Monday, August 27, 2007

The Liebermann Papers: Vienna Blood

The Liebermann Papers: Vienna Blood
Frank Tallis
Berliani M Nugrahani (Terj.)
Qanita, 2007
592 Hal.

Pembukaan novel ini sudah cukup mengerikan. Diawali dengan matinya seekor ular besar kesayangan kaisar bernama Hiedelgard. Ular ini bukan hanya ‘sekedar’ mati. Yang bikin jadi misteri, karena ular ini ditemukan terpotong-potong menjadi 3 bagian. Inspektur Oskar Rheinhardt-lah yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini. Mengingat ini ular kesayangan kaisar, atasan Inspektur Rheinhardt tentu saja ingin kasus ini segera dituntaskan.

Belum lagi kasus aneh ini ditemukan jawabannya, terjadi lagi pembunuhan yang lebih sadis. Kali ini yang jadi korban bukan binatang, tapi manusia – tidak tanggung-tanggung, 4 korban sekaligus. Tepatnya, 4 orang wanita yang bekerja di rumah bordil. Kondisinya benar-benar mengerikan.

Pembunuhan itu bukan yang terakhir, karena diikuti lagi oleh dua pembunuhan lain yang tak kalah sadisnya. Inspektur Rheinhardt diliputi kebingungan memecahkan kasus pembunuhan berantai itu. Bahkan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak aman meninggalkan keluarganya di rumah.

Berdasarkan data-data yang dikumpulkan, disimpulkan korban dibunuh dengan pedang – bukti yang mengarah pada para tentara. Apalagi,dari hasil interogasi dengan saksi, rumah bordil itu sering didatangi para tentara yang ingin bersenang-senang. Lalu, ditemukan pula sebuah simbol aneh.

Inspektur Rheinhard meminta bantuan sahabatnya, Max Lieberman, yang mencoba menganalisa melalui sisi psikologisnya. Miss Lydgate juga kembali muncul untuk membantu Rheinhardt dan Lieberman.

Dari hasil penelitian Miss Lydgate, ditemukan beberapa hal yang menarik, yang sangat membantu Rheinhardt dan Lieberman dalam mengambil kesimpulan tentang si pelaku pembunuhan itu.

Pemecahan kasus ini seolah tidak mungkin, Rheinhardt dan Lieberman curiga tentang keterlibatan sebuah kelompok rahasia yang tidak akur dengan pihak kepolisian, dan mereka juga tidak begitu saja membiarkan orang luar masuk ke dalam ritual rahasia mereka. Tapi, demi mencegah terjadinya pembunuhan berikut yang diduga akan terjadi pada saat mereka menggelar ritual pengangkatan anggota baru, pimpinan organisasi itu terpaksa membiarkan Lieberman datang, meskipun untuk mencapai tempat yang ditentukan, mata Lieberman harus ditutup dan harus berjanji untuk tidak melibatkan pihak kepolisian.

Oh ya.. .satu lagi tentang Max Lieberman. Di buku ini, diceritakan, kalau Lieberman tengah dilanda kebimbangan dengan pertunangannya dengan Clara. Perasaan Lieberman mulai terombang-ambing, antara maju terus atau berhenti saja.

Kalau dibandingkan dengan novel pertamanya, A Death in Vienna, kasus di buku ini lebih sadis, lebih banyak korban dan lebih rumit. Masih dihiasi dengan musik-musik klasik dan makanan yang manis-manis tapi yummy. Satu lagi yang lucu, Lieberman terkagum-kagum dengan teknologi baru yang dipakai Rheinhardt yaitu… lampu senter. Sementara Miss Lydgate – yang menghadapi masalah gender di kampusnya - juga terlihat ‘keren dan cool’ dengan caranya menganalisa darah hewan dan darah manusia, plus waktu Rheinhardt harus menepuk-nepuk karung untuk ‘memisahkan’ debu.

0 comments:

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang