Friday, March 30, 2012

The Sweetness at the Bottom of the Pie



The Sweetness at the Bottom of the Pie
Bantam Books Mass Market Edition - 2009
373
(pinjem sama Astrid)

Flavia de Luce, gadis berusia 11 tahun. Tertarik dengan hal-hal yang berbau kimia. ‘Kelinci percobaannya’ adalah kakaknya sendiri. Flavia tinggal bersama ayahnya, Kolonel de Luce, dan dua kakak perempuannya Ophelia dan Daphne. Dunia Flavia dengan kedua kakaknya berbeda. Flavia juga sering jadi korban keisengan kakaknya. Tapi, kecerdikan Flavia lebih unggul dibanding mereka berdua. Flavia tidak mengenal sosok ibu mereka, Harriet yang sudah meninggal. Karena itu, kedua kakak Flavia sering mengejeknya.

Suatu hari, mulailah rangkain kejadian aneh di rumah mereka. Keluarga de Luce ini termasuk keluarga ‘terpandang’ di pedesaan Bishop’s Lacey. Bayangan gue nih, mereka tinggal seperti di ‘puri’. Keanehan pertama, ada seekor burung mati yang diletakkan di depan pintu dapur, ditambah lagi di paruh burung itu, ada sepucuk perangko. Dan, kemudian, ditemukan sosok mayat misterius di halaman rumah mereka. Flavia jadi orang terakhir yang melihat pria itu hidup.

Mulai deh insting Flavia ‘bekerja’. Flavia mulai merunut semua petunjuk yang ada, mencoba bermain detekfif-detektifan. Flavia bekerja sendiri, dan boleh dibilang dengan sangat teliti. Pengetahuannya tentang kimia ternyata memberi nilai tambah bagi Flavia dalam penyelidikan ini. Flavia juga pergi ke perpustakaan setempat, ke penginapan dan bahkan ke sekolah tempat ayahnya dulu belajar.

Semua menjadi satu rangkaian – kematian kepala sekolah, perangko yang hilang, mayat yang ditemukan di halaman rumah. Flavia harus bekerja keras untuk mencari bukti dan membebaskan ayahnya dari tuduhan pembunuhan.

Setting Inggris di tahun 1950, gue bisa membayangkan suasana pedesaan yang sepi. Awalnya gue gak terlalu suka dengan Flavia, rada sok tau dan mau ikut campur aja. Ada bagian-bagian yang membuat gue bosan (makanya rada lama gue menyelesaikan buku ini) Tapi, pelan-pelan, gue ikut hanyut dalam penyelidikan bersama Flavia. Rasa ingin tahu Flavia mengalahkan rasa takutnya. Ia gak takut naik ke menara di gedung sekolah demi melakukan ‘rekonstruksi’ kematian Mr. Twinning.

Thanks buat Astrid yang udah minjemin buku ini.

3 Buku Roald Dahl


1. The Twits (Keluarga Twit)
Roald Dahl @ 1980
Quentin Blake (Ilustrasi)
Yoke Octarina (Terj.)
GPU – Cet. III, Januari 2010
104 hal.
(Obral Gramedia Plaza Semanggi – 5000 rupiah saja :D)

Berkisah tentang pasangan Mr. & Mrs. Twit dengan sosok yang mengerikan, menjijikan dan menyebalkan. Liat Mr. Twit, seluruh wajahnya berambut dan gak pernah dicuci. Sisa-sisa makanan menempel di rambut wajahnya itu. Sedangkan Mrs. Twit, juga bertubuh gemuk, selalu membawa tongkat yang selain digunakan untuk membantunya berjalan juga untuk menyakit anak-anak atau hewan yang mengganggu.

Tingkah pasangan suami istri satu sama lain juga mengerikan. Mereka sering saling ngerjain, dan saling balas membalas dengan cara yang sadis. Misalnya, spaghetti Mr. Twit dicampur dengan cacing, dan Mr. Twit membalas dengan mengikat Mrs. Twit di balon udara dan membiarkannya terbang. Mereka juga suka menyakiti binatang.

Benar-benar pasangan yang mengerikan.



2. The Enormous Crocodile (Si Buaya Raksasa)
Roald Dahl @ 1978
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Mei 2006
64 hal.
(via inibuku.com)

Ini adalah cerita tentang seekor buaya yang ingin sekali makan anak kecil. Dia pun pamer ke teman-temannya di hutan, bahwa hari itu ia akan berpesta dengan menu anak kecil. Berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian anak-anak, tapi selalu saja digagalkan oleh para penghuni hutan yang tak menyukai cara-caranya.

Dan pada akhirnya, si buaya ini juga menghilang dengan cara yang ‘mengenaskan’


3. The Giraffe and the Pelly and Me (Si Jerapah dan si Pelly dan Aku)
Roald Dahl @ 1985
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Agustus 2006
80 hal.
(via inibuku.com)

Billy berkenalan dengan 3 ekor hewan dengan kemampuan yang menakjubkan. Si Jerapah, Si burung pelican dan si monyet. Trio ini membuka ‘usaha’ membersihkan jendela. Mereka bertiga punya peran masing-masing – si Jerapah dengan lehernya yang panjang, sanggup mencapai jendela tertinggi, sementara si Burung Pelikan menjadi ember dan si monyet yang bergerak lincah membersihkan semua jendela.

Ini buku yang paling ‘bersahabat’ di antara 3 buku Roald Dahl yang gue baca kali ini. Isinya karakter baik-baik, mereka bahkan menggagalkan sebuah usaha perampokan di rumah seorang Duke. Dan di akhir cerita, si Billy membuka kembali The Grubber, toko permen. Di sini, Mr. Willy Wonka ikut menyumbangkan permen-permennya yang ajaib

Perkenalan gue dengan Roald Dahl, berawal saat gue membaca Matilda, mungkn waktu SD. Saat itu, ya baca.. baca aja. Sedikit ngeri dengan karakter Miss Trunchbull. Tapi, saat membaca Mr. Twit, aduh ternyata, gak kalah sadis. Emang sih, apa yang berusaha diceritakan oleh Roald Dahl ada hal positifnya, seperti misalnya jangan nyakitin binatang – sama seperti yang ada di cerita Magic Finger, tapi kalo untuk diceritain ke anak kecil rasanya terlalu ‘sadis’.

Bahkan saat ada film Matilda di tv, gue ngajak Mika nonton, maunya sih gue pengen kasih tau, kalo gue suka sama bukunya dan ini juga salah satu film yang gue tonton, eh.. tapi, gak lama, Mika pun bilang, “Matiin aja, filmnya gak bagus.” Dan, gue jadi sedikit khawatir, kalo nanti Mika malah takut ke sekolah.

Tapi, terlepas dari semua itu, gue tetap suka dengan Roald Dahl, di balik karakter-karakter ajaibnya itu, cerita-ceritanya mampu menghibur gue dengan selera humor yang ajaib juga.

Tapi… sekarang, kenapa susah cari buku Roald Dahl yang satuan ya? Yang ada di Gramedia hanya yang box set. Rugi dong beli yang box set karena gue udah punya beberapa. Dan gue pengen juga nih, baca bukunya Roald Dahl yang bukan buku anak-anak.

Thursday, March 29, 2012

Character Thursday [3]

Jumpa lagi dengan Character Thursday, rules-nya masih sama: 
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop. 
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button. 
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
 4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit. 
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik… 

Kali ini, yang tampil adalah pasangan Mr. & Mrs. Twit dari The Twits-nya Roald Dahl. Berhubung baru aja tadi pagi gue selesai baca buku ini, jadi masih 'terbayang-bayang' dua sosok yang mengerikan plus 'sadis' ini. Gak pa-palah, sekali-sekali yang tampil karakter yang 'menyebalkan'. Reviewnya akan segera tampil di blog ini.

Ini Mr. &  Mrs. Twit hasil ilustrasi dari Quentin Blake: 

Kalo yang satu ini saat The Twits dipentaskan oleh Auckland Theater Company - sama-sama mengerikan dan menjijikan :) 

Tuesday, March 27, 2012

The Wizard of Oz


The Wizard of Oz
L. Frank Baum
Alva Indriani (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, Oktober 2010
206 hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Inilah pertama kali gue membaca buku The Wizard of Oz, yah, meskipun sering denger, tapi gue gak tau, seperti apa sih kisah The Wizard of Oz ini. Beruntung, Penerbit Atria menerbitkan terjemahan buku ini dan karena gue lagi punya sebuah ‘misi’, maka gue pun memutuskan untuk membeli buku ini.

Kisah ini lahir karena rasa ‘prihatin’ L. Frank Baum akan kisah fantasi yang beredar, tentang peri dan dunia sihir yang penuh ‘darah’ dan teror. Maka terciptalah sebuah dongeng sederhana, tapi penuh dengan petualangan dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari dongeng ini.

Si kecil Dorothy tiba di sebuah kota yang indah berwarna biru, kota para Munchkin. Berbeda jauh dengan Kansas, kota tempat Dorothy tinggal bersama paman dan bibinya. Sebuah kota abu-abu, gersang dan suram. Angin puting-beliung menerbangkan rumah Dorothy. Dorothy yang tak sempat bersembunyi di ruang persembunyian ikut terbang bersama rumah itu, termasuk juga Toto, anjing milik Dorothy.

Karena rumah Dorothy ‘tanpa sengaja’ jatuh di atas tubuh si Penyihir Jahat dari Timur, Dorothy pun dianggap pahlawan. Tapi, keinginan Dorothy hanya satu, yaitu kembali ke Kansas. Atas petunjuk Penyihir Baik dari Utara, Dorothy dianjurkan untuk bertemu Penyihir Hebat Oz.

Dimulailah perjalanan panjang Dorothy bersama Toto, menyusuri batu bata kuning menuju negeri Zambrud, negeri Penyihir Hebat Oz. Dalam perjalanan itu, Dorothy bertemu dengan Boneka Jerami yang menginginkan otak, Tin Woodman, si manusia kaleng yang menginginkan hati dan Singa Penakut yang ingin memiliki keberanian. Bersama teman-teman barunya, dengan keyakinan penuh Dorothy pergi menuju negeri Zambrud.

Tapi, untuk menemui Penyihir Hebat Oz pun tak mudah. Tak seorang pun tahu, seperti apa wujud pasti Oz, wujudnya selalu berubah-ubah. Dan ternyata tak mudah untuk mendapatkan apa yang dinginkan oleh mereka berempat. Mereka harus melakukan sesuatu dulu untuk Oz, baru keinginan mereka akan dikabulkan.

Baca buku ini, rasanya kembali ke masa kecil, masa-masa berkhayal, membaca buku-buku petualangan yang ringan. Gak perlu deh, petualangan yang bikin deg-degan, bikin tegang, tapi seperti Dorothy, di setiap langkahnya, dalam perjalanannya, ia selalu menemui hal-hal baru, seperti menyelamatkan Boneka Jerami, menolong Tin Woodman, ketemu Singa, Monyet Terbang, kaum Munchin dan Winkie yang lucu. Dan, satu pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah kesetiakawanan, rasa empati dan tolong-menolong. Menjelang akhir cerita, ketiga teman baru Dorothy yang sudah punya kedudukan enak, tetap menemani Dorothy sampai bertemu jalan pulang. Dan saat yang satu lagi kesusahan, yang lain merasa kehilangan dan dengan sigak membantu.

Gue ketawa waktu tau wujud asli Penyihir Hebat Oz itu. Klimaks yang kocak.. hehehe…

O ya, ada satu koreksi di halaman 125, yang tertulis: “… Dorothy berlari ke halaman untuk memberitahu bahwa Tukang Sihir Jahat dari Timur telah tewas … “ Padahal seharusnya Tukang Sihir dari Barat kan? Iya kan? Karena kalo Tukang Sihir Jahat dari Timur udah ketauan dari awal tewasnya.

*seharusnya ini buat posting bareng BBI, tapi telat.. kelupaan tanggalnya*

Thursday, March 22, 2012

Character Thursday [2]


Seperti biasa, peraturannya adalah:

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Character Thursday kali ini adalah The Famous Five alias Lima Sekawan. Baru aja baca buku Lima Sekawan yang pertama - Di Pulau Harta. Jadi kangen sama mereka. Pengen bernostalgia, inget-inget bacaan jaman SD, terus pengen liat filmnya lagi.







Julian yang paling tua, yang paling cool dan sabar. Dick, yang suka gak sabaran. Anne, yang penakut dan paling kecil. Plus, George, anak perempuan tomboi, dan pengen banget jadi anak laki-laki. Gak ketinggalan, Timmy, anjingnya George yang setia menemani mereka bertualang.

Seneng banget rasanya kalo ngebayangin 'bertualang' sama mereka. Berkemah di Pulau Kirrin, piknik dengan bekal yang yummy-yummy.

Ah... kangen... *sruput limun jahe*

Wednesday, March 21, 2012

Wishful Wednesday [3]


Sebelum gue share Wishful Wednesday yang ke-3, rules-nya adalah:

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3 .Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Wishful Wednesday kali ini adalah: Novel Destinations: Literary Landmarks from Jane Austen's Bath to Ernest Hemingway's Key West (Shannon McKenna Schmidt & Joni Rendon).


Gak sengaja liat buku ini waktu iseng-iseng mampir ke Times di Plaza Semanggi. Tentu saja yang pertama kali menarik perhatian gue adalah covernya - Si Koper yang berisi tumpukan buku itu (eh, koq mirip cover The Journey-nya Gagas Media ya?)

Buku ini bisa dibilang sebuah 'napak tilas' ke tempat-tempat yang disebut dalam novel, seperti Bath yang ada di buku-buku Jane Austen atau menjelajah kota London seperti Charles Dickens ,. Sebuah buku 'travel' dalam bentuk yang berbeda.

Asyik kan bisa 'jalan-jalan' ke tempat-tempat yang di buku favorit :)

Ini sinopsis dari goodreads:

It’s often said that a good book takes us somewhere we’ve never been before, and here’s the proof: a book-lover’s Baedeker to more than 500 literary locales across the United States and Europe. Novel Destinations invites readers to follow in the footsteps of much-loved authors, discover the scenes that sparked their imaginations, glimpse the lives they led, and share a bit of the experiences they transformed so eloquently into print. If you’re looking to indulge in literary adventure, you’ll find all the inspiration and information you need here, along with behind-the-scenes stories such as these:

After Ernest Hemingway survived two near-fatal plane crashes during an African safari, he perused his obituaries and sipped champagne on a canal-side terrace in Venice.

Washington Irving's wisteria-draped cottage in the Hudson Valley was once occupied by members of the Van Tassel family, immortalized in The Legend of Sleepy Hollow.

A mysterious incident at a stone tower near Dublin made such a vivid impression on James Joyce that he drew on it for the opening scene of Ulysses.

Sir Arthur Conan Doyle consulted on the mystery of Agatha Christie's 1926 disappearance before she resurfaced under an assumed name in northern England.

Nathaniel Hawthorne’s The House of the Seven Gables was inspired by a seaside manse in Salem, Massachusetts, infamous witch trials in which his ancestor played a role.

Tuesday, March 20, 2012

Teaser Tuesdays [1]


Teaser Tuesdays is a weekly bookish meme, hosted by MizB of Should Be Reading. Anyone can play along! Just do the following:

- Grab your current read
- Open to a random page
- Share two (2) “teaser” sentences from somewhere on that page
- BE CAREFUL NOT TO INCLUDE SPOILERS! (make sure that what you share doesn’t give too much away! You don’t want to ruin the book for others!)
- Share the title & author, too, so that other TT participants can add the book to their TBR Lists if they like your teasers!

Teaser Tuesday pertama dari Harun dan Samudra Dongeng (Salman Rushdie)


Ia tahu pasti hal yang diketahuinya: bahwa dunia nyata penuh dengan keajaiban dan dunia keajaiban tak mudah menjadi nyata.
(hal. 50)

Thursday, March 15, 2012

Character Thursday [1]

Setelah dua minggu tertunda, akhirnya hari ini ‘berhasil’ ikutan blog hop –nya Fanda. Peraturannya adalah:

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Berhubung gue lagi baca A Flavia de Luce Mystery: The Sweetness at the Bottom of the Pie, makanya Character Thursday pilihan gue jatuh pada Flavia de Luce.


Flavia de Luce, gadis berumur 11 tahun. Tergila-gila sama yang namanya kimia. Dia punya ruang percobaan sendiri, dan hmmm… maunya ikut campur dalam misteri pembunuhan yang terjadi di halaman rumahnya sendiri.

Bayangan gue, Flavia ini gadis yang sok tau, sok mau ikut kerjaan orang gede. Suka banget ngerjain kakak-kakaknya. Merasa dirinya lebih pintar dibanding dua kakaknya itu.

Silahkan liat trailer-nya untuk lebih tau sosok Flavia de Luce.

Wednesday, March 14, 2012

Pollyanna


Pollyanna
Eleanor H. Porter @ 1913
Rini Nurul Badriah (Terj.)
Orange Books – Cet. I, Mei 2010
312 hal.
(hadiah #TebakDickens @bacaklasik)

Selama bertahun-tahun hidup sendiri, Miss Polly menerima kabar bahwa keponakannya, Pollyana, akan datang dan tinggal bersamanya. Kabar ini jelas merupakan suatu kejutan. Hubungan dengan mendiang ibu Pollyana tidak begitu baik. Bahkan bisa dibilang komunikasi terputus semenjak adiknya itu lebih memilih menikah dengan seorang pendeta daripada dengan seorang pria kaya. Pollyana kini yatim piatu, sehingga tak ada pilihan lain, selain menyerahkan perwalian Pollyana kepada Miss Polly.

Miss Polly sudah menyiapkan kamar yang panas, pengap dan gelap di loteng. Memang sih, Miss Polly ini dikenal sebagai perempuan yang kaku, serba teratur dan konon, menurut gosip yang beredar, ia pernah patah hati sehingga hingga akhirnya memilih menyendiri.

Pollyana datang dengan penuh suka cita dan keceriaan. Kepolosan sebagai anak kecil membuat banyak orang luluh hatinya. Sebut saja Mrs. Snow yang banyak maunya atau Mr. Pendelton yang jutek. Belum lagi, dengan polosnya Pollyanna membawa pulang seekor kucing dan anjing yang dipungutnya dari tengah jalan. Ooo.. itu belum apa-apa.. dibanding apa yang dibawa pulang berikutnya oleh Pollyanna.

Hanya Bibi Polly yang tampaknya adalah satu-satunya orang yang masih belum menerima keceriaan dan spontanitas yang ada pada diri Pollyanna.

Sebenernya dibalik keceriaan itu, tidak berarti Pollyana tidak pernah bersedih. Hanya saja, sebuah ‘permainan’ yang diciptakan ayahnya yang membuatnya selalu bisa berpikir positif. Dan, saat ia sendiri mengalami musibah, keceriaan apa yang bisa membuatnya kembali tersenyum?

Di awal-awal buku ini, gue teringat dengan sosok Anne di Anne of Green Gables. Anak yatim-piatu yang terpaksa tinggal dengan orang lain. Sama ceria-nya, sama-sama suka mengkhayal, meskipun dengan cara yang berbeda. Meskipun emang sih, gue sempet merasa si Pollyanna ini ‘ganggu’ banget. Semua orang ditegor, meskipun cemberut dan dijutekin, Pollyanna pantang menyerah.

Tapi, liat sisi positif dari ‘keberadaan’nya. Ini seperti cerita ‘Pay It Forward’. Sesuatu yang kecil, bisa menimbulkan efek yang besar.

*Buku ke 4 untuk 'Name in a Book Challenge 2012' - hosted by Blog Buku Fanda

Wishful Wednesday [2]

Setelah minggu lalu 'absen' ikutan Wishful Wednesday, minggu ini akhirnya bisa ikutan lagi.


  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Untuk Wishful Wednesday kali ini adalah George's Cosmic Treasure Hunt (George Berburu Harta Karun).

Cover-nya yang cerah banget. Dan, setelah membaca yang pertama dulu, George's Secret Key to the Universe, gue menunggu-nunggu kapan ya lanjutannya bakal diterjemahin.


Serunya buku ini, ada gambar-gambar tentang luar angkasa, planet-planet dan lain-lain. Serasa baca ensiklopedi dalam bentuk yang lebih 'menyenangkan'. Hehehehe...

Berhubung gue lagi ngumpulin buku anak-anak buat Mika, buku ini tentu saja masuk ke dalam daftar. (moga-moga aja, nanti Mika tertarik buat baca... kalo gak, yah, buat koleksi mama-nya aja lah).

Thursday, March 08, 2012

Hafalan Shalat Delisa


Hafalan Shalat Delisa
Tere LiyeJustify FullPenerbit Republika – Cet. XIII, Februari 2011
270 Hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

"Delisa cinta Ummi karena Allah...."
"Delisa cinta Abi karena Allah...."

Lama gue mendengar tentang novel ini. Mendengar komentar orang yang membaca buku yang mengharu-biru. Tapi, gue belum tergerak untuk membeli, meminjam atau membacanya. Bahkan, setelah dibuat film-nya pun, gue juga belum pengen baca buku yang menuai banyak pujian dan di goodreads.com pun rata-rata memberi bintang 4-5.

Tapi, yang membuat gue akhirnya penasaran dengan buku ini adalah saat dua orang teman di BBI – yang non-muslim, membaca buku ini dan memberi bintang yang tinggi. Wah… ada apa dengan buku ini?

Akhirnya, dari hasil muter-muter tanpa tujuan di Gramedia Plaza Semanggi, gue memutuskan membeli buku ini dan segera membacanya.

Cerita diawali dengan keluguan dan kepolosan sebuah keluarga di pagi hari. Saat subuh, saling menggoda saat si kecil Delisa yang berusia 5 tahun susah bangun. Keharmonisan sebuah keluarga terlihat dari awal. Ya, kalo pun ada cemburu, iri, ngambek dan marah-marahan, maklum aja deh, namanya juga kakak-adik,

Delisa ini akan segera menghadapi ujian hafalan bacaan sholat. Ummi sudah menjanjikan sebuah kalung cantik jika Delisa berhasil lulus ujian itu. Ditambah iming-iming sepeda dari Abi yang bekerja di lepas pantai di sebuah perusahaan minyak.

Di pagi yang cerah, tanggal 26 Desember 2004, pantai Lhok Nga dipenuhi orang-orang yang sedang bermain dan Delisa bersiap-siap untuk menyelesaikan ujian itu. Tapi, petaka datang, Delisa pun gagal. Bukan karena ia belum hafal, tapi tsunami menghapus semua mimpi dan kebahagiaan yang ada.

Ia kehilangan ketiga kakaknya dan Ummi tidak diketahui keberadaannya. Bahkan Delisa harus kehilangan salah satu kakinya. Beruntung Abi segera pulang dan menjemput Delisa.

"Kau memiliki lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan seisinya,Sayang.”
_Hal.99

Di tengah-tengah cobaan, Delisa tetap ceria dan polos. Meskipun rindu Ummi dan kakak-kakakknya. Dan satu yang pasti, Delisa tetap berusaha menyelesaikan hafalan shalat yang sempat tertunda. Hingga akhirnya, ia mampu sujud dengan sempurna, khusyuk dan ikhlas.

Berulang kali gue mengucap Istighfar kala membaca buku ini. Ada haru dan ada rasa malu. Meskipun ini hanya kisah fiksi yang mengambil latar belakang peristiwa tsunami di Aceh, tapi, tetap saja, tokoh gadis cilik ini seolah menegur gue yang sholat masih suka bolong dan gak khusuk, yang suka gak iklas setiap ada cobaan, yang masih sering mengharap pamrih dan lain-lainnya.

“Orang-orang yang kesulitan melakuan kebaikan itu, mungkin karena hatinya, Delisa…. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan…”
_ hal 245.

"Maha Suci Engkau, ya Allah! Yang selalu menepati janji. Cukuplah percaya dengan satu janjiMu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih baik … Semua akan terasa jauh lebih indah! Yakinlah!"
_hal. 262

Betapa gue masih juga suka kurang bersyukur, masih selalu berasa kurang. Padahal, coba liat Delisa, di tengah cobaan yang begitu dahsyat, dia masih bisa tersenyum.

Buku kedua Tere Liye yang gue baca. Dua-duanya bercerita tentang kesederhanaan, tapi toh mampu memikat banyak pembaca. Menurut pengakuannya, beliau belum pernah ke Aceh, tapi saat mendengar berita tsunami ini, beliau berjanji untuk memberikan sesuatu untuk anak-anak Aceh. Catatan-catatan kaki di dalam buku ini membuat tokoh Delisa jadi lebih nyata. Seolah bukan beliau tak hanya menulis, tapi menyaksikan sendiri bagaimana susahnya Delisa yang masih polos ini menghafal bacaan sholat dan betapa berat cobaain untuk gadis sekecil Delisa.

Monday, March 05, 2012

Anak Sejuta Bintang

Anak Sejuta Bintang
Akmal Nasery Basral @ 2012
Penerbit Expose – Cet. I, Januari 2012
405 hal.
(hadiah #twitteriak)


Beruntung gue mendapatkan hadiah novel ini dari program #twit_teriak yang ‘bintang tamu’nya penulis sendiri. Dilihat dari judulnya, buku ini langsung menarik hati gue. Dan lagi, Akmal Nasery Basral menulis novel biografis setelah Presiden Prawiranegara

Bercerita tentang masa kecil seorang Aburizal Bakrie (ayooo.. siapa yang gak tau tokoh yang dipanggil Ical ini?) Nama Bakrie kerap menghias berita-berita di Koran, entah karena kontroversi seputar lumpur Lapindo, perusahaan yang bertebaran di mana-mana, atau tabloid gosip. Dalam novel ini, cerita berkisar mulai dari Ical yang berusia 3 tahun sampai Ical lulus SD.

Ical, adalah anak tertua dari 4 bersaudara. Dibesarkan dengan cara yang sangat demokratis, penuh kasih sayang dan memiliki orang tua yang sangat sabar. Ayah Ical, bapak Ahmad Bakrie, sedang merintis kembali usahanya yang sempat terpuruk. Meski dalam keadaan susah, beliau tetap selalu berusaha membantu orang dan memberikan yang terbaik. Tapi, yah, sejak kecil memang sudah digambarkan bahwa Ical memang berasal dari keluarga yang cukup mapan meski sedang susah. Kerap liburan ke villa di Cipanas, ke sekolah di antar mobil, makan di restoran yang terbilang mewah. Memang sih, ayah Ical bercerita bahwa beliau sudah biasa mencari uang sejak kecil.

Memberi sesuatu yang kita senangi kepada orang lain itu selalu membuat hati kita bahagia. Rezeki kita pasti akan bertambah jika kita bisa lebih ikhlas
(Hal. 132)

Ical digambarkan sebagai anak yang baik, penurut, berani, punya inisiatif. Rasanya, nyaris tak ada kenakalan yang dilakukan olehnya. Suka dengan sepak bola, pintar. Selama di SD, hampir selalu jadi juara kelas. Temannya banyak.

Satu pesan di dalam buku ini yang membekas, adalah:

Anak laki2 itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangan untuk menyampaikan keinginan.
(Hal. 149)

Yah, terlepas dari kontroversi siapa tokoh yang diceritakan dalam novel ini, yang beberapa orang bilang sebagai ‘pencitraan’, alur ceritanya buat gue bagus. Kalimat-kalimat yang dipakai membuat gue betah mengikuti novel ini. Kalau bukan karena ditulis dalam bentuk novel, belum tentu juga sih gue akan membeli dan membaca buku tentang tokoh dalam novel ini.

Tapi emang sih, apa yang digambarkan dalam novel ini tampak begitu ‘sempurna’. Semua tokoh nyaris tak ada cacat. Orang tua yang sangat sabar, gak pernah marah. Anak-anak yang baik-baik – kecuali yah, suka bertengkar antar saudara. Mungkin lebih ‘pas’ kalo ada sesuatu yang ‘cacat’ dalam kisah ini. Biar lebih manusiawi gitu.

Dan, asyik juga kali, kalo ada beberapa patah kata, komentar dari teman-teman Ical selama sekolah di Yayasan Perwari itu.

Wednesday, February 29, 2012

Wishful Wednesday [1]

Ada 'mainan' baru nih di blog, namanya Wishful Wednesday. Ikutan blog hop-nya Astrid. Yah, mengkhayal boleh lah, kali-kali ada yang membaca #kode yang ada di sini. Hehehe...

Ini aturan mainnya:
1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Nah, untuk yang pertama, adalah buku-bukunya Haruki Murakami tapi yang covernya terbitan Vintage.



Pertama gue membaca buku Murakami, Kafka on Shore, gue rada gak ngerti dengan jalan cerita yang 'ajaib' itu. Ditambah isinya yang lumayan vulgar. Tapi, saat gue membaca kumpulan cerita 'Birthday Stories', tiba-tiba gue jadi penasaran dengan karya-karya beliau yang lain. Ditambah lagi, cover terbitan Vintage yang unik. Gak banyak warna, paling hitam, putih, abu-abu, atau kadang plus warna merah.

Sejauh ini, yang tambahan baru di koleksi Haruki Murakami gue adalah Dance.. Dance.. Dance... Semoga kesampaian untuk nambah dengan buku yang lain.

Rumah di Seribu Ombak

Rumah di Seribu Ombak
Erwin Arnada
Gagas Media - Cet. I, 2011
388 hal.
(Gramedia Plasa Semanggi)

“Allah memberkati kita dengan keberanian. Rasa takut adalah hal yang kita ciptakan sendiri. Perasaan apa yang nanti menguasai kita adalah pilihan kita sendiri…”
(hal. 197)


Bicara tentang Bali, pastinya gak pernah lepas dari yang namanya pantai. Gak afdol, kalo ke Bali, gak main-main di pantai, meskipun hanya sebentar.

Gak terkecuali buku ini. Berkisah tentang persahabatan antara Samihi dan Wayan Manik – atau yang akrab dipanggil Yanik. Semua bermula ketika Yanik menyelamatkan Samihi dari keroyokan anak-anak yang ingin mencuri sepedanya. Sejak itulah, di mana ada Samihi, hampir selalu ada Yanik.

Yang membuat persahabatan mereka jadi unik, adalah latar belakang yang berbeda. Samihi beragama Islam dan Yanik beragama Hindu. Mereka berdua tinggal di Desa Kalidukuh, Singaraja. Daerah ini memang terkenal dengan penduduknya yang mayoritas Muslim. Dua kelompok penduduk dengan keyakinan yang berbeda ini hidup berdampingan dengan rukun.

Samihi mempunyai trauma takut dengan air. Gara-gara kakaknya yang meninggal karena tenggelam di laut. Sementara Yanik, adalah anak pantai sejati. Pantai Lovina yang terkenal dengan lumba-lumbanya itu adalah tempat Yanik menghabiskan waktunya. Tempat bergantung untuk mencari nafkah sekaligus berselancar. Yanik lah yang berperan besar dalam membentuk Samihi menjadi anak yang lebih tangguh dan percaya diri.



Sayangnya persahabatan mereka harus ‘terhenti’, sebuah luka lama terkoyak. Yanik ternyata menyimpan cerita sedih. Awalnya cerita ini adalah sebuah rahasia. Yanik berbagi dengan Samihi, yang sudah berjanji untuk tidak menceritakan kembali pada siapa pun. Tapi, demi menyelamatkan sahabatnya itu, justru Samihi harus ‘membongkar’ rahasia itu pada polisi adat. Sejak saat itu, persabahatan mereka mulai renggang.

Cerita dalam buku ini sederhana, tapi makna tidak sesederhana itu. Di tengah kondisi Indonesia yang kadang beda dikit bentrok, ada ormas-ormas yang merasa lebih baik dari pihak lain, dikit-dikit ribut, bentrok. Aduh.. bikin suasana jadi gak tenang. Baca buku ini, rasanya jadi ademmmm… judulnya udah ‘indah’, terkesan romantis (hahaha.. banyak yang kecele dengan judulnya nih), covernya juga teduh… cara penuturannya juga tenang banget. Tapi, endingnya.. huhuhuhu…. Sedih sekali…

Ditulis oleh Erwin Arnada, mantan pemred majalah yang bikin heboh itu. Novel ini sendiri hasil karya selama mendekam di LP Cipinang dan akan segera beredar film-nya.

Murder on the Orient Express


Murder on the Orient Express
(Pembunuhan di Orient Express)
Agatha Christie @ 1920
GPU – Cet, VIII, Juli 2007

Hercule Poirot, si detektif bertubuh mungil, berkepala bulat telur dengan kumis melintang dan sangat apik, menolak orang yang meminta pertolongannya, hanya gara-gara dia gak suka sama wajah si orang itu. Dan, malamnya, orang itu ditemukan tewas.

Hercule Poirot sedang dalam perjalanan kembali ke London menggunakan kereta api Orient Express. Seperti biasa, Poirot mengamati semua penumpang yang ada di kereta itu. Ia menilai karakter masing-masing orang dari pengamatan sekilasnya itu.

Orang yang meminta pertolongannya bernama Ratchett, seorang pengusaha asal Amerika. Kematian Rachett cukup menimbulkan kegemparan di kereta itu. Apalagi saat itu, kereta Orient Express terjebak dalam badai salju dan tak bisa jalan.

Untung di dalam kereta itu ada Poirot dan seorang dokter bernama Dokter Constantine yang membantu menyelidiki dan menganalisa kejadia mengerikan di kereta itu. Dari hasil analisa, kemungkinan pelakunya kidal, tapi koq ada juga yang diperkirakan pakai tangan kanan. Direktur kereta api, berpendapat, bisa jadi pelakunya perempuan yang sangat marah, yang katanya kalo lagi emosi, jadi sangat bertenaga.

Satu per satu penumpang dipanggil untuk diwawancara – di antaranya pelayan dan sekretaris Rachett, seorang perempuan bernama Mrs. Hubbard yang selalu menyebut-nyebut ‘Putri saya’ dalam setiap percakapannya, pasangan ningrat asal Hongaria – Count dan Countess Andrenyi, bangsawan asal Rusia – Putri Dragomiroff yang katanya berwajah seperti kodok beserta pelayannya, Hildegarde Schmidt, seorang guru asal Inggris, Mary Debenham, yang dicurigai karena percakapannya dengan Kolonel Arbuthnot dan orang Italia bernama Antonio Foscarelli.

Dengan rapi, Poirot menyusun hasil wawancara, mencocokkan alibi mereka dengan perkiraan waktu kejadian, mengamati sikap mereka yang luput dari pemeriksa yang lain. Sekecil apa pun itu, Poirot bisa menemukan fakta yang tersembunyi, yang cukup mengejutkan.

Setelah sekian lama, akhirnya baca Agatha Christie lagi. Perkenalan pertama dengan tante Agatha ini dari buku papa yang judulnya ‘Tirai’. Terus, sempet koleksi deh, ehhh.. dipinjem.. gak balik. Akhirnya, malah ada beberapa yang dikasih ke sodara-sodara. Favorit gue adalah 10 Anak Negro. Bikin merinding. Satu hari, gue sekeluarga lagi liburan di Puncak, nginep di villa gitu deh. Nah, pas malemnya ada film akhir pekan, setting-nya di pedesaan di Indonesia, ceritanya mirip dengan cerita 10 Anak Negro ini. Gue langsung merinding, karena setting di film itu sama dengan tempat gue waktu itu. Sepi, terus tokoh penjaga villa yang misterius, yang kalo di awal pasti jadi tertuduh utama. Hiiii….

Gue lebih suka cerita yang tokohnya Hercule Poirot dibanding Miss Marple. Mungkin karena sosoknya yang lucu itu, caranya menyelidiki dan menganalisa kasus dengan ‘sel-sel kelabu’nya itu.

Tapi, gue rada gak ‘puas’ nih dengan ending cerita di buku Murder on the Orient Express. Seperti biasa sih, pembunuhnya orang yang tampak baik, gak disangka-sangka, tapi di buku ini, kenapa nyaris semua penumpang ada hubungannya dengan si korban. Ini yang bikin gue jadi rada gak puas. Semua ternyata punya kedok, dan yang pasti emang punya potensi untuk jadi pembunuh.

Wednesday, February 22, 2012

Featured on CHIC


wahhh.. surprise ... surprise... waktu di-mention sama CHIC di twitter

Hah??!! Benar-benar sebuah 'kebanggaan' buat gue berhasil masuk ke dalam rubrik Blog Review di majalah CHIC


Bagi gue ini adalah sebuah 'tanggung jawab'. Artinya, gue harus lebih rajin isi blog gue ini, harus lebih banyak belajar untuk mereview buku dengan lebih baik lagi.

Dan seperti kata @balonbiru, gak boleh gak PD lagi :)

Saat majalah CHIC itu udah di tangan, gue gak berhenti bolak-balik ngeliat bagian Blog Review :D Hehehe...

Terima kasih buat CHIC.

Tuesday, February 21, 2012

Three Weddings and Jane Austen

Three Weddings and Jane Austen
Prima Santika
GPU – Januari 2012
464 hal.
(via bookoopedia.com)

Adalah Om Tan yang membuat gue memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini. Gara-gara posting-an covernya di twitter, lalu gue baca sinopsisnya dan ternyata.. mmm.. menarik…

Ibu Sri – ibu dari 3 orang anak perempuan – penggemar berat Jane Austen. Masa remajanya memang dihabiskan di Inggris sana, jadi gak heran jadi beliau familiar dengan Jane Austen. Bahkan nama-nama anak perempuannya diambil dari tokoh-tokoh di novel Jane Austen – Emma dari Emma Woodhouse di novel ‘Emma’, Meri dari Marianne Dashwood di novel ‘Sense and Sensibility’, dan yang terkecil, Lisa dari Elizabeht Bennet di novel ‘Pride and Prejudice’.

Ketiganya bisa dibilang dalam usia yang cukup matang untuk menikah. Tapi sayangnya, tampaknya urusan percintaan ini jadi masalah yang rumit untuk ketiga gadis itu. Ibu Sri sebenarnya cukup khawatir. Maklumlah, namanya juga ibu-ibu. Permasalahan yang dihadapi ketiga anak perempuannya berbeda satu sama lain, tapi Ibu Sri selalu punya jawaban yang masuk akal dan semua itu didapatnya dari novel-novel Jane Austen.

Emma, Meri dan Lisa, sebenarnya rada ‘anti’ dengan novel klasik. Karena bahasanya yang susah dan kadang tokoh-tokohnya menurut mereka terlalu ‘dangkal’. Tapi, Ibu Sri dengan sabar selalu menjelaskan dengan perlahan, hingga akhirnya mereka bisa menerima penjelasan Ibu Sri. Jadi, meskipun belum membaca buku-buku Jane Austen itu, mereka bertiga lumayan hafal dengan isi ceritanya.

Yang membuat novel ini unik, selain cover-nya itu, ya karena cara ‘pendekatannya’. Kalo masalah cinta sih, udah sering kan dibaca di mana-mana, tapi latar belakangnya yang bikin menarik. Kalo gue jadi anaknya bu Sri, pasti gue bilang, “Please deh, Ma.. no more Jane Austen, deh… “ Hehehe… tapi, anak-anak Ibu Sri ini emang baik-baik… semuanya sama sabarnya dengan Ibunya.

Di buku ini, gak ada tokoh antagonis. Ini buku yang sangat ‘sopan’. Bahkan para cowok-cowoknya juga baik-baik. Ibu Sri dan anak-anaknya bergantian bercerita. Hingga kita tahu, apa permasalahan mereka masing-masing. Tapi nih… Mas Prima ini beberapa kali ketuker antara Mas Dian dan Mas Deni :D

Dulu gue sering banget beli novel ‘metropop’, sekarang udah jarang, kecuali dari beberapa penulis. Karena jujur, gue sering merasa rada ‘terganggu’ dengan terlalu banyaknya kalimat berbahasa Inggris yang bersliweran. Meskipun lebay nih, gue sering berpikir, “Gue baca novel Indonesia atau Inggris sih?” Nah, membaca novel ini, bagi gue terasa lebih ‘membumi’. Mungkin karena latar belakang keluarga Jawa yang ‘kental’, para tokohnya juga sopan-sopan, masih memegang teguh adat ketimuran. Meskipun ada kalimat-kalimat berbahasa Inggris, tapi sebagian besar itu dari kutipan-kutipan buku Jane Austen. Kalo pun mereka berdialog dengan bahasa Inggris, itu tak terlalu banyak dan gak berlebihan.

Dan selesai membaca buku ini, yang ada di pikiran gue, “Segera cari novel-novel Jane Austen.”

Twivortiare


Twivortiare
Ika Natassa @ 2011
Self published via nulisbuku.com
288 hal.
(via nulisbuku.com)

Penasaran dengan ending Divortiare? Sebaiknya buruan baca buku ini. Gimana sih ‘nasib’ Beno dan Alexandra selanjutnya.

Lewat tweet-nya, Alexandra Rhea menceritakan kehidupan setelah menikah kembali dengan Beno. Mulai dari mesra-mesranya mereka berdua kembali, cerita-cerita saat mereka masih pacaran, terus kenapa sampai akhirnya mereka bisa memutuskan untuk menikah kembali, plus pertengakaran mereka yang juga bolak-balik terjadi. Gak ketinggalan gossip-gosip barena Wina, sahabatnya Alexandra.

Awalnya, gue asyik-asyik aja baca buku ini. Karena ya alas an di atas, pengen tau aja gimana Beno dan Alexandra selanjutnya. Tapi, rada ke belakang, gue jadi agak-agak ‘terganggu’, atau bosan kali ya, baca tweet-nya Alexandra yang manis-manis sama Beno, mesra berdua di Amrik sana… eh, tiba-tiba ada tweet yang rada ‘kasar’ atau ‘memaki-maki’ Beno. Yah… mulai berantem lagi, mulai ribut lagi. Alex ngambek dan ‘kabur’ ke rumah mereka di Kebagusan… Beno nyusul.. baikan lagi…. Gak lama.. berantem lagi… Aduh… cape’ deh bacanya…

Yang menarik adalah bagian di mana mereka berdua saling menguatkan saat Alexandra belum juga hamil. Gak ada yang saling menyalahkan, tapi saling memberi semangat, meskipun dua-duanya sama-sama down.

Tapi… bagian akhirlah yang berhasil ‘menyentuh’ gue. Tweet tentang surat dari Beno bikin gue terharu.. hu..hu.. hu… Biar deh, si Alex harus tau tuh, jangan marah-marah terus, jangan asal nuduh terus… biar dia sadar, how much Beno loves her… :D

Banyak yang jatuh cinta sama Beno.. si dokter yang cool tapi protektif banget sama Alex. Cemburu berat kalo Alex dideketin sama cowok lain, tapi tetap lempeng saat Alex marah-marah karena Beno diem aja dipegang-pegang sama dokter cantik kolegaknya di rumah sakit.

Tapi, Beno tetap cinta sama Alex, meskipun hanya bisa masak scramble egg tiap pagi plus nasi goreng nugget. Atau Alex yang bisa ketawa dan senyam-senyum dengan ke-geek-annya Beno.

Terus gue mikir nih… koq lama-lama seperti ‘too much information’. Twitter emang bisa dibilang sarana curhat, update status… tapi kalo baca timeline-nya Alexandra – menurut gue – terlalu ‘pribadi’ untuk diumbar ke publik. Emang sih, dipasang ‘gembok’, jadi gak semua orang bisa liat timeline-nya, kalo gak diapprove sama beliau ini. Sampai-sampai gue berpikir, apa iya dalam kehidupan ‘nyata’, ada orang yang bercerita segitu pribadi-nya di twitter. Hehehe.. gue terlalu ‘berkaca’ sama diri gue sendiri, yang membatasi apa yang gue bagi di ruang publik. Yang gue follow dan follower gue pun bisa dibilang yang punya minat sama dengan gue. Sementara keluarga hanya kakak dan adik gue, temen-temen kantor gak ada yang gue follow (gak ada yang tau juga sih gue punya account twitter :D)

Tapi, sarana twitter untuk menghasilkan sebuah karya boleh diacungi jempol. Udah ada beberapa buku yang gue baca yang asal atau idenya dari twitter, seperti Kicau Kacau-nya Indra Herlambang atau Tweets for Life – Desi Anwar.

Seperti biasa, Ika Natassa tampil dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Dan, iya.. akhirnya gue follow tuh account @alexandrarheaw dan semakin gue baca timeline-nya, gue jadi merasa Alexandra… Beno.. even si mbok itu nyata.. hahahaha.. (tapi koq.. di list following justru gak ada tuh account Wina – sahabatnya sendiri?)

O ya.. sedikit ‘kritik’, di buku ini lumayan banyak bertebaran ‘typo’. Udah gitu, ada tweet yang sama yang beberapa kali diulang. Entah karena kelupaan, atau emang di-tweet beberapa kali. Soalnya hanya beda satu halaman. (gue lupa halaman berapa… catetan ketinggalan di rumah)

Friday, February 17, 2012

Divortiare


Divortiare
Ika Natassa @ 2008
GPU – Cet. II, September 2008
288 hal.
(Gramedia PIM)

Sebenernya gue udah pernah baca buku ini. Tapi, berhubung mau baca sambungannya, Twivortiare, dan gue rada-rada lupa ceritanya, maka gue pun meluangkan waktu untuk membaca lagi Divortiare. Biar lebih inget awal mulanya gimana.

Alexandra dan Beno, adalah pasangan mantan suami-istri. Mereka berdua adalah pasangan yang super sibuk. Alexandra bekerja di bank sebagai credit analyst, sementara Beno adalah dokter bedah jantung. Jam kerja yang tak tentu, terutama Beno, yang kerap mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Alexandra juga sibuk banget, sering pergi-pergi ke luar kota juga. Tapi namanya sebagai istri, Alexandra juga menuntut perhatian dari suami. Bukan hanya bertemu saat sarapan atau tengah malam saat udah ngantuk-ngantuk dan gak sempet untuk berbincang-bincang lagi.

Puncaknya, komunikasi yang tak lancar, ego keduanya yang tinggi, akhirnya Alexandra memutuskan untuk berpisah dengan Beno. Daripada terus menerus bertengkar, akhirnya, itulah keputusan pahit yang akhirnya mereka ambil… berpisah.

Setelah berpisah pun, hubungan mereka bisa disebut love-hate relationship. Kalau sakit, Alexandra masih tetap meminta Beno untuk memeriksanya. Sama-sama cemburu saat melihat mantan berdekatan dengan orang lain.

Gue inget, hal pertama yang membuat gue membeli buku ini, karena gue suka dengan cara dengan buku pertama Ika Natassa – A Very Yuppy Wedding, ceplas-ceplos, meskipun kadang gue merasa ‘terganggu’ dengan begitu banyaknya kalimat bahasa Inggris yang bertebaran. Lalu, cover-nya yang simple. Kotak ‘His’ yang rapi, dan kotak ‘Her’ yang berantakan. Begitu membaca buku ini, gue ‘mengerti’, kotak itu seolah mewakili karakter di buku ini. Beno yang cool – cenderung lempeng dan kaku. Sementara, Alexandra yang to the point, terkadang gampang ‘panas’, tapi juga tegas.

Banyak yang pastinya jatuh cinta sama tokoh Beno. Kaya’nya sebagai tokoh yang ‘tertindas’ hahaha.. .sabar menghadapi Lexy, tapi kalo udah marah, kaya’nya bikin kita gak bisa berkata apa-apa. Dengan hubungan yang digambarkan seperti itu, harusnya sih ‘Divortiare’ itu gak perlu terjadi, asal mereka mau berusaha untuk bertahan sedikit lagi (duh.. sok tau banget sih gue ini). Sementara Denny… aduh, bosen ah. Tokoh yang sok-sok romantis, sok perhatian.. biasa aja jadinya… (menurut gue lagi lhoooo…) - tapi hmm.. seandainya gue masih single, ada yang begitu ke gue sih.. gue suka-suka aja.. hehehe.. (gak konsisten..)

Oh ya, ending menurut gue juga asyik. Kalo gue jadi bertanya-tanya, kira-kira Beno sama Alexandra jadi gimana nih? Akan tetap sebagai ‘teman’, atau tetap ber-love-hate relationship, atau mau ada kesempatan kedua ?

Oke lah.. sekian aja untuk Divortiare ini, nantikan ya tayangnya Twivortiare… soon…

Thursday, February 16, 2012

Reading Challenge 2012 - Books in English


Challenge baru lagi. Kali ini 'Books in English' di blog SurgaBuku. Syaratnya simple aja, minimal baca 1 buku berbahasa Inggris setiap bulannya. Daftarnya baru ada yang bulan January & February, yang lainnya menyusul aja deh, tergantung mood mau bacanya apa ;)

Mari membuat daftarnya:

January:
1. The Truth about Forever – Sarah Dessen
2. Charlie & The Great Glass Elevator – Roald Dahl
3. If I Have Wicked Stepmother, Where’s My Prince? – Melissa Kantor

February:
1. A Christmas Carol – Charles Dickens
2. On the Other Hand – Chris Cleave


March: 

1. The Sweetness at the Bottom of the Pie – Alan Bradley


April: ...
May: ...
June: ...
July: ...
August: ...
September: ...
October: ...
November: ...
December: ...
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang