Showing posts with label Lucky No. 15 Reading Challenges. Show all posts
Showing posts with label Lucky No. 15 Reading Challenges. Show all posts

Thursday, August 20, 2015

I’ll Give You the Sun


I’ll Give You the Sun
Walker Books, 2015
429 pages

Gue jarang membaca kisah tentang anak kembar – kecuali serial St. Claire. Kalo itu sih cerita tentang anak kembar yang kaya’nya tanpa masalah atau problem yang rumit. Tapi di buku ini, gue menemukan dunia anak kembar yang sedikit bikin pusing.

Buku ini diceritakan secara bergantian oleh Noah dan Jude – Noah yang berumur 14 tahun dan ketika Jude berumur 16 tahun.

Noah – tipe-tipe anak lelaki yang penyendiri, suka melukis dan berimajinasi. Dalam narasinya, suka diselipkan kalimat ide dari lukisan atau potongan adegan dalam kehidupan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Berbeda dengan Jude, saudari kembarnya yang gaul.

Di usia remaja, usia di mana terjadi sedikit ‘pemberontakan’ dalam diri Jude. Semakin diatur sama ibunya, semakin Jude menunjukkan sifat berlawanan.

Kedekatan mereka ‘terganggu’ oleh rasa kecewa yang ada di dalam diri Noah dan Jude. Diawali dengan Noah yang kecewa karena Jude mendekati cowok yang dia sukai. Lalu, adanya ‘kompetisi’ yang diadakan ibu mereka, tanpa sengaja membuat jarak di antara mereka.

Ini gara-garaya, konon arwah Nenek mereka yang baru meninggal, berpesan bahwa Noah dan Jude harus masuk sekolah seni. Maka ibu mereka mengajak Noah dan Jude ke museum lalu membuat sketsa, dan akan dipilih siapa yang dirasa paling berbakat. Di sinilah Jude merasa bahwa ibu mereka lebih berpihak pada Noah. Jude merasa dilupakan.

Mungkin bakal dibuat bingung antara narasi Noah 14 tahun dan Jude 16 tahun. Apa yang terjadi di rentang dua tahun itu, akan mengerucut menjadi sebuah titik di mana pembaca akan jelas apa sebenarnya yang sedang terjadi. Menjawab berbagai pertanyaan kenapa Noah jadi ‘berantakan’, koq malah Jude yang masuk sekolah seni, siapa si English guy yang keren itu atau si pemahat yang misterius.

Buku yang diceritakan secara bergantian begini, selalu berhasil membuat gue penasaran. Satu kejadian dengan berbagai sudut pandang, yang bikin berbagai dugaan jadi sebuah kesimpulan. Ketika membaca bagian Noah, gue ikutan merasa sendiri dan kesepian, berasa ikut bermimpi bareng Noah. Ketika bagian Jude – yang cenderung lebih kelam, gue merasa ikutan  meresa hopeless, atau gelisah atau merasa bersalah, pengen berbaikan lagi dengan Noah.

Tokoh-tokohnya juga likeable. Noah si pemimpi – duh gue pengen gitu bisa bikin sketch kaya’ Noah. Atau Jude yang percaya sama hal-hal yang rada mistis. Gue suka hubungan antara Noah dan Jude, dengan hubungan yang gak terlalu harmonis, tapi mereka tetap saling melindungi, biarpun hanya dari jarak jauh.

Ooo.. gak ketinggalan Granma Sweetwine, dengan bible-nya yang berisi hal-hal superstitious, yang punya panggilan sayang untuk Tuhan. J

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Cover Lust
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Friday, August 14, 2015

Al Capone Does My Shirts


Al Capone Does My Shirts
Puffin Books
April 2006
288 hal.

Aduh ya ampunnn… udah lama banget sejak terakhir gue nulis blog ini. Entah kenapa mood nulis, bahkan mood baca rada menurun. Satu buku bisa lama banget gue selesain. Dan kalo pun udah selesai baca, ya udah, balikin lagi ke rak buku, terus lupa mau di-share di blog.

Mumpung lagi agak lowong dan agak-agak pengen santai dikit, gue mencoba mengingat-ingat beberapa buku terakhir yang gue baca.

Baca buku kategori anak memang selalu menyenangkan, gak harus melulu bercerita tentang hal-hal yang happy sepanjang buku, tapi juga cerita segala kerumitan dalam dunia anak yang kadang bikin gue ngerasa, masalah yang gue hadapi belum seberapa dibanding yang ada di dalam cerita.

Al Capone Does My Shirts – judulnya menggoda banget, selain cover-nya yang merah cerah. Siapa yang gak tau Al Capone, seorang gangster Amerika yang sangat berbahaya. Ia terlibat dalam berbagai kriminal – sebut aja penyelundupan minuman keras, penggelapan pajak, bahkan prostitusi. Tapi, ia juga bagai Robin Hood, di mana ia menggunakan uang illegal untuk membantu berbagai berbagai kegiatan amal. Al Capone juga diduga mendalangi sebuah pembunuhan masal di hari Valentine. Ia pun ditahan di penjara Alcatraz, sebuah penjara yang sangat ketat, dikenal dengan sebutan The Rock.

Okelah … ini bukan buku tentang Al Capone. Ini tentang Moose, anak laki-laki berusia 12 tahun yang harus pindah ke Pulau Alcatraz karena ayahnya mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga penjara. Tentu saja pindah ke pulau, jauh dari pusat kota, menjadi hal yang menyebalkan buat Moose. Kebayang betapa membosankannya , ia harus meninggalkan teman-teman lama-lamanya, masuk ke sekolah yang baru, beradapatasi lagi.  Belum lagi, ia harus menemani kakak perempuannya, Natalie yang mengidap sindrom autis. Ayahnya sibuk bekerja, sementara ibunya juga mencurahkan seluruh perhatian untuk Natalie. Tentu saja sebagai ibu, ia berharap Natalie bisa menjadi gadis ‘normal’, berkomunikasi dengan baik. Hal ini kadang membuat Moose merasa terabaikan, dan ingin sedikit merasakan kebebasan tanpa harus dibebani tugas untuk menjaga Natalie.

Di tempat  baru ini, Moose mulai berkenalan dengan beberapa anak sebaya – ada yang menjadi teman, dan ada satu anak perempuan yang ngeselin dan merasa sangat berkuasa hanya karena dia anak sipir Penjara Alcatraz. Dan mulailah Moose ‘terlibat’ dalam sebuah kegiatan yang melibatkan nama Al Capone untuk menarik perhatian. Melihat narapidana di Alcatraz, apalagi yang sekaliber Al Capone menjadi keinginan tersendiri bagi para anak-anak itu. Karena melihat narapidana adalah hal yang terlarang di Alcatraz.  Maka sekecil apa pun hal-hal yang berhubungan dengan narapidana menjadi hal yang menarik untuk anak-anak itu. Jadi dihembuskanlah desas-desus bahwa baju-baju mereka akan dicuci oleh Al Capone. Karuan saja, meskipun antara percaya dan tak percaya, teman-teman baru Moose tergoda untuk merelakan uang mereka demi agar baju mereka dicuci oleh Al Capone.

Gak kebayang gimana rasanya tinggal di lingkungan penjara. Apakah akan mengerikan, takut atau gak nyaman? Tapi katanya, justru di sinilah tempat yang paling aman. Ya, liat aja, para narapidana kan terkunci dengan ketat di balik jeruji, dengan penjagaan yang super ketat. Konon katanya lagi, pagar-pagar tak terkunci, anak-anak juga bebas bermain sampai  batas-batas yang ditentukan. Hanya saja, para perempuan – anak-anak atau dewasa, harus berpakaian tertutup. Karena kan .. .mmm.. ada banyak narapidana pria yang bertahun-tahun gak liat perempuan, jadi ya jaga-jaga aja deh… jadi, the most scariest place in the world, justru tempat yang paling aman. Belum lagi, ternyata fasilitasnya juga lengkap – kantor pos, sekolah, toko kelontong dan fasilitas penunjang lain. Gambaran ini membuat gue mendapatkan banyangan seperti apa keadaan keluarga Moose.

Satu lag yang menarik, buku ini gak hanya bercerita tentang petualangan Moose di Alcatraz, tapi juga sekelumit kisah tentang keluarga yang salah satu anggotanya pengidap sindrom autis. Bagaimana sang ibu yang berusaha keras agar Natalie bisa mendapatkan pendidikan atau terapi yang bisa membantunya keluar dari dunianya sendiri, bagaimana ayah Moose yang bekerja keras atau Moose yang menyayangi kakaknya, tapi juga kadang emosi dan frustasi hingga ingin menjauh dari kakaknya.


Gennifer Choldenko mengangkat kisah seputar keluarga yang tinggal di Alcatraz. Di bagian akhir cerita, ada beberapa wawancara dengan anak-anak yang dulu tinggal di sana. Dan Al Capone Does My Shirts adalah salah satu buku dari 3 seri Al Capone at Alcatraz.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Freebies Time
New Author Reading Challenge 2015
Children Literature Project

Project Baca Buku Cetak 2015

Thursday, June 04, 2015

To All the Boys I’ve Loved Before


To All the Boys I’ve Loved Before
Jenny Han @ 2014
Airien Kusumawardani (Terj.)
Penerbit Spring - 2015
380 hal.

Lara Jean memiliki sebuah kotak topi pemberian mendiang ibunya. Di dalam kotak ini, ia menyimpan segala benda-benda berharga dan sangat rahasia. Di antaranya adalah surat-surat yang ia tujukan kepada cowok-cowok yang pernah ia sukai. Tapi gak dikirim sih, tepatnya, surat ini sebagai sarana untuk melampiaskan rasa sedih, kecewa dan patah hati karena gak kesampaian punya hubungan special dengan cowok itu. Setelah surat itu selesai, maka Lara Jean akan merasa lebih lega, karena segala macem perasaan dia ke cowok itu bakal hilang.

Tapi, suatu hari … tanpa disangka-sangka, surat-surat itu terkirim secara misterius. Karena .. ya sayangnya, meskipun surat itu gak dikirim, di amplopnya tetap tertulis nama dan alamat penerima. Salah satu penerima surat itu, Peter Kavinsky, cowok yang pernah disukai Lara Jean, tiba-tiba mendatanginya sambil membawa surat tersebut. Karuan Lara Jean panik, karena surat-surat itu bukan hanya ditujukan untuk Peter, tapi juga ada yang ke Josh, mantan pacar kakaknya, yang juga tetangga Lara Jean dan sering banget main ke rumah.

Setelah kejadian ini, dunia Lara Jean tak sama lagi. Lara Jean jadi gak tenang. Hubungan dia dengan Josh juga jadi kaku. Lara Jean takut mengkhianati kakaknya. Sampai akhirnya, biar Josh gak ‘mengganggu’, maka Lara Jean membuat kesepakatan dengan Peter, bahwa mereka akan berpacaran bohong-bohongan.

Tapi, hubungan pura-pura itu juga jadi rumit, Lara Jean bukan termasuk gadis yang populer di sekolah, sementara Peter Kavinsky adahal salah satu cowok idola para gadis dan baru saja putus dengan pacarnya. Perasaan Lara Jean juga jadi terbelah, antara masih memendam perasaan sama Josh, tapi juga koq ya ada rasa-rasa yang ‘gak bener ketika dia bersama Peter.

Lara Jean ini, tipe gadis yang susah untuk keluar dari comfort zone-nya. Takut mencoba hal baru, takut dengan segala perubahan dan lebih sering mengorbankan perasaannnya daripada  harus membuat orang yang ia sayangi kecewa. Sebagai anak kedua, ia terbiasa dengan perasaan secure dengan adanya seorang kakak perempuan. Lara Jean memiliki satu kakak perempuand dan satu adik perempuan. Ibu mereka sudah meninggal, sehingga mereka terbiasa mengurus segala urusan rumah tangga sendiri. Tentu saja dengan Margot yang in charge dalam  berbagai hal. Ketika Margot sekolah ke Skotlandia, Lara Jean jadi sedikit kehilangan pegangan, terbiasa melimpahkan segala persoalan ke Margot, dan kini di saat ia panik karena rahasianya terbongkar, Lara Jean yang biasa tertutup, harus menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Gue suka dengan latar belakang keluarga ini, blasteran Korea-Amerika membuat mereka jadi keluarga dengan latar yang unik. Kebiasaan Amerika, bercampur dengan budaya Korea.

Dan di akhir cerita, gue jadi bingung – harus ‘puk-puk’ Josh apa Peter ya …  Baca cerita ABG begini, seru juga, sekali-sekali biar rada 'mudaan' dikit .. inget-inget masa ABG. Cerita yang ringan, berasa kaya’ mereka ini ya tetangga sebelah rumah gue.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Who Are You Again?
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Wednesday, May 20, 2015

The Golem and The Jinni


The Golem and The Jinni (Sang Golem dan Sang Jin)
Helena Wecker
Lulu Fitri Rahman (Terj.)
GPU - 2015
664 hal.

Ini adalah sebuah kisah persabahatan yang unik, yang bermula dari hal-hal yang tak terduga.

Seorang pria kesepian, mencari seorang istri. Tapi karena penampilan yang tertalu menarik, padahal ia banyak uang, ia agak kesulitan mendekati wanita. Maka, ia pun menempuh cara yang sangat ekstrim dan ajaib. Ia datang kepada seorang Rabi bernama Yehudah Schaalman, dan minta dibuatkan sebuah golem dalam wujud perempuan untuk ia jadikan istri. Meskipun ini adalah permintaan yang tak biasa, toh Rabi menyanggupinya. Ketika golem itu selesai, sejumlah petunjuk diberikan kepada pria itu, sebelum ia ‘menghidupkan’ golem tersebut.

Berlayarlah golem dan pria itu menuju New York. Karena tak sabar, golem itu segera ‘dihidupkan’. Golem yang diberi nama Chava itu akan mengikuti apa pun perintah tuannya – yang sayangnya dalam perjalanan itu meninggal dunia karena sakit. Golem perempuan itu dipandang sebagai janda yang berduka, meskipun menimbulkan banyak pertanyaan dari penumpang lain.

Tak tahu harus berbuat apa, maka Chava tiba di Amerika. Chava sangat lugu dan polos, tapi ia juga punya rasa takut ketika nyaris ditangkap polisi. Untung ada Rabi Meyer yang menyelamatkannya. Sang Rabi tahu bahwa Chava adalah sosok yang berbeda. Sejak saat itu, Rabi Meyer mengajak Chava tinggal bersama, mencarikan pekerjaan dan membimbing Chava agar bisa berbaur. Sulit bagi Chava untuk menahan diri, karena ia bisa ‘mendengar’ apa yang ada di benak orang-orang.

Sementara itu, ada jin yang tanpa sengaja dibebaskan dari guci yang hendak diperbaiki di sebuah bengkel pandai besi. Arbeely, pemilik bengkel itu, tentu saja kaget ada makhluk berwujud laki-laki muncul begitu saja. Jin itu diberi nama Ahmad. Terkurung 1000 tahun dalam guci, membuat Ahmad sedikit bingung karena menemukan dirinya ‘terdampar’ jauh dari tempat asalnya. Ternyata kedatangan Ahmad membuat bengkel Arbeely tambah maju, karena Ahmad ini juga terampil mengolah logam.

Ketika Chava dan Ahmad bertemu, mereka berdua langsung tahu kalau mereka berbeda. Chava sempat ketakutan, tapi lama-lama menantikan pertemuan mereka, di mana mereka mengenal satu sama lain dan pelan-pelan saling memahami. Ahmad mengajak Chava melihat hal-hal baru, Chava yang pemalu pun mulai membuka dirinya. Hingga akhirnya, mereka berdua sampai pada satu titik yang membuat mereka sama.

Sulit membayangkan bahwa Chava, sosok perempuan, berbadan ‘besar’ dan ‘kekar’, tapi punya sisi yang lembut. Tapi juga harus hati-hati, jika ada yang mengganggunya, maka sifat asli sebagai ‘penghancur’ akan timbul. Sementara, Ahmad, jin yang tentu saja berasal dari api, membawa kehangatan dan rasa nyaman. Ahmad sosok yang misterius, yang terus mencari apa yang membawanya sampai ia bisa terperangkap dalam guci. Chava dan Ahmad, sama-sama mencari kebebasan, sama-sama sendiri .

Termasuk kategori novel ‘bantal’ tapi rasanya menyenangkan membaca kisah mereka berdua. Pergantian bab dengan sudut pandang yang berbeda, berpindah secara ‘mulus’. Ada banyak detail yang berbeda di dalam buku ini. Pertama, tentu saja sosok Chava dan Ahmad. Lalu latar budaya, misalnya lingkungan tempat Chava tinggal, mayoritas adalah umat Yahudi, sementara Ahmad berada di lingkungan yang mayoritas Muslim.

Berbagai karakter manusia juga ada di dalam buku ini, Yehudah Schaalman yang menurut gue sih rada tamak dan mau menguasai segalanya, Rabi Meyer yang sabar, Maryam Faddoul yang ramah, tapi juga ‘rumpi’, Sophia – mewakili kalangan kelas atas di New York, putri keluarga terpandang yang tentu saja segala aib menyangkut dirinya harus disembunyikan rapat-rapat.


Membaca novel tebal ini jadi gak terasa membosankan, malah semakin ke belakang, semakin menarik dengan berbagai detail yang bikin penasaran.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Chunky Brick
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, April 28, 2015

Secret Daughter


Secret Daughter

William Morrow – 2010
346 pages

Dahanu, India
Seorang perempuan bernama Kavita, berjuang menghadapi persalinannya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi, bayi perempuan yang akan segera lahir itu harus segera ‘disingkirkan’. Bayi ini adalah anak kedua Kavita dan Jasu, tapi lagi-lagi perempuan. Jasu bersikap masa bodoh, dan tak peduli apa yang akan dilakukan Kavita terhadap bayi tersebut.

3 hari setelah dilahirkan, Ashu – bayi perempuan itu, diserahkan ke panti asuhan di Mumbai.

Setahun kemudian, Kavita mengandung lagi, kali ini laki-laki dan disambut dengan suka cita oleh Jasu dan keluarganya. Perlakukan mereka terhadap Kavita sangat berbeda dibanding ketika Kavita mengandung anak perempuan.

Amerika
Sementara itu, Somer dan Khrisnan, pasangan dokter ini, menghadapi masalah. Lagi-lagi, Somer keguguran dan divonis tidak akan bisa mengandung lagi karena mengalami ‘menopause dini’.

DI tengah keputusasaan, Khrisnan menawarkan alternatif untuk mengadopsi anak dari India. Dengan birokrasi yang berbelit-belit, akhirnya, seorang anak perempuan resmi diadopsi oleh Somer dan Khrisnan.

Masalah budaya, adat istiadat, kepercayaan dan social menjadi isu di dalam buku ini. Pertama, bahwa anak laki-laki dinilai lebih ‘berharga’ dibanding anak perempuan. Anak laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung dan kebanggaan keluarga, yang akan membawa keluarganya ke arah yang lebih baik. Sementara, anak perempuan dianggap bawa ‘sial’ – yang nantinya akan nyusahin, terutama saat akan menikah. Dalam budaya India, pihak calon mempelai perempuanlah yang harus membayar mahar. Dan semakin tua umur perempuan, semakin sulit mendapatkan calon menantu yang layak. Maka itu, banyak jabang bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup, dibuang atau diserahkan ke panti asuhan.

Dalam hal Somer, sebagai perempuan Amerika, tentu saja sulit untuk menerima atau menyerap budaya India. Terkadang ia merasa ada jarak antara dirinya dan Asha, yang otomatis lebih mirip dengan Khrisnan yang memang berasal dari India.

Tapi gue salut dengan keluarga Khrisnan, yang meskipun orang India yang sangat menghargai tradisi dan budaya, bisa menerima Somer dan tak membahas masalah infertilitas Somer.

Yang membuat gue agak terganggu, adalah terlalu banyak cerita dari berbagai sudut pandang – ada Kavita, Asha, Somer, Khrisnan, Jasu. Gue mungkin masih bisa lebih menikmati kalau yang bercerita adalah Kavita, Somer dan Asha. Biar lebih fokus dan ‘terasa’ dramanya.


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: It’s Been There Forever
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015


Tuesday, March 24, 2015

Me Before You


You (Sebelum Mengenalmu)

Jojo Moyes @ 2012
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Mei 2013
656 hal.


*  Watch Out!! Ada SPOILER sedikit*

*sigh* … gimana nih mau nulisnya … abis ceritanya sedih sih … meskipun sejak awal gue bakal tau ending-nya kaya’ gimana … tapi dengan bodohnya gue berharap akhir yang berbeda …

Louisa Clark, seorang gadis muda dengan pembawaan yang ceria, penggemar fashion yang rada aneh untuk ukuran kota kecil. Karena pemilik café tempatnya bekerja memutuskan pulang ke Australia, Lou-pun kehilangan pekerjaannya. Padahal ia adalah tulang punggung keluarga. Sampai akhirnya, bursa kerja menawarkan pekerjaan baru dengan bayaran yang cukup tinggi. Meskipun tanpa pengalaman, Lou diterima bekerja sebagai perawat Will Traynor.

Will Traynor, mantan pengusaha yang lumpuh akibat kecelakan motor. Will yang tadinya aktif, seorang petualang dan bertubuh bugar ,menjadi pribadi yang murung, pendiam dan mudah marah. Ya, Dengan kondisi yang nyaris 24 jam butuh bantuan, tentu saja membuat Will frustasi.

Menjadi perawat Will tentu saja tak mudah bagi Lou – yang kaya’nya semua yang Lou kerjakan selalu salah dan mendapatkan tanggapan sinis dari Will. Tapi, dasar Lou ini orangnya cuek, adakalanya Lou malah balik ‘menantang’ kata-kata Will. Dan berkat sifat Lou yang polos ini, Will perlahan mulai sedikit lebih ceria.

Tapi, tentu saja lelah ya.. hidup hanya berputar-putar dengan kursi roda, gak bisa ngapa-ngapain tanpa dibantu, mudah sakit dan lain-lain. Lou mengetahui keputusan Will untuk menghubungi Dignitas – kira-kira artinya rumah sakit yang memberikan ‘pelayan’ bagi orang-orang yang sakit untuk ‘bunuh diri’ secara legal atau meninggal lebih cepat dari waktunya. Maka Lou pun berusaha membuat Will mengubah keputusannya – mulai dari mengajak Will nonton pacuan kuda, nonton musik klasik, sampai jalan-jalan ke Mauritius.

Dan bukan hanya Will yang jadi lebih bersemangat, tapi diam-diam Will juga berperan dalam perubahan pada Lou – gadis yang hanya berani bermimpi dan takut untuk keluar dari zona nyamannya. Sindiran-sindiran, ledekan Will malah membuat Lou percaya bahwa ia bisa ‘mengepakkan sayap’ dan terbang mewujudkan mimpinya.

Rasanya lucu membayangkan chemistry yang pelan-pelan terbangun antara Lou dan Will. Lou, gadis dari keluarga sederhana, mampu membuat Will, yang tajir mampus ini luluh. Bukan kisah cinta klise antara si kaya dan si miskin.. tapi antara dua orang yang berbeda kutub tapi mampu menjadi sahabat dan kemudia mencintai.

Entahlah … apakah cerita ini berakhir sedih atau bahagia … tapi, keduanya sama-sama tersenyum di akhir cerita … bahagia dan saling menghargai keputusan masing-masing.

Pilihan yang berat bagi Will, keluarganya juga Lou .. seperti menentang Tuhan, atau malah cermin keputusasaan … tapi, membaca kondisi Will, yang akan selalu bergantung pada orang lain seumur hidup, bukan hanya membuat Will lelah, tapi juga bakal membuat orang-orang di sekitarnya juga lelah. Adalah takdir – yang mempertemukan Lou dan Will, agar kehidupan mereka jadi lebih berarti meskipun dalam waktu singkat *eh .. spoiler lagi  ya?*

Yang rada menggangu buat gue sih, ketika ada narasi dari orang lain, kaya’ Nathan, ayah Will atau Katrina, adik Lou – mungkin tujuannya untuk memberikan pandangan dari pihak lain, tapi koq rada gak pas aja menurut gue.

Mungkin karakter Lou sedikit ‘lebay’ ya – 26 tahun tapi masih suka konyol dan kekanak-kanakan, rada egois – bahkan sama keponakannya sendiri sedikit gak mau ngalah. Tapi  ya, kadang gue selalu berusaha nyari ‘pembenaran’ atas karakter seseorang, mungkin Lou berpikir, selama ini dia yang menopang keluarga itu, jadi ya wajar kalo dia sedikit menuntut – misalnya pengen kamar yang lebih besar. Tapi karakter Lou yang ceria ini jadi penyeimbang karakter Will yang muram.

Selesai baca buku ini … aku patah hati … *huhuhu* … tapi gue ikut senyum bareng Lou yang lagi ngupi-ngupi di Paris …

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Chunky Brick
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, March 17, 2015

Wintergirls


Wintergirls

Laurie Halse Andeson @ 2009

Speak - 2010

278 pages


Bersiaplah untuk ikut merasa depresi dan ‘tersedot’ dalam kegelapan bersama Lia dan Cassie.

Kedua gadis ini mengidap anoreksia dan bulimia. Keduanya sama-sama berjanji untuk menjadi the skinniest girls. Semua tentu saja karena tuntutan lingkungan sekolah mereka. Sebenarny Cassie lah yang mengajak Lia untuk bersama-sama jadi gadis paling kurus, sebagai sahabat yang baik, Lia meng-iyakan ajakan Cassie tersebut. Tapi, persahabatan mereka putus. Namun tak menghentikan Lia untuk terus menghitung berapa banyak jumlah kalori yang ia konsumsi dalam setiap makanan dan minuman.

Lia merasa bersalah ketika Cassie ditemukan tewas di sebuah kamar motel … sendirian. Semakin terpuruk ketika ia tahu Cassie meneleponnya sebanyak 33 kali dan tak dijawabnya.

Sejujurnya karakter Lia ini lumayan ngeselin buat gue. Kaya’nya gak mau gitu diperhatiin, diurusin sama orang. Lia bukan berasal dari keluarga yang ‘kacau balau’ atau istilahnya ‘broken home’. Ayah Lia seorang professor dan Ibu Lia seorang dokter bedah jantung. Memang Ibu Lia cenderung mengatur apalagi dalam hal pola makan … tapi ya, gue sih ngerti aja.. mana ada gitu orang tua yang pengen anaknya jadi sekurus sapu … Lia juga akrab dengan ibu tirinya. Bahkan, perhatian dengan adik tirinya, Emma. Memang Lia bukanlah gadis yang popular di sekolah seperti Cassie, tapi toh dia gak terlalu kesepian.

Sementara terus ‘memberontak’ dengan aturan-aturan dari orang tuanya, Lia juga harus berurusan dengan Cassie yang menghantui Lia. Cassie seolah malah member semangat bagi Lia untuk terus mengurangi makannya, dan malah berharap Lia akan segera ‘bergabung’ dengannya. Gue jadi bertanya-tanya, si Lia ini sebenernya kenapa? Apa yang pengen dia buktikan terhadap orang tuanya? Apakah sebagai bukti dia bukan anak-anak lagi? Atau hanya ingin protes terhadap Ibunya?

Kondisi Lia yang sejak awal terkesan begitu terpuruk dan suram, bisa bikin jadi stress. Jadi, kalo lagi mood lagi gak bagus, lagi banyak pikiran.. disarankan jangan baca buku ini ya .. kadang Lia ini tergiur dengan makanan yang enak-enak – antara pikiran sama kenyataan bertolak belakang.

Anoreksia dan bulimia ini memang mengerikan – waktu gue abis posting foto cover Wintergirls di instagram, gak lama foto gue di-like yang ketika gue klik id-nya adalah salah satu pengidap bulimia/anoreksia. Di salah satu foto, dia juga menuliskan berapa kalori dari makanan dan minuman yang ia konsumsi – persis seperti Lia. Bahkan, dari buku Wintergirls ini, gue juga tau, ada semacam komunitas untuk orang-orang seperti Lia, yang saling mendukung ‘program pengurusan badan’ ini, merasa jijik terhadap diri mereka sendiri ketika berat badan mereka bertambah atau setelah mengkonsumsi makanan yang sedikit berlebih.

Aduh.. gue sangat bersyukur, gue masih ‘suka’ makan – gue pemakan segala yang enak-enak (ya iya lah…hehehe) dan amit-amit .. jangan sampai gue punya perasaan menyesal setelah makan.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: One Word Only!

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, March 10, 2015

The First Phone Call from Heaven


The First Phone Call from Heaven

Mitch Albom @ 2013

Harper - 2014

326 pages


Kota kecil bernama Coldwater itu mendadak menjadi ramai dibicarakan orang. Kota yang tadinya sepi dan tenang, tiba-tiba menjadi pusat perhatian, menjadi tempat tujuan wisata religius, mengundang kemacetan dan memberikan banyak keuntungan bagi pemilik bisnis di kota itu. Semua ini terjadi setelah seorang perempuan bernama Katherine yang mengaku mendapat telepone dari Diane, saudari perempuannya yang sudah meninggal. Tentu saja pengakuan yang ia buat di depan umum saat kebaktian itu mengundang perhatian dan pertanyaan banyak orang.

Kenapa Katherine yang ‘dipilih’? Kenapa bukan orang lain? Kenapa Coldwater? Fenomena ini membuat orang kemana-mana bawa telepone, berjaga-jaga, siapa tau kali ini giliran mereka. Gereja di Coldwater pun menjadi pusat perhatian. Ada yang percaya akan keajaiban itu, ada yang merasa ini hanya ‘hoax’.

Sebenarnya, bukan hanya Katherine yang mendapatkan ‘telepon dari surga’ ini – Jack Sellers, seorang polisi yang mendapat telepon dari Robbie, yang tewas ketika bertugas di Afganistan, lalu ada Tess, yang mendapat telepon dari ibunya, kemudian ada beberapa orang lagi – di mana mereka semua pada awalnya gak percaya akan hal ini. Tapi toh, akhirnya, setiap hari Jum’at mereka menantikan telepon itu.

Salah satu media mengirimkan reporter mereka untuk sebuah liputan eksklusif. Bahkan jenis telepon yang dimiliki Katherine itu jadi laris kembali di pasaran.

Seorang mantan tentara yang baru keluar dari penjara bernama Sully Harding, merasa ada sesuatu yang salah dengan hal ini. Ia sendiri baru saja kehilangan istrinya, Giselle, yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan anak mereka, Jules, setiap hari menantikan siapa tahu sang Ibu akan menelepon. Harapan seorang anak yang kangen sama ibunya. Sementara sebagai orang yang kurang percaya akan ‘surga’, Sully merasa hal ini sangat mengganggu kehidupan dirinya dan juga putranya. Seolah-olah member harapan palsu pada anak kecil, dan juga mungkin orang lain. Yakin ada yang gak beres, Sully pun melakukan penyelidikan.

Sementara keyakinan orang semakin terbelah – antara percaya atau gak – Katherine memutuskan untuk membuktikan bahwa dirinya tak berbohong di depan khalayak ramai.

Hmmm.. sejujurnya gue rada kecewa dengan buku Mitch Albom kali ini. Gak tau kenapa kurang ‘klik’ – gak seperti ketika gue pertama kali ‘jatuh cinta’ dengan Mitch Albom saat membaca Five People You Meet in Heaven, atau Tuesday with Morrie, For One More Day atau The Time Keeper.

Tapi tetap aja sih … ada koq sesuatu yang bisa ‘dipetik’ dari buku ini. Kembali ke keyakinan masing-masing – tentang akankah ada kehidupan setelah kematian, ke mana kita akan ‘pulang’ nanti? Apakah surga itu benar-benar ada? Dan, meskipun berat kehilangan orang-orang yang kita cintai, semua harus kembali berjalan meskipun gak sama … So .. sekali lagi .. banyak-banyak bersyukur … dan ikhlas …

Hmmm.. tapi nih, gak perlu nunggu ‘telepon dari surga’ dulu untuk bisa bicara dengan orang yang sudah meninggal. Banyak kan yang ‘mengklaim’ bisa memanggil ‘arwah’. Percaya atau gak … memang mungkin ada yang beneran, atau hanya ‘paranormal’ yang bisa-bisaan aja, dan bikin orang jadi percaya. Hihihi.. kalo dalam versi film horror, buku ini judulnya ‘Panggilan dari Kubur.’ … Nah gue jadi merinding sendiri kan….


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Favorite Color

Project Baca Buku Cetak 2015

Wednesday, March 04, 2015

Happily Ever After


Happily Ever After

Gagas Media – Desember 2014
356 hal.

Maunya cooling down dulu setelah baca Gone Girl – melepaskan ketegangan, meninggalkan segala kesintingan dari Gone Girl. Maka carilah buku yang ringan-ringan, yang romantis. Jatuhlah pilihan pada buku ini, karena.. hmm.. tentu saja karena cover-nya. Dua buah rumah yang berbentuk seperti buku, ditambah lagi sinopsis di mana tokoh-tokohnya juga penggemar berat buku.

Tapi… huhuhu… selesai baca buku ini, gue malah pengen mewek …. Inget Papa, inget Mama … inget Mika .. huhuhu… and some people say, I’m a daddy’s girl.. huaaaa makin pengen nangis…

Ini cerita tentang Lulu – gadis 16 tahun yang besar dengan dongeng-dongeng yang dibacakan ayahnya. Ayah Lulu ini adalah seorang arsitek – dan ‘mupeng’lah gue dengan segala deskripsi rumah Lulu yang dijabarkan di sini. Lulu memang lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya. Tapi, mereka ini gambaran keluarga yang asyik koq … nyaris tanpa konflik di dalam keluarga.

Tapi, meskipun Lulu ini ceria di rumah, berbeda ketika ia berada di sekolah. Ia termasuk gadis yang introvert, sering jadi sasaran ‘bullying’, apalagi dengan dandanan yang bergaya gothic, pas banget lah, Lulu dicap gadis yang aneh. Lulu gak punya teman. Sahabat satu-satunya, Karin, memutuskan untuk menjauh dan menjadi salah satu di antara gadis-gadis popular di sekolah yang gemar ngerjain anak-anak yang kurang oke di mata mereka. Belum lagi, Karin juga merebut Ezra, pacar Lulu.

Hidup memang bisa dengan cepat berubah… detik ini semua terasa begitu ceria, dan tanpa beban yang berarti , tiba-tiba bisa langsung berganti muram ketika datang kabar buruk. Mendung mulai menghantui rumah Lulu saat ayah Lulu divonis kanker. Di usianya yang sedemikian muda, Lulu harus belajar untuk tegar dan bersiap untuk  sebuah kehilangan besar.

Lulu, gadis yang gak bisa mengungkapkan perasaanya. Segala kesedihan ia redam, amarah juga gak berani dia sampaikan. Pengen bicara sama orang lain, tapi dia kan gak punya teman. Sampai akhirnya ia ketemu Eli – penderita tumor otak yang kelihatan cuek aja dengan penyakit yang dideritanya, tapi toh juga menyimpan rasa takut.

Seperti kata bundanya Lulu, gak akan ada yang pernah siap untuk kehilangan orang yang mereka cintai dan sayangi, apalagi seorang yang selama ini menjadi sosok yang membuat kita aman dan dilindungi.

Buat gue, terlepas dari berbagai permasalahan yang ‘standard’ dalam buku ini – sahabat ngerebut pacar, jadi bahan ejekan di sekolah – gue suka dengan tokoh-tokoh di dalam buku ini yang kaya’nya saling memberikan semangat dan melindungi. Lulu, bunda, ayah, Eli bahkan Karin sekalipun, berlagak sok tegar padahal di dalamnya mereka hancur.

Terus gue heran ya … ini sekolah apa sih?? Koq muridnya boleh punya tattoo, terus boleh pake rok mini, pake kuteks … Dan, kaya’nya penyelesaian konflik antara Karin dan Lulu juga simple banget… gue sebagai pembaca masih sangat kepo .. gue juga ‘menuntut’ penjelasan dari Ezra, yang udah kaya’ bayangan aja … muncul seketika, lalu hilang lagi .. sampai di akhir cerita.

Lalu… seketika… I remember my own family – orang tua gue dan juga Mika … inget betapa waktu rasanya cepat banget berlalu … ngeliat orang tua gue yang tadinya segar bugar, sekarang mulai terlihat ‘tua’ dan gampang sakit .. inget Mika yang kaya’nya baru kemarin masuk Kelompok Bermain … tau-tau udah SD aja ... Buku ini kembali mengingatkan gue untuk semakin menghargai dan mensyukuri waktu-waktu bersama keluarga gue ….

Ah… udah ah… ntar nangis lagi nih….

Dan terinspirasi sama Eli dan Lulu … this is my own bucket list:

1. Bacain cerita buat Mika lagi seperti dulu waktu Mika belum bisa baca
2. Jalan-jalan berduaan aja sama Mika – susah nih, soalnya Mika bilang, lebih seru pergi rame-rame.
3. … lanjutin nanti aja kalo kepikiran lagi

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Cover Lust

Project Baca Buku Cetak 2015

Monday, March 02, 2015

Gone Girl


Gone Girl

Crown – 2012
560 pages

Di hari ulang tahun pernikahan yang kelima, Amy Elliot Dunne menghilang. Seorang tetangga member tahu Nick Dunne, ada yang aneh dengan kondisi rumah mereka pagi itu. Kucing kesayangan Amy ada di luar, pintu terbuka, setrika belum dimatikan. Nick pun langsung melapor ke polisi. Sebuah keadaan yang tak biasa dan aneh.

Seperti ulang tahun perkawinan yang di tahun-tahun sebelumnya, Amy selalu meninggalkan petunjuk, mengajak Nick bermain ‘treasure hunt’ dengan clue yang mengarah ke ‘seberapa jauh Nick mengenal Amy’. Tapi clue kali ini, menurut Nick tak sesulit tahun-tahun sebelumnya, justru lebih ke tempat-tempat yang akrab dengan Nick.

Hari demi hari berlalu, tanpa petunjuk yang berarti tentang di mana keberadaan Amy. Polisi, media dan juga masyarakat mulai menghakimi Nick dan menuduh Nick membunuh Amy.

Tapi, melalui petunjuk treasure hunt yang ditinggalkan Amy, Nick mulai menemukan berbagai keanehan yang membuat Nick bertanya-tanya apakah selama ini ia memang mengenal Amy secara utuh? Dan dari petunjuk itu malah semakin jelas bahwa Amy dibunuh oleh suaminya sendiri – gak perlu deh nulis apa aja itu di sini, ntar jadi spoiler.. Tanpa bukti-bukti lain yang bisa membebaskan Nick dari tuduhan itu, bisa jadi Nick akan dijatuhi hukuman mati. *seketika terbayang Ben Affleck – puk puk, Nick …*

Pernikahan mereka memang sedang dalam masalah, hari-hari terasa hambar dan monoton. Amy – dikenal sebagai Amazing Amy, buku karangan orang tuanya dengan Amy  sebagai inspirasi. Amy pun ‘dituntut’ untuk jadi sempuran seperti Amazing Amy. Sedangkan Nick, sosok laki-laki yang nyaris gak pernah tanya, apa sih maunya Amy, semua serba ok dan ia yakin Amy bahagia.

Di buku ini, Amy dan Nick bergantian menjadi narrator, Amy lewat buku hariannya dan Nick ketika menjalani hari-hari dalam proses pencarian Amy. Tokoh-tokoh di buku ini benar-benar ‘membolak-balikkan’ perasaan gue. Dari bersimpati dengan salah satu tokoh, tiba-tiba bisa berbalik jadi benci dan kesal. Di awal gue yakin, Nick gak bersalah, tapi tiba-tiba dengan segala kebohongan Nick, gue tiba-tiba ikut bertanya-tanya ‘eh, apa bener Amy dibunuh sama Nick?’ Dan tiba-tiba, gue ‘dikagetkan ‘dengan petunjuk baru yang membuat gue terperangah, bengong dan mikir ‘Gila … bener-bener sakit jiwa.’ Ada rasa ngeri, ngilu dan lagi-lagi bilang ‘Astagaa….’

Meskipun ada bagian-bagian yang nyaris membuat gue bosan, tapi ‘terhapuskan’ dengan segala ‘kegilaan’ yang muncul. Nah.. entah berapa kali gue nulis kata ‘gila’ di sini … karena gue nyaris ikutan ‘gila’ bareng penulis, nyaris frustasi juga kaya’ Nick atau ikutan sinting baca diary-nya Amy …


Submitted for:

New Author Reading Challenge 2015
Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Freebies Time

Project Baca Buku Cetak 2015

Friday, February 27, 2015

One Hundred Names


One Hundred Names (Seratus Nama)

Cecelia Ahern

Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)

GPU - 204

464 hal.


Kitty Logan, seorang jurnalis, sedang tersangkut kasus pencemaran nama baik seorang guru. Lewat program di sebuah stasiun televisi, ia menuduh pria tersebut melakukan pelecehan seksual terhadap dua orang perempuan. Nama Kitty langsung tercoreng ketika kasus tersebut terbukti tidak  benar. Karirnya sebagai presenter di televisi hancur, setiap hari ia harus berhadapan dengan teror.

Kesempatan untuk membuktikan bahwa Kitty adalah jurnalis yang layak diperhitungkan datang, saat majalah tempatnya bekerja membuat edisi ‘tribute’ untuk pimpinan mereka, Constance yang meninggal dunia karena kanker.

Sejak awal, Constance selalu percaya bahwa Kitty adalah jurnalis yang handal. Dunia pertelivisianlah yang sudah membuat Kitty sejenak lupa. Constance meninggalkan sebuah ‘warisan’ berisi daftar seratus nama asing. Tapi, mengingat pribadi Constance yang unik, Kitty yakin, bahwa Constace punya tujuan tersendiri dengan nama-nama tersebut dan tanpa dibekali petunjuk lain, Kitty harus menuntaskan tugas mencari orang-orang itu dalam waktu dua minggu. Bagi Kitty, inilah saatnya membuktikan diri bahwa ia mampu.

Tentu saja tak mudah, ya kira-kira kalo kata pepatah tuh, bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami. Memang akhirnya gak semua orang dari seratus nama itu berhasil ia temui dalam waktu dua minggu – hanya 6 orang. Tapi, dari 6 orang itu – dengan keunikan dan kisah masing-masing, akhirnya Kitty sadar apa maksud dan tujuan Constance.

Sebuah kisah yang mengharukan dan bikin hangat di kala musim hujan kaya’ gini. Yang membuat gue tertarik adalah tagline dari buku ini “Setiap orang punya kisah untuk diceritakan” Membuat gue penasaran, seperti apa kisah-kisah dari masing-masing orang. Ya, tentu aja, kalo ternyata Kitty berhasil menemukan 100 orang itu dalam waktu dua minggu, maka gue akan menganggap buku ini rada berlebihan dan klise, tapi hanya dengan 6 orang, buku ini jadi lebih ‘nendang’.

Gue jadi inget akun ‘Humans of New  York’, cerita-cerita dari orang yang mungkin ‘dicomot’ dari tengah jalan, ditodong untuk foto dan cerita, tapi hanya dengan kalimat singkat yang menyertai foto itu, gue jadi merasa tahu sekelumit kisah yang sangat pribadi. Ada cerita yang unik, lucu, atau bahkan pahit dan getir. Tapi, pas banget, kalo semua orang itu punya kisah masing-masing, yang bikin orang itu jadi spesial.



Submitted for:

Baca Bareng BBI 2015 – tema: profesi
Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Something New

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, February 24, 2015

This is Where I Leave You


This is Where I Leave You

Jonathan Tropper @ 2009

Plume – 2010
339 pages

Anak-anak keluarga Foxmann, kembali berkumpul di rumah masa kecil mereka untuk menjalani masa berkabung atas meninggalnya ayah mereka, sesuai dengan permintaan terakhir sang ayah. Dan sebagai penganut kepercayaan Yahudi, mereka menjalani masa berkabung itu dengan melakukan ritual ‘duduk shiva’ – di mana selama tujuh hari, anggota keluarga almarhum, berkumpul di rumah dan menerima pengunjung yang datang.

Sebagai anak-anak yang sudah dewasa berkumpul bersama kembali membawa kenangan masa kecil mereka. Yang jika dilihat begitu saja, mereka tampak gak akrab, gengsi menunjukkan rasa sayang, tapi pada dasarnya mereka saling peduli.

Keluarga Foxmann adalah keluarga yang sangat terbuka. Ibu mereka, Hillary, adalah seorang penulis buku panduan mendidik anak yang sukses. Paul, yang tertua, sedang berusaha punya anak setelah sekian lama menikah, Wendy, perempuan satu-satunya, menikah dengah seorang pengusaha sukses dan memiliki 3 anak, lalu Judd (narrator dalam buku ini), sedang mengalami masa-masa krisis dalam pernikahannya sejak ia memergoki istrinya selingkuh dengan boss-nya. Lalu, yang paling kecil, Philip, yang paling ‘bebas’.

Saking bebasnya, mereka bisa bicara hal-hal dewasa tanpa tedeng aling-aling, menganggap seks sebagai hal yang wajar dan gak perlu ditutupi. Membicarakan masalah rumah tangga dengan sangat terbuka – atau bahkan terkesan cuek.

Kadang gue suka terkaget-kaget kalo baca novel dengan setting keluarga nyentrik kaya’ gini. Maklumlah, gue besar di keluarga yang kadang mau bicara suka sungkan :D. Ngeliat Mrs. Foxmann yang biar udah tua tapi masih pd dan bicara ceplas-ceplos, terus cuek aja gitu ngeliat tingkah laku anak-anak mereka yang biar udah dewasa, tapi tetap ‘anak-anak’ di mata ibunya. Belum lagi berita ‘kejutan’ yang disiapkan ibu mereka di akhir masa berkabung – dan lagi-lagi ditanggapi dengan santai oleh anak-anak meskipun sempat terkaget-kaget.

Gue rada ikutan frustasi mengikuti karakter Judd – kacau balau – gak punya kerjaan, istri selingkuh, terus juga harus baik-baik menahan emosi dan nafsu, tapi ternyata bisa juga kangen sama almarhum ayahnya.

Yang bikin santai adalah Philip – anak paling kecil yang kaya’nya gak ada beban. Santai banget… Gak jelas kerjaannya apa, tapi emang dia yang sering jadi trouble maker, gonta-ganti pacar. Tapi, kembalinya dia ke rumah, dibarengi dengan keingingan untuk jadi lebih dewasa dan bertanggung jawab.

Ending cerita dibuat menggantung … gak dijelasin apakah Judd dan Jen balik lagi atau gak… tapi, ada rasa sedih ketika mereka berpisah dan kembali ke kehidupan masing-masing, tapi berasa ikutan lega ketika masa berkabung itu selesai.


Submitted for:

New Author Reading Challenge 2015
Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Who are You Again?

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, February 17, 2015

Saving CeeCee Honeycutt


Saving CeeCee Honeycutt

Beth Hoffman @ 2010

Abacus – 2012

312 pages


Sungguh berat kehidupan yang harus dijalani CeeCee Honeycutt. Sementara ia sendiri baru berusia 12 tahun. Ia harus menjadi pendamping ibunya, Camille Sugarbaker Honeycutt – mantan ratu kecantikan Vidalia Onion 1951, yang masih belum bisa melupakan kejayaan masa lalunya. Camille masih terobsesi dengan masa-masa dirinya sebagai ratu kecantikan. Ke mana-mana pergi dengan baju prom dan tiara. Sementara ayahnya, menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan bisa dibilang ‘menelantarkan’ mereka berdua. CeeCee harus menanggung akibatnya, tersisih dari pergaulan, menerima ejekan orang-orang terhadap ibunya. Pelarian CeeCee adalah buku. Ia fans berat Nancy Drew dan meskipun terkucil, ia mendapatkan nila-nilai yang sangat bagus di sekolahnya.

Puncaknya adalah ketika Camille tewas ditabrak mobil es krim. CeeCee nyaris merasa sebatang kara. Temannya hanyalah tetangganya, Mrs. Odelle yang sangat baik hati. Untung ada Aunt Tootie, kerabat ibunya yang menjemput CeeCee dan mengajaknya tinggal di Savanah, tempat asal keluarga Camille.

Aunt Tootie ini adalah sosialita di lingkungan tempat ia tinggal. Ia tergabung dalam organisasi yang melestarikan bangunan-bangunan kuno di Savannah. Di sini, CeeCee bertemu dengan teman-teman Aunt Tootie dengan beragam karakter. Ada Miz Goodpepper yang ‘nyentrik’. Ada juga Oletta, juru masak Aunt Tootie, yang bayaning masakannya aja udah bikin ngiler --- kebayang aroma cinnamon rolls …. Hmmmm..

Untung yang senang drama, buku ini bisa jadi pilihan. Semuanya mengalir dengan sangat tenang. Bahkan ada bagian-bagian yang cenderung terasa biasa aja. Padahal di sini, karakter CeeCee dengan latar belakang yang menarik harusnya bisa dibuat lebih ‘dramatis’. Rasanya emosi CeeCee kurang terasa ‘nendang’. Pengen gitu baca sesuatu yang lebih, misalnya gimana CeeCee yang bergulat dengan kesedihan tapi gak bisa melampiaskan kesedihan itu, karena lebih ‘ketutup’ sama rasa marah terhadap ibunya atau gimana CeeCee juga berusaha ‘berdamai’ dengan sikap ayahnya yang melarikan diri itu.

Banyak masalah di dalam buku ini yang selesai begitu aja. Sedikit ada ketegangan, tapi abis itu, udah… selesai dan beres.

Submitted for:

New Author Reading Challenge 2015
Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Favorite Color

Project Baca Buku Cetak 2015
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang