Friday, March 28, 2014

The Summons



 

The Summons (Panggilan)

John Grisham @ 2002

Hidayat Saleh (Terj.)
GPU – September 2002
432 Hal.

Ray Atlee, seorang profesor hukum di University of Virgnia, menerima sepucuk surat dari ayahnya, Ruben Atlee. Ruben Atlee, atau lebih dikenal sebagai Hakim Atlee, seorang hakim yang sangat dihormati oleh warga Clanton. Tapi sayangnya, hubungan antara Ruben dengan kedua anaknya – Ray dan Forrest, kurang begitu baik.

Ray Atlee menduga panggilan mendadak itu akan membicarakan tentang harta kekayaan yang dimiliki Hakim Atlee, sehubungan dengan warisan, mengingat kondisi Hakim Atlee yang sudah tua dan sakit-sakitan. Maka pulanglah Ray ke Clanton. Tapi, sampai di sana, ia malah menemukan bahwa Hakim Atlee sudah meninggal, dalam kesendirian di rumahnya.

Sepucuk surat wasiat ditemukan di meja kerja Hakim Atlee dan menunjuk Ray sebagai eksekutor dari warisan yang ditinggalkannya. Ketika sedang memeriksa ruang kerja itu, Ray menemukan berpuluh kotak yang isinya uang sejumlah 3 juta dolar! Yakin uang itu bukanlah uang ‘yang benar’, maka Ray memutuskan untuk menyimpan rahasia itu. Yah, Ray yang lurus itu pun tergoda dengan uang tersebut. Karena kalau sampai adiknya tahu, Ray takut uang itu akan dipergunakan untuk hal yang tidak baik, mengingat reputasi Ray sebagai peminum dan pemakai obat.

Tapi, hidup Ray jadi tidak tenang, ada orang yang membuntutinya, mengancam dan mengincar uang tersebut. Ray masih percaya bahwa ayahnya tak akan menerima uang kotor, maka ia pun menyelediki arsip-arsip yang ditinggalkan ayahnya untuk mendapatkan petunjuk dari mana datangnya uang tersebut.

Tak ada drama pengadilan di buku ini. Lebih menyorot pada pribadi Ray Atlee dan hubungannya dengan Hakim Atlee serta Forrest. Ray yang memiliki kehidupan yang teratur, tiba-tiba seolah mendapat sebuah kejutan dengan penemuan uang dalam jumlah besar. Ia jadi tergoda tapi juga berubah menjadi pribadi yang paranoid. Berbeda dengan Forrest yang dari awal sudah digambarkan sebagai bad boy, meskipun ia bertekad untuk berubah, tapi Ray nyaris tak percaya.

Hakim Atlee – kaku dalam hubungannya dengan anak-anaknya, tapi ternyata pribadi yang peduli dengan sesama,  banyak dana bantuan yang mengalir dari rekening bank pribadinya. Penemuan uang itu nyaris menodai pandangan Ray terhadap ayahnya.

Meskipun bukan novel John Grisham favorit gue, tapi, cerita di dalam buku ini, mampu membuat gue penasaran untuk bisa bertahan sampai akhir cerita. Penasaran siapa pelaku teror terhadap Ray. Ending-nya memang rada datar, tapi menurut gue justru menggambarkan hubungan yang memang ‘dingin’ antara Ray dan Forrest.

Submitted for:


-          2014 TBRR Pile – Reading Challenge (additional challenge: Mystery)


-          John Grisham Read-along

Metafora dalam Cinta



 

Metafora dalam Cinta

Arya Yudistira Syuman @ 2013

GPU – Juli 2013
63 Hal.

Rasanya gak akan berpanjang-panjang gue membicarakan buku yang satu ini. Selain karena memang bukunya tipis, juga karena gue belum ‘mahir’ berbicara tentang puisi. Puisi sangat jarang gue baca, kecuali waktu dulu pas masih langganan majalah Bobo, gue suka mengkliping puisi-puisi dari Bobo dan sesekali nulis puisi juga. Tapi sekarang… hehehe.. udah gak ‘puitis’ lagi, jadinya gak kepikiran mau nulis-nulis puisi lagi.

Buku ini gue temukan terselip di antara novel-novel sastra Indonesia. Ketika gue sedang mempertimbangkan apakah mau beli Hujan Bulan Juni – nya Sapardi Djoko Damono atau Kumpulan Puisi – Wiji Thukul. Segera saja gue ambil Metafora Dalam Cinta ini, ya cocoklah untuk gue yang pemula dalam mereview buku puisi.

Arya Yudistira Syuman – lebih dikenal sebagai seorang penari. Pernah ikut berkolaborasi dalam menulis cerpen bersama adiknya, Djenar Maesa Ayu dalam 1 Perempuan 14 Laki-Laki.

Pengantar yang ditulis oleh Joko Pinurbo sangat membantu gue dalam ‘mencerna’ 28 puisi di dalam buku ini.

Dari judul buku ini, tentu saja sudah jelas apa yang menjadi tema dalam puisi-puisi yang ditulis. Tanpa perlu kalimat yang ‘bersayap’, tanpa perlu penafsiran yang rumit, puisi-puisi ini meski sederhana tapi tetap indah, bahkan terkesan ‘lugu’ atau ‘polos’ atau bahkan malu-malu.

Terkadang puisi itu bercerita tentang seseorang pria yang ragu-ragu untuk menyapa seorang perempuan, atau berkisah tentang rasa sayangnya terhadap keponakannya, Miyake.

Favorit gue adalah Cinta Masa Sekolah (jadi inget jaman-jaman cinta monyet).

Kelereng-kelereng itu kususun
menuliskan namaku dan namamu
seolah-olah kita memang ditakdirkan untuk bersatu ….,

betapa hatiku hancur, ketika kau pindah ke kelas pagi
dengan alasan, wali kelas kita orangnya galak ….

(hal. 36)

Gue sampai senyum-senyum sendiri baca puisi ini (masih ada lanjutannya dengan kalimat yang tetap bikin senyum). Ada rasa ‘galau’ dan pasrah.

Rasanya gue pengen baca ulang puisi-puisinya, biar lebih ‘meresapi’ kalimat-kalimat yang ada, biar lebih bisa menangkap makna di dalam setiap puisinya.


Submitted for:


-          Baca Bareng BBI bulan Maret 2014 – tema: Puisi

Thursday, March 27, 2014

The Reader



 

The Reader (Des Vorlesser - Sang Juru Pembaca)

Bernard Schlink

Fransiska Paula Imelda Alexandria Tobing (Terj.)
Elex Media Komputindo, 2012
227 Hal.

Michael Berg, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun – waktu dia lagi sakit dan iseng jalan-jalan, tiba-tiba dia lemas dan muntah-muntah di jalan. Dia ditolong oleh seorang perempuan berusia 30 tahun, yang mau repot-repot gantiin baju, nyiram bekas muntah dan mengantar dia sampai ke rumah. Sama ibunya, Michael disuruh datang ke rumah perempuan itu dan mengucapkan terima kasih.

Nah, di rumah perempuan itu, yang kemudian diketahui bernama Hanna Schmitz, Michael disuruh duduk-duduk, dan gak sengaja deh Michael ngeliat Hanna yang lagi ganti baju. Sebagai anak yang beranjak dewasa, deg-degan dong ngeliat pemandangan kaya’ gitu. Ehh… besoknya, Michael datang lagi deh ke rumahnya si Hanna – penasaran gitu ceritanya. Dan berakhirlah kunjugan hari itu dengan acara mandi dan bobo’  bersama. Nyaris setiap harilah, akhirnya sepulang sekolah Michael mampir ke rumah Hanna dan mengulang ‘ritual’ itu. Belakangan, Hanna minta dibacain cerita sama Michael, maka sebelum tambah satulah kegiatan mereka sebelum melakukan yang satu itu.

Ok baiklah, bagian pertama dalam buku ini membuat gue hampir merasa gak sanggup nerusin buku ini. Masa’ sih isi ceritanya cuma bolak-balik perjalanan ke rumah Hanna dan baca-mandi-bobo’?

Tapi masuk ke bagian kedua dan lanjut ke bagian 3, ternyata mulai menarik. Di mana, Hanna pergi secara misterius gak tau ke mana, dan Michael mulai jadi mahasiswa di sebuah sekolah hukum. Michael bertemu Hanna lagi di sebuah pengadilan, ketika Hanna menjadi terdakwa dalam sebuah kasus pembakaran sebuah gereja yang isinya adalah orang-orang Yahudi.

Dari sini, baru Michael tahu, alasan Hanna selalu minta dibacakan buku oleh Michael dan ketika Hanna dinyatakan bersalah, Michael merasakan ada sesuatu yang gak beres dan sedikit ‘gemas’ karena Hanna pasrah aja menerima keputusan yang berat, sementara sesama terdakwa lain mendapatkan hukuman yang lebih ringan.

Pilihan tema Baca Bareng BBI bulan Maret ini sungguh membuat gue ‘galau’ – baik untuk Oprah’s Book Club dan buku Puisi. Nyaris mendekati akhir bulan gue gak tau mau baca apa – meskipun gue punya buku Love in Time of Cholera, tapi gue gak yakin bisa menyelesaikan buku itu. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk nyari di Reading Walk, dan ketemu lah buku ini.

Memang sih, buku ini lumayan tipis, tapi, gue udah siap-siap ‘menghadapi’ sebuah alur cerita yang lamban dan ‘sepi’. Buku ini bercerita dari sudut pandang Michael – bagiakan sebuah buku harian, Michael bertutur dengan semua perasaannya terhadap Hanna, bagaimana ketika mereka berpisah, Michael masih saja terobsesi dengan sosok Hanna. Michael tahu hubungan mereka ‘tak pantas’, makanya ia takut bercerita kepada teman dan keluarga tentang hubungan mereka. Tapi, ada rasa bersalah dalam diri Michael, seolah ia malu dan tak mau mengakui hubungan mereka. Hal ini jadi beban dalam diri Michael, terbawa dalam fase kehidupan Michael selanjutnya.

Sementara Hanna, gak banyak yang diketahui tentang latar belakang dirinya. Apa yang diketahui tentang Hanna, bisa disimak lewat penuturan Michael. Jadi ya, kita gak tau, sebenernya Hanna itu gimana. Apa dia juga cinta sama Michael, seperti Michael yang jatuh cinta berat sama Hanna?

Sebuah hal yang sangat berarti, ketika Hanna dipenjara, Michael kerap mengirim kaset-kaset untuk Hanna yang berisi rekaman suara Michael yang membaca sebuah buku. Hingga akhirnya, Hanna berhasil mengirim surat dengan tulisan Jungchen, cerita terakhir bagus sekali. Terima kasih, Hanna.” Tanda sebuah perjuangan yang dilakukan oleh Hanna untuk mengatasi kekurangan yang dimilikinya.


Submitted for:



-          Baca Bareng BBI bulan Maret 2014 – tema: Oprah’s Book Club


Monday, March 24, 2014

Blackjack



 

Blackjack

Clara Ng & Felice Cahyadi

GPU –  Agustus 2013
320 Hal.

Kesel, kecewa baca buku ini. Nama Clara Ng ternyata yang membuat gue tergoda untuk membaca buku ini. Yah, Clara Ng salah satu penulis favorit gue, jadi gak salah dong, kalo gue ‘menaruh harapan’ pada buku ini.

Buku ini bercerita tentang Ashlyn yang kuliah di Inggris – atas permintaan ibunya yang dari kecil getol banget ‘mencekoki’ Ashlyn untuk kuliah di Inggris. Gak boleh Amerika, atau bahkan di universitas di Indonesia sekali pun.

Di Inggris, Ashlyn kenalan sama Jaeed, cowok Indonesia yang berwajah ke-arab-arab-an. Ashlyn pun jatuh cinta dan mau aja digombalin Jaeed. Semua perkataan Jaeed ditelan mentah-mentah, bahkan ketika Jaeed mau pinjam uang hingga ribuan poundsterling sekali pun. Nasihat dan kecurigaan teman-temannya gak digubris, sampai akhirnya Ashlyn kehabisan uang dan luntang-lantung di Inggris sana.

Yang ada di benak gue adalah, Ashlyn adalah cewek yang ‘be-to the-go’ atau segitu polosnya – udah beberapa kali minjemin uang ke Jaeed tapi gak balik, tapi begitu dirayu dikit, ehhh.. luluh lagi.. dan hilanglah lagi uang ribuan poundsteling di meja judi.

Dan Jaeed, ini cowok juga minta dimaki-maki sejuta umat. Hehehe.. emang dasarnya gue kada ‘eneg’ dengan perhatian yang terlalu berbunga-bunga, gue jadi gak simpati dengan si Jaeed ini dari awal. Perhatiaannya terlalu lebay… Sosok Jaeed sendiri juga emang berlebihan sampai bikin males … Udah bikin Ashlyn kehabisan uang, eh… pake marah-marah pula, terus sok-sok menyesal dan ngerayu-rayu lagi….

Terus… nih, temen-temennya Ashlyn juga, segitu percayanya sama Jaeed. Mudah banget ngasih uang ke Jaeed – yang mengatasnamakan Ashlyn untuk ngedapetin uang – tanpa ngecek kebenarannya ke Ashlyn.

Ending-nya juga.. aduh.. polos.. gak ada greget yang manis … dan jujur ada, cerita di buku ini mem-bo-san-kan. Gue pikir akan bertaburan cerita sepak-terjang Ashlyn dan Jaeed di kasino. Aduh, ya sudahlah.. ntar gue malah kebanyakan ngomel lagi…



Submitted for:




Tuesday, March 18, 2014

Ford County



Ford County

John Grisham @ 2009

Fahmi Yamani (Terj.)
GPU – Juni 2012
416 hal.
(Beli di Bukumoo123)


Kembali ke Ford County, sebuah kota kecil tempat setting novel pertama John Grisham – A Time to Kill. Di dalam kumpulan cerita pertama yang dibuat oleh John Grisham ini, pembaca disuguhi 7 kisah yang menarik tentang masalah-masalah yang ‘bersentuhan’ dengan hukum – tanpa harus berkutat di ruang pengadilan. Harry Rex dan Dell menjadi Cameo di dalam salah satu cerita di buku ini.

Kisah-kisahnya tidak berlebihan, malah terkesan sangat nyata, tokohnya ada yang bisa membuat kita kasihan, ngeselin, berengsek dan tapi ada juga yang membuat kita sangat menyukai mereka – terlepas apakah orang itu salah atau benar.

Terbukti John Grisham gak hanya jago cerita tentang drama pengadilan, tapi juga seorang ‘pendongeng’ yang baik. Ia bercerita tentang sekelumit masalah hukum secara ‘abstrak’

Misalnya, di dalam cerita Menjemput Raymond, tentang keluarga yang pergi ke penjara, menungu proses dilaksanakannya hukuman kamar gas bagi salah satu anggota keluarga. Dari judulnya, di awal gue pikir adalah sebuah cerita berakhir happy ending, tapi malah sangat mengharu-biru.

Kasino juga ‘ajaib’ – tentang pria yang dianggap membosankan oleh istrinya, malah jadi seorang penjudi yang mampu mengeruk uang di berbagai kasino. Di awal cerita ini sangat membosankan buat gue, terlalu bertele-tele, sampai akhirnya seorang pria bernama Sidney muncul dalam cerita ini.

Tokoh dalam Quiet Haven bisa jadi menipu. Diceritakan sebagai cowok yang charming, tapi bermaksud mencari korban di panti jompo – ia mencari kekurangan dan kebusukan yang bisa dijadikan sebagai tuntutan hukum dan mengeruk uang dari penghuni panti yang kaya.

Cerita di Kamar Michael seolah membongkar kebusukan seorang pengacara- dalam hal ini Stanley Wade. Demi memenangkan kasusnya, ia mengabaikan kondisi seorang anak yang cacat karena mal praktek yang dilakukan seorang dokter.

Perjalanan Berdarah juga dipenuhi tokoh-tokoh yang menyebalkan. Tujuan awal pergi untuk mendonorkan darah, malah terlupakan karena mereka malah mampir ke klub malam untuk minum-minum dan mencari wanita.

Terakhir cerita Arsip Bau Busuk – tentang seorang pengacara bernama Mack Stafford yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya, prakter pengacara yang juga sedang dalam masa-masa lesu, tiba-tiba mendapatkan telepon yang mengubah hidupnya.

Buat gue, buku ini pas banget ditutup dengan cerita Anak yang Aneh, cerita favorit gue – tentang Adrian Keane yang dijauhi oleh penduduk kota Ford County karena mengidap AIDS. Adrian tetap tabah dan berusaha mengerti pandangan penduduk setempat dan memilih cara kematiannya sendiri. Semua berawal dan berakhir di Ford County. Kota kecil, yang penuh gosip dan kisah unik.



Submitted for:
category: First Letter's Rule


Friday, March 14, 2014

Giveaway Hop BBI 2014




Wah, Alhamdulillah, tahun ini Blogger Buku Indonesia memasuki usianya yang ke 3. Semoga ke depannya, BBI semakin dikenal banyak pecinta buku dan juga masyarakat umum lainnya, bisa memberi kontribusi yang positif dalam dunia perbukuan.

Udah ah.. basa-basinya… pokoknya, selamat ulang tahun, my BeBI …. *kasih ulang tahun kue bakpao*

Dan, seperti tahun lalu, untuk memeriahkan ulang tahun BBI, maka akan banyak giveaway bertebaran di blog-blog para member BBI, termasuk di blog Lemari Bukuku ini. Silahkan deh, browsing ke member BBI lain yang juga jadi host giveaway. Semoga kamu beruntung….

Di blog ini akan dipilih dua pemenang (yang dipilih secara acak dengan menggunakan random.org), hadiahnya:

Pemenang pertama mendapatkan hadiah buku pilihan mereka senilai IDR 100.000
Pemenang kedua mendapatkan hadiah buku pilihan mereka senilai IDR 50.000

Syaratnya gampang aja koq:

1. Isi google form di bawah ini.
2. Silahkan tulis dua buku yang kamu inginkan – satu buku yang nilainya 100ribu dan satu buku lagi nilainya 50ribu (in case kamu jadi pemenang kedua).
3. Peserta harus berdomisili di Indonesia

O ya, jangan lupa kasih link toko buku online-nya (inibuku.com, bukubuku.com atau opentrolly.com) dan ini di luar ongkos kirim ya. Sorry, kali ini, masih yang lokal aja.. Mudah-mudahan tahun depan, bisa belanja di toko buku online luar negeri.

Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 14 Maret 2014 sampai 11 April 2014
Pemenang akan diumumkan serentak pada tanggal 13 April 2014 pukul 09.00 dan akan dihubungi via email atau twitter.

Kalau ada pertanyaan, silahkan mention aku di @f3r1n4

Ayo kunjungi juga blog member BBI lainnya untuk mendapatkan hadiah buku menarik:



Happy Blog-Hopping
May the odds be ever in your favor!

Wednesday, March 12, 2014

Menanti Cinta



 

Menanti Cinta

Adam Aksara

Mozaik Indie Publishing - 2014
221 hal.
(Beli di mozaikindie.com)

Alex – seorang dosen kimia, pemuda kaya tapi kesepian. Ia lebih suka menyendiri, berkesperimen dengan segala percobaan kimia. Cacat yang dideritanya membuat Alex tak suka bergaul dan membenci orang-orang yang menghina kondisinya.

Claire – seorang gadis, berasal dari keluarga yang kekurangan. Ibunya seorang pelacur, pemabuk, plus ayah tiri yang pemabuk dan sering berusaha menganggunya. Claire berjuang untuk bangkit dari segala keterpurukan dalam hidupnya, termasuk kuliah dan bekerja di resto cepat saji demi membiayai keluarganya. Bagi ibu dan ayah tirinya yang penting uang.. uang.. dan uang.. tak peduli bagaimana cara mendapatkannya, termasuk menjual keperawanan Claire.

Sama seperti Alex, kekurangan dalam hidupnya membuat Claire enggan bergaul dengan yang lain. Ia lebih memilih bersembunyi dalam perpustakaan, berkutat dengan buku-buku kimia, sambil menunggu malam tiba, hingga ia tak perlu terlalu lama di rumah.

Kesendirian Claire menarik perhatian Alex. Dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, ia mengumpulan informasi tentang Claire dan membantu Claire melewati kesulitan yang ia hadapi.

Konon, buku ini diangkat dari sebuah kisah nyata dari seseorang yang bernama Claire Ichimura. Alex dan Claire, dua tokoh utama dalam buku ini. Tokoh-tokoh lain benar-benar menjadi pelengkap demi berjalannya cerita ini. Terkesan sangat klise, Alex yang kaya-raya, pintar, jenius punya kekuasaan yang tampak tak terbatas, tapi buat gue, cacat yang diderita Alex justru menjadikan dia sebagai tokoh yang lebih membumi, karena ketidaksempurnaannya.

Claire justru yang menurut gue terlalu ‘sempurna’. Meskipun dengan kehidupan yang bergelimang duka, tapi ia tetap tegar. Tapi ada satu hal yang sangat gue sayangkan… kenapa ya… setelah segitu kuat dia berhasil melawan nafsu para lelaki seperti ayah tirinya atau bosnya, tapi… dia luluh di depan Alex?

Sesungguhnya, cerita dalam buku ini sangat klise. Pria kaya dan gadis miskin saling jatuh cinta. Kekuatan novel ini ada di cerita yang mengharu-biru yang sanggup membuat para pembaca berurai air mati. Penuh emosi yang gak bisa diungkapkan di antara Alex dan Claire. Alex yang takut mencintai Claire karena kecacatannya, dan Claire yang juga takut Alex ‘jijik’ dengan dirinya. Bahasa yang sederhana dan tema cinta bisa membuat pembaca larut dalam kisah ini dan ikut bersimpati pada Alex dan Claire.

Buat yang gampang ‘mewek’ baca novel seperti ini, silahkan sedia tissue. Karena penulis bisa bikin pembaca ‘ngamuk’ dengan bagian setelah epilog.

Cover-nya cantik, tapi nama penulis rada ‘tertelan ‘ sama judul buku ini. Terlalu kecil buat menurut gue, digedein dikittt lagi deh, biar yang mau beli buku ini ‘ngeh’ siapa penulisnya.


Submitted for:


Wishful Wednesday 60





Masih dalam rangka ‘meramaikan’ acara JohnGrisham Read-Along, maka pilihan untuk Wishful Wednesday edisi 60 juga jatuh pada salah satu buku John Grisham. Setelah membaca A Time to Kill, gue pun kembali jatuh hati dan kangen membaca lagi buku-bukunya John Grisham dengan drama di pengadilannya. Meskipun katanya sih, buku satu ini gak se’greget’ buku yang lain.


Seth Hubbard is a wealthy man dying of lung cancer. He trusts no one. Before he hangs himself from a sycamore tree, Hubbard leaves a new, handwritten, will. It is an act that drags his adult children, his black maid, and Jake into a conflict as riveting and dramatic as the murder trial that made Brigance one of Ford County's most notorious citizens, just three years earlier.

The second will raises far more questions than it answers. Why would Hubbard leave nearly all of his fortune to his maid? Had chemotherapy and painkillers affected his ability to think clearly? And what does it all have to do with a piece of land once known as Sycamore Row?

Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Tuesday, March 11, 2014

A Time to Kill



A Time to Kill

John Grisham @ 1989
Arrow - 1992
515 hal.

Mungkin ini adalah buku John Grisham yang paling ‘menyayat hati’ yang pernah gue baca. Buku ini dibuka dengan adegan pemerkosaan terhadap seorang anak kecil berusia 10 tahun. Tonya Hailey, seorang gadis kecil berkulit hitam, diperkosa oleh dua orang pria berkulit putih bernama Billy Ray Cobb dan Peter Willard. Tak hanya itu, Tonya juga disiksa. Memang Tonya selamat, tapi ia tak akan bisa memiliki anak. Dan yang semakin membuat geram, Billy Ray dan Peter seolah tak merasa bersalah melakukan hal itu – karena yang jadi korban adalah anak kecil berkulit hitam, mereka malah berkoar-koar dan membuat lelucon atau perbuatan mereka itu.

Meskipun akhirnya Billy Ray dan Peter ditangkap, tapi hal itu tidak membuat keluarga Hailey lega. Sejak peristiwa itu, semua jadi suram. Tonya kerap ketakutan dan tidak bisa tidur nyenyak. Sebagai seorang ayah, Carl Lee Hailey merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus menghukum mereka berdua dengan cara yang setimpal – maka ia pun menembak Billy Ray dan Peter Willard ketika mereka digiring keluar dari pengadilan.

Clanton County pun menjadi heboh dan menarik perhatian. Orang-orang kulit hitam tentu mendukung Carl Lee Hailey. Sedangkan orang-orang kulit putih menuntut agar Carl Lee dihukum mati.

Carl Lee minta bantuan pengacara Jack Brigance untuk membebaskan dirinya dari hukuman kamar gas. Jack Brigance sendiri berusaha memahami alasan Carl Lee melakukan tindakan itu dari sisi seorang ayah. Tapi tentu saja, tak seharusnya Carl Lee main hakim sendiri.

Menjadi pengacara Carl Lee membuat hidup Jack tidak tenang. Tak hanya Jack dan keluarganya yang mendapat terror, tapi juga sekretaris dan orang-orang yang dekat dengannya. Demikian juga dengan para juri. Pelakunya adalah anggota Ku Klux Klan, yang tak rela orang-orang hitam mendapatkan keadilan dan kebebasan.  Ku Klux Klan ini adalah sebuah organisasi rahasia yang menolak persamaan hak antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam. Mereka ini identik dengan kostum mereka yaitu jubah putih dengan topeng putih. Salah satu aksi mereka adalah dengan membakar salib – dalam buku ini, mereka membakar salib di halaman rumah Jack dan para juri yang terlibat.

via whatculture.com

Isu rasis di dalam buku ini sangatlah kental. Yang gue ingat, bagi orang kulit putih memperkosa orang hitam itu seperti ‘olahraga’. Tapi, ketika hal itu terjadi sebaliknya, maka orang hitam haruslah dihukum seberat-beratnya.

Ending dari novel ini juga membuat gue terharu, ketika para juri sedang berkumpul, berusaha membuat keputusan apakah Carl Lee Hailey bersalah atau tidak. Bertanya pada diri sendiri, apakah tindakan Hailey benar atau salah.

Novel ini adalah novel perdana John Grisham, yang diilhami oleh pengalaman pribadinya ketika menghadiri  sebuah sidang korban pemerkosaan seorang anak berusia 12 tahun. Dari seorang pengacara, John Grisham pun banting stir jadi penulis.

Dalam versi filmnya, Matthew McConaughey berperan sebagai Jack Brigance – yang melambungkan namanya menjadi salah satu aktor yang diperhitungkan, sedangkan Samuel L. Jackson berperan sebagai Carl Lee Hailey.  

Lewat buku ini (dan juga digambarkan dengan baik di dalam filmnya), sedikit banyak gue jadi tau gimana sistem pengadilan di Amerika Serikat. Para pengacara ‘haus’ dengan publisitas, jika menang dalam kasus yang menyedot perhatian publik, nama mereka tentu semakin terkenal dan akan dicari banyak orang. Di dalam buku ini, Jack Brigance, sebagai ‘street lawyer’, yang meski mencari uang, tapi tetap mengedepankan kepentingan client-nya. Bahkan ia hanya dibayar 900 dollar aja, untuk kasus besar seperti ini. Sebuah nilai yang kecil dibandingkan dengan kerugian materi yang ia dapatkan.

Drama pengadilan akan menjadi hal yang menarik di dalam novel-novel John Grisham selanjutnya. Sebagai mantan pengacara, dirinya piawai mengolah dunia hukum di Amerika menjadi sebuah bacaan yang menarik. Karena John Grisham juga menampilkan ‘sisi buruk’ dari proses hukum di Amerika – seperti suap-menyuap para juri, saksi ahli yang terkadang tidak kompeten tapi diambil demi kepentingan klien.


Submitted for:




-          JohnGrisham Read-along

Wednesday, March 05, 2014

Wishful Wednesday 59






Baca novel yang ada sequel-nya itu bisa ada dua kemungkinan, kalo ceritanya gak menarik dan tokoh-tokohnya gak membuat gue ‘terkesima’, gue akan males untuk cari tahu lanjutan ceritanya – seperti kasus The Thief – Megan Whalen Turner (gue sebel banget sama tokohnya). Tapi lain lagi kasusnya kalo cerita pertamanya aja udah menarik, ending-nya bener-bener bikin penasaran, seperti seri Delirium. Gue baru baca sampai buku kedua – Pandemonium, dan, sejujurnya, gak sabar untuk segera baca buku ketiganya, Requiem. Tapi… hmmm.. mengingat timbunan di rumah (dan di kantor) yang masih banyak yang belum di baca, jadi mari deh, masukin dulu ke dalam Wishful Wednesday, semoga aja cepat kesampaian untuk baca buku ini.


Inilah sinopsisnya:

They have tried to squeeze us out, to stamp us into the past.

But we are still here.

And there are more of us every day.

Now an active member of the resistance, Lena has been transformed. The nascent rebellion that was under way in Pandemonium has ignited into an all-out revolution in Requiem, and Lena is at the center of the fight.

After rescuing Julian from a death sentence, Lena and her friends fled to the Wilds. But the Wilds are no longer a safe haven—pockets of rebellion have opened throughout the country, and the government cannot deny the existence of Invalids. Regulators now infiltrate the borderlands to stamp out the rebels, and as Lena navigates the increasingly dangerous terrain, her best friend, Hana, lives a safe, loveless life in Portland as the fiancĂ©e of the young mayor.

Maybe we are driven crazy by our feelings.

Maybe love is a disease, and we would be better off without it.

But we have chosen a different road.

And in the end, that is the point of escaping the cure: We are free to choose.

We are even free to choose the wrong thing.

Requiem is told from both Lena’s and Hana’s points of view. The two girls live side by side in a world that divides them until, at last, their stories converge.
Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Monday, March 03, 2014

Dirty Little Secret



Dirty Little Secret

aliaZalea
GPU - 2014
336 hal.

aliaZalea boleh dibilang salah satu penulis Metropop yang karyanya gue nyaris semua gue baca (yang belum kaya’nya cuma Miss Pesimis). Bahkan gue masih ‘terkenang’ sosok si drummer keren – Jo, di Devil in Black Jeans. Soalnya, cowok-cowok di dalam buku-bukunya selalu digambarkan sebagai cowok yang cool, keren dan.. ehm.. sexy, maybe? Hehehe..

Jana bertemu Ben ketika mereka sama-sama kuliah di Amerika. Sejak pertama bertemu, Ben udah bikin Jana panas-dingin. Mereka pun akhirnya pacaran, terus… ya kebablasan gitu deh… sampai akhirnya Jana hamil. Tapi, ketika itu Ben belum siap untuk jadi seorang ayah, dan meminta Jana untuk menggugurkan kandungannya. Sikap dan kata-kata Ben membuat Jana berbalik membenci Ben dan langsung menghilang. Informasi terakhir yang Jana berikan ke Ben, adalah bahwa ia sudah menggugurkan kandungannya.

Jana pulang ke Indonesia dan berperan sebagai orang tua tunggal bagi sepasang anak kembar – Erga dan Raka. Sementara Ben, bekerja di Amerika. Dan ketika Ben cuti ke Indonesia, bertemulah mereka kembali.

Ben pun berusaha mendekati Jana kembali dan Jana mati-matian menghindari dari Ben. Yang Ben inginkan adalah berkumpul kembali dengan Jana, membentuk sebuah keluarga kecil dan mengganti panggilan ‘Om Ben’ menjadi ‘Ayah’.

Hmmm… beberapa adegan kecil dan mengharukan ada di buku ini. Kebersamaan Ben dengan Erga dan Raka, pertemuan pertama mereka, Ben yang kaget ngeliat sosok Erga dan Raka yang seperti photocopy dirinya dalam bentuk kecil.

Kalau Jana rada tertutup dan pemalu, Ben ini lebih tipe cowok yang ramah-tamah. Gue juga suka sama si kembar Erga dan Raka – Erga dengan karakter yang lebih kalem dan sensitive. Sedangkan Raka, lebih ekspresif. Meskipun keduanya suka rebutan, tapi mereka juga saling melindungi.

Keluarga Ben juga lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga Jana. Meskipun keduanya sama-sama berasal dari keluarga yang terpandang, tapi sikap orang tua mereka dalam menghadapi berita besar berbeda. Ayah Ben adalah seorang pengacara kondang, yang langsung mencari berbagai aspek dari segi hukum mengenai status Ben sebagai seorang ayah. Sedangkan ayah Jana yang seorang pengusaha, cenderung lebih kaku dan diktator. Di dalam keluarga Jana, seorang perempuan harus nurut sama laki-laki.

Kenapa gue malah terkesan Jana ini gak punya temen ya? Kalau Ben, masih ada Eva, kakaknya tempat dia curhat. Bagian Ben curhat sama Eva juga menjadi bagian yang menarik dalam buku ini.  Sedangkan Jana, rasanya sendiri aja. Mungkin karena statusnya sebagai orang tua tunggal, membuat dia lebih memilih menyimpan rahasia atau permasalahannya rapat-rapat. Terus, satu yang bikin gue kurang ‘sreg’ adalah ketika Jana dan Ben ‘make out’ di tempat umum. Astaga… Jana kan punya posisi yang tinggi di kantor itu, at least she can control herself kalau di tempat umum begitu.

Gue suka cover-nya yang gak banyak pernak-pernik. Gambar koper dengan latar biru, plus sepasang kaos kaki yang menyembul keluar. Dan, gue suka surat di akhir cerita yang dikirim Jana untuk Ben.



Submitted for:

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang