Tuesday, August 09, 2011

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Tasaro GK
Penerbit Bentang – Cet. I, Maret 2010
546 hal.

Buku ini berkisah tentang perjalanan seorang penyair bernama Kasvha. ‘Pemindai Hujan’ demikian julukannya. Ia mencari seseorang yang namanya disebut-sebut dalam berbagai kitab suci, nama yang diramalkan akan membawa perubahan dan rahmat bagi alam semesta, menyejukan semua kaum, pembela yang teraniaya dan pemimpin semua umat. Nama yang disebut berbeda-beda tapi merujuk pada satu orang, yaitu Muhammad SAW.

Untuk mencari sosok itu, Kashva rela meninggalkan kuil yang selama ini jadi tempatnya bermukim, melarikan diri dari kejaran pasukan raja Khosrou yang ingin menghabisinya karena meyakini hal yang berbeda dari apa yang selama ini mereka percaya dan imani.

Perjalanan panjang dan melelahkan harus ia lalui. Emosi kadang menjadi tidak stabil, dalam keadaan tak sadar, Kasvha sering berhalusinasi, hingga akhirnya mengaburkan antara yang nyata dan khayalan.

Sementara itu, di belahan dunia lain, di tanah Arab, Muhammad tengah berperang, melawan orang-orang Quraisy yang masih tetap berpegang teguh pada ajaran menyembah berhala. Orang-orang Quraisy yang tak mau mengakui Muhammad sebagai nabi dan tak mau beriman pada ajaran yang dibawa Muhammad. Tak sedikit orang-orang yang menaruh dendam pada Muhammad, tapi pada akhirnya lebih banyak orang yang berpaling dari ajaran lama mereka dan memilih untuk menjadi pengikuti Muhammad.

Dicerca, dihina dan bahkan diusir dari Mekkah, tanah kelahirannya sendiri, Muhammad terus berjuang bersama para sahabat dan pengikutnya. Hijrah ke Madinah, menghimpun umat di sana. Sungguh sebuah pengorbanan yang besar. Tapi tak sedikit pun Muhammad mengeluh, tak sekalipun ia menaruh dendam pada musuh-musuhnya. Bahkan ketika mereka memohon perlindungan dan pengampunan dari Muhammad, beliau senantiasa mengabulkannya.

Mungkin baru sedikittttt sekali pengetahuan gue tentang sosok nabi Muhammad. Mungkin hanya sebatas sejarah ketika gue belajar agama di sekolah. Tapi membaca buku ini, gue bener-bener mendapatkan banyak hal baru, melihat sosok Muhammad tak hanya sebagai seorang Nabi, tapi juga sebagai seorang suami yang menenangkan hati kala istrinya cemburu, menjadi pendengar bagi sahabat-sahabatnya, pelindung para budak dan kaum lemah. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, dengan pasukan perangnya, beliau masih sempat meminta salah satu sahabatnya untuk menjaga anjing yang sedang menyusui di tengah jalan, khawatir nanti anjing-anjing itu terganggu karena perjalanan mereka. Lalu bagaimana tegarnya Muhammad ketika pamannya yang selalu melindunginya, Abi Thalib, meninggal tapi masih belum bisa meninggalkan keyakinan lamanya. Bahkan orang-orang yang senantiasa melindungi dan mencintainya pun belum sanggup untuk berpaling dari berhala.

Ditulis dalam bentuk novel, membuat gue lebih ‘nyaman’ membacanya ketimbang kalau harus membaca buku ‘sejarah betulan’.

Membaca judulnya pun membuat gue ‘speechless’, ada kesan ‘magis’, sesuatu yang agung, yang gak bisa gue gambarkan dengan kata-kata. Bukan gue berlebihan, tapi memang itu yang gue rasakan. Kata-kata yang ditulis Tasaro GK begitu indah, terutama pada bagian-bagian yang menceritakan perjalanan Muhammad, serasa membaca sebuah puisi.

Wednesday, August 03, 2011

2

2
Donny Dhirgantoro
Grasindo - 2011
418 hal.

Melewati rak-rak buku di Gramedia beberapa waktu yang lalu, mau gak mau mata gue langsung melihat ke buku yang satu ini. Gimana enggak, covernya yang warna merah sanggup membuat gue berpaling. Judulnya yang singkat, membuat sanggup membuat gue penasaran. Simple – hanya angka ‘2’.

Berawal dari lahirnya seorang bayi perempuan. Bayi perempuan ini mempunyai ‘kelebihan’ yaitu tubuhnya yang besar, tak lazim untuk ukuran seorang bayi. Kedatangan bayi yang diberi nama Gusni ini disambut dengan gembira, tapi diikuti dengan sebuah kekhawatiran.

Gusni tumbuh jadi seperti anak-anak lainnya. Hanya saja tubuh besarnya yang membuatnya berbeda. Ia tetap ceria, tidak ada sedikit pun rasa minder, gemar makan, dan lincah. Bersahabat dengan dua teman yang juga ‘besar. Sampai suatu hari ia bertemu dengan anak laki-laki – saingannya ‘berebut’ onde-onde di kantin - yang memperkenalkannya pada apa arti cita-cita. Harry namanya, dan kebetulan berbadan oversized juga. Tapi kata Harry, “Orang yang besar, pasti hatinya juga besar.”

Gusni bercita-cita ingin jadi pemain bulutangkis, seperti kakaknya, Gita. Tujuannya hanya satu, yaitu ingin membuat orang tuanya senang.

Tak mudah bagi Gusni untuk mendapatkan izin dari orangtuanya untuk ikut bermain bulutangkis, kekhawatiran yang mengiringi perkembangan Gusni penyebabnya. Tapi Gusni bertekad bahwa ia mampu menaklukkan kekhawatiran itu, dan ia terus berjuang tanpa putus asa.

Di awal-awal, gue agak merasa bosan dengan humor-humor yang awalnya lucu, tapi karena berulang-ulang, terkesan jadi ‘lebay’. Tapi, di paruh kedua buku ini, ‘aura’-nya berubah, jadi lebih serius. Dan, jujur, gue jadi ikut terharu, gue berasa ikutan tegang, kaya’ nonton pertandingan bulutangkis beneran.

Yang menarik lagi… adalah resto bakmi-nya Harry… sebagai penggemar mie, gue pengen banget nyicipin bakmi yang dimasak dengan 3 resep rahasia itu. Hmmm… nyam…

Lagi, setelah 5cm yang sempat bikin ‘heboh’ itu, Donny Dhirgangtoro berusaha membangkitkan rasa nasionalisme kita.

Tuesday, August 02, 2011

Sebelas Patriot

Sebelas Patriot
Andrea Hirata
Penerbit Bentang – Juni 2011
125 hal.

Gue mau membuat pengakuan… bahwa inilah buku pertama Andrea Hirata yang gue baca. Gue punya sih Tetralogi Laskar Pelangi, tapi ya itu deh, bahkan Laskar Pelangi pun belum tuntas gue baca. Mumpung ada tulisan Andrea Hirata dalam versi yang pendek, jadilah gue memutuskan untuk membaca buku ini.

Berkisah tentang kenapa seorang Ikal begitu mencintai sepak bola sampai pernah ingin masuk ke dalam tim PSSI. Adalah sebuah foto buram hitam-putih yang mengusik benak Ikal. Foto seorang pria dengan piala di tangan, tapi mimik wajahnya tidak tampak gembira.

Ikal pun mencari tahu siapa sebenarnya sosok di foto itu, kenapa ibunya malah menyembunyikan foto itu ketika Ikal pertama kali melihatnya.

Maka bertanyalah Ikal pada orang-orang yang dianggapnya cukup tua di sana. Terkuaklah misteri tentang pria di foto itu. Cerita yang mengenaskan berawal ketika masa penjajahan Belanda. Sebagai penjajah, tentunya Belanda tidak mau kalah dalam segala hal, termasuk dalam olahraga. Dalam berbagai pertandingan – entah itu bulutangkis, renang, lari – setiap warga pribumi yang nyaris menang, harus ‘otomatis’ kalah menjelang garis finish.

Tapi, di cabang sepakbola, tim pribumi diperkuat oleh 3 kakak beradik yang jagoan banget. Gara-gara berhasil mengecoh tim Belanda, 3 kakak beradik itu harus rela ‘digiring’ tentara Belanda, masuk penjara dan kemudian menjalani kerja paksa. Mereka harus menerima siksaan dari tentara Belanda yang tak rela kalah dari warga pribumi.

Cerita inilah yang ‘memecut’ Ikal. Dengan sepenuh hati, ia memilih sepakbola, berlatih dengan giat, hingga terpilih untuk ikut seleksi junior PSSI di Sumatera Selatan – sampai berburu kaus bertanda tangan Luis Figo di tempat asalnya,

Semua itu dilakukan untuk membuat pria di foto itu bangga. Siapa sih beliau? Baca aja sendiri… abis nanti jadi *spoiler* :D

Tapi, yang jelas, buku ini membuat gue ingin tau lebih banyak tulisan-tulisan Andrea Hirata yang lain. Cerita-ceritanya simple aja, tapi gak gampang dilupain.

Madre

Madre
Dee (Dewi Lestari)
Penerbit Bentang – Juni 2011
162 hal.

Dee atau Dewi Lestari, adalah salah satu penulis Indonesia yang karya-karyanya selalu gue tunggu (hhmmm… sampai sekarang gue masih bertanya-tanya, kapan lanjutan Supernova akan terbit?). Gue nyaris punya dan nyari membaca semua karya Dee – cuma Rectorverso nih yang belom punya. Dan ketika Bentang Pustaka bolak-balik nge-tweet tentang Madre, gue langsung berpikir gue harus punya buku ini.

Buku ini berisi cerita pendek dan beberapa puisi karya Dee dari tahun 2006 – 2011. Buat gue, tulisan Dee selalu ‘unik’. Liat aja kisah Madre, sebuah cerita tentang (eks) took roti tua yang terkenal dengan rotinya yang khas. Tentang seorang pemuda yang tiba-tiba ‘ketiban’ wasiat setoples biang roti. Tentang took roti tua yang ‘tergeser’ karena kehadiran toko roti lain yang lebih modern. Cerita yang sempat membuat gue tersenyum-senyum.

Dari baca cerita ini, gue jadi berasa mencium bau roti yang baru matang (ups.. ini khayalan orang lagi puasa aja kaya’nya).

Tapi sayang, gue gak terlalu menikmati semua tulisan di buku ini. Hanya Madre dan Menunggu Layang-Layang yang jadi favorit gue. Sama satu puisi - Larutan Amonia (eh,.. bener gak ya judulnya?) - yang ditulis Dee ketika mengandung anak keduanya, Atisha. Gue jadi berharap andai gue bisa menulis sesuatu untuk Mika.

Saturday, July 30, 2011

Cocktail for Three

Cocktail for Three (Klub Koktail)
Sophie Kinsella as Madeleine Wickham
Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)
GPU – Juni 2011
440 hal.

Roxanne, Maggie dan Candice, 3 sahabat yang bekerja di sebuah media di London. Tanggal 1 setiap bulannya mereka bertemu di sebuah bar, bernama Manhattan Bar. Yah, untuk sekedar refreshing. Meskipun bekerja di kantor yang sama, tidak berarti tiap hari mereka bertemu.

Roxanne, adalah penulis lepas. Gadis yang penuh percaya diri dan memiliki menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Tapi, tak satu pun dari sahabatnya itu tahu siapa pria itu. Ia hanya sesekali datang ke kantor. Tugasnya jalan-jalan ke luar negeri, meliput tempat-tempat penginapan baru. Maggie, si pemimpin redaksi, satu-satunya yang sudah menikah, ambisius dan sedang stress menghadapi peran baru sebagai ibu. Candice, penulis, yang sangat lugu, baik hati dan jujur. Mudah dimanfaatkan orang karena kebaikan hatinya.

Semua berjalan dengan lancer, dan.. asyik-asyik aja gitu. Tapi, ketika di satu pertemuan rutin mereka, pertemuan terakhir sebelum Maggie cuti melahirkan, ada salah satu pramusaji yang membuat Candice tertarik, yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu, namanya Heather.

Pertemuan itu membuka luka lama Candice, rasa bersalah terhadap keluarga Heather. Maka, si peri baik hati ini berniat untuk membalas apa yang sudah terjadi, mencoba menghapus kesalahan masa lalu yang disebabkan ayah Candice. Ia membantu Heather mendapatkan pekerjaan di Londoner dan mengajaknya tinggal bersama. Baik Roxanne dan Maggie menyayangkan sikap Candice yang terlau baik.

Lain lagi Roxanne, ia masih harus berurusan dengan pacar gelapnya yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Maggie yang sempat mengalami baby blues.

Meskipun sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan di London, usia 30 tahunan ke atas, tapi karakternya beda dengan novel yang memakai nama Sophie Kinsella. Seperti Becky Bloomwood, Tokoh-tokohnya terkesan ‘konyol’. Ceritanya juga lebih ceria.

Kalo di buku ini, tokohnya lebih dewasa, permasalahan juga lebih serius. Yahhh.. ending-nya sih ketebak. Tapi, gak mengurangi rasa tertarik gue sama buku ini.

Mungkin karena gue ‘kecewa’ dengan seri terakhir Shopaholic, gue jadi lebih suka buku ini dan rasa-rasanya jadi pengen baca buku Sophie Kinsella as Madeleine Wickham yang lain. Kadang, abis baca yang ‘berat’, enak juga baca buku-buku kaya’ begini.

Friday, July 29, 2011

The Day of the Jackal

The Day of the Jackal
Frederick Forsyth @ 1971
Ranina B. Kunto (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. 1, Juni 2011
609 hal.

Sekelompok orang yang tergabung dalam OAS (Organisation L’Armée Secréte) ‘memutuskan’ bahwa Presiden Perancis, Charles de Gaulle, harus mati. Mereka beranggapan de Gaulle sudah berkhianat dan melenceng dari apa yang sudah diperjuangkan oleh para veteran.

Beberapa usaha pembunuhan gagal, para perencana, penggagas dan pelaksana pembunuhan itu sudah dieksekusi. Pentolan-pentolan yang masih berkeliaran beberapa ditangkap. Itu semua membuat orang-orang di OAS berhati-hati dan memilih bersembunyi disbanding berkeliaran di jalan-jalan di Perancis atau di kota mana pun.

Tapi, masih ada beberapa orang yang tetap ingin de Gaulle mati. Orang yang fanatik, seperti Rodin. Selama ini, anggota OAS sudah gagal membunuh de Gaulle, ada kebocoran di dalam organisasi mereka. Entah karena ada pengkhianat atau OAS sudah disusupi oleh mata-mata pemerintah. Oleh karena itu, ia berpikir, misi ini akan berhasil jika mereka merekrut orang luar – bukan warga negara Perancis dan bekerja secara professional alias seorang pembunuh bayaran.

Akhirnya terpilihlah seorang warga negara Inggris, dengan track record yang minim. Tapi catatan yang minim inilah yang dicari, sehingga jejaknya tak mudah tercium. Nama sandi-nya Jakal. Dengan bayaran yang menggiurkan, akhirnya tercapailah kesepakatan. Sang Jakal diberi kebebasan untuk memutuskan kapan waktu eksekusi yang tepat dan dengan cara apa.

Jakal pun memulai rangkaian operasinya. Ia bekerja sendiri, mempersiapkan semuanya dengan rinci dan teliti. Mulai dari pemesanan senjata, pembuatan identitas palsu, mencari tempat dan saat yang tepat untuk pelaksanaan pembunuhan itu.

Ia bebas berkeliaran dengan identitas palsu tanpa tercium oleh pihak kepolisian. Sampai akhirnya, pihak kepolisian mulai curiga karena ada 3 orang pentolan OAS yang bersembunyi di sebuah hotel di Roma tanpa melakukan apapun. Dengan tipu daya, akhirnya mereka berhasil menangkap dan memperoleh informasi dari bodyguard yang selalu menjaga Rodin bernama Kowalski. Kowalski ini berbadan besar, tidak banyak omong, tapi ternyata punya hati yang ‘lembut’. Dari sinilah operasi yang dilakukan Jakal mulai tercium dan membuat pihak kepolisian kalang kabut. Sementar de Gaulle sendiri enggan membesar-besarkan berita kalau keselamatannya tengah terancam.

Ditugaskanlah seorang detektif bernama Lebel untuk menyelidiki dan menangkap Jakal. Tapi dengan minimnya informasi, tekanan yang bertubi-tubi dari para atasan, penyelidikan ini berjalan dengan sangat lamban. Ditambah lagi, tampaknya pergerakan Jakal selalu selangkah lebih maju. Jakal selalu bergerak lebih cepat tepat ketika Lebel berhasil memperoleh informasi tentang keberadaan Jakal. Sebuah ‘kecerobohan’ yang disebabkan oleh pihak dalam yang dekat dengan presiden dan tak ingin dikalahkan oleh seorang detektif.

Cukup lama buat gue untuk mendapatkan ‘klik’ atau ‘feel’ dengan novel ini. Memang, harus gue akui, novel ini keren. Semua ditulis dengan begitu detail dan sistematis. Gak heran sih, kalo ternyata novel ini jadi ‘inspirasi’ atau ‘manual book’ beberapa orang untuk melakukan tindak kejahatan, seperti pembunuhan atau pemalsuan passport

Bukan novel yang membuat adrenalin gue terpacu untuk baca terus dan terus. Menjelang akhir bagian pertama, baru gue mulai bisa pelan-pelan menikmati isi novel ini. Bagian-bagian yang gue suka adalah bagiannya si Jakal. Setiap dia lagi mempersiapkan segala sesuatunya, bekerja sendiri. Misterius. Gue jadi terbayang sama Daniel Craig – si James Bond.

Eksekusi akhir novel ini berlangsung cepat. Berbeda detail yang begitu panjang di bagian awalnya. Mulai deh keliatan seperti ‘adegan’ film. Detektif yang bolak-balik kalah cepet dengan si penjahat.

Salah satu yang membuat gue betah adalah pemilihan kertas dan font-nya yang ‘bersahabat’ dengan mata. Tapi, kenapa banyak bahasa Perancis yang gak diterjemahin? Dan gue sempat berpikir, kenapa juga Jackal itu harus diterjemahin jadi Jakal, kenapa gak tetap dengan tulisan aslinya?

Wednesday, July 27, 2011

The Thief

The Thief (Sang Pencuri dari Eddis)
Megan Whalen Turner @ 1996
Zaky Yamani (Terj.)
GPU – Juni 2011
360 hal.

Gen, dipenjara karena kebodohannya sendiri. Ia membual bias mencuri apa saja, tapi malah memamerkan hasil curiannya di sebuah kedai anggur.

Suatu hari, penasihat Raja Sounis, sang Magus datang membebaskannya. Bukan tanpa maksud akhirnya Gen dibebaskan. Sang Magus punya misi khusus untuk mau merepotkan diri melakukan hal itu.

Sang Magus meminta Gen untuk mencuri sebuah batu. Batu ini bukan sembarang batu, tapi jika Raja Sounis bisa memiliki batu ini, maka hal ini bisa dijadikan ‘alasan’ untuk menikahi Ratu Eddis dan menyatukan kedua wilayah.

Maka, Gen pun berangkat bersama sang Magus dan rombongan yang terdiri dari 2 orang murid sang Magus dan satu orang pengawal. Perjalanan terbilang lancar. Tak ada hambatan yang berarti kecuali makanan yang harus dihemat, jalan yang terjal dan berbatu. Hambatan sesungguhnya baru terjadi saat Gen harus masuk ke dalam gua tempat batu itu ada.

Terus terang gue rada gak sabar baca buku ini. Membosankan. Karakter Gen juga ‘nyebelin’ banget. Anak muda yang manja, sok cakep, bawel dan kadang sok tahu. Tokoh lain juga gak ada yang – menurut gue – ‘kuat’ karakternya. Padahal dari cover-nya, seolah Gen itu tokoh yang gagah, pemberani dan pantang menyerah. Terlalu ‘macho’ untuk jadi gambaran tokoh seperti Gen.

Jalan cerita juga cenderung datar, saat ada pertempuran pun juga gak membuat jadi tegang. Kaya’nya terlalu bertele-tele. Buku yang gak terlalu tebel ini, mungkin bisa jadi lebih tipis lagi. (duh.. gue jadi sok bisa nulis aja)

Yang menarik justru catatan dari penulis, tentang latar belakang penulisannya dari mana dia mengambil ide cerita, dan daftar buku-buku yang berpengaruh dalam prosesnya jadi penulis. Hmmm.. bisa jadi contekan…

Buku ini ada sekuel-nya, tapi rasanya gue gak tertarik untuk tahu lanjutannya.

Tuesday, July 26, 2011

One Amazing Thing

One Amazing Thing
Chitra Banerjee Divakaruni @ 2009
Sujatrini Liza (Terj.)
Qanita – Cet. 1, Juni 2011
422 hal.

Kantor permohonan visa ke India terasa begitu membosankan. Petugas yang acuh tak acuh, cuek dengan para pemohon yang antri. Salah satu di antara pemohon visa itu adalah Uma. Meskipun ia orang India, tapi belum pernah sekali pun ia menginjakkan kaki di tanah airnya itu. Tujuannya ke India, adalah untuk berkunjung, bertemu dengan orang tuanya yang menghabiskan masa pensiun di kampung halamannya. Sejak pagi, ia sudah tiba di sana. Semua tampak tenang, sibuk dengan pikiran masing-masing, mengusir kebosanan dengan caranya sendiri.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh. Gempa bumi. Sembilan orang terjebak di dalam kantor itu. Cameron, salah satunya, sebagai mantan prajurit, ia cepat tanggap dengan situasi yang genting. Meskipun sikapnya ini tidak disukai oleh Thariq, pemuda berjenggot keturunan Pakistan, yang memandang sinis orang-orang Amerika, sebagai balasan atas sikap orang Amerika sendiri terhadap kaum Muslim.

Dengan sigap, Cameron memeriksa kerusakan yang terjadi, membantu orang-orang yang cedera, memeriksa cadangan air dan membagi makanan dengan sama rata. Di tengah kegelapan dan bahaya karena sewaktu-waktu langit-langit bisa runtuh.

Untuk mengusir rasa takut, sepi dan ketidakpastian, Uma mengusulkan agar mereka saling berbagi satu kisah yang sangat berarti dalam hidup mereka. Awalnya usul ini ditolak, khawatir akan membuang oksigen dengan sia-sia.

Tapi, Nenek Jiang memberanikan diri untuk menjadi yang pertama menuturkan ceritanya. Dan sambil berharap-harap cemas akan bantuan yang tak kunjung datang, persediaan makanan dan air yang menipis, akhirnya, semua pun bercerita satu kisah yang membuat hidup mereka berubah dan membawa mereka ada dii kantor permohonan visa.

Semua kisah memang ‘menakjubkan’ dan punya arti sendiri-sendiri bagi si penutur, yang pada akhirnya memberi pengaruh pada orang-orang di sekitar yang baru dikenal saat terjadi bencana itu.

Kisah favorit gue, adalah ceritanya Malathi, perempuan petugas di kantor permohonan visa itu. Salon pink yang digambarkan dalam bayangan gue jadi benar-benar genit dan wangi. Penuh dengan gosip para pelanggan dan pekerja salon yang tekun tapi diam-diam ikut menguping.

Chitra Banerjee Divakaruni adalah salah satu penulis favorit gue sejak pertama baca The Mistress of Spices, dan entah kenapa, gue lebih bisa menikmati tulisan-tulisan penulis dari India, ketimbang penulis-penulis Jepang. Rasanya tulisan mereka lebih ‘dekat’ dengan kehidupan sehari-hari, lebih nyata.

Wednesday, July 20, 2011

Kafka on Shore

Kafka on Shore
Haruki Murakami @ 2005
Vintage Books - 2005
489 hal.

Beberapa orang yang gue ‘temui’ dari hasil blogwalking, yang membaca karya-karya Haruki Murakami bilang, “He’s a jenius.” Karya-karyanya ‘mengagumkan’. Wah… tampaknya seorang penulis yang karyanya ‘wajib’ dibaca.

Kafka on Shore, rasanya (lagi-lagi) udah ada lama banget di lemari buku gue, tapi, sekian lama juga hanya jadi pemanis di sana. Entah kenapa, baru-baru ini, begitu membaca halaman pertama, gue tergerak untuk melanjutkan ke halaman-halaman berikutnya. Buku pertama Haruki Murakami yang gue baca adalah Norwegian Wood, tapi dengan sukses, gak gue selesaikan karena gak nyambung buat gue.

Ada dua kisah di dalam buku ini. Sejalan, tapi ada di tempat yang berbeda.

Pertama, tentang seorang anak laki-laki bernama Kafka Tamura. Tepat ketika ia berulang tahun ke 15, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Tujuannya mencari ibu dan kakak perempuannya yang pergi ketika ia masih kecil. Hubungan Kafka dengan ayahnya, Koichi Tamura, tidaklah harmonis. Malah, sang ayah mengutuk Kafka, bahwa suatu hari ia akan membunuh ayahnya dan meniduri ibu serta kakak perempuannya sendiri. Hmmm.. kutukan yang mengerikan.

Setelah mengambil uang dari laci meja kerja ayahnya dan sebuah pisau lipat, mengemasi pakaian dan kebutuhan lainnya, Kafka pun pergi. Tak ada tujuan pasti, Kafka sempat bertemu dengan seorang gadis bernama Sakura, yang membantunya ketika Kafka tiba-tiba terbangun di sebuah taman dengan baju berlumuran darah, yang ia sendiri tidak tahu darah siapa itu.

Sampai akhirnya Kafka sampai di sebuah perpustakaan pribadi, Komura Library. Ia pun berkenalan dengan asisten di perpustakaan itu bernama Oshima. Oshima ini lah yang pada akhirnya banyak membantu Kafka, seperti memberi tempat tinggal dan pekerjaan.

Di Komura Library ini pulalah, Kafka bertemu dengan Miss Saeki, pemilik perpustakaan ini. Dan menjalin hubungan singkat dengan Miss Saeki. Perbedaan usia tidak menghalangi hubungan mereka itu.

Tokoh utama yang kedua, adalah Nakata. Di era Perang Dunia II, Nakata terkena penyakit ‘aneh’. Saat berjalan-jalan di hutan dengan rombongan sekolah, tiba-tiba saja semua murid pingsan, tanpa diketahui penyebabnya. Tapi, sebagian besar murid-murid itu sembuh, kecuali Nakata. Kejadian itu mengakibatkan hilangnya kemampuan Nakata dalam membaca dan menulis, tapi ia punya keahlian lain, yaitu berbicara dengan kucing. Ia hidup dari subsidi pemerintah dan hasil dari membawa pulang kucing-kucing yang hilang.

Nakata juga melakukan perjalanan jauh setelah ia membunuh seorang pria yang ia yakini bernama Johnie Walker. Ditemani seorang pengemudi truk bernama Hoshino, yang dengan senang hati meladeni apa pun yang dikatakan Nakata.

Di saat yang sama, ayah Kafka juga ditemukan tewas terbunuh. Sementara, saat bersama Sakura, Kafka berkesimpulan Sakura adalah kakak perempuannya, dan ketika bersama Miss Saeki, ia pun berasumsi Miss Saeki adalah sosok ibunya. Dan akhirnya, kutukan itu pun benar adanya.

Awalnya gue masih sanggup mengikuti cerita ini, makin ke belakang gue makin puyeng… Buku ini penuh dengan khayalan para tokoh, dan penuh dengan cerita ‘dewasa’. Banyak hal yang aneh di dalam buku ini, tentang Kafka yang punya ‘teman khayalan bernama Crow’ – anyway, Kafka sendiri berarti Crow, lalu, seorang Johnie Walker yang membunuh kucing demi mendapatkan umur yang lebih panjang (yakssss…), hujan ikan, dan berbagai keanehan lainnya. Kafka on Shore adalah sebuah gubahan lagu, dan juga sebuah lukisan seorang bocah kecil di pantai. Bahkan di sini pun Kafka mengambil kesimpulan bocah itu adalah dirinya, karena memang hanya satu foto yang tersisa, yaitu ketika ia dan kakaknya sedang bermain di pantai.

Well, Haruki Murakami memang jenius. Membuat cerita antara nyata, tapi koq gak nyata. Tapi, ma’af kalo gue bingung membaca cerita ini. Gue gak jenius. Gue kadang gak sanggup membaca cerita yang rumit, apalagi ‘menangkap’ pesannya. Akhir membaca buku ini, gue berpedapata kalau buku ini menggambarkan dunia yang ‘campur aduk’, antara kenyataan, mimpi, khayalan, takdir. Tentang usaha seorang manusia melarikan diri dari sesuatu, tapi ternyata tak berhasil.

Another Haruki Murakami? Mmm… nanti dulu deh… hehehe…

Tuesday, July 12, 2011

Weedflower

Weedflower (Bunga Liar)
Cynthia Kadohata @ 2005
Lanny Murtihardjana (Terj.)
GPU – Oktober 2008
272 hal.

Menjadi orang asing di suatu tempat tidaklah mudah. Apalagi berada di negara yang sedang berkonflik dengan negara asalnya. Sumiko, si gadis Jepang, selalu merasa tersisih di Amerika. Kala itu, Jepang dan Amerika berada di pihaknya yang berseberangan dalam Perang Dunia II. Di sekolah, ia tidak punya teman. Kegembiraan karena pertama kali menerima undangan ulang tahun dari teman sekelasnya yang orang Amerika, harus berakhir dengan rasa kecewa dan marah karena ia hanya ‘diperkenankan’ masuk sampai ruang tamu dan diusir secara halus oleh nyonya rumah.

Sumiko tinggal bersama dengan keluarga Pamannya, mengelola kebun bunga potong. Orang tua Sumiko meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sumiko punya adik bernama Tak-Tak. Kakek Sumiko lah yang datang ke Amerika untuk mengadu nasib. Semuanya tampak baik-baik saja – di luar dipandang aneh oleh hakujin atau orang kulit putih. Sampai kemudian, Jepang menjatuhkan bom di Pearl Harbor, menimbulkan kemarahan dan kecurigaan dari warga Amerika.

Setiap saat, ada ketakutan bahwa mereka akan ditangkap. Dan memang benar, pada akhirnya, kakek dan paman Sumiko ditahan. Sementara keluarga yang tersisa harus meninggalkan rumah mereka dan pindah ke kamp pengungsian.

Beruntung di kamp pengungsian, mereka tidak disiksa atau melakukan kerja paksa. Mereka hidup seperti biasa, hanya tempatnya yang kurang nyaman. Tempat penampungan terakhir ini berbatasan dengan daerah reservasi suku Indian. Seorang anak yang ditemui Sumiko jelas-jelas menunjukkan sikap bermusuhan pada awalnya. Karena dianggap warga Jepang itu mengambil lahan mereka, tapi malah mendapat fasilitas yang lebih nyaman. Sumiko sendiri juga berusaha membuat dirinya senyaman mungkin di tempat penampungan, seperti membuka lahan untuk menanam bunga, bermain dengan adiknya dan beberapa teman baru, bahkan akhirnya menjalin persahabatan dengan anak suku Indian.

Pada akhirnya, Sumiko terombang-ambing, antara ingin tetap penetap di tempat penampungan itu atau keluar dari sana dan memulia hidup baru. Masalahnya tak ada jaminan apakah di luar sana akan lebih baik daripada di tempat penampungan. Sementara peperangan masih terus berlanjut.

Gue membaca beberapa buku yang berlatar belakang perang dunia, tapi biasanya selalu membuat gue ngeri. Kebanyakan sih tentang kamp pengungsian Jerman yang mengerikan di mana para tahanan berakhir di kamar gas. Tapi ini berbeda, entah karena dilihat dari sudut pandang anak-anak, semua tampak ‘baik-baik’ saja meskipun ada kesedihan.

Monday, July 04, 2011

Theodore Boone: The Abduction

Theodore Boone: The Abduction (Theodore Boone: Penculikan)
John Grisham @ 2010
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Juni 2011
232 hal.

Theodore Boone atau Theo kembali disibukkan dengan sebuah peristiwa hukum yang kali ini melibatkan sahabatnya sendiri. Di buku sebelumnya, sudah diceritakan bahwa Theo bersahabat dengan April Finnmore. April ini sedang mempunyai masalah dalam keluarganya. Kedua orangtuanya dalam proses perceraian. Ayahnya jarang di rumah, lebih sibuk dengan band-nya yang tak terkenal itu, ibunya juga sering menggunakan obat-obat terlarang. April anak yang tertutup, meskipun April dan Theo kerap bercerita, tapi tetap ada rahasia yang disimpan April.

Dan pada suatu hari, di tengah malam, keluarga Boone dikagetkan dengan berita bahwa April menghilang, diduga diculik oleh orang yang ia kenal. Theo pun khawatir dengan keselamatan sahabatnya itu. Ada petunjuk bahwa April sering berkirim surat dengan sepupu jauhnya, seorang tahanan bernama Jack Lepper. Jack Leppert ini diketahui kabur dari penjara. Tuduhan utama pun tertuju pada Jack Lepper.

Theo tentu saja gak betah hanya berdiam diri menunggu hasil kerja polisi yang menurutnya lamban. Ia mengerahkan teman-temannya, membentuk regu pencarian April. Mereka berpencar mencari April dan menempelkan selebaran foto April di penjuru kota tempat mereka tinggal.

Upaya ini tak juga membuahkan hasil. Namun berkat kecanggihan teknologi, kepintaran Theo, akhirnya ia berhasil mendapatkan sebuah titik terang tentang kemungkinan di mana April berada. Lagi-lagi, Theo harus menghindar dari orang tuanya yang protective dan meminta bantuan Ike Boone, pamannya yang juga mantan pengacara itu.

Di buku ini, gue lebih bisa merasakan emosinya Theodore Boone, mungkin karena kasusnya menimpa orang yang dekat dengan dia. Theo yang jadi gak bisa konsenstrasi, susah makan dan tidur, dan terus berpikir mencari cara untuk menemukan April.

Tapi menurut gue, cerita tentang Theo yang jadi ‘pengacara’ yang berurusan dengan Pengadilan Hewan, rasanya gak perlu diulang lagi di buku kedua ini. Karena kesannya hanya sebagai ‘sisipan’. Kenapa gak diceritain Theo yang berusaha ‘memecahkan’ kasus yang lebih ‘menantang’ sedikit.

Friday, July 01, 2011

Theodore Boone: Kid Lawyer

Theodore Boone: Kid Lawyer (Theodore Boone: Pengacara Cilik)
John Grisham @ 2010
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – September 2010
272 hal.

Sebagai anak pengacara, Theodore Boone atau akrab dipanggil Theo, tahu banyak tentang seluk-beluk pengadilan. Ayahnya, Wood Boone, seorang pengacara real estate, sedangkan ibunya, Marcella Boone, adalah pengacara perceraian. Theo sering main-main ke gedung pengadilan, kenal dengan hakim, jaksa dan pekerja lain di pengadilan itu. Pengetahuannya tentang dunia hukum juga tidak main-main. Ia kerap diminta bantuan oleh teman-temannya untuk memberi ‘nasihat hukum’.

Di kota kecil tempat tinggal Theo, ada kasus yang menghebohkan yang menarik minat para penduduk. Kasus pembunuhan seorang wanita yang tertuduhnya adalah suaminya sendiri. Kasus Duffy tentu saja tidak luput dari minat Theo. Di sidang perdana, Theo dan teman-temannya memperoleh kesempatan untuk studi lapangan Kelas Pemerintahan. Berkat hubungan akrab dengan hakim, mereka bisa mengikuti sidang perdana itu. Dan, dengan akses rahasia, Theo bisa mengikuti sidang melalui notebook-nya secara real time.

Dalam kasus ini, Pete Duffy didakwa bersalah, namun tak ada bukti-bukti yang cukup, sehingga hampir dipastikan Pete Duffy akan bebas. Tapi, ternyata, ada seorang saksi. Ia melihat ada orang yang masuk ke rumah itu. Sayangnya, saksi ini tak mau keberadaannya diketahui, karena ia adalah seorang imigran, dan pekerja illegal. Jika sampai polisi tahu, maka ia akan dideportasi dan dikirim kembali ke negara asalnya.

Theo pun terlibat. Ia menyimpan terlalu banyak rahasia. Dan ia sudah berjanji untuk tidak membocorkan identitas si saksi kepada siapa pun. Tapi, seandainya ia terus menyimpan rahasia ini, kebenaran tak akan terungkap dan pembunuh berdarah dingin itu akan berkeliaran dengan bebas.

Meskipun tidak setegang dan seseru novel John Grisham yang lain, novel Theodore Boone ini tetap enak untuk diikuti. Tetap ada bagian-bagian yang bikin penasaran, seperti tokoh Omar Cheepe yang misterius, yang tidak berkata-kata, tapi kehadirannya membuat Theo tidak nyaman.

Untuk tokoh Theo sendiri, rasanya adalah anak yang tahu ‘terlalu banyak’ dan untungnya bukan anak sok tahu. Dia juga gak pelit membantu teman-temannya, ikut kegiatan sosial dan sedang dalam masa ‘cinta monyet’. Minatnya hanya di Kelas Pemerintahan. Cita-citanya sudah pasti berkisar di dunia hukum. Punya paman yang juga mantan pengacara kelas atas. Untuk novel Theodore Boone ini sendiri, tingkat ‘ketegangan’ gak terlalu tinggi. Segmen pembaca lebih ke remaja.

Setelah gue liat-liat, ternyata koleksi buku John Grisham gue lumayan lengkap. Novel-novel John Grisham termasuk yang selalu gue ‘buru’ di awal-awal gue mulai mengkoleksi novel yang ‘gedean’ dikit. Udah lama juga sih gue gak baca novelnya, baru sekarang gue baca lagi. Dan ternyata, gue masih tetap suka.

Segera lanjut ke sekuel Theodore Boone…

Thursday, June 30, 2011

The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Alexandre Dumas
Nin Bakdi Soemanto (Terj.)
Bentang Pustaka - Maret 2011
568 hal.

Nama Alexander Dumas, bukan nama ‘asing’ untuk gue, hanya saja gue belum pernah membaca satu pun buku beliau. Gue mengenal nama ini dari film Three Musketeers. Meskipun gue menyukai filmnya yang kocak itu (plus soundtrack-nya yang bagus), gue belum tergerak untuk membaca Three Musketeers. Sampai akhirnya, gue diajak ikutan groups #BBI, dan ternyata buku untuk baca bareng bulan Juni adalah The Count of Monte Cristo dan The Prophecy of the Sisters. The Prophecy of the Sisters udah baca, tinggal The Count of Monte Cristo.

Awalnya… gue sempat ragu untuk membeli. Maklum selalu ‘alergi’ dengan buku-buku begini. Nyoba baca versi bahasa Inggris (nyari e-book-nya), wah… ribet… ya sudahlah, rasa penasaran membuat gue nekat beli buku ini. Dan… akhirnya… gue pun terhanyut dalam aksi balas dendam Count of Monte Cristo. Mungkin terdengar kasar ya, kalo dibilang aksi balas dendam. Tapi itulah yang terjadi dalam buku ini.

Tak sedikit pun terlintas dalam benak seorang Edmond Dantes, pelaut muda yang baru saja membawa kapal Pharaon merapat di Marseilles. Yang ada di pikirannya hanyalah rasa bahagia bertemu dengan ayahnya dan kekasih tercintanya, Mercedes. Bahkan, Edmond sudah berencana akan segera melangsungkan pernikahan dengan Mercedes. Kebahagiaan bertambah karena pribadinya yang tangguh dan cekatan, membuat sang pemilik kapal terkesan dan menjadikan Dantes kapten kapal yang baru.

Tapi, karena rasa iri, dengki dan sakit hati, membuat Danglars – petugas keuangan kapal Pharaon, Fernand – pemuda yang cintanya ditolak Mercedes dan Caderousse – tetangga Dante yang hanya ikut-ikutan, merekayasa sebuah surat yang menunjukkan bahwa Dantes sudah berkhianat dan bersekutu dengan Napoleon yang waktu itu sudah diasingkan ke Pulau Elba. Hal ini semakin diperparah dengan penuntut umum yang ingin cari selamat sendiri, bernama Villefort.

Edmond Dantes harus mendekam di penjara selama 14 tahun. Dijebloskan ke ruang bawah tanah yang gelap. Edmond sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dan itu pasti akan terjadi, kalau saja ia tidak mendengar ada suara-suara yang membawanya pada perkenalan terhadap tahanan lain, seorang pastor yang dianggap gila bernama Abbe Faria.

Edmond pun menganggap Abbe Faria sebagai ayah keduanya. Abbe Faria memberitahu Edmond sebuah rahasia besar, bersama mereka membuat rencana untuk melarikan diri. Sayangnya, hanya Edmond yang berhasil keluar dari penjara itu hidup-hidup.

Berbekal rahasia yang diceritakan oleh Abbe Faria, Edmond pun mengubah hidupnya, mengganti identitasnya dan masuk ke dalam lingkup pergaulan orang-orang yang dulu pernah menyakiti dan membuat hidupnya berantakan. Tanpa disadari Danglars, Fernand dan Caderousse, serta Villefort, Edmond Dantes telah kembali dan siap untuk melakukan balas dendam dan balik menghancurkan hidup mereka. Hanya satu orang yang tahu, dari awal siapa Count of Monte Cristo sebenarnya.

Selama Dantes dipenjara, kehidupan para musuhnya juga berubah, dari kalangan yang biasa-biasa saja jadi bangsawan yang berkedudukan dan kaya raya.

Wow… buku ini penuh dengan intrik-intrik. Tapi, terus terang gue kagum dengan sosok Edmond Dantes a.ka. Count of Monte Cristo, begitu cermat , teliti dan hati-hati dalam menyusun rencana. Ia tahu semua detail kejadian di rumah para musuhnya. Meskipun pada akhirnya ia mengakibatkan kehidupan orang lain berantakan, termasuk kehidupan orang yang pernah ia cintai. Ada satu titik di mana Count of Monte Cristo menyesali perbuatannya karena mengakibatkan hilangnya nyawa seorang anak yang tak bersalah. Tapi, meskipun ‘terasa’ sadis, ia tak melupakan orang-orang yang baik pada dirinya. Dengan harta yang nyaris tak terbatas, Count of Monte Cristo leluasa melakukan berbagai hal, menghambur-hamburkan uang demi mencapai tujuannya.

Membacanya pun harus pelan-pelan, begitu banyaknya tokoh dan berbagai peristiwa yang berseliweran, sempat membuat gue kehilangan arah dan bingung. Beberapa kali sempat bolak-balik ke depan, biar inget lagi. Sempat nyaris putus di tengah jalan. Gue jadi pengen nonton filmnya. Sampai sekarang, kalo gue disuruh membayangkan siapa yang cocok jadi Edmond Dantes, gue koq terbayang sama si pemeran Aragorn di Lord of the Rings ya? Hehehe…

Buku ini mendapat bintang 4 dari gue. Kenapa gak 5? Mungkin nanti, kalo gue (suatu saat) baca ulang, dan gak pake pusing lagi bacanya, gue bakal kasih bintang 5.

Tuesday, June 28, 2011

Sendratari Mahakarya Borobudur

Sendratari Mahakarya Borobudur
Timbul Haryono, Sutarno Haryono, Maryono & Soegeng Toekio
Penerbit KPG - 2011
142 hal.

Buku Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue peroleh dari hasil menang quiz di twitter. Buku ini terbagi dari 3 bagian.

Bagian pertama adalah sejarah Borobudur. Dari bagian ini, gue jadi tau, kalo Belanda gak hanya bisa ‘menjajah’ Indonesia, tapi justru ikut membantu di awal restorasi Candi Borobudur ini. Gue jadi bersyukur Borobudur ini gak dihancurkan meskipun saat itu sudah tertutup semak belukar dan dalam kondisi yang rusak.

Candi Borobudur menyimpan banyak filosofi. Dari relief-relief yang terpahat di dinding batu yang melingkar di Candi Borobudur, terlihat berbagai perilaku manusia plus hukuman yang menanti. Candi Borobudur dibangun atas perintah Raja Samaratungga. Saat itu keadaan kacau balau, kejahatan merajalela, saling menindas dan rakyat menderita. Untuk itulah, ayah Raja Samaratungga, merasa wajib untuk membawa rakyatnya ke jalan yang benar. Raja Samaratungga mengaplikasikan keinginan ayahnya ke dalam bentuk candi yang berisi ajaran-ajaran hidup.

Bagian kedua adalah tentang sendratari Mahakarya Borobudur itu sendiri. Tarian ini bercerita tentang riwayat pembangunan Candi Borobudur. Adegan per adegan terpapar dengan rinci di sini. Detail pakaian, aksesoris, musik, tata panggung dan cahaya. Semua dipersiapkan dengan matang, agar pada saat pementasan betul-betul menunjukkan kemegahan Candi Borobudur, dan juga sendratari itu sendiri.

Sementara di bagian terakhir, dijelaskan awal mula terbentuknya ide untuk pementasan sendratari ini. Selain untuk melestarikan budaya sendratari itu sendiri, juga ada keinginan untuk menjadikan Candi Borobudur ini ‘hidup’ di malam hari. Diharapkan dengan adanya sendratari ini, wisatawan baik domestik maupun luar negeri, akan memperoleh pengalaman baru dari kunjungan mereka ke Candi Borobudur.

Di bagian belakang buku ini, selain ada penjelasan tentang istilah-istilah yang dipakai dalam tarian-tariannya, juga ada foto-foto selama pementasan itu sendiri. Foto-fotonya cukup jelas, tapi menurut gue, akan lebih baik kalo disisipkan di bagian dua,. Jadi pembaca gak perlu bolak-balik untuk nyari penjelasan antara adegan yang ditulis dengan fotonya.

Gue membayangkan, seandainya gue bisa menyaksikan pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue pasti bakal merasa merinding. Ahhh.. jadi pengen ke Borobudur lagi.

Monday, June 27, 2011

The HERetic’s Daughter

The HERetic’s Daughter
Kathleen Kent @2008
Leinovar Bahfein (Terj.)
Matahati, Mei 2011
282 hal.

Berkisah tentang kehidupan di Inggris sekitar tahun 1690 – 1692, masa-masa yang penuh dengan kemunafikan. Keluarga Carrier pindah dari Billerica ke Andover. Tapi kedatangan mereka tidak disambut ramah oleh para penduduk. Mereka dianggap membawa wabah penyakit cacar yang kala itu adalah penyakit yang mematikan. Banyak penduduk terkena cacar, akhirnya meninggal, termasuk nenek Sarah Carrier. Sebab lainnya adalah, karena ibu Sarah, Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, penganut aliran sesat, apalagi Martha tidak akan mau datang ke gereja seandainya tidak dipaksa oleh ibunya.

Banyak cerita-cerita miring seputar keluarga Carrier, tentang ayahnya yang mantan pengawal Kerajaan Inggris, tentang perebutan tanah keluarga, belum lagi gosip-gosip yang sering menyudutkan mereka. Jika salah satu tetangga mengalami musibah – dan kebetulan beberapa hari sebelumnya bertengkar dengan Martha, maka mereka akan menuduh semua itu disebabkan sihir Martha Carrier.

Di masa itu, banyak orang-orang tak bersalah dijebloskan ke penjara karena dianggap sebagai penyihir, tak hanya orang tua, tapi anak-anak dari mereka yang tertuduh pun diseret masuk ke penjara. Tujuannya, jika anak-anak itu dimasukkan ke penjara juga, maka orang tua mereka akan mengakui tindakan jahat mereka, bahwa mereka memang penganut aliran sesat.

Di masa itu penganut agama Kristen terpecah dua. Ada yang mengaku sebagai penganut Kristen yang taat, Di setiap khotbahnya, sang Pendeta selalu menekankan akan siksa neraka bagi mereka yang menyimpang. Dan di sisi lain, penganut ajaran seperti Martha Carrier punya pendapat sendiri. Ia teguh pada pendiriannya.

Pada akhirnya, Martha Carrier pun masuk penjara. Tapi, ia dengan teguh tetap tidak mau mengaku bersalah. Satu per satu anaknya pun diseret masuk ke penjara. Sarah yang sering bersimpangan dengan ibunya pelan-pelan mengerti akan keteguhan sikap ibunya. Sama seperti yang lain, Martha Carrier hanya diminta mengaku, tapi tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Orang-orang yang katanya penganut Kristen yang taat, malah saling bergunjing, menyebar berita bohong. Seorang istri kepala polisi tega-teganya merampas baju para tahanan, sedikit memaksa mereka untuk menukar pakaian mereka demi makanan yang lebih layak di dalam penjara.

Awalnya gue agak bingung membaca buku ini. Latar belakang sejarahnya menarik, tentang penyihir Salem – mungkin gue beberapa kali membaca buku dengan latar belakang yang sama. Tapi tetap pengetahuan gue akan hal ini masih minim. Di buku ini juga terlalu sedikit pengantar biar pembaca sedikit jelas dengan sejarah yang melatari buku ini. Hmmm.. jadi inget The Virgin Blue - Tracy Chevallier.

Cerita ini sendiri, di bagian depan pun agak lamban. Tadinya gue berharap ada tanda-tanda kenapa Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, atau ada rahasia yang dibagi oleh nenek Sarah. Hanya ada satu buku harian Martha Carrier yang tadi gue bikin bakal menyingkap semua, tapi ternyata sampai akhir pun, gak dikasih tau apa isi buku itu.

Tapi, makin ke belakang, isi buku ini makin bikin miris, bikin gregetan dan membuat gue berpikir, ternyata orang-orang jaman dulu juga udah pada gila. Gak peduli jenis kelamin, bahkan perempuan tua, lagi hamil, anak-anak yang gak jelas apakah mereka bersalah atau gak, asal diisukan sebagai penganut aliran sesat langsung main tangkap dan berakhir di tiang gantungan.

Wednesday, June 22, 2011

Saga no Gabai Bachan

Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Yoshichi Shimada @ 2001, 2004
Indah S. Pratidina (Terj.)
Kansha Books (a division of Mahda Books)
Cet. I, April 2011
245 hal.

Di usianya yang baru sembilan tahun, Akihiro terpaksa berpisah dengan ibunya. Ia terpaksa dititipkan ke rumah nenek Osano di Saga. Sebagai orang tua tunggal, ibu Akihiro harus bekerja keras. Ayah Akihiro meninggal karena dampak bom Hiroshima.

Di Saga, awalnya Akihiro membayangkan kehidupan yang tak jauh berbeda dari kehidupan di Hiroshima. Tapi, begitu menginjakkan kaki di rumah Nenek Osano, Akihiro langsung dihadapkan pada sosok seorang nenek yang ‘ajaib’ – mungkin aneh pada awalnya. Bukannya mendapat sambutan hangat, Akihiro malah langsung disuruh menanak nasi di tungku.

Kehidupan yang begitu miskin, membuat Nenek Osano yang bekerja sebagai pembersih di sebuah sekolah ini jadi sangat ‘kreatif’. Ia mempunyai ‘supermarket’ alam, setiap berjalan selalu mengikat tali yang diujungnya ada sebuah magnet. Dan apa yang ia dapat dari dua sumber tersebut bisa jadi makanan yang bergizi dan mendapatkan uang tambahan.

Akihiro pun menjadi anak yang tegar dan tangguh berkat didikan Nenek Osana. Di saat anak-anak lain berolahraga dengan peralatan yang mahal, Akihiro memilih berlari, hasilnya ia jadi pelari yang hebat dan selalu jadi juara dalam Festival Olahraga di Saga.

Jika ia ingin sesuatu, Akihiro mencari cara sampai akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemiskinan tidak lantas membuat Akihiro bersedih, malah akhirnya ia sangat berterima kasih atas apa yang sudah diajarkan oleh Nenek Osano.


Banyak akhirnya yang simpati dengan Akihiro dan Nenek Osana. Ada saja kebaikan yang mereka terima, tapi mereka juga tak lupa memberi. Bahkan Nenek Osana juga berharap perampok yang akan masuk rumah mereka justru kasihan dan malah memberi! Pesan Nenek Osano, jika mau berbuat kebaikan, orang yang kita bantu tidak perlu tahu akan kebaikan kita.

Banyak kata-kata bijak yang tidak menggurui, tapi malah bisa membuat kita tertawa. Salah satunya adalah

“Ada dua jalan buat orang miskin. miskin muram dan miskin ceria. kita ini miskin ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. tetaplah percaya diri.”
Membaca cerita seperti ini, mau gak mau gue inget sama cerita ‘Oshin’. Oshin digambarkan sebagai anak dari keluarga yang sangat miskin, hingga ia terpaksa bekerja keras, terkadang ditindas tapi tetap tegar. Tapi di buku ini, gue gak melihat yang namanya ‘air mata’ tumpah ruah meskipun hidup dalam kemiskinan. Bukan kemiskinan yang ‘diumbar’, justru ada banyak tawa, malah gue membayangkan Nenek Osano sebagai nenek yang jail. Hehehe…. Kata Nenek Osano, jadi orang kaya itu justru sibuk – sibuk bikin kimono, sibuk makan sushi…

Akihiro Tokunaga – kini lebih dikenal dengan nama Yoshichi Shimada – adalah seorang pelawak yang terkenal di Jepang. Kisah ini terinspirasi dari kehidupan masa kecilnya bersama Nenek Osano di Jepang. Ia ingin menularkan semangat Nenek Osano kepada orang banyak.

Gue terharu membaca buku ini… bener deh. Buku yang sederhana, tapi banyak banget yang bisa didapet dari buku ini. Kesannya klise banget ya… tapi coba deh.. baca buku ini. Dan, gue rasa kalo pun gue baca bolak-balik gue gak akan bosen dan tetap terkesan, kagum sama Nenek Hebat ini.

Jangan lewatkan juga “Tips Hidup yang Menyenangkan ala Nenek Osano” yang disisipkan di akhir buku ini.

Monday, June 13, 2011

Dear John

Dear John
Nicholas Sparks
Barokah Ruziati (Terj.)
GPU – Juni 2010
392 hal.

Hidup berdua dengan ayahnya, tidak menjadikan John Thryee dekat dengan ayahnya. Hubungan mereka berdua cenderung aneh, masing-masing hidup dalam diam dan sibuk sendiri. Ayahnya adalah petugas pengantar barang, yang seperti punya kehidupan dan rutinitas sendiri. Setiap hari, mudah ditebak apa saja yang akan ia lakukan, bahkan perkataan yang akan diucapkan. Mulai dari sarapan sampai makan malam. Satu-satunya yang membuatnya lebih hidup ketika ia berkutat dengan koleksi koin-koinnya.

John tak mengenal ibunya, dan tak pernah bertanya tentang keberadaan ibunya itu. Ia juga lebih memilih diam, mengikuti rutinitas ayahnya. Mungkin, saat kecil, John masih betah mendengar dan ikut ayahnya mencari koin-koin baru. Tapi, beranjak dewasa, John mulai ‘gerah’. Ia pun ‘melarikan diri’ dan masuk sekolah angkatan darat, hingga kemudian ditugaskan di Jerman. Saat itu, satu-satunya yang dirasa 'pas', adalah masuk angkatan darat, karena John gak tau lagi harus gimana.

Saat cuti,dan kembali ke kampong halamannya John berkenalan dengan seorang gadis, bernama Savannah. Perkenalan ini terjadi karena John berhasil mendapatkan kembali tas Savannah yang jatuh ke laut. Setelah itu, ya, mudah ditebaklah apa yang terjadi. Meskipun kebersamaan mereka singkat, dan John harus kembali bertugas, janji-janji manis pun dibuat.

Namun, mimpi memang gak selalu jadi kenyataan, janji juga gak mudah untuk dipenuhi. Kejadian 11 September 2001, memudarkan semua mimpi indah itu. Jiwa patriotisme membuat John memperpanjang masa tugasnya. Komunikasi mulai tersendat-sendat, sampai akhirnya John dan Savanah berpisah.

Salah satu cerita romance yang mengharu biru, tapi gak membuat gue terkesan. Yang malah lebih menarik minat gue adalah cerita tentang hubungan John dengan ayahnya, dan koin-koinnya itu. Gue menangkap sosok pria tua yang kesepian, dan seorang anak yang bingung dengan sikap ayahnya yang selalu datar. Dan sayangnya, John gak mau berusaha lebih jauh untuk mengenal ayahnya, sampai Savannah datang.Dari beberapa cerita Nicholas Sparks yang pernah gue baca, kenapa selalu ada tokohnya yang sakit?

Friday, June 10, 2011

Morality for Beautiful Girls

Morality for Beautiful Girls
Alexander McCall Smith @ 2001
Abacus - 2006
246 hal.

Rasanya udah lama banget sejak terakhir gue membaca seri kedua dari The No. 1 Ladies’ Detective Agency: Tears of the Giraffe. Dan sekarang, waktu membaca kisah ketiga dari Mma Ramotswe ini, gue masih tersenyum-senyum simpul dengan kepolosan, kesabaran dan kejelian Mma Ramotswe.

Jangan bayangkan ada misteri yang rumit di sini, seperti pembunuhan yang berdarah-darah. Mma Ramotswe lebih banyak menyelesaikan masalah yang lebih berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam bukunya kali ini, Mma Ramotswe berusaha membantu orang yang punya kedudukan penting di pemerintahan, yang memiliki kecurigaan bahwa istri adiknya berniat meracuni adiknya dan menguasai harta untuk dirinya sendiri.

Lalu, dalam kehidupan pribadinya, Mma Ramotswe juga harus mencari jawaban atas perubahan sikap tunangannya, Mr. J.L.B. Matekoni, si pemilik bengkel Tlokweng Speedy Motors

Untung ada sekretaris, merangkap asisten pribadinya yang bisa dihandalkan. Selain menjadi asisten manajer di Tlokweng Speed Motors, Mma Makutsi tak disangka-sangka mampu memecahkan kerumitan dalam pemilihan Miss Glamorous Botswana. Mma Makutsi harus menyelidiki dari keempat kandidat, mana di antara mereka yang paling pantas menyandang gelar tersebut. Keberhasilan Mma Makutsi ini juga menyelamatkan kondisi keuangan The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang nyaris selalu bersaldo negatif.

Melihat dari judulnya, berulang kali di buku ini dibahas, perilaku gadis-gadis muda dan cantik yang lebih cenderung menggunakan kecantikan mereka dibanding otak mereka. Berbeda dengan Mma Makutsi, si pemegang nilai tinggi di kampusnya, yang wajahnya memang bisa dibilang tidak cantik, tapi berotak encer. Namun nyatanya, para pria lebih memilih gadis cantik dibanding gadis pintar.

Cerita ‘detektif’ yang begitu tenang. Semua diselesaikan dengan cara yang sederhana. Tanpa penyelidikan yang begitu rumit, dengan mengandalkan hati, semua jadi jelas.

Monday, June 06, 2011

The Boy who Ate Stars

The Boy who Ate Stars (Anak Lelaki yang Menelan Bintang-Bintang)
Kochka @ 2002
Rahmani Astuti (Terj.)
GPU – Agustus 2008
104 hal.

Lucy yang baru saja pindah ke apartemen baru bertekad untuk mengenal seluruh penghuni di apartemen itu. Dia akan menempelkan bendera di kamarnya untuk asal setiap tetangga barunya. Tapi, sebuah kejadian di malam hari, memporak-porandakan tekad Lucy. Suara berisik yang berasal tetangga di lantai atas, membawa Lucy pada sebuah petualangan baru.

Sikap misterius orang tuanya yang justru membuat Lucy ingin mengenal siapa tetangga di lantai atas itu. Dalam perjalanan membeli roti, Lucy sengaja mampir dulu. Yang ditemuinya ternyata sebuah hal yang luar biasa. Atau tepatnya anak yang luar biasa bernama Matthew.

Matthew adalah bocah laki-laki yang mengidap austis. Dari Matthew, Lucy jadi tau ada dunia lain yang selama ini luput dari pandangannya. Matthew membuat rasa ingin tau Lucy jadi begitu besar. Ia melakukan petualangan bersama temannya Theo dan seekor anjing bernama Francois. Bagi Lucy mungkin perjalanan singkat adalah hal kecil, tapi bagi Matthew dan Francois, itu adalah petualangan besar dan menegangkan.

Novel tipis ini menjadi teman gue menghabiskan weekend kemarin. Seperti biasa, ‘kehabisan’ buku baru. Gue pandang-pandang lemari buku gue, tiba-tiba gue menemukan buku ini terselip, dan ooopsss.. ternyata belum pernah gue baca.

Buku tipis ini mengajak kita untuk mengenal arti persahabatan, simple-nya dunia anak-anak dan menyadarkan orang tua untuk ‘mau’ menjawab pertanyaan anak-anak dengan sabarrrrr… hehehehe…

Friday, June 03, 2011

For Sale/Swap


Ayo teman-teman.. bantuin gue bersihin lemari buku gue, biar bisa diisi sama yang baru lagi... hehehe... silahkan tinggalin message atau email langsung ke ferina.permatasari@hbtlaw.com

ma kasih.... ini dia daftarnya:

Buku Bahasa Indonesia (asli atau terjemahan):

1. Bright Angle Time – Martha McPhee (Rp. 25,000)
2. My Life as a Fake – Peter Carey (Rp. 25,000)
3. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (Rp. 20,000)
4. One for my Baby – Tony Parsons (Rp. 30,000)
5. Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
6. The Heart is a Lonely Hunter – Carson McCullers (Rp. 25,000)
7. The Missing Rose – Serdar Ozkan (Rp. 25,000)
8. Night over Water – Ken Follett (Rp. 25,000)
9. Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 15,000)
10. How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
11. The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
12. When the wind blows (Ketika Angin Bertiup) – James Patterson (Rp. 25,000)
13. Sphere (Bola Asing) – Michael Crichton (Rp. 25,000)
14. Annie’s Baby – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
15. Go Ask Alice – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
16. Di Bawah Bayang-Bayang Perang – Naguib Mahfoudz (Rp. 20,000)
17. Sarabande – Bre Redana (Rp. 20,000)
18. Surau Tercinta – Sutirman Eka Ardhana (Rp. 20,000)
19. Sebelas Menit (Eleven Minutes) – Paulo Coelho (Rp. 30,000)
20. Gadis Icarus (The Icarus Girl) - Helen Oyeyemi (Rp. 25,000)
21. Sky is Falling – Sidney Sheldon (Rp. 25,000)
22. Jampi-Jampi Varaiya – Clara Ng (Rp. 20,000)
23. Kisah Air Mata (The Teardrop Story Woman) – Catherine Lim (Rp. 25,000)
24. Winter and Night – S.J. Rozan (Rp. 25,000)
25. The Tenth Circle (Lingkaran Kesepuluh) – Jodie Picoult (Rp. 25,000)
26. Jadie: Tangis Tanpa Suara – Torey Heyden (Rp. 25,000)
27. Rispondimi (Jawablah Aku) – Susanna Tamaro (Rp. 25,000)
28. Kisah Air Mata Jerapah (Tears of the Giraffe) – Alexander McCall Smith (Rp. 20,000)


Chicklit Terjemahan – All Rp. 25,000

1. Sammy’s Hill (Dunia Sammy) – Kristin Gore
2. Does my Bum Look Big in this? (Besar itu Indah) – Arebella Weir
3. For Better For Worse (Dalam Suka dan Duka) – Carole Matthews
4. Straight Talking (Apa Adanya Saja) – Jane Green
5. Mr. Maybe – Jane Green
6. Reality TV Bites (Reality Show Gila) – Share Bolks
7. Spellbound (Tersihir) – Jane Green
8. Dress Rehearsal (Ramalan Kue Pengantin) – Jennifer O’Connell
9. Asking for Trouble (Cari Gara-gara) – Elizabeth Young
10. Bad Heir Day (Aku dan si Penyair Palsu) – Wendy Holden
11. Perfect Stranger (Tak Kenal Maka Tak Sayang) – Robyn Sisman
12. Playing James (Pura-pura Jadi Detektif) – Sarah Mason
13. Wonderlust (Doyan Jalan) – Chris Dyer
14. Speechless (Buket Pengantin Ketiga Belas) – Yvonne Collins & Cardy Rideout
15. Cause Celeb (Relawan Elite) – Helen Fielding
16. Fashionista – Lynn Messina
17. Faking It (Jangan Pura-pura) – Jennifer Cruise
18. High Society – Sarah Mason
19. Don’t Try This at Home (Jangan Coba-coba) – Katie Pearson

Buku Bahasa Inggris:

1. Debutante Divorcee – Plum Skykes (Rp. 40,000) – hard cover
2. Breaking Her Fall – Stephen Goodwin (Rp. 35,000)
3. The Distant Land of my Father – Bo Caldwell (Rp. 35,000)
4. Special Relationship – Robyn Sisman (Rp. 35,000)
5. Man and Boy – Tony Parsons (Rp. 35,000)
6. Man and Wife – Tony Parsons (Rp. 35,000)
7. Bridget Jones: The Edge of the Reason – Helen Fielding (Rp. 35,000)
8. Pure Fiction – Julie Highmore (Rp. 35,000)
9. The Last Templar – Raymond Khoury (Rp. 35,000)
10. The Dogs of Babel – Carolyn Parkhurts (Rp. 35,000)
11. The Other side of the story – Marian Keyes (Rp. 35,000)
12. Babyville - Jane Green (Rp.35,000)
13. The Rise and Fall of a Yummy Mummy - Polly Williams (Rp. 35,000)
14. Everyone Worth Knowing - Lauren Weisberger (Rp.35,000)
15. Bergdorf Blondes - Plum Skykes (Rp.35,000)
16. Tall Poppies - Louis Bagshawe (Rp. 35,000)
17. Jane Eyre – Charlotte Bronte (Rp. 45,000)
18. A Series of Unfortunate Events: The Bad Beginning - Lemony Snicket (Rp. 35,000) - hard cover
19. A Series of Unfortunate Events: Reptile Room - Lemony Snicket (Rp. 35,000) - hard cover)
20. The Pilot’s Wife – Anita Shreve (Rp. 30,000)
21. My Legendary Girlfriend – Mike Gayle (Rp. 35,000)
22. Citizen Girl – Nicola Kraus & Emma McLaughin (Rp. 35,000)
23. The Runaway Jury – John Grisham (Rp. 35,000)

Wednesday, June 01, 2011

Pesan dari Sambu

Pesan dari Sambu
Tasmi P.S. @ 2009
Hikmah – Cet. I, Maret 2010
349 hal

Pulau Sambu? Ada yang pernah denger nama pulau ini? Jujur, gue baru kali ini tau di Indonesia, atau tepatnya di Kepulauan Riau, ada yang namanya Pulau Sambu. Ups.. ma’afkan minimnya pengetahuan geografi gue ini.

Di pulau inilah, Mimi tinggal, bersama orang tua dan adik-adiknya yang tiap 2 tahun sekali selalu bertambah. Mimi sebenarnya ada ketiga, tapi kedua kakaknya sekolah di pulau Jawa, jadilah ia mendapat tugas untuk jadi ‘kakak tertua’, mengasuh adik-adiknya. Mimi berparas cukup cantik, banyak teman-teman sekolahnya yang naksir dengan Mimi, bahkan guru-guru laki-laki juga.

Ayah Mimi bekerja sebagai kepala bengkel di PT Shell. Tinggal di pulau kecil, tidak berarti kehidupan mereka terbelakang. Justru semua di sana serba mudah. Ayah Mimi digaji pakai dollar Singapura. Mau ikan, tinggal mancing, minyak dan air habis, tinggal lapor. Main-main bisa di laut. Mau jalan-jalan, tinggal nyeberang pakai ferry ke Singapura. Asyik kan? Potong rambut aja di Singapura. Keamanan terjamin. Teman juga banyak. Uang di pulau ini justru gak laku, makanya Mak-nya Mimi lebih senang menyimpan emas.

Tapi, justru mereka kehilangan akar budaya mereka. Seperti Mimi, sebenarnya ia keturunan Jawa. Tapi, ketika diajak ‘perlop’ ke Jawa, justru ia dan adik-adiknya dianggap aneh. Orang Jawa tapi gak bisa bahasa Jawa. Malah lebih jago bahasa Melayu, lebih kenal tari Serampang Dua Belas, dibanding tari Serimpi.

Meskipun sayang dengan adik-adiknya, Mimi kerap lelah karena harus selalu mengurus dan bertanggung jawab atas adik-adiknya itu. Mau pergi belajar nari, adik-adiknya merengek ingin ikut, mau nonton ‘wayang gambar’ dengan teman-temannya, meskipun sudah pakai berbagai macam jurus, tetap saja adik-adiknya berhasil menemukan keberadaan Mimi. Awalnya Mimi berpikir, mungkin dengan menikah, ia akan terbebas dari tanggung jawab ini.

Di usia yang sangat muda, Mimi pun akhirnya menikah dengan seorang prajurit dengan usia yang beda 6 tahun. Tapi, Mimi tak boleh sekolah lagi, harus menyesuaikan diri dengan predikat baru sebagai istri prajurit dan ikut ke mana suami pergi.

Menarik? Buat gue, awalnya memang menarik. Banyak kata-kata campur aduk, antara bahasa melayu, bahasa Inggris. Untung catatan kakinya cukup jelas, jadi kita gak perlu menebak-nebak apa arti kata tersebut.

Tapi memang gue suka berharap terlalu banyak di awal. Buku ini jadi rada nanggung buat gue. Tadinya gue pikir, bakalan ada cerita dengan porsi yang lebih banyak tentang gimana Mimi harus beradaptasi dengan saudara-saudaranya di Jawa, atau tentang kehidupan Mimi setelah menikah.

Monday, May 30, 2011

Ranah 3 Warna

Ranah 3 Warna
A. Fuadi
GPU – Cetakan I, Januari 2011
474 hal

Pendidikan di Pondok Madani telah selesai. Alif kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Cita-citanya kali ini adalah lulus UMPTN. Tapi sayang, banyak suara-suara sumbang yang membuat berkecil hati. Lulusan madrasah, mana bisa tembus UMPTN. Belum tentu juga lulus ujian persamaan SMA. Tapi Alif, semakin dikecilkan, semakin ia bertekad untuk membuktikan bahwa perkataan orang-orang itu salah. Terutama lagi, ia ingin membuktikan kepada Randai, bahwa ia juga bisa masuk ke perguruan tinggi dan bahkan mungkin ke Amerika… seperti cita-citanya selama ini.

Memang bukan ITB yang selama ini ia inginkan, tapi tetap Alif akhirnya membuktikan, bahwa anak pesantren juga bisa masuk perguruan tinggi negeri.

Perjuangan ternyata tidak hanya sampai di situ. Di Bandung, jauh dari orang tua, kondisi keuangan pas-pasan, membuat Alif harus memutar otak bagaimana bisa bertahan hidup. Ia mencoba bekerja sembari kuliah. Membuang rasa malu, ia jadi pedagang keliling, menjadi guru privat sampai akhirnya jatuh sakit.

Beruntung ada kesempatan lain, yang membuat Alif bangkit. Meskipun sempat membuat persahabatannya dengan Randai sedikit rusak, Alif pelan-pelan jadi mandiri dan semakin bertekad untuk menggapai cita-citanya.

Usaha Alif yang kocak, sok tau dan maju terus pantang mundur, berbuah manis. Ups… kecuali untuk urusan cinta… hehehe…

Meskipun, ada yang bilang ending-nya begitu mudah ditebak, ceritanya klise, tapi buat gue ini masih jadi salah satu favorit gue. Semua ditulis begitu detail dan rapi. Penuh dengan usaha yang jatuh bangun, beberapa juga ada yang membuat gue terharu. Iri juga karena Alif akhirnya bisa sampai ke Amerika. (hiks… gue jadi menyesal waktu kuliah gak pernah usaha lebih keras… ups.. cur-col). Tapi, gpp… buku ini bisa jadi pemompa semangat baru… biar gak gampang putus asa, biar gak gampang nyerah… biar terus usaha untuk cari jalan keluar biarpun rasanya semua pintu itu tertutup…

Prophecy of The Sisters

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Belum cukup duka yang disebabkan oleh ayahnya yang meninggal dengan cara yang misterius, Lia Milthrope harus menghadapi serangkaian kejadian aneh lainnya. Dimulai dengan munculnya tanda aneh di pergelangan tangan, lalu sikap saudari kembarnya, Alice, yang juga aneh, lalu ditemukannya sebuah buku misterius yang hanya berisi satu halaman saja dan letaknya tersembunyi.

Tapi dari buku itu, Lia mengetahui sebuah rahasia. Rahasia ini sudah ada semenjak jaman ibu, nenek, nenek buyut – intinya, inilah takdir yang diturunkan kepada setiap anak kembar perempuan, yang artinya harus ia dan Alice terima. Bahwa kematian ibu dan ayahnya yang misterius juga termasuk dalam rangkaian takdir itu. Bahwa Lia dan Alice harus berada di sisi yang berseberangan dan tak bisa menjadi kawan dalam hal ini. – sebagai seorang Garda dan Gerbang. Lia sempat emosi berat… karena kenapa dia baru tahu tentang rahasia ini, kenapa seolah Alice lebih siap dan selangkah lebih maju… untuk gadis berusia 16 tahun, tentunya ini bukan beban yang enteng…

Ternyata, bukan hanya Lia yang penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam Alice juga mencari tahu tentang takdir yang harus mereka berdua jalani. Meskipun apa yang Lia dan Alice inginkan bertolak belakang dengan yang seharusnya mereka jalani.

Lia berkenalan dengan Sonia, seorang cenayang dan Luisa, teman satu sekolahnya. Mereka berdua memiliki tanda yang mirip dengan yang Lia miliki. Dengan bimbingan Sonia, Lia mengembara ke Dunia Lain, untuk bertemu dengan arwah ayah dan ibunya, mencari kunci-kunci yang disebutkan di dalam buku rahasia itu.

Tujuannya adalah satu, jangan sampai iblis masuk ke dunia dan menguasai dunia, dan jangan sampai Alice yang lebih dulu mendapatkan kunci itu Karena Lia-lah yang nantinya akan menentukan, apakah Gerbang itu akan dibuka atau akan tetap tertutup.

Awalnya, banyak yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa ibu mereka mengurung diri di dalam Kamar Gelap? Apa penyebab misterius kematian ayah mereka? Apa hubungan Sonia dan Luisa dalam masalah ini?

Di awal, beberapa ‘kenyataan’ rada menjebak. Seolah kita udah bisa tahu pasti posisi Lia dan Alice. Siapa yang jadi Garda, siapa yang jadi Gerbang… tapi ternyata.. masih ada rahasia lagi yang memutarbalikkan kenyataan yang ada. Tenang… jawaban pelan-pelan akan ditemukan… seiring dengan cerita. Baca buku ini, tegang campur penasaran.

Dan… arggghhhh…. bersambung ternyata…. Yah… dari awal sih gue udah curiga ini bakalan bersambung. Artinya gue harus bersabar sampai sambungannya terbit.

Wednesday, May 25, 2011

'Bersih-bersih' Lagi... :)

Hi..hi.. mau 'bersih-bersih' lemari buku lagi. Kalau ada yang berminat, silahkan email ke ferina.permatasari@hbtlaw.com. Mau barter, juga boleh koq :).
Ma kasih....

1. Sihir Cinta – Miranda (Rp. 20,000)
2. Moonlight Waltz – Fenny Wong (Rp. 20,000)
3. Beauty Case – Icha Rahmanti (Rp. 25,000)
4. Prety Prita – Andrei Aksana (Rp. 25,000)
5. The Ghost Writer (Penulis Hantu) – John Harwood (Rp. 25,000)
6. Merpati di Trafalgar Square – Weka Gunawan (Rp. 15,000)
7. Bright Angle Time – Martha McPhee (Rp. 25,000)
8. The Men’s Guide to the Women’s Bathroom – Jo Barrett (Rp. 30,000)
9. Tarothalia – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
10. My Life as a Fake – Peter Carey (Rp. 25,000)
11. True History of the Kelly Gang – Peter Carey (Rp. 30,000)
12. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (Rp. 20,000)
13. Maya – Jostein Gaarder (Rp. 30,000)
14. The Lovely Bones (Tulang-tulang yang Cantik) – Alice Sebold (Rp. 25,000)
15. Marriage Most Scandalous – Johanna Lindsey (Rp. 30,000)
16. Summer in Seoul – Ilana Tan (Rp. 15,000)
17. One for my Baby – Tony Parsons (Rp. 30,000)
18. Jodoh Monica – Albertheine Endah (Rp. 25,000)
19. Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
20. My Salwa My Palestine – Ibrahim Fawal (Rp. 30,000)
21. Novel Tanpa Nama - Duong Thu (Rp. 25,000)
22. The Heart is a Lonely Hunter – Carson McCullers (Rp. 25,000)
23. Cinta Andromeda – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
24. The Missing Rose – Serdar Ozkan (Rp. 25,000)
25. Vienna Blood – Frank Tallis (Rp. 25,000)
26. A Death in Vienna – Frank Tallis (Rp. 25,000)
27. Heartblock – Okke ‘sepatumerah’ (Rp. 20,000)
28. Mendamba – Aditia Yudis (Rp. 20,000)
29. Koq Putusin Gue? – Ninit Yunita (Rp. 20,000)
30. When a Man Lost a Woman – Ita Sembiring (Rp. 20,000)
31. Night over Water – Ken Follett (Rp. 25,000)
32. Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 15,000)
33. Lucia, Lucia – Adriana Trigiani (Rp.25,000)
34. Forgiven – Morra Quarto (Rp. 20,000)
35. Rindu – Sefryana Khairil (Rp. 20,000)
36. Coming Home – Sefyrana Khairil (Rp. 20,000)
37. Goloso Geloso – Tanti Susilawati (Rp. 20,000)
38. Ciao Italia! – Gama Harjono (Rp. 20,000) – non fiksi
39. Girl with the Pearl Earings (Gadis dengan Anting-Anting Mutiara) – Tracy Chevalier (Rp. 25,000)
40. How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
41. The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
42. When the wind blows (Ketika Angin Bertiup) – James Patterson (Rp. 25,000)
43. Perfume: The Story of a Murderer – Patrick Suskind (Rp. 25,000)
44. Sphre (Bola Asing) – Michael Crichton (Rp. 25,000)
45. The Remains of the Day (Puing-Puing Kehidupan) – Kazuo Ishiguro (Rp. 25,000)
46. Annie’s Baby – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
47. Go Ask Alice – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
48. Di Bawah Bayang-Bayang Perang – Naguib Mahfoudz (Rp. 20,000)
49. Sarabande – Bre Redana (Rp. 20,000)
50. Seribu Burung Bangau – Yasunari Kawabata (Rp. 20,000)
51. Tiada Tempat di Surga Untuknya – Nawal el Saadawi (Rp. 20,000)
52. Surau Tercinta – Sutirman Eka Ardhana (Rp. 20,000)

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer & Annie Barrows @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

Awal gue membaca judulnya, gue rada ‘alergi’ karena ada kata-kata ‘Literary’-nya. Takutnya, bahasa terlalu ‘tinggi’ sampe gue gak ngerti isi ceritany. Tapi, dari hasil jalan-jalan ke beberapa blog, koq tampaknya menariknya? Beruntung ada yang mau barter dengan buku gue, jadi gue bisa membaca buku ini.

Alkisah, Juliet Ashton, seorang penulis yang terkenal dengan kolomnya ‘Izzy’. Dia ini lagi cari ide untuk buku terbarunya. Ketika itu masa-masa setelah perang dunia kedua. Apartemen Juliet sendiri hancur karena serangan bom.

Secara kebetulan, Juliet menerima surat dari Dawsey Adams, seorang pria yang tinggal di Guernsey Island. Pak Dawsey ini cerita kalau dia kebetulan membaca bukunya dulunya punya Juliet. Di buku itu ada alamat Juliet. Jadilah bersurat-suratan, cerita tentang buku-buku, sharing tentang kehidupan di Guernsey selama diduduki tentara Jerman pas Perang Dunia itu.

Dan akhirnya, gak hanya Dawsey yang surat-suratan sama Juliet. Tapi juga ada Eben, yang suka Shakespeare, Isola – yang suka bikin ‘ramuan’ sendiri, ada Amelia – yang paling tua di antara mereka. Semua jadi cerita ke Juliet. Dan dari sinilah, Juliet tau gimana kelompok baca ini bisa terbentuk dan apa hubungannya sama si Pie Kentang yang ikutan dimasukin jadi nama kelompok itu.

Lama-lama, Juliet jadi penasaran dengan Guernsey dan para sahabat barunya itu. Ide untuk buku barunya muncul dan Juliet pun akhirnya berkunjung ke Guernsey. Akhirnya, malah Juliet betah di Guernsey. Dia menemukan sahabat baru yang menyenangkan. Ada satu tokoh yang selalu disebut-sebut oleh teman-temannya di Guernsey, yang sayangnya, bernasib tragis di tangan tentara Jerman. Elizabeth McKenna - namanya, selalu jadi sahabat semua orang.

Buku ini ditulis dalam bentuk surat-menyurat antara Juliet, teman-teman di Guernsey, dengan editor-nya dan dengan sahabat Juliet di London. Mungkin di awal agak sedikit membingungkan, karena begitu banyak tokoh yang ‘bersliweran’ di surat-surat Juliet. Tapi, makin lama, gue jadi merasa ikut ‘bersahabat’ dengan mereka.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang