Monday, December 23, 2013

Mary, Mary



 

Mary, Mary

Barokah Ruziati (Terj.)
GPU - 2013
456 hal.

Alex Cross menghadapi dua masalah pelik. Pertama, ia harus menghadapi masalah dalam kehidupan pribadinya sehubungan dengan hak asuh atas Alex Kecil. Kedua, di tengah-tengah liburan bersama keluarganya – yang tergolong langka – ia harus dipanggil untuk berurusan dengan kasus pembunuhan berantai dengan kode ‘Mary Smith’.

Sebuah pembunuhan berantai terjadi di Los Angeles, korbannya adalah artis Hollywood papan atas, seorang ibu yang tampak sempurna, dan punya posisi penting. Setelah melakukan pembunuhan yang sangat sadis, si pelaku meninggalkan ‘souvenir’ stiker anak-anak dengan huruf A, B, lalu ia mengirim email kepada pimpinan surat kabar LA Times, yang menceritakan kronologi, atau detail dari pembunuhan itu. Pihak kepolisian seolah menemui jalan buntu, belum tuntas pemeriksaan terhadap korban terakhir, korban baru justru muncul.

Ngaku salah satu penggemar buku-buku James Patterson, tapi baru sekali ini baca buku dari seri Alex Cross, itu pun udah seri ke 11 ternyata. Hmmm… jadinya gue rada gak tau nih latar belakang kehidupan Alex Cross sebelum ini. Sekilas info yang gue dapat di buku ini, istrinya tewas ditembak, punya dua anak yang beranjak ABG, sama satu anak – Alex Kecil – hasil hubungan dengan Christine, perempuan yang rada labil, yang juga pernah jadi tawanan gara-gara Alex.

Untuk kasus yang ditampilkan di sini, buat gue emang bikin pusing. Karena ‘jejak’ yang ditinggalkan si pembunuh nyaris tidak memberikan petunjuk apa-apa. Di cerita ini, pembaca akan dibuat ‘ngilu’ dengan sepak terjang si pelaku pembunuhan, motifnya samar-samar (dan untung terjawab di akhir cerita), meskipun sosok antagonis yang hanya diketahui lewat email-email yang dikirim cukup menggambarkan betapa ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Banyak yang menduga pembunuhnya adalah seorang wanita, tapi bagi Alex Cross nama ‘Mary Smith’ bisa berarti banyak – bisa laki-laki, bisa wanita pelakunya.

Apa motif si pelaku? Sticker yang ditinggalkan (buat gue) seolah menunjukkan ia punya masa lalu yang kurang baik di masa kecilnya, sehingga ia mengincar sosok wanita yang terlihat sempurna, tapi sebenarnya menyimpan cacat, sosok ibu yang dengan anak-anak yang manis, tapi sering lebih sibuk dengan aktivitas sosialnya. Tapi… apakah benar begitu motifnya? Lalu, apa maksud dengan huruf A, B yang juga ia tinggalkan?

3 bintang yang tadinya mau gue kasih, jadi berubah 4, karena gue cukup puas dengan pengambaran sosok Alex Cross – yang konon kabarnya adalah detektif handal, tapi juga ternyata adalah seorang laki-laki, seorang ayah yang rapuh, yang hanya ingin menjaga agar keluarganya tetap utuh dan aman. Dan juga karena ending yang mengejutkan, ketika gue pikir kasusnya selesai, eh... tau-tau ada kejutan lain yang dikasih.

Friday, December 20, 2013

Hey.. Hey... Siapa Dia... ??





Entah kenapa ya, gue koq selalu ngerasa ‘tahu’ bakal dapet buku apa untuk event Secret Santa… seperti tahun lalu, gue merasa bakal dapet buku Hetty Feather… eh.. bener, gue dapet buku itu… dan tahun ini, dari awal gue masukin buku ini ke dalam wishlist, gue berpikir, kaya’nya gue bakal dapet buku ini dari Secret Santa… dan… bener lagi deh, And the Mountain Echoed-nya Khaled Hosseini mendarat dengan manis di dalam sebuah kotak, yang di dalamnya juga ada souvenir cantik dari sang Secret Santa.


Di cross stitch itu tertulis petunjuknya dengan jelas…

Hmm…. Dan gue yakin, tahun ini gue akan sukses menebak siapa Secret Santa gue…. (kecuali ada yang bela-belain minta tolong si 'dia' untuk ngirim kado ke gue….)

Terima kasih banyak, Secret Santa, suka bukunya… suka souvenir cantiknya…

Tuesday, December 17, 2013

Babak Terakhir Drama Opera




Sherlock, Lupin & Aku #2: Babak Terakhir Drama Opera

(Sherlock, Lupin & Io #2: Ultimo atto al Teatro dell'Opera)

Irene Adler @ 2012(original idea by Pierdomenico Baccalario)
Tanti Susilawati (Terj.)
Bhuana Ilmu Publishing - 2013
277 hal.
Untuk usia 12 tahun ke atas

Sherlcok Holmes, Arséne Lupin dan Irene Adler bertemu kembali. Kali ini mereka bertemu di London. Irene diajak olehayahnya menonton drama opera yang menampilkan Ophelia Merridew, penyanyi sopran terkenal. Tak mudah untuk bepergian di tengah kondisi pasca perang, tapi toh demi seorang penyanyi terkenal, apa pun ditempuh. Kebetulan Irene juga belajar menyanyi, Ophelia Merridew adalah salah satu idolanya.

Setelah pertemuan mereka ketika liburan yang lalu, Sherlock, Arséne dan Irene tetap melanjutkan korespondensi mereka dengan saling berkirim surat. Kebetulan, Sherlock dan Lupin juga ada di London. Jadi, mereka pun berjanji untuk bertemu di sana.

Tapi, lagi-lagi ketiganya terlibat dalam sebuah misteri. Ayah Lupin, Théopraste Lupin, menjadi tersangka atas tewasnya Alfredo Santi, asisten komposer kenamaan, Giuseppe Barzini. Ayah Lupin terancam dihukum gantung. Belum lagi misteri itu tuntas, Ophelia Merridew juga dikabarkan menghilang.

Sherlock dan Irene membantu Arséne mencari bukti-bukti yang untuk membebaskan ayah Arsene.

Kalo gak inget Sherlock dan Lupin itu adalah tokoh fiksi, gue bakalan menyangka sosok Irene Adler ini beneran ada. Irene ini dikisahkan suka menulis, dan ia memutuskan menulis tentang petualangannya bersama Sherlock Holmes dan Arséne Lupin. Irene di sini berusia 12 tahun, rada-rada pemberontak, dalam arti gak suka tuh dengan acara minum teh bersama gadis-gadis seusianya, yang kerjanya hanya bergosip dan berdandan. Irene senang dengan adanya kebebasan.

Tapi ya, hati-hati nih… di buku ini ada adegan kissing curi-curi… dan namanya juga ABG deg-degan dong deketan sama dua cowok remaja yang selalu melindungi Irene. Sherlock dan Arséne berusaha jadi pahlawan untuk Irene.

Sherlock digambarkan sebagai remaja yang rada pendiam, serius tapi juga teliti. Tanda-tanda sebagai detektif handal mulai terlihat, senang bermain  biola tapi belum kelihatan ‘eksentrik’ seperti yang pernah gue baca di buku-buku Sir Arthur Conan Doyle. Sedangkan Arséne Lupin, yang konon katanya akan jadi  ‘pencuri yang baik hati’, terkesan lebih gesit dengan kemampuannya menyelinap atau mengendap-endap. Tapi, dia masih rada-rada ‘sungkan’ untuk mencuri, terutama di depan Irene.

Nih, gara-gara baca buku ini nih, gue jadi pengen baca novel yang ada Arséne Lupin dan Irene Adler-nya waktu mereka dewasa, kaya’nya terbitan Visi Media ya?

Untuk seri Sherlock, Lupin & Aku ini ada 5 seri – semoga semuanya diterjemahkan sama BIP.



Monday, December 16, 2013

Stargirl





Stargirl
Jerry Spinelli @ 2000
Scholastic – September 202
186 hal.
untuk usia 10 tahun ke atas

Stargirl adalah gadis yang unik, siapa nama sebenernya, tak banyak orang yang tahu. Sejak hari pertama ia datang ke Sekolah MICA, ia sudah memperlihatkan keunikannya – atau bagi sebagian orang, rada-rada aneh. Di jam makan siang, Stargirl akan menyanyikan lagu ulang tahun untuk siapa pun yang berulang tahun dengan ukulelenya, ia bisa tiba-tiba muncul di pemakaman seseorang meskipun tidak mengenal orang atau keluarga yang bersangkutan. Terpilih sebagai anggota tim pemandu sorak, ia tak hanya memberikan semangat bagi tim sekolah, tapi juga tim lawan. Bagi Stargirl, apa yang ia lakukan tidak ada yang salah, ia hanya memberikan perhatian pada hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang. Tapi bagi teman-teman sekolahnya, ia adalah anak yang gak normal, berbeda. Maka, Stargirl yang tadinya dipuji, mulai mendapatkan ejekan.

Dan ketika Stargirl mulai menjadi hubungan dengan Leo Borlock, mereka berdua dianggap tidak ada oleh teman-temannya mereka. Tapi demi Leo, Stargirl mencoba menjadi ‘normal’, seperti anak-anak lain, yang malah membuatnya tidak nyaman.

Kalau pas jaman-jaman masih sekolah dulu tuh, ada sesuatu yang gak ngikutin trend, koq rasanya gak enak banget. Rasanya kalo diliat temen-temen yang lain, pasti berasa aneh sendiri. Padahal, gak ada kewajiban juga kan untuk ngikutin mereka semua. Tapi, liat deh, anak-anak sekolahan tuh pasti nyaris tampil ‘seragam’. Padahal, yang seragam itu bukan berarti menunjukkan diri kita yang sebenarnya gak sih? #soktau …

Kaya’nya buku ini ‘wajib’ dibaca para ABG, biar berani untuk tampil beda – sedikit aneh ya gpp lah… yang penting nyaman dan berani menunjukkan siapa diri mereka, dan apa yang mereka sukai. Tapi.. meskipun beda, gak ada salahnya dengerin orang-orang di sekitarnya, liat orang-orang lain juga, apa nyaman dengan ‘perhatian’ yang tiba-tiba tertuju ke orang itu, kaya’ Stargirl yang nyanyiin lagu  Happy Birthday di tengah orang banyak, belum tentu si yang ulang tahun seneng tiba-tiba jadi pusat perhatian.

Gue suka permainan Stargirl – ‘menebak kartu yang pas untuk orang’ – mengamati orang yang gak dikenal, terus nebak, kira-kira ini orang pasnya dikirimin kartu apa … belajar untuk sekali-sekali peka dengan lingkungan.

Yang rada ‘ngeselin’, adalah Leo Borlock, dia suka sama Stargirl dengan segala keunikannya. Tapi, kenapa dia malah nyuruh Stargirl untuk berubah, bukannya ngebelain Stargirl untuk tetap cuek apa adanya.

Stargirl ini rada-rada mirip sama Luna Lovegood gak sih? Aneh, ajaib dan unik… 



Submitted for Fun Year Event with Children's Literature (category: realistic fiction)


Wednesday, December 04, 2013

Unwind




Unwind (Pemisahan Raga)
Mery Riansyah (Terj)
GPU – Agustus 2013
456 hal
(via Bukumoo123)

Untuk usia 13 tahun ke atas

Mendonorkan organ tubuh sesungguhnya tidaklah salah, dan tentunya bukanlah hal yang baru. Dan tentu saja apa pun yang didonorkan akan sangat berguna bagi yang membutuhkan, sebut saja donor ginjal atau donor mata. Biaya atau pun harganya tentulah sangat mahal, inilah yang menyebabkan donor illegal juga menjadi marak. Konon kabarnya, di Cina, donor illegal jadi bisnis. Harganya juga lebih ‘murah’ dibandingkan dengan yang resmi. Tapi masalah higienis atau ‘jaminan’ dari apa yang didonorkan juga jadi pertanyaan atau meragukan. Masalah donor ini diolah Nell Shusterman menjadi cerita yang bikin merinding kalau membayangkan prakteknya.

Dalam sebuah RUU Kehidupan, ada bagian mengenai Pemisahan Raga atau Unwind, di mana setiap anak mulai dari janin sampai 13 tahun tidak boleh dibunuh, sedangkan ketika anak itu mencapai usia 13-18 tahun, maka orang tua mereka boleh memilih apakah anak itu akan tetap ‘dipertahankan’, atau mereka para orang tua bisa menandatangani  surat untuk mengikutsertakan anak itu ke dalam proses Unwinding – di mana mereka akan menjalani proses Pemisahan Raga – seluruh anggota tubuh si anak akan ‘dipisah-pisah’ – dari ujung kaki sampai ujung kepala – bahkan sampai organ-organ bagian dalam. Si anak akan tetap ‘hidup’ dalam bentuk yang berbeda dengan di dalam tubuh orang lain. Lewat usia 18 tahun, maka anak itu akan menjadi manusia yang bebas.

Ajaibnya lagi, dalam RUU ini juga diatur mengenai anak dari hasil hubungan di luar pernikahan. Orang tua mereka ‘bebas’ meninggalkan anak mereka di depan pintu rumah orang lain – sepanjang tidak ketahuan. Dan orang yang ‘ditinggalin’ sama bayi, wajib merawat bayi itu sebagai anak adopsi. Dalam sebuah rumah, bukan tidak mungkin ada 2 atau 3 anak hasil adopsi.

Tiga tokoh utama dalam buku ini akan menjalani Proses Pemisahan Raga mereka. Connor, ‘diserahkan’ oleh orang tuanya karena mereka sudah tidak tahan dengan sikap Connor yang sering menyebabkan masalah. Ia tipe anak pemberontak, sukar mengendalikan emosinya.

Risa, seorang anak panti asuhan yang berbakat bermain piano, ia harus menjadi Unwind karena panti asuhan mereka sudah kekurangan tempat, sehingga ada anak-anak yang harus ‘dikorbankan’.

Lain lagi dengan Lev. Ia menjalani proses ini dengan sukarela. Lev tumbuh dalam keluarga yang sangat taat beragama. Proses ini sudah direncanakan sejak ia lahir. Sebagai anak terakhir, Lev adalah sebuah ‘persembahan’. Nah, anak-anak persembahan terkadang menganggap ‘derajat’ mereka lebih tinggi daripada Unwind lain.

Jika mereka sudah menjadi Unwind, maka tak ada pilihan lagi bagi mereka. Anak-anak ini akan dicekoki dengan doktrin bahwa mereka akan menjadi pahlawan, mereka akan sangat berguna bagi orang lain.

Ada anak-anak yang pasrah, ada anak-anak yang memberontak. Seperti Connor dan Risa. Di usia 13 tahun, mereka harus bersembunyi, menyelamatkan diri dan bertahan sampai usia 18 tahun. Karena jika tertangkap, maka mereka akan berakhir di meja operasi.

Membaca buku ini ada yang membuat gue ‘terganggu’. Sejak awal, sejak lembar pertama gue tahu apa itu Pemisahan Raga dan ketika Nell Shusterman ‘melengkapinya’ dengan gambaran sebuah proses pemisahan raga terhadap salah satu anak, dengan begitu smooth… perlahan, tapi pasti… dengan cara yang sangat bikin ngilu.

Dan gue ‘lega’ ketika tokoh Connor, Risa dan Lev tidak berakhir dan terjebak ke dalam sebuah cinta segitiga yang biasanya jadi pemanis di cerita-cerita dystopia. Mereka ini adalah remaja-remaja yang ‘terjebak’ karena gak punya pilihan, hingga akhirnya memutuskan untuk berontak. Dan apa yang mereka usahakan pada akhirnya, meskipun ‘sedikit’, menyulutkan semangat pada anak-anak Unwind lainnya. Bahkan dengan sebuah cerita yang singkat, tokoh antagonisnya bisa mendapatkan simpati gue.

Menutup buku ini, ada sebuah pertanyaan, apakah mungkin hal seperti ini benar-benar bakal ‘terjadi’, ketika dunia semakin padat dan gak ada pilihan lain untuk menekan laju penduduk? Dan, koq rasanya anak-anak usia jadi gak punya hak untuk bersuara dan berpendapat, semua jadi tergantung dengan keputusan orang tua.

Penghargaan yang pernah diraih untuk buku ini adalah Sakura Medal di tahun 2009.




The Dahlmanac




The Dahlmanac: A Year with Roald Dahl, Fun Facts and Jokes

Quentin Blake (Illustration)
Puffin Books
156 hal
(via BukuKoe)

Memutuskan membeli buku ini tanpa tahu isinya apa. Tapi, ya sudahlah, cukup melihat nama Roald Dahl di cover-nya, gak perlu alasan apa-apa lagi. Isinya sangat menyenangkan, lucu dan menghibur.

Dibagi dalam tiap bulan, yang masing-masing bulan diawali dengan surat yang ditulis Roald Dahl untuk ibunya atau saudara-saudaranya.

Tapi ya, namanya juga Roald Dahl, apa yang berkaitan dengan beliau pastinya unik dan ajaib. Almanak ini tidak diawali dari bulan Januari, tapi dari bulan September, sesuai dengan bulan kelahiran Roald Dahl. Isinya hal-hal sederhana aja yang berkaitan dengan Roald Dahl dan karya-karya beliau. Juga ada fakta-fakta – ada yang penting, ada yang ‘gak penting’, tapi ya sudahlah, tetap asyik untuk dibaca.

Mau tau resep memasak buaya yang enak… ada di buku ini. Es krim dengan pilihan rasa yang ajaib… ada juga di buku ini.

Buat penggemar Roadl Dahl, buku ini wajib untuk dikoleksi.


Friday, November 29, 2013

The Husband’s Secret




The Husband’s Secret
Penguin Books
416 hal
(via Bali Books)


Some secrets are meant to stay secret forever. Just ask Pandora.



Pernah dengar yang namanya Kotak Pandora? Dalam mitologi Yunani, Pandora adalah perempuan pertama yang diciptakan oleh Zeus. Pandora ini dinikahkan dengan Ephimetheus, saudara dari Prometheus yang dihukum karena membocorkan rahasia api milik para dewa. Sebagai hadiah, Zeus memberikan sebuah kotak yang indah dengan syarat, Pandora tidak boleh membuka kotak tersebut. Yah, tapi sesuatu yang dilarang kadang bikin penasaran, jadilah kotak itu dibuka. Dan akibatnya… segala keburukan pun menyebar dan menyerang umat manusia.

Yah, begitulah kira-kira sekilas info yang gue dapat dari om Wiki dan hasil browsing ke beberapa blog.

Nah, begitu deh, kadang-kadang manusia, udah dibilang jangan dibuka, jangan diliat, tapi justru malah makin penasaran. Kejadian yang sama dengan Cecilia Fitzpatrick waktu dia menemukan sebuah amplop yang sudah menguning dengan tulisan ‘to be opened only in event of my death’ Hmmm … begitu justru begitu menggoda untuk dibuka kan? Apa isi surat itu? Rahasia apa?

Sementara itu, Rachel Crowley, seorang perempuan yang di hari tuanya masih berduka karena kematian anak perempuannya, Janie. Selama ini ia tak pernah tahu siapa pembunuh anaknya dan apa motifnya. Meskipun ia mencurigai salah satu rekan kerjanya, yang juga dulu adalah teman Janie, bernama Connor Whitby, karena dialah orang yang diketahui terakhir terlihat bersama Janie.

Tess O’Leary, kembali ke rumah ibunya, untuk menjauhkan diri dari Will, suaminya, yang mengakui punya affair dengan sepupunya, Felicity.

Buku ini bercerita tentang 3 perempuan dengan rahasia mereka masing-masing. Seperti Desperate Housewives, di mana tiap tokoh tampak sempurna di luar, tapi menyimpan aib, masalah, duka dan rahasia sendiri-sendiri. Tokoh Cecilia Fitzpatrick mengingatkan gue sama Bree , sosok perempuan sempurna – ibu yang sigap, istri yang sempurna, sukses dengan karirnya sebagai agen Tupperware, supel, kreatif, suami yang tampan – yang konon semasa mudanya juga jadi calon menantu idaman para orang tua … duh, lengkaplah sebenarnya. Tapi, ketika ‘badai’ datang ke dalam keluarga sempurna mereka, Cecilia harus menutupi, menambal setiap retak yang diakibatkan oleh masalah itu.

Lalu Rachel Crowley, sosok nenek yang hangat, tapi rapuh. Ia berduka sendiri, menutup diri, berusaha ikhlas tapi toh masih menyimpan dendam. Tak pernah mema’afkan orang yang sudah membuatnya kehilangan anak perempuan satu-satunya. Dan sekarang, anak laki-lakinya, Rob pun berencana pergi jauh, ikut istrinya pindah ke New York.

Tess O’Leary – menjauh dari suami, justru kembali terjebak clbk dengan mantan pacarnya. Semudah itu berpaling, mencari pembenaran atas sikapnya sebagai ‘balasan’ untuk perbuatan suaminya.

Semua tokoh punya kisah sendiri-sendiri, meskipun mereka pernah saling mengenal di masa lalu mereka, meskipun tidak akran, tapi sebenarnya mereka punya kisah, rahasia yang saling terkait satu sama lain. Pada akhirnya, ada sebuah pertanyaan ‘what if?” seandainya begini… pasti kejadiannya akan lain’ Tapi, toh sebuah penyesalan selalu datang terlambat … ada yang jadi korban tapi ada juga yang akhirnya mendapatkan sebuah kebenaran.

Membaca buku ini, bikin perasaan ‘jungkir balik’. Mencoba berpihak pada yang satu, menyalahkan tokoh lain, tapi toh, mereka punya alasan masing-masing atas apa yang mereka lakukan. Ada bahagia, ada rasa pahit dan getir. Bikin perut diaduk-aduk gak karuan.

Buku karangan Liane Moriarty ini mendapatkan rating yang tinggi di goodreads. Thanks to Mia yang udah merekomendasikan buku ini. Dan jarang banget (atau malah belum pernah ya), gue baca buku karya dari penulis asal Australia dan ternyata gak kalah keren dengan penulis Amerika atau Inggris.

Carrie






Stephen King @ 1974
Gita Yuliani K. (Terj.)
GPU – Oktober 2013
256 Hal.
(via @HobbyBuku)

In Every Neighborhood
There is one family
With a secret
No one talks about

Carrie, gadis berusia 16 tahun yang selalu jadi bahan olok-olokan di sekolah. Semua orang memperlakukan Carrie dengan sangat kejam, lewat perbuatan atau kata-kata. Di usia 16 tahun, ia mendapatkan haid yang pertama, Carrie kaget. Ibunya sama sekali tidak pernah mempersiapkan Carrie untuk masalah yang satu ini.

Perlakukan ibu Carrie di rumah juga tidak membantu sama sekali. Margaret White, adalah seorang penganut Kristen yang fanatik. Baginya kelahiran Carrie adalah sebuah dosa besar, dan jika Carrie mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, Margaret langsung memintanya berdoa, mengaku dosa dengan kata-kata yang ekstrim. Padahal, terkadang Carrie ingin menjadi gadis normal, seperti teman-temannya yang lain,  bergaul dengan wajar tanpa jadi bahan ejekan dan dicap gadis aneh.

Salah satu kemampuan Carrie, adalah kemampuan telekinetis, yaitu kemampuan memindahkan benda-benda hanya dengan pikirannya. Yang pada akhirnya menciptakan sebuah malapetaka di kota kecil tempat ia tinggal, Chamberlein.

Di malam prom yang harusnya jadi kenangan indah untuk Carrie dan juga teman-temannya, berubah menjadi malam yang akan memberikan mimpi buruk bagi warga kota yang masih hidup.

Kalo ngeliat buku-buku Stephen King, yang terbayang pasti kisah-kisah horor berhantu, padahal ya, ternyata gak juga koq. Tepatnya adalah sebuah ‘teror’, atau beliau berhasil menciptakan sebuah suasana, keadaan di mana kita – atau paling gak gue sebagai pembaca merasa ‘tertekan’, merasakan situasi yang menegangkan dan bikin terasa gak nyaman.

Untuk Carrie sendiri, ‘teror’ yang dibuat oleh Carrie diceritakan secara perlahan-lahan, sehingga dari awal sudah ada gambaran akan sebuah keadaan yang mencekam. Lewat tulisan-tulisan yang menceritakan perilaku gadis bernama Carrie, lalu dari buku yang ditulis oleh Susan Snell, salah satu teman satu sekolah Carrie dan juga saksi hidup dari kejadian yang mencekam itu. Dan, ketika akhirnya tiba di bagian yang menggambarkan kejadian yang sebenarnya, gue merasa ada di tengah-tengah chaos, membayangkan murid-murid yang lagi happy di pesta prom, tiba-tiba berlarian dalam keadaan panik, kota yang tenang tiba-tiba tinggal puing-puing, berantakan dan sepi.

Perlakuan ibunya dan teman-temannya membentuk sebuah perasaan tertekan, yang ketika akhirnya gak bisa tertampung lagi, membuat Carrie meledak, yang ia pikirkan hanyalah membalas semua perlakukan teman-temannya. Bagi dia, adalah sebuah kesalahan datang ke prom night itu dan pada akhirnya membuat teman-teman dan nyaris seluruh penduduk Chamberlein membayar atas olok-olok yang ia terima.

Tapi, lewat tulisan-tulisan itu pula, gue mencoba memahami situasi yang dialami Carrie, menjadi anak dari ibu yang tertutup dan aneh, dilihat sebagai anak yang aneh, tidak populer. Mengalami bullying sejak kecil, dihina, diejek dan dipermalukan. Seperti buku 19 Minutes-nya Jodi Picoult, tentang anak yang juga mengalami bullying di sekolah, pada akhirnya mengambil tindakan yang ekstrim untuk mengakhiri segala perilaku gak adil itu. Bedanya, kalau 19 Minutes dikemas dalam cerita drama sehari-hari, Carrie dikemas dalam tema yang lebih mencekam, lebih menyoroti sosok Carrie dengan kemampuannya yang menciptakan tragedi itu.

Wednesday, November 27, 2013

Wishful Wednesday 54




Wishful Wednesday gue kali ini…. Simple aja…. Hehehehe

Liburan… ke pantai …

via Pinterest

Sambil baca buku ini:




The story begins in 1962. On a rocky patch of the sun-drenched Italian coastline, a young innkeeper, chest-deep in daydreams, looks on over the incandescent waters of the Ligurian Sea and spies an apparition: a tall, thin woman, a vision in white, approaching him on a boat. She is an actress, he soon learns, an American starlet, and she is dying.

And the story begins again today, half a world away, when an elderly Italian man shows up on a movie studio's back lot-searching for the mysterious woman he last saw at his hotel decades earlier.

What unfolds is a dazzling, yet deeply human, roller coaster of a novel, spanning fifty years and nearly as many lives. From the lavish set of Cleopatra to the shabby revelry of the Edinburgh Fringe Festival, Walter introduces us to the tangled lives of a dozen unforgettable characters: the starstruck Italian innkeeper and his long-lost love; the heroically preserved producer who once brought them together and his idealistic young assistant; the army veteran turned fledgling novelist and the rakish Richard Burton himself, whose appetites set the whole story in motion-along with the husbands and wives, lovers and dreamers, superstars and losers, who populate their world in the decades that follow.

Gloriously inventive, constantly surprising, Beautiful Ruins is a story of flawed yet fascinating people, navigating the rocky shores of their lives while clinging to their improbable dreams.


Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Friday, November 22, 2013

The Knife of Never Letting Go




Chaos Walking #1: The Knife of Never Letting Go
Patrick Ness @ 2008
Walker Books
479 hal
(untuk 12 tahun ke atas)

Tersebutlah sebuah kota bernama Prentisstown. Penduduk kota ini hanya terdiri dari para laki-laki. Konon para perempuan meninggal karena terkena wabah yang dibawa oleh para alien yang mereka sebut Spackle. Ketika anak laki-laki berumur 13 tahun, maka ia resmi menjadi seorang pria dewasa. Di kota ini, tak seorang pun bisa menyimpan rahasia, karena apa yang mereka pikirkan akan ‘terdengar’ oleh orang lain. Apa yang ada di hati seseorang, bisa ‘terbaca’. Bahkan, binatang pun bisa bicara. Inilah wabah itu. Hanya laki-laki yang pikirannya bisa didengar oleh semua orang, tapi apa yang ada di pikiran para perempuan tidak bisa didengar oleh laki-laki. Konon katanya, para perempuan gak tahan dengan ‘kebisingan’ itu, makanya secara perlahan, para perempuan meninggal dunia.

Di kota ini pula, yang namanya buku itu dilarang. Semua hanya mengikuti satu petunjuk dari Mayor Prentiss dan antek-anteknya.

Todd Hewitt adalah anak laki-laki terakhir yang ada di Prentisstown. Sebulan lagi, ia akan berumur 13 tahun dan resmi jadi pria dewasa. Ia tidak punya teman, karena ketika anak laki-laki menjadi dewasa, maka mereka gak mau berteman lagi dengan anak laki-laki lain. Tentu saja Todd excited menunggu datangnya usia 13 tahun itu. Todd yang yatim piatu diasuh oleh Ben dan Cillian, teman orang tua Todd.

Tapi, sebelum usia 13 tahun itu datang, secara tak sengaja Todd menemukan sebuah keanehan. Hal ini yang membuat Todd harus segera menyingkir dari Prentisstown dan menemukan sebuah Dunia Baru, di mana dunia tidaklah ‘sebising’ tempat Todd sekarang tinggal.

Tapi, tentunya tak mudah untuk menuju tempat itu, karena seluruh penduduk Prentisstown memburunya. Sebagai anak laki-laki terakhir, posisi Todd jadi ‘istimewa’. Ada tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh Mayor Prentiss. Di usia yang masih belia, Todd harus menempuh sebuah perjalanan panjang dan sulit. Belum lagi, orang-orang ‘gila’ yang ingin membunuhnya sebagai upaya ‘pembuktian’ diri.

Untungnya Todd gak sendiri, selain ditemani anjingnya Manchee, Todd bertemu dengan seorang gadis bernama Viola.

Buku ini untuk remaja, tapi ‘isu’ yang ada di buku ini lumayan berat. Mulai dari politik, gender dan bahkan agama. Mungkin gak setegang Hunger Games, tapi gue lebih tertarik untuk mengikuti serial ini daripada serial Matched (Ally Condie). Untung isinya bukan cerita dystopian ‘berbalut’ cinta segitiga. Gue suka karena di buku ini tokoh utamanya laki-laki, bukan perempuan plin-plan kaya’ di Matched (kenapa gue jadi sebel sama Matched ya?). 

Ada dua adegan yang bikin gue ngilu, yaitu ketika Todd harus milih antara Manchee dan Viola, dan ketika Todd harus pisah sama Ben untuk yang kedua kalinya.

Buku ini meraih penghargaan sebagai pemenang dari The Booktrust Teen Fiction. Dan, rasanya perlu segera nyari sequelnya – The Ask and the Answer dan Monster of Men. O ya, bahkan ada prekuelnya juga – The New World.

Submitted for:

Wednesday, November 20, 2013

Wishful Wednesday 53






Asyik… hari ini Wishful Wednesday edisi giveaway ya? Ucapin duluan deh, selamat ulang tahun untuk Astrid, wish you all the best dan semoga WW-nya bisa lanjut terus… biar pun belum pernah menang di giveaway WW ini, tapi seneng koq ikutan tiap minggu. Dan semoga 'perpuskecil'-nya, jadi perpus yang besar.

Dan.. untuk kali ini, akhirnya gue ‘menyerah’ juga, memasukkan buku ini ke dalam Wishful Wednesday, yang tampaknya jadi WW ‘sejuta umat’ di minggu ini. Yah, berhubung udah dibuka PO untuk buku terjemahannya.

Alasannya ya, apalagi kalau bukan karena nama besar dari JK Rowling, bikin buku ini layak untuk masuk wishlist.

Jadi ini #kodesekode-kodenya, untuk (calon) santa gue, seandainya gue masih juga, lagi-lagi kurang beruntung di giveaway.


Ini sinopsisnya:

Ketika seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon di Mayfair yang bersalju, polisi menetapkan bahwa ini kasus bunuh diri. Namun, kakak korban meragukan keputusan itu, dan menghubungi sang detektif partikelir, Cormoran Strike, untuk menyelidikinya

Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya---dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya...

Kisah misteri yang mencekam dan anggun, mengelana di antara atmosfer London yang pekat---dari jalanan Mayfair yang mewah dan sunyi, ke bar-bar suram di East End, hingga ke keriuhan Soho. The Cuckoo’s Calling adalah kisah misteri yang menawan.

Memperkenalkan Cormoran Strike, inilah novel kriminal pertama J.K. Rowling, menggunakan nama alias Robert Galbraith
.

Sesekali, muncul seorang detektif partikelir yang langsung merenggut imajinasi pembaca... [Galbraith] memiliki sentuhan ajaib dalam menggambarkan London dan memperkenalkan jagoan barunya.

Daily Mail

Yuk, ikutan merayakan ultah si pemilik WW ini. Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Monday, November 18, 2013

The Laureate’s Party






The Laureate’s Party
Red Fox - 2000
128  hal.
(via Bukumoo123)
Terpilih sebagai penulis pertama untuk Children Laureate, Quentin Blake diminta untuk membuat daftar yang berisi 50 buku anak-anak yang berkesan untuk beliau. Menurut Quentin Blake, ada buku-buku yang begitu berkesan hingga beliau dewasa,  bahkan sudah terbit dengan edisi yang terbaru, ada juga buku-buku yang baru beliau kenal tapi bagus dan juga membuatnya terkesan. Layaknya sebuah pesta, maka Quentin Blake mengundang teman-teman lama – pengen  bernostalgia tentang masa lalu, dan juga teman-teman baru, yang rasanya pengen untuk dikenal lebih jauh.

Jadi di dalam buku The Laureate’s Party ini, Quentin Blake memberikan referensi 50 buku untuk anak-anak, yang terdiri dari picture books, story books dan poetry books.

Wah, dari 50 judul buku, ternyata banyak yang ‘asing’ untuk gue. Di antara pilihan Grandpa Blake ini, yang familiar untuk gue ada  Beatrix Potter di bagian picture books, lalu Stuart Little, - E.B White, Five Children and It – E. Nesbit, Northern Light- Phillip Pullman. O ya, ada juga referensi buku untuk anak-anak yang lebih tua – mungkin sekitar 10 tahun ke atas kali ya, beliau kasih beberapa judul, seperti: Great Expectation – Charles Dickens, Through the Looking Glass and What Alice Found There – Lewis Caroll, atau Huckleberry Finn – Mark Twain, dan gak ketinggalan bukunya Roald Dahl dong. Di antara sekian banyak buku Roald Dahl yang dibuat ilustrasinya oleh Quentin Blake, beliau memilih The Esio Trot.

Quentin Blake menuliskan kesan-kesan kenapa beliau memilih 50 judul buku tersebut – entah karena kesan ketika pertama kali baca, karena temenan sama yang nulis atau gambar ilustrasi bukunya, atau juga karena ilustrasinya dibuat sendiri oleh beliau.

Gak puas hanya 50,  Quentin Blake kasih lagi 20 judul buku sebagai tambahan – di antaranya Northanger Abbey – Jane Austen, Christmas Carol – Charles Dickens, Catcher in the Rye – JD Salinger, Wind in the Willows – Kenneth Grahame atau Lord of the Flies – William Golding

Meskipun bukunya gak masuk dalam daftar, Quentin Blake juga menyebut nama JK Rowling dan Jacqueline Wilson di dalam pengantarnya.

Di akhir buku ini, ada lembar-lembar kosong untuk menulis daftar buku-buku favorit kita sendiri. Sampai 50 gak ya? Selain tentu saja ada ilustrasi dari Quentin Blake, buku ini bisa jadi referensi untuk cari buku anak-anak.

Dalam program Children's Laureate ini, penulis yang terpilih mengadakan serangkaian kegiatan untuk mempromosikan buku anak-anak, misalnya mengadakan acara baca di sekolah, pameran buku, kolaborasi menulis buku dengan penulis lain. Intinya, untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak dan memberi penghargaan bagi bacaan anak.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang