehidupan belakang panggung yang ajaib. Ya… mungkin gak semua artis kaya’ gini kali ya? Gak tau deh… Bahasa Alberthiene Endah yang lincah membuat gak bosen dibaca, meskipun kadang suka rada ‘hiperbola’.

Tapi… hmmm… apakah Icha selama di Jakarta gak sempet tele-tele sama Emak-nya di kampung? Apa emang gak perlu disinggung ya? Cukup dengan keluh kesah Icha sendiri dalam hati. Dan, untuk ukuran yang amat sangat amatiran, Icha lumayan gampang untuk masuk ke ‘grabak-grubuk’nya dunia ‘manajer artis’ dan koq… si artis sendiri mudah banget percaya sama Icha

Friday, September 19, 2008

Topsy-Turvy Lady

Topsy-Turvy Lady
Tria Barnawi @ 2008
GPU – Agustus 2008
224 Hal.

Sebagai anak orang kaya, bagi Gladys, uang bukanlah masalah. Kartu kredit dengan limit yang ‘wow’ tersedia di dompet, uang di tabungan selalu penuh dan selalu siap diisi oleh ayahnya. Belanja-belanji sudah kaya’ kebutuhan pokok buat Gladys. Setiap bulan, bisa dipastikan ada satu tas bermerk yang masuk dalam koleksinya, liburan… hmmm…. paling apes ke Bali! Kuliah di di fakultas ilmu komputer di salah satu universitas swasta bergengsi. Jangan bayangkan mahasiswi yang kuliah di fasilkom sebagai mahasiswi yang ‘nerd’. Gladys bahkan bisa dibilang sebagai ‘Paris Hilton’s copy cat’.

Tapi, gara-gara cinta buta, Gladys harus belajar yang namanya ‘downsizing’. Diawali dengan perkenalan di sebuah café dengan cowok bernama Sandi. Sandi yang usianya terpaut sepuluh tahun di atas Gladys, mampu membuat Gladys berpikir ‘sedikit’ lebih dewasa, bahkan bisa membuat Gladys berpikir untuk menikah muda. Bagi Gladys, Sandi adalah tipe cowok dewasa yang ngemong dan sangat perhatian. Suatu hal yang sangat didambakan oleh Gladys yang anak paling kecil. Sandi yang sederhana – tapi Gladys yakin banget, orang tua Sandi itu kaya.

Demi Sandi, Gladys rela gak beli tas – bukan karena berhemat – untuk ‘mendanai’ Sandi beli laptop baru. Kata Sandi, dana untuk beli laptop-nya terpakai untuk membantu temannya. Gladys menelan mentah-mentah alasan itu.

Puncaknya, Gladys nekat keluar dari rumahnya, dari semua kenyamanan dan fasilitas kelas satu yang selama ini dia nikmati. Orang tua dan kakak-kakak Gladys gak setuju dengan hubungan itu. Karena sebenarnya, Gladys sendiri gak tau latar belakang Sandi. Tapi, udah cinta… semua jadi sah-sah aja. Meskipun, namanya harus dicoret dari daftar warisan.

Gladys harus nge-kos, di sebuah kamar yang mungkin besarnya hanya sepertiga kamarnya, dengan fasilitas yang seadanya. Toh, awalnya, dia masih menikmati, karena ada Sandi yang memberinya semangat. Semua masih terasa indah.

Tapi, tiba-tiba aja, di suatu pagi, Gladys didatangi debt collector yang mencari Sandi. Katanya, Sandi punya hutang sampai berpuluh-puluh juta dan mencantumkan nama Gladys sebagai penjaminnya. Belum lagi ternyata, Sandi juga menggunakan kartu kredit Gladys untuk menarik tunai dalam jumlah yang tidak sedikit. Sandi raib bagai ditelan bumi, meninggalkan hutang yang sangat besar.

Ketika teman lain menjauhinya, Wina-lah yang masih setia memberi dukungan pada Gladys. Teman satu kampusnya itu yang membuka mata Gladys bahwa ia harus bekerja. Akhirnya, sebelum mengikuti pendidikan sebagai babysitter, Gladys sempat terpaksa menjadi pelayan di sebuah restoran yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.

Menjadi babysitter ternyata juga gak mudah. Majikannya yang cuek, tapi sok tau dan gak mau kalah, anak-anak balita yang bagai monster cilik, membuat Gladys harus tahan-tahan ati. Buntutnya Gladys malah dituduh mau merusak rumah tangga majikannya.

Beralih lagi sebagai pengasuh anak seorang duda bernama Yuan. Anaknya manis, ibu Sepuh baik… dan… ayah yang ganteng…. Gladys pun berubah… menjadi sangat penyayang pada anak-anak. Ia rela melahap buku-buku tentang parenting yang tebal-tebal untuk mendekatkan diri pada anak asuhnya.

Ketika sinya-sinyal ‘cinta’ mulai berkedap-kedip, Gladys sempat kecewa, karena si duda keren ini lebih memilih perempuan lain yang tak lain adalah orang terdekatnya.

Tapi, di balik itu semua, sifat Gladys yang dulu sangat konsumtif pelan-pelan berubah. Ia lebih memperhatikan orang-orang yang selama ini membantunya di rumah dan jadi lebih empati.

Di antara buku-buku Tria Barnawi yang pernah gue baca, buku ini yang paling gue suka. Mungkin di awal, bakal terpikir, “Pasti ntar jadian deh sama si Du-Ren.” Tapi, ternyata salah tuh… dan ini yang membuat gue jadi menganggap buku ini gak biasa. Buku ini gak ‘menjiplak’ cerita The Nanny atau Nanny’s Diary.

O ya… kalo ada ibu-ibu AIMI atau dari milis asiforbaby yang baca ini, pasti akan seneng banget, karena buku ini bisa dibilang mendukung ‘ASI Eksklusif’. Di salah satu bagian, diceritain kalo kakak Gladys yang namanya Isabel punya baby umur 6 bulan dan dia masih tetap sebagai wanita karir, tapi dia tetap bersikeras untuk kasih ASI ke Keenan, anaknya (Hal. 220 – 221).

Tuesday, September 16, 2008

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever (Sekolah Selesai – Selamanya)
James Patterson @ 2006
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – September 2008
512 Hal.

Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, masih terus terbang, melarikan diri dari para Pemusnah dan melanjutkan misi pencarian orang tua mereka. Sepotong informasi yang didapat ketika menyelamatkan Angel jadi sebuah kunci penting dalam misi itu.

Max dan teman-temannya sempat yakin bahwa mereka telah bebas dari Ari, pemimpin para Pemusnah, karena Max tahu ia sudah membunuhnya. Tapi, mereka salah. Justru, Ari dan para Pemusnah, kembali mengejar mereka – bukan di darat saja – tapi juga di angkasa. Yap… ternyata, Pemusnah sudah ada ‘keluaran’ versi terbarunya yang memakai sayap. Tentu saja, tampak aneh bagi sosok manusia mirip serigala yang berbadan besar, tiba-tiba harus memakai sayap. Hal ini membuat mereka jadi bulan-bulanan ketika harus bertarung di angkasa melawan para mutan burung itu. Tapi, Ari masih sangat dendam. Ia senantiasa mematai-matai semua kegiatan Max dan kawanannya – yang kini ditambah Total, seekor mutan anjing.

Karena terluka parah akibat pertarungannya dengan Ari, Fang terpaksa dibawa ke rumah sakit. Max dan temannya pun harus diiterogasi oleh FBI. Tapi, terlatih untuk melindungi identitas mereka, membuat mereka lancar ‘mengarang bebas’. Mereka dibawa ke rumah Anne, salah satu anggota FBI yang baik hati pada mereka.

Tapi, Max merasa keadaan yang terlalu nyaman adalah sebuah tanda bahaya. Kenyamanan dan sedikit rasa aman, tidak melupakan niat mereka untuk mencari orang tua mereka. Namun, lagi-lagi mereka harus kecewa saat orang yang mulai mereka percaya dan mereka harapkan ternyata lagi-lagi tak lain adalah bagian dari Jas Putih.

Selain itu, sadar kalau mereka mungkin tak bisa bertarung di udara, Ari merancang strategi lain untuk menghancurkan para mutan burung itu. Dan, hanya Ari yang boleh membunuh Max. Ternyata, Ari menyimpan dendam dan sempat mempunyai ‘rasa’ lain terhadap Max! Rasa benci, cinta, cemburu dan iri karena Jeb, ayahnya, lebih memperhatikan dirinya.

Buku kedua ini, Max dan kawanannya, tampak lebih santai, tapi tetap siaga satu. Max semakin kuat, tapi para Pemusnah juga makin canggih. Ari dan para Pemusnah sempat dibuat frustasi ketika tahu Max dan kawanannya sedang bersenang-senang di Disney World! Mereka juga sempat bersekolah, bahkan Max sempat kencan dengan salah satu cowok di sekolah. Ada sedikit cemburu-cemburu antara Max dan Fang.

Misteri tentang orang tua mereka masih ‘menggantung’ sampai akhir cerita. Bahkan, misteri bahwa Ari adalah adik Max juga belum terjawab.

Wednesday, September 10, 2008

The Book of Lost Things

The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)
John Connoly @ 2006
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU, Agustus 2008
472 Hal.

Tadinya, David hanyalah anak kecil biasa. Punya Ibu yang sering mendongengkan cerita-cerita fantasi dan Ayah yang gemar mengajaknya memancing. Tapi, semua mulai berubah ketika Ibunya sakit. Semakin lama, semakin lesu dan akhirnya meninggal. Usaha David untuk membuat Ibunya bertahan tidak berhasil, membuat rasa kehilangannya semakin besar. Tinggallah David dan Ayahnya. Lalu, masuklah seorang perempuan dalam kehidupan mereka - kehidupan ayahnya tepatnya. Perempuan bernama Rose yang akhirnya menjadi istri baru ayahnya. David merasa ayahnya sudah melupakan Ibunya. Ditambah lagi kehadiran bayi Georgie yang meramaikan keluarga itu. David merasa tersisih. Hubungannya dengan Rose tidak pernah akur. David tidak pernah menerima Rose sebagai pengganti ibunya.

Peperangan membuat David dan ayahnya harus pindah ke rumah Rose yang relatif lebih aman. David mendapatkan sebuah kamar sendiri yang penuh dengan buku-buku. David sempat merasa tidak nyaman di kamar itu, karena ia seolah mendengar buku-buku itu berbisik. Tapi, lama-kelamaan ia pun mulai terbiasa dengan ‘percakapan’ buku-buku itu. Dulunya kamar itu adalah kamar Jonathan Turley, paman Rose – yang lenyap secara misterius.

Suatu hari ketika sedang membaca di taman, David tidak sengaja mendongak ke arah jendela kamarnya, dan melihat ada sosok orang di dalamnya. Karuan David panik dan bergegas mencari ayahnya. Tapi, meskipun tidak ditemukan tanda-tanda ada orang yang pernah masuk ke kamarnya, David merasa bahwa memang ada sosok lelaki bungkuk yang masuk.

Di halaman rumah David, ada taman cekung yang bisa dengan mudah dimasukin oleh anak kecil. David sering mendengar suara Ibunya yang seolah memanggilnya meminta bantuan. Ketika itu David sedang marah, setelah bertengkar dengan Rose dan ayahnya, ia pun berlari memasuki taman itu. Dan, sampailah ia ke sebuah hutan yang misterius dan menakutkan. Tidak ada seorang pun di sana. Ia menemukan berbagai kengerian yang menyebabkannya ingin segera pulang.Tapi, ia putus asa, karena pohon tempatnya masuk tidak bisa dibedakan lagi. David menggali dengan membabi buta. Sampai akhirnya, datanglah seorang Tukang Kayu.

Kepadanya, David bercerita dari mana asalnya dan apa yang membawanya sampai ke tempat itu. Tukang Kayu itu pun berkata, mungkin David harus bertanya pada Raja yang sudah sangat tua yang memiliki sebuah Kitab Tentang Yang Telah Hilang. Mungkin Raja punya jawaban atas apa yang harus dilakukan David.

Perjalanan David menuju kastil Raja tidaklah mudah. Ancaman utama datang dari Loup, serigala yang nyaris berwujud manusia. Mereka jalan dengan dua kaki, memakai baju tapi tetap licik dan menakutkan seperti serigala. Pemimpin kaum Loup bernama Leroi – yang ingin merebut takhta Raja. Mereka segera tahu, bahwa David adalah ancaman.

Dibantu Tukang Kayu, David berhasil lolos. Tapi, semua itu tidak berakhir. David menemukan banyak bahaya dan tantangan yang lebih mengerikan lagi. Kaum Loup yang terus mengejar David, bertarung dengan Binatang buas yang sangat mengerikan dan haus darah, bertemu penyihir yang mencari pemuda yang mau menciumnya agar ia terbangun dari tidurnya, sampai akhirnya ia harus berurusan dengan Lelaki Bungkuk yang selalu menawarkan kesepakatan.

David bagai ‘berjalan’ dalam sebuah buku fantasi yang selalu dibacanya. Hanya saja kisahnya tidak seperti yang selama ini ia kenal. Ia mendengar Kisah si Tudung Merah yang ternyata menjadi awal lahirnya Loup; Putri Salju yang ternyata pemalas dan pemarah; konspirasi pembunuhan terhadap Putri Salju yang ternyata didalangi oleh para tujuh kurcaci, sampai Putri Tidur yang ternyata penyihir yang menunggu pemuda tampan untuk disedot jiwanya.

Gue sempat bertanya-tanya, apa sih maunya si Lelaki Bungkuk ini… Dari awal cerita, ia seolah menjadi ‘bayangan’ saja dalam perjalanan David. Selalu mengendap-endap, membunuh semua musuh David demi kepentingannya sendiri.

Gue pikir, tadinya buku ini adalah buku fantasi untuk semua umur, fantasi yang menyenangkan a la Harry Potter, tapi ternyata… hadduuhhh… isi buku ini lumayan mengerikan. Penuh dengan darah yang berceceran, pembunuhan sadis dan mengerikan. Sosok si Lelaki Bungkuk yang dalam bayangan gue mirip si Smegaol di Lord of The Rings. Licik, sok baik dan ingin mengambil keuntungan sendiri. Meskipun tokoh utamanya anak kecil, tapi, buku ini sama sekali bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Selain banyak penggambaran adegan sadis, juga banyak hal-hal lain untuk orang dewasa.

Identitas Rahasia Devon Delaney

Identitas Rahasia Devon Delaney (The Secret Identity of Devon Delaney)
Laura Barnholdt
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Juni 2008
278 Hal.

Devon Delaney bukanlah siswi populer di sekolahnya. Ia hanya anak perempuan biasa yang bersama sahabatnya Mel, hanya bisa memandang dari jauh para siswa-siswi top di sekolah mereka, termasuk Jared, cowok idola Devon.

Tapi, liburan musim panas di rumah neneknya berbuntut masalah besar. Ketika itu, Devon berkenalan dengan seorang gadis bernama Lexi. Kepada Lexi, Devon mengaku bernama Devi, punya pacar nama Jared, termasuk kalangan siswi top. Pokoknya gambaran yang sangat berbeda dari keadaan diri Devon sebenarnya.

Tentu saja, ketika itu Devon beranggapan dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Lexi lagi. Maka itu, ketika tiba-tiba saja Lexi muncul di kelasnya sebagai murid baru, Devon langsung bingung. Kebohongan demi kebohongan muncul untuk menutupi hal yang sebenarnya.

Lexi yang baru beberapa hari muncul di sekolah langsung masuk ke jajaran gank The A-List alias siswa-siswi top. Tentu saja, Lexi beranggapan Devon juga ada di kelompok yang sama. Karuan Lexi bingung melihat Jared yang sering bersikap tak acuh pada Devon, atau Kim, salah satu cewek di A-List yang juga sering tidak peduli pada Devon.

Kacaunya lagi, ternyata Jared menyukai Lexi. Devon langsung menyusun skenario lain jangan sampai Lexi tahu akan hal ini. Buntutnya, karena Devon lebih sering berkumpul dengan teman-teman barunya, persahabatannya dengan Mel jadi berantakan. Mel merasa disisihkan.

Masalah lain datang. Salah satu teman Jared, Luke, ternyata menyukai Devon. Devon makin bingung. Membuat ia harus berpikir keras bagaimana cara menuntaskan semuanya.

Kaya’nya sih cerita ini biasa aja. Untungnya si tokoh – Devon – bukan cewek yang biasa digambarkan sebagai ‘itik buruk rupa’ yang tiba-tiba menjelma jadi putri cantik Jelita. Devon hanya cewek biasa dengan tampang yang lumayan deh, hanya saja ia gak bisa jadi seseorang yang ‘menonjol’.

Kalo mau dibilang lucu… gak juga sih. Gue malah ribet ngebaca Devon yang selalu kalang-kabut nutupin kekonyolannya sendiri.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang