Tuesday, December 31, 2013

Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Favorite Books


1. The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry (Rachel Joyce)


Sejak membuka halaman pertama, gue udah tau, ini buku bakal jadi favorit gue. Tokoh yang sederhana, tapi bisa bikin hati 'adem' pas bacanya. Harold Fry, mengingatkan gue sama bokap gue ... untuk berusaha jadi lebih sabar menghadapi beliau. *huhuhu.. I love you so much, Papa*

2. The Perks of being a Wallflower (Stephen Chbosky)

Seperti yang gue bilang pas gue bikin review "Charlie bukan tokoh yang sempurna, tapi, justru mudah buat gue untuk menyukai dia". Buku yang ditulis dalam bentuk surat, bikin gue merasa ikutan di-curhatin sama Charlie. 

3. The Book Thief (Markus Zusak)


Ahh.. apalagi yang harus gue bilang tentang buku ini. Cerita yang bikin gue mengharu-biru, tokoh-tokoh yang di dalam buku ini bikin gue merasa 'kehilangan' begitu selesai membacanya. Even Malaikat Maut pun seolah punya hati.

4. Pulang (Leila S. Chudori)


Buku ini lagi jadi kontroversi, tapi buat gue, ini jadi salah satu buku favorit gue untuk tahun 2013. Untunglah, tema yang udah sering diangkat ini gak bikin gue bosen ketika baca buku Pulang ini.

5. Where She Went (Gayle Forman)


Hmm.. di penghujung 2013, gue membaca buku yang mellow, yah, tapi karena gue suka dengan dua tokohnya dan gimana mereka berdua jadi pribadi yang beda dari buku pertama, maka, gue putuskan untuk memasukkan buku ini sebagai salah satu dari lima buku yang paling favorit di tahun 2013. Selamat untuk Adam dan Mia...

Submitted for Book Kaleidoscope 2013 hosted by Fanda

The Christmas Wedding




The Christmas Wedding
James Patterson & Richard DiLallo @ 2011
Grand Central Publishing – October 2011
266 Hal.

3 tahun setelah kematian suaminya, Gaby Summerhill memutuskan untuk menikah kembali. Gak tanggung-tanggung, yang calon suaminya ada 3 orang. Untuk itu, ia mengundang anak-anaknya beserta keluarga mereka, untuk berkumpul di hari Natal dan merayakan pernikahan itu. Tapi…. Siapa calon suami yang ia pilih masih rahasia dan itu akan ia buka tepat di hari pernikahannya. 3 pria itu – Tom, Marty dan Jacob – bersaing secara sehat, mereka tetap berteman.

Tapi, buat anak-anak – Claire, Emily, Lizzie dan Seth, apa yang dilakukan Gaby bukanlah sesuatu yang aneh karena buat mereka Gaby adalah pribadi yang unik, sebagai seorang perempuan dan seorang ibu.

Novel ini ‘ramai’ sekali. Banyak tokoh-tokohnya. Ini beneran kaya’ lagi nonton film bertema Natal. Ada ibu yang tinggal sendirian, lalu dia ngirim kabar ke anak-anaknya untuk datang ke rumahnya, berkumpul lagi di hari natal. Terus, digambarin deh suasana atau keadaan masing-masing anak. Dan terakhir, satu per satu keluarga mulai berkumpul di rumah masa kecil mereka itu.

Cerita-cerita bertema Natal selalu dipenuhi dengan suasana hangat dalam keluarga. Karena gue gak merayakan Natal, tapi paling gak, itu yang gue tangkap kalo gue baca atau nonton film bertema Natal. Sama lah pastinya dengan suasana di hari raya yang lain. Keluarga berkumpul, ceria, ketawa-tawa, suasana akrab penuh dengan keceriaan. Lupa deh sama segala masalah yang ada. Kalau pun ada – seperti yang ada dalam buku ini – satu sama lain saling menguatkan dan memberi semangat. Gak boleh ada yang sedih, cemberut atau marah.

Kalau tentang satu per satu karakter:

Gaby: seorang ibu, juga bekerja sebagai guru. Punya jiwa sosial yang tinggi. Terhadap anak-anaknya, beliau sangat terbuka dan jujur. Gaby berusaha untuk gak berbohong atas segala hal, sekecil apa pun itu. Menantunya dan cucunya juga menyukai dan menyayanginya. Kaya’nya buat Gaby gak ada yang bisa bikin dia susah, apa juga dihadapi dengan senyum aja.

Claire: seorang ibu dengan 3 orang anak. Bermasalah dengan suaminya yang rada bersikap semaunya. Ditambah lagi dengan Gus, anak remajanya, yang suka bikin ulah di sekolah.

Emily: pengacara sukses, suaminya juga seorang dokter. Sedang berambisi mengejar posisi sebagai partner.

Lizzie: ibu rumah tangga, yang harus mengurus suaminya, Mike, yang sakit. Meskipun sakit keras, Mike masih berusaha melucu dalam keadaan yang payah.

Seth: satu-satunya anak laki-laki Gaby. Bersama pasangannya, Andie, mereka merencanakan sebuah kejuta. Seth ini ingin jadi seorang penulis, tapi kecewa ketika sebuah penerbit besar menolak karyanya.

Di mata Gaby, sebuah kegagalan bukan harus ditangisi berlama-lama. Ketika Seth cerita ia ditolak penerbit, maka Gaby dengan cueknya bilang “Ya udah, jangan beli lagi buku dari penerbit itu). Gaby memberi nasihat, mungkin sepintas seperti menjatuhkan, tapi justru ia berusaha membuka mata anaknya, bahwa ada kesempatan di tempat yang lain. Dan cara Gaby berkomunikasi sama anak-anaknya cukup unik, bukan melalui surat pos atau email, tapi melalui video.

Yang lucu ada ketiga tokoh pelamar Gaby – Tom, Marty dan Jacob. 3 laki-laki paruh baya yang mencoba mengharapkan cinta Gaby dan menjadi pendamping bagi Gaby. Dengan sabar dan patuh mereka mengikuti kemauan Gaby. Tapi mereka gak maksa lebih jauh. Favorit gue adalah Marty, ketika dia gantiin Gaby di kelasnya, dan ngajarin mereka cara novel yang berat dengan ‘asyik’.

Ketika membaca buku ini, gue memutuskan – bahwa gue lebih menyukai kalau James Patterson menulis buku bertema thriller. Entah kenapa, cerita yang manis ini terasa ada yang ‘nanggung’. Ending-nya sih jelas. Teka-teki terjawab. Tapi, koq rada kurang mengena di hati gue. Mungkinkah karena novel ini ditulis oleh dua orang?  Dan James Patterson yang biasanya bisa menarik perhatian gue dengan ceritanya yang berlangsung cepat, kali ini menurut gue terasa ‘lamban’. Meskipun tiap bab gak panjang, tapi ending tiap bab rada kurang ‘memuaskan’. Gak bikin gue pengen cepat-cepat cari tahu apa cerita di bab berikutnya. Entah ya, teka-teki cerita yang berpusat pada ‘siapa si pria beruntung itu?’ terasa kurang memikat. Karena, latar belakang pria yang seharusnya bikin pembaca tebak-tebakan itu, gak dibuka secara lebih lebar, sedikit-sedikit aja dan berisi yang baik-baik.

Masih banyak karya James Patterson yang pengen gue baca – kebetulan masih ada beberapa yang ada di timbunan – terutama yang bergenre thriller. Gue juga pengen tau seperti apa kalo beliau nulis buku untuk ABG di serial Middle School.


#Tulisan ini dibuat untuk posting bareng BBI  bulan Desember 2013 tema: liburan

That's a wrap... posting ini menutup posting bareng BBI selama tahun 2013 ... moga-moga tahun depan bisa lebih rajin lagi ikutan posting bareng BBI.

Happy Holiday … and

Happy New Year!!

via Pinterest

Where She Went



Where She Went

Definitions - 2012
288 hal.

Ini lanjutannya If I Stay – yang diceritakan dari sudut pandang Mia. Sedangkan di Where She Went, Adam Wilde yang giliran cerita.

Adam Wilde sekarang udah jadi selebritis, dengan band-nya Shooting Star, mereka jadi pujaan banyak orang. Lagu-lagu mereka bertengger di puncak tangga lagu dunia. Tapi, ternyata dikelilingi begitu banyak orang tetap membuat Adam kesepian. Ketenaran tidak bisa membuat Adam lupa akan rasa marah, sedih, terpuruk dan bingung karena ditinggal begitu saja oleh Mia Hall. Lewat lagu-lagu yang ia ciptakan, ia berusaha menumpahkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya. Adam juga jadi pribadi yang sulit, moody, susah tidur. Dia bahkan menjauh dari rekan-rekan satu band-nya, membuat ia dicap egois. Rasanya baca apa yang ada di pikiran Adam, jadi ikutan merasa lelah… setiap hari bangun, dan berkata, “Hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kaulewati…”

Waktu lagi galau, Adam jalan-jalan sendiri, dan tiba-tiba saja menemukan sebuah poster yang isinya konser yang menampilkan Mia Hall sebagai pemain cello. Maka masuklah Adam ke sana, menikmati penampilan Mia.

Singkat kata… mereka pun bertemu, berbicara… dan tentunya yang bikin penasaran, jadi ending-nya gimana dong??? Mereka balik lagi, atau memutuskan pisah baik-baik, atau…. ‘gantung’ lagi?

Jangan khawatir buku ini bakal jadi ‘menye-menye’ karena menceritakan laki-laki yang patah hati. Gayle Forman menggambarkan sosok Adam Wilde yang patah hati, tapi gak jadi mellow dan sedih berkepanjangan. Meskipun jadi sedikit temperamental, Adam bisa menyalurkan emosinya lewat nulis lagu. Sayangnya, Adam jadi rada ketergantungan sama rokok dan obat tidur.

Mia sempat jadi sosok yang membuat gue sebal di sini. Dengan segudang alasan yang katakanlah buat gue gak masuk akal, sampai bisa dia bisa gitu aja meninggalkan ada (hmmm… kenapa gue jadi tiba-tiba kaya’ Tim Pembela Adam begini?), tapi, Mia juga jauh lebih dewasa. Cara bertuturnya lebih tenang, dan mampu membuat Adam yang uring-uringan juga ikut tenang.

Seolah pengen bikin pembacanya terus penasaran, Forman gak melulu menampilkan perjalanan Mia dan Adam selama beberapa jam bersama, tapi juga sesekali kembali ke masa lalu, jadinya, pas kira-kira eh… ini nih endingnya, tau-tau, di bab berikutnya, cerita lagi masa-masa galau Adam pas baru aja Mia pergi, atau pas mereka masih happy as a couple.

Monday, December 30, 2013

Finding New Author Challenge (Recap)




Untuk Finding New Author Challenge, ternyata daftar bukunya melebih target. Di awal gue hanya memilih level Easy untuk 10 – 12 buku. Banyak penulis-penulis baru yang bukunya gue baca di tahun 2013 ini, mari disimak hasilnya:

1.             LesMis√©rables – Victor Hugo
4.             A Tale Dark & Grimm – Adam Gitwitz
5.             Jalan Bandungan – NH Dini
7.             The Hunter – Asa Nonami
8.             The Fault in Our Stars – John Green
9.             Pulang – Leila S. Chudori
12.         The Book Thief – Markus Zusak
13.         A Werewolf Boy – Kim Mi Ri
14.         Pandawa Tujuh – Pitoyo Amrih
15.         Milkweed – Jerry Spinelli
17.         Camar Biru – Nilam Suri
26.         Bunheads – Sophie Flack
28.         Slammed – Colleen Hoover
31.         Unwind – Nell Shusterman

Thank you, Ren.. tahun depan bikin lagi ya…

Pintu Harmonika



 

Pintu Harmonika

Clara Ng & Icha Rahmanti
Plot Point, Cet. 1 – Januari 2013
285 hal.
(untuk usia 9 tahun ke atas)

Tokoh:

Rizal, anak seorang pemilik toko kelontong, seleb-twit, seleb-blog – pokoknya seleb di dunia maya. Memiliki wajah dan body yang keren, jadi idola cewek-cewek di sekolah maupun di dunia maya. Bahkan sampai punya fans garis keras yang disebut Rizal’s Angels.

Juni, perempuan, anak pemilik toko sablon. Juni ini anak yang rada ‘keras’, punya masalah di sekolah yang bikin dia di-skors.

David, anak pemilik toko kue, suka banget sama serial detektif, seperti Detektif Conan. Segala keanehan dan hal yang gak wajar, diselidiki dengan bergaya a la detektif cilik. O ya, David juga pintar main piano.

Setting:

Ketiga tokoh ini tinggal di ruko. Dan mereka punya tempat yang namanya ‘Surga’ – yang sedang mereka perjuangkan agar gak jatuh ke tangan orang lain.

Pendapat gue:

Cerita tentang kehidupan di ruko, kaya’nya belum pernah gue baca. Di sini, Clara  Ng dan Icha Rahmanti menggambarkan suka duka tiga orang yang anak yang tinggal di ruko. Resiko tempat bermain yang sempit, privacy yang kurang plus harus membantu orang tua mereka di waktu luang.

Ketiganya bersahabat, memiliki masalah pribadi masing-masing. Rizal, dengan ‘pencitraan’-nya sebagai seleb dunia maya, Juni dengan masalah bullying dan David sudah ditinggal sejak usia 6 bulan oleh ayahnya.

Novel ini terdiri dari 3 bagian, di mana masing-masing anak bercerita dari sudut pandang mereka masing-masing tentang ‘Surga’. Meskipun kalo baca bagian Rizal, rada-rada ‘lebay’ gitu, tapi itu mungkin karena memang karakter Rizal dibuat seperti itu – yang artinya entah ini bagian Clara Ng atau Icha Rahmanti, berhasil membuat gue jadi salah satu ‘nyaris’ sebagai bagian pemabca yang sebel sama Rizal. Dan, gue paling suka bagiannya David – sedihhhhh banget… hiks…dan ini bener-bener di luar dugaan. Cara penyampaian yang keren.

Di sini ketiga anak ini belajar untuk menerima kekurangan masing-masing, seperti Rizal yang harus rela kehilangan ‘muka’, Juni yang harus berani minta ma’af dan David yang belajar menerima kenyataan dan ikhlas.

Buku yang bagus yang gak hanya untuk anak-anak, tapi juga bagus untuk orang dewasa. Berkat David, gue jadi berniat pengen baca dan ngumpulin komik Detektif Conan (argghhh.. telat banget sih gue… )



Sparkling Cyanide




Sparkling Cyanide (Remembered Death)
St. Martin’s Paperback – December 2001
278 hal.

Hampir setahun setelah kematian Rosemary Barton, tapi kenangan akan seorang Rosemary masih lekat di ingatan orang-orang terdekatnya. Rosemary meninggal di acara makan malam merayakan ulang tahunnya. Orang-orang percaya Rosemary bunuh diri karena depresi dengan penyakit flu yang dideritanya. Begitu pula George Barton, yang percaya akan fakta itu, sampai ia mendapatkan surat kaleng yang berkata bahwa Rosemary dibunuh.

Maka, George Barton kembali mengundang 5 orang tamu yang hadir dalam acara makan malam itu, untuk menjebak siapa yang diduga melakukan pembunuhan atas Rosemary.

Mereka punya motif masing-masing untuk melakukan pembunuhan. Rosemary bukanlah tipe orang yang punya banyak musuh. Ia digambarkan sebagai perempuan yang ceria dan mudah bergaul. Ditambah lagi ia memiliki kekayaan yang didapat dari warisan.

Mereka yang hadir dalam acara makan malam itu adalah:

Iris Marle – adik Rosemary, - harta Rosemary akan menjadi miliknya jika Rosemary meninggal.

Stephen Faraday – seorang politikus yang tentunya tidak ingin dosa-dosanya diketahui publik, karena akan sangat mempengaruhi karir politiknya.

Alexandra Faraday – istri Stephen Faraday, yang senantiasa ingin melindungi suaminya.

Anthony Browne – punya masa lalu yang akan menyulitkan dirinya jika terbongkar.

Ruth Lessing – sekretaris George Barton yang (terlalu) setia.

George Barton – kecemburuan mungkin bisa membuat gelap mata.

Siapa di antara mereka yang mungkin melakukan itu?

Mari berkenalan dengan Kolonel Race, sosok yang buat gue begitu hati-hati, tenang dan cermat. Gak ada tingkah laku yang aneh macam Hercule Poirot, gak membuat orang bertanya-tanya, tapi tepat sasaran. Kolonel Race, membantu George Barton melakukan penyelidikan. Ia sendiri sebenarnya adalah salah satu tamu yang diundang, tapi tidak hadir dalam acara tersebut.

Buku ini penuh dengan teka-teki, misteri siapa dan bagaimana. Dan lagi-lagi Agatha Christie membuat semua orang ‘tampak bersalah’ (dan lagi-lagi gue menebak orang salah). Dan, juga penuh dengan ‘emosi’ – George Barton yang mengenang istrinya, Ruth Lessing yang berharap mendapat perhatian balik dari George Barton, Alexandra yang mencintai Stephen, Iris Marle yang lagi jatuh cinta tapi masih ‘berkubang’ duka. Ada Lucille Marle yang cerewet, sekali diajak bicara, bakal ‘merepet’ tanpa henti.

#Tulisan ini dibuat untuk posting bareng BBI  bulan Desember 2013 tema: detektif

Book Kaleidoscope 2013: Top Five Best Book Covers


Hmmm.. I do judge the book by its cover. Gak jarang gue membeli buku hanya tertarik karena cover-nya, padahal belum tentu juga gue suka dengan isi buku itu. Seperti tahun sebelumnya, di penghujung tahun 2013, gue pun memilih 5 buku dengan cover buku yang (paling) gue sukai, dan inilah pilihan gue:

1. The Perks of Being a Wallflower (Stephen Chbosky)


Cover buku ini penuh dengan coretan berwarna pink, menggambarkan isi surat-surat Charlie. Kaya'nya cover buku ini terkesan 'ribut', 'berisik', tapi diperhalus dengan warna pink-nya itu.

2. Liesl & Po (Lauren Oliver)


Warna coklat, menggambarkan kotak kayu misterius yang jadi perburuan.

3. The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry (Rachel Joyce)


Ahh.. Harold Fry muncul lagi. Gue suka dengan ilustrasi di cover ini (dan juga di dalam bukunya), yang sederhana. Sepatu tua Harold Fry, menggambarkan sebuah perjalanan panjang yang ditempuh Opa Harold.

4. Pintu Harmonika (Clara Ng & Icha Rachmanti)


Warnanya manis banget, dan lembut, dan ruko-ruko itu bisa 'dibuka', jadi keliatan deh ada 3 anak yang lagi duduk-duduk di atap.

5. Bunheads (Sophie Flack)


Ini keren banget... pas sama ceritanya yang tentang penari balet. Latar belakang hitam, tulisan Bundheads dikelilingi sama penari balet yang memperlihatnya 'bunheads'-nya.

submitted for Book Kaleidoscope 2013 hosted by Fanda

photo source: goodreads.com



Friday, December 27, 2013

Book Kaleidoscope 2013: Top Five Most Memorable Quotes



1. The Book Thief (Markus Zusak)


2. Slammed (Colleen Hoover)


3. The Fault in Our Stars (John Green)


4. The Graveyard Book (Neil Gaiman)


5. The Perks of being a Wallflower (Stephen Chbosky)


submitted for: Book Kaleidoscope hosted by Fanda

photo source:
pinterest.com
tumblr.com

Monday, December 23, 2013

Wrap Up Post "What's in a Name Challenge" 2013




Masuk ke bulan Desember, waktunya bikin rekap untuk berbagai challenge yang gue ikutin. Yang pertama adalah What’s in a Name Challenge. Dari daftar-daftar buku yang di awal gue bikin, ternyata gak semua berhasil gue baca, tapi ada beberapa tambahan baru.

Ini rekapnya:

























Haa… ternyata hanya lebih dua buku untuk masuk ke kategori Level 4: Crazy about Name!! Di awal memang terlalu, amat sangat optimis. Ini pelajaran kalau ikutan Reading Challenge tahun depan untuk lebih ‘sadar diri’.

Thank you, Ren, yang udah bikin reading challenge ini…

Mary, Mary



 

Mary, Mary

Barokah Ruziati (Terj.)
GPU - 2013
456 hal.

Alex Cross menghadapi dua masalah pelik. Pertama, ia harus menghadapi masalah dalam kehidupan pribadinya sehubungan dengan hak asuh atas Alex Kecil. Kedua, di tengah-tengah liburan bersama keluarganya – yang tergolong langka – ia harus dipanggil untuk berurusan dengan kasus pembunuhan berantai dengan kode ‘Mary Smith’.

Sebuah pembunuhan berantai terjadi di Los Angeles, korbannya adalah artis Hollywood papan atas, seorang ibu yang tampak sempurna, dan punya posisi penting. Setelah melakukan pembunuhan yang sangat sadis, si pelaku meninggalkan ‘souvenir’ stiker anak-anak dengan huruf A, B, lalu ia mengirim email kepada pimpinan surat kabar LA Times, yang menceritakan kronologi, atau detail dari pembunuhan itu. Pihak kepolisian seolah menemui jalan buntu, belum tuntas pemeriksaan terhadap korban terakhir, korban baru justru muncul.

Ngaku salah satu penggemar buku-buku James Patterson, tapi baru sekali ini baca buku dari seri Alex Cross, itu pun udah seri ke 11 ternyata. Hmmm… jadinya gue rada gak tau nih latar belakang kehidupan Alex Cross sebelum ini. Sekilas info yang gue dapat di buku ini, istrinya tewas ditembak, punya dua anak yang beranjak ABG, sama satu anak – Alex Kecil – hasil hubungan dengan Christine, perempuan yang rada labil, yang juga pernah jadi tawanan gara-gara Alex.

Untuk kasus yang ditampilkan di sini, buat gue emang bikin pusing. Karena ‘jejak’ yang ditinggalkan si pembunuh nyaris tidak memberikan petunjuk apa-apa. Di cerita ini, pembaca akan dibuat ‘ngilu’ dengan sepak terjang si pelaku pembunuhan, motifnya samar-samar (dan untung terjawab di akhir cerita), meskipun sosok antagonis yang hanya diketahui lewat email-email yang dikirim cukup menggambarkan betapa ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Banyak yang menduga pembunuhnya adalah seorang wanita, tapi bagi Alex Cross nama ‘Mary Smith’ bisa berarti banyak – bisa laki-laki, bisa wanita pelakunya.

Apa motif si pelaku? Sticker yang ditinggalkan (buat gue) seolah menunjukkan ia punya masa lalu yang kurang baik di masa kecilnya, sehingga ia mengincar sosok wanita yang terlihat sempurna, tapi sebenarnya menyimpan cacat, sosok ibu yang dengan anak-anak yang manis, tapi sering lebih sibuk dengan aktivitas sosialnya. Tapi… apakah benar begitu motifnya? Lalu, apa maksud dengan huruf A, B yang juga ia tinggalkan?

3 bintang yang tadinya mau gue kasih, jadi berubah 4, karena gue cukup puas dengan pengambaran sosok Alex Cross – yang konon kabarnya adalah detektif handal, tapi juga ternyata adalah seorang laki-laki, seorang ayah yang rapuh, yang hanya ingin menjaga agar keluarganya tetap utuh dan aman. Dan juga karena ending yang mengejutkan, ketika gue pikir kasusnya selesai, eh... tau-tau ada kejutan lain yang dikasih.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang