Wednesday, May 21, 2008

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi)
Sally Nicholls @ 2008
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Maret 2008
216 Hal.

Buku ini nyaris membuat gue menangis… abis gue jadi sedih setelah bacanya. Tapi, tetap, aja, air mata belum berhasil ‘menjebol’ pertahanan gue yang ‘membatu’ ini. Hehehe.

Jadi, ini cerita tentang Sam, anak umur 11 or 12 tahun yang kena penyaki leukemia akut. Karena udah parah banget, orang tua Sam mengeluarkan Sam dari sekolah dan memilih untuk memanggil guru ke rumah. Sam belajar di rumah sama temannya yang juga punya penyakit parah, namanya Felix.

Pelajarannya di rumah, bukanlah sesuatu yang serius. Mrs. Willis, guru mereka, cenderung membiarkan mereka memilih apa yang mereka sukai untuk mereka pelajari atau lakukan. Mereka berdua bisa aja main perang-perangan atau membuat karangan.

Nah, dari proyek menulis inilah, Sam mempunyai ide untuk membuat buku. Maka, Sam membuat berbagai daftar tentang apa yang dia inginkan, apa yang ia lakukan dan juga daftar-daftar pertanyaan yang tak terjawab yang mungkin jarang banget terlintas di dalam pikiran kita sebagai orang yang ‘sehat’. Tapi, beda sama Sam yang sedang menunggu ‘hari-hari akhir’nya. Pertanyaan seperti: “Kenapa orang harus mati?”, “Bagaimana kita harus mati?”, “Ke mana orang pergi setelah mati?” terlontar dengan polos dari pikiran-pikiran Sam. Sam jadi tampak dewasa sekali.

Buku ini jadi bagaikan buku harian Sam. Mimpi Sam naik balon Zeppelin, berbagai daftar yang ‘kocak’, misalnya apa yang harus dilakukan kalo orang meninggal, kiat-kiat hidup abadi – emang sih, bikin sedih tapi, kok ya, jadi lucu karena Sam yang polos banget. Terus, gimana Sam harus menghadapi kenyataan kalo segala macem cara pengobatan itu udah gak ada gunanya lagi dan hidupnya hanya tinggal 2 bulan lagi!

Sam memang terkadang bilang kalau ini semua gak adil, tapi toh, Sam berhasil bersikap tegar dan gak ‘terpuruk’ menyesali nasib. Sam masih bisa menikmati hidupnya yang gak lama lagi itu. Sam mengajarkan kita untuk tetap semangat. Jangan selalu ‘berkeluh kesah’ padahal mungkin, hidup kita masih lebih baik dibanding Sam.

Tulisan tangan dan corat-coret Sam juga menghiasi buku ini, bikin buku ini jadi gak membosankan.

Kaya’nya buku ini gak hanya untuk orang dewasa deh, meskipun emang, rada berat juga kalo masuk kategori remaja. Tapi… bener.. buku ini bagus banget menurutku. Cerita tentang ‘kematian’ mungkin mirip sama buku-bukunya Mitch Albom, tapi, karena ini diliat dari sudut pandang anak-anak, bikin jadi lain aja.

Love this book… *semoga gak lupa memasukkan ke dalam buku favorit 2008*

Tuesday, May 13, 2008

Maximum Ride#1: Angel Experiment

Maximum Ride#1: Angel Experiment (Maximum Ride#1: Eksperimen Malaikat)
James Patterson @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – April 2008
536 Hal.

Suatu hari, di pagi yang cerah, suasana di sebuah rumah dimulai dengan ceria. 6 orang anak tertawa dan saling melakukan keisengan membuat semuanya terlihat normal. Tidak ada yang aneh pada diri Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan si kecil, Angel. Mereka tampak seperti anak-anak pada umumnya. Tapi… ketika pagi itu dirusak oleh makhluk yang sangat mengerikan, semua jadi tidak normal lagi.

Ke-enam anak itu adalah makhluk rekayasa dari sebuah Sekolah yang misterius. Mereka adalah anak-anak yang sejak bayi sudah dijadikan bahan percobaan dengan menyuntikkan gen burung ke dalam tubuh mereka. Orang tua mereka juga misterius, ada yang sudah meninggal, ada yang tidak tahu kalau anak mereka masih hidup, ada yang menyerahkannya dengan sukarela Intinya, mereka tidak ada yang mengetahui siapa orang tua mereka dan apa alasannya mereka berenam harus ada di Sekolah yang mengerikan itu.

Sekelompok Pemusnah – anak-anak rekayasa seperti mereka, namun berwujud mengerikan seperti serigala – mengejar mereka berenam dan menjadikan hidup mereka tidak lagi nyaman dan tenang.

Pagi itu jadi rusak, Angel diculik. Max, sebagai anak yang paling tua, merasa bertanggung jawab dan bertekad menyelamatkan Angel dari tangan para Pemusnah.

Kembali ke Sekolah bagaikan mimpi buruk. Mereka harus kembali ke tempat yang pernah sangat menyiksa mereka. Buruknya lagi, mereka harus sakit hati ketika orang yang sangat mereka percaya ternyata tetaplah bagian dari Jas Putih.

Ketika berada dalam penyekapan, ternyata Angel mendengar potongan-potongan informasi tentang keberadaan orang tua mereka. Dari sinilah, Max dan teman-teman bertekad mencari orang tua mereka.

Mereka ‘terbang’ sampai ke New York. Tapi, tetap saja, para Pemusnah mengincar mereka. Bukan sekali mereka nyaris kehilangan nyawa mereka.

Ending buku ini masih ‘misterius’, karena memang akan ada sekuelnya. Ceritanya memang menegangkan tapi, ketenangan Max pembuat gue ikutan tenang, gak dag-dig-dug, meskipun ending setiap bab bikin penasaran dan selalu penuh kejutan. Ciri khas James Patterson yang selalu menggiring pembaca untuk ikutan sport jantung dengan bab-bab yang pendek. Gue juga jadi ‘menunggu-nunggu’ akankah ada kisah romantis antara Max dan Fang?

Buku yang asyik banget… One of my favorites…

Baca buku ini, gue langsung inget sama ‘When the Wind Blows’ dan ‘The Lake House’, yang sama-sama punya tokoh bernama Max, sama-sama berasal dari Sekolah dan mempunyai gen burung dalam tubuhnya. Tapi kata Pak James nih, buku ini serupa tapi tak sama. Gue jadi pengen baca lagi dua buku itu, soalnya udah lupa sih, gimana ceritanya.

Wednesday, May 07, 2008

Mehrunnisa: The Twentieth Wife

Mehrunnisa: The Twentieth Wife
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Maret 2008
551 Hal.

Ternyata dalam hal urusan cerita cinta, India gak hanya punya cerita tentang ‘Taj Mahal’. Di buku ini, adalah kisah cinta orang tua pasangan Mumtaz Mahal dan Shah Jahan.

Mehrunnisa hampir saja kehilangan orang tua kandungnya yang merasa tak sanggup merawatnya karena kemiskinan yang mereka derita. Ghias Beg adalah bangsawan asal Persia yang melarikan diri karena terlilit hutang di negaranya sendiri. Bersama anak-anaknya dan istri yang sedang hamil tua, ia berniat mencari kehidupan baru di India. Untung saja, ia bertemu dengan orang yang baik yang berniat menjadi orang tua angkat Mehrunissa.

Keluarga Ghias Beg pun akhirnya tiba di India dan keberuntungan segera berpihak pada Ghias Beg yang mendapat kepercayaan dari Sultan Akbar yang bijak. Sejak kecil, Mehrunnisa sudah ‘terobsesi’ untuk menjadi seorang putri. Ia ingin menjadi permaisuri bagi Pangeran Salim, sang Putra Mahkota.

Tapi, tentu saja, meskipun mereka cukup dekat dengan keluarga raja, tidak semudah itu berjodoh dengan anggota keluarga kerajaan. Karena biasanya pernikahan di keluarga kerajaan bernuansa politik. Sebuah peristiwa di hari pernikahan Pangeran Salim yang pertama membuat Mehrunnisa dekat dengan Ruqayya, permaisuri Sultan Akbar.

Mehrunnisa menjadi pendatang tetap di zenana. Tapi, karena perempuan tidak boleh menampakkan diri begitu saja di depan laki-laki, Mehrunnisa harus mencuri-curi kesempatan untuk melihat Pangeran Salim.

Beberapa pertemuan tak disengaja antara Pangeran Salim dan Mehrunnisa ternyata meninggalkan kesan yang mendalam di hati Pangeran Salim. Tapi, tentu saja, meskipun mereka saling jatuh cinta, pernikahan bukanlah hal yang bisa ditentukan sendiri, tapi, Sultan-lah yang membuat keputusan. Mehrunnisa dinikahkan dengan seorang prajurit bernama Ali Quli.

Tahun-tahun berlalu, pemberontakan dan pengkhianatan sekitar perebutan takhta sultan berulang kali terjadi. Baik yang dilakukan Pangeran Salim terhadap Sultan Akbar, atau yang dilakukan Pangeran Khusrau terhadap Pangeran Salim, ayahnya.

Pertemuan antara Mehrunnisa dan Pangeran Salim, yang sudah jadi Sultan Jahangir, terjadi di sebuah pesta pertunangan. Hati mereka berdua kembali bergolak. Sultan Jahangir berharap ia bisa memilih sendiri permaisuri yang ia inginkan tanpa harus berbau-bau politik. Tapi, Jagat Gosini, permaisuri yang sah, tentu saja tidak akan tinggal diam ketika ada perempuan lain yang mengancam kedudukannya.

Indu Sundaresan melakukan banyak riset untuk mewujudkan cerita ini. Mehrunnisa memang benar ada dalam sejarah India, meskipun tidak terlalu menonjol. Tapi, kalo membaca penuturan Indu Sundaresan, Mehrunnisa yang asli adalah ‘perempuan keras’, setelah ia menjadi permaisuri, banyak perubahan yang dilakukannya semasa pemerintahan Sultan Jahangir. Sementara Mehrunnisa yang di buku ini terkesan ‘bandel’, cerdas, tapi tetap tak berdaya ketika ia berada dalam lembaga pernikahan yang mewajibkannya tunduk pada suami.

Masih ada juga cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga *gerammmm*…

Mungkin agak berlebihan ya.. anak umur hmmmm… 8 tahun kalo gak salah, tapi udah terobsesi jadi permaisuri. Kesannya ambisius banget. Dan.. ckckckck…, anak sama bapak – Pangeran Khusrau sama Pangeran Salim, sama-sama berontak… kena karma tuh Pangeran Salim…

Gue sih, cukup menikmati baca buku ini. Meskipun sempat gak tahan, begitu udah bagian cinta-cintaan menjelang bagian akhir. Lanjutan kisah cinta yang eksotis ini yang judulnya ‘The Feast of Roses’, konon bakal diterbitkan juga oleh Penerbit Hikmah, yang mengisahkan kehidupan Mehrunnisa setelah menjadi permaisuri.

Tapi, semoga aja gak mengecewakan. Karena kalo udah sekuel gitu, suka dipaksain, dan malah jadi ngebosenin. Dan, gara-gara baca buku ini, gue jadi pengen baca novel tentang ‘Taj Mahal’ (ada dua judul tuh…) Hahaha… malah menambah ‘daftar dosa’ baru…

Monday, April 21, 2008

Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri
Asma Nadia @ 2007
Lingkar Pena, Cet, I - Mei 2007
224 Hal.

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah
dengan sebelah saya itu
akan kujelajah samudera
dan gemintang di angkasa

(Hal. 45)

Wah, menulis komentar tentang buku ini, rasanya susah banget. Ya.. emang sih, gue gak terlalu bisa menceritakan kembali buku non-fiksi. Apalagi buku ini isinya tentang pengalaman pribadi Penulis atau pun para nara sumber. Jadi, sepertinya, yang bakal gue tulis di bawah ini adalah komentar pribadi untuk buku yang lumayan memberi inspirasi dan nyaris membuat gue menitikkan air mata. (hmmmm… ternyata hati gue masih rada ‘batu’, makanya belum bisa nangis….)

Di buku ini, Asma Nadia menguraikan berbagai bentuk penderitaan perempuan. Bisa dilihat dari puisi di atas. Bukan saja dari segi fisik tapi dari segi perasaan, batinnya… Menggambarkan kuatnya, sabarnya dan tabahnya perempuan biar udah digempur segala macam bentuk cobaan dari yang ringan sampe yang bisa bikin seseorang yang mungkin gak kuat, bakal kehilangan arah dalam hidup.

Gue terus terang, takjub (tapi juga kadang gemas dan sempat berpikir negatif), ketika ada perempuan yang tetap membanggakan suaminya, meskipun suaminya itu ternyata tidaklah sesempurna yang ia impikan. Alasannya, karena si laki-laki adalah hal terbaik yang pernah datang dalam hidupnya (hal. 29). Atau, gimana seorang perempuan masih bisa senyum ketika tahu suaminya ‘bermain ke tempat terlarang’ atau menikah lagi.

Gue pun berpikir, bisakah gue sesabar itu dan bisakah gue tersenyum andaikan gue tau, suami gue berbuat yang tidak baik? Gue rasa nggak… Gue pasti bakal nangis dan meratapi nasib gue… Hehehe.. sekarang aja, dicuekin suami gue sedikit, gue udah sebal banget sama suami gue dan kadang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati suami gue…

Sempat terpikir oleh gue, apakah si perempuan itu memang begitu tough… tipiskan bedanya dengan gambaran perempuan ‘bodoh’. Pastinya, kalo lagi gosip-gosip nih, dengan cerita, ada perempuan yang diem aja disakitin suami atau di-duain, atau apa pun lah yang menyebabkan dia menderita, rasanya komentar yang lebih sering gue denger (atau bahkan lebih sering gue ucapkan), adalah, “Bodoh banget sih tuh cewek…!” Padahal, perempuan itu mungkin perempuan yang akan dimuliakan di mata Allah…

Cerita di buku ini yang paling berkesan buat gue adalah yang judulnya, “Jika Saya dan Suami Bercerai?” (Hal 34). Membuat gue sadar betapa tipisnya antara cinta dan benci… Gimana pasangan yang awalnya saling puji, saling cinta dan sayang, tiba-tiba berbalik jadi saling menyerang dan mengumbar kejelekan masing-masing. Dengan cerita ini, gue bilang sama suami gue, harus bisa saling menjaga hati, emosi dan kata-kata. Satu kalimat yang gue suka adalah: “,,, tidak ada seorang pun yang berhak merusak kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bunda mereka.” (Hal. 38).

Semua perempuan berhak untuk bahagia, meskipun ada luka di hati mereka… (Aiihh…)… So, keep fighting, never give up… Mudah-mudahan, gue bisa jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas… (inilah intinya… Ikhlas….)

The Penderwicks

The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick: Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seoran Anak Laki-Laki yang Sangat Menarik)
Jeanne Birdsall @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Maret 2008
292 Hal.

Sudah lama berlalu sejak musim panas yang istimewa di Arundel, tapi, Rosalind, Jane, Skye, dan Batty masih mengingat dengan baik liburan musim panas mereka kala itu. Untung saja, rumah liburan mereka di Cape Cod tiba-tiba dijual oleh pemiliknya, kalau tidak, mungkin mereka tidak akan mengalami bagaimana seru, romantis dan heboh liburan di Arundel. Dan, yang pasti, mereka tidak akan bertemu dengan anak laki-laki yang sangat menarik.

Hampir saja, liburan musim panas kali ini akan dihabiskan oleh Keluarga Penderwick hanya di rumah mereka di Cameron, Massachusetts, jika saja Mr. Pendewick tidak mendengar cerita dari temannya tentang sebuah vila di Berkshire Mountain. Tanpa berpikir panjang, Mr. Penderwick langsung menelepon pemiliknya dan menyewa vila itu tanpa melihat keadaan vila itu.

Yang mereka lihat setibanya di Arundel bukanlah jenis vila biasa, tapi sebuah vila besar – nyaris seperti mansion – berkamar banyak, hingga Penderwick Bersaudara bisa memilih kamar yang mereka sukai.

Petualangan menarik mereka lewati, pengalaman tak terlupakan yang dimulai ketika Skye yang tomboy tanpa sengaja menabrak anak pemilik rumah, Jeffery Tifton. Pertemuan pertama yang tak mengenakan membuat Rosalind, sebagai kakak tertua yang bijaksana, memutuskan untuk mengutus Jane sebagai perantara untuk minta ma’af dan menunjukkan bahwa Keluarga Penderwick bukanlah keluarga yang buruk.

Jeffrey ternyata senang sekali dengan kedatangan kakak-beradik itu, mereka pun langsung berteman akrab. Sebagai anak tunggal, tentunya ia kesepian. Bahkan kakak-beradik Penderwick pun mengangkat Jeffrey sebagai anggota kehormatan Keluarga Penderwick.

Vila Arundel yang luas, dikelilingi taman yang indah, menjadi tempat bermain yang tak habis-habisnya dijelajahi mereka berlima. Tapi, Mrs. Tifton tidak terlalu menyukai Keluarga Penderwick yang dianggap memberi pengaruh buruk pada Jeffrey dan bisa jadi membuat tamannya yang indah hancur.

Bukan hanya bermain-main di kebun dan menjelajah, tapi, Rosalind juga mengalami cinta monyetnya dengan si tukang kebun Cagney. Semakin dekat dengan akhir liburan, rasanya semakin berat untuk meninggalkan Arundel.

Asyiknya buku ini, karena karakter setiap anak-anak Penderwick berbeda-beda. Rosalind, yang bijak, berusaha mengurus semuanya setelah ibu mereka meninggal, Jane si penulis, Skye yang tomboy dan galak, lalu Batty yang selalu memakai sayap kupu-kupunya. Tapi, yang pasti, kakak-beradik Penderwick gak akan tinggal diam kalo ada yang menyinggung kehormatan dan martabat keluarga mereka.

Buku ini mengingatkan gue sama buku-bukunya Astrid Lindgren atau Enid Blyton. Petualangan yang seru, lucu… yang membuat pengen balik lagi ke masa kanak-kanak, dan gak ketinggalan tentunya masakan-masakan yang lezat… Hmmmm….

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun

Petualangan Tintin: Cerutu Sang Firaun (Les Cigares du Pharaoh)
Hergè @ 1955
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Maksud hati pengen liburan, tapi apa daya malah terlibat satu petualangan seru lagi. Begitulah nasib Tintin, yang rencananya akan berlibur bersama Milo, anjingnya, ke Mesir. Di kapal laut, ia bertemu dengan Philemone Siclone, seorang professor linglung yang sedang mengejar-ngejar selembar kertas yang tertiup angin. Perkenalan mereka terjadi ketika Tintin hendak membantu si professor itu. Philemone Siclone pun menceritakan isi kertas yang dikejarnya itu dan mengajak Tintin untuk mencari kuburan Firaun Kih-Oskh.

Tapi, anehnya, belum lagi tiba di Cairo, Tintin dijebak. Ia ditangkap oleh pasangan detektif kembar, Dupond dan Dupont (a.k.a Thomson dan Thompson) dengan tuduhan terlibat dalam penyelundupan narkotika.

Sekali lagi Tintin dijebak, dan tentu saja, banyak akal Tintin untuk lolos dari masalah. Ia pun mencari cara agar bisa keluar dari kapal laut itu. Setibanya di darat, Tintin kembali bertemu dengan Philemone Siclone yang segera mengajaknya ke lokasi tempat kuburan Firaun Kih-Oskh berada. Tapi, di sana Tintin terjebak dalam ruang bawah tanah dan Philemone Siclone menghilang secara misterius. Di dalam ruang bawah tanah itu, Tintin menemukan Sarcofagus atau peti mati yang bertuliskan namanya dan Milo.

Lolos dari kuburan itu, Tintin masih harus berurusan dengan duo detektif kembar yang masih terus mengejarnya. Tuduhan bertambah, yaitu penyelundupan senjata api. Tintin juga harus menghadapi hukuman tembak karena dianggap mata-mata.

Masalah narkotika ini ternyata melibatkan sebuah kelompok rahasia yang punya tujuan melenyapkan Maharaja Gaipajama.

Dari empat buku yang udah gue baca, petualangan kali ini lebih seru dibanding yang lain (gak tau deh, dengan petualagan di buku-buku berikutnya… lupa soalnya…), dulu gue pernah baca buku ini, kalo gak salah judulnya ‘Cerutu Sang Pharaoh’. Meskipun, tetap aja, Tintin ini kaya’ kucing. Nyawanya ada sembilan kali ya… (atau lebih…), biar udah ketabrak kereta, mobil, jatoh dari pesawat… tetap… selamat, sehat wal’afiat… dan segar bugar…

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika

Petualangan Tintin: Tintin di Amerika (Tintin en Amèrique)
Hergè @ 1945
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Kedatangan Tintin di Amerika membuat para kelompok gangster ketar-ketir. Pasalnya, tujuan Tintin ke Amerika memang untuk memberantas kelompok yang selalu membuat resah itu. Bahkan, pemimpin gangster paling terkenal, Al Capone, ikut resah karena kedatangan Tintin. Lolosnya Tintin di Congo dari anak buahnya membuat Al Capone tidak memandang sebelah mata si wartawan berjambul ini.

Setibanya di Amerika, Tintin langsung ‘disambut’ dengan berbagai upaya untuk melenyapkanya. Tapi, Tintin tak gentar. Satu per satu kelompok gangster mulai bertekuk lutut. Namun, ada satu kelompok gangster pimpinan Bobby Smiles berusaha mengajak Tintin bekerja sama, tapi, Tintin menolaknya dan membuat Bobby Smiles mengatur berbagai cara untuk menjebak Tintin.

Terjadilah kejar-mengejar antara Tintin dan Bobby Smiles. Tintin ‘terjebak’ di kawasan pemukiman suku Indian. Bobby Smiles yang lebih dulu, menghasut suku Indian untuk menangkap Tintin.

Tapi, bukanlah Tintin namanya kalo gak berhasil lolos dari berbagai jebakan. Akal yang banyak meskipun terkadang sederhana, mampu membuat Tintin keluar dari kesulitan.

Tintin jadi pahlawan karena usahanya memberantas kelompok gangster.

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure

Children of the Lamp: The Akhenaten Adventure
P. B. Kerr @ 2004
Utti Setiawati (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Maret 2008
416 Hal.

Tumbuh gigi susu seharus menjadi hal yang wajar. Tapi tidak di keluarga Gaunt… Begitu mengetahui kalau kedua anak kembar mereka, John dan Phillipa tumbuh gigi susu, Mrs. Gaunt langsung merencanakan untuk segera di operasi, meskipun si kembar tidak suka akan hal itu.

Tapi, kalau saja John dan Phillipa tidak mengalami operasi pencabutan gigi bungsu, mereka tidak akan pernah tahu kalo mereka bukanlah anak kembar yang biasa-biasa saja. Mereka ternyata punya keistimewaan yang tidak pernah mereka sadari dan memang dirahasiakan oleh orang tua mereka, terutama Mrs. Gaunt.

Ketika mereka sedang menjalani operasi gigi, dalam keadaan terbius, John dan Phillipa mendapatkan ‘mimpi’ yang sama, mereka berdua bertemu dengan Paman Nimrod, adik ibu mereka yang sudah lama sekali tidak mereka jumpai. Dalam mimpi itu, Paman Nimrod memberi petunjuk agar mereka berdua bisa membujuk orang tua mereka supaya diijinkan pergi ke London bukan menghabiskan liburan di perkemahan tempat anak-anak berbakat. Dan anehnya… tanpa banyak pertanyaan, Mr. dan Mrs. Gaunt menyetujui hal itu.

Bukan itu saja yang aneh. Setelah operasi gigi, muka John yang kata Phillipa seperti gunung berapi, tiba-tiba menjadi mulussssss…. Dan Phillipa secara tidak sadar ternyata bisa mengabulkan permintaan Mrs. Trump.

Di London, barulah semuanya jadi jelas dan sangat mengejutkan… bahwa mereka bukanlah anak kembar biasa, melainkan anak-anak lampu…alias keturunan Jin!!! Wahhh… cool…. Mereka pun belajar mengendalikan kekuatan mereka bersama Paman Nimrod.

Liburan mereka tidak hanya di London, melainkan lebih seru lagi. Bersama Paman Nimrod, John dan Phillipa berangkat ke Mesir untuk menyelidiki makam Akhenaten – Firaun dinasti ke-18 – yang konon memiliki 70 jin yang ikut dikubur bersamanya. Ternyata, bukan hanya mereka yang mengincar makam itu, tapi juga Iblis – Jin Jahat juga mencari makam itu agar bisa memperbesar kekuatan dan kekuasaannya.

Buku yang asyik… Ternyata… peristiwa meletusnya Gunung Krakatau juga dipicu oleh kekuatan Jin… juga tenggelamnya kapal Titanic… Hehehe…

Untungnya, John dan Phillipa bukan tipe anak sok tau, tapi memang mereka anak-anak pintar, jadinya petualangan mereka jadi seru banget dengan akal-akal mereka dan gimana awalnya mereka belajar hidup dalam botol.

Jadi pengen nunggu petualangan si Anak-Anak Lampu ini selanjutnya…

Beauty for Killing

Beauty for Killing
Fradhyt Fahrenheit
FoUmediapublisher, Januari 2008
364 Hal.

5 sahabat – Vennita, Chantika, Debby, Kiyara dan Brando – masih berduka karena kematian sahabat mereka, Mae. Ditambah lagi, hubungan mereka kini merenggang gara-gara masalah percintaan. Mereka mencintai laki-laki yang sama, yang ternyata lebih memilih Kiyara untuk dijadikan pasangan hidupnya (Cerita ini ada di buku sebelumnya dengan judul 'Beauty for Sale').

Jadilah mereka berlima untuk sementara waktu menjalani ‘gencatan senjata’ untuk menjernihkan suasana. Mereka menyebar ke seluruh pelosok dunia, mulai dari Barcelona, Singapura, Bali, New York. Mereka yang masih lajang ini berkutat dengan masalah masing-masing – masalah kesendirian kesepian dan juga masalah pribadi mereka.

Vennita misalnya, rela mengeluarkan uang milyaran rupiah demi ‘mempermak’ eks pembantu di kantornya untuk jadi wanita berkelas dengan tujuan menjebak ayahnya yang gemar main perempuan.

Lalu, Brando, yang seorang gay, dikejar-kejar seorang pria yang terobsesi pada dirinya. Hingga nyari membuat karirnya hancur.

Mereka disatukan kembali ketika Vennita menghilang. Vennita diduga diculik oleh orang-orang yang ingin menghancurkan keluarganya. Misteri hilangnya Vennita menjadi bumbu yang membuat novel ini punya sedikit sentuhan (atau hanya sebagai ‘bumbu’?). Bukan apa-apa… karena tanpa hal itu, novel ini hanya jadi novel metropop, chicklit atau roman biasa yang menunjukkan gaya hidup kelas atas para perempuan dan laki-laki single.

Sejak halaman pertama sampai akhir, pembaca ‘dibombardir’ dengan berbagai macam merk ternama, mulai dari produk fashion, handphone, club-club dan restoran. Waduh… kalo gak pernah baca majalah fashion atau gak gaul, dijamin bakal terbengong-bengong dengan sederetan nama-nama kaya’ Prada, LV, Vera Wang, lalu café dan club di segala penjuru dunia. Belum lagi, handphone Vertu (or whatever) yang bertahtahkan berlian dan berlapis kulit domba muda (Hah.. silahkan bayangin sendiri!)

Di novel ini, setiap tokohnya digambarkan hari itu dia pakai baju apa, sepatu apa, parfumnya, tas dan segala macam aksesoris lainnya, belum lagi hari itu dia ada di mana, makan di resto apa dan apa yang dia makan and minum juga ditulis sedetail-detailnya. Silahkan sebut gue norak or sinis… tapi, itulah yang digambarkan, bisa bikin mulut ternganga dengan segala macam kemewahan, keekslusifan dan ‘ke-jor-jor-an’ para tokoh.

Yang paling heboh lagi, ‘penggambaran’ adegan-adegan yang amat sangat 17 tahun ke atas dengan kata-kata yang cukup vulgar. Bikin novel ini hanya sekedar pamer pengetahuan fashion dan ‘sex’.

Dan, ending cerita bener-bener menggambarkan, betapa kekayaan bisa bikin orang depresi sampai akhirnya nyari cara yang ajaib untuk menghabiskan uang dan menghibur diri sendiri.

Minus lainnya, selain cerita yang buat gue rada berlebihan adalah tulisan-tulisan yang sering tumpang-tindih.

Petualangan Tintin: Tintin di Congo

Petualangan Tintin: Tintin di Congo (Tintin au Congo)
Hergè @ 1946
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
64 Hal.

Tintin jalan-jalan ke Afrika, atau tepatnya ke Congo. Tintin mendapatkan tugas untuk memberi liputan ekslusif mengenai kehidupan di Congo. Meskipun banyak yang menawarkan harga yang tinggi untuk hasil liputan Tintin itu, tapi, Tintin tidak tergiur.

Dalam perjalanan dengan kapal laut, sudah ada musuh yang mengintai. Semua diawali ketika Milo, anjing Tintin, berkelahi dengan seekor burung beo bawel yang menyebabkan Milo jatuh ke gudang barang dan bertemu dengan seorang penumpang gelap.

Rupanya, penumpang gelap ini mengintai Tintin untuk alasan tertentu yang sempat bikin kita bertanya-tanya, “Apa sih maunya ini orang?” Karena dari awal gak ketauan tuh, siapa pesuruh orang ini.

Setibanya di Congo, perjalanan Tintin juga gak luput dari ‘kecelakaan’ konyol. Mobil yang ditumpangi Tintin bertabrakan dengan kereta api, tapi Tintin selamat, justru kereta apinya yang hancur-lebur! Tintin sempat dituntut karena hal ini, tapi, kemudian semua penduduk desa menyambut Tintin dengan suka cita.

Di Congo, kegiatan Tintin adalah berburu, selain meliput keadaan di sana. Dan tentu saja, musuh Tintin juga tetap mengikuti ke mana Tintin pergi. Bahkan, akhirnya, si musuh itu bekerja sama dengan dukun desa setempat yang merasa tersaingi oleh keberadaan Tintin. Bahaya bukan hanya itu, tapi juga dari binatang-binatang buas yang ditemui Tintin selama kegiatan berburunya.

Mmmm… sepertinya, cerita di petualangan Tintin kali ini udah rada gak cocok dengan kondisi sekarang yang ramai dengan kampanye menyelamatkan satwa-satwa liar. Soalnya, cara berburu Tintin rada ‘sembrono’, karena gak ahli-ahli amat. Contohnya: waktu berburu rusa, rusa incaran Tintin gak berhasil ditembak, jadinya Tintin bolak-balik nembak itu rusa, pas dilihat, ternyata, udah banyak rusa yang mati gara-gara tembakan Tintin yang asal-asalan. Atau, Tintin yang dengan seenaknya membunuh monyet dan memakai kulit monyet itu, untuk nyamar jadi monyet dan menyelamatkan Milo.

Gambar di buku ini udah bagus dan berwarna. Jadi lebih lucu dan menyegarkan.

Tintin di Sovyet

Petualangan Tintin – Wartawan “Le Petit Vingtième” – di Tanah Sovyet (Les Aventures de Tintin – reporter du “Petit Vingtième” – Au Pays des Soviets)
Hergè @ 1946
Donna Widjajanto (Terj.)
GPU, April 2008
142 Hal.

Tintin is Back! Kaya’nya selama ini susah banget nyari komik Tintin baru di toko buku. Kalo pun ada harganya rada mahal. Jadilah berburu beberapa judul komik Tintin di penjual buku second. Dan, seneng banget pas tau GPU bakal menerbitkan kembali serial komik Tintin (baca: Teng-Teng – ini yang gue denger di Radio FeMale waktu Tintin ultah). Bentuk komik Tintin jadi lebih mini dengan kertas yang bagus.

Di kisah petualangan di Tanah Sovyet kali ini, Tintin, si wartawan berjambul diberi tugas untuk meliput aksi propaganda kaum komunis di Sovyet. Ditemani anjing setianya, Milo (a.k.a Snowy), Tintin berangkat dari Brussels menuju Sovyet dengan kereta api. Tapi, sepertinya ada sekelompok orang tertentu yang berusaha menghalangi Tintin untuk sampai ke Sovyet. Belum apa-apa, kereta api itu sudah dibom.

Akibat pengeboman itu, Tintin dibawa ke kantor polisi di Jerman. Di sana, polisi gak peduli kalo ia adalah seorang wartawan. Tintin pun kabur.

Tintin bolak-balik harus masuk kantor polisi, dikejar-kejar mata-mata dan tentu saja nyaris terbunuh. Tapi, bukanlah Tintin kalo gak banyak akal. Dalam berbagai aksi yang nyaris mencelakakan Tintin, ia berhasil selamat berkat improvisasi, ide-ide hingga bisa lolos dari kejaran para musuh.

Peran Milo juga gak kecil. Berkali-kali Milo juga melakukan trik-trik yang menyelamatkan dirinya sendiri dan tuannya.

Buku ini disajikan dalam gambar hitam-putih. Gambar-gambarnya juga belum terlalu bagus. Malah nyaris membosankan. Apalagi Tintin terkesan gampang banget lolos dari musuh dengan cara yang sederhana. Entah Tintin-nya yang cerdik, atau, musuh-musuh Tintin yang kurang cerdas. Di sini, teman-teman Tintin yang lain, seperti Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan lain-lainnya belum muncul.

Senangnya bisa bernostalgia lagi… Semoga aja, Gramedia punya niat buat menerbitkan Asterix, Smurf atau Johan dan Pirlouit dalam bentuk baru seperti komik Tintin ini.

Dragon Keeper (Book 1)

Dragon Keeper (Book 1)
Carole Wilkinson @ 2003
Claudia (Terj.)
Penerbit Matahati, Cet. I – Februari 2008
388 Hal.

Awalnya, Ping, hanyalah seorang budak. Bahkan ia tidak pernah tahu siapa namanya, siapa orang tua dan tidak punya teman. Ia bekerja sebagai pelayan untuk seorang Pengurus Naga bernama Master Lan di sebuah istana di Gunung Huangling. Konon, Kaisar membangun istana di daerah terpencil itu untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekuasaannya. Tugas Ping selain melayani berbagai kebutuhan Master Lan yang kerap bersikap kasar padanya, adalah memberi makan binatang- piaraan yang ada di istana itu, yang bukan sembarang binatang, melainkan dua ekor naga milik kaisar. Harusnya, Master Lan-lah yang bertugas merawat naga-naga itu, tapi, karena sangat pemalas, akhirnya, menjadi tugas Ping untuk memberinya makan dan membersihkan kandang naga itu.

Karena tidak mendapatkan perlakukan yang pantas dari Master Lan, Ping kerap harus mencuri sedikit makanan. Entah itu, makanan Master Lan, atau bahkan makanan naga. Ping juga gemar berpetualang ke penjuru istana ketika hari sudah malam dengan mencuri sedikit minyak untuk menyalakan lampu. Satu-satunya teman Ping adalah Hua, seekor tikus kecil.

Suatu hari, Ping merasa bersalah mengambil jatah makanan naga, hingga menyebabkan salah satu naga mati. Ia merasa tibalah suatu saat akan mendapatkan hukuman dari Langit. Kekacauan terjadi ketika rombongan Kaisar datang. Ketika itu, Ping sedang berada di dalam istana. Ia lalu bersembunyi di dalam lemari dan mendengar percakapan Kaisar dan rombongannya. Tiba-tiba Hua menggigit Ping dan membuat Ping berteriak. Dan hebohlah keadaan ketika itu.

Ping melarikan diri ke kandang naga. Salah satu tamu Kaisar adalah Diao, Pemburu Naga, yang nyaris menangkap Danzi, satu-satunya naga yang masih hidup. Ping membantu Danzi melarikan diri dari kejaran pengawal kaisar.

Sejak itu, hidup Ping tidak lagi tenang dan damai. Bersama Danzi, ia memulai petualangan panjang menuju Samudera untuk menyelamatkan sebuah batu misterius yang dilindungi mati-matian oleh Danzi.

Banyak hal-hal yang baru diketahui Ping sejak ia bersahabat dengan Danzi. Ping pun bukan lagi gadis budak yang tidak ada harganya, ia memiliki sebuah kemampuan yang tidak terduga-duga yang membawanya menjadi sahabat Kaisar baru.

Ping tidak hanya menempuh perjalanan yang menegangkan tapi, juga menyenangkan. Dunia Ping, mata Ping jadi lebih terbuka karena Danzi mengajarkan banyak hal baru buat Ping.

Ceritanya bikin terharu dan juga lucu. Masih ada lanjutan kisah petualangan Ping bersama ‘si batu misterius’ itu. Satu lagi, cerita tentang persahabatan….

The Inheritance of Loss (Senja di Himalaya)

The Inheritance of Loss (Senja di Himalaya)
Kiran Desai @ 2006
Rika Iffati Farihah (Terj.)
Penerbit Hikmah, Cet. I – Desember 2007
543 Hal.

Di kaki Gunung Kanchenjunga, Himalaya, tinggal seorang hakim tua bernama Jemubhai Patel. Bertahun-tahun ia hanya hidup sendiri, ditemani anjing kesayangannya, Mutt, dan seorang juru masak. Kegelapan dan kesuraman seolah menyelimuti rumah sang hakim. Sampai akhirnya, cucunya, Sai terpaksa tinggal di rumah kakek yang tidak pernah dikenalnya.

Kehadiran Sai mengingatkan Jemubhai pada dirinya sendiri. Seorang pemuda India yang datang ke Inggris untuk menuntut ilmu, sampai akhirnya ia berusaha ‘menjelma’ menjadi orang Inggris. Sementara itu, Sai sendiri, jatuh cinta pada guru Matematikanya, Gyan, yang sering memandang sinis pada sikap Sai yang ‘ke-ingris-ingris-an’.

Tak kalah rumit kehidupan sang juru masak, yang terpaksa berpisah jauh dari putranya, Biju, yang mencari peruntungan di Amerika. Merupakan kebanggan sendiri ketika seseorang berhasil menembus Amerika. Padahal kehidupan Biju di Amerika tidaklah semewah dan seberhasil yang dibayangkan ayahnya.

Pemberontakan yang terjadi memporak-porandakan kehidupan mereka yang sudah suram, jadi semakin suram, tapi membuat mereka pelan-pelan menyadari sikap mereka yang salah. Buku ini menyindir perilaku orang-orang yang menganggap diri mereka modern.

Banyak yang bilang cerita di buku ini bagus dan penuh kalimat-kalimat indah, tapi, koq gue gak bisa ‘menangkap’ semua itu? Bagi gue buku ini membosankan. Rasanya semua suram, semua tokoh di buku ini ‘keningnya berkerut’, muram, berkutat dengan masalah sendiri dan gak pernah puas sama diri sendiri. Tapi, gue memang rada susah payah menyelesaikan buku ini. Hihihi... 'otak'nya rada gak nyampe, nih...

Tapi, satu bagian yang lucu, yaitu ketika lagi ada pemberontakan, polisi malah sembunyi di rumah Noni dan Lola karena kantor polisinya dikunci sama polisi lain yang takut sama pemberontak.

Monday, March 24, 2008

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif

Kick Andy: Kumpulan Kisah Inspiratif
Gantyo Koespradono @ 2008
Penerbit Bentang, Cet. I – Maret 2008
274 Hal.

Buku ini bukan merupakan biografi seorang Andy F. Noya tentang perjalanan karirnya sebagai seorang wartawan. Juga bukan rahasia dapur Kick Andy, salah satu acara talk show di Metro TV di mana Andy F. Noya bertindak sebagai host-nya. Kisah di balik layar Kick Andy hanya diceritakan sedikit saja di bagian awal buku ini. Buku ini memang merupakan beberapa kisah yang pernah tampil di acara Kick Andy yang disiarkan setiap hari Kamis malam.

Kick Andy pada awalnya diciptakan karena pimpinan Metro TV ingin memaksimalkan kemampuan Andy Noya, yang meskipun punya suara biasa-biasa saja, tapi mampu menggali informasi yang ‘disembunyikan’ narasumber. Maka diputuskan untuk membuat sebuah acara talk show dengan format menggabungkan bentuk talk show model Oprah Winfrey dan Larry King. Tapi, sempat ada kekhawatiran, siapa yang akan menonton acara ini?

Tapi, ternyata Kick Andy mampu merebut hati pemirsa televisi di tengah-tengah banyaknya acara sejenis yang lebih menghibur. Karena, coba aja liat, Kick Andy mungkin bisa dibilang ‘garing’ jika dibanding sama Dorce Show, Ceriwis atau Lepas Malam. Tapi, toh, Kick Andy menawarkan sesuatu yang berbeda. Andy Noya bisa juga membuat penontonnya tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan simple tapi mampu membangkitkan emosi tamu Kick Andy.

Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang berbeda dari talk show lain yang kebanyakan mengundang selebritis. Kick Andy tak hanya mengundang para seleb, tokoh politik, tapi juga orang-orang ‘biasa’ yang mungkin tak pernah kita kenal sebelumnya, seperti Ibu Rabiah – sang Suster Apung, Kiyati, yang mencari ibu kandungnya setelah terpisah selama 30 tahun.

Kick Andy juga mengundang tamu-tamu yang kontroversial, seperti Hercules – preman Tanah Abang, Xanana Gusmao atau Mayor Alfredo.

Kisah-kisah lain dalam buku ini antara lain adalah tentang Anggun C. Sasmi yang memilih jadi warga negara Perancis, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menolak dicalonkan jadi gubernur, pasangan gay yang menikah, anak-anak yang berada dalam LP Anak Tangerang dan masih banyak lagi.

Sesuai motonya, Kick Andy mengajak pemirsa untuk menonton dengan hati, bukan untuk cari gossip terbaru.

Buat gue, gak terlalu istimewa membaca buku ini dibanding menonton langsung acara Kick Andy di televisi. Kesannya datar aja. Banyak kalimat-kalimat yang ditulis berulang kali. Misalnya, tentang Ibu Rubiah yang terpaksa memakai cairan infus yang kadaluarsa (ditulis di hal. 252 dan 254). Bahkan cerita tentang Tiara Lestari yang terpaksa tiduran di atas batu karang selama satu jam, ditulis 2 kali di halaman yang sama (hal. 233)

Friday, March 21, 2008

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)

The Spellman Files (Berkas-Berkas Keluarga Spellman)
Lisa Lutz @ 2007
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Maret 2008
550 Hal.

Ini adalah kisah keluarga yang kocak banget (at least menurut gue, lho…). Tokoh utamanya adalah Isabel Spellman, akrab dipanggil Izzy, berusia 28 tahun. Saat ini bekerja dengan orang tuanya sendiri di Spellman Investigations, sebagai detektif swasta. Tak hanya Izzy, Paman Ray yang gemar mabuk-mabukan dan abang Izzy, David, juga bekerja di perusahaan ini. Tapi, David, akhirnya memutuskan untuk menggunakan akal sehatnya dan keluar dari Spellman Investigations untuk kemudian menjadi seorang pengacara. Lalu, terakhir, adik Izzy, Rae, pun turut bergabung sebagai anggota termuda.

Hidup dikelilingi para detektif swasta (dan juga sebagai seorang detektif swasta) ternyata tidak mudah. Terbiasa menyelidiki kehidupan pribadi orang lain, membuat keluarga ini pun tak bisa melepaskan kebiasaan itu di dalam kehidupan pribadi mereka. Tiada hari tanpa interogasi dan negosiasi. Kamar yang dilengkapi gembok pintu pun tak luput dari ‘aksi pembobolan’ yang dilakukan anggota keluarga sendiri.

Kehidupan pribadi pun ikut jadi korban. Ketika Izzy berkencan dengan seorang dokter gigi, Daniel Castillo, orang tua Izzy mengutus Rae untuk melakukan penyelidikan. Sampai akhirnya, Daniel gak kuat menghadapi keluarga Spellman yang aneh itu.

Izzy memutuskan untuk keluar karena merasa tidak punya privasi lagi. Tapi, sebelum ia benar-benar keluar, orang tuanya memberikan kasus terakhir, kasus yang sudah berusia 12 tahun tapi belum terbongkar juga. Izzy pun serius mengerjakan kasus itu – dengan diikuti berbagai ancaman dan ‘penguntitan’ yang dilakukan orang tuanya. Ini adalah satu-satunya kasus serius yang ada di dalam buku ini.

Keluarga Spellman nyaris terpecah. Lalu, tiba-tiba, Rae menghilang. Izzy merasa ikut bertanggung jawab dan mengerahkan kemampuannya untuk mencari Rae. Setelah kasus menghilangnya Rae, ditambah lagi dengan Paman Ray yang mengalami ‘Akhir Pekan yang Hilang #27’. Hehehe.. layaknya berkas-berkas, setiap kejadian diberi nomer-nomer. Bahkan Izzy punya daftar mantan pacarnya sendiri, lengkap dengan analisanya.

Gue menikmati membaca buku ini. Segala kekonyolan dan kekocakan di keluarga Spellman. Tokoh cerita emang perempuan dewasa, tapi terkadang pola pikirnya rada gak dewasa. Tapi, rasanya, agak hati-hati ya, menempatkan buku ini di kategori buku anak-anak, atau paling gak remaja, karena banyak hal-hal yang rasanya cukup dewasa di dalam buku ini.

Tuesday, March 11, 2008

Ayat-Ayat Cinta

Ayat-Ayat Cinta
Habiburrahman El Shirazy @ 2004
Penerbit Repulika - Cet. 30, Pebruari 2008
419 Hal.

Fahri, adalah mahasiswa asal Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Sosok pemuda yang halus budi pekertinya, pokoknya nyaris tanpa cela. Ia mengisi waktunya untuk menambah uang saku dengan menterjemahkan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Tinggal di sebuah flat bersama beberapa mahasiswa asal Indonesia lainnya, bersahabat baik dengan salah satu keluarga yang tinggal di flat itu. Salah satu anaknya bernama Maria. Gadis beragama Kristen Koptik, tapi hafal salah satu surat di Al-Qur’an, yaitu surat Maryam.

Suatu hari, Fahri tanpa sengaja berkenalan dengan seorang gadis bercadar di metro yang dihina oleh orang Mesir karena menolong turis bule yang dianggap orang kafir. Fahri membela gadis bernama Aisha itu.

Dibanding dengan teman-teman satu flat-nya, Fahri memang bisa dibilang yang paling kalem dan paling ‘lurus’. Tutur katanya halus, tapi tegas. Sering ia mengutip ayat-ayat di Al-Qur’an atau hadits. Menjaga pandangannya terhadap perempuan, bahkan sering menangis jika melihat atau mendengar ada yang bertindak buruk pada perempuan.

Sikapnya ini sering membuat para perempuan jatuh cinta dan tidak segan-segan menyatakan ingin menjadi istrinya. Di antaranya adalah Noura, gadis Mesir yang dianiaya oleh keluarga sendiri, yang kemudian ditolong oleh Fahri. Tapi, cinta Noura bertepuk sebelah tangan, dan membuatnya malah menfitnah Fahri. Lalu, ada Nurul, rekan mahasiswi Indonesia, dan tentu saja, Maria dan Aisha… tapi, siapa yang dipilih sama Fahri?

Tapi, sikap Fahri yang selalu lurus itu mampu membuatnya melewati saat-saat terberat ketika harus berpisah dengan istrinya. Ah… apa benar ada laki-laki seperti Fahri?

Mmmm… agak ketinggalan mungkin gue baca buku ini. Sebenernya dulu, kira-kira setahun yang lalu, pernah punya buku ini, baca hanya beberapa lembar, tapi ‘gak kuat… bukan apa-apa, koq isinya ‘lurus’ banget… masih belum ‘kena’ di hati. Tergerak lagi baca buku ini karena ngeliat trailer film-nya yang sepertinya ‘seru’. Gue gak mau nonton filmnya dulu, takut terpengaruh dengan para tokohnya.

Sebelum memutuskan membaca buku ini (lagi), gue sempet baca buku ‘Ketika Cinta Bertasbih’ – ada dua jilid. Dan karena gak ada ‘feel’-nya, gue gak bisa nulis ‘review’ buku tersebut.

Ceritanya gak jauh beda dengan Ayat-Ayat Cinta, masih bertema pemuda baik-baik di perantauan Mesir, yang harus berjuang menyelesaikan kuliah yang udah dibiayai dengan menjual tanah di kampung. Lalu, ending-nya juga mirip, menemukan cinta sejati-nya, lalu menikah. Koq jadi seperti pengulangan tema, aja.

Mungkin ini sama aja dengan ‘Cinderella Story’ yang berakhir bahagia setelah melewati berbagai penderitaan. Tapi, emang sih, kalo mau dibaca dengan amat sangat mendalam, banyak hal-hal yang positif yang bisa diambil.

Banyak yang bilang buku ini amat sangat menyentuh… sangat bagus… tapi, entahlah, buku ini ‘gak gue banget… ya… mungkin ‘iman’ gue masih kurang tebal untuk mengerti dan menangkap intisari novel ini… tapi… satu kalimat di akhir cerita, cukup ‘menyentil’ gue…

“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.” (hal. 402)

Sunday, March 02, 2008

The Food of Love

The Food of Love (Santapan Cinta)
Anthony Capella @ 2004
Andang H. Sutopo (Terj.)
GPU, Februari 2008
502 Hal.

Laura Patterson, datang ke Roma untuk belajar seni. Tapi, tentu saja rentang waktu satu tahun di Roma tidak mungkin dilewatkan tanpa berkencan dengan cowok-cowok Italia. Lelah dengan cowok Italia yang payah, membuat Laura membuat janji pada dirinya sendiri untuk hanya berkencan dengan cowok yang jago masak. Itulah yang dikatakan Laura pada Carlotta, sahabatnya, via telepon di suatu pagi di sebuah kedai kopi.

Pernyataan itu terdengar oleh Tommaso Masso yang kebetulan juga ada di kedai kopi itu. Tommaso adalah cowok Italia yang gemar berkencan dengan turis-turis. Dinding lemarinya penuh dengan foto perempuan yang pernah berkencan dengannya, yang sebagian besar berambut pirang. Pada kesempatan pertama, Tommaso tidak sempat berkenalan dengan Laura yang menganggapnya hanya cowok iseng. Perjumpaan kedua di sebuah supermarket tidak disia-siakan oleh Tommaso yang secara halus ‘memamerkan’ keahliannya dalam bidang memasak.

Selanjutnya… ajakan kencan tidak dapat ditolak oleh Laura. Tommaso menjanjikan masakan yang paling lezat yang pernah dirasakan oleh Laura. Tapi, masalahnya, Tommaso bukanlah chef. Ia hanya seorang pelayan biasa yang kedudukannya sangat rendah sampai-sampai ia bisa disuruh melakukan pekerjaan ‘kasar’ apa pun. Untuk membuat Laura terpesona, Tommaso minta bantuan sahabatnya, Bruno, yang memang seorang chef.

Bruno, juga tengah jatuh cinta pada seorang gadis yang ditemuinya di pasar sayur. Ia membayangkan sosok gadis itu ketika berkreasi membuat masakan pesanan Tommaso. Dan, memang betul, Laura langsung bertekuk lutut setelah mencicipi masakan yang super duper yummy itu!

Tapi, kejutan gak hanya sampai di situ. Bruno kaget ketika tahu ternyata gadis Tommaso adalah gadis yang sama dengan yang ditemuinya di pasar sayur, gadis yang diam-diam selalu ada dalam pikirannya.

Masalah lain pun timbul. Laura makin tergila-gila pada Tommaso… atau lebih tepatnya ‘masakan’ Tommaso. Tapi, Tommaso mulai kembali pada ‘hobi’nya berkencan dengan para turis. Laura kecewa dan marah. Bruno pun kena getahnya. Laura tak hanya benci pada Tommaso, tapi juga pada Bruno. Padahal Bruno belum sempat mengutarakan perasaannya pada Laura.

Ceritanya lumayan kocak. Mengingatkan gue pada film Rattouille. Selain diajak jalan-jalan ke pelosok-pelosok Italia, pembaca bakalan dibuat ‘lapar’ dengan menu-menu aneh tapi tampaknya enak banget… bener-bener Mamma Mia…. Makanan bukan hanya sekedar makanan untuk memuaskan rasa lapar, tapi dengan bumbu-bumbu tertentu, akan banyak kejutan tak terduga!

Blue Jasmine

Blue Jasmine
Kashmira Sheth @ 2004
Hyperion - 2006
186 Hal.

Seema Trivedi, gadis berusia 12 tahun, mengalami banyak pengalaman baru ketika ia harus pindah ke Iowa, Amerika. Ayah Seema adalah seorang peneliti yang mendapat tawaran untuk bekerja di Iowa. Karena itu, mereka sekeluarga harus pindah. Seema harus meninggalkan semua yang dicintainya di India.

Awalnya memang terasa berat bagi Seema. Ia merasa aneh dan merasa tidak akan bisa menyesuaikan diri di Amerika. Apalagi India selalu terbayang-bayang di benaknya. Belun lagi, Seema selalu merasa aneh berada di tengah-tengah orang yang berbeda, suasana yang berbeda.

Tapi, lambat laun, ketika Seema mulai masuk ke sekolah barunya, Seema mendapat sahabat baru yang dengan senang hati membantu Seema menyesuaikan diri. Seema mulai menikmat hari-hari barunya. Logatnya yang aneh dan penampilannya yang berbeda memang sempat membuatnya jadi baha ejekan dan hampir membuat Seema down.

Semakin lama, India tampak semakin jauh. Hal itu pula yang dirasakan Raju, sepupu Seema, ketika Seema pulang ke India saat neneknya sakit. Raju seolah menjauh dan menganggap Seema tidak lagi merasa India sebagai rumahnya.

Seema memang belajar banyak dengan kepindahannya ke Amerika. Seema jadi belajar lebih menghargai arti sebuah persahabatan dan perbedaan.

Novel sederhana tentang persahabatan dan keluarga.

Monday, February 18, 2008

A Thousand Splendid Suns

A Thousand Splendid Suns
Khaled Hosseini @ 2007
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Qanita, Cet. I – November 2007
516 Hal.

A Thousand Splendid Suns berkisah tentang dua perempuan yang mengalami penderitaan akibat peperangan dan pernikahan yang dipaksakan. Sama seperti The Kite Runner, novel kedua Khaled Hosseini ini masih mengambil latar belakang peperangan yang terjadi di Afghanistan.

Tokoh pertama, bernama Mariam. Ia adalah seorang harami – hasil dari hubungan gelap Nana dan Jalil. Jalil, adalah seorang pengusaha dan sudah mempunyai tiga istri. Sedangkan Nana, adalah pelayan di rumah Jalil. Untuk menyembunyikan aib ini, Jalil ‘memindahkan’ Nana ke sebuah rumah yang terpencil dan jauh dari kota. Bertahun-tahun, secara teratur Jalil mengunjungi kolba Nana dan Mariam setiap hari Kamis. Di hari Kamis itu, Mariam akan mendengar cerita-cerita indah ayahnya, dan setelah itu pula, Nana akan memutarbalikkan semua kata-kata Jalil, dan selalu berkata bahwa Jalil tidak akan pernah mengakui Mariam sebagai anaknya.

Menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, Mariam meminta hadiah istimewa dari Jalil, tapi ternyata di hari yang dinanti itu, Jalil tidak kunjung datang, dan membuat Mariam nekat pergi ke Herat, ke rumah mewah Jalil, di mana ia sama sekali tidak diterima. Kepergian Mariam ke rumah Jalil justru membawa petaka. Nana bunuh diri dan meninggalkan Mariam seorang diri.

Jalil terpaksa membawa Mariam ke rumahnya. Buntutnya, Mariam dipaksa menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua, Rasheed dan dibawa pindah ke kota Kabul. Pernikahan membawa penderitaan baru bagi Mariam, terlebih ketika ia mengalami keguguran dan membuat Rasheed mulai kasar padanya.

Lalu, tokoh kedua adalah Laila. Ia tinggal bertetangga dengan Mariam dan Rasheed di Kabul. Anak seorang guru bernama Hakim dan ibu bernama Fariba. Kedua abang Laila pergi berjihad dan membuat Fariba hidup dalam kegelapan menanti kepulangan kedua anaknya. Untung Laila memiliki Babbi yang kuat dan sahabat yang baik bernama Tariq. Tariq selalu melindungi Laila dari gangguan anak-anak laki-laki yang jahil. Persahabatan yang membawa mereka pada hubungan yang lebih jauh.

Peperangan membuat banyak warga yang mengungsi ke Pakistan, termasuk keluarga Tariq. Keluarga Laila pun bersiap mengungsi ketika petaka lain datang. Membuat Laila sebatang kara.

Pasangan Mariam dan Rasheed mengurus Laila. Rasheed-lah yang menyelamatkan Laila saat musibah itu datang. Tapi, ternyata, semua itu bukanlah hal yang tulus. Rasheed bermaksud menikahi Laila yang usianya ketika itu hampir sama dengan Mariam ketika Rasheed menikahinya.

Laila setuju, tapi, malah membuat Mariam mengambil sikap bermusuhan. Laila menjadi malika dalam rumah itu dan selalu dilindungi oleh Rasheed. Tapi, sikap manis itu juga hanya sementara, yang langsung berubah ketika Laila melahirkan seorang anak perempuan.

Inilah awal mula persahabatan Laila dan Mariam. Mereka berdua saling membela dan melindungi menghadapi kekasaran Rasheed.

Situasi karena perang semakin tidak menentu. Keadaan dalam rumah tangga juga tidak kunjung membaik.

Di tengah-tengah penderitaan, Laila dan Mariam berusaha mencari seribu mentari surga yang akan memberikan sinar dalam gelapnya dunia mereka.


Khaled Hosseini kembali mencoba ‘mengobrak-abrik’ perasaan pembacanya, mencoba membuat pembaca bercucuran air mata lewat emosi yang ditampilkan dalam sosok Laila dan Mariam. Tapi, kaya’nya masih lebih ‘nendang’ The Kita Runner, deh… Novel ini lebih ‘mendayu-dayu’, mungkin karena tokoh utamanya perempuan, jadi masalah ‘cinta-cintaan’, cemburu jadi lebih mendominasi dalam buku ini.

Friday, February 15, 2008

My Sister Keeper (Penyelamat Kakakku)

My Sister Keeper (Penyelamat Kakakku)
Jodi Picoult @ 2004
Hetih Rusli (Terj.)
GPU, Januari 2008
528 Hal.

Anna Fitzgerald, gadis berusia 13 tahun, mengajukan gugatan hokum terhadap orang tuanya – Sara dan Brian – menuntut kebebasan medis atas dirinya. Sejak lahir, Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusatnya untuk kakaknya, Kate, yang menderita leukemia. Tidak ada donor yang coco untuk Kate, entah itu orang tuanya sendiri atau kakak laki-lakinya, Jesse.

Oleh karena itu, kehamilan Sara atas Anna seolah ‘dirancang’ untuk melahirkan anak yang akan cocok menjadi donor yang bisa memperpanjang hidup Kate.

Suntikan, transfusi darah dan operasi menjadi hal yang biasa dijalani Anna demi Kate – paling tidak itu yang diyakini oleh Sara dan Brian. Bukan Anna tidak menyayangi Kate, tapi ketika pada puncaknya, Sara meminta Anna untuk mendonorkan satu ginjalnya untuk Kate, hati Anna mulai berontak. “Bagaimana jika aku mengalami gagal ginjal saat umurku misalnya, tujuh puluh tahun? Di mana aku mendapat ginjal cadanganku?” (Hal. 467).

Karena itulah, Anna memberanikan diri untuk ‘menyewa’ Campbell Alexander untuk menjadi pengacaranya. Kasus ini menjadi rumit, karena Anna harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Anna sendiri masih terbilang labil, awalnya sempat maju-mundur, apakah mau melanjutkan kasus ini atau tidak. Karena baginya, menang atau kalah, akan ada hati yang terluka atau bahkan ada yang akan dikorbankan.

Dari pihak orang tua Anna, diwakili sendiri oleh Sara yang pernah sekolah hukum. Membuat kasus ini melibatkan terlalu banyak ‘perasaan’ yang mungkin bisa membuat Anna semakin goyah.

Semua tokoh dalam cerita ini mendapat ‘porsi’ untuk mencurahkan pikiran mereka – kecuali Kate - termasuk Jesse, kakak laki-laki Anna yang gemar ‘membakar’ dan memiliki jiwa pemberontak. Pelan-pelan akan kelihatan kedewasaan setiap tokoh dalam melewati hari-hari mereka, termasuk Anna dan Jesse. Cukup detail penggambaran ‘jeritan hati’ setiap orang, gimana Brian yang ingin mendukung Anna, tapi juga kepikiran sama ‘nasib’ Kate, atau mungkin pembaca akan berpikir kalo Sara adalah ibu yang ‘egois’, ‘mengorbankan’ Anna demi Kate. Tapi, tokoh favorit gue adalah Jesse – nyentrik, tapi care sama adik-adiknya.

Gue sebenernya penasaran sejak awal, apakah Kate akan meninggal atau Anna yang akan nyerah. Tapi, gue berhasil bertahan dan sabar untuk gak buru-buru ngeliat ending cerita.

Penyelesaian akhir cerita ini rada mirip sinetron, meskipun secara keseluruhan cerita dalam buku ini bagus. Tapi, penting gak ya, membahas sejarah masa lalu Campbell Alexander dan Julia Romano – wali ad litem untuk Anna?
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang