Monday, April 30, 2012

Harun dan Samudera Dongeng



Harun dan Samudera Dongeng (Harun and the Sea Stories)
Salman Rushdie @ 1990
Anton Kurnia & Atta Verin (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. I, September 2011
224 hal.
(Gramedia Plasa Semanggi)

Harun tinggal di sebuah kota bernama Alifbay, sebuah kota yang sedih. Semua yang ada di sana menebarkan kesedihan. Makan ikan jadi sedih, asap yang keluar dari pabrik membuat kota semakin murung.

Harun adalah anak seorang pendongeng, bernama Rasyid Khalifa. Dongeng yang diceritakan Rasyid adalah dongeng yang gembira dan ceria. Bayangkan di tengah-tengah penduduk kota yang muruh, muncul sedikit keceriaan dari seorang Rasyid Khalifa. Maka itu, ia sering disebut Raja Omong Kosong.

Suatu hari, petaka ‘singgah’ di rumah Harun. Ibunya pergi, melarikan diri bersama suami tetangga mereka. Rasyid Khalifa dirundung kesedihan, hingga saat ia harus mendongeng, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Meski begitu, masih ada yang mengundang Rasyid Khalifa untuk mendongeng. Namun Harun khawatir dengan ayahnya. Bagaimana jika ayahnya tidak mampu mendongeng. Hukuman berat pastilah menanti mereka.

Suatu malam, Harus bertemu dengan Jin Air bernama Jikka, yang memasok aliran dongeng dari Samudera Dongeng. Sesuatu telah ‘menyumbat’ aliran itu, hingga ayah Harun tak bias mendongeng lagi.

Maka, malam itu, dimulailah sebuah petualangan yang menakjubkan dengan misi membuka kembali sumbat aliran di Samudera Dongeng.

Di sinilah dongeng yang ‘sebenarnya’ dimulai. Muncul teman-teman baru Harun, selain Jikka si Jin Air, ada Tappi – burung bulbul mesin, Tukang Kebun Terapung dan Cerewet. Ada pasukan Halaman, Kitab dan Bab.  Ada pertempuran antara Negara Guppe dan Chup.

Gue pikir cerita ini akan lebih mudah untuk ‘dicerna’ dibandingkan dengan Midnight Children yang sampai sekarang masih belum berhasil gue tuntaskan. Yah, ini kan termasuk cerita anak-anak, kali-kali aja gitu kata-katanya lebih ‘bersahabat’. Hehehe.. ternyata gak juga ya… lumayan lama gue menyelesaikan buku yang gak terlalu tebal ini, dan, harus bolak-balik untuk bisa menangkap cerita di dalam buku ini. Ada dongeng di dalam dongeng. Butuh imajinasi yang ‘tinggi’.

Buat gue, sebenarnya nih.. ini cerita yang indah… tentang kasih sayang seorang anak pada ayahnya. Dan, satu lagi yang keren nih… di awal cerita, ada sebuah puisi yang setiap baitnya merupakan inisial dari nama anak Salman Rushdie. Anton Kurnia dan Atta Verin berhasil menerjemahkan dengan indah, dan gak merubah huruf awalnya.

Wednesday, April 25, 2012

Dead Girl Walking



Dead Girl Walking (Masuk ke Tubuh yang Salah)
Linda Joy Singleton
Maria Susanto (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, Januari 2012
382 hal.
(swap sama @balonbiru)

Amber Borden, termasuk siswi yang tidak dipandang di SMU Halsey. Padahal nih, Amber ini sangat baik hati.  Dia punya klub Hospitality, yang dengan senang hati menyambut setiap murid baru di SMU Halsey. Tapi sayangnya, apa yang ia lakukan itu sering jadi bahan tertawaan.

Suatu hari, di saat ia mendapat berita bahagia, tiba-tiba saja terjadi kecelakaan dan Amber pun berada dalam kondisi koma. Di alam ‘in between’, ia bertemu dengan arwah neneknya yang memberinya petunjuk jalan untuk ‘pulang’. Tapi nih, dasar si Amber ini suka susah menentukan arah, akhirnya, ia malah nyasar masuk ke tubuh orang lain. Tubuh ‘orang lain’ ini adalah Leah, gadis populer di SMU Halsey, punya cowok paling keren di sekolah, anak orang kaya.

Tapi, kenapa Leah malah memilih untuk bunuh diri? Padahal kalau dilihat, kehidupan Leah kan harusnya enak ya. Di dalam tubuh Leah ini, Amber menemukan banyak fakta yang membuatnya berpikir hidup bak putri raja tak selamanya enak. Banyak yang harus ia korbankan.

Sementara Amber mencari tahu ada apa dengan Leah sebenarnya, Amber juga harus ‘menyelamatkan dirinya’ untuk kembali ke tubuhnya. Orang tua Amber memutuskan untuk mendonorkan organ-orang tubuh Amber kepada orang lain.

Amber seolah jadi arwah gentayangan dalam tubuh orang lain. Dan ia harus mencari orang-orang yang percaya bahwa ia adalah Amber bukan Leah.

Cerita yang unik menurut gue. Amber ternyata punya misi khusus di dunia ini. Tapi, sosok Leah yang harusnya ‘diselidiki’ rada ketimpa dengan Amber yang sibuk kembali ke dunia. Apa gue yang kurang jeli ya bacanya, sampai akhirnya gue justru penasaran dengan kisah Leah.


Tapi paling mengganggu untuk gue adalah covernya. Isinya padahal gak gelap-gelap amat, tapi kenapa covernya seram begitu. Seolah ini adalah cerita horror. Bandingkan dengan cover aslinya yang juga bernuansa gelap, tapi lebih enak dilihat dengan sosok siluetnya.

Tuesday, April 24, 2012

The Marvelous Land of Oz



The Marvelous Land of Oz
L. Frank Baum
Justin Tedjasukmana (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, Januari 2012
234 hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

Tip, anak lelaki dari Negeri Gilikin yang yatim piatu. Sejak kecil ia diasuk oleh seorang penyihir bernama Mombi. Setiap hari, Tip disuruh untuk bekerja keras. Lama-lama Tip kesal. Timbul akalnya untuk mempermainkan Mombi. Ia membuat sebuah manusia labu, dengan tujuan untuk menakut-nakuti Mombi. Tapi, masa’ sih seorang penyihir takut sama manusia labu yang berwajah tersenyum. Dengan serbuk ajaib, Mombi menghidupkan manusia labu itu dan ia pun menghukum Tip.

Tip akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dan mengajak si Manusia Labu yang diberi nama Jack untuk pergi bersamanya. Tujuannya adalah ke Negeri Oz. Dalam perjalanan menuju Negeri Oz, Jack membuat sebuah kuda kayu, yang dihidupkan dengan serbuk ajaib yang dicurinya dari Mombi. Bersama mereka menuju Negeri Oz.

Ternyata, Negeri Oz sedang dalam keadaan genting. Sekelompok gadis yang dipimpin oleh Jenderal Jinjur bermaksud untuk mengadakan kudeta untuk menggulingkan sang Raja yang tak lain adalah Boneka Jerami. Jenderal Jinjur dan pasukannya ini bersenjatakan jarum yang sangat tajam. Mereka ingin memanfaatkan batu zambrud yang bertebaran untuk dijadikan perhiasan, mereka juga katanya ‘lelah’ dipimpin Boneka Jerami dan ingin para pria yang jadi ‘pekerja’ di rumah. Jenderal Jinjur dan pasukannya ini adalah rombongan gadis-gadis manja dan genit.. dan tetap takut dengan binatang-binatang menggelikan seperti tikus.

Tip bertualang bersama Boneka Jerami, Jack si Manusia Labu, kuda kayu, berangkat ke tempat Kaisar Tin Woodman, dan kemudian, bersama-sama pergi ke negeri tempat Glinda si Penyihir Baik.

Jadi, berhasilkan Boneka Jerami merebut kembali tahtanya di Negeri Oz? Dan siapakah Tip sebenarnya? Ada kejutan kecil di akhir cerita.

" Tapi kau juga harus mengakui bahwa hati yang mulia adalah sesuatu yang tak bisa diciptakan meski kau berotak cerdas. Bahkan uang pun tak mampu membelinya."

-- Tin Woodman - hal. 234 

Seneng deh baca buku ini, sebuah cerita fantasi yang gak ribet membayangkan makhluk-makhluk aneh, dengan nama-nama yang ribet. Gak susah mengingat para tokoh. Karakter di cerita ini juga sederhana dan lugu. Apalagi si Jack Manusia Labu dan Boneka Jerami. Bahkan gadis-gadis Jenderal Jinjur pun bikin gue tersenyum. Tin Woodman yang ‘garang’ dengan kapaknya, tapi juga pesolek. Takut banget badannya tergores.

Sangat direkomendasikan buat anak-anak. Hehehe.. beberapa kali gue dengan cuek bacain Mika buku ini pas Mika lagi sibuk main yang lain. Eh… ternyata dia inget lho ada tokoh si Manusia Labu, meskipun kesannya dia gak meratiin apa yang gue baca. Hehehe..

O ya, buku ini ditulis, karena L. Frank Baum ini menerima banyak surat yang pengen banget The Wizard of Oz dibuat lanjutannya.

Friday, April 13, 2012

BBI 1st Giveaway Hop

Menyambut ulang tahun BBI yang pertama, Lemari Bukuku turut berpartisipasi dalam BBI 1st Giveaway Hop yang 'diprakarsai' oleh Fanda's Historical Fiction, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz dan Dear Readers sebagai host dari giveway hop ini.


Sebagai penghormatan terhadap Seno Gumira Ajidarma, Perkara Mengirim Senja mewujud dalam rangkaian lima belas cerita karya empat belas pengarang dengan berbagai latar belakang dan gaya penulisan. Cerita-cerita ini merupakan penafsirulangan karya SGA yang dikarang oleh generasi penulis yang lebih segar.

Antologi ini memantik kreasi baru tanpa kehilangan napas awalnya seperti yang tersurat dalam senja yang memerangkap dua perempuan yang tanpa sengaja terjebak cinta bercabang, perselingkuhan seorang “istri setia” yang “dipasung” suaminya, suami tak setia yang diselingkuhi istrinya, hubungan perempuan-lelaki yang rumit tapi lucu, dusta cinta yang perlahan tersingkap kedoknya, patah hati yang unyu, serta pertanyaan-pertanyaan galau tentang hakikat cinta dan percintaan. 

Persyaratannya sebagai berikut:
  • Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia.
  • Wajib mem-follow blog Lemari Bukuku lewat GFC atau subscribe email.
  • Tiap peserta dapat memasukkan entri sebanyak-banyaknya.
  • Entri yang menang akan ditentukan melalui undian menggunakan random.org.
  • Giveaway berakhir pada 26 April 2012 pk. 23:59.
  • Bila 48 jam setelah aku menghubungi pemenang, tidak ada jawaban, maka aku berhak memilih pemenang baru.
Jadi silahkan masukan entri sebanyak-banyaknya.. dan semoga sukses :) Dan jangan lupa kunjungin Blog-Blog lain yang juga ikutan BBI 1st Giveaway Hop ini.

dan... selamat ulang tahun, Bebi.... semoga tetap eksis 'kasih kado f*nta biru'

Wednesday, April 11, 2012

Sunset bersama Rosie



Sunset bersama Rosie
Tere-Liye
Penerbit Mahaka – Cet. II, Desember 2011
426 hal.
(Hadiah dari temen kantor)

Tegar, seorang eksekutif muda rela meninggalkan pekerjaannya yang sudah memberinya kedudukan yang nyaman untuk menjaga anak-anak dari sahabatnya Rosie. Bukan hanya itu, ia juga rela menunda pertunangannya dengan kekasihnya, Sekar.

Rosie adalah sahabat Tegar sejak mereka masih kecil. Selama berpuluh tahun persahabatan itu, wajar aja kalo Tegar gak hanya merasa Rosie sebagai sahabat, tapi juga ingin menjadi bagian dari hidup Rosie. Tapi, sayang, saat pengen menyatakan cinta di tempat dan saat yang romantis, eh.. Tegar keduluan sama Nathan. Padahal, Tegar juga yang sudah memperkenalkan Rosie pada Nathan, tapi Tegar gak nyangka kalo Nathan malah ‘nyolong’ start.

Tegar pun akhirnya memilih menghilang dari kehidupan Rosie. Tapi, akhirnya toh Rosie dan Nathan berhasil ‘melacak’ jejak Tegar. Dan sejak itu Tegar kembali hadir dalam kehidupan Rosie dan Nathan. Bahkan Tegar pun akrab dengan keempat anak Rosie dan Nathan.

Kalau di Hafalan Shalat Delisa, Tere-Liye mengambil latar belakang peristiwa tsunami, di buku ini, peristiwa bom Bali II yang jadi benang merahnya. Saat keluarga itu sedang menikmati sunset di Jimbaran, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke 13, saat itu pula peristiwa bom Bali II terjadi. Nathan jadi korban. Keluarga itu seketika ‘jatuh’ dan berduka. Rosie kehilangan kendali, tak kuat menahan cobaan, sementara anak-anak masih kecil butuh dukungan orang yang lebih tua. Tegar pun mengambil alih, peran sebagai orang tua. Tegar tak hanya mengasuh anak-anak, tapi juga mengurus resor milik Rosie dan Nathan. Pelan-pelan, Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lily berhasil berdamai dengan trauma. Tegar menjadi Paman, Uncle, Om hebat dan super keren. Mereka menjadi anak-anak yang cepat ‘dewasa’ tapi tak lantas menjadi mereka ‘tua’ sebelum waktunya. Mereka tetap anak-anak yang jahil dan iseng.

Karena anak-anak ini adalah ‘saksi’ pada peristiwa Bom Bali II, mereka harus hadir saat pembacaan vonis bagi terdakwa pelaku pengeboman di Jimbaran itu. Pastinya berat banget ya buat mereka, mereka harus melihat orang yang menyebabkan mereka kehilangan ayah, terpaksa mengingat lagi kejadian yang menyakitkan. Tapi, di sini, letak ‘indah’nya cerita ini, berdamai dengan masa lalu dan berlapang dada untuk mema’afkan.

Gue sih sempat berharap ada sedikit ‘ribut’ kecil gitu antara anak-anak dengan Tegar. Entah mereka ‘nuduh’ Tegar karena sok mengambil peran orang tua. Biar rada ‘seru’ gitu. Hehehe.. Tapi emang karena mereka anak-anak baik jadinya mereka nurut banget sama Paman mereka yang super keren ini. Konflik yang rumit justru lebih difokuskan sama hubungan antara Tegar dan Sekar yang on-off, dan Tegar yang terombang-ambing apakah mengambil kesempatan kedua bersama Rosie atau kembali ke Sekar.

Meskipun buat gue Hafalan Shalat Delisa masih lebih membekas, buku ini tetap mengharu-biru dengan cerita yang indah. Semoga sih, kalo pun gue nanti baca karya-karya beliau yang lain, gak malah jadi klise ya… :)

Buku ke 5 untuk 'Name in a Book Challenge 2012' - hosted by Blog Buku Fanda

Wednesday, April 04, 2012

Sweetly



Sweetly

Melody Violine (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, November 2011
401 hal.
(Swap sama nophie)

Kenangan buruk tentang menghilangnya saudari mereka tidak pernah hilang dari benak Gretchen dan Ansel. Di masa kecil, ketika mereka bermain-main di hutan, sebuah makhluk bermata kuning yang diyakini Gretchen sebagai penyihir sudah mengambil saudari kembarnya. Sementara Ansel berusaha bersikap realistis bahwa saudarinya itu hilang di dalam hutan.

Beranjak dewasa, nama saudari yang hilang itu masih belum berani diucapkan dengan terang-terangan. Ibu dan ayah mereka meninggal dalam duka. Dan mereka berdua pun diusir dari rumah mereka oleh ibu tiri mereka.

Mobil mereka mogok dan mereka pun ‘terdampar’ di sebuah  kota kecil, Live Oak. Kota yang nyaris ditinggalkan penghuninya. Sebagian penduduknya adalah warga veteran. Salah seorang berbaik hati untuk mengantar mereka ke rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang cantik tapi dibenci oleh penduduk Live Oak. Di rumah ini, Ansel bekerja untuk mendapatkan upah guna memperbaiki mobilnya. Tapi, satu hari… dua hari.. akhirnya mereka pun menetap. Bahkan Ansel jatuh cinta pada Sophia.

Sophia yang cantik ini menyimpan rahasia. Ia kerap dikaitkan dengan menghilangnya gadis-gadis di kota itu setiap kali Festival Cokelat diselenggarakan. Toko cokelat milik Sophia ini adalah toko cokelat turun-temurun. Sophia mewarisi toko ini dari ayahnya yang meninggal ‘tercabik-cabik’.

Gretchen berusaha menyelidiki apa terjadi di balik menghilangnya 8 gadis berusia 18 tahun itu, kenapa Sophia begitu ketakutan setiap mendapatkan kiriman sebuah cangkang, kenapa ia bersikeras mengadakan Festival Cokelat meskipun ia tahu ada penolakan dari warga Live Oak.

Kalau buku pertama, Sisters Red ‘mengadaptasi’ cerita anak-anak Gadis Kecil Bertudung Merah, kali ini Jackson Pearce mengambil latar belakang cerita Hansel and Gretel. Rumah permen yang menarik hati digantikan dengan toko cokelat.

Buat gue, cerita Sweetly lebih ‘menegangkan’. Misterinya lebih bikin penasaran, dari awal dibuat penasaran dengan nama kembaran Gretchen,  belum lagi misteri cangkang dan siapa sebenarnya Sophia? Dan ada hubungan apa antara Sophia dengan Fenris – si serigala jadi-jadian itu, belum lagi misteri adik Sophia, yang bernama Naida. Kalau di Sisters Red, Fenris berulang kali muncul, di buku ini, Fenris jadi makhluk misterius yang baru ketahuan belakangan. Dan kalau di Sisters Red banyak adegan perkelahian, di Sweetly ceritanya lebih kalem… ketegangan muncul bukan dari perburuan Fenris, tapi justru dari rahasia-rahasia yang banyak itu.

Sweetly memang sekuel dari Sisters Red, tapi kalau pun belum baca Sisters Red, gak perlu bingung atau ketinggalan cerita. Ini bukan cerita bersambung, hanya ada benang merah aja yaitu si Fenris.

Friday, March 30, 2012

The Sweetness at the Bottom of the Pie



The Sweetness at the Bottom of the Pie
Bantam Books Mass Market Edition - 2009
373
(pinjem sama Astrid)

Flavia de Luce, gadis berusia 11 tahun. Tertarik dengan hal-hal yang berbau kimia. ‘Kelinci percobaannya’ adalah kakaknya sendiri. Flavia tinggal bersama ayahnya, Kolonel de Luce, dan dua kakak perempuannya Ophelia dan Daphne. Dunia Flavia dengan kedua kakaknya berbeda. Flavia juga sering jadi korban keisengan kakaknya. Tapi, kecerdikan Flavia lebih unggul dibanding mereka berdua. Flavia tidak mengenal sosok ibu mereka, Harriet yang sudah meninggal. Karena itu, kedua kakak Flavia sering mengejeknya.

Suatu hari, mulailah rangkain kejadian aneh di rumah mereka. Keluarga de Luce ini termasuk keluarga ‘terpandang’ di pedesaan Bishop’s Lacey. Bayangan gue nih, mereka tinggal seperti di ‘puri’. Keanehan pertama, ada seekor burung mati yang diletakkan di depan pintu dapur, ditambah lagi di paruh burung itu, ada sepucuk perangko. Dan, kemudian, ditemukan sosok mayat misterius di halaman rumah mereka. Flavia jadi orang terakhir yang melihat pria itu hidup.

Mulai deh insting Flavia ‘bekerja’. Flavia mulai merunut semua petunjuk yang ada, mencoba bermain detekfif-detektifan. Flavia bekerja sendiri, dan boleh dibilang dengan sangat teliti. Pengetahuannya tentang kimia ternyata memberi nilai tambah bagi Flavia dalam penyelidikan ini. Flavia juga pergi ke perpustakaan setempat, ke penginapan dan bahkan ke sekolah tempat ayahnya dulu belajar.

Semua menjadi satu rangkaian – kematian kepala sekolah, perangko yang hilang, mayat yang ditemukan di halaman rumah. Flavia harus bekerja keras untuk mencari bukti dan membebaskan ayahnya dari tuduhan pembunuhan.

Setting Inggris di tahun 1950, gue bisa membayangkan suasana pedesaan yang sepi. Awalnya gue gak terlalu suka dengan Flavia, rada sok tau dan mau ikut campur aja. Ada bagian-bagian yang membuat gue bosan (makanya rada lama gue menyelesaikan buku ini) Tapi, pelan-pelan, gue ikut hanyut dalam penyelidikan bersama Flavia. Rasa ingin tahu Flavia mengalahkan rasa takutnya. Ia gak takut naik ke menara di gedung sekolah demi melakukan ‘rekonstruksi’ kematian Mr. Twinning.

Thanks buat Astrid yang udah minjemin buku ini.

3 Buku Roald Dahl


1. The Twits (Keluarga Twit)
Roald Dahl @ 1980
Quentin Blake (Ilustrasi)
Yoke Octarina (Terj.)
GPU – Cet. III, Januari 2010
104 hal.
(Obral Gramedia Plaza Semanggi – 5000 rupiah saja :D)

Berkisah tentang pasangan Mr. & Mrs. Twit dengan sosok yang mengerikan, menjijikan dan menyebalkan. Liat Mr. Twit, seluruh wajahnya berambut dan gak pernah dicuci. Sisa-sisa makanan menempel di rambut wajahnya itu. Sedangkan Mrs. Twit, juga bertubuh gemuk, selalu membawa tongkat yang selain digunakan untuk membantunya berjalan juga untuk menyakit anak-anak atau hewan yang mengganggu.

Tingkah pasangan suami istri satu sama lain juga mengerikan. Mereka sering saling ngerjain, dan saling balas membalas dengan cara yang sadis. Misalnya, spaghetti Mr. Twit dicampur dengan cacing, dan Mr. Twit membalas dengan mengikat Mrs. Twit di balon udara dan membiarkannya terbang. Mereka juga suka menyakiti binatang.

Benar-benar pasangan yang mengerikan.



2. The Enormous Crocodile (Si Buaya Raksasa)
Roald Dahl @ 1978
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Mei 2006
64 hal.
(via inibuku.com)

Ini adalah cerita tentang seekor buaya yang ingin sekali makan anak kecil. Dia pun pamer ke teman-temannya di hutan, bahwa hari itu ia akan berpesta dengan menu anak kecil. Berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian anak-anak, tapi selalu saja digagalkan oleh para penghuni hutan yang tak menyukai cara-caranya.

Dan pada akhirnya, si buaya ini juga menghilang dengan cara yang ‘mengenaskan’


3. The Giraffe and the Pelly and Me (Si Jerapah dan si Pelly dan Aku)
Roald Dahl @ 1985
Quentin Blake (Ilustrasi)
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Agustus 2006
80 hal.
(via inibuku.com)

Billy berkenalan dengan 3 ekor hewan dengan kemampuan yang menakjubkan. Si Jerapah, Si burung pelican dan si monyet. Trio ini membuka ‘usaha’ membersihkan jendela. Mereka bertiga punya peran masing-masing – si Jerapah dengan lehernya yang panjang, sanggup mencapai jendela tertinggi, sementara si Burung Pelikan menjadi ember dan si monyet yang bergerak lincah membersihkan semua jendela.

Ini buku yang paling ‘bersahabat’ di antara 3 buku Roald Dahl yang gue baca kali ini. Isinya karakter baik-baik, mereka bahkan menggagalkan sebuah usaha perampokan di rumah seorang Duke. Dan di akhir cerita, si Billy membuka kembali The Grubber, toko permen. Di sini, Mr. Willy Wonka ikut menyumbangkan permen-permennya yang ajaib

Perkenalan gue dengan Roald Dahl, berawal saat gue membaca Matilda, mungkn waktu SD. Saat itu, ya baca.. baca aja. Sedikit ngeri dengan karakter Miss Trunchbull. Tapi, saat membaca Mr. Twit, aduh ternyata, gak kalah sadis. Emang sih, apa yang berusaha diceritakan oleh Roald Dahl ada hal positifnya, seperti misalnya jangan nyakitin binatang – sama seperti yang ada di cerita Magic Finger, tapi kalo untuk diceritain ke anak kecil rasanya terlalu ‘sadis’.

Bahkan saat ada film Matilda di tv, gue ngajak Mika nonton, maunya sih gue pengen kasih tau, kalo gue suka sama bukunya dan ini juga salah satu film yang gue tonton, eh.. tapi, gak lama, Mika pun bilang, “Matiin aja, filmnya gak bagus.” Dan, gue jadi sedikit khawatir, kalo nanti Mika malah takut ke sekolah.

Tapi, terlepas dari semua itu, gue tetap suka dengan Roald Dahl, di balik karakter-karakter ajaibnya itu, cerita-ceritanya mampu menghibur gue dengan selera humor yang ajaib juga.

Tapi… sekarang, kenapa susah cari buku Roald Dahl yang satuan ya? Yang ada di Gramedia hanya yang box set. Rugi dong beli yang box set karena gue udah punya beberapa. Dan gue pengen juga nih, baca bukunya Roald Dahl yang bukan buku anak-anak.

Thursday, March 29, 2012

Character Thursday [3]

Jumpa lagi dengan Character Thursday, rules-nya masih sama: 
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop. 
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button. 
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
 4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit. 
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik… 

Kali ini, yang tampil adalah pasangan Mr. & Mrs. Twit dari The Twits-nya Roald Dahl. Berhubung baru aja tadi pagi gue selesai baca buku ini, jadi masih 'terbayang-bayang' dua sosok yang mengerikan plus 'sadis' ini. Gak pa-palah, sekali-sekali yang tampil karakter yang 'menyebalkan'. Reviewnya akan segera tampil di blog ini.

Ini Mr. &  Mrs. Twit hasil ilustrasi dari Quentin Blake: 

Kalo yang satu ini saat The Twits dipentaskan oleh Auckland Theater Company - sama-sama mengerikan dan menjijikan :) 

Tuesday, March 27, 2012

The Wizard of Oz


The Wizard of Oz
L. Frank Baum
Alva Indriani (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. I, Oktober 2010
206 hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Inilah pertama kali gue membaca buku The Wizard of Oz, yah, meskipun sering denger, tapi gue gak tau, seperti apa sih kisah The Wizard of Oz ini. Beruntung, Penerbit Atria menerbitkan terjemahan buku ini dan karena gue lagi punya sebuah ‘misi’, maka gue pun memutuskan untuk membeli buku ini.

Kisah ini lahir karena rasa ‘prihatin’ L. Frank Baum akan kisah fantasi yang beredar, tentang peri dan dunia sihir yang penuh ‘darah’ dan teror. Maka terciptalah sebuah dongeng sederhana, tapi penuh dengan petualangan dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari dongeng ini.

Si kecil Dorothy tiba di sebuah kota yang indah berwarna biru, kota para Munchkin. Berbeda jauh dengan Kansas, kota tempat Dorothy tinggal bersama paman dan bibinya. Sebuah kota abu-abu, gersang dan suram. Angin puting-beliung menerbangkan rumah Dorothy. Dorothy yang tak sempat bersembunyi di ruang persembunyian ikut terbang bersama rumah itu, termasuk juga Toto, anjing milik Dorothy.

Karena rumah Dorothy ‘tanpa sengaja’ jatuh di atas tubuh si Penyihir Jahat dari Timur, Dorothy pun dianggap pahlawan. Tapi, keinginan Dorothy hanya satu, yaitu kembali ke Kansas. Atas petunjuk Penyihir Baik dari Utara, Dorothy dianjurkan untuk bertemu Penyihir Hebat Oz.

Dimulailah perjalanan panjang Dorothy bersama Toto, menyusuri batu bata kuning menuju negeri Zambrud, negeri Penyihir Hebat Oz. Dalam perjalanan itu, Dorothy bertemu dengan Boneka Jerami yang menginginkan otak, Tin Woodman, si manusia kaleng yang menginginkan hati dan Singa Penakut yang ingin memiliki keberanian. Bersama teman-teman barunya, dengan keyakinan penuh Dorothy pergi menuju negeri Zambrud.

Tapi, untuk menemui Penyihir Hebat Oz pun tak mudah. Tak seorang pun tahu, seperti apa wujud pasti Oz, wujudnya selalu berubah-ubah. Dan ternyata tak mudah untuk mendapatkan apa yang dinginkan oleh mereka berempat. Mereka harus melakukan sesuatu dulu untuk Oz, baru keinginan mereka akan dikabulkan.

Baca buku ini, rasanya kembali ke masa kecil, masa-masa berkhayal, membaca buku-buku petualangan yang ringan. Gak perlu deh, petualangan yang bikin deg-degan, bikin tegang, tapi seperti Dorothy, di setiap langkahnya, dalam perjalanannya, ia selalu menemui hal-hal baru, seperti menyelamatkan Boneka Jerami, menolong Tin Woodman, ketemu Singa, Monyet Terbang, kaum Munchin dan Winkie yang lucu. Dan, satu pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah kesetiakawanan, rasa empati dan tolong-menolong. Menjelang akhir cerita, ketiga teman baru Dorothy yang sudah punya kedudukan enak, tetap menemani Dorothy sampai bertemu jalan pulang. Dan saat yang satu lagi kesusahan, yang lain merasa kehilangan dan dengan sigak membantu.

Gue ketawa waktu tau wujud asli Penyihir Hebat Oz itu. Klimaks yang kocak.. hehehe…

O ya, ada satu koreksi di halaman 125, yang tertulis: “… Dorothy berlari ke halaman untuk memberitahu bahwa Tukang Sihir Jahat dari Timur telah tewas … “ Padahal seharusnya Tukang Sihir dari Barat kan? Iya kan? Karena kalo Tukang Sihir Jahat dari Timur udah ketauan dari awal tewasnya.

*seharusnya ini buat posting bareng BBI, tapi telat.. kelupaan tanggalnya*

Thursday, March 22, 2012

Character Thursday [2]


Seperti biasa, peraturannya adalah:

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Character Thursday kali ini adalah The Famous Five alias Lima Sekawan. Baru aja baca buku Lima Sekawan yang pertama - Di Pulau Harta. Jadi kangen sama mereka. Pengen bernostalgia, inget-inget bacaan jaman SD, terus pengen liat filmnya lagi.







Julian yang paling tua, yang paling cool dan sabar. Dick, yang suka gak sabaran. Anne, yang penakut dan paling kecil. Plus, George, anak perempuan tomboi, dan pengen banget jadi anak laki-laki. Gak ketinggalan, Timmy, anjingnya George yang setia menemani mereka bertualang.

Seneng banget rasanya kalo ngebayangin 'bertualang' sama mereka. Berkemah di Pulau Kirrin, piknik dengan bekal yang yummy-yummy.

Ah... kangen... *sruput limun jahe*

Wednesday, March 21, 2012

Wishful Wednesday [3]


Sebelum gue share Wishful Wednesday yang ke-3, rules-nya adalah:

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3 .Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Wishful Wednesday kali ini adalah: Novel Destinations: Literary Landmarks from Jane Austen's Bath to Ernest Hemingway's Key West (Shannon McKenna Schmidt & Joni Rendon).


Gak sengaja liat buku ini waktu iseng-iseng mampir ke Times di Plaza Semanggi. Tentu saja yang pertama kali menarik perhatian gue adalah covernya - Si Koper yang berisi tumpukan buku itu (eh, koq mirip cover The Journey-nya Gagas Media ya?)

Buku ini bisa dibilang sebuah 'napak tilas' ke tempat-tempat yang disebut dalam novel, seperti Bath yang ada di buku-buku Jane Austen atau menjelajah kota London seperti Charles Dickens ,. Sebuah buku 'travel' dalam bentuk yang berbeda.

Asyik kan bisa 'jalan-jalan' ke tempat-tempat yang di buku favorit :)

Ini sinopsis dari goodreads:

It’s often said that a good book takes us somewhere we’ve never been before, and here’s the proof: a book-lover’s Baedeker to more than 500 literary locales across the United States and Europe. Novel Destinations invites readers to follow in the footsteps of much-loved authors, discover the scenes that sparked their imaginations, glimpse the lives they led, and share a bit of the experiences they transformed so eloquently into print. If you’re looking to indulge in literary adventure, you’ll find all the inspiration and information you need here, along with behind-the-scenes stories such as these:

After Ernest Hemingway survived two near-fatal plane crashes during an African safari, he perused his obituaries and sipped champagne on a canal-side terrace in Venice.

Washington Irving's wisteria-draped cottage in the Hudson Valley was once occupied by members of the Van Tassel family, immortalized in The Legend of Sleepy Hollow.

A mysterious incident at a stone tower near Dublin made such a vivid impression on James Joyce that he drew on it for the opening scene of Ulysses.

Sir Arthur Conan Doyle consulted on the mystery of Agatha Christie's 1926 disappearance before she resurfaced under an assumed name in northern England.

Nathaniel Hawthorne’s The House of the Seven Gables was inspired by a seaside manse in Salem, Massachusetts, infamous witch trials in which his ancestor played a role.

Tuesday, March 20, 2012

Teaser Tuesdays [1]


Teaser Tuesdays is a weekly bookish meme, hosted by MizB of Should Be Reading. Anyone can play along! Just do the following:

- Grab your current read
- Open to a random page
- Share two (2) “teaser” sentences from somewhere on that page
- BE CAREFUL NOT TO INCLUDE SPOILERS! (make sure that what you share doesn’t give too much away! You don’t want to ruin the book for others!)
- Share the title & author, too, so that other TT participants can add the book to their TBR Lists if they like your teasers!

Teaser Tuesday pertama dari Harun dan Samudra Dongeng (Salman Rushdie)


Ia tahu pasti hal yang diketahuinya: bahwa dunia nyata penuh dengan keajaiban dan dunia keajaiban tak mudah menjadi nyata.
(hal. 50)

Thursday, March 15, 2012

Character Thursday [1]

Setelah dua minggu tertunda, akhirnya hari ini ‘berhasil’ ikutan blog hop –nya Fanda. Peraturannya adalah:

1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…


Berhubung gue lagi baca A Flavia de Luce Mystery: The Sweetness at the Bottom of the Pie, makanya Character Thursday pilihan gue jatuh pada Flavia de Luce.


Flavia de Luce, gadis berumur 11 tahun. Tergila-gila sama yang namanya kimia. Dia punya ruang percobaan sendiri, dan hmmm… maunya ikut campur dalam misteri pembunuhan yang terjadi di halaman rumahnya sendiri.

Bayangan gue, Flavia ini gadis yang sok tau, sok mau ikut kerjaan orang gede. Suka banget ngerjain kakak-kakaknya. Merasa dirinya lebih pintar dibanding dua kakaknya itu.

Silahkan liat trailer-nya untuk lebih tau sosok Flavia de Luce.

Wednesday, March 14, 2012

Pollyanna


Pollyanna
Eleanor H. Porter @ 1913
Rini Nurul Badriah (Terj.)
Orange Books – Cet. I, Mei 2010
312 hal.
(hadiah #TebakDickens @bacaklasik)

Selama bertahun-tahun hidup sendiri, Miss Polly menerima kabar bahwa keponakannya, Pollyana, akan datang dan tinggal bersamanya. Kabar ini jelas merupakan suatu kejutan. Hubungan dengan mendiang ibu Pollyana tidak begitu baik. Bahkan bisa dibilang komunikasi terputus semenjak adiknya itu lebih memilih menikah dengan seorang pendeta daripada dengan seorang pria kaya. Pollyana kini yatim piatu, sehingga tak ada pilihan lain, selain menyerahkan perwalian Pollyana kepada Miss Polly.

Miss Polly sudah menyiapkan kamar yang panas, pengap dan gelap di loteng. Memang sih, Miss Polly ini dikenal sebagai perempuan yang kaku, serba teratur dan konon, menurut gosip yang beredar, ia pernah patah hati sehingga hingga akhirnya memilih menyendiri.

Pollyana datang dengan penuh suka cita dan keceriaan. Kepolosan sebagai anak kecil membuat banyak orang luluh hatinya. Sebut saja Mrs. Snow yang banyak maunya atau Mr. Pendelton yang jutek. Belum lagi, dengan polosnya Pollyanna membawa pulang seekor kucing dan anjing yang dipungutnya dari tengah jalan. Ooo.. itu belum apa-apa.. dibanding apa yang dibawa pulang berikutnya oleh Pollyanna.

Hanya Bibi Polly yang tampaknya adalah satu-satunya orang yang masih belum menerima keceriaan dan spontanitas yang ada pada diri Pollyanna.

Sebenernya dibalik keceriaan itu, tidak berarti Pollyana tidak pernah bersedih. Hanya saja, sebuah ‘permainan’ yang diciptakan ayahnya yang membuatnya selalu bisa berpikir positif. Dan, saat ia sendiri mengalami musibah, keceriaan apa yang bisa membuatnya kembali tersenyum?

Di awal-awal buku ini, gue teringat dengan sosok Anne di Anne of Green Gables. Anak yatim-piatu yang terpaksa tinggal dengan orang lain. Sama ceria-nya, sama-sama suka mengkhayal, meskipun dengan cara yang berbeda. Meskipun emang sih, gue sempet merasa si Pollyanna ini ‘ganggu’ banget. Semua orang ditegor, meskipun cemberut dan dijutekin, Pollyanna pantang menyerah.

Tapi, liat sisi positif dari ‘keberadaan’nya. Ini seperti cerita ‘Pay It Forward’. Sesuatu yang kecil, bisa menimbulkan efek yang besar.

*Buku ke 4 untuk 'Name in a Book Challenge 2012' - hosted by Blog Buku Fanda

Wishful Wednesday [2]

Setelah minggu lalu 'absen' ikutan Wishful Wednesday, minggu ini akhirnya bisa ikutan lagi.


  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Untuk Wishful Wednesday kali ini adalah George's Cosmic Treasure Hunt (George Berburu Harta Karun).

Cover-nya yang cerah banget. Dan, setelah membaca yang pertama dulu, George's Secret Key to the Universe, gue menunggu-nunggu kapan ya lanjutannya bakal diterjemahin.


Serunya buku ini, ada gambar-gambar tentang luar angkasa, planet-planet dan lain-lain. Serasa baca ensiklopedi dalam bentuk yang lebih 'menyenangkan'. Hehehehe...

Berhubung gue lagi ngumpulin buku anak-anak buat Mika, buku ini tentu saja masuk ke dalam daftar. (moga-moga aja, nanti Mika tertarik buat baca... kalo gak, yah, buat koleksi mama-nya aja lah).

Thursday, March 08, 2012

Hafalan Shalat Delisa


Hafalan Shalat Delisa
Tere LiyeJustify FullPenerbit Republika – Cet. XIII, Februari 2011
270 Hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

"Delisa cinta Ummi karena Allah...."
"Delisa cinta Abi karena Allah...."

Lama gue mendengar tentang novel ini. Mendengar komentar orang yang membaca buku yang mengharu-biru. Tapi, gue belum tergerak untuk membeli, meminjam atau membacanya. Bahkan, setelah dibuat film-nya pun, gue juga belum pengen baca buku yang menuai banyak pujian dan di goodreads.com pun rata-rata memberi bintang 4-5.

Tapi, yang membuat gue akhirnya penasaran dengan buku ini adalah saat dua orang teman di BBI – yang non-muslim, membaca buku ini dan memberi bintang yang tinggi. Wah… ada apa dengan buku ini?

Akhirnya, dari hasil muter-muter tanpa tujuan di Gramedia Plaza Semanggi, gue memutuskan membeli buku ini dan segera membacanya.

Cerita diawali dengan keluguan dan kepolosan sebuah keluarga di pagi hari. Saat subuh, saling menggoda saat si kecil Delisa yang berusia 5 tahun susah bangun. Keharmonisan sebuah keluarga terlihat dari awal. Ya, kalo pun ada cemburu, iri, ngambek dan marah-marahan, maklum aja deh, namanya juga kakak-adik,

Delisa ini akan segera menghadapi ujian hafalan bacaan sholat. Ummi sudah menjanjikan sebuah kalung cantik jika Delisa berhasil lulus ujian itu. Ditambah iming-iming sepeda dari Abi yang bekerja di lepas pantai di sebuah perusahaan minyak.

Di pagi yang cerah, tanggal 26 Desember 2004, pantai Lhok Nga dipenuhi orang-orang yang sedang bermain dan Delisa bersiap-siap untuk menyelesaikan ujian itu. Tapi, petaka datang, Delisa pun gagal. Bukan karena ia belum hafal, tapi tsunami menghapus semua mimpi dan kebahagiaan yang ada.

Ia kehilangan ketiga kakaknya dan Ummi tidak diketahui keberadaannya. Bahkan Delisa harus kehilangan salah satu kakinya. Beruntung Abi segera pulang dan menjemput Delisa.

"Kau memiliki lebih banyak teman dibandingkan seluruh dunia dan seisinya,Sayang.”
_Hal.99

Di tengah-tengah cobaan, Delisa tetap ceria dan polos. Meskipun rindu Ummi dan kakak-kakakknya. Dan satu yang pasti, Delisa tetap berusaha menyelesaikan hafalan shalat yang sempat tertunda. Hingga akhirnya, ia mampu sujud dengan sempurna, khusyuk dan ikhlas.

Berulang kali gue mengucap Istighfar kala membaca buku ini. Ada haru dan ada rasa malu. Meskipun ini hanya kisah fiksi yang mengambil latar belakang peristiwa tsunami di Aceh, tapi, tetap saja, tokoh gadis cilik ini seolah menegur gue yang sholat masih suka bolong dan gak khusuk, yang suka gak iklas setiap ada cobaan, yang masih sering mengharap pamrih dan lain-lainnya.

“Orang-orang yang kesulitan melakuan kebaikan itu, mungkin karena hatinya, Delisa…. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan…”
_ hal 245.

"Maha Suci Engkau, ya Allah! Yang selalu menepati janji. Cukuplah percaya dengan satu janjiMu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih baik … Semua akan terasa jauh lebih indah! Yakinlah!"
_hal. 262

Betapa gue masih juga suka kurang bersyukur, masih selalu berasa kurang. Padahal, coba liat Delisa, di tengah cobaan yang begitu dahsyat, dia masih bisa tersenyum.

Buku kedua Tere Liye yang gue baca. Dua-duanya bercerita tentang kesederhanaan, tapi toh mampu memikat banyak pembaca. Menurut pengakuannya, beliau belum pernah ke Aceh, tapi saat mendengar berita tsunami ini, beliau berjanji untuk memberikan sesuatu untuk anak-anak Aceh. Catatan-catatan kaki di dalam buku ini membuat tokoh Delisa jadi lebih nyata. Seolah bukan beliau tak hanya menulis, tapi menyaksikan sendiri bagaimana susahnya Delisa yang masih polos ini menghafal bacaan sholat dan betapa berat cobaain untuk gadis sekecil Delisa.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang