Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts
Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts

Tuesday, April 01, 2014

Just One Day

Just One Day (Satu Hari Saja)

Gayle Forman @ 2013

Poppy D. Chusfani (Terj.)
GPU – February 2014
400 Hal.

Hidup Allyson Healey semuanya sudah diatur oleh ibunya. Untuk sekolah, kursus tambahan atau bahkan tempat berlibur. Orang tua Allyson yakin pilihan berlibur keliling Eropa akan menyenangkan untuk Allyson. Dan sebagai anak yang baik dan ingin membahagiakan orang tuanya, Allyson menerima segala keputusan itu. Ia tidak berani untuk ‘sedikit’ memberontak seperti sahabatnya Melanie.

Keliling Eropa memang menyenangkan, tapi, terasa monoton dengan kegiatan yang sudah dirancang dengan rapi oleh pihak penyelanggara. Ketika ada di Stratford-upon-Avon, Inggris dalam rangka menonton pertunjukkan Hamlet, seorang pemuda ‘menawarkan’ sesuatu yang berbeda dan langsung di-iyakan oleh Melanie. Dan mereka pun nonton street performance Twelve Nights, di mana si cowok itu jadi salah satu pemerannya.

Tak disangka inilah awal dari sebuah ‘pemberontakan’ yang akan dilakukan oleh Allyson. Ia nekat memenuhi undangan dari Willem untuk berjalan-jalan di Paris selama satu hari saja. Melihat Paris tapi dengan cara yang berbeda, menawarkan romantisme dan membuat adrenalin Allyson meningkat. Allyson berusaha menikmati ‘hidup’, belajar jatuh cinta dan mencintai.

Meskipun kunjungan ke Paris itu tak berakhir seperti yang diharapkan Allyson, tapi hal itu mampu membuat perubahan yang besar dalam diri Allyson. Allyson kembali ke Amerika, sekolah sebagai mahasiswa pra-kedokteran sesuai keinginan orang tuanya, tapi dalam hati ia tak bahagia. Pribadi Willem yang spontan masih menghantui dirinya, dan sebagian dari diri Allyson berharap untuk bisa bertemu lagi dengan Willem.

Yang menarik dalam cerita ini adalah drama Shakespeare – yang mempertemukan Allyson dan Willem. Gue gak banyak tau tentang drama-drama Shakespeare selain Romeo & Juliet versi Leonardi DiCaprio dan Claire Danes. Di dalam buku ini, biarpun gak detail, diceritakan beberapa lakon drama Shakespeare yang membuat gue berpikir kalau masih banyak kisah Shakespeare yang menarik. Kedua, tentu saja acara keliling Paris dan Belanda a la Allyson. Rasanya ada ‘aura’ kebebasan di sana.

Tapi gue merasa ‘chemistry’ Allyson dan Willem kurang ‘nendang’. Yah, mungkin karena pertemuan mereka yang singkat itu ya? Malah gue merasa kehidupan Allyson pasca Paris diceritakan dengan begitu membosankan. Karena Allyson yang jadi penyendiri, ingin bicara tapi takut, dan akhirnya malah jadi pribadi yang gak asyik. Persahabatannya dengan Melanie pun jadi renggang. Yang bikin ‘cerah’ bagian ini adalah kehadiran Dee, teman baru dari kelas drama Shakespeare yang diambil Allyson sebagai ‘penyeimbang’ mata pelajaran kimia. Gue juga suka bagian Allyson yang berusaha memperbaiki hubungan dengan ibunya, ketika ia kirim-kiriman foto sama ibunya, menurut gue itu suatu hal yang ‘manis’. Dengan adanya perubahan dalam diri Allyson juga membawa perubahan yang lebih santai pada diri orang tua Allyson.

Tapi ya, Allyson ini jangan dicontoh juga sih… apa dia gak denger gitu kata orang tua, jangan sembarangan terima ajakan cowok?!! Untung si Willem baik, kalo ternyata dia jahat gimana??

Dan… ending-nya sungguh menyebalkan…. !!!  Tapi… who knows.. apakah buku kedua – Just One Year - bakal membuat gue kembali ‘termehek-mehek’ seperti setelah baca Where She Went?



Submitted for:


Tuesday, December 31, 2013

Where She Went



Where She Went

Definitions - 2012
288 hal.

Ini lanjutannya If I Stay – yang diceritakan dari sudut pandang Mia. Sedangkan di Where She Went, Adam Wilde yang giliran cerita.

Adam Wilde sekarang udah jadi selebritis, dengan band-nya Shooting Star, mereka jadi pujaan banyak orang. Lagu-lagu mereka bertengger di puncak tangga lagu dunia. Tapi, ternyata dikelilingi begitu banyak orang tetap membuat Adam kesepian. Ketenaran tidak bisa membuat Adam lupa akan rasa marah, sedih, terpuruk dan bingung karena ditinggal begitu saja oleh Mia Hall. Lewat lagu-lagu yang ia ciptakan, ia berusaha menumpahkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya. Adam juga jadi pribadi yang sulit, moody, susah tidur. Dia bahkan menjauh dari rekan-rekan satu band-nya, membuat ia dicap egois. Rasanya baca apa yang ada di pikiran Adam, jadi ikutan merasa lelah… setiap hari bangun, dan berkata, “Hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kaulewati…”

Waktu lagi galau, Adam jalan-jalan sendiri, dan tiba-tiba saja menemukan sebuah poster yang isinya konser yang menampilkan Mia Hall sebagai pemain cello. Maka masuklah Adam ke sana, menikmati penampilan Mia.

Singkat kata… mereka pun bertemu, berbicara… dan tentunya yang bikin penasaran, jadi ending-nya gimana dong??? Mereka balik lagi, atau memutuskan pisah baik-baik, atau…. ‘gantung’ lagi?

Jangan khawatir buku ini bakal jadi ‘menye-menye’ karena menceritakan laki-laki yang patah hati. Gayle Forman menggambarkan sosok Adam Wilde yang patah hati, tapi gak jadi mellow dan sedih berkepanjangan. Meskipun jadi sedikit temperamental, Adam bisa menyalurkan emosinya lewat nulis lagu. Sayangnya, Adam jadi rada ketergantungan sama rokok dan obat tidur.

Mia sempat jadi sosok yang membuat gue sebal di sini. Dengan segudang alasan yang katakanlah buat gue gak masuk akal, sampai bisa dia bisa gitu aja meninggalkan ada (hmmm… kenapa gue jadi tiba-tiba kaya’ Tim Pembela Adam begini?), tapi, Mia juga jauh lebih dewasa. Cara bertuturnya lebih tenang, dan mampu membuat Adam yang uring-uringan juga ikut tenang.

Seolah pengen bikin pembacanya terus penasaran, Forman gak melulu menampilkan perjalanan Mia dan Adam selama beberapa jam bersama, tapi juga sesekali kembali ke masa lalu, jadinya, pas kira-kira eh… ini nih endingnya, tau-tau, di bab berikutnya, cerita lagi masa-masa galau Adam pas baru aja Mia pergi, atau pas mereka masih happy as a couple.

Wednesday, October 12, 2011

If I Stay

If I Stay (Jika Aku Tetap di Sini)
Gayle Forman @ 2009
Poppy D. Chusfani (Terj.)
GPU – February 2011
200 hal.,
(pinjem dari Mia)

Kehidupan Mia tampaknya menyenangkan. Tinggal dengan orang tua yang selalu mendukungnya, adik yang manis. Meskipun bisa dibilang orang tuanya rada ‘nyentrik’, tapi semua berjalan dengan baik-baik saja. Mia menyukai musik klasik, sementara orang tuanya cenderung ke arah rock. Di masa mudanya, ayah Mia pernah ikut bermain band. Dan sekarang, Mia juga bermain alat musik, cello. Saat ini ia tengah bersiap-siap untuk audisi masuk sekolah musik ternama, Julliard. Pacar Mia sendiri juga pemain band.

Pagi itu semua baik-baik saja. Salju turun, menyebabkan sekolah-sekolah diliburkan, dan ibu Mia memutuskan untuk tidak masuk kantor. Akhirnya, orang tua Mia memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabat mereka.

Perjalanan juga diawali dengan santai, berebut ingin memutar lagu pilihan mereka masing-masing di mobil. Semua begitu sempurna…. Dan tiba-tiba saja, semua berubah jadi bencana.

Dalam kecelakaan itu, hanya Mia yang ‘selamat’, Mia dalam keadaan koma. Jiwanya ‘melayang-layang’, tapi ia bukan hantu. Mia bisa melihat tubuh ayah dan ibunya yang sudah meninggal, tapi ia tak bisa menemukan adiknya, Teddy. Mia bisa melihat tubuhnya sendiri yang diterbangkan ke rumah sakit dengan helicopter, dimasukin segala macam selang yang membantunya untuk tetap hidup. Mia juga melihat bagaimana Adam, pacarnya, berbuat nekat agar bisa menjenguknya yang ada di ICU.

Dalam keadaan ‘melayang’ itu, semua kisah hidupnya seolah terputar kembali, Mia bercerita tentang ayahnya yang mantan pemain drum, ibunya yang bergaya bak rocker, saat Mia menemani ibunya ketika melahirkna Teddy, saat bersama sahabatnya, Kim dan kencan pertamanya dengan Adam.

Dan dalam keadaan itu juga, Mia harus memilih, apakah ia harus kembali hidup, tapi tanpa keluarga yang menantinya, atau pergi meninggalkan orang-orang yang terus berharap agar ia bertahan?

Mungkin ada baiknya siap-siap sedia tissue, yah buat jaga-jaga kalo-kalo nangis pas lagi baca buku ini. Meskipun sedih, tapi buku ini gak terkesan cengeng dan terlalu ‘menye-menye’, Liat aja gimana Adam, yang meskipun hancur lebur tapi tetap berusaha tegar, atau kakeknya yang sedih, tapi tetap menyerahkan semua pilihan ke Mia. Ini gak hanya tentang kisah cinta Mia dan Adam, tapi juga cinta dalam keluarga dan juga untuk sahabat.

“Aku punya tujuan mengatakan semua ini,” dia melanjutkan. “Ada sekitar dua puluh orang di ruang tunggu sekarang. Beberapa di antara mereka berhubungan darah denganmu. Beberapa lagi tidak. Tapi kami semua keluargamu.”

…. “Kau masih punya keluarga,” bisiknya.

Hal. 183 - 184


Untung buku keduanya udah mau beredar, jadi gue gak perlu terlalu lama penasaran gimana ‘nasib’ Mia selanjutnya.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang