Wednesday, July 20, 2011

Kafka on Shore

Kafka on Shore
Haruki Murakami @ 2005
Vintage Books - 2005
489 hal.

Beberapa orang yang gue ‘temui’ dari hasil blogwalking, yang membaca karya-karya Haruki Murakami bilang, “He’s a jenius.” Karya-karyanya ‘mengagumkan’. Wah… tampaknya seorang penulis yang karyanya ‘wajib’ dibaca.

Kafka on Shore, rasanya (lagi-lagi) udah ada lama banget di lemari buku gue, tapi, sekian lama juga hanya jadi pemanis di sana. Entah kenapa, baru-baru ini, begitu membaca halaman pertama, gue tergerak untuk melanjutkan ke halaman-halaman berikutnya. Buku pertama Haruki Murakami yang gue baca adalah Norwegian Wood, tapi dengan sukses, gak gue selesaikan karena gak nyambung buat gue.

Ada dua kisah di dalam buku ini. Sejalan, tapi ada di tempat yang berbeda.

Pertama, tentang seorang anak laki-laki bernama Kafka Tamura. Tepat ketika ia berulang tahun ke 15, ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Tujuannya mencari ibu dan kakak perempuannya yang pergi ketika ia masih kecil. Hubungan Kafka dengan ayahnya, Koichi Tamura, tidaklah harmonis. Malah, sang ayah mengutuk Kafka, bahwa suatu hari ia akan membunuh ayahnya dan meniduri ibu serta kakak perempuannya sendiri. Hmmm.. kutukan yang mengerikan.

Setelah mengambil uang dari laci meja kerja ayahnya dan sebuah pisau lipat, mengemasi pakaian dan kebutuhan lainnya, Kafka pun pergi. Tak ada tujuan pasti, Kafka sempat bertemu dengan seorang gadis bernama Sakura, yang membantunya ketika Kafka tiba-tiba terbangun di sebuah taman dengan baju berlumuran darah, yang ia sendiri tidak tahu darah siapa itu.

Sampai akhirnya Kafka sampai di sebuah perpustakaan pribadi, Komura Library. Ia pun berkenalan dengan asisten di perpustakaan itu bernama Oshima. Oshima ini lah yang pada akhirnya banyak membantu Kafka, seperti memberi tempat tinggal dan pekerjaan.

Di Komura Library ini pulalah, Kafka bertemu dengan Miss Saeki, pemilik perpustakaan ini. Dan menjalin hubungan singkat dengan Miss Saeki. Perbedaan usia tidak menghalangi hubungan mereka itu.

Tokoh utama yang kedua, adalah Nakata. Di era Perang Dunia II, Nakata terkena penyakit ‘aneh’. Saat berjalan-jalan di hutan dengan rombongan sekolah, tiba-tiba saja semua murid pingsan, tanpa diketahui penyebabnya. Tapi, sebagian besar murid-murid itu sembuh, kecuali Nakata. Kejadian itu mengakibatkan hilangnya kemampuan Nakata dalam membaca dan menulis, tapi ia punya keahlian lain, yaitu berbicara dengan kucing. Ia hidup dari subsidi pemerintah dan hasil dari membawa pulang kucing-kucing yang hilang.

Nakata juga melakukan perjalanan jauh setelah ia membunuh seorang pria yang ia yakini bernama Johnie Walker. Ditemani seorang pengemudi truk bernama Hoshino, yang dengan senang hati meladeni apa pun yang dikatakan Nakata.

Di saat yang sama, ayah Kafka juga ditemukan tewas terbunuh. Sementara, saat bersama Sakura, Kafka berkesimpulan Sakura adalah kakak perempuannya, dan ketika bersama Miss Saeki, ia pun berasumsi Miss Saeki adalah sosok ibunya. Dan akhirnya, kutukan itu pun benar adanya.

Awalnya gue masih sanggup mengikuti cerita ini, makin ke belakang gue makin puyeng… Buku ini penuh dengan khayalan para tokoh, dan penuh dengan cerita ‘dewasa’. Banyak hal yang aneh di dalam buku ini, tentang Kafka yang punya ‘teman khayalan bernama Crow’ – anyway, Kafka sendiri berarti Crow, lalu, seorang Johnie Walker yang membunuh kucing demi mendapatkan umur yang lebih panjang (yakssss…), hujan ikan, dan berbagai keanehan lainnya. Kafka on Shore adalah sebuah gubahan lagu, dan juga sebuah lukisan seorang bocah kecil di pantai. Bahkan di sini pun Kafka mengambil kesimpulan bocah itu adalah dirinya, karena memang hanya satu foto yang tersisa, yaitu ketika ia dan kakaknya sedang bermain di pantai.

Well, Haruki Murakami memang jenius. Membuat cerita antara nyata, tapi koq gak nyata. Tapi, ma’af kalo gue bingung membaca cerita ini. Gue gak jenius. Gue kadang gak sanggup membaca cerita yang rumit, apalagi ‘menangkap’ pesannya. Akhir membaca buku ini, gue berpedapata kalau buku ini menggambarkan dunia yang ‘campur aduk’, antara kenyataan, mimpi, khayalan, takdir. Tentang usaha seorang manusia melarikan diri dari sesuatu, tapi ternyata tak berhasil.

Another Haruki Murakami? Mmm… nanti dulu deh… hehehe…

Tuesday, July 12, 2011

Weedflower

Weedflower (Bunga Liar)
Cynthia Kadohata @ 2005
Lanny Murtihardjana (Terj.)
GPU – Oktober 2008
272 hal.

Menjadi orang asing di suatu tempat tidaklah mudah. Apalagi berada di negara yang sedang berkonflik dengan negara asalnya. Sumiko, si gadis Jepang, selalu merasa tersisih di Amerika. Kala itu, Jepang dan Amerika berada di pihaknya yang berseberangan dalam Perang Dunia II. Di sekolah, ia tidak punya teman. Kegembiraan karena pertama kali menerima undangan ulang tahun dari teman sekelasnya yang orang Amerika, harus berakhir dengan rasa kecewa dan marah karena ia hanya ‘diperkenankan’ masuk sampai ruang tamu dan diusir secara halus oleh nyonya rumah.

Sumiko tinggal bersama dengan keluarga Pamannya, mengelola kebun bunga potong. Orang tua Sumiko meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sumiko punya adik bernama Tak-Tak. Kakek Sumiko lah yang datang ke Amerika untuk mengadu nasib. Semuanya tampak baik-baik saja – di luar dipandang aneh oleh hakujin atau orang kulit putih. Sampai kemudian, Jepang menjatuhkan bom di Pearl Harbor, menimbulkan kemarahan dan kecurigaan dari warga Amerika.

Setiap saat, ada ketakutan bahwa mereka akan ditangkap. Dan memang benar, pada akhirnya, kakek dan paman Sumiko ditahan. Sementara keluarga yang tersisa harus meninggalkan rumah mereka dan pindah ke kamp pengungsian.

Beruntung di kamp pengungsian, mereka tidak disiksa atau melakukan kerja paksa. Mereka hidup seperti biasa, hanya tempatnya yang kurang nyaman. Tempat penampungan terakhir ini berbatasan dengan daerah reservasi suku Indian. Seorang anak yang ditemui Sumiko jelas-jelas menunjukkan sikap bermusuhan pada awalnya. Karena dianggap warga Jepang itu mengambil lahan mereka, tapi malah mendapat fasilitas yang lebih nyaman. Sumiko sendiri juga berusaha membuat dirinya senyaman mungkin di tempat penampungan, seperti membuka lahan untuk menanam bunga, bermain dengan adiknya dan beberapa teman baru, bahkan akhirnya menjalin persahabatan dengan anak suku Indian.

Pada akhirnya, Sumiko terombang-ambing, antara ingin tetap penetap di tempat penampungan itu atau keluar dari sana dan memulia hidup baru. Masalahnya tak ada jaminan apakah di luar sana akan lebih baik daripada di tempat penampungan. Sementara peperangan masih terus berlanjut.

Gue membaca beberapa buku yang berlatar belakang perang dunia, tapi biasanya selalu membuat gue ngeri. Kebanyakan sih tentang kamp pengungsian Jerman yang mengerikan di mana para tahanan berakhir di kamar gas. Tapi ini berbeda, entah karena dilihat dari sudut pandang anak-anak, semua tampak ‘baik-baik’ saja meskipun ada kesedihan.

Monday, July 04, 2011

Theodore Boone: The Abduction

Theodore Boone: The Abduction (Theodore Boone: Penculikan)
John Grisham @ 2010
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Juni 2011
232 hal.

Theodore Boone atau Theo kembali disibukkan dengan sebuah peristiwa hukum yang kali ini melibatkan sahabatnya sendiri. Di buku sebelumnya, sudah diceritakan bahwa Theo bersahabat dengan April Finnmore. April ini sedang mempunyai masalah dalam keluarganya. Kedua orangtuanya dalam proses perceraian. Ayahnya jarang di rumah, lebih sibuk dengan band-nya yang tak terkenal itu, ibunya juga sering menggunakan obat-obat terlarang. April anak yang tertutup, meskipun April dan Theo kerap bercerita, tapi tetap ada rahasia yang disimpan April.

Dan pada suatu hari, di tengah malam, keluarga Boone dikagetkan dengan berita bahwa April menghilang, diduga diculik oleh orang yang ia kenal. Theo pun khawatir dengan keselamatan sahabatnya itu. Ada petunjuk bahwa April sering berkirim surat dengan sepupu jauhnya, seorang tahanan bernama Jack Lepper. Jack Leppert ini diketahui kabur dari penjara. Tuduhan utama pun tertuju pada Jack Lepper.

Theo tentu saja gak betah hanya berdiam diri menunggu hasil kerja polisi yang menurutnya lamban. Ia mengerahkan teman-temannya, membentuk regu pencarian April. Mereka berpencar mencari April dan menempelkan selebaran foto April di penjuru kota tempat mereka tinggal.

Upaya ini tak juga membuahkan hasil. Namun berkat kecanggihan teknologi, kepintaran Theo, akhirnya ia berhasil mendapatkan sebuah titik terang tentang kemungkinan di mana April berada. Lagi-lagi, Theo harus menghindar dari orang tuanya yang protective dan meminta bantuan Ike Boone, pamannya yang juga mantan pengacara itu.

Di buku ini, gue lebih bisa merasakan emosinya Theodore Boone, mungkin karena kasusnya menimpa orang yang dekat dengan dia. Theo yang jadi gak bisa konsenstrasi, susah makan dan tidur, dan terus berpikir mencari cara untuk menemukan April.

Tapi menurut gue, cerita tentang Theo yang jadi ‘pengacara’ yang berurusan dengan Pengadilan Hewan, rasanya gak perlu diulang lagi di buku kedua ini. Karena kesannya hanya sebagai ‘sisipan’. Kenapa gak diceritain Theo yang berusaha ‘memecahkan’ kasus yang lebih ‘menantang’ sedikit.

Friday, July 01, 2011

Theodore Boone: Kid Lawyer

Theodore Boone: Kid Lawyer (Theodore Boone: Pengacara Cilik)
John Grisham @ 2010
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – September 2010
272 hal.

Sebagai anak pengacara, Theodore Boone atau akrab dipanggil Theo, tahu banyak tentang seluk-beluk pengadilan. Ayahnya, Wood Boone, seorang pengacara real estate, sedangkan ibunya, Marcella Boone, adalah pengacara perceraian. Theo sering main-main ke gedung pengadilan, kenal dengan hakim, jaksa dan pekerja lain di pengadilan itu. Pengetahuannya tentang dunia hukum juga tidak main-main. Ia kerap diminta bantuan oleh teman-temannya untuk memberi ‘nasihat hukum’.

Di kota kecil tempat tinggal Theo, ada kasus yang menghebohkan yang menarik minat para penduduk. Kasus pembunuhan seorang wanita yang tertuduhnya adalah suaminya sendiri. Kasus Duffy tentu saja tidak luput dari minat Theo. Di sidang perdana, Theo dan teman-temannya memperoleh kesempatan untuk studi lapangan Kelas Pemerintahan. Berkat hubungan akrab dengan hakim, mereka bisa mengikuti sidang perdana itu. Dan, dengan akses rahasia, Theo bisa mengikuti sidang melalui notebook-nya secara real time.

Dalam kasus ini, Pete Duffy didakwa bersalah, namun tak ada bukti-bukti yang cukup, sehingga hampir dipastikan Pete Duffy akan bebas. Tapi, ternyata, ada seorang saksi. Ia melihat ada orang yang masuk ke rumah itu. Sayangnya, saksi ini tak mau keberadaannya diketahui, karena ia adalah seorang imigran, dan pekerja illegal. Jika sampai polisi tahu, maka ia akan dideportasi dan dikirim kembali ke negara asalnya.

Theo pun terlibat. Ia menyimpan terlalu banyak rahasia. Dan ia sudah berjanji untuk tidak membocorkan identitas si saksi kepada siapa pun. Tapi, seandainya ia terus menyimpan rahasia ini, kebenaran tak akan terungkap dan pembunuh berdarah dingin itu akan berkeliaran dengan bebas.

Meskipun tidak setegang dan seseru novel John Grisham yang lain, novel Theodore Boone ini tetap enak untuk diikuti. Tetap ada bagian-bagian yang bikin penasaran, seperti tokoh Omar Cheepe yang misterius, yang tidak berkata-kata, tapi kehadirannya membuat Theo tidak nyaman.

Untuk tokoh Theo sendiri, rasanya adalah anak yang tahu ‘terlalu banyak’ dan untungnya bukan anak sok tahu. Dia juga gak pelit membantu teman-temannya, ikut kegiatan sosial dan sedang dalam masa ‘cinta monyet’. Minatnya hanya di Kelas Pemerintahan. Cita-citanya sudah pasti berkisar di dunia hukum. Punya paman yang juga mantan pengacara kelas atas. Untuk novel Theodore Boone ini sendiri, tingkat ‘ketegangan’ gak terlalu tinggi. Segmen pembaca lebih ke remaja.

Setelah gue liat-liat, ternyata koleksi buku John Grisham gue lumayan lengkap. Novel-novel John Grisham termasuk yang selalu gue ‘buru’ di awal-awal gue mulai mengkoleksi novel yang ‘gedean’ dikit. Udah lama juga sih gue gak baca novelnya, baru sekarang gue baca lagi. Dan ternyata, gue masih tetap suka.

Segera lanjut ke sekuel Theodore Boone…

Thursday, June 30, 2011

The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo
Alexandre Dumas
Nin Bakdi Soemanto (Terj.)
Bentang Pustaka - Maret 2011
568 hal.

Nama Alexander Dumas, bukan nama ‘asing’ untuk gue, hanya saja gue belum pernah membaca satu pun buku beliau. Gue mengenal nama ini dari film Three Musketeers. Meskipun gue menyukai filmnya yang kocak itu (plus soundtrack-nya yang bagus), gue belum tergerak untuk membaca Three Musketeers. Sampai akhirnya, gue diajak ikutan groups #BBI, dan ternyata buku untuk baca bareng bulan Juni adalah The Count of Monte Cristo dan The Prophecy of the Sisters. The Prophecy of the Sisters udah baca, tinggal The Count of Monte Cristo.

Awalnya… gue sempat ragu untuk membeli. Maklum selalu ‘alergi’ dengan buku-buku begini. Nyoba baca versi bahasa Inggris (nyari e-book-nya), wah… ribet… ya sudahlah, rasa penasaran membuat gue nekat beli buku ini. Dan… akhirnya… gue pun terhanyut dalam aksi balas dendam Count of Monte Cristo. Mungkin terdengar kasar ya, kalo dibilang aksi balas dendam. Tapi itulah yang terjadi dalam buku ini.

Tak sedikit pun terlintas dalam benak seorang Edmond Dantes, pelaut muda yang baru saja membawa kapal Pharaon merapat di Marseilles. Yang ada di pikirannya hanyalah rasa bahagia bertemu dengan ayahnya dan kekasih tercintanya, Mercedes. Bahkan, Edmond sudah berencana akan segera melangsungkan pernikahan dengan Mercedes. Kebahagiaan bertambah karena pribadinya yang tangguh dan cekatan, membuat sang pemilik kapal terkesan dan menjadikan Dantes kapten kapal yang baru.

Tapi, karena rasa iri, dengki dan sakit hati, membuat Danglars – petugas keuangan kapal Pharaon, Fernand – pemuda yang cintanya ditolak Mercedes dan Caderousse – tetangga Dante yang hanya ikut-ikutan, merekayasa sebuah surat yang menunjukkan bahwa Dantes sudah berkhianat dan bersekutu dengan Napoleon yang waktu itu sudah diasingkan ke Pulau Elba. Hal ini semakin diperparah dengan penuntut umum yang ingin cari selamat sendiri, bernama Villefort.

Edmond Dantes harus mendekam di penjara selama 14 tahun. Dijebloskan ke ruang bawah tanah yang gelap. Edmond sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dan itu pasti akan terjadi, kalau saja ia tidak mendengar ada suara-suara yang membawanya pada perkenalan terhadap tahanan lain, seorang pastor yang dianggap gila bernama Abbe Faria.

Edmond pun menganggap Abbe Faria sebagai ayah keduanya. Abbe Faria memberitahu Edmond sebuah rahasia besar, bersama mereka membuat rencana untuk melarikan diri. Sayangnya, hanya Edmond yang berhasil keluar dari penjara itu hidup-hidup.

Berbekal rahasia yang diceritakan oleh Abbe Faria, Edmond pun mengubah hidupnya, mengganti identitasnya dan masuk ke dalam lingkup pergaulan orang-orang yang dulu pernah menyakiti dan membuat hidupnya berantakan. Tanpa disadari Danglars, Fernand dan Caderousse, serta Villefort, Edmond Dantes telah kembali dan siap untuk melakukan balas dendam dan balik menghancurkan hidup mereka. Hanya satu orang yang tahu, dari awal siapa Count of Monte Cristo sebenarnya.

Selama Dantes dipenjara, kehidupan para musuhnya juga berubah, dari kalangan yang biasa-biasa saja jadi bangsawan yang berkedudukan dan kaya raya.

Wow… buku ini penuh dengan intrik-intrik. Tapi, terus terang gue kagum dengan sosok Edmond Dantes a.ka. Count of Monte Cristo, begitu cermat , teliti dan hati-hati dalam menyusun rencana. Ia tahu semua detail kejadian di rumah para musuhnya. Meskipun pada akhirnya ia mengakibatkan kehidupan orang lain berantakan, termasuk kehidupan orang yang pernah ia cintai. Ada satu titik di mana Count of Monte Cristo menyesali perbuatannya karena mengakibatkan hilangnya nyawa seorang anak yang tak bersalah. Tapi, meskipun ‘terasa’ sadis, ia tak melupakan orang-orang yang baik pada dirinya. Dengan harta yang nyaris tak terbatas, Count of Monte Cristo leluasa melakukan berbagai hal, menghambur-hamburkan uang demi mencapai tujuannya.

Membacanya pun harus pelan-pelan, begitu banyaknya tokoh dan berbagai peristiwa yang berseliweran, sempat membuat gue kehilangan arah dan bingung. Beberapa kali sempat bolak-balik ke depan, biar inget lagi. Sempat nyaris putus di tengah jalan. Gue jadi pengen nonton filmnya. Sampai sekarang, kalo gue disuruh membayangkan siapa yang cocok jadi Edmond Dantes, gue koq terbayang sama si pemeran Aragorn di Lord of the Rings ya? Hehehe…

Buku ini mendapat bintang 4 dari gue. Kenapa gak 5? Mungkin nanti, kalo gue (suatu saat) baca ulang, dan gak pake pusing lagi bacanya, gue bakal kasih bintang 5.

Tuesday, June 28, 2011

Sendratari Mahakarya Borobudur

Sendratari Mahakarya Borobudur
Timbul Haryono, Sutarno Haryono, Maryono & Soegeng Toekio
Penerbit KPG - 2011
142 hal.

Buku Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue peroleh dari hasil menang quiz di twitter. Buku ini terbagi dari 3 bagian.

Bagian pertama adalah sejarah Borobudur. Dari bagian ini, gue jadi tau, kalo Belanda gak hanya bisa ‘menjajah’ Indonesia, tapi justru ikut membantu di awal restorasi Candi Borobudur ini. Gue jadi bersyukur Borobudur ini gak dihancurkan meskipun saat itu sudah tertutup semak belukar dan dalam kondisi yang rusak.

Candi Borobudur menyimpan banyak filosofi. Dari relief-relief yang terpahat di dinding batu yang melingkar di Candi Borobudur, terlihat berbagai perilaku manusia plus hukuman yang menanti. Candi Borobudur dibangun atas perintah Raja Samaratungga. Saat itu keadaan kacau balau, kejahatan merajalela, saling menindas dan rakyat menderita. Untuk itulah, ayah Raja Samaratungga, merasa wajib untuk membawa rakyatnya ke jalan yang benar. Raja Samaratungga mengaplikasikan keinginan ayahnya ke dalam bentuk candi yang berisi ajaran-ajaran hidup.

Bagian kedua adalah tentang sendratari Mahakarya Borobudur itu sendiri. Tarian ini bercerita tentang riwayat pembangunan Candi Borobudur. Adegan per adegan terpapar dengan rinci di sini. Detail pakaian, aksesoris, musik, tata panggung dan cahaya. Semua dipersiapkan dengan matang, agar pada saat pementasan betul-betul menunjukkan kemegahan Candi Borobudur, dan juga sendratari itu sendiri.

Sementara di bagian terakhir, dijelaskan awal mula terbentuknya ide untuk pementasan sendratari ini. Selain untuk melestarikan budaya sendratari itu sendiri, juga ada keinginan untuk menjadikan Candi Borobudur ini ‘hidup’ di malam hari. Diharapkan dengan adanya sendratari ini, wisatawan baik domestik maupun luar negeri, akan memperoleh pengalaman baru dari kunjungan mereka ke Candi Borobudur.

Di bagian belakang buku ini, selain ada penjelasan tentang istilah-istilah yang dipakai dalam tarian-tariannya, juga ada foto-foto selama pementasan itu sendiri. Foto-fotonya cukup jelas, tapi menurut gue, akan lebih baik kalo disisipkan di bagian dua,. Jadi pembaca gak perlu bolak-balik untuk nyari penjelasan antara adegan yang ditulis dengan fotonya.

Gue membayangkan, seandainya gue bisa menyaksikan pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue pasti bakal merasa merinding. Ahhh.. jadi pengen ke Borobudur lagi.

Monday, June 27, 2011

The HERetic’s Daughter

The HERetic’s Daughter
Kathleen Kent @2008
Leinovar Bahfein (Terj.)
Matahati, Mei 2011
282 hal.

Berkisah tentang kehidupan di Inggris sekitar tahun 1690 – 1692, masa-masa yang penuh dengan kemunafikan. Keluarga Carrier pindah dari Billerica ke Andover. Tapi kedatangan mereka tidak disambut ramah oleh para penduduk. Mereka dianggap membawa wabah penyakit cacar yang kala itu adalah penyakit yang mematikan. Banyak penduduk terkena cacar, akhirnya meninggal, termasuk nenek Sarah Carrier. Sebab lainnya adalah, karena ibu Sarah, Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, penganut aliran sesat, apalagi Martha tidak akan mau datang ke gereja seandainya tidak dipaksa oleh ibunya.

Banyak cerita-cerita miring seputar keluarga Carrier, tentang ayahnya yang mantan pengawal Kerajaan Inggris, tentang perebutan tanah keluarga, belum lagi gosip-gosip yang sering menyudutkan mereka. Jika salah satu tetangga mengalami musibah – dan kebetulan beberapa hari sebelumnya bertengkar dengan Martha, maka mereka akan menuduh semua itu disebabkan sihir Martha Carrier.

Di masa itu, banyak orang-orang tak bersalah dijebloskan ke penjara karena dianggap sebagai penyihir, tak hanya orang tua, tapi anak-anak dari mereka yang tertuduh pun diseret masuk ke penjara. Tujuannya, jika anak-anak itu dimasukkan ke penjara juga, maka orang tua mereka akan mengakui tindakan jahat mereka, bahwa mereka memang penganut aliran sesat.

Di masa itu penganut agama Kristen terpecah dua. Ada yang mengaku sebagai penganut Kristen yang taat, Di setiap khotbahnya, sang Pendeta selalu menekankan akan siksa neraka bagi mereka yang menyimpang. Dan di sisi lain, penganut ajaran seperti Martha Carrier punya pendapat sendiri. Ia teguh pada pendiriannya.

Pada akhirnya, Martha Carrier pun masuk penjara. Tapi, ia dengan teguh tetap tidak mau mengaku bersalah. Satu per satu anaknya pun diseret masuk ke penjara. Sarah yang sering bersimpangan dengan ibunya pelan-pelan mengerti akan keteguhan sikap ibunya. Sama seperti yang lain, Martha Carrier hanya diminta mengaku, tapi tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Orang-orang yang katanya penganut Kristen yang taat, malah saling bergunjing, menyebar berita bohong. Seorang istri kepala polisi tega-teganya merampas baju para tahanan, sedikit memaksa mereka untuk menukar pakaian mereka demi makanan yang lebih layak di dalam penjara.

Awalnya gue agak bingung membaca buku ini. Latar belakang sejarahnya menarik, tentang penyihir Salem – mungkin gue beberapa kali membaca buku dengan latar belakang yang sama. Tapi tetap pengetahuan gue akan hal ini masih minim. Di buku ini juga terlalu sedikit pengantar biar pembaca sedikit jelas dengan sejarah yang melatari buku ini. Hmmm.. jadi inget The Virgin Blue - Tracy Chevallier.

Cerita ini sendiri, di bagian depan pun agak lamban. Tadinya gue berharap ada tanda-tanda kenapa Martha Carrier dianggap sebagai penyihir, atau ada rahasia yang dibagi oleh nenek Sarah. Hanya ada satu buku harian Martha Carrier yang tadi gue bikin bakal menyingkap semua, tapi ternyata sampai akhir pun, gak dikasih tau apa isi buku itu.

Tapi, makin ke belakang, isi buku ini makin bikin miris, bikin gregetan dan membuat gue berpikir, ternyata orang-orang jaman dulu juga udah pada gila. Gak peduli jenis kelamin, bahkan perempuan tua, lagi hamil, anak-anak yang gak jelas apakah mereka bersalah atau gak, asal diisukan sebagai penganut aliran sesat langsung main tangkap dan berakhir di tiang gantungan.

Wednesday, June 22, 2011

Saga no Gabai Bachan

Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Yoshichi Shimada @ 2001, 2004
Indah S. Pratidina (Terj.)
Kansha Books (a division of Mahda Books)
Cet. I, April 2011
245 hal.

Di usianya yang baru sembilan tahun, Akihiro terpaksa berpisah dengan ibunya. Ia terpaksa dititipkan ke rumah nenek Osano di Saga. Sebagai orang tua tunggal, ibu Akihiro harus bekerja keras. Ayah Akihiro meninggal karena dampak bom Hiroshima.

Di Saga, awalnya Akihiro membayangkan kehidupan yang tak jauh berbeda dari kehidupan di Hiroshima. Tapi, begitu menginjakkan kaki di rumah Nenek Osano, Akihiro langsung dihadapkan pada sosok seorang nenek yang ‘ajaib’ – mungkin aneh pada awalnya. Bukannya mendapat sambutan hangat, Akihiro malah langsung disuruh menanak nasi di tungku.

Kehidupan yang begitu miskin, membuat Nenek Osano yang bekerja sebagai pembersih di sebuah sekolah ini jadi sangat ‘kreatif’. Ia mempunyai ‘supermarket’ alam, setiap berjalan selalu mengikat tali yang diujungnya ada sebuah magnet. Dan apa yang ia dapat dari dua sumber tersebut bisa jadi makanan yang bergizi dan mendapatkan uang tambahan.

Akihiro pun menjadi anak yang tegar dan tangguh berkat didikan Nenek Osana. Di saat anak-anak lain berolahraga dengan peralatan yang mahal, Akihiro memilih berlari, hasilnya ia jadi pelari yang hebat dan selalu jadi juara dalam Festival Olahraga di Saga.

Jika ia ingin sesuatu, Akihiro mencari cara sampai akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Kemiskinan tidak lantas membuat Akihiro bersedih, malah akhirnya ia sangat berterima kasih atas apa yang sudah diajarkan oleh Nenek Osano.


Banyak akhirnya yang simpati dengan Akihiro dan Nenek Osana. Ada saja kebaikan yang mereka terima, tapi mereka juga tak lupa memberi. Bahkan Nenek Osana juga berharap perampok yang akan masuk rumah mereka justru kasihan dan malah memberi! Pesan Nenek Osano, jika mau berbuat kebaikan, orang yang kita bantu tidak perlu tahu akan kebaikan kita.

Banyak kata-kata bijak yang tidak menggurui, tapi malah bisa membuat kita tertawa. Salah satunya adalah

“Ada dua jalan buat orang miskin. miskin muram dan miskin ceria. kita ini miskin ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. tetaplah percaya diri.”
Membaca cerita seperti ini, mau gak mau gue inget sama cerita ‘Oshin’. Oshin digambarkan sebagai anak dari keluarga yang sangat miskin, hingga ia terpaksa bekerja keras, terkadang ditindas tapi tetap tegar. Tapi di buku ini, gue gak melihat yang namanya ‘air mata’ tumpah ruah meskipun hidup dalam kemiskinan. Bukan kemiskinan yang ‘diumbar’, justru ada banyak tawa, malah gue membayangkan Nenek Osano sebagai nenek yang jail. Hehehe…. Kata Nenek Osano, jadi orang kaya itu justru sibuk – sibuk bikin kimono, sibuk makan sushi…

Akihiro Tokunaga – kini lebih dikenal dengan nama Yoshichi Shimada – adalah seorang pelawak yang terkenal di Jepang. Kisah ini terinspirasi dari kehidupan masa kecilnya bersama Nenek Osano di Jepang. Ia ingin menularkan semangat Nenek Osano kepada orang banyak.

Gue terharu membaca buku ini… bener deh. Buku yang sederhana, tapi banyak banget yang bisa didapet dari buku ini. Kesannya klise banget ya… tapi coba deh.. baca buku ini. Dan, gue rasa kalo pun gue baca bolak-balik gue gak akan bosen dan tetap terkesan, kagum sama Nenek Hebat ini.

Jangan lewatkan juga “Tips Hidup yang Menyenangkan ala Nenek Osano” yang disisipkan di akhir buku ini.

Monday, June 13, 2011

Dear John

Dear John
Nicholas Sparks
Barokah Ruziati (Terj.)
GPU – Juni 2010
392 hal.

Hidup berdua dengan ayahnya, tidak menjadikan John Thryee dekat dengan ayahnya. Hubungan mereka berdua cenderung aneh, masing-masing hidup dalam diam dan sibuk sendiri. Ayahnya adalah petugas pengantar barang, yang seperti punya kehidupan dan rutinitas sendiri. Setiap hari, mudah ditebak apa saja yang akan ia lakukan, bahkan perkataan yang akan diucapkan. Mulai dari sarapan sampai makan malam. Satu-satunya yang membuatnya lebih hidup ketika ia berkutat dengan koleksi koin-koinnya.

John tak mengenal ibunya, dan tak pernah bertanya tentang keberadaan ibunya itu. Ia juga lebih memilih diam, mengikuti rutinitas ayahnya. Mungkin, saat kecil, John masih betah mendengar dan ikut ayahnya mencari koin-koin baru. Tapi, beranjak dewasa, John mulai ‘gerah’. Ia pun ‘melarikan diri’ dan masuk sekolah angkatan darat, hingga kemudian ditugaskan di Jerman. Saat itu, satu-satunya yang dirasa 'pas', adalah masuk angkatan darat, karena John gak tau lagi harus gimana.

Saat cuti,dan kembali ke kampong halamannya John berkenalan dengan seorang gadis, bernama Savannah. Perkenalan ini terjadi karena John berhasil mendapatkan kembali tas Savannah yang jatuh ke laut. Setelah itu, ya, mudah ditebaklah apa yang terjadi. Meskipun kebersamaan mereka singkat, dan John harus kembali bertugas, janji-janji manis pun dibuat.

Namun, mimpi memang gak selalu jadi kenyataan, janji juga gak mudah untuk dipenuhi. Kejadian 11 September 2001, memudarkan semua mimpi indah itu. Jiwa patriotisme membuat John memperpanjang masa tugasnya. Komunikasi mulai tersendat-sendat, sampai akhirnya John dan Savanah berpisah.

Salah satu cerita romance yang mengharu biru, tapi gak membuat gue terkesan. Yang malah lebih menarik minat gue adalah cerita tentang hubungan John dengan ayahnya, dan koin-koinnya itu. Gue menangkap sosok pria tua yang kesepian, dan seorang anak yang bingung dengan sikap ayahnya yang selalu datar. Dan sayangnya, John gak mau berusaha lebih jauh untuk mengenal ayahnya, sampai Savannah datang.Dari beberapa cerita Nicholas Sparks yang pernah gue baca, kenapa selalu ada tokohnya yang sakit?

Friday, June 10, 2011

Morality for Beautiful Girls

Morality for Beautiful Girls
Alexander McCall Smith @ 2001
Abacus - 2006
246 hal.

Rasanya udah lama banget sejak terakhir gue membaca seri kedua dari The No. 1 Ladies’ Detective Agency: Tears of the Giraffe. Dan sekarang, waktu membaca kisah ketiga dari Mma Ramotswe ini, gue masih tersenyum-senyum simpul dengan kepolosan, kesabaran dan kejelian Mma Ramotswe.

Jangan bayangkan ada misteri yang rumit di sini, seperti pembunuhan yang berdarah-darah. Mma Ramotswe lebih banyak menyelesaikan masalah yang lebih berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam bukunya kali ini, Mma Ramotswe berusaha membantu orang yang punya kedudukan penting di pemerintahan, yang memiliki kecurigaan bahwa istri adiknya berniat meracuni adiknya dan menguasai harta untuk dirinya sendiri.

Lalu, dalam kehidupan pribadinya, Mma Ramotswe juga harus mencari jawaban atas perubahan sikap tunangannya, Mr. J.L.B. Matekoni, si pemilik bengkel Tlokweng Speedy Motors

Untung ada sekretaris, merangkap asisten pribadinya yang bisa dihandalkan. Selain menjadi asisten manajer di Tlokweng Speed Motors, Mma Makutsi tak disangka-sangka mampu memecahkan kerumitan dalam pemilihan Miss Glamorous Botswana. Mma Makutsi harus menyelidiki dari keempat kandidat, mana di antara mereka yang paling pantas menyandang gelar tersebut. Keberhasilan Mma Makutsi ini juga menyelamatkan kondisi keuangan The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang nyaris selalu bersaldo negatif.

Melihat dari judulnya, berulang kali di buku ini dibahas, perilaku gadis-gadis muda dan cantik yang lebih cenderung menggunakan kecantikan mereka dibanding otak mereka. Berbeda dengan Mma Makutsi, si pemegang nilai tinggi di kampusnya, yang wajahnya memang bisa dibilang tidak cantik, tapi berotak encer. Namun nyatanya, para pria lebih memilih gadis cantik dibanding gadis pintar.

Cerita ‘detektif’ yang begitu tenang. Semua diselesaikan dengan cara yang sederhana. Tanpa penyelidikan yang begitu rumit, dengan mengandalkan hati, semua jadi jelas.

Monday, June 06, 2011

The Boy who Ate Stars

The Boy who Ate Stars (Anak Lelaki yang Menelan Bintang-Bintang)
Kochka @ 2002
Rahmani Astuti (Terj.)
GPU – Agustus 2008
104 hal.

Lucy yang baru saja pindah ke apartemen baru bertekad untuk mengenal seluruh penghuni di apartemen itu. Dia akan menempelkan bendera di kamarnya untuk asal setiap tetangga barunya. Tapi, sebuah kejadian di malam hari, memporak-porandakan tekad Lucy. Suara berisik yang berasal tetangga di lantai atas, membawa Lucy pada sebuah petualangan baru.

Sikap misterius orang tuanya yang justru membuat Lucy ingin mengenal siapa tetangga di lantai atas itu. Dalam perjalanan membeli roti, Lucy sengaja mampir dulu. Yang ditemuinya ternyata sebuah hal yang luar biasa. Atau tepatnya anak yang luar biasa bernama Matthew.

Matthew adalah bocah laki-laki yang mengidap austis. Dari Matthew, Lucy jadi tau ada dunia lain yang selama ini luput dari pandangannya. Matthew membuat rasa ingin tau Lucy jadi begitu besar. Ia melakukan petualangan bersama temannya Theo dan seekor anjing bernama Francois. Bagi Lucy mungkin perjalanan singkat adalah hal kecil, tapi bagi Matthew dan Francois, itu adalah petualangan besar dan menegangkan.

Novel tipis ini menjadi teman gue menghabiskan weekend kemarin. Seperti biasa, ‘kehabisan’ buku baru. Gue pandang-pandang lemari buku gue, tiba-tiba gue menemukan buku ini terselip, dan ooopsss.. ternyata belum pernah gue baca.

Buku tipis ini mengajak kita untuk mengenal arti persahabatan, simple-nya dunia anak-anak dan menyadarkan orang tua untuk ‘mau’ menjawab pertanyaan anak-anak dengan sabarrrrr… hehehehe…

Friday, June 03, 2011

For Sale/Swap


Ayo teman-teman.. bantuin gue bersihin lemari buku gue, biar bisa diisi sama yang baru lagi... hehehe... silahkan tinggalin message atau email langsung ke ferina.permatasari@hbtlaw.com

ma kasih.... ini dia daftarnya:

Buku Bahasa Indonesia (asli atau terjemahan):

1. Bright Angle Time – Martha McPhee (Rp. 25,000)
2. My Life as a Fake – Peter Carey (Rp. 25,000)
3. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (Rp. 20,000)
4. One for my Baby – Tony Parsons (Rp. 30,000)
5. Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
6. The Heart is a Lonely Hunter – Carson McCullers (Rp. 25,000)
7. The Missing Rose – Serdar Ozkan (Rp. 25,000)
8. Night over Water – Ken Follett (Rp. 25,000)
9. Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 15,000)
10. How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
11. The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
12. When the wind blows (Ketika Angin Bertiup) – James Patterson (Rp. 25,000)
13. Sphere (Bola Asing) – Michael Crichton (Rp. 25,000)
14. Annie’s Baby – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
15. Go Ask Alice – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
16. Di Bawah Bayang-Bayang Perang – Naguib Mahfoudz (Rp. 20,000)
17. Sarabande – Bre Redana (Rp. 20,000)
18. Surau Tercinta – Sutirman Eka Ardhana (Rp. 20,000)
19. Sebelas Menit (Eleven Minutes) – Paulo Coelho (Rp. 30,000)
20. Gadis Icarus (The Icarus Girl) - Helen Oyeyemi (Rp. 25,000)
21. Sky is Falling – Sidney Sheldon (Rp. 25,000)
22. Jampi-Jampi Varaiya – Clara Ng (Rp. 20,000)
23. Kisah Air Mata (The Teardrop Story Woman) – Catherine Lim (Rp. 25,000)
24. Winter and Night – S.J. Rozan (Rp. 25,000)
25. The Tenth Circle (Lingkaran Kesepuluh) – Jodie Picoult (Rp. 25,000)
26. Jadie: Tangis Tanpa Suara – Torey Heyden (Rp. 25,000)
27. Rispondimi (Jawablah Aku) – Susanna Tamaro (Rp. 25,000)
28. Kisah Air Mata Jerapah (Tears of the Giraffe) – Alexander McCall Smith (Rp. 20,000)


Chicklit Terjemahan – All Rp. 25,000

1. Sammy’s Hill (Dunia Sammy) – Kristin Gore
2. Does my Bum Look Big in this? (Besar itu Indah) – Arebella Weir
3. For Better For Worse (Dalam Suka dan Duka) – Carole Matthews
4. Straight Talking (Apa Adanya Saja) – Jane Green
5. Mr. Maybe – Jane Green
6. Reality TV Bites (Reality Show Gila) – Share Bolks
7. Spellbound (Tersihir) – Jane Green
8. Dress Rehearsal (Ramalan Kue Pengantin) – Jennifer O’Connell
9. Asking for Trouble (Cari Gara-gara) – Elizabeth Young
10. Bad Heir Day (Aku dan si Penyair Palsu) – Wendy Holden
11. Perfect Stranger (Tak Kenal Maka Tak Sayang) – Robyn Sisman
12. Playing James (Pura-pura Jadi Detektif) – Sarah Mason
13. Wonderlust (Doyan Jalan) – Chris Dyer
14. Speechless (Buket Pengantin Ketiga Belas) – Yvonne Collins & Cardy Rideout
15. Cause Celeb (Relawan Elite) – Helen Fielding
16. Fashionista – Lynn Messina
17. Faking It (Jangan Pura-pura) – Jennifer Cruise
18. High Society – Sarah Mason
19. Don’t Try This at Home (Jangan Coba-coba) – Katie Pearson

Buku Bahasa Inggris:

1. Debutante Divorcee – Plum Skykes (Rp. 40,000) – hard cover
2. Breaking Her Fall – Stephen Goodwin (Rp. 35,000)
3. The Distant Land of my Father – Bo Caldwell (Rp. 35,000)
4. Special Relationship – Robyn Sisman (Rp. 35,000)
5. Man and Boy – Tony Parsons (Rp. 35,000)
6. Man and Wife – Tony Parsons (Rp. 35,000)
7. Bridget Jones: The Edge of the Reason – Helen Fielding (Rp. 35,000)
8. Pure Fiction – Julie Highmore (Rp. 35,000)
9. The Last Templar – Raymond Khoury (Rp. 35,000)
10. The Dogs of Babel – Carolyn Parkhurts (Rp. 35,000)
11. The Other side of the story – Marian Keyes (Rp. 35,000)
12. Babyville - Jane Green (Rp.35,000)
13. The Rise and Fall of a Yummy Mummy - Polly Williams (Rp. 35,000)
14. Everyone Worth Knowing - Lauren Weisberger (Rp.35,000)
15. Bergdorf Blondes - Plum Skykes (Rp.35,000)
16. Tall Poppies - Louis Bagshawe (Rp. 35,000)
17. Jane Eyre – Charlotte Bronte (Rp. 45,000)
18. A Series of Unfortunate Events: The Bad Beginning - Lemony Snicket (Rp. 35,000) - hard cover
19. A Series of Unfortunate Events: Reptile Room - Lemony Snicket (Rp. 35,000) - hard cover)
20. The Pilot’s Wife – Anita Shreve (Rp. 30,000)
21. My Legendary Girlfriend – Mike Gayle (Rp. 35,000)
22. Citizen Girl – Nicola Kraus & Emma McLaughin (Rp. 35,000)
23. The Runaway Jury – John Grisham (Rp. 35,000)

Wednesday, June 01, 2011

Pesan dari Sambu

Pesan dari Sambu
Tasmi P.S. @ 2009
Hikmah – Cet. I, Maret 2010
349 hal

Pulau Sambu? Ada yang pernah denger nama pulau ini? Jujur, gue baru kali ini tau di Indonesia, atau tepatnya di Kepulauan Riau, ada yang namanya Pulau Sambu. Ups.. ma’afkan minimnya pengetahuan geografi gue ini.

Di pulau inilah, Mimi tinggal, bersama orang tua dan adik-adiknya yang tiap 2 tahun sekali selalu bertambah. Mimi sebenarnya ada ketiga, tapi kedua kakaknya sekolah di pulau Jawa, jadilah ia mendapat tugas untuk jadi ‘kakak tertua’, mengasuh adik-adiknya. Mimi berparas cukup cantik, banyak teman-teman sekolahnya yang naksir dengan Mimi, bahkan guru-guru laki-laki juga.

Ayah Mimi bekerja sebagai kepala bengkel di PT Shell. Tinggal di pulau kecil, tidak berarti kehidupan mereka terbelakang. Justru semua di sana serba mudah. Ayah Mimi digaji pakai dollar Singapura. Mau ikan, tinggal mancing, minyak dan air habis, tinggal lapor. Main-main bisa di laut. Mau jalan-jalan, tinggal nyeberang pakai ferry ke Singapura. Asyik kan? Potong rambut aja di Singapura. Keamanan terjamin. Teman juga banyak. Uang di pulau ini justru gak laku, makanya Mak-nya Mimi lebih senang menyimpan emas.

Tapi, justru mereka kehilangan akar budaya mereka. Seperti Mimi, sebenarnya ia keturunan Jawa. Tapi, ketika diajak ‘perlop’ ke Jawa, justru ia dan adik-adiknya dianggap aneh. Orang Jawa tapi gak bisa bahasa Jawa. Malah lebih jago bahasa Melayu, lebih kenal tari Serampang Dua Belas, dibanding tari Serimpi.

Meskipun sayang dengan adik-adiknya, Mimi kerap lelah karena harus selalu mengurus dan bertanggung jawab atas adik-adiknya itu. Mau pergi belajar nari, adik-adiknya merengek ingin ikut, mau nonton ‘wayang gambar’ dengan teman-temannya, meskipun sudah pakai berbagai macam jurus, tetap saja adik-adiknya berhasil menemukan keberadaan Mimi. Awalnya Mimi berpikir, mungkin dengan menikah, ia akan terbebas dari tanggung jawab ini.

Di usia yang sangat muda, Mimi pun akhirnya menikah dengan seorang prajurit dengan usia yang beda 6 tahun. Tapi, Mimi tak boleh sekolah lagi, harus menyesuaikan diri dengan predikat baru sebagai istri prajurit dan ikut ke mana suami pergi.

Menarik? Buat gue, awalnya memang menarik. Banyak kata-kata campur aduk, antara bahasa melayu, bahasa Inggris. Untung catatan kakinya cukup jelas, jadi kita gak perlu menebak-nebak apa arti kata tersebut.

Tapi memang gue suka berharap terlalu banyak di awal. Buku ini jadi rada nanggung buat gue. Tadinya gue pikir, bakalan ada cerita dengan porsi yang lebih banyak tentang gimana Mimi harus beradaptasi dengan saudara-saudaranya di Jawa, atau tentang kehidupan Mimi setelah menikah.

Monday, May 30, 2011

Ranah 3 Warna

Ranah 3 Warna
A. Fuadi
GPU – Cetakan I, Januari 2011
474 hal

Pendidikan di Pondok Madani telah selesai. Alif kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Cita-citanya kali ini adalah lulus UMPTN. Tapi sayang, banyak suara-suara sumbang yang membuat berkecil hati. Lulusan madrasah, mana bisa tembus UMPTN. Belum tentu juga lulus ujian persamaan SMA. Tapi Alif, semakin dikecilkan, semakin ia bertekad untuk membuktikan bahwa perkataan orang-orang itu salah. Terutama lagi, ia ingin membuktikan kepada Randai, bahwa ia juga bisa masuk ke perguruan tinggi dan bahkan mungkin ke Amerika… seperti cita-citanya selama ini.

Memang bukan ITB yang selama ini ia inginkan, tapi tetap Alif akhirnya membuktikan, bahwa anak pesantren juga bisa masuk perguruan tinggi negeri.

Perjuangan ternyata tidak hanya sampai di situ. Di Bandung, jauh dari orang tua, kondisi keuangan pas-pasan, membuat Alif harus memutar otak bagaimana bisa bertahan hidup. Ia mencoba bekerja sembari kuliah. Membuang rasa malu, ia jadi pedagang keliling, menjadi guru privat sampai akhirnya jatuh sakit.

Beruntung ada kesempatan lain, yang membuat Alif bangkit. Meskipun sempat membuat persahabatannya dengan Randai sedikit rusak, Alif pelan-pelan jadi mandiri dan semakin bertekad untuk menggapai cita-citanya.

Usaha Alif yang kocak, sok tau dan maju terus pantang mundur, berbuah manis. Ups… kecuali untuk urusan cinta… hehehe…

Meskipun, ada yang bilang ending-nya begitu mudah ditebak, ceritanya klise, tapi buat gue ini masih jadi salah satu favorit gue. Semua ditulis begitu detail dan rapi. Penuh dengan usaha yang jatuh bangun, beberapa juga ada yang membuat gue terharu. Iri juga karena Alif akhirnya bisa sampai ke Amerika. (hiks… gue jadi menyesal waktu kuliah gak pernah usaha lebih keras… ups.. cur-col). Tapi, gpp… buku ini bisa jadi pemompa semangat baru… biar gak gampang putus asa, biar gak gampang nyerah… biar terus usaha untuk cari jalan keluar biarpun rasanya semua pintu itu tertutup…

Prophecy of The Sisters

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Belum cukup duka yang disebabkan oleh ayahnya yang meninggal dengan cara yang misterius, Lia Milthrope harus menghadapi serangkaian kejadian aneh lainnya. Dimulai dengan munculnya tanda aneh di pergelangan tangan, lalu sikap saudari kembarnya, Alice, yang juga aneh, lalu ditemukannya sebuah buku misterius yang hanya berisi satu halaman saja dan letaknya tersembunyi.

Tapi dari buku itu, Lia mengetahui sebuah rahasia. Rahasia ini sudah ada semenjak jaman ibu, nenek, nenek buyut – intinya, inilah takdir yang diturunkan kepada setiap anak kembar perempuan, yang artinya harus ia dan Alice terima. Bahwa kematian ibu dan ayahnya yang misterius juga termasuk dalam rangkaian takdir itu. Bahwa Lia dan Alice harus berada di sisi yang berseberangan dan tak bisa menjadi kawan dalam hal ini. – sebagai seorang Garda dan Gerbang. Lia sempat emosi berat… karena kenapa dia baru tahu tentang rahasia ini, kenapa seolah Alice lebih siap dan selangkah lebih maju… untuk gadis berusia 16 tahun, tentunya ini bukan beban yang enteng…

Ternyata, bukan hanya Lia yang penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam Alice juga mencari tahu tentang takdir yang harus mereka berdua jalani. Meskipun apa yang Lia dan Alice inginkan bertolak belakang dengan yang seharusnya mereka jalani.

Lia berkenalan dengan Sonia, seorang cenayang dan Luisa, teman satu sekolahnya. Mereka berdua memiliki tanda yang mirip dengan yang Lia miliki. Dengan bimbingan Sonia, Lia mengembara ke Dunia Lain, untuk bertemu dengan arwah ayah dan ibunya, mencari kunci-kunci yang disebutkan di dalam buku rahasia itu.

Tujuannya adalah satu, jangan sampai iblis masuk ke dunia dan menguasai dunia, dan jangan sampai Alice yang lebih dulu mendapatkan kunci itu Karena Lia-lah yang nantinya akan menentukan, apakah Gerbang itu akan dibuka atau akan tetap tertutup.

Awalnya, banyak yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa ibu mereka mengurung diri di dalam Kamar Gelap? Apa penyebab misterius kematian ayah mereka? Apa hubungan Sonia dan Luisa dalam masalah ini?

Di awal, beberapa ‘kenyataan’ rada menjebak. Seolah kita udah bisa tahu pasti posisi Lia dan Alice. Siapa yang jadi Garda, siapa yang jadi Gerbang… tapi ternyata.. masih ada rahasia lagi yang memutarbalikkan kenyataan yang ada. Tenang… jawaban pelan-pelan akan ditemukan… seiring dengan cerita. Baca buku ini, tegang campur penasaran.

Dan… arggghhhh…. bersambung ternyata…. Yah… dari awal sih gue udah curiga ini bakalan bersambung. Artinya gue harus bersabar sampai sambungannya terbit.

Wednesday, May 25, 2011

'Bersih-bersih' Lagi... :)

Hi..hi.. mau 'bersih-bersih' lemari buku lagi. Kalau ada yang berminat, silahkan email ke ferina.permatasari@hbtlaw.com. Mau barter, juga boleh koq :).
Ma kasih....

1. Sihir Cinta – Miranda (Rp. 20,000)
2. Moonlight Waltz – Fenny Wong (Rp. 20,000)
3. Beauty Case – Icha Rahmanti (Rp. 25,000)
4. Prety Prita – Andrei Aksana (Rp. 25,000)
5. The Ghost Writer (Penulis Hantu) – John Harwood (Rp. 25,000)
6. Merpati di Trafalgar Square – Weka Gunawan (Rp. 15,000)
7. Bright Angle Time – Martha McPhee (Rp. 25,000)
8. The Men’s Guide to the Women’s Bathroom – Jo Barrett (Rp. 30,000)
9. Tarothalia – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
10. My Life as a Fake – Peter Carey (Rp. 25,000)
11. True History of the Kelly Gang – Peter Carey (Rp. 30,000)
12. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (Rp. 20,000)
13. Maya – Jostein Gaarder (Rp. 30,000)
14. The Lovely Bones (Tulang-tulang yang Cantik) – Alice Sebold (Rp. 25,000)
15. Marriage Most Scandalous – Johanna Lindsey (Rp. 30,000)
16. Summer in Seoul – Ilana Tan (Rp. 15,000)
17. One for my Baby – Tony Parsons (Rp. 30,000)
18. Jodoh Monica – Albertheine Endah (Rp. 25,000)
19. Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
20. My Salwa My Palestine – Ibrahim Fawal (Rp. 30,000)
21. Novel Tanpa Nama - Duong Thu (Rp. 25,000)
22. The Heart is a Lonely Hunter – Carson McCullers (Rp. 25,000)
23. Cinta Andromeda – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
24. The Missing Rose – Serdar Ozkan (Rp. 25,000)
25. Vienna Blood – Frank Tallis (Rp. 25,000)
26. A Death in Vienna – Frank Tallis (Rp. 25,000)
27. Heartblock – Okke ‘sepatumerah’ (Rp. 20,000)
28. Mendamba – Aditia Yudis (Rp. 20,000)
29. Koq Putusin Gue? – Ninit Yunita (Rp. 20,000)
30. When a Man Lost a Woman – Ita Sembiring (Rp. 20,000)
31. Night over Water – Ken Follett (Rp. 25,000)
32. Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 15,000)
33. Lucia, Lucia – Adriana Trigiani (Rp.25,000)
34. Forgiven – Morra Quarto (Rp. 20,000)
35. Rindu – Sefryana Khairil (Rp. 20,000)
36. Coming Home – Sefyrana Khairil (Rp. 20,000)
37. Goloso Geloso – Tanti Susilawati (Rp. 20,000)
38. Ciao Italia! – Gama Harjono (Rp. 20,000) – non fiksi
39. Girl with the Pearl Earings (Gadis dengan Anting-Anting Mutiara) – Tracy Chevalier (Rp. 25,000)
40. How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
41. The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
42. When the wind blows (Ketika Angin Bertiup) – James Patterson (Rp. 25,000)
43. Perfume: The Story of a Murderer – Patrick Suskind (Rp. 25,000)
44. Sphre (Bola Asing) – Michael Crichton (Rp. 25,000)
45. The Remains of the Day (Puing-Puing Kehidupan) – Kazuo Ishiguro (Rp. 25,000)
46. Annie’s Baby – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
47. Go Ask Alice – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
48. Di Bawah Bayang-Bayang Perang – Naguib Mahfoudz (Rp. 20,000)
49. Sarabande – Bre Redana (Rp. 20,000)
50. Seribu Burung Bangau – Yasunari Kawabata (Rp. 20,000)
51. Tiada Tempat di Surga Untuknya – Nawal el Saadawi (Rp. 20,000)
52. Surau Tercinta – Sutirman Eka Ardhana (Rp. 20,000)

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer & Annie Barrows @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

Awal gue membaca judulnya, gue rada ‘alergi’ karena ada kata-kata ‘Literary’-nya. Takutnya, bahasa terlalu ‘tinggi’ sampe gue gak ngerti isi ceritany. Tapi, dari hasil jalan-jalan ke beberapa blog, koq tampaknya menariknya? Beruntung ada yang mau barter dengan buku gue, jadi gue bisa membaca buku ini.

Alkisah, Juliet Ashton, seorang penulis yang terkenal dengan kolomnya ‘Izzy’. Dia ini lagi cari ide untuk buku terbarunya. Ketika itu masa-masa setelah perang dunia kedua. Apartemen Juliet sendiri hancur karena serangan bom.

Secara kebetulan, Juliet menerima surat dari Dawsey Adams, seorang pria yang tinggal di Guernsey Island. Pak Dawsey ini cerita kalau dia kebetulan membaca bukunya dulunya punya Juliet. Di buku itu ada alamat Juliet. Jadilah bersurat-suratan, cerita tentang buku-buku, sharing tentang kehidupan di Guernsey selama diduduki tentara Jerman pas Perang Dunia itu.

Dan akhirnya, gak hanya Dawsey yang surat-suratan sama Juliet. Tapi juga ada Eben, yang suka Shakespeare, Isola – yang suka bikin ‘ramuan’ sendiri, ada Amelia – yang paling tua di antara mereka. Semua jadi cerita ke Juliet. Dan dari sinilah, Juliet tau gimana kelompok baca ini bisa terbentuk dan apa hubungannya sama si Pie Kentang yang ikutan dimasukin jadi nama kelompok itu.

Lama-lama, Juliet jadi penasaran dengan Guernsey dan para sahabat barunya itu. Ide untuk buku barunya muncul dan Juliet pun akhirnya berkunjung ke Guernsey. Akhirnya, malah Juliet betah di Guernsey. Dia menemukan sahabat baru yang menyenangkan. Ada satu tokoh yang selalu disebut-sebut oleh teman-temannya di Guernsey, yang sayangnya, bernasib tragis di tangan tentara Jerman. Elizabeth McKenna - namanya, selalu jadi sahabat semua orang.

Buku ini ditulis dalam bentuk surat-menyurat antara Juliet, teman-teman di Guernsey, dengan editor-nya dan dengan sahabat Juliet di London. Mungkin di awal agak sedikit membingungkan, karena begitu banyak tokoh yang ‘bersliweran’ di surat-surat Juliet. Tapi, makin lama, gue jadi merasa ikut ‘bersahabat’ dengan mereka.

Thursday, May 19, 2011

Gelang Giok Naga

Gelang Giok Naga
Leny Helena
Qanita, Cet. 1 – November 2006
316 Hal.

A Sui dan A Lin, awalnya mereka sama sekali tidak kenal satu sama lain. Meskipun sama-sama berasal dari Cina, lalu hijrah ke Indonesia di jaman Belanda, nasib mereka berbeda. A Sui, meninggalkan Cina untuk menyusul suaminya yang mencoba peruntungan di Indonesia. Kala itu banyak orang Cina yang merantau dan membuka usaha di Indonesia (masih dengan nama Batavia). Awal kehidupan A Sui dan suaminya di Indonesia begitu makmur.

Berbeda dengan A Sui, datang ke Indonesia, A Lin dipekerjakan untuk mengurus ternak babi, bahkan ia harus tinggal satu kandang dengan hewan-hewan itu dan diperlakukan kurang baik. Sampai akhirnya, ia dijadikan nyai bagi seorang tuan Belanda. Tapi, setelah memilik anak, sang Tuan Belanda itu kembali ke negerinya sendiri, sambil membwa anak kembar mereka. Tinggalah A Lin sendiri. Ia pun menikah lagi dengan sesama orang Cina.

Nasib ternyata berubah, usaha suami A Sui bangkrut dan mereka hidup dalam kemiskinan. Sementara A Lin semakin kaya dengan ‘profesi’nya sebagai rentenir. A Lin jadi Nyonya Besar yang dihormati dan ditakuti. Kemiskinanlah yang mempertemukan mereka pada awalnya. Ketika A Sui terpaksa menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya. A Lin akhirnya menyimpan gelang itu karena A Sui tak sanggup untuk menebusnya. Sampai akhirnya, gelang giok naga itu kembali kepada pemilik yang sebenarnya.

Gelang giok naga itu sendiri sudah dimiliki ibu A Sui, warisan turun temurun yang hanya diberikan kepada anak perempuan. Pemilik awal gelang giok naga ini adalah seorang selir bernama Yang Kuei Fei, yang melarikan diri dari istana setelah sang Kaisar terbunuh. Takut dituduh melakukan pembunuhan, ia pun lari bersama seorang Kasim istana.

Lagi gue membaca cerita ‘turun-temurun’ sebuah keluarga keturunan Cina di Indonesia. Masih ‘bersinggungan’ dengan sejarah, terutama ketika terjadinya peristiwa di tahun 1998. Swanlin berulang kali harus menerima perkataan yang menyakitkan sebagai akibat ia seorang Cina.

Sayang, ada halaman yang hilang – dari halaman 273 – 288 – hiks…

Wednesday, May 18, 2011

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)
Ligwina Hananto @ 2010
Literati – Cet. III, Maret 2011
240 Hal

Apakah anda termasuk orang yang punya gaji tapi selalu habis gak tau ke mana? Mampu beli buku, makan di resto, weekend ke mall, nonton di 21, berlibur – tapi gak punya tabungan? Selamat… berarti anda termasuk yang ‘wajib baca buku ini’. Golongan seperti ini – termasuk gue – yang disebut mbak Ligwina dengan Golongan Menengah.

Nah, di buku ini, beliau mengajak kita untuk ‘berpikir’, berhitung dan lebih aktif dalam mengatur keuangan pribadi kita. Mencoba untuk menjadikan Golongan Menengah jadi ‘barisan’ yang kuat. Karena Golongan Menengah inilah yang nantinya akan membentuk Indonesia di masa depan.

Mungkin bakalan ‘stress’ dan pusing melihat angka-angka yang dipaparkan di sini. Bisa membuat kita ternganga, dan langsung berhitung, berapa banyak yang harus kita tabung dengan kata lain juga, berapa banyak kita harus ‘mengorbankan’ gaya hidup kita sekarang – tapi hasilnya nanti adalah untuk membuat hidup kita di masa depan lebih baik. Misalnya dengan memikirkan yang namanya dana pendidikan anak, dana pensiun. Hitungan dan ilustrasinya sederhana, jauh dari teori-teori ekonomi yang njelimet. Membuat kita yang tadinya pusing jadi lebih tenang.

Nah, salah satu bagian dari buku ini bertema ‘Menabung Saja Tidak Cukup’. Di sini dijelaskan berbagai bentuk investasi, seperti property, reksadana, logam mulia. O ya… satu lagi yang gue dapet, jangan ‘terjebak’ dengan asuransi. Gue ketawa pas baca tentang ‘Sendal Jepit Pendidikan’.

Di bagian akhir (dan ada kartunya juga), ada sebuah list yang berisi ‘100 Langkah Untuk Tidak Miskin’. Awalnya sederhana, misalnya ‘Punya penghasilan’, ‘pergi ke ATM 1 kali seminggu’, ‘mengerti cara memakai kartu kredit’, sampai yang bikin gue merasa ‘woooow.. masih jauh banget.’, misalnya ‘Punya dana darurat’ ‘sekian’ kali penghasilan’, ‘punya property pertama’, punya bisnis pertama.’ Hadoooohhh.. . makin ke belakang, lhooo.. check list-nya makin panjang dan kalo diliat sekarang, rasanya gak mungkinnnnn…!!!

Tapi, beneran deh, setelah membaca buku ini, gue langsung berpikir, ambil kertas, alat tulis, dan mulai mengurai pengeluaran gue sebulan…. Berhitung… berhitung… dan… pusinggg… astaga… harus segera dimulai kalau gue gak mau kalang kabut di hari tua gue.

Gue sih berharap semoga buku ini gak hanya jadi pajangan di lemari buku gue. Gue akan seneng buku ini lecek, yang artinya gue bakal terus membolak-balik buku ini biar gue makin pinter.

In A Strange Room: Perjalanan Tiga Benua

In A Strange Room: Perjalanan Tiga Benua
Damon Galgut @ 2010
Yuliany C & Shandy T (Terj.)
Elexmedia Komputindo – 2010
265 Hal.

Buku ini sangat muram. Kesan itu yang gue tangkap sejak halaman pertama. Buku yang sempat membuat gue penasaran setengah mati karena membaca di blog ini. Untungnya mbak Riana berbaik hati meminjamkan buku ini ke gue.

Terdiri dari tiga bagian, di mana si tokoh utama, bernama Damon, asal Afrika Selatan, berkelana keliling dunia. Di bagian pertama, ia bertemu dengan seorang pemuda asal Jerman, bagian kedua, bertemu dengan sekelompok backpacker dan yang ketiga, ia harus menjaga seorang sahabat wanitanya ke India.

Dari ketiga perjalanan itu, tak satu pun yang menggambarkan perjalanan yang menyenangkan, malah gue menangkap, si Damon ini orang yang pemurung, penyendiri. Ini juga tertangkap dari penuturannya tentang ‘rumah’. Ia pulang ke Afrika Selatan, tapi tak merasakan bahwa inilah kampung halamannya, rumahnya.

Berada di sekitar teman perjalanannya pun, tak membuat ia merasa nyaman. Ia selalu merasa ada di luar kelompok itu. Tapi, setiap diajak ikut serta, Damon nyaris selalu ‘hayo’ aja. Meskipun awalnya, ragu-ragu, menolak, end up-nya, ia akan kembali berada dalam kelompok itu.

Bagian yang memberi ‘sedikit’ kesan buat gue, mungkin bagian ketiga. Mungkin di sini, gue mulai lebih sabar membacanya. Ya, jujur sih, dengan karakter orang yang ‘depresi’, membuat gue jadi gak sabar. Di bagian ketiga, ia harus bertahan sebagai pelindung teman wanitanya yang punya kecenderungan ingin bunuh diri. Bersusah payah ia mencari berbagai cara, agar Anna, teman wanitanya itu, tetap berpikir positif, dan makin susah karena Anna tidak mau diajak kompromi atau bekerja sama.

Buku ini mengingatkan gue sama The Alchemist – Paulo Coelho. Mencoba mencari filosofi di dalam berbagai kejadian yang ada. Mungkin sih, kalo gue mau lebih mendalami buku ini, bakal banyak pengalaman hidup yang bisa gue dapet – yang katanya merubah hidup si penulis. Tapi.. ya, bener kata mbak Riana, ini bukan buku ‘gue’ banget. Gelap, penuh tekanan, bikin ikutan jadi depresi…

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng
Pralampita Lembahmata
GPU – Maret 2011
520 hal.

Sebuah pohon kate alias bonsai menjadi saksi bisu perjalanan sebuah keluarga. Berawal dari sebuah kunjungan ke rumah seorang teman, Boenarman, warga Indonesia keturunan Tionghoa, tertarik dengan sebuah pohon yang dibuat jadi kecil, tapi ternyata memiliki sebuah pemahaman, filosofi yang sangat dalam. Dari situlah, ia bercita-cita, memiliki satu bonsai yang akan menjadi sebuah prasasti, pusaka, warisan bagi keluarganya kelak.

Boenarman yang menjadi pengusaha ternak babi merawat bonsai itu dengan penuh perhatian. Dibesarkan di jaman serba susah oleh ibunya, Boenarman tumbuh jadi orang yang sukses, sederhana dan bijak. Di kala itu, tahun 1900an, penggemar bonsai masih langka. Orang yang tak paham dengan apa yang jadi tujuan Boenarman, mungkin akan melihat ia berlebihan. Boenarman memperlakukan bonsai bagai ‘anggota keluarga’. Manakala hatinya galau, ia duduk di depan bonsai, merenung, seolah bercakap-cakap dengan bonsai dan hatinya pun jadi lebih tentram.

Ketika tentara Jepang datang ke Indonesia dan merampas semua harta benda rakyat, bonsai ini disimpan di antara pohon-pohon lain sehingga tidak seperti tanaman yang berharga. Pengentahuan tentang bonsai pula yang jadi penyelamat nyawa Boenadi, anaknya.

Bonsai ini tetap hidup, melintas berbagai jaman, menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah – tak hanya sejarah keluarga itu sendiri, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Tak hanya saat-saat bahagia, tapi juga ketika satu keluarga ini dirundung masalah, bonsai ini tampak menjadi penenang dan pelindung bagi keluarga besar Boenarman. Seperti yang diharapkan oleh Boenarman, bonsai ini dimiliki secara turun-temurun di dalam keluarganya. Mencari penerus untuk memelihara bonsai ini, juga bukan perkara mudah. Harus ada kemauan dan minat yang tumbuh secara alamiah, tak boleh ada rasa terpaksa dalam diri sipewaris.

Cara bertutur para tokoh juga bergulir seiring dengan jaman yang berubah. Misalnya cara bicara Boenarman dengan sahabat-sahabatnya lebih ‘berbunga-bunga’ atau lebih banyak kata-kata yang halus dibanding ketika Boenadi bertutur, berubah lagi ketika Meily, anak Boenadi berbicara. Gak berasa kalau ternyata jamannya udah berubah. Surat-suratan Boenarman juga ditulis dengan bahasa Indonesia berejaan lama.

Cerita bonsai berlatar belakang keluarga keturunan Tionghoa, yang sudah turun-temurun ada di Indonsia,
sehingga sudah berbaur dengan bangsa pribumi. Pembaca diajak menelusuri sejarah Indonesia, sejak masih ada yang namanya Festival Perahu Naga di Tangerang, hingga kerusuhan Mei 1998. Dari jaman ketika para warga keturunan dan pribumi bersatu, hidup damai tanpa ada prasangka dan curiga, hingga akhirnya warga keturunan Cina dicaci-maki, difitnah, dan akhirnya terjadi berbagai peristiwa yang berujung pada perbedaan yang semakin meruncing.

Monday, May 09, 2011

Ape House

Ape House
Sara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages

Di saat orang sedang santai di rumah, menikmati tahun baru bersama keluarga, Isabelle Duncan nyaris tewas karena ledakan bom di laboratorium tempatnya bekerja. Sebuah organisasi pencinta binatang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Isabel adalah seorang ilmuwan yang mengabdikan dirinya di dalam dunia ‘bonobo’ atau ‘ape’ – jenis kera yang mungkin lebih mirip simpanse atau orang utan (please, correct me if I’m wrong… ). Isabel belajar bagaimana bonobo berinteraksi, berkomunikasi, sampai akhirnya ia mengerti ‘bahasa’ mereka. Isabel juga mengatur menu diet mereka dan mengajarkan berbahasa yang baik.

Ada orang-orang yang mengaku pencinta binatang yang salah mengartikan semua penelitian yang dilakukan Isabel dan teman-temannya. Mereka berpikiran apa yang dilakukan Isabel adalah sebuah bentuk eksploitasi terhadap hewan.

Mengalami luka parah, hingga harus dioperasi plastik dan harus dirawat lama di rumah sakit, Isabel terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keenam bonobo asuhannya. Mereka dibawa ke sebuah rumah, dikumpulkan di dalam satu ruangan yang dipasang kamera di berbagai sudut – dan semua kegiatan mereka disiarkan secara live. Ken Faulks, salah satu pemilik berbagai acara reality show, berharap acara ini akan menarik banyak pemirsa, meskipun dengan cara yang ditentang banyak orang.

John Thigpen, berusaha menyelamatkan karirnya di dunia jurnalistik. Meskipun ia terpaksa mengambil tawaran bekerja di sebuah tabloid, ia bertekad untuk membongkar kebusukan di balik reality show ‘Ape House’ itu.

Sekali lagi, Sara Gruen mengambil tema tentang hewan, khususya tentang eksploitasi hewan. Yang suka sama Water for Elephants, gak akan menyesal untuk baca buku ini. Reality show itu gak ‘se-real’ yang ditonton di tv, too much dramas, too much conflicts.

Gue jadi inget jaman dulu pernah nonton di tv (masih ada tvri aja), film tentang simpanse yang pinter main band, didandanin dengan pakaian layaknya manusia, dan gue seneng banget dulu nonton ini. Dan gue juga jadi inget dengan pertunjukan topeng monyet. Kalo dulu, si topeng monyet ini ‘beneran’ untuk menghibur, tapi sekarang malah dipakai untuk mengemis.

Tuesday, May 03, 2011

Scones and Sensibility

Scones and Sensibility
Lindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.

Polly Madassa, baru berusia 12 tahun, tapi ia merasa paling ‘ahli’ dalam urusan percintaan bahkan perjodohan. Kegemarannya membaca buku-buku klasik, dan hal ini begitu ‘merasuk’ ke jiwanya, sampai-sampai ia terhanyut dan terbawa dalam kehidupan nyata. Polly selalu berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables, Pride and Prejudice. Polly dengan baju berenda-renda dan topinya, menulis dengan pena khusus kaligrafi, punya jam saku dan kalau bicara begitu berbunga-bunga, layaknya dalam novel-novel itu.

Begitu menjiwai isi cerita klasik yang ia baca, Polly merasa bahwa orang-orang di sekitarnya memerlukan ‘sebuah rajutan cinta yang baru’. Polly bertekad memutuskan hubungan Clementine, kakaknya, dengan Clint, karena Polly melihat Clint sangat menyebalkan dan tidak cocok untuk kakaknya. Mulailah proyek ‘Cinta Dirajut’ pertama, mencari ‘peminang’ yang tepat untuk kakaknya.

Proyek kedua, adalah mencarikan istri untuk Mr. Fisk, yang tak lain adalah ayah sahabatnya Fran. Proyek ketiga, menjodohkan Miss Wiskerton dengan Mr. Nightquist, si pemilik toko layang-layang.

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari mengirim roti ke Miss Wiskerton yang mengatasnamakan Mr. Nightquist, mencari pasangan di tempat-tempat yang ia datangi (kebetulan di liburan musim panas kali ini, Polly mendapat tugas mengantar roti – maklum anak pemilik toko roti), memberi bunga pada wanita tak dikenal di coffee shop karena ia rasa cocok dengan Mr. Fisk, dan memaksa Edward alias Eddie untuk menjadi ‘knight in shining armor’ untuk menyelamatkan Clementine.

Tapi, tak semua berjalan mulus. Malah kekacauan demi kekacauan terjadi. Banyak kesalahpahaman, sampai-sampai, Polly tak melihat sosok ‘peminang sejati’ untuk dirinya sendiri.

Membaca ini, gue jadi melihat sosok Anne Shirley dalam versi yang lebih modern dan lebih konyol, lebih lebay. Tapi, salut buat Polly yang gemar baca buku klasik dan sampai berulang-ulang. Gue aja baru berhasil baca Jane Eyre tahun lalu, dan gak berniat untuk mengulangnya. Mungkin gue kurang menjiwai ceritanya seperti Polly.

Gue jadi ngebayangin asyiknya lokasi tempat Polly tinggal. Setiap pagi nyium aroma roti yang baru matang (hmmm.. minus acara gosong-gosongannya Clementine), jalan-jalan di tepi pantai sambil naik sepeda… hehehe.. gue jadi ikutan berkhayal kaya’ Polly, deh…

Monday, May 02, 2011

Coming Home

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?

Wednesday, April 27, 2011

The Virgin Blue

The Virgin Blue (Biru Sang Perawan)
Tracy Chevalier
Lanny Murtiharjana (Terj.)
GPU – Juli 2006
360 Hal.

Perancis tahun 1500an, penuh dengan intrik-intrik yang berhubungan dengan agama. Seorang gadis bernama Isabelle du Moulin, tadinya hanya gadis biasa, anak seorang bidan. Saat rambutnya berubah menjadi merah, ia dipanggil La Rousse. Tadinya itu hanyalah panggilan biasa, tapi ketika seorang pendeta baru datang dan menyebarkan ajaran baru, Isabelle jadi dikucilkan, dianggap punya ‘hubungan batin’ dengan Sang Perawan. Ia harus menutup rapat-rapat rambutnya, agar tak sehelai pun rambut merahnya terlihat.

Karena hamil di luar nikah, Isabelle terpaksa menikah dengan Etienne Tournier. Keluarga Tournier adalah keluarga yang terpandang. Ayah Isabelle membenci mereka. Tinggal di rumah keluarga Tournier, tidak membuat Isabelle merasa tidak nyaman. Hampir semua bersikap memusuhinya, terutama ibu mertuanya, Hannah. Isabelle mempunyai 3 orang anak dari hasil pernikahannya dengan Etienne. Salah satunya perempuan, yang ia beri nama Marie – nama yang menjadi kontroversi pada masa itu.

Saat terjadi pembantaian besar-besaran, keluarga Tournier meninggalkan rumah dan lading pertanian mereka dan pindah ke desa lain.

Dan, selang 4 abad kemudian, Ella Turner pindah ke Perancis mengikuti suaminya yang ditugaskan di sana. Di Perancis, ia kerap merasa terasing. Karena di kota kecil itu, semua orang maunya berbahasa Perancis, dan meskipun berusaha berkomunikasi dengan bahasa Perancis yang masih belepotan, masih saja tidak ditanggapi dan malah dipandang sinis. Para penduduk kerap bergunjing dan mau tahu semua urusan orang lain. Ella menjadi merasa tidak nyaman.

Dari hasil korespondensi dengan kerabatnya, ia pun akhirnya mencari informasi tentang silsilah keluarganya, di mana ternyata nama Turner berasal dari nama Tournier. Dan, mulailah pencarian sejarah yang membawanya pada banyak perubahan. Dalam prosesnya, Ella berkenalan dengan seorang pustakawan, Jean-Paul.

Ella kerap mendapat mimpi-mimpi berwarna biru, biru yang sama seperti yang pernah dilihat Isabelle. Warna biru yang membawa malapetaka dan akhir yang tragis dari hidup anak perempuannya, Marie.

Biasanya gue tertarik membaca fiksi yang ada sejarah-sejarahnya sedikit. Tapi, entah kenapa, membaca buku yang gak terlalu tebal ini rada membuat gue bosan. Mungkin karena gue gak mencernanya dengan ‘sepenuh hati’, makanya gue juga agak gak menangkap inti cerita ini. Selain, bahwa banyak hal tabu di masa itu, bahwa orang lebih percaya takhayul ketimbang ajaran agama.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang