Monday, September 10, 2012

Kala Kali



Kãla Kãli
Gagas Media
512 hal
(Gramedia Plasa Semanggi)

Cerita pertama – tulisan dari Vabyo – Ramalan dari Desa Emas:

Tentang seorang gadis bernama Keni Arladi, seorang gadis yang memilih menyepi untuk merayakan ulang tahunnya. Ia pergi ke Desa Sawarna. Selama ini, ia tinggal dengan neneknya. Nenek Keni membawanya tinggal bersamanya, demi menyelamatkan dirinya dari pertengkaran orang tua Keni yang ‘brutal’.

Di Desa Sawarna ini, Keni bertemu dengan anak laki-laki misterius yang meramalkan bahwa ia akan meninggal sebelum usianya yang ke 18. Nah.. kan dia mau ulang tahun yang ke 18… berarti…. Harus siap-siap dong?

Jadilah Keni parno berkepanjangan, tapi, entah kenapa setiap dia menceritakan masalah ini sama orang lain, orang lain itu yang dapat musibah, seolah dapat tumbal.

Cerita kedua – tulisan Windy Ariestanty – Bukan Cerita Cinta:

Tentang pria bernama Bumi, seorang editor yang selalu setia mendengar keluh-kesah Akshara tentang laki-laki yang ia cintai, bernama Bima. Tapi, Bumi selalu sini dengan yang namanya Bima ini, karena pertama, Bima ini seolah hanya ‘nama’, keberadaannya antara ada dan tiada. Satu kali ia muncul di acara peluncurana buku Akhsara, Bumi langsung bertanya, apakah Bima sudah pernah membaca buku Akshara.

Lalu, ada seorang perempuan, teman Akshara bernama Komang, yang kerap dipanggil Koma. Koma ini akhirnya menjalin hubungan dengan Bumi.

Tapi, sebenarnya sih, diam-diam, tanpa disadari Bumi jatuh cinta sama Akshara.

-----

Tentang ceritanya satu per satu. Kalo mau jujur, gue lebih bisa menikmati cerita yang pertama, mungkin karena bahasanya yang lebih akrab dibandingkan dengan cerita yang kedua. Cerita pertama juga lebih santai, karena diselipkan humor-humor, tapi ehmm.. kadang-kadang jadi lebay sih.

Cerita kedua sangat serius menurut gue, lebih kaku, ditambah lagi dengan tokoh-tokohnya yang resmi. Gue jadi rada-rada bingung menangkap cerita kedua ini.

Gue selalu berharap ‘lebih’ sama penulis yang buku sebelumnya pernah gue baca dan gue suka. Gue pernah membaca Kedai 1001 Mimpi dan Life Traveler, dan gue suka dua buku ini. Tapi mungkin, setelah baca Kãla Kãli, gue lebih memilih seandainya mereka berdua nulis non-fiksi aja kali ya…

Ini kali pertama gue membaca buku ‘Gagas Duet’. Dan dalam bayangan gue nih, yang namanya duet – ada satu cerita dengan di mana penulisnya berganti-gantian menulisnya. Misalnya bab 1 si penulis A, nah bab 2 si penulis B yang dapet giliran. Ada ada dua cerita, tapi saling ‘nyambung’ gitu lho.

Tapi, di buku ini (entah di buku Gagas Duet lainnya), cerita rada gak nyambung. Tokoh yang sama sekali berlainan, cerita yang juga berbeda. Satu santai, satu serius banget. Eh, tapi mungkin persepsi gue beda kali ya sama penerbit yang bersangkutan.

Yang gue suka, ada foto-fotonya, meskipun gak berwarna, gue ‘yakin’ aslinya bagus.

Satu lagi yang ganggu menurut gue adalah cover-nya. Bukan karena desain atau ilustrasi covernya, ini sih keren. Tapi, formatnya yang bentuk amplop itu lho. Yah, oke lah unik. Tapi, ribet saat lagi baca. Udah gitu, gue termasuk orang yang sebel kalo ujung-ujung cover itu terlipat. Nah, kalo model covernya begini, gimana mau disampul coba? *emosi*

Thursday, September 06, 2012

Gadis Kretek



Gadis Kretek
Ratih Kumala @ 2012
GPU – Cet. I, Maret 2012
275 hal
(Pinjem sama Om Tan)

Boss besar Kretek Djagad Raja sedang sekarat. Dalam keadaan ‘ngelindur’, Pak Raja malah menyebutkan nama seorang perempuan yang karuan membuat istrinya berang dan cemburu. Jeng Yah – demikian nama perempuan itu. Ketiga anak laki-laki mereka pun bertanya-tanya, siapakah Jeng Yah? Bertanya pada ibu mereka sama saja memicu pertengkaran, karena ibunya berkata “Jangan berani-berani menyebut nama perempuan itu!” Waduh…

Maka, Tegar, Karim dan Lebas pun mencari informasi tentang siapakah sosok Jeng Yah itu. Bergulirlah sebuah kisah di balik kesuksesan Kretek Djagad Raja.

Diawali dengan persaingan antara Soedjagad dan Idroes Moeria di masa perang kemerdekaan. Kala itu jaman serba susah. Pada dasarnya Soedjagad dan Idroes ini berteman sejak kecil. Tapi, persaingan diam-diam dalam memperebutkan seorang gadis bernama Roemisa, membuat mereka akhirnya menjauh. Syarat untuk bisa mendapatkan hati sang gadis adalah harus bisa baca-tulis. Sebuah syarat yang berat kala itu.

Awalnya Idroes-lah yang mulai dengan usaha kretek ini. Tapi, selalu saja tak selang berapa lama, muncul kretek sama produksi Soedjagad, entah dengan nama yang berbeda, atau kemasan yang nyaris sama. Tak ketinggalan pula slogan yang menarik hati para konsumen. Tentu saja Idroes gemas. Meskipun ia berhasil memenangkan ‘hati’ Roemisa, tapi tetap saja tak membuat Soedjagad menyerah. Puncaknya adalah ketika tiba-tiba Idroes menghilang kala masa pendudukan Jepang. Nyaris saja Roemisa jatuh ke pelukan Soedjagad.

Persaingan terus berlanjut bahkan sampai pasangan ini memiliki anak perempuan bernama Jeng Yah. Tapi selalu saja, Idroes selalu selangkah lebih maju. Kretek Gadis-lah yang membuat Idroes semakin sukses. Saat itu, seorang pemuda bernama Soeraja tengah dekat dengan Jeng Yah. Pemuda yang tak jelas asal-usulnya ini membuat Jeng Yah jatuh cinta. Mereka nyaris menikah, tapi sayang, peristiwa G30S/PKI membuat rencana mereka berantakan. Soeraja pun menghilang, Kretek Gadis juga sempat mengalami masa koma.

Dan… bagian yang lucu adalah saat pembaca rahasia luka di wajah Soedjagad terbuka apa penyebabnya. Dan terbongkar pula sebuah rahasia lain, yang membuat ketiga anak laki-laki Soedjagad justru merasa bersalah.

Wah, sebuah usaha yang sangat sederhana, melahirkan perusahaan kretek yang kemudian jadi nomer 1. Cover novel ini bisa membuat pembaca bertanya-tanya, siapakah si Gadis Kretek? Si Gadis yang tengah memegang rokok (yang kalo di iklan rokok aja kan gak boleh keliatan ada rokoknya… CMIIW). Tapi, gue suka cover-nya, tampak klasik.

Pembaca juga diberi ‘pengetahuan’ tentang segala sesuatu tentang kretek, mulai dari cara memilih tembakau dan cengkeh, sejarah kretek, bahan pembungkus kretek, plus resep rahasia yang membuat kretek itu jadi ‘enak’.

Tak hanya itu, Soedjagad juga mengajarkan pada anak tertuanya, bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu bersikap, bahwa banyak yang menggantungkan hidup pada pabrik kretek mereka. Para buruh bukan hanya pekerja, tapi juga keluarga mereka.

Tapi, kenapa gue merasa porsi si Gadis Kretek ini terlalu singkat ya? Justru begitu panjang kisah cinta Idroes dan Roemisa, plus cerita tentang persaingan Idroes dan Soedjagad.

Wednesday, September 05, 2012

Wishful Wednesday (7)



Ikutan Wishful Wednesday lagi.. kadang-kadang bingung juga ya, milih-milih buku yang mau masuk ‘wishlist’ Hehehe.. kebanyakan soalnya.

Kali ini gue memilih 1984 – George Orwell. Astrid udah duluan masukin ini ke Wishful Wednesday-nya. Katanya, beliau ini adalah ‘suhu’ dystopian novel. Nah, sebagai ‘fans baru’ dari genre ini, rasanya akan lebih afdol kalo baca 1984 ini.


Written in 1948, 1984 was George Orwell's chilling prophecy about the future. And while 1984 has come and gone, Orwell's narrative is timelier than ever. 1984 presents a startling and haunting vision of the world, so powerful that it is completely convincing from start to finish. No one can deny the power of this novel, its hold on the imaginations of multiple generations of readers, or the resiliency of its admonitions a legacy that seems only to grow with the passage of time.

Mau ikutan Wishful Wednesday juga, seperti biasa rules-nya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Friday, August 31, 2012

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings



The Lord of the Rings: The Fellowship of the Rings (Sembilan Pembawa Cincin)
J.R.R. Tolkien
Gita Yuliani K (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2002
512 hal
(Gramedia Pondok Indah Mall – kalo gak salah)

Memilih buku untuk posting bareng BBI bulan ini rada-rada membingungkan. Plin-plan aja gue jadi bawaannya. Tema bulan ini adalah ‘1001 books to read before you die’ – dari sekian banyak pilihan buku, susah rasanya untuk menentukan buku mana yang akan gue baca. Ada beberapa yang udah dibaca, dan udah dibuat review-nya, ada beberapa buku yang masih berstatus penghuni timbunan, tapi baru beberapa lembar dibaca, udah berpikir bahwa sebaiknya buku itu dijadikan bantal saja karena bikin ngantuk (yah, sebut aja Wuthering Heights atau Pride and Prejudice). Pride and Prejudice sempat gue baca beberapa bab – lebih banyak daripada Wuthering Heights yang hanya beberapa lembar :D Nyari-nyari Virgin Suicides kaya’nya adek gue punya – tapi.. lho koq gak ketemu… akhirnya, terinspirasi saat nonton di TV, gue memutuskan untuk membaca ulang The Lord of the Rings – toh saat gue baca buku ini tahun 2002, gue belum punya blog buku, dan otomatis belum ada review-nya.

Membaca buku untuk yang kedua kalinya, biasanya gue justru lebih ‘menghayati’, lebih hati-hati, karena gak ada perasaan pengen cepet-cepet nyelesain buku baru. Jadi, yang dulu saat pertama baca buku ini, sejujurnya, gue gak terlalu ngerti.

Udah ah, panjang bener basa-basi gue ini.

‘Seharusnya’ sih, cerita Lord of The Rings ini gak asing buat para pencinta cerita fantasi. Dulu pun saat gue beli buku ini, lagi jaman-jamannya Harry Potter… hehehe.. rada-rada tertipu sih, gue pikir ceritanya akan ‘semenyenangkan’ Harry Potter, tapi ternyata gelap banget *terbayang wajah Frodo yang selalu murung*

Jadi, alkisah, Bilbo Baggins mengadakan perayaan ulang tahunnya yang ke 111 – atau yang dalam bangsa Hobbit artinya ulang tahun yang ke seratus sepuluh satu – sebuah pencapaian yang membanggakan. Bilbo ini sudah merencanakan sebuah kejutan – yaitu ia akan ‘menghilangkan’ diri di tengah-tengah pidatonya sendiri.

Yah.. sebelumnya sih, Bilbo memang dikenal aneh. Ia sudah pernah ‘menghilang’ sebelumnya dan tiba-tiba muncul kembali. Tapi kali ini, ia akan ‘menghilang’ untuk selamanya.

Tapi, dengan apa Bilbo menghilang? Ternyata ia hanya perlu mengelus sebuah cincin. Dan .. ‘Pop’ , ia pun menghilang. .. seluruh kekayaan yang ia miliki, ia wariskan kepada keponakannya – Frodo Baggins.

O ya.. Hobbit itu sebangsa kurcaci – eh, bahkan lebih kecil dari kurcaci, gak pernah pake sepatu karena kaki mereka yang besar dan tebal, tinggalnya di dalam semacam gua atau lubang yang udah ditata dengan apik.

Ternyata cincin yang dipakai Bilbo ini memang mempunyai kekuatan ‘magis’ dan sayangnya, untuk beberapa pemakainya memberi pengaruh buruk. Maka itu, cincin ini harus dimusnahkan. Tapi, cara memusnahkannya pun gak sembarangan, harus dibawa ke gunung api di Mordor. Tugas Frodo-lah sebagai pewaris untuk memusnahkan cincin itu. Karena ternyata kekuatan gelap mulai muncul lagi.

Perjalanan yang harus ditempuh sangat berbahaya, Sauron si penyhir jahat, mulai mengincar cincin itu juga. Belum lagi Gollum, makhluk kecil yang menjijikan. Ia menganggap cincin itu adalah miliknya dan Bilbo sudah mencuri darinya.



Frodo pun berangkat ditemani 8 orang lainnya: empat sahabat hobbit – Merry Bradybuck, Pippin Took dan Sam Gamgee, lalu ada Gandalf, si penyihir putih yang baik hati dan bijaksana, Gimli – mewakili bangsa kurcaci, ada Boromir. Dan gak ketinggalan, Aragorn dan Legolas, si peri manis dan ganteng ini (aww… *mana suara para wakil Team Aragorn dan Team Legolas? Hehehe…)

Yah, begitulah cerita singkatnya.. yang pasti gue selalu membayangkan betapa tertekannya Frodo.

Adanya film, seperti yang gue bilang di atas, sangat membantu untuk mengerti jalannya cerita buku ini. Apalagi, sampai buku ketiga, yang buat gue, makin lama semakin gelap. Yang menyenangkan adalah membayangkan desa para Hobbit.

Kalo ditanya apakah buku ini pas untuk masuk ke dalam 1001 buku yang ‘wajib’ dibaca, karena J.R.R Tolkien berhasil membawa kita ke dalam sebuah dunia baru. Tak terbayang ada makhluk yang lebih kecil dari kurcaci. Dan kalo selama ini gue ngebayangin kurcaci itu imut-imut seperti yang ada di Snow White, hehehe.. di sini kurcacinya gendut dan mengerikan. Tapi sebenernya si kurcaci ini baik hati sih…

Waktu terakhir gue nonton LOTR 3, pengen nangis rasanya, sedih ngeliat perpisahan antara Frodo dengan Sam, Merry dan Pippin. Hiks…

Thursday, August 30, 2012

The Night Circus



The Night Circus
Anchor Books
508 pages
(Times Bookstore – Cibubur Junction)

Cover memang salah satu daya tarik utama yang bikin gue tertarik untuk beli sebuah buku. Tak terkecuali yang satu ini, cover yang simple, background hitam, dengan garis-garis putih membentuk sebuah tenda dan sedikit warna merah.

Alasan lainnya adalah karena kalimat ini yang begitu ‘menggoda’ rasa ingin tahu gue:  

The circus arrives without warning. No announcements precede it. It is simply there, when yesterday it was not. Within the black-and-white striped canvas tents is an utterly unique experience full of breathtaking amazements. It is called Le Cirque des Rêves, and it is only open at night.

Tentunya ini bukan sirkus biasa. Gak ada yang tau di mana kota selanjutnya yang akan mereka datangi. Pokoknya tiba-tiba ada aja tenda sirkus hitam putih udah berdiri. Sampai-sampai ada para ‘fans’ yang rela menguntit keberadaan sirkus ini, yang disebut dengan Rêveur.

Adalah Chandresh – si pemrakarsa sirkus ini. Awalnya Chandresh ini juga punya ritual aneh, yaitu mengadakan jamuan makan tengah malam. Di antara para tamu yang ekslusif itulah, Chandresh melontarkan ide ini. Para pengisi acara di sirkus ini pun haruslah unik.

Apa yang ada di sirkus juga bukan hal biasa – yah, bukan kaya’ yang biasa kita liat di sirkus-sirkus gitu deh. Berpindah dari satu tenda ke tenda lain, pengunjung kesulitan memutuskan mana yang paling mereka sukai. Ada tenda yang isinya awan-awan, wishing tree, labirin dan lain-lain – yang gak pernah terbayangkan kalau ini beneran ada. Jangan bayangin sirkus seperti yang ada di Water for Elephants, deh…      

Tapi, di balik keunikan dan segala misteri yang ada di balik sirkus ini, sebenarnya ada sebuah kompetisi antara dua orang magician bernama Celia dan Marco. Mereka berdua ini sudah dididik sejak kecil untuk berkompetisi. Celia adalah seorang anak magician, dan Marco – seorang yatim piatu yang diambil oleh pria misterius berpakaian abu-abu. Dalam kompetisi ini, siapa yang kalah akan mati.

Marco adalah asisten Chandresh dan pertama kali ia tau siapa kompetitornya saat ia menyaksikan Celia dalam audisi.

Tokoh yang mencuri perhatian gue adalah si Frederick Stefan Thiessen – si pembuat jam yang ajaib juga. Keren banget.. gue berusaha ngebayangin.. tapi susah… Sama satu lagi, si kembar Widget dan Poppet – si kembar yang lahir pas malam pembukaan sirkus, yang satu bisa membaca masa depan, yang satu lagi justru bisa melihat masa lalu.

Setting cerita ini dimulai tahun 1873. Setiap bab, waktu yang diceritakan juga melompat-lompat, meskipun kalo gak diperhatiin bener, akan gak sadar kalo sebenarnya kita membaca rentang waktu yang berbeda (nah, sambil baca aja udah kena ilusi)
Sebenernya nih… gue pengen banget untuk ‘sangat’ suka sama buku ini. Tapi, entah ya, koq tiba-tiba pas baca ini rasanya ‘blank’ aja. Terlepas dari segala keunikan buku ini, ada yang gak pas menurut gue. Entah karena, bumbu-bumbu percintaan antara Marco dan Celia yang bikin buku ini jadi kaya’ novel romance ‘biasa’ – mereka ini saling menunjukkan ‘cinta’ dengan cara bikin tenda yang isinya ajaib-ajaib semua, atau karena saat membaca buku ini gue gak ‘mencurahkan’ perhatian yang bener-bener. Maklum deh, saat-saat gue baca buku dengan tekun adalah di mobil dalam perjalanan ke kantor, tapi karena gue baca buku ini pas bulan puasa, yang ada di mobil gue malah ngantuk dan tertidur. Adakalanya saat gue baca pun gue jadi gak fokus karena ngantuk (huhuhu… alasan… alasan…)

Wednesday, August 15, 2012

Dollhouse



Dollhouse
Kourtney – Kim – Khloe Kadarshian
Inosensu Rotorua (Terj.)
Penerbit Esensi - 2012
327 hal
(buntelan dari Penerbit Esensi)

Cover yang eye-catching dengan motif macannya, ditambah dengan nama penulisnya, membuat gue bertanya-tanya, beneran gak ya ini tulisan para The Kadarshians? Jangan-jangan ceritanya sama aja seperti lagi nonton reality show tentang kehidupan mereka, yang penuh dengan party, belanja-belanja dan kehidupan yang mewah itu.

Jujur aja, pertama kali gue tau yang namanya Kim, Khloe dan Kourtney Kadarhsian, adalah saat lagi makan siang di kantor. Waktu itu di kantor baru aja dikasih fasilitas televisi di pantry. Temen gue memindahkan chanel ke salah satu acara reality show-nya The Kadarshians ini. Gue pun bertanya sama temen gue, “Sebenernya siapa sih mereka ini?”  Karena gak pernah kedengaran nyanyi atau main film, tau-tau ngetop aja gitu. Hehehe.. atau gue aja yang kuper kali ya?

Jadi, Dollhouse berkisah tentang kehidupan 3 bersaudara – Kass, Kamille dan Kyle Romero(hmmm.. ya.. perhatikan awalan yang sama dengan nama-nama mereka). Awalnya mereka ini termasuk keluarga selebritis, tapi sejak kematian ayah mereka, yah, terpaksa mereka ‘menurunkan’ standard kehidupan mereka ‘sedikit’.       

Kass, yang paling tua, paling pintar dan paling ‘alim’. Prestasi akademiknya cemerlang. Tapi, sayangnya tidak diikuti dengan kehidupan percintaan yang sukses juga. Karena ‘kutu buku’, Kass jarang melirik para cowok-cowok, padahal Kass gak kalah cantik dari Kamille.

Kamille, yang paling cantik, paling glamour – gambaran yang rasanya paling mendekati cewek-cewek Kadarshians. Ia bermimpi jadi foto model terkenal. Perawatan dirinya sangat mahal. Dan akhirnya.. keberuntungan itu memang datang. Ketika sedang duduk-duduk di café, seorang agent menghampirinya dan memberi tawaran untuk menjadi foto model. Karir Kamille langsung melesat, ditambah lagi ia berpacaran dengan seorang pemain football yang terkenal playboy. Tapi, yah namanya udah cinta mati, gak peduli deh seperti apa gossip yang beredar. Paparazzi selalu menguntit Kamille, reality show pun ingin ikut ambil bagian.  

Lalu, si bungsu, Kyle, si pemberontak. Kyle lebih tertutup dibandingkan dengan dua saudaranya. Sikap ini muncul semenjak ayah mereka dinyatakan tewas saat sedang berlayar. Orang tuanya sering dipanggil ke sekolah karena sikap Kyle yang ‘ajaib’. Terkadang juga secara diam-diam, ia mengambil minuman keras dari lemari ayah tirinya.

Sejujurnya gue ‘lega’ saat membaca buku ini, karena isinya gak terlalu mirip dengan kehidupan asli mereka (eh.. emang gue tau aslinya mereka gimana?). Yahhh..  paling gak beda dengan yang bisa diliat di acara televisi mereka itu. 







Tokoh favorit gue adalah Kyle, yang meskipun gak terlalu banyak porsinya dan meskipun anak bandel, tapi dia sayang sama adik tirinya, Bree. Hehehe.. emang gue selalu lebih suka dengan tokoh yang rada-rada rebellious.

Isi buku ini …yah.. drama banget… Tokoh-tokohnya buat gue lumayan punya konflik yang beragam. Tapi emang sih, kadang gak jauh-jauh dari urusan percintaan.

Yang gue suka adalah isinya yang tentang persahabatan di antara kakak-beradik, gak ada satu sama lain yang merasa tersaingi, malah saling support. Yah, meskipun sempat ada masalah besar antara Kass dan Kamille. Tapi, love conquers it all…  Antara saudara tiri juga gak ada yang namanya permusuhan kaya’ cerita Bawang Merah Bawang Putih.. hehehe…

Tapi, gue sempat bertanya-tanya, "Apa enak ya kalo setiap hari selalu dikuntit kamera? Untuk 'menggerutu' aja gak boleh?"

Well… awal yang baiklah untuk The Kadharsian buat terus bikin tulisan.

Tuesday, July 31, 2012

Pesta Makan Malam


Detik-detik terakhir baru saya berhasil menulis untuk ikutan event Shorty July: Baca Bareng Cerpen Klasik Dunia yang diadakan @bacaklasik, bekerja sama dengan Penerbit Serambi.

Berhubung saya gak punya kumcer klasik, akhirnya saya membongkar-bongkar website Fiksi Lotus, dan cerpen ini langsung menarik perhatian saya, bukan karena ceritanya, tapi karena penulisnya.





Pesta Makan Malam, atau The Butler, ditulis oleh Roald Dahl, pada tahun 1973.  Cerpen ini diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin. Bagi pecinta buku, nama Roald Dahl tentunya tak asing lagi. Siapa yang tak kenal karya-karyanya dengan tokoh-tokoh yang ajaib atau ‘nyeleneh’, seperti ‘Charlie and the Chocolate Factory’, ‘Matilda’, ‘BFG’ dan masih banyak lagi. Cerita-cerita anak-anak itulah yang saya kenal. Tapi, seperti apa kalau Roald Dahl menulis cerita untuk orang dewasa?


Singkat cerita, Pesta Makan Malam bercerita tentang pasangan George Cleaver yang mengadakan jamuan makan malam di rumah mewah mereka. Mereka berusaha menyajikan menu terbaik dan mewah, tapi tetap saja, para tamu tidak terkesan. Anggur mahal yang disajikan atas saran Tibbs, pelayan mereka, juga tak membuat jamuan makan malam itu jadi lebih baik. Malah acara itu jadi hambar. Karuan Mr. Cleaver gusar. Pasalnya jamuan makan malam mewah itu bertujuan untuk menaikkan status sosial mereka.

Endingnya, malah Tibbs kabur dengan sang koki, Monsieur Estragon.

Ok, sekarang tiba waktunya untuk opini dari cerita ini:

  1. Ini adalah cerita tentang pasangan OKB alias Orang Kaya Baru, di mana untuk ‘memperjelas’ status baru mereka, pasangan ini perlu menampilkan berbagai kemewahan yang baru mereka cicipi. Tak peduli berapa pun harganya, mereka bersedia membeli anggur paling mahal sekali pun.
  1. Tapi, ternyata, bahkan semahal apa pun anggur yang disajika tidak bisa membohongi asal-usul mereka. Ini dilontarkan oleh Tibbs, “Saya selalu menyajika anggur merah murahan asal Spanyol itu. Menurut saya anggur itu sangat cocok dengan kepribadian anda.”
  1. Karakter Tibbs juga bukanlah sosok yang sempurna. Buktinya dengan tega ia mempermalukan Tuan-nya di depan para tamu, dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang mencela.
  1. Anggur ‘dipercaya’ sebagai minuman yang bisa meningkatkan status sosial seseorang. Bukan hanya dari segi uang, tapi juga ‘martabat’. Semakin tua umur anggur, biasanya akan semakin mahal pula harganya. Tapi, untuk menikmatinya pun ada tata cara tersendiri. Seperti kata Tibbs (lagi), “Anggur terbaik harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.”

Terima kasih buat Fiksi Lotus, poin diskusinya membantu saya untuk mencoba memahami cerita Pesta Makan Malam ini.

The Sherlockian



The Sherlockian
Penerbit: Twelve, Hachette Book Group (2010)
350  hal.
(Pinjam sama Astrid)


Arthur Conan Doyle, sebenarnya rada ‘kesal’ dengan sosok Sherlock Holmes yang ternyata lebih ‘ngetop’ dibandingkan dirinya sendiri – si pencipta tokoh detektif flamboyan yang cerdas itu. Bahkan, para fans Holmes, menganggap sosok itu adalah nyata. Tak jarang Doyle menerima surat yang isi sebenarnya ditujukan kepada Holmes – ada yang minta cariin kucingnya yang hilang lah, minta tangkepin penjahat lah, dan lain-lain.

Maka, di suatu hari, Doyle memutuskan untuk ‘mengakhiri’ kisah Sherlock Holmes dalam ‘Kisah Penutup’ (baca: Memoar Sherlock Holmes). Doyle menerima caci-maki dari para penggemar Holmes yang terkejut. Mereka berduka.

8 tahuh kemudian, lagi-lagi, Doyle membuat kejutan. Dengan ‘memunculkan’ kembali kisah Sherlock Holmes. Kemunculan ini kembali menyisakan misteri, kenapa Holmes muncul kembali? Apa yang terjadi dalam kurun waktu 8 tahun itu?

Sir Arthur Conan Doyle rajin menulis buku harian. Tapi, justru buku harian yang memuat kisah hari-hari selama kurun waktu tersebut hilang.

Tahun 2010, para Sherlockian dikejutkan dengan berita bahwa salah satu anggota Baker Street Irregulars, kelompok Sherlockian yang ekslusif, berhasil menemukan buku harian itu. Tentu saja, para Sherlockian tak sabar menunggu laporan apa isi buku harian itu sebenarnya. Tapi sayangnya, si penemu buku harian itu  justru ditemukan tewas di kamar hotelnya.

Harold White, anggota terbaru dari Baker Street Irregulars, tidak mau menyerahkan perkembangan kasus itu pada polisi. Ia pun mulai melakukan penyelidikan a la ‘Sherlock Holmes’.

Layaknya Sherlock Holmes, baik Doyle maupun Harold memiliki ‘Watson’ mereka sendiri. Doyle dibantu oleh Bram Stroker (yup, sang penulis kisah Drakula), sementara Harold didampingi Sarah, seorang jurnalis yang ingin menjadikan kisah Diary Arthur Conan Doyle ini sebagai kisah ‘comeback’nya ke dunia jurnalistik.

Gue memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam posting bareng BBI yang temanya ‘Historical Fiction’. Karena, Sir tokoh Arthur Conan Doyle boleh dibilang salah satu penulis yang membuat sejarah dengan tokoh Sherlock Holmes-nya, yang meskipun sudah satu abad, masih tetap memiliki penggemar tersendiri.

Buat gue yang baru saja mulai membaca kisah-kisah Sherlock Holmes, buku ini sangat menarik, sebuah kisah di belakang layar penulisan Holmes. Gak menyangka kan , kalau Doyle justru sebal dengan kesuksesan Sherlock Holmes. 

Reinbach Falls, Switzerland


Gaya penulisannya juga unik. Dua kisah yang berbeda, dengan rentang waktu yang jauh. Hingga akhirnya bertemu di satu titik. Jadi ikutan terharu pas ceritanya selesai.

Yang bikin gue cekikikan adalah saat membayangkan Arthur Conan Doyle dan Bram Stroker harus menyamar jadi perempuan untuk bisa masuk ke dalam sebuah pertemuan yang hanya boleh dihadiri oleh perempuan. Mereka berdua harus mencukur kumis mereka dan rela pake korset. 

Atau, silahkan bayangkan saat pertemuan Baker Street Irregulars, semuanya berdandan ala Sherlock Holmes. Mungkin bakalan tampak lucu, tapi namanya juga nge-fans berat, pastinya bakal diusahakan semirip mungkin dengan sang idola.

Ada thriller, ada juga humornya. 


Tentang penulis (dari goodreads.com):
Graham Moore is a twenty-eight-year-old graduate of Columbia University, where he received his degree in religious history. He grew up in Chicago, which was very cold, and then moved to New York, which was not really as cold, even though people who live there strangely pretend that it is.

He now lives in the not-at-all-cold Los Angeles, despite being the sort of person who thought he would never, ever live in Los Angeles. Life is funny that way.

Wednesday, July 25, 2012

Her Fearful Symmetry



Her Fearful Symmetry
Vintage Books
485 hal
(Periplus Pondok Indah Mall – Special Price!)

Dalam surat wasiatnya, Elspeth mewariskan apartemennya di London kepada dua keponakan kembarnya yang ada di Amerika. Tapi dengan syarat yang aneh yaitu orang tua si kembar – Julia dan Valentina, tidak boleh menginjakkan kaki di apartemen itu, dan mereka harus tinggal di sana selama setahun, baru setelah itu boleh mereka jual jika mau.

Julia dan Valentina – kembar identik atau saat mereka berhadapan akan seperti berkaca. Mereka nyaris tak pernah berpisah. Untuk urusan sekolah pun, mereka harus selalu bersama. Urusan percintaan juga jadi hal yang jarang terjadi di antara mereka. Karena, jika mereka sudah puas berdua, kenapa harus berhubungan dengan yang lain? Karakter Julia lebih kuat daripada Valentina. Julia lebih sering mengambil keputusan, sementara Valentina hanya mengekor. Bahkan Valentina cenderung mengikuti semua yang Julia mau. Termasuk dalam hal minat. Valentina berbakat dalam hal jahit-menjahit dan punya cita-cita ingin mendalami hal itu dengan lebih serius, tapi terbentur dengan Julia yang jadi ‘bingung’, kalo Valentina sekolah, nanti dia sama siapa? Dan gara-gara ini, mereka bahkan jadi putus sekolah. Dalam hal fisik juga Julia lebih kuat dibandingkan dengan Valentina yang punya penyakit asma.

Awalnya, orang tua mereka, Eddie dan Jack keberatan melepas mereka hanya berdua ke London. Tapi, akhirnya mereka berpikir kalau justru ini hal yang bagus untuk melatih kemandirian mereka. Apalagi Julia dan Valentina begitu semangat ingin tahu latar belakang Elspeth yang tidak pernah mereka temui, atau malah, mereka baru tahu kalau ternyata Elspeth itu adalah saudara kembar Eddie.

Di London, akhirnya mereka mengalami hal yang tak terduga. Meskipun mereka tetap tak mengetahui kenapa Elspeth dan Eddie tidak pernah saling berkomunikasi, tapi, mereka malah berkenalan dengan hantu Elspeth. Valentina yang akhirnya jadi lebih ‘dekat’ dengan Elspeth. Dan hal ini justru membawa pada peristiwa yang tak masuk akal.

Awalnya gue rada pesimis saat mulai membaca buku ini. Gue punya pengalaman ‘buruk’ saat membaca Time’s Traveler Wife. Buku ini gak sempat gue selesaikan karena bikin gue bosan. Tapi, dari lembar-lembar pertama, buku ini ternyata membuat gue penasaran untuk membaca lebih tau. Selalu.. buku yang penuh rahasia berhasil menarik minat gue.

Elspeth, Julia dan Valentina, tokoh utama yang penuh dengan keanehan. Semua jadi seperti orang ‘sakit jiwa’. Valentina yang tampak rapuh, ternyata punya ide gila. Yah, Julia yang dominan lama-lama bikin Valentina ‘gerah’. Valentina mulai berontak dan melakukan banyak hal sendiri. Dan malah punya keinginan untuk berpisah dari Julia. Sementara, Julia pun jadi bingung dan cari kesibukan sendiri. Namanya kembar, ada aja rasa cemburu saat yang kembarannya punya dunia lain. Tapi, gue justru jadi berbalik simpati sama Julia yang koq kaya’nya malah jadi ‘korban’ orang-orang aneh di sekitarnya. Lalu, Elspeth yang penuh rahasia. Si hantu ini cemburu dan gak rela kalau Robert – kekasihnya semasa hidup, justru diam-diam menyukai Valentina.

Tokoh lain adalah, Robert, kekasih Elspeth, yang bekerja sebagai pemandu wisata di Highgate Cemetery. Robert ini masih susah untuk move-on setelah meninggalnya Elspeth. Justru Robert yang akhirnya tau rahasia Elspeth. Dan, satu karakter yang gak kalah ajaib adalah Martin, tetangga Robert dan Elspeth. Martin ini punya ‘keanehan’ – misalnya, jendela apartemennya semua tertutup karton hitam, nyaris gak pernah keluar dari apartemen, ‘gila’ kebersihan, sampai-sampai karena gak tahan dengan kegilaannya ini, istrinya, Marijke, pergi meninggalkan dia. Julia-lah yang berbaik hati mendekati Martin dan akhirnya bisa membuat Martin keluar dari comfort zone-nya.




Tadinya gue juga berpikir akan merasakan aura yang rada-rada spooky, mengingat cover-nya yang udah berbau-bau hantu, lalu setting cerita ini berkisar di dekat kuburan. Bahkan dari apartemen Elspeth akan terlihat pemandangan ke Highgate Cemetery. Belum lagi, hantu Elspeth yang berkeliaran. Untungnya sih, cerita di buku ini gak membuat gue merinding dan menutup buku gara-gara membayangkan film-film horror a la film Indonesia.

O ya, gue juga suka membayangkan isi apartemen Elspeth. Maklum, katanya Elspeth ini jual beli buku-buku tua. Di apartemen-nya banyak buku-buku, bahkan dari edisi yang udah langka.

Jadinya, yang tadinya pengen kasih 3 bintang aja, malah naik jadi 4 bintang.

Wishful Wednesday 6



Untuk Wishful Wednesday yang spesial kali ini, gue pilih buku yang dari sejak jaman Kubugil ada di wishlist gue adalah The Book Thief-nya Markus Zusak. Tapi, dari dulu harganya masih di atas rata-rata budget gue. Selalu aja, pas lagi di Kinokuniya kah, di Periplus kah, udah dipegang-pegang nih buku ini, tapi begitu jalan ke kasir, selalu aja gue taro lagi di rak. (I’ve told you kan, Strid, kalo gue belum baca dan punya buku ini.. *kode*)
 
Di goodreads, rata-rata pada ngasih bintang 5 dan masuk sebagai buku favorit. Dan satu yang unik, (katanya) dinarasikan sama malaikat maut. Belum lagi berlatar belakang tragedi Holocaust, dengan tokoh seorang anak kecil. Yah, belum apa-apa udah pengen nangis rasanya. Bukan apa-apa, hanya membayangkan anak kecil di tengah perang, sedih aja bawaannya.        
 
 
 Ini sinopsis dari goodreads

It’s just a small story really, about among other things: a girl, some words, an accordionist, some fanatical Germans, a Jewish fist-fighter, and quite a lot of thievery …

Set during World War II in Germany, Markus Zusak’s groundbreaking new novel is the story of Liesel Meminger, a foster girl living outside of Munich. Liesel scratches out a meager existence for herself by stealing when she encounters something she can’t resist–books. With the help of her accordion-playing foster father, she learns to read and shares her stolen books with her neighbors during bombing raids as well as with the Jewish man hidden in her basement before he is marched to Dachau.

This is an unforgettable story about the ability of books to feed the soul.

Setelah browsing-browsing, ternyata di bookdepository, buku ini lagi di-discount 22% - http://www.bookdepository.co.uk/Thief-Markus-Zusak/9780552773898

Jadi… random.org… please be kind to me ya…

Thanks to Astrid dan book to share untuk blog hop Wishful Wednesday-nya (sorry gak setiap minggu ikutan) dan thanks for the giveaway..

Ayo yang belum ikutan Wishful Wednesday kali ini, buruan ikut.. ini syaratnya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang