Showing posts with label Agatha Christie. Show all posts
Showing posts with label Agatha Christie. Show all posts

Tuesday, February 14, 2017

Death on the Nile


Death on the Nile
Harper Collins – 2001  
416 hal.

Hercule Poirot sedang menikmati liburannya ke Mesir, menyusuri sungai Nil, berkunjung ke Pyramid dan tempat-tempat bersejarah di Mesir lainnya. Tapi tetap saja, detektif handal ini tak bisa santai. Saat yang seharusnya jadi waktu bersantainya, tetap saja ‘mengundang’  sebuah kasus pembunuhan.

Di dalam kapal pesiar, seorang perempuan muda, cantik dan kaya raya, Linnet Ridgeway, ditemukan tewas dengan luka tembakan. Linnet sendiri baru saja menikah dengan Simon Doyle. Simon Doyle ini sebelum menikah dengan Linnet adalah kekasih dari sahabat baik Linnet, Jacqueline Bellefort. Tentu saja, tersangka utama jatuh kepada Miss Bellefort. Di dinding kabin Linnet, tertulis inisial ‘J’ berwarna merah kecokelatan.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, Linnet pernah curhat ke Poirot kalau dia merasa terganggu dengan keberadaan Miss  Bellefort yang seolah ‘menguntit’ Linnet dan suaminya ke mana pun mereka pergi. Linnet minta Poirot untuk berbicara dengan Miss Bellefort.

Miss Bellefort sendiri mengatakan kepada Poirot, bahwa ia sangat sakit hati karena Linnet merebut Simon, dan berniat untuk menghabisi Linnet. Bahkan ia menunjukkan pistol yang ia bawa dan ingin ia gunakan untuk membunuh Linnet.

Ketika penyelidikan sedang berlangsung, dua pembunuhan terjadi lagi. Dan ada sangkut pautnya dengan pembunuhan terhadap Linnet. Semua berpotensi jadi tersangka, karena jika dirunut-runut, para penumpang ada kemungkinan punya hubungan dengan Linnet. Tak terkecuali Simon Doyle, suami Linnet yang terbaring di kamar karena luka tembak, dan tentu saja Miss Bellefort. Tapi kedua, segera saja dicoret dari daftar tersangka, karena punya alibi yang kuat.

Siapa pelakunya – tentu saja terbatas dengan penumpang di kapal pesiar tersebut. Wisata menyusuri sungai Nil jadi perjalanan yang menegangkan.  Dan bagi Poirot, alibi kuat bukan berarti tak bersalah. Bahkan, penyeledikan juga mengungkap kejahatan-kejahatan lain.

Seperti biasa, Poirot menyelidiki dengan sangat teliti, ia mengamati dan melihat semua hal, sampai yang sekecil-kecilnya, yang biasanya akan luput dari perhatian orang lain.

Misteri dalam buku ini tidak terlalu rumit atau menegangkan. Motif sudah pasti karena harta, mengingat Linnet memiliki banyak harta. Jika ia meninggal, hartanya sudah pasti jatuh ke tangan suaminya. Lalu, siapa lagi yang mungkin punya kepentingan terhadap harta Linnet jika ia tiada? Apakah sahabatnya yang justru tidak ada di kapal ini? Atau pengacara Linnet? Atau wali Linnet yang mengurus harta kekayaan Linnet?

Dan tragedi kematian Linnet sendiri baru terjadi di pertengahan buku. Mungkin bagi pembaca yang pengen segera merasakan aura misteri atau ketegangan, bakal harus bersabar, menunggu Poirot keliling Mesir dulu, berkenalan dengan para tokoh, sambil mungkin menganalisa perilaku mereka sejak awal.



Submitted for: Thriller and Crime Fiction

Tuesday, January 03, 2017

Closed Casket


Closed Casket (Peti Tertutup)
GPU - 2016
448 Hal.

2016… tahun yang kacau banget untuk blog ini …. Bener-bener sering gak mood untuk nulis-nulis … atau udah selesai baca, terus, ya lupa aja gitu …. Target baca 50 buku pun gak tercapai … mudah-mudahan di 2017 ini, semakin semangat untuk baca dan update blog lagi.

Buku pertama yang berhasil gue selesaikan di awal tahun ini adalah Closed Casket atau Peti Tertutup. Hercule Poirot kembali beraksi. Di awal dengan sebuah undangan menginap di rumah penulis ternama, Lady Athelinda Playford. Edward Catchpool dan Hercule Poirot bertemu kembali, keduanya bertanya-tanya apa tujuan Lady Athelinda mengundang mereka berdua.

Lady Athelinda Playford, penulis yang terkenal dengan tokoh cerita detektif anak-anak, ingin mengubah surat wasiatnya. Tentu saja semua terkejut, ketika ia mencoret nama kedua anaknya – Harry dan Claudia Playford dari daftar ahli waris, dan memberikan warisan tersebut kepada sekretaris pribadinya – Joseph Scotcher, yang hidupnya diprediksi tidak akan lama lagi karena penyakit ginjal yang dideritanya.

Dan ketika Joseph Scotcher ditemukan tewas dengan kondisi yang mengerikan, tersangka utama mengarah kepada Claudia dan Harry. Motif mereka tentu saja jelas, gak terima dengan keputusan mendadak ibu mereka.

Penyelidikan segera dilakukan, bekerja sama dengan garda setempat, Hercule Poirot dan Edward Catchpool berusaha menjerat siapa pelaku sesungguhnya.

Selain, Claudia dan Harry Playford, serta Poirot dan Catchpool, orang-orang yang berada di rumah Lady Athelinda malam itu, serta turut mendengar apa yang telah diputuskan mengenai harta warisan tersebut ada Michael Gathercole dan Orville Rolfe – pengacara Lady Athelinda, Sophie Bourlet – perawat Joseph Scotcher, Dorothy – istri Harry, Dr. Randall Kimpton – tunangan Claudia, serta para pelayan – Phyllis, Brigid dan Hatton.

Sebelum Joseph Scotcher ditemukan tewas, Poirot dan Catchpool sudah berjaga-jaga, karena khawatir akan keselamatan Lady Athelinda.

Semua mempunyai motif untuk melakukan pembunuhan, tapi semua juga punya alibi untuk terbebas dari tuduhan tersebut.

Meskipun gue lebih menyukai Closed Casket dibandingkan dengan The Monogram Murders, tetap ada sesuatu yang berasa kurang ‘greget’ jika membandingkan dengan Hercule Poirot versi Agatha Christie. Dan gue agak kurang nyaman dengan penggambaran korban yang rada sadis. Seinget gue, selama gue baca buku-bukunya Agatha Christie, belum pernah ada korban yang dibunuh dengan cara seperti itu (yahh.. emang belum semua buku-buku beliau gue baca sih …), so CMIIW ….  Tapi, buku ini membuat mood baca buku detektif on lagi.

Dan menurut gue, karakter Edward Catchpool juga lebih menonjol di sini, lebih hati-hati dan banyak belajar dari Hercule Poirot. Cathcpool gak hanya jadi ‘pelengkap’, tapi juga mulai berani unjuk gigi. Justru untuk Hercule Poirot sendiri, gue masih belum bisa ‘klik’, kaya’nya masih ada something missing dalam karakter Poirot.


Dan ..yeayyy .. kali ini gue berhasil menebak siapa pelakunya dengan benar. 

Monday, December 30, 2013

Sparkling Cyanide




Sparkling Cyanide (Remembered Death)
St. Martin’s Paperback – December 2001
278 hal.

Hampir setahun setelah kematian Rosemary Barton, tapi kenangan akan seorang Rosemary masih lekat di ingatan orang-orang terdekatnya. Rosemary meninggal di acara makan malam merayakan ulang tahunnya. Orang-orang percaya Rosemary bunuh diri karena depresi dengan penyakit flu yang dideritanya. Begitu pula George Barton, yang percaya akan fakta itu, sampai ia mendapatkan surat kaleng yang berkata bahwa Rosemary dibunuh.

Maka, George Barton kembali mengundang 5 orang tamu yang hadir dalam acara makan malam itu, untuk menjebak siapa yang diduga melakukan pembunuhan atas Rosemary.

Mereka punya motif masing-masing untuk melakukan pembunuhan. Rosemary bukanlah tipe orang yang punya banyak musuh. Ia digambarkan sebagai perempuan yang ceria dan mudah bergaul. Ditambah lagi ia memiliki kekayaan yang didapat dari warisan.

Mereka yang hadir dalam acara makan malam itu adalah:

Iris Marle – adik Rosemary, - harta Rosemary akan menjadi miliknya jika Rosemary meninggal.

Stephen Faraday – seorang politikus yang tentunya tidak ingin dosa-dosanya diketahui publik, karena akan sangat mempengaruhi karir politiknya.

Alexandra Faraday – istri Stephen Faraday, yang senantiasa ingin melindungi suaminya.

Anthony Browne – punya masa lalu yang akan menyulitkan dirinya jika terbongkar.

Ruth Lessing – sekretaris George Barton yang (terlalu) setia.

George Barton – kecemburuan mungkin bisa membuat gelap mata.

Siapa di antara mereka yang mungkin melakukan itu?

Mari berkenalan dengan Kolonel Race, sosok yang buat gue begitu hati-hati, tenang dan cermat. Gak ada tingkah laku yang aneh macam Hercule Poirot, gak membuat orang bertanya-tanya, tapi tepat sasaran. Kolonel Race, membantu George Barton melakukan penyelidikan. Ia sendiri sebenarnya adalah salah satu tamu yang diundang, tapi tidak hadir dalam acara tersebut.

Buku ini penuh dengan teka-teki, misteri siapa dan bagaimana. Dan lagi-lagi Agatha Christie membuat semua orang ‘tampak bersalah’ (dan lagi-lagi gue menebak orang salah). Dan, juga penuh dengan ‘emosi’ – George Barton yang mengenang istrinya, Ruth Lessing yang berharap mendapat perhatian balik dari George Barton, Alexandra yang mencintai Stephen, Iris Marle yang lagi jatuh cinta tapi masih ‘berkubang’ duka. Ada Lucille Marle yang cerewet, sekali diajak bicara, bakal ‘merepet’ tanpa henti.

#Tulisan ini dibuat untuk posting bareng BBI  bulan Desember 2013 tema: detektif

Wednesday, November 13, 2013

At Betram’s Hotel




At Betram’s Hotel (Hotel Bertram)
Agatha Christie @ 1965
NY Suwarni A.S (Terj.)
GPU – Cet. IV, 2013
320 Hal.

Hotel Bertram adalah sebuah hotel bergaya lama di kawasan kota London. Di tengah-tengah berbagai perubahan baru, Hotel Bertram tetap mempertahankan tradisi lama sebagai ciri khasnya. Kebanyakan para tamunya adalah janda yang kaya, pejabat gereja dan juga gadis-gadis dari sekolah mahal yang sedang berlibur.  Pokoknya, Hotel Bertram adalah hotel kalangan kelas atas, yang rasanya gak mungkin di tempat ini akan terjadi sebuah kasus yang bisa mencela reputasi hotel ini.

Rasa-rasanya nih, ini pertama kali gue membaca Agatha Christie dengan tokoh Miss Marple, seorang perempuan tua yang meskipun pendiam dan tenang, tapi mata dan telinganya selalu waspada. Ia mengamati suasana sekitar, tingkah polah orang-orang di dalam sikapnya yang tenang.

Ada banyak kasus di dalam buku ini, yang malah menurut gue jadi ‘tumpang-tindih’,  lenyapnya seorang pastor yang rada linglung, lalu perampokan kereta api pos di Irlandia, seorang remaja putri yang ketakutan karena merasa ada yang ingin membunuhnya, serta wanita yang dikenal pemberani yang nekat, tertembaknya penjaga pintu Hotel Bertram, sampai rahasia di balik kesuksesan Hotel Bertram yang dicurigai sebagai kedok untuk menutupi sebuah praktek kejahatan.

Sayangnya, Miss Marple justru juga gak berperan banyak dalam penyelesaian kasus ini. Sejak munculnya kasus ini, Inspektur Kepala Davy justru yang aktif menyelidiki berbagai kejanggalan dalam kasus yang ternyata saling berkaitan ini. Baru belakangan, Inspektur Kepala Davy minta bantuan Miss Marple yang ia yakin banyak mengamati hal-hal kecil yang luput dari pandangan orang lain.

Meskipun ‘perkenalan’ gue dengan Miss Marple kurang begitu ‘mulus’, tapi gue suka dengan cerita di sini. Setting tempatnya di London, dengan suasana yang suram, gloomy. Tapi, begitu masuk ke dalam Hotel Bertram, rasanya jadi hangat, apalagi gue membayangkan suasana minum teh dengan kue muffin yang katanya enak itu.

Selain itu, permasalahan yang mengangkat isu beda generasi, di mana, ada generasi tua dan generasi muda yang beda cara hidupnya. Generasi muda-mudi ini hidup bebas, gonta-ganti pasangan, lalu mudah sekali berbohong. Generasi tua ada yang menyikapi dengan sinis, tapi ada juga yang menerima perbedaan dengan cool.

Ngomong-ngomong, gue suka cover versi yang ini nih:



 

Thursday, October 10, 2013

Cat among the Pigeons





Cat among the Pigeons (Kucing di Tengah Burung Dara)
Agatha Christie @ 1959
Ny. Suwarni (Terj.)
GPU – Cet. VI, November 2002
360 hal
(Goody bag acara KuBuGil)

Ramat, sebuah kerajaan kecil di Timur Tengah, mengalami kudeta. Pangeran Ali tewas dalam kecelakaan pesawat bersama sahabatnya, Robert Rowilson. Dicurigai pesawat itu sudah disabotase. Pangeran Ali sendiri sudah mengetahui bahwa keadaan tidaklah aman, ada orang-orang yang mengincar nyawanya. Untuk itu, ia minta Bob untuk membawanya keluar dari Ramat dengan pesawat. Tapi, sebelumnya, ia menitipkan sekantung permata kepada Bob.

Sementara itu, Meadowbank, sebuah sekolah perempuan yang terkenal di Inggris, memulai tahun ajaran baru. Kepala sekolah, Bu Bulstrode, didampingi Bu Chadwick menyambut para murid yang didampingi orang tuanya. Murid-muridnya berasal dari kalangan keluarga kaya, bahkan seorang putri dari Ramat juga bersekolah di sini. Putri Shaista, sepupu dari Pangeran Ali. Tak hanya murid-murid yang baru, tapi juga ada guru baru, tukang kebun dan sekretaris Bu Bulstrode. Meadowbank juga sedang membanggakan Paviliun Olahraga mereka yang baru.

Tapi, siapa sangka justru dua pembunuhan terjadi di Paviliun Olahraga baru ini, dan kejadian juga menimpa guru olahraga yang baru bernama Bu Stringer. Yah, memang sih, beliau bukan guru yang disukai, baik di antara para murid maupun di antara rekan sesama guru.

Pihak kepolisian setempat disibukan dengan mencari motif di balik pembunuhan itu. Apalagi kemudian, setelah Bu Stringer, pembunuhan dengan korban dari pihak guru kembali terjadi. Orang tua murid mulai menjemput anak-anak mereka pulang.

Apakah pembunuhan ini berkaitan dengan keberadaan Putri Shaista – yang bilang ia takut diculik, yang secara tak langsung juga berkaitan dengan permata yang hilang yang dicari oleh banyak pihak?

Bagi yang menantikan Hercule Poirot, mungkin akan agak sedikit kecewa, karena Poirot baru muncul menjelang akhir cerita. Jadi sedikit deh aksi-aksinya Poirot. Meskipun ketika ia muncul, langsung bergerak cepat dengan berbagai pertanyaan yang cenderung bikin orang bingung. Berutung seorang murid bernama Julia Upjohn, anak dari seorang mantan spionase, menghubungi Hercule Poirot, jadi kasus pembunuhan ini bisa segera terungkap. Gue malah jadi berharap seandainya Adam, si tukang kebun itu dapat peran yang lebih dalam atau jadi ‘bintang’ dalam buku ini.

Satu lagi nih, tokoh yang membuat gue ‘kagum’, adalah sosok Nyonya Upjohn, yang jadi kunci di dalam cerita ini. Kenapa gue kagun, kaya’nya ibu satu ini adalah orang yang ‘nyentrik’. Mantan spionase, seneng banget cerita panjang lebar terus pergi ke Anatolia naik bis. Bikin ribet orang lain karena bingung gimana menghubunginya… maklum deh, belum ada telepon genggam di cerita ini.

Lagi-lagi, Agatha Christie memikat gue dengan alur cerita yang seru. Menebak-nebak siapa pembunuh – yang selalu dari tokoh yang tak terduga. Karakter guru dan tokoh-tokoh lain digambarkan dengan detail, mulai dari sifat baik dan buruk, sehingga siapa pun bisa jadi tersangka. Bahkan, ada konflik lain yang tak terduga juga muncul di dalam kisah kali ini.

Friday, October 04, 2013

Agatha Christie Read-A-Long






Menjelang akhir tahun, Mbak Maria (@hobbybuku) bikin event yang keren – Agatha Christie Read-A-Long. Hmm.. udah kaya’ kekurangan challenge aja tahun ini, padahal jadinya banyak yang keteter. Tapi, gpp, lah… untuk yang satu ini, meskipun udah agak telat, gue akan ‘berjuang’ biar bisa memenuhi target dari jadwal yang udah dibikin.

Gue sih belum tau mau baca buku yang mana, tapi kita lihatlah, apa yang ada di rumah… atau… kali-kali bisa mencoret salah satu wishlist dengan membeli salah satu buku (ah… ada alasan beli buku baru kan)

Ini sih kira-kira daftar yang akan gue baca:


September 15 -October 15, 2013: Hercule Poirot (Part I) – Cat among the Pigeon
October 17 – November 17, 2013: Jane Marple –> Pembunuhan di Wisma Pendeta
November 18 – December 8, 2013: Freebies –> 10 Anak Negro
December 10, 2013 – January 10, 2014: Hercule Poirot (Part II) –> Tirai
Daftar di atas sih, belum pasti.. masih bisa berubah, atau bahkan bertambah.

Asyik juga nih… udah lama gak baca Agatha Christie


Thursday, June 27, 2013

The Mysterious Affair at Styles




The Mysterious Affair at Styles (Misteri di Styles)
Mareta (Terj.)
GPU – Cte. VII, Juli 2007
268 hal

Kecelakaan di medan perang membuat Hasting terpaksa dipulangkan dan mendapat cuti sakit selama sebulan. Ketika masih bingung mau berbuat apa, Hasting secara kebetulan bertemu dengan teman lamanya, John Cavendish, yang kemudian mengajaknya untuk berlibur di kediamannya di Styles.

John Cavendish pun kemudian bercerita tentang kemelut yang sedang terjadi di rumahnya itu. Semua ini dikarenakan ibu tiri John, Emily Cavendish yang menikah lagi dengan seorang pria yang berusia lebih muda, Mr. Inglethorp. Semua yakin bahwa pria itu hanya ingin harta ibu tirinya itu dan pria itulah yang pada akhirnya akan membunuh ibunya demi mendapatkan harta warisan.

Dan, benar saja, suatu pagi, seluruh penghuni rumah dikejutkan dengan Mrs. Inglethorp yang ditemukan sekarat di kamarnya. Mrs. Inglethorp tak lama tewas dan diyakini seseorang telah meracuninya. Semua yakin, tertuduhnya hanya satu, yaitu Mr. Ingelthorp sendiri, tapi ia punya alibi yang membuatnya sedikit terbebas dari tuduhan.

Secara kebetulan, Hercule Poirot ada di Styles juga, maka teman baik Hasting ini pun dipanggil untuk membantu penyelidikan.

Banyak tokoh di dalam buku ini – selain Alfred Inglethorp - yang akhirnya berpotensi menjadi pelaku pembunuhan, sebut saja John Cavendish. Semua tahu, ibu tiri mereka menyayangi anak-anak tiri mereka, tapi, ketika tahu Mrs. Inglethorp sudah membuat surat wasiat lain yang menyebutkan sebagian harta diwariskan kepada John Cavendish, bukan tidak mungkin John ingin ‘mempercepat’ kematian ibunya itu.

Lalu, ada Lawrence Cavendish, adik John. Sifatnya yang tertutup, selalu jadi nomer dua bisa jadi menimbulkan dendam. Bukan tidak mungkin ia menjebak kakaknya sendiri, karena jika John ditahan, kemungkinan harta akan jatuh ke tangan Lawrence.

Atau mungkin istri John, Mary Cavendish, yang pastinya juga akan ‘kecipratan’ kalau John mendapatkan harta warisan itu.

Secara tak langsung, pembaca diajak ikut menganalisa setiap tokoh. Dari awal, gue punya tebakan siapa si pelaku, tapi begitu ada bukti dan kesimpulan baru  yang dibuat sama Hercule Poirot, tebakan gue pun berubah.

Meskipun katanya Poirot, si pelaku adalah si X, tapi buku masih ada kira-kira 10 lembar lagi… itu artinya kasus belum berakhir, karena Poirot akan memberikan kejutan yang tak terduga.

#barutau…. Ternyata The Mysterious Affair at Styles ini adalah novel pertama Agatha Christie dan juga merupakan kemunculan perdana dari Hercule Poirot.

Wednesday, February 29, 2012

Murder on the Orient Express


Murder on the Orient Express
(Pembunuhan di Orient Express)
Agatha Christie @ 1920
GPU – Cet, VIII, Juli 2007

Hercule Poirot, si detektif bertubuh mungil, berkepala bulat telur dengan kumis melintang dan sangat apik, menolak orang yang meminta pertolongannya, hanya gara-gara dia gak suka sama wajah si orang itu. Dan, malamnya, orang itu ditemukan tewas.

Hercule Poirot sedang dalam perjalanan kembali ke London menggunakan kereta api Orient Express. Seperti biasa, Poirot mengamati semua penumpang yang ada di kereta itu. Ia menilai karakter masing-masing orang dari pengamatan sekilasnya itu.

Orang yang meminta pertolongannya bernama Ratchett, seorang pengusaha asal Amerika. Kematian Rachett cukup menimbulkan kegemparan di kereta itu. Apalagi saat itu, kereta Orient Express terjebak dalam badai salju dan tak bisa jalan.

Untung di dalam kereta itu ada Poirot dan seorang dokter bernama Dokter Constantine yang membantu menyelidiki dan menganalisa kejadia mengerikan di kereta itu. Dari hasil analisa, kemungkinan pelakunya kidal, tapi koq ada juga yang diperkirakan pakai tangan kanan. Direktur kereta api, berpendapat, bisa jadi pelakunya perempuan yang sangat marah, yang katanya kalo lagi emosi, jadi sangat bertenaga.

Satu per satu penumpang dipanggil untuk diwawancara – di antaranya pelayan dan sekretaris Rachett, seorang perempuan bernama Mrs. Hubbard yang selalu menyebut-nyebut ‘Putri saya’ dalam setiap percakapannya, pasangan ningrat asal Hongaria – Count dan Countess Andrenyi, bangsawan asal Rusia – Putri Dragomiroff yang katanya berwajah seperti kodok beserta pelayannya, Hildegarde Schmidt, seorang guru asal Inggris, Mary Debenham, yang dicurigai karena percakapannya dengan Kolonel Arbuthnot dan orang Italia bernama Antonio Foscarelli.

Dengan rapi, Poirot menyusun hasil wawancara, mencocokkan alibi mereka dengan perkiraan waktu kejadian, mengamati sikap mereka yang luput dari pemeriksa yang lain. Sekecil apa pun itu, Poirot bisa menemukan fakta yang tersembunyi, yang cukup mengejutkan.

Setelah sekian lama, akhirnya baca Agatha Christie lagi. Perkenalan pertama dengan tante Agatha ini dari buku papa yang judulnya ‘Tirai’. Terus, sempet koleksi deh, ehhh.. dipinjem.. gak balik. Akhirnya, malah ada beberapa yang dikasih ke sodara-sodara. Favorit gue adalah 10 Anak Negro. Bikin merinding. Satu hari, gue sekeluarga lagi liburan di Puncak, nginep di villa gitu deh. Nah, pas malemnya ada film akhir pekan, setting-nya di pedesaan di Indonesia, ceritanya mirip dengan cerita 10 Anak Negro ini. Gue langsung merinding, karena setting di film itu sama dengan tempat gue waktu itu. Sepi, terus tokoh penjaga villa yang misterius, yang kalo di awal pasti jadi tertuduh utama. Hiiii….

Gue lebih suka cerita yang tokohnya Hercule Poirot dibanding Miss Marple. Mungkin karena sosoknya yang lucu itu, caranya menyelidiki dan menganalisa kasus dengan ‘sel-sel kelabu’nya itu.

Tapi, gue rada gak ‘puas’ nih dengan ending cerita di buku Murder on the Orient Express. Seperti biasa sih, pembunuhnya orang yang tampak baik, gak disangka-sangka, tapi di buku ini, kenapa nyaris semua penumpang ada hubungannya dengan si korban. Ini yang bikin gue jadi rada gak puas. Semua ternyata punya kedok, dan yang pasti emang punya potensi untuk jadi pembunuh.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang