Showing posts with label #stpc series. Show all posts
Showing posts with label #stpc series. Show all posts

Tuesday, June 10, 2014

Casablanca: Forget Me Not




Casablanca: Forget Me Not


Dahlian

Gagas Media, 2014

336 Hal.


Ini adalah tentang kegalauan seorang perempuan menjelang hari pernikahannya. Merasa panik gak jelas, sesak napas dan butuh menjauh dari segala keribetan yang berhubungan dengan pernak-pernik pernikahan. Maka, pergilah Vanda ke Casablanca… main pergi aja gitu, gak ngasih tau ke calon suaminya, gak ngasih penjelasan apa-apa ke orang tuanya. Rada egois sih menurut gue, tapi di lain pihak, gue mencoba mengerti, ketika tahu cowok seperti apa, Rommy, tunangan Vanda itu. Kalo gue jadi Vanda, gue jelas butuh ruang untuk berpikir. Dan dalam versi Vanda sendiri, ada ‘sesuatu’ yang perlu ia tuntaskan biar hatinya jadi lebih lega dan mantap memasuki gerbang pernikahan.

Kenapa Vanda memilih Casablanca? Tak lain, karena ia jatuh cinta pada film dengan judul yang sama, bahkan langsung semangat ketika tahu, ada café yang menjadi setting dalam film tersebut.

Sementara itu, tujuan Laz datang ke Casablanca bukan untuk patah hati, tapi, apa daya, ia harus menghadapi kenyataan bahwa sang pacar yang penduduk asli sana memutuskan untuk memilih atasannya sebagai pasangan hidupnya.

Dan bertemulah mereka di lobi hotel. Laz yang melihat Vanda sama-sama berasal dari Indonesia, memutuskan untuk beramah-tamah dengan Vanda. Tapi, justru ditanggapi Vanda dengan dingin mengingat kelakuan Laz yang memang rada annoying.

Sejujurnya, gue ‘nyaris’ kapok baca seri STPC ini gara-gara Athena, yang bacanya bikin gue rada kesel dengan segudang kebetulannya itu. Emang sih, namanya novel, ada aja suatu kebetulan, karena kalo gak, tokohnya gak ketemu dong… tapi, ya gak segitu banyak juga sih… Eh.. kenapa gue jadi bahas Athena lagi? (belum ilang keselnya ternyata.. hehehe)

Untuk tokoh, gue menyukai tokoh Vanda dan Laz, terlepas dari hal-hal negatifnya. Chemistry di antara keduanya terbangun pelan-pelan, meskipun gue lumayan setuju sama Laz, kenapa Vanda segitu gampangnya jatuh ke pelukan Laz, padahal dia udah punya tunangan… membuat Vanda jadi terkesan ‘mudah’, tapi.. yah… pengaruh suasana dan tempat bisa bikin orang lupa diri. Semetara Laz, gue pun ‘jatuh hati’ karena sifatnya yang melindungi, yang pengen balas dendam, tapi sebenernya gak tegaan… *coba Laz… kalo kapan-kapan gue mampir Casablanca, boleh lah jadi guide*

Tokoh dalam cerita ini gak banyak, jadi benar-benar menyorot ke Vanda dan Laz. Bagus lah, jadi gak bikin ribet dan nambah-nambah konflik. Ceritanya jadi sederhana.

Cara menyampaikan suasana di Casablanca juga ‘halus’, gak melulu ketika datang ke tempat wisata, si penulis menjabarkan sejarah tempat itu dari A-Z, singkat aja, tapi bikin pembaca bisa mendapatkan gambaran.

Pemilihan warna untuk cover dan ilustrasi di cover juga bagus. Warnanya unik, jarang gue menemukan pemilihan warna ini.


Submitted for:

- Indonesian Romance Reading Challenge 2014
- New Author Reading Challenge 2014

Monday, January 06, 2014

Tokyo: Falling



 

Tokyo: Falling

Sefyrana Khairil
Gagas Media – 2013
338 hal.

Tokoh:

- Tora dan Thalia, keduanya berprofesi sebagai wartawan.
- Sama-sama ditugaskan sama kantor mereka untuk meliput tempat-tempat keren di Tokyo
- Sama-sama ingin bertemu mantan kekasih masing-masing demi mendapat sebuah kepastian

Tora gak sengaja menabrak Thalia, hingga lensa kamera Thalia jatuh dan retak. Karena itu limited edition, rada susah mencari penggantinya. Tora pun mengusul agar mereka bergantian memakai lensa milik Tora. Dan mereka pun bersama-sama keliling Tokyo untuk mengejar spot-spot menarik untuk artikel mereka.

Yah.. gitu deh.. sepuluh hari jalan bareng, mulai keliatan ada yang saling tertarik, meskipun diam-diam. Tapi, sama-sama masih terombang-ambing, belum bisa move on dari yang lama, belum bisa membuka diri untuk yang baru.

Karakter Tora cuek, biar berantakan, tapi wangi. Perhatian sama hal-hal kecil – contohnya sama Thalia yang gak suka sayur, dan tipe pelindung.

Sementara Thalia, rada-rada manja menurut gue sih, sadar fashion – terlihat dari barang-barang bermerk yang dia pakai, kadang rada gak mau susah, tapi untungnya bukan tipe-tipe cewek manja tapi ngeselin.

Satu yang bikin gue rada-rada ‘gemes’ adalah adegan mengelap bibir pas Tora mulutnya belepotan abis makan es krim atau waktu Tora minjemin jaketnya ke Thalia. For me… sorry, those are so last year… kaya’nya rada basi gitu membangun moment romantis dengan cara yang begitu. Sering banget kan menemukan adegan-adegan sejenis di buku atau pun film. Hehehe.. *protes aja*.

Dalam bayangan gue, momen romantis itu bisa diganti, misalnya: waktu Tora gak berhasil membersihkan mulutnya, Thalia pinjemin cermin ke Tora, sambil ngelap mulut, Tora bisa curi-curi pandang ke Thalia yang ada di depannya. Hihihi.. gak romantis ya? Ya sudahlah..

Relationship is like sailing a boat. To make the boat sail, it needs two persons to ride it. Two persons to paddle. If you’re the only one paddling, you’ll get tired eventually
(hal. 180)

Gue juga rada ‘terganggu’ dengan tokoh Dean. Ini cowok yang kaya’nya super duper sangat sibuk. Gue sebenernya rada heran sama Thalia yang masih berharap untuk balikan lagi sama Dean, padahal udah dicuekin abis begitu. Apa karena perhatian lewat barang-barang bermerk yang sering dikirim sama Dean? Gue rasa Thalia bisa koq beli sendiri barang-barang bermerk itu. Gue gak ngeliat ada yang positif sama Dean, dia juga gak menjanjikan apa-apa ke Thalia, jadi gue gak ngerti aja sama sikap Thalia. *koq jadi emosi?*

Gue akan lebih puas seandainya konflik itu muncul karena hubungan Tora dan Hana (mantannya Tora), bukan karena Dean. Karena buat gue, sosok Hana yang gak menonjol ini justru bikin penasaran.

Tapi secara keseluruhan, ceritanya manis koq, romantis tapi gak berlebihan. Chemistry antara Tora dan Thalia terbangun pelan-pelan. Gak ada kata-kata yang terlalu mendayu-dayu. Ending-nya memang rada ngeselin, meskipun maksudnya jelas sih, tapi ini salah satu faktor yang membuat gue menyukai novel Tokyo. Sebuah ending gak harus berakhir dengan ‘berpelukan’ kan?  hehehe… Tokyo gak hanya digambarkan melalui tempat-tempat wisata yang terkenal, tapi juga lewat sedikit legenda yang disampaikan Tora ke Thalia, juga lewat makanan di pinggir jalan – seperti Taiyaki. Duh.. gue jadi pengen ngerasi ramen dengan kuah yang masih beruap-uap. Tapi kurang acara nonton sumo nih… :D

Soal cover.. untuk kali ini gue cukup puas dengan cover seri STPC. Warnanya pink kalem, tapi jadi cerah karena tulisan Tokyo berwarna biru.


Tokyo.. salah satu destinasi impian gue… Sering baca buku-buku yang berbau Jepang, membuat gue pengen berkunjung ke sana… pengen liat cherry blossom sih yang pasti, pengen ngeliat yang katanya Modern Tokyo dan Old Tokyo. Tokyo yang modern, tapi juga masih mempertahankan sisi budaya yang kental.


Submitted for:







Monday, November 04, 2013

London: Angel

London: Angel
Windry Ramadhina
Gagas Media – Cet. I, 2013
330 Hal.

Gue selalu bertanya-tanya, apakah persahabatan antara cowok dan cewek akan selalu mulus dan tetap ‘berhasil’ menjadi seorang sahabat, tanpa ada embel-embel rasa lain dan ingin lebih dari sekedar sahabat? Dalam beberapa kasus yang pernah gue dengar (dan ehem.. gue alami sendiri)… rasanya gak berhasil tuh. Entah harus nunggu berapa lama, tapi, ada satu titik di mana ada perasaan lain, yang malah ending-nya bikin persabahatan itu jadi ‘bubar’.

London: Angel, salah satu dari seri STPC, kali ini mengangkat tema itu. Gilang, bertahun-tahun bersahabat dengan Ning. Murni sahabat, mereka main bareng, curhat, cela-celaan, dan semua berjalan dengan mengalir begitu saja. Sampai suatu hari, Brutus, salah satu teman Gilang, membuat Gilang melihat Ning dengan cara pandang yang berbeda, dan sejak itu pula, Gilang berusaha mati-matian untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Ning. Bahkan gak juga ia terus terang ketika Ning memutuskan pergi ke London.

Dan, dari hasil kumpul-kumpul di sebuah bar bersama teman-temannya, dalam keadaan mabuk, Gilang bilang ia akan pergi menyusul Ning dan bilang tentang perasaannya. Keputusan spontan yang langsung didukung oleh teman-temannya. Terbanglah Gilang ke London, tanpa memberitahu Ning dulu. Biar surprise, katanya.

Suasana kelabu kota London yang diguyur hujan, plus alur cerita yang lambat, sempat membuat gue gak ‘tertarik’ dan bosan. Tapi, seperti di buku-buku Windry Ramadhina yang udah gue baca sebelumnya, gue terkesan dengan Windry yang mendeskripsikan suatu tempat. Dan buku in jadi lumayan ‘laki’ meskipun ditulis oleh perempuan.

Penggambaran tempat-tempat di London juga gak berlebihan, gak semua icon kota London yang terkenal ada di buku ini, yang kadang ada di beberapa buku yang jadi terkesan ‘maksa’. Tapi Windry justru mengambil tempat-tempat yang rasanya (at least buat gue) gak terlalu familiar tapi mampu mewakili kota London.

Tokoh-tokoh di dalam buku ini juga saling melengkapi. Keberadaan Mrs. Elis dan Mister Lowesley membuat novel ini jadi terasa ‘hangat’ dan manis. Para orang tua ini mengajarkan Gilang tentang arti sahabat dan cinta.  Seneng deh ngebayangin suasana penginapan di Madge milik Mrs. Elis plus tokoh buku milik Mister Lowesley.

Bahkan si berpayung merah yang misterius, Finn dan Ayu yang muncul sekilas malah  bikin mereka jadi misterius.

Dari lima seri STPC yang udah gue baca, London: Angel jadi salah satu yang gue suka. Karena apa yang ada di buku ini gak berlebihan, semua pas sesuai porsinya.

Wednesday, August 14, 2013

Bangkok: The Journal




Bangkok: The Journal
Moemoe Rizal
Gagas Media – Cet. I, 2013
436 Hal.
(hadiah #unforgotTEN)

Harta sering kali membuat keluarga jadi terpecah  belah ... seperti Edvan, yang setelah ayahnya meninggal, jadi sering bertengkar dengan ibunya dan memilih pergi dari rumah, tinggal di Singapura, menjadi arsitek muda yang cukup diperhitungkan. Tapi, ada kalanya, seseorang tetap harus pulang, terlebih ketika sang ibu meninggal dunia dan menitipkan sebuah catatan harian, sebuah jurnal yang harus ia telusuri ke belakang, agar tau jawabanya.

Demi mencari awal mula jurnal itu, Edvan pun terbang ke Bangkok, tempat di mana ibunya pernah menghabiskan waktu yang cukup lama dan bertemu dengan ayahnya. Selama pergi dari rumah, banyak yang berubah, terutama di diri adiknya, Edvin. Suka atau tidak, Edvan harus menerima perubahan yang sangat drastis itu.

Jurnal Artika, ibu Edvan, tertulis tahun 1980. Yang diberikan Edvin kepada Edvan adalah lembaran jurnal terakhir. Inilah warisan Artika untuk Edvan. Dan di setiap akhir dari lembaran sebuah jurnal, tertulis nama dan tempat di mana Edvan harus menemukan jurnal selanjutnya. Tentu saja, bukan hal yang mudah. Bangkok tahun 1980an tentu sudah jauh berbeda dengan Bangkok di tahun 2000an. Perkara mencari orang yang dimaksud, yang belum tentu masih hidup.

Edvan dibantu oleh Charm, seorang gadis warga Bangkok – yang misterius dan penuh rahasia. Yah, lama-lama sih, Edvan jadi suka sama Charm, meskipun ternyata Charm ini membenci banyak hal yang secara langsung atau gak,  berhubungan dengan Edvan.

Sembari diajak penasaran apa maksud dan tujuan dari jurnal-jurnal itu, pembaca diajak menelusuri kota Bangkok, untuk mencari keberadaan lembaran jurnal yang ditulis dibalik potongan kalender.

Bagi Edvan, hal ini tak hanya membuat pandangannya terhadap ibunya berbeda, tapi juga merubah pribadi Edvan sendiri.

Membaca buku Bangkok: The Journal, gue merasa rada beda aja dengan seri STPC lainnya. Entah karena mungkin fokusnya justru bukan di masalah romansa cinta antara Edvan dan Charm, tapi justru ke hubungan antara ibu-kakak-adik.

Ceritanya juga ada bagian serius, haru, sedih, bahagia bahkan kocak. Apalagi dengan keberadaan Max, adiknya Charm, yang pengen banget jadi juara dunia muaythai, yang suka asal dan bikin Edvan kesel.

O ya, kalo iseng-iseng pengen membayangkan seperti apa sosok Edvan, coba search Chaiwat Thongsaeng, bintang film Thailand, yang kata Max mirip Edvan... (Tadinya mau pasang fotonya di sini.. tapi astaga... gak baik untuk anak-anak di bawah umur.. :D)

Untuk penggambaran suasana kota Bangkok sendiri, buat gue cukup detail. Hampir setiap tempat-tempat wisata yang gue pernah dengar atau lihat, tergambar di sini – sebut saja Golden Palace, Reclining Budha di Wat Pho, sungai Chao Phraya, Thonburi, floating market, bahkan berkunjung ke club ladyboy, naik tuk-tuk dan ikutan latihan muaythai, ow… tentunya gak ketinggalan kuliner yang asam-asam pedas itu… #ngiler Tom Yam Gung…

Monday, July 29, 2013

Roma: Con Amore




Roma: Con Amore
Robin Wijaya
Gagas Media, Cet. I – 2013
374 Hal.
(hadiah #unforgotTEN)

Singkat kata:
Leonardo Halim, seorang pelukis muda berbakat yang sangat mengagumi Michelangelo. Karya-karyanya banyak terinspirasi oleh beliau. Maka kesempatan untuk mengadakan pameran seni di Roma pun tidak ia sia-siakan. Ada satu lukisan, berjudul The Lady, yang selalu ia bawa kemana pun ia mengadakan pameran, dan tak pernah dijual. Lukisan itu bergambar seorang perempuan dengan latar belakang Gereja Saint Agnes, Piazza Navona. Lukisan ini mempunyai nilai sentimental bagi Leo.

Felice Patricia, sekretaris di KBRI Roma, bertemu Leo karena insiden lukisan yang salal alamat. Pertemuan pertama meski sempat memberi kesan tak menyenangkan, justru malah membuat mereka terbayang satu sama lain.

Pertemuan kedua terjadi secara tidak sengaja di Bali, hingga akhirnya mereka pun banyak menghabiskan waktu bersama, entah itu di Bali atau pun ketika kembali ke Roma.

And the story continues …

===

Okeh… marilah kita gak usah bicara tentang tema, karena toh, udah bisa mengira-ngira kan, cerita ini mau dibawa ke mana. Kisah cinta yang diawali dengan rasa sedikit kesal, dan berakhir dengan manis. Buku pertama dari Robin Wijaya yang gue baca dan gue cukup menikmati cara beliau menyampaikan cerita di sini. Informasi tentang tempat-tempat bersejarah di Roma disampaikan dengan porsi yang pas, gak berpanjang-panjang hingga kaya’ buku sejarah.

Yang membuat gue terkesan tentu saja perjalanan Leo dan Felice mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Roma. Lewat kebersamaan ini, hubungan Leo dan Felice semakin dekat, konflik mulai terbuka, gak hanya sekedar bercerita tentang latar belakang dari bangunan bersejarah itu, tapi mulai menguak pribadi masing-masing. Meski begitu, konflik yang ada di buku ini terbilang ‘mulus’. Gak ada tokoh antagonis, semuanya manis-manis (eh, berima).

Piazaza Navona
  
Trevi Fountain via wikipedia
 
Lukisan Michelangelo di Sistine Chapel via wikipedia
Perkenalan terhadap kedua tokoh, diceritakan secara perlahan. Pembaca – atau yah, dalam hal ini gue – diajak sedikit penasaran dengan konflik di dalam keluarga Felice, yang membuat dia ‘melarikan’ diri ke Roma, atau Leo, yang lebih diceritakan dekat dengan kakeknya, tapi entah mungkin karena gak penting, gak ada penjelasan tentang orang tuanya. Latar belakang tentang lukisan “The Lady’ juga baru diberi tahu menjelang bagian akhir cerita ini.

Tokoh yang ‘mencuri perhatian’ adalah Marla, kekasih Leo. Marla ini, meskipun gak tampil banyak dalam buku ini, tapi justru jadi tokoh penting bagi kelangsungan hubungan Leo dan Felice. Buat gue, Marla adalah sosok perempuan yang tenang, tegar dan sangat berbesar hati.

Overall, gue sih cukup puas dengan penggambaran Roma di sini -  meskipun sempet kesel, kenapa harus pake melenceng ke Bali segala. Tapi, yah sudahlah, itu melengkapi cerita di dalam buku ini. Ow, ditambah lagi, kuliner-kuliner khas Italia yang rajin bersliweran di buku ini.


Nilai plus dari cover buku ini adalah gambar daun seperti yang suka dipakai Julis Caesar, tapi tetap masih bikin gue gak sreg adalah cover-nya. Sampai saat ini, gue masih beranggapan bahwa Gagas Media selalu menampilkan cover yang bagus, yang bikin orang tertarik dan pengen membaca buku itu, tapi kenapa nih, untuk seri Setiap Tempat Punya Cerita ini, cover-nya koq ‘biasa’ banget’. Kenapa gak pakai ilustrasi yang dijadikan gambar untuk postcard? Warna yang dipakai juga ‘suram’ menurut gue, bukan warna-warna lembut yang biasanya mendominasi cover buku-buku Gagas Media.

Monday, June 10, 2013

Melbourne: Rewind




Melbourne: Rewind
Winna Efendi @ 2013
Gagas Media – Cet. I, 2013
328 Hal.

CLBK memang suka bikin galau. Apalagi kalau pas pisah, semua serba ‘nanggung’, ada yang marah, gak ada kata perpisahan yang resmi atau ada yang masih nunggu tapi gengsi untuk ngomong #eh…jadi curcol.

Ini tentang Max dan Laura. Mereka berdua ini dulu pernah pacaran. Cara mereka pacaran simple aja – nongkrong di kedai kopi favorit, jalan-jalan ke pantai atau cuma dulu baca buku di apartemen, atau bahkan yang rada ‘sadis’, mereka berdua suka film horror – semakin berdarah semakin seru.

Max ini tergila-gila pada cahaya. Sampai akhirnya, ia kuliah dan dan bekerja sebagai designer cahaya di konser-konser. Mereka berdua berkenalan ketika kuliah di The University of Melbourne, gara-gara Max ‘mengambil’ walkman milik Laura.

Akhirnya, mereka berdua sering ngopi bareng, sama-sama nyaman, sampai akhirnya terlontarlah kata-kata “Let’s do this together, just the two of us, for the rest of our lives.” So simple… but to the point…

Tapi.. seperti yang udah keliatan dari awal.. akhirnya mereka berpisah.. dan ketika ketemu lagi, jadi pada galau, apakah mereka akan tetap berteman, atau akan mencoba lagi atas apa yang dulu sempat terputus.

Kalau sebelumnya, gue rada kurang ‘bersahabat’ dengan tulisan Winna Efendi, kali ini, gue menikmati cerita di buku ini. Buat gue, romantisme dalam buku ini gak berlebihan, bukan yang bikin orang jadi ‘termehek-mehek’, tapi, menggambarkan dua orang yang apa adanya, yang berusaha jadi diri sendiri. Gue suka dengan tokoh Max dan Laura. Mereka punya dunia sendiri, tapi gak membuat yang lain merasa tersisih atau dicuekin.

Selain memanjakan diri dengan berkhayal ada di Melbourne, judul tiap bab yang mengambil judul sebuah lagu, bikin gue jadi pengen tau, kaya’ apa sih lagu-lagunya. Tampaknya playlist-nya keren-keren.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang