Friday, September 30, 2011

Around the World in 80 Dinners

Around the World in 80 Dinners
Cheryl & Bill Jamison
Kania Dewi (Terj.)
Gagas Media, Cet. II - 2010
384 hal.
(pinjem dari Mbak Riana)

Cheryl & Bill Jamison, penulis buku masakan yang kerap melalang buana ke luar negeri untuk berwisata kuliner. Karya-karya mereka sudah diakui dengan beberapa penghargaan di bidangnya. Nah, kali ini, kembali mereka membuat rencana untuk berwisata kuliner ke 10 negara, dengan menggunakan fasilitas frequent flier miles mereka. Perjalanan ini akan memakan waktu selama 3 bulan.

Setelah dipilah-pilah, dipilih-pilih, akhirnya mereka berdua memutuskan 10 negara itu adalah: Indonesia - tempat yang dipilih adalah Bali, Australia, Kaledonia Baru, Singapura, Thailand, India, Cina, Afrika Selatan, Perancis dan berakhir di Brazil.

Dimulailah petualangan pertama mereka di Bali. Sebuah boneka kertas bernama Flat Stanley setia menemani mereka selama perjalanan. Namun malang, nasib Flat Stanley pertama berakhir di tangan kera nakal di Monkey Forest

Tidak hanya restoran-restoran mahal dan ternama yang mereka cicipi, tapi juga makan di sea food di tenda-tenda di Singapura, makan bebek betutu masakan rumah di Balii dan semua itu memberi pengalaman tersendiri untuk mereka. Mereka berdua gak ragu untuk melihat-lihat pasar tradisional dan mencicipi makanan yang aneh-aneh.

Namun, gak selamanya perjalanan mereka mulus. Selain insiden flat Stanley, Cheryl dan Bill sempat terserang demam, ketinggalan kartu ATM dan nyaris kehilangan uang dan paspor gara-gara Bill yang ceroboh meninggalkan jaket di kamar mandi. Belum lagi kemacetan di beberapa tempat dan makanan yang terkadang kurang memuaskan.

Di akhir setiap cerita perjalanan mereka, Cheryl dan Bill membuat sebuah rangkuman tempat di mana mereka menginap, makan dan yang mereka kunjungi. Plus sebuah resep salah satu makanan yang mereka cicipi. Hmmm… lebih oke, kalo resep ini juga dikasih foto kali ya.

Agak pusing sebenernya baca buku ini, terlalu banyak informasi tentang tempat wisata dan makanan, tapi gak punya bayangan, kaya’ apa wujud makanan itu sendiri. Foto-foto yang ditampilkan juga minim banget, kalo pun ada, kecil dan gak berwarna. Terlalu banyak yang mau mereka sharing, buat orang awam kaya’ gue, jadi akan membingungkan.

Meskipun begitu, buku ini sukses membuat gue pengen makan mie tom yam yang seger… pengen es kacang yang menggunung itu… pengen makan sea food tenda di Benhil… pengen makan kare...

Mau liat foto-foto yang lebih lengkap dan berwarna tentunya, bisa berkunjung ke website mereka di: http://www.cookingwiththejamisons.com/

Monday, September 26, 2011

Celebrity Wedding

Celebrity Wedding
aliaZalea @2011
GPU - September 2011
328 hal.

Sebagai Junior Partner di salah satu kantor akuntan publik, waktu Inara nyaris tersita seluruhnya untuk pekerjaan. Bisa dibilang hampir tak ada waktu untuk bersosialisai (yeah.. I know… been there before, meskipun hanya magang dua bulan… hehehe…) Di suatu Jum’at sore, Inara sedang merapikan pekerjaan-pekerjaannya, bersiap untuk mengahadapi weekend yang tenang. Ia sudah janji untuk datang ke acara pesta ulang tahun keponakannya. Tapi… mendadak, Inara dipanggil ke sebuah meeting, bertemu dengan klien penting, yang tidak saja merubah semua rencananya di weekend ini – tapi andai Inara tahu – juga akan merubah masa depannya.

Revelino Darby, si klien penting itu. Secara khusus, atas rekomendasi yang sangat memuaskan, meminta Inara untuk memeriksa kondisi keuangan pribadi Revel dan perusahaan rekaman miliknya. Siapa tak kenal Revel? Ia adalah penyanyi papan atas Indonesia, digilai perempuan karena suaranya yang enak serta didukung oleh wajah dan fisik yang menunjang. Inara nyaris saja menolak proyek satu ini, karena banyaknya klien yang harus ia tangani. Tapi, ia pasrah karena senior partner di KAP itu menyetujui bahwa Inara lah yang akan menangani Revel.

Dan, hari-hari Inara berikutnya pun, selain berkutat dengan klien lain, juga dihabiskan di kediaman Revel yang merangkap studio rekaman. Yah, harus diakui oleh Inara, kalau Revel memang memiliki pesona yang ‘melumpuhkan’ kaum hawa.

Hari-hari yang tenang, tiba-tiba berubah dengan adanya gossip tak sedap. Luna, yang diketahui publik sebagai kekasih Revel, hamil. Tapi, Luna tak bersedia mengungkapkan jati diri ayah dari calon bayi itu. Tentu saja, tuduhan mengarah ke Revel. Dan Revel memilih bungkam, tidak memberi tanggapan apa pun tentang gossip itu. Tapi, ada harga yang harus dibayar Revel. Launching single terbarunya ditunda, tour ke beberapa kota di Indonesia terancam batal karena adanya penolakan dari pemda setempat. Revel harus mencari cara untuk mengembalikan image positif di mata masyarakat.

Dan satu-satunya cara itu adalah menikah…. Calon istri yang sempurna ‘saat itu’ adalah … Inara! Tanpa proses yang berbelit-belit, Inara menyetujui usul Revel. Inara yang selama ini terlalu banyak diatur oleh mama dan kakak-kakak perempuannya, merasa inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan kalau ia juga punya sikap, dan ia yakin di mata mamanya, Revel adalah calon menantu yang sempurna.

Sandiwara dimainkan, kontrak ‘pernikahan’ selama setahun pun dibuat. Pelan-pelan Inara tampil mendampingi Revel di berbagai acara.

Nikah kontrak itu pun berjalan dengan mulus. Sesekali mereka bertengkar karena merasa privasinya terganggu. Terutama Inara, yang bersikap se-profesional mungkin, meski sesekali ia tak bisa membohongi perasaannya.

Harusnya yang mereka jalani adalah sebuah drama, pura-pura… tapi kenapa makin lama makin nyata…. Dan harusnya gak melibatkan perasaan… tapi, nyatanya, Revel pun setengah mati menahan diri setiap berhadapan dengan Inara – perempuan yang jauh berbeda dengan mantan-mantan pacarnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini gak banyak, jadi gak ribet. Fokus utama memang di Revel dan Inara. Bahkan, si Luna, yang berpotensi jadi tokoh antagonis, hanya ‘melintas’, dan gak terlalu ‘mengganggu’.

Kalau bicara ending… well, ketebak lah seperti apa. Dan bukan pertama kali gue membaca cerita tentang pernikahan pura-pura dengan ending yang sama. Tapi, buku ini malah membuat gue pengen membaca karya aliaZalea yang lain.

Wednesday, September 21, 2011

The Song Reader

The Song Reader (Sang Pembaca Lagu)
Lisa Tucker @2011
Pepi Smith (Terj.)
GPU - September 2011
424 hal.

Mary Beth memilik sebuah kemampuan yang unik. Kalau pembaca tarot, meramal lewat kartu atau garis tangan… ini sudah biasa. Tapi, ‘membaca lagu’, ini suatu hal yang tidak biasa. Lewat ‘playlist’ atau lagu-lagu yang ‘terngiang’ oleh klien-kliennya, Mary Beth bisa tahu atau setidaknya memberi saran atas apa yang harus dilakukan oleh para kliennya. Mary Beth membantu mereka mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi. Intinya, Mary Beth orang yang dianggap berjasa dalam kehidupan mereka dan sosok yang berbakat.

Mary Beth tinggal berdua dengan adiknya Leeann. Ibu mereka sudah meninggal dan ayah mereka pergi begitu saja, tanpa diketahui penyebabnya apa. Usia mereka berdua terpaut cukup jauh. Mary Beth mengambil alih tanggung jawab untuk mengurus Leeann, bekerja sebagai pramusaji. Dengan adanya profesi tambahan, memberi tambahan juga bagi kehidupan perekonomian mereka. Di mata adiknya, Mary Beth sosoknya tertutup, tak ada yang bisa menebak apa yang ia rasakan. Tapi, bagi Leeann, dia juga kakak yang sangat ia sayangi.

Rasa penasaran akan penyebab perginya sang ayah menjadi pertanyaan sendiri di benak Leeann. Mary Beth tidak pernah mau menjelaskan apa penyebabnya. Leeann pun mencari tahu sendiri jawaban itu, dan terkejut betapa banyak hal yang disembunyikan Mary Beth.

Sementara itu, seorang klien bernama Holly Kramer, membuat pusing Mary Beth. Dari lagu-lagu yang diberikan, tidak satupun yang bisa membantu Mary Beth mengungkapkan masalahnya. Klien yang satu ini berbeda dengan klien Mary Beth yang lain. Rapuh, tertekan dan tidak punya keberanian. Tapi saat Holly berani untuk bicara, malah menghancurkan tidak hanya ‘reputasi’ Mary Beth sebagai pembaca lagu, tapi juga kehidupan pribadi Mary Beth.

Mary Beth dianggap pembohong dan pengacau. Gosip-gosip beredar di kota kecil tempat mereka tinggal. Mary Beth pun mengurung diri di kamarnya, sementara Leeann berjuang untuk membangkitkan kembali semangat hidup kakaknya.

Ternyata novel ini gak sesuai ‘ekspektasi’ gue. Gue pikir bakal berbau-bau thriller gitu. Yang awalnya gue bayangin, Mary Beth ‘membaca’ lagu, terus ternyata lagu itu ‘menghantui’ dia. Novel ini lebih banyak ke drama-nya. Meskipun gue akui, ide pembaca lagu ini keren, karena sampai saat ini yang gue tau ya berkisar di tarot, peramal kartu atau garis tangan, atau pake bola kristal.... Gue berharap ada misteri yang ‘mencekam’… Dan, soal pembacaan lagunya pun gak terlalu banyak diceritain.

Rasanya lebih ke persoalan Leeann yang gak terima kalo Mary Beth menyembunyikan banyak hal – terutama tentang ayahnya.

Friday, September 16, 2011

Antologi Rasa

Antologi Rasa
Ika Natassa
GPU - Agustus 2011
344 hal.

Novel ini bercerita tentang kisah cinta yang mmm… apa ya, semu? (aih bahasa gue). Tentang orang-orang yang punya perasaan, tapi gak berani mengungkapkannya.

Keara, Haris dan Rully, bekerja di sebuah bank. Mereka dipertemukan ketika sama-sama bertugas ke daerah. Tapi, sifat ketiganya berbeda.

Keara, seorang gadis yang easy-going, suka clubbing, shopping dan fotografi. Jatuh cinta sama Rully, tapi karena dia tau, Rully suka dengan gadis lain, maka ia hanya berani berharap sekali saja pria itu memperhatikannya. Rully berbeda dari laki-laki yang selama ini kerap menjalin hubungan dengan dia.

Haris, seorang ‘womanizer’. Rayuan dan gombalannya hampir selalu berhasil membuat perempuan bertekuk lutut. Kecuali, Keara. Hanya Keara yang mampu membuat Haris merasa jatuh cinta, karena hanya Keara yang melihat Haris sebagai seorang sahabat.

Sementara Rully, yang paling ‘alim’ di antara mereka. Paling normal, jauh dari kehidupan malam. Tapi, sayang, cintanya justru hanya untuk seorang perempuan yang sudah berkeluarga.

Bolak-balik Keara berusaha menghapus bayangan Rully dan mencoba berhubungan dengan pria lain, tapi tetap saja, baginya itu hanya membohongi perasaannya. Sementara saat Haris berusaha jujur, justru ia kehilangan sahabat sekaligus perempuan yang ia cintai.

Keara itu tipe gadis yang ceria, tapi ketika bicara soal Rully, dia jadi berbeda. Di dalam kisah cinta segitiga (atau bahkan segiempat) ini, semua yang keliatan bahagia, ternyata gak begitu adanya. Keara itu tipe gadis yang ceria, tapi ketika bicara soal Rully, dia jadi berbeda. Atau Harris yang gampangnya gonta-ganti cewek, tapi di hadapan Keara justru kata-kata gombalnya selalu ‘mental lagi. Rully – si pria baik-baik ini – hanya berani berharap Denise akan meninggalkan suaminya.

Gue cuma mau jadi orang yang take care sama loe dan menemani loe di saat sulit ini
Antalogi Rasa page 269


Meski bertema cinta, tapi waktu membaca buku ini, rasanya campur aduk. Karena ditulis tidak hanya dari sudut pandang satu tokoh, jadi bisa ikut ‘ngerasain’ apa yang dialami setiap tokoh. Meskipun porsi untuk Rully gak sebanyak Keara dan Harris. Tokoh favorit gue, ternyata bukan Rully, tapi justru Harris. Si bad boy ini ternyata mau ‘bertobat’ demi seorang Keara.

Cara penulisan yang santai, bertaburan kalimat berbahasa Inggris, seolah bisa ‘menggambarkan’ sosok Ika Natassa – tokoh yang sama-sama banker, nge-fans John Meyer, suka fotografi.

Buat yang mau ber-menye-menye *colek Om Tan*, hayuuu.. dibaca buku ini… gak hanya akan jatuh cinta sama Keara, tapi juga tokoh-tokoh yang lain, plus.. siap-siap penasaran apakah Keara akan terus memburu Rully? Atau bersiap-siap menerima Harris?

Demi mendapat jawabannya, gue rela begadang untuk nyelesain buku ini.

Wednesday, September 14, 2011

The Candy Makers

The Candy Makers (Para Pembuat Permen)
Wendy Mass @ 2010
Maria Lubis (Terj.)
Penerbit Atria – Juli 2011
556 hal.

Setiap tahun Asosiasi Pengusaha Gula-gula menyelenggarakan Kontes Permen Tahunan. 32 anak-anak berusia 12 tahun terpilih untuk ikut kontes ini dan menciptakan permen baru, yang pemenangnya akan menerima hadiah uang seribu dollar dan permennya akan diproduksi secara massal oleh pabrik permen terkemuka.

Salah satu pabrik permen besar itu, Life is Sweet, tahun ini menerima 4 orang peserta untuk diberi bimbingan sebelum mendaftarkan permen mereka. Mereka adalah Logan Sweet, Miles O’Leary, Daisy Carpenter dan Phillip Ransford III.

Logan Sweet, tak lain adalah anak pemilik Life is Sweet. Kakeknyalah yang mendirikan pabrik ini. Kakek dan ayahnya, dulu juga adalah peserta kontes ini dan keduanya menjadi pemenang. Dan Logan berharap ia bisa mengikuti jejak kakek dan ayahnya. Kehidupan Logan memang berkisar di dalam pabrik itu.

Di hari yang cerah itu, Logan bersiap menyambut ketiga kontestan lainnya. Bisa dibilang Logan tidak punya teman sebaya dengannya, temannya hanya pegawai pabrik itu yang sudah seperti keluarga sendiri. Meskipun deg-degan, Logan antusias berkenalan dengan teman-teman baru sekaligus pesaingnya.

Ada Miles O’Leary yang gemar berbicara terbalik, punya banyak phobia dan suka berbicara tentang ‘kehidupan yang akan datang’, lalu Daisy Carpenter, satu-satunya peserta perempuan di kelompok mereka, suka baca novel roman, pakai kaus kaki yang berlainan, dan yang terakhir, Phillip Ransford III yang angkuh, menyebalkan, gila ‘kebersihan’, suka menulis catatan misterius di bukunya dan bisa dibilang yang paling ambisius.

Dengan bangga, Logan mengajak mereka untuk berkeliling pabrik yang ‘menakjubkan’ itu. Meskipun mungkin sudah hafal luar kepala apa saja isi pabrik itu, tetap saja Logan harus memperhatikan dengan seksama setiap petunjuk yang diberikan sebagai bekal untuk menciptakan permen yang hebat.

Membaca buku ini sangat menyenangkan buat gue. Mengingatkan gue pada Charlie and The Chocolate Factory-nya Roald Dahl. Membayangkan aroma permen dan cokelat yang manis, Hutan Tropis-nya, cokelat yang yum-yum… bukan bikin laper, tapi bikin pengen ngembil cokelat berkaramel favorit gue. Ditambah cover-nya yang ‘candy’ banget itu.

Satu lagi yang menarik buat gue, di dalam satu ‘adegan’ yang sama, bergantian setiap peserta bercerita, jadi mendapatkan empat hal yang berbeda dan ternyata membuka banyak rahasia dari masing-masing peserta, rahasia yang sempat membuat gue 'terpana'. Hehehe.. soalnya ternyata motivasi mereka bukan sekedar menciptakan permen ajaib terbaru, tapi... ah, baca sendiri deh...

Sulit buat gue memutuskan siapa favorit gue, soalnya empat-empatnya punya karakter yang berbeda dan asyik. Bahkan si Miles yang terkesan ringkih dan Phillip yang sombong plus ngeselin itu berhasil ‘mencuri’ perhatian gue.

Monday, September 12, 2011

Detektif Imai dan Misteri Brownies yang Terluka

Detektif Imai dan Misteri Brownies yang Terluka
Dyah P. Rinni @ 2011
Penerbit Buah Hati - 2011
270 hal.

Indonesia Permai, atau yang biasa dipanggil Imai, gadis berusia 13 tahun yang suka main detektif-detektifan. Ia pernah membatu sekolahnya, Widyatamaka, mengungkapkan misteri sebuah ruangan di sekolah yang rusak. Harusnya ia jadi pahlawan kan? Harusnya Imai jadi favorit teman-teman di sekolah, kan?

Tapi, sayang, gara-gara brownies buatanya Imai, 3 orang guru keracunan, bahkan salah satunya, Pak Gino jadi koma. Secara tidak langsung, Imai jadi ‘tertuduh’. Tidak ada bukti yang bisa membebaskan Imai dari tuduhan itu. Ditambah lagi, Pandya, si penyiar radio sekolah, kerap ‘mengompori’ anak-anak Widyatamaka untuk membenci Imai.

Widyatamaka bisa dibilang sekolah yang bergengsi, karena isinya anak-anak orang kaya, pejabat. Berbeda dengan Imai yang sepertinya tergolong ‘biasa’ dibanding teman-temannya (ini yang gue tangkap dari comment-nya Pandya).

Imai pantang menyerah, semakin dilarang, justru tekadnya akan semakin kuat. Imai bertekad untuk membersihkan namanya. Meskipun setiap datang ke sekolah, ia harus ditimpukin telor mentah, dikunci di kamar mandi, pasrah dengan tatapan anak-anak Widyatamaka yang menuduh, bahkan dijauhi sahabatnya sendiri.

Untung masih ada teman-teman lain yang mau membantu Imai. Kaisar, si ketua OSIS, Biru, teman sekelasiImai, bahkan Nino Hansa si preman sekolah yang suka tidur di kelas, masih mau membantu Imai memecahkan misteri ini. Imai pun kembali pada aksi ‘detektif’nya meskipun sudah dilarang sama polisi dan orang tuanya. Bagi para orang tua, kasus ini sangat berbahaya. Tapi, bagi Imai, kasus ini sangat menantang. Well, Imai sepertinya jenis anak yang selalu ketemu ‘bahaya’ dan ‘masalah’.

Wahh… ternyata gue suka dengan si Imai ini. Udah lama gak baca buku ‘detektif remaja’ – jenis buku yang gue baca saat gue pertama kali mulai ‘gila buku’. Kangen sama Lima Sekawan, STOP, Trio Detektif dan lain-lainnya.

Karakter dalam buku ini juga beragam. Imai yang ceria dan selalu berpikir positif, Nino yang cuek, Biru yang ingin selalu serba ‘seimbang’, Kaisar yang cool plus Lila yang centil. Ilustrasi-nya bergaya komik Jepang.

Mungkin gue harus baca buku pertamanya biar tau kenapa Pandya sebel banget sama Imai dan biar tau latar belakang para tokohnya. Dan… jujur, gue juga jadi semangat menunggu buku ketiga (hehehe.. bisa jadi ‘warisan’ lagi nih buat Mika)

Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan: 25 Cerpen Kahitna

Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan: 25 Cerpen Kahitna
Kahitna dan Kawan-kawan @ 2011
GPU - 2011
173 Hal.

Lagu-lagu Kahitna rasanya sudah menemani gue dari jaman SMA dulu. Jaman-jamannya lagu ‘Cerita Cinta’ dan lagu-lagu lainnya yang sampai sekarang pun masih jadi favorit gue. Mendengar Kahitna akan mengeluarkan kumpulan cerpennya, gue jadi penasaran, seperti apa kalau lagu-lagu mereka ‘diterjemahkan’ ke dalam bentuk cerpen.

25 cerpen di dalam buku ini menandai usia Kahitna yang tahun ini berulang tahun ke 25. Dan ternyata tidak semuanya ditulis oleh personil Kahitna (seperti yang gue duga sebelumnya), tapi juga oleh beberapa teman-teman mereka.

Sebagian besar cerpen di dalam buku ini berkisah tentang kisah cinta yang tidak berakhir bahagia, tentang perselingkuhan dan orang ketiga. Beberapa kisah tentang kesetiaan, seperti tulisan Indra Brasco untuk Mona Ratuliu dalam ‘Tak Sebebas Merpati’

Satu yang berbeda adalah cerpen ‘Tak kan Terganti’, yang ternyata bukan mengisahkan tentang percintaan sepasang kekasih, tapi justru tentang kasih dan sosok seorang Ibu yang memang tak kan pernah terganti.

Entah kenapa, di beberapa cerita gue merasa kurang ‘nendang’, Bahasa-bahasanya sih puitis, tapi banyak yang ‘nanggung’.

Favorit gue adalah ‘Soulmate’ (Dhewi Bayu Larasati), Suami Terbaik (bikin gue terharu... hiks), Ngga Ngerti, Mantan Terindah (ketiganya oleh Yovie Widianto), sama satu tulisan Ersa Mayori – Merenda Kasih.

Friday, August 26, 2011

Perfect Chemistry

Perfect Chemistry
Simone Elkeles @ 2008
Angelic Zaizai (Terj.)
Penerbit Terakota - 2011
451 Hal.

Brittany Ellis, tipe cewek yang dari segi fisik akan membuat iri perempuan-perempuan lain. Cantik, berambut pirang, kaya, ketua pemandu sorak. Pacarnya ‘tentu saja’ pemain football. Kaya’nya emang harus begitu ya, pemandu sorak pacarnya harus pemain football. Collin, pacarnya, menyebut mereka ‘Pasangan Emas’. Uh.. narsis banget…

Kehidupan Brittany tampak sempurna dari luar. Pakaian yang keren, mobil keren, dan Brittany harus selalu menunjukkan kesempurnaan itu di depan teman-temannya. Semua itu demi untuk menutupi ‘ketidaksempuranaan’ di dalam kehidupannya yang sebenarnya. Brittany memilik ibu yang perfeksionis, ayah yang selalu sibuk dan kakak perempuan yang mengindap penyakit celebral pansy..

Tapi kesempuraan itu pelan-pelan ‘berakhir’. Berawal dari kelas Kimia, saat Brittany harus berpasangan dengan Alejandro Fuentes atau Alex. Alex dikenal sebagai anak berandal, anggota gang yang berbahaya, tinggal di sisi kota yang berbeda dari tempat Brittany tinggal. Pokoknya, di mata orang ‘baik-baik’, pemuda seperti Alex harus dijauhi.

Bukan mau Alex untuk jadi anggota gang Latino Blood. Tapi, sebuah ‘keharusan’ demi melindungi keluarganya. Tapi, sebisa mungkin Alex menghindar dari keharusan melakukan transaksi narkoba. Namun, di sekolah, Alex dianggap trouble maker.

Brittany harus menghadapi sikap Alex yang ceplas-ceplos. Di hadapan Alex, kesempurnaan Brittany tak ada artinya. Alex terbiasa dengan kerasnya kehidupan antar gang. Bagi Alex, Brittany perempuan manja yang masalah terbesarnya hanya mencari kuteks yang sesuai dengan warna bajunya.

Lama-lama, sikap Alex yang cuek malah membuat Brittany nyaman. Berbeda dengan ketika ia bersama Collin. Dan Alex pun, melihat ada yang berbeda dari seorang Brittany. Hmm.. tapi sebenarnya, ada motif lain di balik niat Alex untuk menjadi lebih dekat dengan Brittany.

Memang sih, ceritanya klise, kisah cinta dua orang dengan latar belakang yang sangat jauh berbeda. Tapi cara berceritanya yang bikin jadi menarik. Ditambah lagi kehidupan anak SMA (di Amerika) yang kaya’nya ‘gerah’ kalau di usia 18 tahun tapi masih virgin :D

Pertama, gue suka dengan cover-nya. Bandingkan dengan cover versi aslinya yang hmm… dewasa. Kedua ternyata ceritanya cukup ok. Endingnya menurut gue cukup ‘manis’. Terus, porsi antara Alex dan Brittany juga imbang. Jadi bisa membayangkan kehidupan dari dua sisi tokoh yang berbeda.

Ternyata buku ini ada sekuelnya, yang nyeritain kehidupan adik-adik Alex – Carlos dan Luis. Tapi, lebih keren lagi, kalau ada lanjutan gimana kehidupan Alex selanjutnya. Apakah sesuai dengan keinginan Brittany atau masih di jalan yang lama?

Thursday, August 25, 2011

Anak-Anak Langit

Anak-Anak Langit
Mohd. Amin MS @ 2011
Alvabet, Cet. 1- Juli 2011
494 Hal.

Simuh, termasuk salah satu anak yang berprestasi di daerahnya. Dan ia sudah berniat untuk masuk ke sekolah favorit incarannya. Tapi orang tuanya tidak setuju, dengan alasan di sekolah itu banyak warga keturunan Cina. Maklum, di masa lampau pernah ada pertikaian antara warga setempat dengan warga keturunan Cina. Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi masih menyisakan trauma di hati penduduk aslinya.

Simuh akhirnya diminta mendaftar ke sebuah pesantren modern binaan pemerintah di Koto Baru. Meski ogah-ogahan, demi menyenangkan orang tua, ia pun mengikuti test tersebut. Dan ternyata, Simuh lulus dan berhasil masuk ke pesantren tersebut.

Mulailah hari-hari Simuh di pesantren itu. Udara dingin menjadi salah satu ujian. Bertemu dengan teman-teman baru yang datang dari berbagai pelosok di daerah Sumatera. Kenakalan-kenakalan khas remaja, disiplin yang ketat, persaingan antar sekolah mewarnai hari-hari mereka selama di pesantren itu.

Banyak orang yang menyebut anak-anak di sekolah ini sebagai anak-anak langit, mereka punya mimpi tapi ternyata setelah lepas dari sana, banyak tak sesuai dengan mimpi mereka.

Selama membaca buku ini, hmmm.. ma’af ya, Pak Mohammad Amin, mau gak mau gue teringat buku sejenis yang udah duluan beredar. Jadi, gue gak merasa ada yang istimewa ketika membaca buku ini. Gue jadi gak semangat baca buku ini, banyak yang akhirnya gue baca dengan sekilas aja. Ma’af ya…. *peace*

Wednesday, August 24, 2011

Presiden Prawiranegara

Presiden Prawiranegara:
Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia

Akmal Nasery Basral
Mizan Pustaka, Cet. I – Maret 2011
370 hal.

Mungkin tak banyak yang tahu, atau menyadari, bahwa Republik Indonesia pernah dipimpin oleh seorang ‘presiden’ bernama Syafruddin Prawiranegara. Yah, jujur sih… gue aja baru nyadar sekarang.. hehehe…

November 1948, mungkin awal mula dari sejarah ini. Ketika Bung Hatta menjemput Syafruddin Prawiranegara yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, untuk segera berangkat ke Bukittinggi. Bukittinggi adalah salah satu wilayah di Indonesia yang tidak termasuk dalam negera federal. Beliau terpaksa meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil di Yogyakarta. Meskipun menjabat sebagai menteri, tapi kehidupan beliau dan keluarga begitu sederhana. Istri beliau bahkan harus berjualan sukun goreng demi menyambung hidup kala Syafruddin bertugas di Bukittinggi.

Beliau pun akhirnya ‘terjebak’ di Bukittinggi. Bulan Desember 1949, kemerdekaan Indonesia baru berumur 4 tahun. Tapi, rupanya Belanda masih aja ‘penasaran’. Terikat perjanjian yang isinya Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak membuat Belanda mundur. Ternyata mereka melakukan serangkaian serangan yang membuat Republik Indonesia kembali berada dalam keadaan genting.

Yogyakarta, kala itu yang menjadi ibukota Indonesia, sudah tidak aman. Rapat darurat diadakan. Jenderal Sudirman, dalam keadaan sakit parah, memilih untuk melakukan perang gerilya. Sampai akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan beberapa orang lainnya dikenakan tahanan rumah, dan kemudian diasingkan ke Bangka.

Untuk menjaga agar Indonesia ‘tetap ada’ dan jangan sampai pemerintahan lumpuh, pejabat pemerintahan di Bukittinggi akhirnya membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia, dengan Mr. Syafrudding Prawiranegara sebagai ketuanya. Keadaan yang tidak aman, memaksa anggota PDRI untuk melakukan perjalanan, berpindah-pindah tempat, melewati hutan rimba. Semua demi menjalankan roda pemerintahan Indonesia.

Kisah lain yang memberi ‘warna’ pada buku ini adalah kisah si Kamil Koto, mantan copet yang akhirnya insyaf, dan ikut dalam perjalanan Syafruddin sebagai tukang pijat. Melalui berbagai kesempatan berbincang dengan Syafruddin, Kamil menemukan banyak hal – selain mendapat jodoh - yang membuatnya menjadi manusia yang lebih b aik pada akhirnya. Tak hanya itu, lewat perbincangan ini pula, kehidupan masa kecil Syafruddin terungkap.

Tapi sayang, di masa-masa Orde Baru, justru peran Syafruddin seolah terlupakan. Ia dianggap tokoh yang berseberangan dengan pemerintah kala itu. Gue sih gak ngerti politik (dan kadang gak mau tau), tapi, ada bagusnya juga kalo para pejabat pemerintahan sekarang nih, baca buku ini.

O ya, satu bagian yang ‘mencuri perhatian’, adalah ketika Bung Karno dan Bung Syahrir ditempatkan di dalam satu rumah saat di pengasingan, Bung Syahrir marah-marah karena Bung Karno yang katanya ‘pandir’ dan ‘bodoh’.

Tuesday, August 23, 2011

Hold Me Closer, Necromancer

Hold Me Closer, Necromancer
Lish McBride @ 2010
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Maret 2011
445 hal.

Sam, cowok dengan kehidupan yang biasa-biasa aja. Cenderung gak aneh-aneh. Bekerja di resto cepat saji sebagai kasir. Padahal dia pengen banget ditempatkan di bagian pemanggangan burger. Putus kuliah, tinggal di apartemen yang super berantakan. Tapi, dia merasa ‘asyik-asyik’ aja, bersama teman-teman rekan sejawat di Plumpy’s.

Tapi, siapa sangka kalau Sam adalah seorang necromancer, alias pembangkit mayat. Bahkan Sam sendiri gak tau soal itu. Sampai di suatu malam, serangkaian kejadian aneh menimpanya. Puncaknya adalah kiriman paket ‘istimewa’ dan ‘mengerikan’.

Sejak malam itu, terkuaklah fakta-fakta menakjubkan di balik kehidupan Sam. Ternyata, dia bukan cowok biasa-biasa aja. Kehadirannya yang ‘tiba-tiba’ ini mengusik salah satu necromancer bernama Douglas, yang gak suka akan keberadaan Sam yang akan dirasa mengganggunya. Kenapa baru sekarang Sam ini muncul? Padahal sebagai Ketua Dewan, harusnya dia tau setiap ada necromancer baru lahir. Belum lagi hilang ‘kekagetan’ akan jati dirinya, Sam malah berada dalam satu sel dengan gadis serigala atau werewolf.

Ngeliat dari endingnya, kaya’nya novel ini ‘seharus’nya ada lanjutannya. Masa’ kiprah Sam juga segitu aja, Ditambah lagi, mayat Douglas yang tidak ditemukan.

Satu lagi yang agak kurang lengkap, adalah istilah-istilah Aconite, tanaiste, taoiseach, athame atau harbinger yang gak ada penjelasannya. Yang unik adalah judul tiap bab yang diambil dari judul-judul lagu (yah.. gak semua juga sih gue tau lagu apa, hanya beberapa).

Untung penggemar fantasi, buku ini cukup oke. Horor tapi gak serem, malah cenderung kocak kalau diliat dari cara bertutur Sam dan percakapan dengan teman-temannya, bahkan dengan ‘musuh’nya.

Friday, August 19, 2011

Puteri Sirkus dan Penjual Dongeng

Puteri Sirkus dan Penjual Dongeng
Jostein Gaarder
A. Rahartati Bambang (Terj.)
Penerbit Mizan - Cet. I, Maret 2006

Petter, si Laba-Laba, adalah seorang anak laki-laki yang bisa dibilang penyendiri. Ia adalah anak yang kritis, cerdas dan unik. Petter lebih senang melihat teman-temannya bermain dibanding ikut dalam bermain bersama mereka. Dia akan menciptakan permainannya sendiri dengan imajinasinya, yang menurutnya lebih mengasyikkan. Jika teman-temannya bermain koboi-koboian, maka Petter akan menciptakan suasana jaman koboi masih berjaya lengkap dengan orang-orang Indian dan desingan peluru serta derap kaki kuda.

Sikap kritisnya ditunjukkan lagi ketika ia mendengar radio atau menonton televisi. Petter memberi masukkan program-program yang bisa membuat radio atau televisi menjadi lebih baik dan lebih menarik.

Setelah dewasa, Petter masih tetap menulis cerita yang berkelebat di kepalanya. Imajinasinya semakin berlimpah, sampai ia merasa tidak lagi bisa mengendalikannya. Tapi, Petter lebih memilih berada di ‘belakang layar’, dan dia menjual cerita-ceritanya pada penulis yang mengalamai ‘writer’s block’, hingga akhirnya terbentuklah ‘Writers’Aid’

Tapi, suatu hari, sampailah semuanya di satu titik, ketika jaring yang diciptakan Petter malah menjadi jebakan baginya. Ketika perbuatan Petter mulai tercium di kalangan perbukuan, Petter harus segera mengambil keputusan sebelum terjerat lebih jauh, di antara para penulis yang merasa popularitas mereka terancam. Dan justru di masa-masa ini, Petter menemukan sebuah titik yang menghubungkan masa kini dan masa lalunya. Tak disangka-sangka pula, salah satu dongengnya tentang Putri Sirkus, Panina Manina, membawanya menemukan sebuah teka-teki yang sempat memutuskan hubungannya dengan satu-satunya wanita yang pernah ia cintai. Cerita-cerita Petter seolah menggambarkan perjalanan hidupnya.

Seperti novel-novel sebelumnya, lagi-lagi Jostein Gaarder menampilkan sosok misterius yang menjadi teman tokoh utama, kali ini sosok misterius itu adalah Lelaki Semeter.

Jostein Gaarder menampilkan kisah dengan gaya ‘ke-aku-an’. Menggambarkan Petter yang ‘menulis kembali’ kisah hidupnya - kisah masa kecilnya, kisah cintanya, dongeng-dongeng yang menakjubkan sampai bagaimana akhirnya ia terlibat dalam dunia perbukuan. Pembaca akan digiring ke rasa ingin tahu untuk mendapatkan jawaban bagimana nasib Petter di tangan para penulis-penulis yang pernah ia ‘bantu, atau justru bagaimana nasib para penulis di tangan Petter. Jawaban yang tak terduga muncul di akhir cerita.

Jostein Gaarder kembali memadukan antara realitas dan fantasi. Filosofi hidup disajikan dengan sederhana, dengan cara yang tidak perlu membuat kening pembacanya berkerut atau bosan. Novel Jostein Gaarder kali ini rasanya lebih ringan dan lebih ‘membumi’ dibanding Dunia Sophie atau Misteri Soliter.

Yah, terus terang sih, gak semua karya Jostein Gaarder ‘sanggup’ gue nikmati – bahkan Dunia Sophie masih entah berapa kali dibaca lalu ditinggalkan, hanya bertahan beberapa halaman saja. (#promisetomyself: baca Dunia Sophie sampai tuntas!).

Thursday, August 18, 2011

Kuantar ke Gerbang

Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno
Ramadhan K.H
Penerbit Bentang – Cet. I, Maret 2011
431 hal.

Waktu pertama belajar sejarah, yang gue ketahui Ibu Negara, istri Bung Karno adalah Ibu Fatmawati. Baru belakangan, dari buku-buku yang gue baca, dari majalah, koran dan lain-lain, gue tahu kalau istri beliau tidak hanya Ibu Fatmawati. Dan baru kemudian lagi, gue tahu, sebelum menikah dengan Ibu Fatmawati, Bung Karno pernah dua kali menikah, dengan Ibu Utari dan Ibu Inggit. Mungkin nama Ibu Utari tidak banyak terdengar, karena pernikahan itu juga hanya seumur jagung. Berbeda dengan Ibu Inggit, meskipun jarang dibahas, tapi beliau adalah sosok yang berpengaruh dalam kehidupan Bung Karno, terutama di awal-awal perjuangan kemerdekaan. Melalu buku ini, yang judulnya menurut gue ‘sangat romantis’, gue pun mengetahui kisah cinta antara Ibu Inggit dan Bung Karno.

Pertemuan itu diawali ketika Kusno (nama kecil Bung Karno) tinggal di rumah Ibu Inggit dan suaminya, Kang Sanusi. Tujuan Bung Karno datang ke Bandung adalah untuk menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung. Ibu Inggit pun menerima kedatangan Bung Karno – beserta istrinya, Ibu Utari di rumah itu. Meskip

Sosok Ibu Inggit yang sederhana, penuh kasih dan lemah lembut, ternyata membuat hati Bung Karno ‘bergetar’. Tak peduli usia Ibu Inggit yang jauh lebih tua dan masih berstatus istri orang, Bung Karno ‘nekat’ melontarkan kata cinta. Ibu Inggit pun ternyata tak mampu ‘menolak’ pesona seorang Soekarno. Meskipun masih muda, tapi penuh tekad dan tegas.

Urusan rumah tangga masing-masing pun diselesaikan dengan baik-baik, dan mereka pun menikah. Dalam sosok Ibu Inggit, Bung Karno menemukan sosok seorang ibu mengemongnya dan istri yang melayani dengan setia dan juga seorang teman mau mendengar ide-ide dan pandangan-pandangannya.

Sepak terjang Bung Karno di dunia politik membawa mereka pada keadaan yang tak menentu. Belanda terus mencurigai segala pergerakan Bung Karno, sampai akhirnya beliau dan beberapa temannya dijebloskan ke penjara. Tak mudah bagi Ibu Inggit untuk menengok Bung Karno. Tapi, berkat kesabaran dan doa yang tak putus, mereka bisa bertemu kembali.

Ibu Inggit tetap setia mendampingi bung Karno meskipun harus ikut ke tempat pengasingan, pertama di Pulau Ende, Flores dan kemudian ke Bengkulu. Tak sekali pun Ibu Inggit mengeluh, yang ada justru semangat yang terus diberikan kepada Bung Karno untuk terus berjuang dan sabar. Meskipun di saat berpidato, Bung Karno bolehlah disebut ‘singa podium’, tapi di samping Ibu Inggit, beliau layaknya anak lelaki kecil yang ingin dimanja.

Namun, ternyata di Bengkulu inilah, pernikahan mereka mengalami cobaan. Bung Karno tertarik dengan seorang gadis yang pernah tinggal bersama dengan mereka di rumah – bernama Fatmawati. Bung Karno yang masih muda, ingin mempunyai keturunan sendiri, sementara Ibu Inggit tidak mampu memenuhi keinginan Bung Karno. Bung Karno tetap bersikeras menikahi Fatmawati, dan Ibu Inggit tidak mau dimadu, maka pernikahan mereka pun harus berakhir dengan perceraian.

Meski hatinya sakit dan cemburu, tapi Ibu Inggit tetap mendoakan Bung Karno agar terus selamat dan tetap berjuang untuk kemerdekaan rakyat Indonesia.

… bahwa sesungguhnya aku harus senang pula karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantar seseorang sampai di gerbang yang amat berharga.

Hal. 415

Pertama yang menarik perhatian gue, tentu saja judulnya, tapi gue masih ragu-ragu, karena jarang gue berhasil menyelesaikan membaca buku seperti ini. Thanks to Om Tan, yang berbaik hati, merelakan buku ini ‘jalan-jalan’ sebentar ke Jakarta. Dari buku ini, gue gak hanya belajar sejarah, tapi juga ‘mengenal’ sosok seorang Inggit Ganarsih – sosok perempuan yang tak berharap apa-apa, kecuali melayani suami dengan kasih sayang yang tulus.

Buku ini ditulis berdasarkan wawancara langsung dengan Ibu Inggit Ganarsih, dibantu anak angkat Ibu Inggit dan Bung Karno – Ratna Djuami dan Kartika.

Tuesday, August 09, 2011

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Tasaro GK
Penerbit Bentang – Cet. I, Maret 2010
546 hal.

Buku ini berkisah tentang perjalanan seorang penyair bernama Kasvha. ‘Pemindai Hujan’ demikian julukannya. Ia mencari seseorang yang namanya disebut-sebut dalam berbagai kitab suci, nama yang diramalkan akan membawa perubahan dan rahmat bagi alam semesta, menyejukan semua kaum, pembela yang teraniaya dan pemimpin semua umat. Nama yang disebut berbeda-beda tapi merujuk pada satu orang, yaitu Muhammad SAW.

Untuk mencari sosok itu, Kashva rela meninggalkan kuil yang selama ini jadi tempatnya bermukim, melarikan diri dari kejaran pasukan raja Khosrou yang ingin menghabisinya karena meyakini hal yang berbeda dari apa yang selama ini mereka percaya dan imani.

Perjalanan panjang dan melelahkan harus ia lalui. Emosi kadang menjadi tidak stabil, dalam keadaan tak sadar, Kasvha sering berhalusinasi, hingga akhirnya mengaburkan antara yang nyata dan khayalan.

Sementara itu, di belahan dunia lain, di tanah Arab, Muhammad tengah berperang, melawan orang-orang Quraisy yang masih tetap berpegang teguh pada ajaran menyembah berhala. Orang-orang Quraisy yang tak mau mengakui Muhammad sebagai nabi dan tak mau beriman pada ajaran yang dibawa Muhammad. Tak sedikit orang-orang yang menaruh dendam pada Muhammad, tapi pada akhirnya lebih banyak orang yang berpaling dari ajaran lama mereka dan memilih untuk menjadi pengikuti Muhammad.

Dicerca, dihina dan bahkan diusir dari Mekkah, tanah kelahirannya sendiri, Muhammad terus berjuang bersama para sahabat dan pengikutnya. Hijrah ke Madinah, menghimpun umat di sana. Sungguh sebuah pengorbanan yang besar. Tapi tak sedikit pun Muhammad mengeluh, tak sekalipun ia menaruh dendam pada musuh-musuhnya. Bahkan ketika mereka memohon perlindungan dan pengampunan dari Muhammad, beliau senantiasa mengabulkannya.

Mungkin baru sedikittttt sekali pengetahuan gue tentang sosok nabi Muhammad. Mungkin hanya sebatas sejarah ketika gue belajar agama di sekolah. Tapi membaca buku ini, gue bener-bener mendapatkan banyak hal baru, melihat sosok Muhammad tak hanya sebagai seorang Nabi, tapi juga sebagai seorang suami yang menenangkan hati kala istrinya cemburu, menjadi pendengar bagi sahabat-sahabatnya, pelindung para budak dan kaum lemah. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, dengan pasukan perangnya, beliau masih sempat meminta salah satu sahabatnya untuk menjaga anjing yang sedang menyusui di tengah jalan, khawatir nanti anjing-anjing itu terganggu karena perjalanan mereka. Lalu bagaimana tegarnya Muhammad ketika pamannya yang selalu melindunginya, Abi Thalib, meninggal tapi masih belum bisa meninggalkan keyakinan lamanya. Bahkan orang-orang yang senantiasa melindungi dan mencintainya pun belum sanggup untuk berpaling dari berhala.

Ditulis dalam bentuk novel, membuat gue lebih ‘nyaman’ membacanya ketimbang kalau harus membaca buku ‘sejarah betulan’.

Membaca judulnya pun membuat gue ‘speechless’, ada kesan ‘magis’, sesuatu yang agung, yang gak bisa gue gambarkan dengan kata-kata. Bukan gue berlebihan, tapi memang itu yang gue rasakan. Kata-kata yang ditulis Tasaro GK begitu indah, terutama pada bagian-bagian yang menceritakan perjalanan Muhammad, serasa membaca sebuah puisi.

Wednesday, August 03, 2011

2

2
Donny Dhirgantoro
Grasindo - 2011
418 hal.

Melewati rak-rak buku di Gramedia beberapa waktu yang lalu, mau gak mau mata gue langsung melihat ke buku yang satu ini. Gimana enggak, covernya yang warna merah sanggup membuat gue berpaling. Judulnya yang singkat, membuat sanggup membuat gue penasaran. Simple – hanya angka ‘2’.

Berawal dari lahirnya seorang bayi perempuan. Bayi perempuan ini mempunyai ‘kelebihan’ yaitu tubuhnya yang besar, tak lazim untuk ukuran seorang bayi. Kedatangan bayi yang diberi nama Gusni ini disambut dengan gembira, tapi diikuti dengan sebuah kekhawatiran.

Gusni tumbuh jadi seperti anak-anak lainnya. Hanya saja tubuh besarnya yang membuatnya berbeda. Ia tetap ceria, tidak ada sedikit pun rasa minder, gemar makan, dan lincah. Bersahabat dengan dua teman yang juga ‘besar. Sampai suatu hari ia bertemu dengan anak laki-laki – saingannya ‘berebut’ onde-onde di kantin - yang memperkenalkannya pada apa arti cita-cita. Harry namanya, dan kebetulan berbadan oversized juga. Tapi kata Harry, “Orang yang besar, pasti hatinya juga besar.”

Gusni bercita-cita ingin jadi pemain bulutangkis, seperti kakaknya, Gita. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin membuat orang tuanya senang.

Tak mudah bagi Gusni untuk mendapatkan izin dari orangtuanya untuk ikut bermain bulutangkis, kekhawatiran yang mengiringi perkembangan Gusni penyebabnya. Tapi Gusni bertekad bahwa ia mampu menaklukkan kekhawatiran itu, dan ia terus berjuang tanpa putus asa.

Di awal-awal, gue agak merasa bosan dengan humor-humor yang awalnya lucu, tapi karena berulang-ulang, terkesan jadi ‘lebay’. Tapi, di paruh kedua buku ini, ‘aura’-nya berubah, jadi lebih serius. Dan, jujur, gue jadi ikut terharu, gue berasa ikutan tegang, kaya’ nonton pertandingan bulutangkis beneran.

Yang menarik lagi… adalah resto bakmi-nya Harry… sebagai penggemar mie, gue pengen banget nyicipin bakmi yang dimasak dengan 3 resep rahasia itu. Hmmm… nyam…

Lagi, setelah 5cm yang sempat bikin ‘heboh’ itu, Donny Dhirgangtoro berusaha membangkitkan rasa nasionalisme kita.

Tuesday, August 02, 2011

Sebelas Patriot

Sebelas Patriot
Andrea Hirata
Penerbit Bentang – Juni 2011
125 hal.

Gue mau membuat pengakuan… bahwa inilah buku pertama Andrea Hirata yang gue baca. Gue punya sih Tetralogi Laskar Pelangi, tapi ya itu deh, bahkan Laskar Pelangi pun belum tuntas gue baca. Mumpung ada tulisan Andrea Hirata dalam versi yang pendek, jadilah gue memutuskan untuk membaca buku ini.

Berkisah tentang kenapa seorang Ikal begitu mencintai sepak bola sampai pernah ingin masuk ke dalam tim PSSI. Adalah sebuah foto buram hitam-putih yang mengusik benak Ikal. Foto seorang pria dengan piala di tangan, tapi mimik wajahnya tidak tampak gembira.

Ikal pun mencari tahu siapa sebenarnya sosok di foto itu, kenapa ibunya malah menyembunyikan foto itu ketika Ikal pertama kali melihatnya.

Maka bertanyalah Ikal pada orang-orang yang dianggapnya cukup tua di sana. Terkuaklah misteri tentang pria di foto itu. Cerita yang mengenaskan berawal ketika masa penjajahan Belanda. Sebagai penjajah, tentunya Belanda tidak mau kalah dalam segala hal, termasuk dalam olahraga. Dalam berbagai pertandingan – entah itu bulutangkis, renang, lari – setiap warga pribumi yang nyaris menang, harus ‘otomatis’ kalah menjelang garis finish.

Tapi, di cabang sepakbola, tim pribumi diperkuat oleh 3 kakak beradik yang jagoan banget. Gara-gara berhasil mengecoh tim Belanda, 3 kakak beradik itu harus rela ‘digiring’ tentara Belanda, masuk penjara dan kemudian menjalani kerja paksa. Mereka harus menerima siksaan dari tentara Belanda yang tak rela kalah dari warga pribumi.

Cerita inilah yang ‘memecut’ Ikal. Dengan sepenuh hati, ia memilih sepakbola, berlatih dengan giat, hingga terpilih untuk ikut seleksi junior PSSI di Sumatera Selatan – sampai berburu kaus bertanda tangan Luis Figo di tempat asalnya,

Semua itu dilakukan untuk membuat pria di foto itu bangga. Siapa sih beliau? Baca aja sendiri… abis nanti jadi *spoiler* :D

Tapi, yang jelas, buku ini membuat gue ingin tau lebih banyak tulisan-tulisan Andrea Hirata yang lain. Cerita-ceritanya simple aja, tapi gak gampang dilupain.

Madre

Madre
Dee (Dewi Lestari)
Penerbit Bentang – Juni 2011
162 hal.

Dee atau Dewi Lestari, adalah salah satu penulis Indonesia yang karya-karyanya selalu gue tunggu (hhmmm… sampai sekarang gue masih bertanya-tanya, kapan lanjutan Supernova akan terbit?). Gue nyaris punya dan nyari membaca semua karya Dee – cuma Rectorverso nih yang belom punya. Dan ketika Bentang Pustaka bolak-balik nge-tweet tentang Madre, gue langsung berpikir gue harus punya buku ini.

Buku ini berisi cerita pendek dan beberapa puisi karya Dee dari tahun 2006 – 2011. Buat gue, tulisan Dee selalu ‘unik’. Liat aja kisah Madre, sebuah cerita tentang (eks) took roti tua yang terkenal dengan rotinya yang khas. Tentang seorang pemuda yang tiba-tiba ‘ketiban’ wasiat setoples biang roti. Tentang took roti tua yang ‘tergeser’ karena kehadiran toko roti lain yang lebih modern. Cerita yang sempat membuat gue tersenyum-senyum.

Dari baca cerita ini, gue jadi berasa mencium bau roti yang baru matang (ups.. ini khayalan orang lagi puasa aja kaya’nya).

Tapi sayang, gue gak terlalu menikmati semua tulisan di buku ini. Hanya Madre dan Menunggu Layang-Layang yang jadi favorit gue. Sama satu puisi - Larutan Amonia (eh,.. bener gak ya judulnya?) - yang ditulis Dee ketika mengandung anak keduanya, Atisha. Gue jadi berharap andai gue bisa menulis sesuatu untuk Mika.

Saturday, July 30, 2011

Cocktail for Three

Cocktail for Three (Klub Koktail)
Sophie Kinsella as Madeleine Wickham
Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)
GPU – Juni 2011
440 hal.

Roxanne, Maggie dan Candice, 3 sahabat yang bekerja di sebuah media di London. Tanggal 1 setiap bulannya mereka bertemu di sebuah bar, bernama Manhattan Bar. Yah, untuk sekedar refreshing. Meskipun bekerja di kantor yang sama, tidak berarti tiap hari mereka bertemu.

Roxanne, adalah penulis lepas. Gadis yang penuh percaya diri dan memiliki menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Tapi, tak satu pun dari sahabatnya itu tahu siapa pria itu. Ia hanya sesekali datang ke kantor. Tugasnya jalan-jalan ke luar negeri, meliput tempat-tempat penginapan baru. Maggie, si pemimpin redaksi, satu-satunya yang sudah menikah, ambisius dan sedang stress menghadapi peran baru sebagai ibu. Candice, penulis, yang sangat lugu, baik hati dan jujur. Mudah dimanfaatkan orang karena kebaikan hatinya.

Semua berjalan dengan lancer, dan.. asyik-asyik aja gitu. Tapi, ketika di satu pertemuan rutin mereka, pertemuan terakhir sebelum Maggie cuti melahirkan, ada salah satu pramusaji yang membuat Candice tertarik, yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu, namanya Heather.

Pertemuan itu membuka luka lama Candice, rasa bersalah terhadap keluarga Heather. Maka, si peri baik hati ini berniat untuk membalas apa yang sudah terjadi, mencoba menghapus kesalahan masa lalu yang disebabkan ayah Candice. Ia membantu Heather mendapatkan pekerjaan di Londoner dan mengajaknya tinggal bersama. Baik Roxanne dan Maggie menyayangkan sikap Candice yang terlau baik.

Lain lagi Roxanne, ia masih harus berurusan dengan pacar gelapnya yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Maggie yang sempat mengalami baby blues.

Meskipun sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan di London, usia 30 tahunan ke atas, tapi karakternya beda dengan novel yang memakai nama Sophie Kinsella. Seperti Becky Bloomwood, Tokoh-tokohnya terkesan ‘konyol’. Ceritanya juga lebih ceria.

Kalo di buku ini, tokohnya lebih dewasa, permasalahan juga lebih serius. Yahhh.. ending-nya sih ketebak. Tapi, gak mengurangi rasa tertarik gue sama buku ini.

Mungkin karena gue ‘kecewa’ dengan seri terakhir Shopaholic, gue jadi lebih suka buku ini dan rasa-rasanya jadi pengen baca buku Sophie Kinsella as Madeleine Wickham yang lain. Kadang, abis baca yang ‘berat’, enak juga baca buku-buku kaya’ begini.

Friday, July 29, 2011

The Day of the Jackal

The Day of the Jackal
Frederick Forsyth @ 1971
Ranina B. Kunto (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. 1, Juni 2011
609 hal.

Sekelompok orang yang tergabung dalam OAS (Organisation L’ArmĂ©e SecrĂ©te) ‘memutuskan’ bahwa Presiden Perancis, Charles de Gaulle, harus mati. Mereka beranggapan de Gaulle sudah berkhianat dan melenceng dari apa yang sudah diperjuangkan oleh para veteran.

Beberapa usaha pembunuhan gagal, para perencana, penggagas dan pelaksana pembunuhan itu sudah dieksekusi. Pentolan-pentolan yang masih berkeliaran beberapa ditangkap. Itu semua membuat orang-orang di OAS berhati-hati dan memilih bersembunyi disbanding berkeliaran di jalan-jalan di Perancis atau di kota mana pun.

Tapi, masih ada beberapa orang yang tetap ingin de Gaulle mati. Orang yang fanatik, seperti Rodin. Selama ini, anggota OAS sudah gagal membunuh de Gaulle, ada kebocoran di dalam organisasi mereka. Entah karena ada pengkhianat atau OAS sudah disusupi oleh mata-mata pemerintah. Oleh karena itu, ia berpikir, misi ini akan berhasil jika mereka merekrut orang luar – bukan warga negara Perancis dan bekerja secara professional alias seorang pembunuh bayaran.

Akhirnya terpilihlah seorang warga negara Inggris, dengan track record yang minim. Tapi catatan yang minim inilah yang dicari, sehingga jejaknya tak mudah tercium. Nama sandi-nya Jakal. Dengan bayaran yang menggiurkan, akhirnya tercapailah kesepakatan. Sang Jakal diberi kebebasan untuk memutuskan kapan waktu eksekusi yang tepat dan dengan cara apa.

Jakal pun memulai rangkaian operasinya. Ia bekerja sendiri, mempersiapkan semuanya dengan rinci dan teliti. Mulai dari pemesanan senjata, pembuatan identitas palsu, mencari tempat dan saat yang tepat untuk pelaksanaan pembunuhan itu.

Ia bebas berkeliaran dengan identitas palsu tanpa tercium oleh pihak kepolisian. Sampai akhirnya, pihak kepolisian mulai curiga karena ada 3 orang pentolan OAS yang bersembunyi di sebuah hotel di Roma tanpa melakukan apapun. Dengan tipu daya, akhirnya mereka berhasil menangkap dan memperoleh informasi dari bodyguard yang selalu menjaga Rodin bernama Kowalski. Kowalski ini berbadan besar, tidak banyak omong, tapi ternyata punya hati yang ‘lembut’. Dari sinilah operasi yang dilakukan Jakal mulai tercium dan membuat pihak kepolisian kalang kabut. Sementar de Gaulle sendiri enggan membesar-besarkan berita kalau keselamatannya tengah terancam.

Ditugaskanlah seorang detektif bernama Lebel untuk menyelidiki dan menangkap Jakal. Tapi dengan minimnya informasi, tekanan yang bertubi-tubi dari para atasan, penyelidikan ini berjalan dengan sangat lamban. Ditambah lagi, tampaknya pergerakan Jakal selalu selangkah lebih maju. Jakal selalu bergerak lebih cepat tepat ketika Lebel berhasil memperoleh informasi tentang keberadaan Jakal. Sebuah ‘kecerobohan’ yang disebabkan oleh pihak dalam yang dekat dengan presiden dan tak ingin dikalahkan oleh seorang detektif.

Cukup lama buat gue untuk mendapatkan ‘klik’ atau ‘feel’ dengan novel ini. Memang, harus gue akui, novel ini keren. Semua ditulis dengan begitu detail dan sistematis. Gak heran sih, kalo ternyata novel ini jadi ‘inspirasi’ atau ‘manual book’ beberapa orang untuk melakukan tindak kejahatan, seperti pembunuhan atau pemalsuan passport

Bukan novel yang membuat adrenalin gue terpacu untuk baca terus dan terus. Menjelang akhir bagian pertama, baru gue mulai bisa pelan-pelan menikmati isi novel ini. Bagian-bagian yang gue suka adalah bagiannya si Jakal. Setiap dia lagi mempersiapkan segala sesuatunya, bekerja sendiri. Misterius. Gue jadi terbayang sama Daniel Craig – si James Bond.

Eksekusi akhir novel ini berlangsung cepat. Berbeda detail yang begitu panjang di bagian awalnya. Mulai deh keliatan seperti ‘adegan’ film. Detektif yang bolak-balik kalah cepet dengan si penjahat.

Salah satu yang membuat gue betah adalah pemilihan kertas dan font-nya yang ‘bersahabat’ dengan mata. Tapi, kenapa banyak bahasa Perancis yang gak diterjemahin? Dan gue sempat berpikir, kenapa juga Jackal itu harus diterjemahin jadi Jakal, kenapa gak tetap dengan tulisan aslinya?

Wednesday, July 27, 2011

The Thief

The Thief (Sang Pencuri dari Eddis)
Megan Whalen Turner @ 1996
Zaky Yamani (Terj.)
GPU – Juni 2011
360 hal.

Gen, dipenjara karena kebodohannya sendiri. Ia membual bias mencuri apa saja, tapi malah memamerkan hasil curiannya di sebuah kedai anggur.

Suatu hari, penasihat Raja Sounis, sang Magus datang membebaskannya. Bukan tanpa maksud akhirnya Gen dibebaskan. Sang Magus punya misi khusus untuk mau merepotkan diri melakukan hal itu.

Sang Magus meminta Gen untuk mencuri sebuah batu. Batu ini bukan sembarang batu, tapi jika Raja Sounis bisa memiliki batu ini, maka hal ini bisa dijadikan ‘alasan’ untuk menikahi Ratu Eddis dan menyatukan kedua wilayah.

Maka, Gen pun berangkat bersama sang Magus dan rombongan yang terdiri dari 2 orang murid sang Magus dan satu orang pengawal. Perjalanan terbilang lancar. Tak ada hambatan yang berarti kecuali makanan yang harus dihemat, jalan yang terjal dan berbatu. Hambatan sesungguhnya baru terjadi saat Gen harus masuk ke dalam gua tempat batu itu ada.

Terus terang gue rada gak sabar baca buku ini. Membosankan. Karakter Gen juga ‘nyebelin’ banget. Anak muda yang manja, sok cakep, bawel dan kadang sok tahu. Tokoh lain juga gak ada yang – menurut gue – ‘kuat’ karakternya. Padahal dari cover-nya, seolah Gen itu tokoh yang gagah, pemberani dan pantang menyerah. Terlalu ‘macho’ untuk jadi gambaran tokoh seperti Gen.

Jalan cerita juga cenderung datar, saat ada pertempuran pun juga gak membuat jadi tegang. Kaya’nya terlalu bertele-tele. Buku yang gak terlalu tebel ini, mungkin bisa jadi lebih tipis lagi. (duh.. gue jadi sok bisa nulis aja)

Yang menarik justru catatan dari penulis, tentang latar belakang penulisannya dari mana dia mengambil ide cerita, dan daftar buku-buku yang berpengaruh dalam prosesnya jadi penulis. Hmmm.. bisa jadi contekan…

Buku ini ada sekuel-nya, tapi rasanya gue gak tertarik untuk tahu lanjutannya.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang