Tuesday, September 15, 2009

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)

The Palace of Illusions (Istana Khayalan)
Chitra Banerjee Divakaruni @ 2008
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU - Juli 2009
496 Hal.

Drupadi… dari awal kelahirannya sudah membuat orang terpana. Ia lahir dari api. Bergandengan tangan dengan sang kakak, Dre, yang memang diharapkan kelahirannya untuk membalaskan dendam sang ayah kepada Drona, seorang brahmana yang pernah diakui Raja Drupada sebagai sahabat. Kehadirannya sebenarnya tidaklah diharapkan. Maka itu, nama yang diberikan ayahnya pun ‘biasa-biasa’ saja artinya.

Tapi, kisah yang mengiringi hidupnya dari awal tidaklah biasa. Selain karena cara ia dilahirkan, ramalan tentang perjalanan hidupnya pun penuh dengan kisah tragis. Seorang peramal bernama Byasa, berkata bahwa Drupadi akan menikah dengan lima orang laki-laki, ia juga akan menyebabkan perang yang membuat jutaan perempuan menjadi janda, ia akan menyebabkan kematian kakaknya sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan untukmenghindari ramalan itu, selain lebih bersikap bijak. Drupadi, sejak kecil tidaklah mau menjadi seorang perempuan pada umumnya – yang hanya mengenal mengurus suami, bertingkah laku manis dan sopan. Tapi, ia adalah anak yang haus pengetahuan. Setiap Dre belajar, ia akan bersembunyi di balik tirai dan ikut mendengarkan semua pelajaran Dre. Adalah Khrisna, yang selalu menjadi sahabatnya dan gemar mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang penuh filosofi.

Ketika tiba waktunya bagi Drupadi untuk menikah, Raja Drupada mengadakan sayembara yang cukup sulit. Sayembara itu sebenarnya hanyalah ‘syarat’, karena dari awal, seorang laki-laki bernama Arjuna, sudah diharapkan (atau dipastikan) akan memenangkan sayembara itu. Tapi, ternyata, Arjuna mempunyai saingan berat, yaitu Karna – seorang anak kusir kuda yang diangkat menjadi raja oleh Duryodana, salah satu dari 100 Kurawa – sepupu Arjuna sekaligus musuh besarnya.

Karena tidak satu kasta, Karna ‘disingkirkan’ dengan tidak hormat. Meskipun Drupadi akhirnya sangat menyesal dengan keputusan itu. Tapi, seperti yang sudah diharapkan, Arjuna-lah yang menjadi sang pemenang dan otomatis menjadi suami Drupadi. Namun, ternyata, Drupadi belum boleh berlega hati, karena, sebagai anak yang patuh pada ibunya, Kunti, dan terbiasa berbagi dengan saudara-saudaranya, Arjuna tidak bisa menolak ketika Kunti meminta-nya ‘berbagi istri’. Itulah awal Drupadi akhirnya menikah dengan para Pandawa.

Dalam kisah ini, penuh dengan balas dendam, hawa nafsu dan penderitaan. Para Pandawa yang terusir dari istana mereka sendiri, akhirnya mempunyai kesempatan untuk membangun istana yang sangat indah yang hampir tidak mungkin bisa dibayangkan dalam benak manusia biasa. Istana Khayalan – nama pemberian Drupadi. Dari awal, si pembuat istana sudah mewanti-wanti agar tidak mengundang orang ke dalam istana tersebut. Tapi, memang dasar manusia, meskipun setengah dewa, ternyata masih memiliki hawa nafsu dan sifat pamer.

Karena kebodohan Yudhistira, mereka semua akhirnya kehilangan segala kemewahan yang dimilikinya. Drupadi yang hampir dipermalukan, mengucapkan sumpah yang akhirnya mengawali semakin meruncingnya hubungan antara Kurawa dan Pandawa.

Peperangan hebat terjadi. Lawan adalah saudara, sahabat dan orang-orang yang mereka kasihi. Balas dendam jadi motif utama.

Baru sekali ini gue baca buku tentang tokoh-tokoh yang selama ini gue hanya tau ada di dunia ‘pewayangan’. Gue baru tau nama-nama para pandawa, anak siapa Gatotkaca dan, sosok Srikandi. Entah bener apa nggak, karena gue gak pernah ngikutin cerita wayang, tapi, kematian semua tokoh-tokoh dalam cerita ini sangat tragis.

Drupadi sendiri digambarkan sebagai sosok perempuan yang menginginkan ‘kesetaraan’ dengan laki-laki, ia juga istri yang setia, ia memilih mendampingi suami-suaminya di pengasingan. Tapi, tetap, ia harus memendam perasaan cinta, rindu dan bersalah sekaligus karena membuat laki-laki lain sengsara.

Ceritanya eksotis banget, penuh dengan ramalan, mantra-mantra, kutukan, astra-astra, dan intrik-intrik yang ‘njelimet. Kata-kata yang puitis, banyak banget filosofinya. Hati-hati kalo mengeluarkan kutukan, karena bakal beneran kejadian dan bikin menderita tujuh turunan.

Wednesday, September 09, 2009

Pink Project

Pink Project
Retni SB @ 2009
GPU – Juli 2009
264 Hal.

Pertama kali, coba-coba menulis komentar tentang sebuah lukisan di koran, Puti Ranin langsung mendapat balasan pedas dari seorang kritikus lukisan lain. Sangga Lazuardy, menyebut Puti sebagai katak dalam tempurung, tapi sok tahu. Karuan Puti langsung berang. Puti tau, dia bukanlah seorang seniman yang mampu menilai karya lukisan dengan canggih. Dia hanya penggemar lukisan, dan ketika satu lukisan mampu membuatnya ‘terpana’, Puti tak tahan untuk tidak mengirimkan tulisannya ke surat kabar. Puti langsung emosi berat. Bukan hanya karena Sangga ‘menghina’ dirinya, tapi juga menghina Pring, pelukis pujaannya itu.

Pada satu kesempatan, Puti akhirnya bertemu dengan Sangga. Sikap Sangga yang sok cool dan seolah mengaggap Puti gak ada, makin membuat Puti berang. Padahal, entah kenapa, semakin Puti menghindar, semakin sering mereka berdua bertemu.

Ternyata, Sangga punya tujuan tersembunyi di balik sikapnya yang acuh tak acuh itu. Sangga punya niat menjodohkan Puti dengan Pring. Si pelukis ini memang misterius. Dia tidak pernah muncul di setiap pameran lukisannya. Sangga ternyata adalah sahabat Pring.

Gue sih berharap menemukan ‘keindahan’ di dalam buku ini. Dari cover-nya udah cantik. Gue cape’ banget baca marah-marahnya Puti ke Sangga yang kadang berlebihan banget. Bagian Puti marah-marah, selalu gue lewatin dengan cepet-cepet. Hehehe.. daripada gue ikutan stress…

Wednesday, September 02, 2009

Perahu Kertas

Perahu Kertas
Dee @ 2009
Bentang Pustaka/Trudee – Cet. 1, Agustus 2009
444 Hal.

Ada Kugy… cewek yang unik (atau aneh?). Suka menulis dongeng, terbang ke Negeri Khayalan dengan tokoh-tokoh Nyi Kunyit, dan tokoh sayur-mayur lainnya. Penampilannya cuek, gaya bicaranya ceplas-ceplos dan kocak. Merasa dirinya sebagai Agen Neptunus.

Lalu, ada Keenan… cowok yang suka banget melukis, tapi terbentur sama keinginan orang tua yang ingin dia menempuh jalur pendidikan formal (dan normal).

Mereka bertemu di Bandung, di tengah hiruk-pikuk stasiun kereta api. Karena dua-duanya sama-sama unik, sama-sama punya keanehan sendiri, mereka berdua jadi cepat akrab, malah, saling menyimpan perasaan suka, tapi, gak ada kesempatan untuk mengutarakannya secara langsung. Kesamaan mereka yang lain, adalah mereka berdua sama-sama berzodiak Aquarius… (heyy… just like me…!!). Kugy punya kebiasaan curhat ke Dewa Neptunus, sang Dewa Air, dan menghanyutkan perahu kertas berisi curhatnya di setiap aliran air yang bisa ia temui. Keenan pun di-rekrut jadi ‘Agen Neptunus’.

Perjalanan mereka sampai akhirnya sampai ke sebuah titik keputusan lumayan panjang, dari tahun 1999 sampai 2003. Perjalanan yang penuh dengan tawa, bahagia, sedih, duka juga tangis. Dari Bandung , Jakarta sampai Bali.

Kugy dan Keenan sebenarnya saling melengkapi. Kugy bisa nulis, tapi gak bisa ngelukis. Keenan bisa ngelukis, tapi gak bisa bikin dongeng. Ilustrasi Keenan menjadi pelengkap yang sangat sempurna bagi dongeng-dongeng Kugy. Dongeng Kugy menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya untuk Keenan.

Merasa tak mungkin bisa bersatu, Kugy dan Keenan menjalin hubungan dengan orang lain. Sambil berusaha melupakan bayangan masing-masing. Tapi, kadang hati dan perasaan emang gak bisa dibohongi… orang yang mereka kira mereka cintai juga seolah punya ‘six sense’.

Tulisan Dee kali ini rada beda yang buku-buku sebelumnya yang pernah gue baca. Kalo kaya’ Supernova yang penuh dengan berbagai macam filosofi, ‘Perahu Kertas’, buat gue lebih ‘reader friendly’. Mungkin terkesan seperti cerita-cerita chiclit, metropop atau cerita-cerita ABG lainnya, tapi karakter yang unik bikin cerita ini jadi beda. Di akhir buku ini, Dee bilang kalo salah satu inspirasi untuk menulis Perahu Kertas adalah ketika dia baca serial Popcorn… hmmm… kalo dibayangin, karakter Kugy yang cuek, Keenan yang cool, seperti karakter tokoh-tokoh film drama Korea, Jepang or Taiwan, yang ceweknya cenderung tomboy, sementara cowoknya cool banget… dengan rambut sedikit gondrong…

Sebenernya, ada beberapa yang 'mengganggu' gue nih.. misalnya, Keenan yang segampang itu jadian sama Wanda. Lalu, adegan Wanda mukul-mukul dada Keenan sambil nangis.. so sinetron... Tapi, ya sudahlah.. ketutup koq sama ceritanya yang bagus.

Gue suka buku ini… I feel… I want to be (like) Kugy…

Friday, August 21, 2009

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)

Maximum Ride#4: The Final Warning (Peringatan Terakhir)
James Patterson @ 2008
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juni 2008
320 Hal.

Tampaknya Max, Fang, Angel, Nudge, Iggy, Gasman – plus Total, tidak bisa hidup ‘santai’ sedikit atau menikmati ketenangan barang sesaat. Mereka selalu hidup dalam kewaspadaan ‘tingkat tinggi’. Lengah sedikit, nyawa mereka bisa jadi taruhannya.

Meskipun, nyaris merasakan kenyamanan yang sempurna dan merasakan bahagianya punya orang tua, Max tetap saja tidak percaya dengan Jeb. Ia tahu, Jeb adalah ayahnya, tapi Jeb jugalah yang ‘menjurumuskan’ Max dan anggota kawanannya ke dalam bahaya, dikejar-kejar Flyboy yang salah satu anggotanya ternyata adalah adik tirinya. Segala macam bentuk penelitian, petugas-petugas berseragam, selalu membuat Max curiga. Karena tidak semuanya akan semulus dan selancar pada awalnya. Apa pun itu, Max yakin, pasti hanya berujung pada eksperimen mengerikan yang selalu ia terima sebagai konsekuensi menjadi remaja ‘bersayap’.

Bahkan di dalam rumah ibunya pun, Max dan teman-teman nyaris jadi ‘pizza gepeng’. Ternyata, meskipun relatif aman, masih ada yang mengincar Max dan teman-temannya.

Dr. Martinez, Ibu Max, memperkenalkan mereka pada sekelompok ilmuwan. Meski sempat curiga, Max pun mempercayai mereka, karena Ibunya juga percaya. Brigid dan teman-temannya mengajak Max dan kawan-kawan ke Antartika untuk menyelidiki pemanasan global dan mencari cara pencegahannya. Wow.. satu tugas menyelamatkan dunia yang sangat menarik… Meskipun tempatnya jauh dari kehangatan matahari yang diinginkan Max.

Seperti biasa, di antara orang-orang yang baik, pasti ada satu atau dua orang yang menjadi mata-mata, yang akhirnya membawa Max dan teman-temannya ke dalam jebakan yang berbahaya. Mereka kembali menjadi tawanan sekelompok orang-orang ‘aneh’ yang ingin melenyapkan mereka.

Buku ini gak setebal buku-buku sebelumnya, tingkat ketegangan yang ada juga gak terlalu tinggi. Max makin jago ‘menyindir’ orang. Para kawanan juga di’anugerahi’ kelebihan baru. Misalnya, Angel yang selain bisa membaca pikiran, sekarang bisa berubah jadi binatang, Nudge yang bisa ‘menarik’ besi, Iggy yang bisa ‘merasakan’ warna, bahkan bisa melihat kalau dia berada di tempat yang putih sempurna, Fang yang bisa meleburkan diri dengan warna gelap. Bahkan Total pun ‘berubah’, dia menjadi ‘anjing bersayap’!

Tuesday, August 18, 2009

How the World Makes Love

How the World Makes Love... And What It Taught a Jilted Groom
(Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta)

Franz Wisner @ 2009
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Serambi, Cet. I – Juni 2009
495 Hal.

Karena gue ‘jatuh cinta’ sama buku Honeymoon with My Brother, gue pun menanti ‘sekuel’-nya dengan tidak sabar. Makanya, begitu buku kedua ini terbit, gue segera menamatkan beberapa buku di rumah, dan membaca buku ini.

Buku ini diawali dengan Franz Wisner yang masih ‘menjomblo’. Masih mencari-cari ‘karakter’ pasangan yang cocok dengan dirinya setelah berbagai peristiwa, perjalanan yang dilaluinya. Ternyata, Franz ‘ketagihan’ jalan-jalan. Ia pun mengajak Kurt, adiknya, untuk kembali ‘berbulan madu’. Tapi, kali ini, bukan hanya sekedar jalan-jalan, tapi mencari apa arti cinta, bagaimana bentuk cinta di berbagai penjuru dunia. Dengan warisan dari La Rue, nenek mereka, Franz dan Kurt kembali berkeliling dunia, berusaha menemukan cinta.

Mereka berkunjung ke Brasil, negara favorit Franz, yang katanya seksi itu. Lalu, ke India, di mana cinta ditentukan oleh perjodohan. Di mana kalo janda, perawan tua atau orang tua tunggal adalah hal yang sangat buruk, ada di halaman paling akhir di kolom kontak jodoh. Atau ke Mesir, yang eksotis, tempat perempuan jarang punya andil dalam menentukan pasangan hidup mereka. Gak ketinggalan juga ke Ceko dan Nikaragua.

Yang paling kocak menurut gue, waktu Franz di Afrika Selatan, tempat di mana, pemandu wisata dan para turis sering jatuh cinta. Gak perlu bertampang keren, yang penting macho dan pemberani.

Di sela-sela perjalanannya keliling dunia, Franz menyempatkan diri untuk kembali ke Amerika. Ia sempat kencan beberapa wanita, tapi ternyata, satu yang menarik hatinya, yaitu si aktris-hippie bernama Tracy. Menjalin hubungan dengan Tracy adalah sebuah langkah baru yang cukup besar. Tracy, adalah tipe wanita yang mungkin berbeda dari kriteria Franz yang lama, selain itu, Tracy juga memiliki anak laki-laki berusia tiga tahun bernama Calvin. Tapi, ternyata ada rasa nyaman ketika Franz berada dekat Tracy.

Tracy-lah yang menjadikan perjalan ke Selandia Baru menjadi perjalanan yang paling romantis, tempat Franz menyadari akan cinta sejatinya.

Tulisan di buku kedua ini lebih ‘bervariasi’. Sekilah sempat ada kesinisan Franz tentang cinta – yah, mengingat dia pernah ditinggalin tunangannya hanya beberapa hari menjelang pernikahan mereka. Tapi, makin lama, makin ke belakang, tulisannya jadi kocak, apalagi membaca berbagai percakapan-percakapan Franz dengan penduduk setempat di negara-negara yang ia datangi. Hmmm… sayang, Indonesia gak masuk daftar kunjungannya kali ini.

Kurt, jarang diikutsertakan dalam buku ini, hanya di beberapa perjalanan, Kurt tampil sekilas. Untuk menjawab pertanyaan pembaca, Kurt pun menulis di beberapa lembar terakhir buku ini.

Di akhir buku ini juga ditulis beberapa definisi ‘cinta’ yang Franz dapatkan dari perjalanannya. Cinta itu ternyata gak rumit koq… Gue jadi berpikir, buku ini pasti lebih keren kalo ada foto-fotonya...

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)

Joshua Files: The Invisible City (Kota yang Hilang)
M. G. Harris
GPU, Juni 2009
384 Hal.

2012 – ramai dibicarakan orang sebagai tahun di mana dunia akan kiamat. Kenapa begitu? Kalau dihubungkan dengan buku ini, tahun itu diambil berdasarkan tahun terakhir di dalam sistem penanggalan atau kalender bangsa Maya. Betul atau tidak? Hmmm… gak tau juga deh…

Itulah yang sedang diselidiki oleh Andres Garcia, seorang arkeolog, sebelum ia dikabarkan tewas. Andres Garcia diberitakan tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat yang dikemudikan sendiri oleh dirinya. Josh Garcia, anak Andres, tak percaya bahwa ayahnya meninggal begitu saja. Ia menduga ada konspirasi di balik kematian ayahnya.

Bagi Josh, urusan arkeolog bukanlah hal asing. Ia sering diajak ayahnya berlibur ke situs-situs tempat ayahnya mengadakan penyelidikan. Ia puna berusaha menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia membuka email-email terakhir yang dikirim ayahnya dan mendapati bahwa pembicaraan tentang codex-codex atau surat-surat berharga mengenai suku Maya, tahun 2012 adalah hal yang sangat berbahaya. Benar saja… tiba-tiba saja rumahnya dibobol maling, tempat kerja ayahnya juga dibongkar.

Bersama dua temannya, Josh nekat pergi ke Meksiko, mencari jejak terakhir yang ditinggalkan ayahnya. Sampai di sana berbagai kejutan menanti. Bukan saja bahwa ternyata Josh memiliki saudara tiri, tapi juga, ternyata ia adalah seorang pewaris takhta yang sangat penting. Sebuah hal yang menjadikannya dewasa dalam sekejap, bukan sekedar seorang bocah berusia 12 tahun lagi.

Perjalanannya sendiri tidaklah mulus, ia harus dikejar-kejar agen rahasia yang mengincar apa yang sedang dicari oleh Josh. Dia pun sampai di sebuah kota di bawah tanah, sebuah kota yang hilang bernama Ek Naab. Di sana ia segera dilantik sebagai seorang pemimpin baru, yang mewarisi apa yang juga dimiliki ayahnya.

Baca buku ini, gue teringat permainan packrat di facebook.. hehehe.. ngumpulin banyak codex buat melengkapi kartu terbesar. Tapi, buku ini menurut gue lumayan ‘rumit’, dan gue agak kesulitan membayangkan kota yang hilang di bawah tanah itu. Gue sempet berharap, kalau bapaknya Josh itu gak meninggal, tapi diculik atau apa gitu… Kaya’nya semua beban yang ada terlalu berat untuk anak sekecil Josh…

Monday, August 10, 2009

Anne of the Island

Anne of the Island
Lucy M. Montgomery
Indradya SP & Nur Aini (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - Juni 2009
400 Hal.

Di buku ketiga ini, Anne terasa jauh berbeda dari dua buku sebelumnya. Makin dewasa dan makin bijaksana. Buku ini berkisah tentang Anne yang terpaksa ‘pergi’ dari Avonlea untuk sekolah di Redmond – meninggalkan Marilla, si Kembar Davy dan Dora, dan juga sahabatnya, Diana Barry. Untungnya, Anne gak sendiri – tempat ‘satu kampungnya’, Pricilla dan Gilbert juga ikutan sekolah di sana.

Anne, merasa tertinggal dalam urusan ‘percintaan. Diana Barry sudah bertunangan dengan Fred Wright dan akan segera menikah. Sementara Anne, meskipun sering berdebar-debar kalau berdekatan dengan Gilbert, gak mau mengakui perasaannya karena takut akan merusak persahabatan mereka sejak kecil.

Di Redmond, Anne bertemu dengan teman-teman baru dan beberapa pengagum baru. Anne juga banyak menerima lamaran yang sangat tidak romantis. Yup, di usia Anne yang 18 tahun itu, ternyata banyak yang mengantri untuk menjadikan Anne sebagai istri mereka. Beberapa bahkan berani mengajukan lamaran. Di antaranya – yang bikin Gilbert salah paham – adalah Roy Gardner, pemuda yang persis seperti ada dalam gambaran Anne – tampan, puitis dan sangat memuja Anne. Tapi, aneh… makin lama, kenapa Roy gak membuat Anne berdebar-debar? Gilbert sendiri gak kalah banyak penggemarnya, bikin Anne cemburu, tapi tetap sok jual mahal.

Kesibukan di Redmond tidak membuat Anne melupakan Avonlea. Di setiap kesempatan berlibur, Anne selalu menyempatkan diri pulang ke Avonlea. Ternyata, warga Avonlea suka ngegosipin Anne sama Gilbert. Sementara Anne berusaha cuek dan sok gak peduli.

Gak hanya Anne yang sibuk dengan masalah cowok, tapi juga teman baru Anne, Pricilla, gadis manja dan kaya yang sering kali plin-plan. Pernikahan demi pernikahan terjadi, makin membuat Anne merasa tertinggal.

Terlalu banyak peristiwa di buku ketiga ini dan cerita di setiap bab jadi relatif lebih pendek.. banyak orang baru yang datang terus menghilang di cerita berikutnya. Banyak yang lewat sekilas aja. Tapi, emang, yang paling ‘menggemaskan’, adalah hubungan ‘gak jelas’ antara Anne dan Gilbert. Antara mau, tapi gengsi, tapi ragu. Dari awal cerita, gue udah yakin, kalo Anne dan Gilbert bakal di’takdirkan’ jadi pasangan, tapi emang, sifat Anne yang keras kepala dan gengsian bakal jadi sedikit ‘halangan’ buat Gilbert untuk terus maju. Sampai akhir, gue menanti-nanti kisah romantis mereka.

Tapi, mungkin karena udah makin gede (kaya’nya sangat dewasa dibandingkan anak-anak seusia Anne di jaman sekarang, ya?), Anne jadi gak terlalu konyol, ‘imajinasinya’ lebih dewasa. Justru teman-teman Anne yang malah keliatan lebih ke’kanak-kanak’-an. Gue jadi ‘kangen’ dengan inisiatif dan spontanitas Anne, atau kejadian-kejadian konyol, kaya’ adegan Anne kejeblos di genteng (ada di Anne of Avonlea).
Niat gue nih, gue pengen coba-coba baca Anne’s House of Dreams (sambil menanti terjemahannya)… tapi, baru baca kalimat awal.. aduh… koq bahasa Inggris-nya ‘kriting’ banget…

Wednesday, July 22, 2009

Gaul Jadul

Gaul Jadul: Biar Memble Asal Kece
Q Baihaqi
GagasMedia, 2009
280 Hal.

Wahhhh… membaca buku ini, gue serasa ‘terlempar’ lagi ketika gue masih SD. Yup, buku ‘Gaul Jadul’ ini menuliskan tentang apa-apa yang in, yang trend dan happening di tahun 80-an. Mulai dari musik, film, buku, makanan, sampai program-program pemerintah di tahun 80an dibahas di sini. Cover-nya aja ada bling-bling disco ball.

Gue pun sempet terkikik-kikik sendiri, membayangkan gaya gue sendiri di tahun 80an itu. Tapi, maklum deh, karena gue masih SD, gue belom terlalu asyik bergaya-gaya. Yang gue inget (dan dibahas di buku ini), setiap malem minggu, gue wajib nonton film akhir pekan, padalah filmnya bukan untuk anak-anak sih. Gue nonton tuh, film Gita Cinta-nya Rano Karno and Yessy Gusman. Gue pernah ‘ngumpet’ di balik rambut megar tante gue, kalo nonton film serem.

Kalo hari Minggu, acara mulai dari Unyil, terus, acara musik Album Minggu Ini, lalu ada film siang-siang deh. Pernah waktu siang-siang itu ada film Oliver Twist. Nah, ketika itu tv di rumah gue lagi rusak. Kalo dinyalain, harus nunggu lama dulu, baru deh, bener-bener nyala. Dan untungnya, pas lagi film Oliver Twist, si tv hanya ngadat sebentar, jadi kita gak ketinggalan lama untuk nonton film itu.

Satu lagi, biar masih sd, kalo malem gue suka ikutan nonton Charlie’s Angels, Hunter, Remington Steel, terus, sempet ngikutin Dynasty sama Return to Eden. Kalo Little Missy sama Isaura, kaya’nya itu tontonan Nenek gue, deh. Oshin juga wajib untuk ditonton. Karena itu pas jamnya belajar ngaji di rumah, sempet kita nonton Oshin dulu, baru ngajinya dilanjutin. Ow, tentu saja gak ketinggalan serial Losmen, Pondokan, Sartika(?)

Untuk musik, gue belom terlalu ngikutin. Paling sebatas acara Aneka Ria Safari. Tapi, buku… buku-buku Enid Blyton, harus ada di lemari buku gue. Mulai dari Lima Sekawan, St. Claire, si Badung sama Malory Towers. Gue sempet pengen banget sekolah di tempat kaya’ Malory Towers. Dan sekarang, gue menyesal udah menghibahkan buku-buku itu ke sodara gue.

Acara radio yang nyaris gak pernah absen gue ikutin adalah siaran ‘Diary’ sama ‘Catatan si Boy’ di radio Prambors. Tapi, kalo ‘Diary’ buntutnya suka serem sih ceritanya, dan ‘Catatan si Boy’ sukses bikin gue pengen cowok seperti dia. Siapa yang gak mau punya cowok keren, tajir, alim lagi pula pintar? Huehehehe…

Kenapa jadi ngebahas gue ya?? Hehehe… tapi, mari kita bahas bukunya. Gue bukan penggemar buku-buku non-fiksi, jadinya, gue sedikit menganggap buku ini garink. Mau lucu-lucuan, juga kurang kena. Mau santai, sedikit deh. Gue sih, seneng aja, membacanya, buat mengenang masa lalu. Ada yang kurang, kaya’ model baju, kaya’nya hanya dibahas sekilas di film-nya mas Boy, model-model kondang jaman 80an gak disebut-sebut. Terus, aduuhh.. tadi gue inget tuh apalagi yang kurang… tapi, koq jadi lupa ya?? O ya, tempat-tempat gaul yang happening juga gak ada (semoga gue gak terlewat). Atau, lagi saat-saat demam badminton kalo ada kejuaraan Piala Thomas atau Piala Uber… kan seru juga tuh kalo ditulis. Pahlawan olahraga jaman 80an juga gak ada. Tapi, ya, mungkin emang gak bisa dibahas abis di sini kali ya…

Yang pasti, gue ngelewatin bagian ‘Bayi Ajaib’ sama ‘Suzanna’… gue gak mau pas mau tidur, gue terbayang-bayang.. hehehehe..

Sebagai debut pertama… Babah Q, boleh juga… mungkin bisa dibuat buku jilid 2-nya? Meskipun banyak bagian yang kriuukkkk…

Tuesday, July 21, 2009

Istana Kedua

Istana Kedua
Asma Nadia
GPU, Agustus 2007
248 Hal.

Membaca buku ini membuat gue ‘gregetan’ dengan para kaum pria – lebih spesifik lagi: pria-pria yang sudah beristri. Gue bukan penganut poligami, makanya gue sedikit mempertanyakan (lagi-lagi), apa sih alasan pria berpoligami?

Di buku ini, ada seorang Arini. Kalau dari luar, kehidupan rumah tangganya bisa bikin orang iri. Punya tiga anak yang lucu, pintar dan baik, suami bernama Pras yang digambarkan sebagai sosok pria yang sabar, penuh kasih sayang dan perhatian. Mereka bertemu sekilas di tangga masjid ketika Arini mencari sepatunya yang hilang. Sebetulnya, Pras adalah teman kakak Arini. Dulu Pras kecil sering bermain-main dengan Arini kecil. Tapi, ternyata, Arini malah lupa sosok Pras ketika beranjak dewasa.

Arini adalah seorang penulis. Dia sering berkhayal tentang dongeng-dongeng indah dengan tokoh pangeran tampan dan putri yang cantik jelita. Pras adalah sosok pangeran tampannya. Pernikahan mereka berlangsung ‘kilat’. Kehidupan mereka terbilang mulus tanpa konflik yang berarti.

Lalu, ada lagi sosok Mei Rose. Perempuan yang mungkin bisa dibilang mirip Betty La Fea. Keturunan Cina, anak yatim piatu yang tinggal dengan bibinya yang galak. Mei Rose sosok yang kuper, cenderung menarik diri dari pergaulan karena sadar akan sosoknya yang kurang menarik. Bibinya juga memperlakukannya sangat kasar.

Hingga suatu hari, seorang pemuda datang menghampirinya, lalu sering memuji Mei Rose. Mei Rose pun terlena. Ia mulai mencoba berubah, tanpa sadar bahwa pria itu hanya ingin kesenangan semata. Benih laki-laki itu tumbuh dalam diri Mei Rose yang sama sekali tak menghendakinya.

Ia nekat kirim email yang isinya mencari laki-laki beristri yang bersedia menikahinya. Ia hanya butuh ayah ‘sementara’ agar anak yang ia benci tidak lahir tanpa ayah. Email itu mengundang caci-maki yang menuduhnya perempuan yang tak tahu malu, tak punya perasaan.

Sampai, akhirnya jalan terakhir ditempuh.. ia ingin mati…

Tapi, beruntung, seorang pria (sangat) baik hati, menyelamatkannya… bahkan bersedia mengakui dirinya sebagai suami Mei Rose.

Pras-lah pria itu… menikah diam-diam… Arini tak mengetahuinya.

Kenapa ya, mbak Asma Nadia gak menggambarkan sosok perempuan yang lebih mau ‘fight’? Kenapa harus sosok yang cenderung ‘pasrah’, ‘nrimo’? Gue pengen banget bisa sedikit ‘menitikkan air mata’, tapi karena gemes jadi gak bisa. Endingnya, ya udah gitu aja… kaya’nya emang, dari sikap Pras, gak butuh lagi penjelasan apa-apa buat Arini, biar bisa lebih ngerti…

Anne of Avonlea

Anne of Avonlea
Lucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita, Cet. 1 - 2009
432 Hal.

Ketemu lagi sama Anne… kekocakan, kekonyolan apalagi yang bakal diperbuat sama Anne? Apa dengan makin gede, sifat ceroboh, gak sabarannya bakal berkurang? Yuk… yuk… mari kita ikutin cerita Anne kali ini.

Anne, sekarang berumur 16 tahun. Jadi ibu guru. Dia memilih tinggal bersama Marilla daripada terus melajutkan sekolahnya. Anne yang idealis, bilang, dia akan melakukan pendekatan dari hati-ke-hati untuk menaklukkan murid-murid yang nakal, bukan dengan pukulan atau hukuman yang keras. Anne masih gadis yang penuh ‘imajinasi’ dan terus mencari ‘teman sejiwa’nya.

Berbagai peristiwa terjadi – baik yang hanya berpengaruh di Green Gables atau di Avonlea secara keseluruhan.

Green Gables kedatangan dua tamu cilik – si kembar Davy dan Dora Keith – anak dari kerabat Marilla yang meninggal dunia. Uniknya, meskipun kembar, sifat keduanya jauh berbeda. Dora Keith, anak perempuan yang manis, yang selalu penurut dan pendiam. Sedangkah, Davy Keith, anak laki-laki yang nakal, tapi polos, dia selalu punya jawaban atas apa yang dia lakukan. Davy juga anak yang pengen tahu banyak hal, mirip sama Anne waktu baru dateng ke Green Gables dulu.

Selain itu, banyak pendatang baru lain di Avonlea. Contohnya, Mr. Harrison, tetangga baru Anne dan Marilla, yang kata orang pemarah dan jorok. Ada kejadian lucu yang akhirnya membuat Anne dan Mr. Harrison berteman baik.

Di sekolah, Anne berusaha keras jadi guru yang baik. Tapi, ternyata, susah juga ‘mengendalikan’ anak-anak jadi seperti yang Anne mau tanpa kekerasan. Satu anak yang nakal dan jelas-jelas menunjukkan kebenciannya adalah Anthony Pye. Anak-anak keluarga Pye memang terkenal sebagai anak-anak yang kerap bikin masalah. Dari awal, semua orang bilang, kalau gak bisa bikin Anthony Pye jera hanya dengan kata-kata lembut harus dengan pukulan keras di pantat. Tapi, Anne tetap kukuh dan yakin ia bisa membuat Anthony Pye jatuh hati dengan caranya sendiri. Ternyata, Anne harus menelan kekecewaan karena ia tidak bisa membuktikan kata-kata itu dan ia sangat menyesalinya.

Jiwa romantis Anne berhasil mempertemukan sepasang kekasih yang sempat berpisah jauh dan lama. Di sekolah, ada murid baru bernama Paul Irving. Paul yang pemalu dan cerdas dari awal sudah membuat Anne jatuh hati. Ia kerap menjadikan Paul sebagai ‘role mode’ bagi Davy biar gak nakal. Ibu Paul sudah meninggal dan ayahnya tinggal di Boston karena pekerjaannya. Di Avonlea, Paul tinggal bersama neneknya. Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dengan Diana, mereka berdua nyasar ke sebuah pondok mungil yang indah, kediaman Ms. Lavender. Nah.. .di sini Anne bener-bener ketemu teman sejiwanya… hehehe… Lewa pertemuan ini, Anne jadi tahu kisah cinta antara Mr. Lavender dan ayah Paul Irving.

Anne yang mulai beranjak remaja juga mulai berpikir tentang cowok idamannya. Bersama Diana Barry, Anne sepakat, bahwa pria idamannya adalah seperti pria-pria yang ada dalam novel favorit mereka, pria dengan tatapan mata sayu dan penuh kata-kata manis. Hahaha.. sampai-sampai Anne jadi gak sadar kalau ada yang diam-diam memperhatikannya… hmmm… siapakah dia???

Gak hanya peristiwa kocak, bahagia yang ada di dalam kisah Anne kali ini. Ada juga kisah sedih dan menggemparkan, misalnya kematian Mr. Thomas Lynde dan badai yang memporak-porandakan Avonlea. Anne juga harus kembali pergi dari Avonlea untuk memperjuangkan cita-citanya yang sempat tertunda.

Dibandingin yang pertama? Hmmm… agak beda ya.. Kalo di Anne of Green Gables, Anne masih kecil, dalam proses penyesuaian, perkenalan dan sangat gak sabaran. Kalo di Anne of Avonlea, Anne udah lebih dewasa, masih sih, suka ‘grabak-grubuk’ – ‘sradak-sruduk’, tapi, itu tuh yang bikin Anne jadi kocak. Biar udah ‘sok’ dewasa, tapi, di dalam hatinya, masih ada jiwa ‘anak-anak’ di dalam hatinya. Beneran lho… gue ketawa-tawa sendiri waktu peristiwa ‘salah sapi’ sama waktu Anne kejeblos di atap gara-gara mau liat piring antik.

Friday, July 17, 2009

His Wedding Organizer

His Wedding Organizer
Retni SB @ 2008
GPU – Cet. II, September 2008
272 Hal.

Harsya, salah satu ‘pemegang saham’ di sebuah wedding organizer yang lumayan ngetop di kota Semarang. Meskipun gak jauh-jauh dari urusan pernikahan, ternyata Harsya sendiri belum berpikir ke arah sana. Bukan gak punya pacar, tapi, sang kekasih ini masih disembunyikan alias belum go public. Satu-satunya teman dekat cowok yang sering terlihat bersama Harsya, adalah Adra, teman dari kecil, mantan tetangga, fotografer dan juga salah satu penanam modal di Puspa Tiara.

One day, datang order besar yang kaya’nya bakal jadi mission impossible. Karin, teman SMA Harsya, yang dulu tak ada tanda-tanda bakal menikah duluan karena pemalu, menghubungi Harsya dan meng-hire-nya sebagai WO untuk pernikahannya. Temanya adalah “Little Mermaid”. Karin pengen ‘membawa’ alam bawah laut ke dalam pesta pernikahannya, harus dengan air sungguhan bukan sekedar background! Belum lagi pusing memikirkan gimana konsepnya nanti, ternyata Harsya harus menerima satu kenyataan pahit. Calon suami Karin tak lain adalah pacar Harsya sendiri, Figo… pengusaha muda yang sukses di kota Semarang.

Mission impossible jadi ada dua – mempersiapkan pernikahan yang extraordinary plus menghadapi sang calon pengantin yang (mantan) pacar sendiri. Untung ada Adra, yang selalu siap jadi ‘tong sampah’ setiap Harsya lagi ada masalah. Meskipun begitu, untuk kali ini, Harsya gak siap untuk cerita apa yang sebenarnya terjadi pada Adra.

Ketika masih sama-sama di sekolah, Harsya and the gank sempat ngerjain Karin dan bikin Karin malu. Nah, untuk ‘menebus’ dosa mereka, Karin minta mereka berjanji kalau di antara mereka, ternyata yang menikah adalah Karin duluan, Harsya and the gank harus pake kostum bikini dengan sayap peri di punggung mereka. Harsya sempat panik, karena ternyata memang Karin duluan yang married, tapi, dengan Karin sedikit berbaik hati untuk menghapus ‘hukuman’ itu, tapi menggantinya dengan ‘hukuman’ lain, yaitu, harus membawa calon suami ke pesta pernikahan Karin nanti.

Di sini masalah yang lebih rumit pun dimulai. Harsya meminta Adra berpura-pura jadi pacarnya, tapi Adra gak tau kalo di balik itu ada permainan lain. Orang-orang Puspa Tiara langsung terkejut melihat kemesraan Harsya dan Adra, kabar ini pun langsung sampai ke telinga orang tua mereka yang juga berteman dekat.

Demi menjaga perasaan orang tua mereka, Harsya dan Adra sepakat melanjutkan ‘kerja sama’ mereka, sampai gak sadar, kalau mereka sebenarnya juga sudah saling jatuh cinta. Tapii… masalah muncul lagi. Figo kembali masuk ke dalam kehidupan Harsya, dengan alasan pernikahannya tidak bahagia, Harsya kembali terjebak dalam rayuan Figo. Adra marah dan menghilang. Harsya jadi kelimpungan…

Setelah gue baca, ceritanya gak jauh beda sama ‘Perempuan Lain’-nya Kristy Nelwan yang beberapa waktu lalu gue baca. Tentang cewek yang susah banget ‘jatuh cinta’, tapi ternyata sekalinya ketemu, malah harus jadi ‘selingkuhan’, dan deket sama temen cowok dari kecil sampe gak sadar kalo sebenernya he is the one-nya si cewek.

Wednesday, July 01, 2009

George’s Secret Key to the Universe

George’s Secret Key to the Universe (Kunci Rahasia George ke Alam Semesta)
Lucy & Stephen Hawking @ 2007
(dengan Christophe Galfard)
Garry Parsons (Ilustrasi)
Andang Sutopo (Terj.)
GPU – Mei 2009
336 Hal.

Hidup George pastinya akan sangat membosankan dan semakin tidak menggairahkan kalau saja si Freddy, babi gendut peliharaannya, gak iseng menerobos pagar pembatas dan ‘mampir’ ke halaman tetangga sebelah yang bak hutan belantara. Ada apa dengan hidup George?

Jadi, George itu termasuk anak yang sering jadi incaran keisengan atau kenakalan teman-temannya di sekolah, dia termasuk anak yang pendiam dan pemalu. Mungkin George sendiri punya alasan untuk itu. Gimana mungkin George gak malu, kalau tiap hari dia bawa bekal makanan yang aneh-aneh? Orang tua George adalah aktivis lingkungan hidup, yang sering mengadakan demonstrasi untuk ‘menyelamatkan dunia dari polusi dan ilmu pengetahuan yang akan menyesatkan dunia’. Jadi, orang tua George memilih polah hidup yang cukup ‘ajaib’ di jaman yang serba modern ini. Misalnya, tidak ada listrik di rumah George - penerangan menggunakan lilin, tidak televisi, radio, apalagi computer yang sangat diidamkan George, semua bahan makanan diambil dari kebun – makanya bekal George ke sekolah bisa berupa muffin brokoli, sandwich bayam, kue labu atau juice apel hasil perasan ibu George sendiri.

Nah, suatu hari, si Freddy ini, satu-satunya hal yang membuat George merasa ‘hidup’, masuk ke pekarangan tetangga misterius. Kenapa misterius? Karena sebenarnya rumah sebelah itu sudah lama tak berpenghuni, penghuni terakhir, seorang pria tua berjenggot pergi begitu saja dan tak pernah kembali. Kebunnya sudah tak terawat. Meski takut dan sudah dilarang oleh orang tuanya, George nekat masuk dan mencari Freddy. Yang dicari ternyata sedang asyik menjilat cairan berwarna ungu yang sempat dikira racun oleh George. Cairan ungu itu adalah blackcurrant juice! Sesuatu yang belum pernah dilihat George.

Itulah awal perkenalan George dengan Annie dan ayahnya, Pak Eric – penghuni baru rumah misterius itu. Pak Eric adalah seorang ilmuwan yang sedang meneliti kemungkinan adanya planet lain yang bisa jadi tempat tinggal bagi manusia. George langsung tertarik dengan rahasia alam semesta. George diajak berkenalan dengan computer yang sangat canggih, tapi manja dan sensitive banget… namanya Cosmos. Dengan bantuan Cosmos, terbukalah sebuah portal (yang kalo di Doraemon, disebut ‘Pintu Ke mana saja’), George pun menyaksikan kelahiran dan kematian sebuah bintang.

George begitu terpesona, sampai-sampai dia tidak konsentrasi dengan pelajaran sekolahnya. Guru George yang nyentrik dan aneh, Dr. Reeper, tak segan-segan menghukum George. Dengan semangat, George bercerita tentang Cosmos, padahal sebelumnya, George sudah berjanji untuk menjaga semua hal yang terjadi di rumah Pak Eric dan merahasiakan semuanya dari siapa pun.

Ternyata, Dr. Reeper bukanlah guru biasa. Bukan kebetulan Dr. Reeper – yang dijuluki Greeper – menjadi guru di sekolah George. Dr. Reeper punya misi sendiri dalam penelitian yang dilakukan oleh Pak Eric. Yang pasti misi itu bukan untuk kebaikan, tapi, untuk dirinya sendiri. Dia pengen menguasai Cosmos untuk dirinya sendiri.

George pun bisa merasakan bertualang layaknya seorang astronot - terkena badai asteroid, nyaris terhisap ke lubang hitam. George jadi punya pandangan baru, bahwa ilmu pengetahuan itu tidak akan merusak bumi kalau digunakan dengan benar.

Buku ini keren banget. Sampai-sampai gue bilang, “Ini akan jadi warisan gue buat Mika. Semoga Mika suka buku ini.” Siapa yang gak tau Stephen Hawking – ilmuwan ngetop itu. Meskipun gue gak tau apa isi buku beliau yang ngetop itu, apa teori-teorinya - selain teori Lubang Hitam. Menarik kan, ketika seorang profesor ngarang buku untuk anak-anak (bersama anaknya sendiri). Di buku ini, diselipin foto-foto luar angkasa yang bagus, juga teori-teori alam semesta yang gak hanya diselipkan dalam percakapan antara George, Annie dan Pak Eric, tapi juga ada box-box kecil untuk tempat penjelasan yang lebih detail. Meskipun begitu, bikin buku ini jadi tambah menarik. Gue jadi inget waktu SD, gue seneng banget liat buku ensiklopedia yang ada gambar-gambar bulan, planet dan foto-foto luar angkasa yang kaya’nya ajaib dan jauhhhh banget (hehehe.. emang jauh sih…).

Dan, gue masih penasaran, apa penyebab Pak Eric dan Dr. Reeper musuhan? Apa masalahnya? Dan, apa yang bikin tangan Dr. Reeper jadi kena luka bakar? Kenapa bapak tua yang ternyata pembimbing Pak Eric dan Dr. Reeper itu pergi dan kemana perginya? Gak ada penjelasan untuk hal-hal ini, karena setiap Annie tanya, pasti aja terpotong. Hmmm… kira-kira kenapa ya? Apa akan dijelasin di George's Cosmic Treasure Hunt?

Monday, June 29, 2009

Perempuan Lain

Perempuan Lain
Kristy Nelwan @ 2007
Grasindo – Cet. II, Maret 2009
362 Hal.

Maya marah berat ketika Fauzan, tunangan sahabatnya, Hesti, ketauan berselingkuh dengan perempuan yang ya… ma’af-ma’af, rada kecentilan dan gak sebanding banget dengan Hesti. Maya nekad melabrak Cindy, si WIL itu, ketika dengan santainya dia datang menggantikan Fauzan yang gak bisa dateng ke ulang tahunnya Cindy.

Masalah ‘perempuan lain’ bukan hanya dialami Cindy, tapi juga Tiara, kakak Maya sendiri. Parahnya, Tiara-lah yang jadi perempuan lain dalam pernikahan orang lain. Bahkan dia hamil, tapi, karena tak mau karirnya terancam, Tiara nekat melakukan aborsi.

Tapi, siapa sangka, Maya sendiri akhirnya terjebak menjadi si ‘perempuan lain’ itu. Tak ada niat atau bahkan kepikiran sama sekali dalam benak Maya untuk mendapatkan predikat pengganggu kekasih orang. Ketika, Maya ketemu Sandi di restoran makanan Menado, Maya hanya iseng memperhatikan sosok ganteng itu. Mana dia tahu kalo Sandi itu GM sebuah produk ponsel ternama yang meng-hire kantor Maya sebagai EO untuk launching produk terbaru mereka. Dan kebetulan Maya adalah PO dari project baru itu.

Maya yang sudah lama gak jatuh cinta, gak bisa melupakan begitu saja sosok Sandi. Sandi yang perhatian, yang hangat dan yang kocak, mampu ‘melumerkan’ hati Maya. Tapi, ternyata, gak disangka-sangka, ternyata Sandi sudah punya tunangan.

Maya hancur. Ia jadi kerja gila-gilaan, makan gak teratur, apalagi tidur. Sampai-sampai, bossnya, mengirim dia berlibur ke Lombok, tempat Maya akhirnya bertemu dengan kekasih masa lalunya dan bisa kembali tersenyum

Ketika Maya mencoba bangkit, Sandi malah gak mau melepaskannya. Maya pun menjalani hubungan ini dengan diam-diam, menyembunyikan ini dari sahabat-sahabatnya sendiri. Meskipun Maya sudah mencoba untuk menjalin hubungan dengan pria lain, Sandi tetap tak tergantikan.

Tapi, ketika Sandi datang lagi kepadanya, dan Maya justru gak mampu untuk menerimanya. Kenapa?? Karena ternyata… sosok dalam mimpi Maya selama ini bukanlah Sandi (upppss… apakah ini spoiler?)

Dibanding novel ‘L’, gue lebih suka yang ini. Emang sih, tokoh perempuannya, sama-sama galak (apakah ini menggambarkan sosok Kristy Nelwan?), terus, sama-sama perokok berat, galak, susah ‘mencari cinta’, dan sama-sama pekerja keras. Tapi, buat gue, tema-nya lebih ‘membumi’, dibanding tema nyari cowok berdasarkan abjad. Sifat idealis seseorang yang harus diuji ketika dia sendiri melanggar apa yang dia ‘haramkan’. Dan, kadang, kita juga gak sadar, sosok yang selama ini kita cari, ada pada seseorang yang selalu hadir di depan mata kita.

Meskipun ini, banyak ‘keseleo’nya nih, banyak salah tulis… Adiel Peterband beberapa kali keseleo jadi Ariel Peterpan, yang memang tampaknya berasal dari nama itu.

Friday, June 26, 2009

Ingo

Ingo
Helen Dunmore @ 2005
Rosemary Kesauli (Terj.)
GPU – Juni 2009
312 Hal.

Buku ini berkisah tentang legenda Putri Duyung. Kalo dalam dongeng-dongeng anak-anak a la Walt Disney, Putri Duyung (dan juga makhluk-makhluk bawah air lainnya), selalu digambarkan sebagai makhluk yang ramah, cantik dan baik. Tapi, coba liat atau baca Harry Potter. Putri Duyung di dalam cerita itu, digambarin berwajah menyeramkan (meskipun awalnya sempet ‘cantik’), terus, penggoda.

Di buku ini juga gitu. Legenda Putri Duyung yang jatuh cinta dengan manusia darat. Laut tempat si putri duyung tinggal terus memanggil-manggil pemuda yang bernama Matthew Trewhella. Karena selama mereka masih tinggal di dua dunia yang berbeda, mereka tidak akan pernah bisa bersatu. Matthew pun memilih ‘pindah’ ke tempat pujaan hatinya dan meninggalkan dunia yang selama ini ia kenal. Jika sudah masuk ke dalam dunia bawah laut, akan laut akan terus menarik dan memisahkan manusia dari tempat tinggalnya sebelumnya.

Legenda itu sering didengar Sapphire. Ayahnya yang ‘kebetulan’ bernama Matthew Trewhella sering menceritakan kisah itu kepadanya. Sapphire, ayahnya, ibunya dan kakaknya, Connor, tinggal di pesisir pantai yang dingin (bahkan saat musim panas pun, gue mendapatkan kesan yang tetap dingin). Lautnya begitu misterius, sampai-sampai ibu Sapphire membencinya. Tapi, Sapphire, seperti ayahnya mencintai laut.

Suatu malam, ayah Sapphire pergi dan tak pernah kembali lagi. Semua orang menganggap ia sudah mati tenggelam. Tapi, Sapphire dan Connor tak percaya. Mereka yakin, entah bagaimana dan di mana, ayah mereka masih hidup.

Sepeninggal Matthew, ibu mereka, Jannie, terpaksa bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga mereka kerap ditinggal sendiri di rumah. Suatu hari di musim panas, Connor pergi, tanpa pamit. Sehingga Sapphire panik. Sapphire mencarinya ke pantai, dan menemukan Connor sedang berbicara dengan seorang gadis yang berpakaian mirip penyelam. Tapi, Connor tidak mau mengakui siapa yang ia temui.

Sapphire yang penasaran mencoba mengikuti Connor, dia malah bertemu dengan Faro, laki-laki ‘setengah’ anjiing laut. Sapphire pun diajak ke dunia bawah laut yang menakjubkan, yang disebut Ingo, tempat yang membuatnya ingin kembali lagi karena daya tariknya yang begitu kuat.

Misteri Ingo seolah mengikuti misteri hilangnya ayah Sapphire. Sebagai anak paling kecil dan yang paling dekat dengan ayahnya, Sapphire tidak rela ketika posisi ayahnya nyaris tergantikan oleh pria lain. Ia merasa diabaikan, ia merasa bukan di ‘Udara’ – begitu kaum Mer menyebut dunia darat – tempatnya seharusnya berada. Sapphire ingin kembali dan kembali lagi ke Ingo. Meskipun Connor terus mencegahnya untuk memikirkan Ingo.

Biasanya gue gak terlalu suka misteri kaya’ begini, tapi koq gue jadi ikutan ‘terpesona’ dengan Ingo. Gue ikutan penasaran, apa sebenarnya yang ada di Ingo, terus, apa memang ayah Sapphire masih hidup? Kalau memang masih hidup, ke mana dong Matthew pergi dan berada sekarang? Dan hal ini, benar-benar jadi misteri sampai akhir cerita.

Helen Dunmore gak membiarkan pembacanya mengambil kesimpulan sendiri. Pembacanya diajak ‘berfantasi’ dengan dunia Ingo dan mencari jawaban sendiri. Dan, ternyata, Ingo ini ada sequelnya. Semoga aja segera terbit juga terjemahannya.

Tuesday, June 23, 2009

The Bed and Breakfast Star

The Bed and Breakfast Star (Bintang Kelarga)
Jacqueline Wilson @ 1994
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juni 2009
216 Hal.

Elsa, gadis kecil berusia 10 tahun, berambut ‘jigrak’ seperti surai singa. Namanya sendiri diambil dari seekor singa yang terkenal. Sejak lahir, Elsa memiliki rambut yang lebat dan sengaja disisir oleh ibunya ke atas. Elsa, suka sekali membuat lelucon, ia bercita-cita jadi komedian terkenal. Tapi, sayang, tak semua orang mengerti dan tertawa dengan lelucon Elsa.

Kisah Elsa berawal dari tempat tidur. Ia menghitung dan membandingkan setiap tempat tidur yang pernah ia miliki. Elsa tinggal bersama ibunya, ayah tirinya- Mack dan dua adik tirinya. Mack adalah laki-laki yang pemarah. Biar begitu, ia tetap menyayangi adik tirinya.

Keluarga Elsa terpaksa pindah dari rumah mereka karena rumah mereka disita oleh para penagih hutang. Mack tidak punya pekerjaan. Mereka pun terpaksa tinggal di sebuah ‘hotel’ kecil yang sangat buruk pelayanannya, sebuah hotel ‘bed and breakfast’, di mana mereka harus tinggal berhimpit-himpitan.

Elsa berkenalan dengan teman-teman baru, ada yang baik seperti Naomi, atau gerombolan anak laki-laki nakal yang suka menuliskan kata-kata jorok.

Karena sifatnya polosnya juga, Elsa sering jadi sasaran kemarahan Mack. Ibunya sendiri kadang pasrah aja, karena sudah terlalu sedih dan ‘hopeless’ dengan keadaan mereka. Meskipun menurut gue, mereka cukup ‘beruntung’ karena gak jadi ‘gelandangan’.

Meski kadang sedih dipadang sebelah mata sebagai anak dari ‘bed and breakfast’. Elsa tetap ceria. Ia selalu melontarkan lelucon-lelucon konyolnya, berharap orang lain juga mengerti kelucuannya. Tapi, dasar orang dewasa, kadang terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, hingga lupa caranya tertawa.

Siapa sangka, lewat 'auman'-nya, Elsa jadi pahlawan dan kebanggaan Mack si Skot.

Gue suka sama cover buku-bukunya Jacqueline Wilson, meskipun ini baru buku keduanya yang gue baca setelah Lola Rose. Dari dua tokoh yang gue baca, gue melihat karakter seorang anak kecil yang meskipun susah, tapi tetap bisa gembira dan tersenyum. Sampai akhirnya, ia malah jadi kesayangan banyak orang.

Monday, June 15, 2009

Burning Sea

Burning Sea: Bara Cinta di Tengah Deru Perang
(Beside a Burning Sea)
John Shors @ 2008
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita – Cet. I, Mei 2009
692 Hal.

Benevolence – kapal rumah sakit milik Amerika Serikat, sedang berlayar dengan tenang di perairan di sekitar Kepulauan Solomon. Sesuai dengan fungsinya, kapal itu membawa para korban Perang Dunia II - tidak hanya korban dari pihak Amerika, tapi juga dari pihak Jepang. Kapal itu dinakhodai oleh Joshua. Sementara Joshua sedang memeriksa segala tetek-bengek untuk kapal, istrinya, Isabelle sedang bekerja merawat pasien bersama adiknya, Annie.

Tak ada yang menduga bahwa kapal dengan lambing palang merah besar itu akan terkena hantaman torpedo. Tapi itulah yang terjadi. Seorang pengkhianat memberi tahu pihak musuh bahwa kapal itu milik Amerika. Hantaman torpedo itu berasal dari pesawat pengebom Jepang.

Hanya 9 orang yang selamat, terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Kesembilan orang itu adalah Joshua, Isabelle, Annie, Scarlett – seorang pesawat, awak kapal: Jake, Nathan dan Roger, seorang bocah asal Fiji yang menjadi penyelundup di kapal itu bernama Ratu, dan seorang pasien berkebangsaan Jepang bernama Akira.

Belum habis rasa shock mereka akibat kecelakaan yang mereka alami, mereka harus mencari cara untuk bertahan di pulau itu. Beruntung ada Joshua yang memimpin mereka, sehingga mereka bisa saling menguatkan satu sama lain. Meskipun sempat ada perdebatan apa yang akan mereka lakukan terhadap Akira. Tapi, karena Akira menderita luka di kaki yang cukup parah, pelan-pelan kekhawatiran mereka sirna.

Tapi, salah satu di antara mereka adalah si pengkhianat, yang dengan persiapan cermat terus-menerus menghubungi pihak musuh.

Di sela-sela kehidupan baru mereka, ada rasa saling tertarik antara Akira dan Annie. Akira, di ‘kehidupan’ sebelumnya adalah seorang guru bahasa. Ia pintar membuat haiku, sajak dalam bahasa Jepang. Meskipun Akira dan Annie dalam perang berada di pihak yang berlawanan, sifat Akira yang lembut dan Annie yang penuh perhatian mampu meredam berbagai perbedaan.

Hari-hari para penumpang Benevolence yang selamat dilewati dengan berjalan-jalan di pulau yang indah itu – Ratu dan Jake bagian menangkap ikan untuk persediaan makanan mereka, Scarlett mengawasi keadaan dari atas bukit, Isabelle dan Joshua mencoba menata kehidupan pernikahan mereka kembali, Roger sibuk dengan misi tersembunyinya, Annie dan Akira yang saling jatuh cinta. Sedangkan Nathan, gak terlalu banyak perannya.

Serasa kehidupan damai banget, padahal ada musuh yang mengintai, dan mereka harus siap setiap saat apa bila ada kapal musuh yang datang. Akira sebagai satu-satunya Jepang di antara mereka, juga selalu siap siaga menghadapi Roger yang senantiasa mengincarnya, yang selalu berharap agar bisa 'mematikannya'.

Karakter Roger emang bikin geram. Kata-katanya kasar, sikapnya yang licik, kejam dan penuh kebencian dibentuk oleh masa kecilnya. Sementara Joshua, dipenuhi rasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan penumpang kapal Benevolence. Annie, berusaha setia pada tunangannya, Ted, tapi tak bisa dipungkiri kalau ia jatuh cinta pada Akira. Lalu, ada Ratu yang mencari ayahnya, rela nyaris digigit ikan hiu, demi mendapatkan taring hiu untuk keberuntungan. Ia bersahabat dengan Jake, yang menyembunyikannya selama ia berada di kapal.

Semua punya latar belakang masing-masing, tapi yang pasti, tujuan dan harapan mereka (nyaris)sama - keluar dari pulau itu dengan selamat, dan kembali ke keluarga mereka masing-masing.

Untuk cerita dengan latar belakang peperangan, novel ini mungkin terhitung datar. Karena fokusnya tentu saja di masalah percintaan. Ketegangan hanya muncul sekilas-sekilas, misalnya ketika terjadi pertentangan antara si pengkhianat dan orang-orang yang lain. Mereka jadi lebih mirip sekelompok orang-orang yang lagi ‘liburan’, tapi dengan tingkat stres yang tinggi. Hehehe… Di setiap awal bab, ada baris-baris haiku seperti yang diciptakan oleh Akira.

Wednesday, June 10, 2009

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)
Johanna Lindsey @ 2005
Isma Badrawati (Terj.)
Gagas Media – Cet. I, 2009
452 Hal.

‘Batu Duel’ – tempat para lelaki mempertahankan harga dirinya, tempat mereka bertarung agar mereka yakin mereka lelaki sejati. Tempat itu mempertaruhkan banyak hal – harta, kehormatan dan juga persahabatan.

Sebastian dan Giles sering melewati tempat itu sepanjang umur mereka. Tak ada yang menyangka persahabatan mereka harus berakhir di tempat itu. Sebagai pemuda tampan, kaya raya, dan seorang bangsawan, Sebastian tentu saja digilai banyak wanita. Demikian juga dengan Giles. Tapi, ketika Sebastian tergoda – atau lebih tepatnya digoda – oleh wanita yang ternyata adalah istri Giles, Giles marah dan akhirnya menantang Sebastian di Batu Duel.

Tadinya – meskipun sama-sama marah – tak ada yang menginginkan duel yang sebenarnya terjadi. Mereka sama-sama tak ingin kehilangan persahabatan mereka. Tapi, gengsi dan harga diri mengharuskan Sebastian memenuhi tantangan itu. Mereka sudah sama-sama mengatur strategi secara diam-diam agar tidak saling melukai. Namun… kenyataan berkata lain. Secara tidak sengaja, Sebastian yang kaget malah menembak Giles. Buntutnya, keluarga Giles dan keluarga Sebastian terluka. Sebastian diusir oleh ayahnya, tidak diakui lagi sebagai anak dan dilarang menginjakkan kaki lagi di Inggris.

Sebastian yang juga sakit hati dan sedih bersumpah tidak akan pernah datang lagi ke Inggris. Bersama pelayan setianya, ia mengembara berkeliling Eropa. Ia kemudian dikenal sebagai The Raven, lelaki bengis dan keras yang bersedia melakukan pekerjaan apa pun. Ia dikenal bisa menemukan orang-orang yang hilang, sebagai penyelidik yang dibayar mahal dan nyaris tidak pernah gagal.

Suatu hari datanglah seorang wanita bernama Margaret yang ingin minta bantuannya untuk menyelidiki penyebab kecelakaan yang dialami ayah angkatnya. Tak disangka-sangka, Margaret bukan orang asing bagi Sebastian. Sebelum kejadian itu, Margaret kecil diam-diam menyukai Sebastian, dan ayah angkatnya tak lain adalah ayah Sebastian sendiri.

Awalnya, Margaret pesimis Sebastian mau kembali ke Inggris. Tapi, dengan persyaratan yang sebenarnya Margaret sendiri tak yakin bisa memenuhinya, Sebastian menerima ‘pekerjaan’ dari Margaret. Syarat itu, selain bayaran amat sangat tinggi, Margaret bilang mereka harus berpura-pura menikah, supaya orang-orang di sana mau menerima Sebastian kembali.

Di Inggris, Sebastian memulai penyelidikannya. Sementara Margaret harus ‘berperang’ melawan perasaannya sendiri. Pastinya akhirnya mereka jatuh cinta beneran.

Buat gue, buku yang lumayan tebal ini, memberi kejutan yang ‘nanggung’, yang kaya’nya justru lebih seru dan ‘normal’ kalau itu gak ada. Alasan-alasan di balik duel Sebastian dan Giles juga kaya’nya kurang ‘kuat’.

Dengan setting Inggris di abad mungkin hmmm… 17? Or 18? – yang terbayang di benak gue, hanyalah wanita dengan baju-baju gaun berbawahan lebar dan bagian atas yang menyesakkan karena pake korset, lalu pria dengan setelah jas ber-rimple, lalu pesta dansa, makan malam resmi yang penuh basa-basi. Ditambah lagi, tentu saja gak ketinggalan ‘bagian percintaan’ antara Margaret – Sebastian yang gak perlu tebak-tebakan untuk mengetahui apakah bakalan terjadi beneran atau gak.

Tuesday, June 02, 2009

Botchan

Botchan
Natsume Soseki @ 1906
Intan Santi Pratidina (Terj.)
GPU – April 2009
224 Hal.

Cover-nya yang cerah dan unik menjadi salah satu daya tarik kenapa gue memasukkan buku ini ke kantong belanja gue. Alasan lain adalah karena gue mencoba mencari ‘pesona’ yang sama ketika gue membaca buku Toto-chan bertahun-tahun yang lalu. Buku ini ditulis udah lama banget oleh Natsume Soseki, dan ternyata masih tetap enak untuk dibaca ceritanya.

Cerita tentang seorang pemuda yang kerap dipanggil Botchan oleh pengurus rumah tangga keluarganya, seorang perempuan tua bernama Kiyo. Botchan sendiri bisa diartikan sebagai ‘tuan muda’ dan memang, dari awal sampai akhir, kita tidak diberi tahu siapa nama Botchan sesungguhnya.

Dari kecil, Botchan sudah mulai menampakkan ciri-ciri sebagai anak pemberontak, nakal dan iseng. Orang tuanya bahkan tidak pernah memujinya, justru kakak Botchan yang selalu jadi tumpuan harapan mereka. Hanya Kiyo yang tetap memujinya, selalu memberinya hadiah dan tidak pernah mengatakan kalau Botchan itu salah. Apa pun yang dilakukan Botchan, Kiyo selalu melihat sisi positifnya.

Ibu Botchan meninggal dunia ketika Botchan masih kecil. Beberapa tahun kemudian, ayah Botchan pun menyusul. Semua diatur oleh kakak Botchan, sehingga ketika rumah mereka dijual, Botchan diberi bagian untuk memulai hidup baru dan berpisah dengan kakaknya. Botchan sempat bingung, karena tidak mungkin ia tinggal di rumah sewaan bersama Kiyo. Untung Kiyo masih memiliki keponakan yang siap menampungnya. Kiyo masih tetap berharap suatu hari nanti Botchan akan datang menjemputnya dan mengajaknya tinggal bersama.

Selanjutnya, kehidupan Botchan pun berubah. Ia mencoba sekolah di sekolah kejuruan ilmu pasti. Dan ketika ada lowongan menjadi guru di sebuah desa, ia pun menerima. Sebuah kebetulan dan pertanda yang katanya kemudian hari akan jadi sebuah hal yang buruk.

Di sekolah di desa kecil itu, Botchan mengajar matematika. Sebagai guru baru, ia harus memperkenalkan diri kepada setiap guru lama. Sebuah kebiasaan yang menurut Botchan sia-sia. Segera saja Botchan memberi julukan kepada orang-orang baru yang ia temui, ada si Kemeja Merah yang menurutnya bermuka dua, Yoshikawa yang kemayu, Hotta, guru matematika lain dan Koga si Labu.

Namanya guru baru juga tak luput dari keisengan para murid. Ketika Botchan mendapat giliran jaga malam, murid-murid yang tinggal di asrama, memasukkan kecoak di alas tidur Botchan. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah itu.

Botchan menganggap guru-guru di sana terlalu lembek dalam menghadapi anak-anak, sehingga mereka berani bersikap kurang aja.

Sikap Botchan yang cenderung menentang apa yang sudah lama berlaku sempat menimbulkan masalah. Apalagi ada guru-guru seperti si Kemeja Merah yang pintar bersilat lidah dan bermuka dua, sehingga kalau kita tidak hati-hati, kita tidak tahu apakah maksud dia sebenarnya.

Botchan – gambaran pemuda yang idealis, tapi juga kadang terlalu cepat emosi. Ia berani mengambil keputusan atas apa yang ia yakini benar.

Thursday, May 28, 2009

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)
Jeff Kinney @ 2007
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – 2009
216 Hal.

Cover yang merah ceria, membuat gue tertarik waktu buku ini masih dalam edisi aslinya. Mau beli… uhhh… mahalll.. hehehe… untunglah, sekarang ada terjemahannya… untung juga, cover-nya gak diganti… pengen tau, seperti apa sih isi buku yang katanya dikategorikan sebagai novel-kartun…

Namanya juga diary, jadi isinya adalah peristiwa sehari-hari. Tapi, kata Greg Heffley – si empunya diary ini – jangan harap ada tulisan ‘Dear Diary, hari ini aku…”. Makanya, Greg wanti-wanti pada ibunya agar jangan membelikan buku yang di sampulnya ada tulisan ‘Diary’.

Maklum, sebagai anak cowok (lagi puber), malu dong kalo ketauan bawa-bawa buku yang centil. Dan, tujuan Greg bikin diary, supaya suatu saat dia nanti jadi ngetop, kalau ada pertanyaan tentang siapa dirinya, riwayat hidupnya, si penanya bisa langsung baca diarynya tanpa Greg perlu repot-repot menjawabnya.

Greg punya teman yang dipilih karena paling ‘culun’ bernama Rowley Jefferson. Sebagai anak yang baru gede, Greg pengen cari kegiatan yang tidak terlalu terkesan kekanak-kanakan. Rowley kadang menurut Greg gak ‘nyambung’, tapi, hanya dengan Rowley, Greg jadi merasa lebih ‘hebat’.

Greg selalu berusaha jadi anak yang ‘cool’ dengan melakukan berbagai aktivitas, atau mencari perhatian orang. Tapi, sayangnya, kadang, dia malah jadi ‘sial’.Misalnya, ketika ada lowongan untuk mengisi kolom komik di sekolahnya, Greg yang pinter gambar, mencoba ‘peruntungannya’. Bersama Rowley, Greg mencoba merancang sebuah komik kocak. Biar kesannya Rowley juga punya peranan, Greg membiarkan Rowley untuk berkreasi. Tapi, dasar Greg suka sok tahu, diam-diam dia malah menganggap kreasi Rowley terlalu norak. Sampai akhirnya Greg membuat komik sendiri tanpa sepengetahuan Rowley dan berhasil dimuat satu kali di kolom komik di koran sekolah mereka. Bukannya ngetop, malah Greg jadi ‘musuh’ bersama para murid. Dan tebak… siapa yang malah jadi bintang?? Rowley yang jadi bintang baru dengan komik ciptaannya yang sempat dipandan sebelah mata oleh Greg.

Satu lagi yang kocak, adalah masalah ‘Sentuhan Keju’, yang bisa bikin seseorang jadi dihindari sama satu sekolah. Apa sih ‘Sentuhan Keju’ itu? Yang pasti… menjijikan sekali…

Buku ini lumayan menghibur, kekocakan Greg yang sok tau, sifat polos Rowley tapi diam-diam mencuri perhatian. Belum lagi keluarga Greg yang juga gak kalah ngaconya.

Greg sebenernya anak yang kreatif, punya keinginan untuk jadi pusat perhatian, tapi, sayangnya, keinginannya gak selalu tercapai.

Monday, May 25, 2009

Opera Orang Kaya

Opera Orang Kaya
Ita Sembiring
GagasMedia – 2009
262 Hal.

Pertama kali ‘kenal’ Ita Sembiring, lewat bukunya Jerit: Suatu ketika di Lho'seumawe, dan gue suka dengan cerita di buku itu, meskipun isinya serius banget dan tragis. Terus, gue baca buku lainnya, ‘Negeri Bayangan: Terorist Free’.. gue gak terlalu suka, karena aneh. Gue baca lagi cerita ‘When a Man Lost a Woman).. ini lumayan. Dan… gue pun tertarik untuk baca Opera Orang Kaya. Kenapa gue tertarik? Karena tema ceritanya yang lebih nge-pop dibanding yang lain, terus, settingnya di luar Indonesia.

Tapi, gue rada kecewa… karena gak seperti yang gue bayangin. Di synopsis, bikin penasaran (ya, iyalah… kalo gak, gak bakal ada yang beli deh… hehehe..). Kenapa begitu? Ceritanya di awal menjanjikan… tapi, semakin ke belakang, koq jadi semakin gak jelas… ngalor-ngidul aja… bingung mana yang katanya mau ‘diselesaikan’?

Jadi ini adalah kisah ketika seorang Gre Kinayan menjadi tour leader untuk sekelompok anak-anak yang sedang ikutan program belajar bahasa Inggris langsung di tempat asalnya, alias di London, Inggris. Ketika itu musim panas, Gre – bersama Christopher Park, si bule yang jadi kecengan ke 26 peserta.

Seru-seruan bareng berkisar anak-anak orang kaya itu yang kadang gak mau cape’, yang males kalo ke museum, lebih suka shopping daripada kembali ke tujuan semula mereka ada di tempat itu.

11 tahun kemudian, mereka sudah ‘tercerai-berai’. Gre tinggal di Belanda, sendirian, belum menikah. Tiba-tiba, muncullah sebuah email dari salah satu peserta yang ‘dianggap’ paling seru, bernama Aninda Lana. Si Aninda ini sekarang tinggal di Belanda juga, menikah sama bule Belanda.

Lalu, terbukalah semua cerita tentang gimana para eks-peserta summer course itu. Ada yang sudah menikah dan punya anak, ada yang sudah bercerai, ada yang masih menjalani ‘hidup bersama’.

Semua itu muncul dalam bentuk email-emailan, chatting dan percakapan via telepon atau langsung antara Aninda dan Gre.

Cerita-cerita di musim panas itu muncul lagi, yang dapat porsi paling banyak adalah cerita tentang peserta yang naksir-naksiran dengan si Christopher Park.

Gre sendiri sih, diam-diam juga naksir si Chris, tapi jaim karena posisinya sebagai tour leader.

Tapi, lama-lama gue baca, gue pusing sendiri, terlalu banyak percakapan becanda yang jadi garing, lalu, terlalu banyak tokoh tapi, gak ada yang ‘dalam’ untuk dikenal. Bahkan Gre pun jadi ‘buram’, gak jelas apa maunya. Agak cape’ juga ngikutin si Aninda yang sok seru itu.

Kaya’nya untuk seorang Ita Sembiring, koq buku ini jadi terkesan biasa banget.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang