Wednesday, April 10, 2013

The Hunter




The Hunter (Pemburu)
(Judul Asli: Kogoeru Kiba)
Asa Nonami @ 1996
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – Desember 2012
536 hal.
(Gramedia Gandaria City)

Seorang laki-laki tewas terbakar di sebuah restoran keluarga. Peristiwa ini sungguh tidak biasa. Pertama, karena laki-laki ini tiba-tiba saja terbakar ketika baru duduk di dalam restoran itu, kedua, di sekitar tempat duduk tidak ada benda-benda pemicu terjadinya kebakaran, misalnya kabel listrik atau mungkin kompor, ketiga, ada bekas gigitan anjing di kakinya. Dan pria ini adalah satu-satunya korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Pihak kepolisian bekerja keras mencari bukti-bukti di tengah reruntuhan bangunan dan memeriksa mayat laki-laki tersebut. Dibentuklah sebuah tim untuk kasus ini. Tim tersebut terbagi untuk menyelidiki identitas dan latar belakang laki-laki tersebut, saksi mata di lokasi kejadian, para penyewa kantor yang ada di gedung yang sama dengan restoran keluarga, dan penyelidikan tentang kemungkinan digunakannya bahan peledak atau bom waktu yang menyebabkan laki-laki tersebut terbakar. Laki-laki ini belakangan diketahui bernama Takuma Sugawara atau dengan nama asli Teruo Hara.

Detektif Takako Otomichi, mantan polisi patroli sepeda motor, dipasangkan dengan detektif senior bernama Tamotsu Takizawa. Sejak awal mereka berdua dipasangkan, ‘suasana’ cenderung tak  bersahabat – pertama, karena sikap sini Takizawa, kedua, karena Otomichi yang perempuan. Langkanya keberadaan perempuan, membuat Otomochi dipandang sebelah mata. Di awal, Otomichi bersikap menjaga jarak, menjadi pengikut Takizawa dan cenderung diam. Bukan karena Otomichi begitu menghormati Takizawa, tapi bisa dibilang Otomichi juga gak terlalu senang dengan pasangannya yang kaku ini. Otomichi juga tak ingin terlihat lemah di hadapan Takizawa.

Kasus Teruo Hara belum menunjukkan titik terang, kembali ditemukan korban bernama Kazuki Horikawa. Korban ditemukan dalam keadaan mengerikan. Korban tewas digigit oleh anjing. Dilihat dari bekas gigitan, jejaknya sama dengan yang ada di tubuh Teruo Hara. Mulailah diselidiki lebih lanjut apa hubungan antara kedua pria ini.

Korban kembali berjatuhan dengan ciri-ciri yang sama – yaitu tewas karena serangan seekor anjing. Dan tampaknya, anjing ini bukanlah anjing biasa, melainkan anjing dengan ukuran tubuh yang tampaknya lebih besar daripada anjing lain.

Otomichi yang tekun mencatat, berkesimpulan bahwa bukan tidak mungkin anjing ini adalah perkawinan silang antara anjing dan serigala. Ciri-cirinya, anjing serigala ini akan menurut apa yang diperintahkan tuannya. Ia akan mengingat segala perintah dan akan menuntaskan tugas-tugas yang diberikan.

Siapa yang memiliki anjing serigala ini? Siapa yang melatihnya hingga mampu melakukan perbuatan yang mengerikan? Apa motifnya? Dendamkah? Hal ini yang menjadi fokus penyelidikan Takako Otomichi dan Takizawa.

Sementara itu, selain disibukkan dengan penyelidikan kasus pembunuhan berantai ini, pembaca juga diajak mengetahui apa yang ada di balik sosok kedua detektif ini. Persamaan dari keduanya adalah sama-sama sudah berpisah dengan pasangan masing-masing, sama-sama kesepiaan. Otomichi berpisah karena mantan suaminya selingkuh, sedangkan Takizawa ditinggal oleh istrinya. Untung dipasangkannya kedua detektif ini gak berujung pada kisah romantis. Meskipun sih, biar sedikit gengsi, mereka berdua saling peduli.

Otomichi sedang dalam masa ‘keemasan’ di karirnya, belakangan ia dipercaya untuk mengejar si anjing serigala ini dengan motornya. Adakalanya, ketika sedang mewawancarai saksi, Otomichi hanya duduk manis, membiarkan Takizawa yang akan terus memburu petunjuk baru dari saksi.

Sementara Takizawa yang semakin tua, terkadang agak susah bergerak karena tubuhnya yang menggemuk, tapi tak mengurangi kemampuannya untuk menganalisa jika ada petunjuk baru. Sosok Takizawa juga sering kali tak sabaran.

Ketika muncul petunjuk tentang ‘anjing-serigala’, gue sempat berpikir, apakah cerita ini akan mengarah ke cerita fantasi, apakah hewan itu adalah werewolf. Karena anjing serigala ini digambarkan cerdas dan mampu menyelesaikan tugas, meskipun tuannya tak ada di sampingnya. Tapi, namanya juga anjing-serigala, semakin banyak ‘darah’ serigala di dalam tubuhnya, maka sifatnya akan semakin mirip serigala, bukan lagi anjing.

Sosok polisi, khususnya Takizawa di sini tidak digambarkan sebagai  superheroes yang ganteng, dan berbadan bagus. Tapi, dengan masalah-masalah pribadi mereka, menjadikan mereka lebih manusiaswi, terutama sosok Takizawa yang mulai kewalahan dengan bentuk badannya.

Otomichi berusaha tampil menjadi perempuan yang kuat dan punya kemampuan di tengah-tengah dominasi kaum pria yang sering memandangnya sebelah mata hanya karena fisiknya dan sering meragukan kemampuannya. Tapi, saat-saat Otomichi mengejar si anjing serigala dengan motornya, rasanya jadi ‘adegan’ yang menggambarkan kebebasan – entah bagi Otomichi, juga bagi si anjing-serigala. Di sinilah Otomichi, kalau gue liat, berada di tempat yang ‘pas’.

Seperti novel-novel thriller Jepang yang beberapa kali gue baca, kembali digambarkan tindakan kriminal yang sadis dan bernuansa gelap.

3 comments:

Oky said...

Ini kemarin pas aku ke Togamas uda abis aja bukunya.. aku suka sih sama cerita misteri Jepang. Smeoga makin banyak terjemahan genre serupa :D

ferina said...

@Oky: sama, aku juga suka sama misteri jepang. sadis sih kadang2, tapi koq lebih sreg, dibanding kalo baca misteri2 ala Hollywood - suka terlalu klise kali ya

HobbyBuku said...

salah satu daftar must-read dlm timbunan, lebih menarik mana, ini dengn tokyo zodiac murder mbak ?

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang