Tuesday, April 30, 2013

Kisah-Kisah di Hutan




Kisah-Kisah di Hutan (The Woodland Folk Tales)
Tony Wolf
Dini Pandia (Terj.)
GPU - 2006
Untuk  usia 5 tahun ke atas

Saat pertama kali melihat buku berjudul ‘Hutan’, hati gue rasanya jadi ikutan ceria dan riang gembira. Cover-nya yang berwarna cerah denga ilustrasi hewan-hewan di hutan yang menggemaskan langsung membuat gue tertarik.

Hutan adalah salah satu judul dari seri Kisah-Kisah di Hutan. Buku lainnya adalah Liliput, Raksasa, Peri, Kurcaci dan Naga. Meskipun bisa dibaca sebagai bagian yang terpisah, masing-masing buku memiliki benang merah dengan buku-buku yang lainnya.

Hutan – berkisah tentang kehidupan hewan-hewan di hutan (tentunya) dengan segala aktivitas kehidupan mereka yang serus. Misalnya saja pernikahan burung, berbagi jagung yang baru saja dipanen, lomba kacang polong, berlayar pakai perahu sepatu raksasa, atau berenang di danau.

Dalam cerita Liliput – penghuni hutan yang mengalami banjir, dibantu oleh para Liliput dan mereka diterima dengan tangan terbuka untuk tinggal di negeri Liliput. Liliput juga makhluk yang kreatif, pintar dan bijaksana. Lihat bagaimana ketika salah satu tikus patah kaki, mereka membantu membangun sebuah ‘lift’ agar para penghuni rumah pohon gak perlu repot naik tangga, naik balon udara atau menyelam dengan kapal selam untuk mengambil kunci emas. Sebagai penghargaan kepada Liliput yang sudah membantu mereka, warga hutan membuat sebuah patung liliput besar.

via

Di buku ketiga, berkisah tentang Raksasa – meskipun bertubuh besar, tapi ia baik hati, liliput dan hewan-hewan menyayanginya. Raksasa membantu mereka yang mungil-mungil ini dalam aktifitas mereka sehari-hari.

Peri muncul di buku keempat, mereka ini adalah teman-teman Liliput. Ratu Peri mengutus enam peri – Iris, Tulip, Nettle, Anggrek, Aprikot dan Buah Pinus – untuk berlibur ke negeri Liliput. Liliput dan warga hutan menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Para peri mengadakan lomba bikin kue atau belajar membuat es krim.

Nah, sedangkan Kurcaci – adalah makhluk yang iseng dan nakal. Ada saja akal mereka untuk mengganggu para Liliput dan warga hutan. Padahal… jumlah mereka hanya tiga. Liliput dan warga hutan mencari cara untuk membuat para kurcaci itu jera.

via Ba Hons CG Arts & Animation


Dan, bisakah makhluk mengerikan seperti Naga, berteman dengan Liliput dan hewan-hewan hutan? Dunia Naga yang gelap dan suram, seketika berubah ketika mereka bertemu.

Yang gue suka dari buku-buku ini, selain ya, karena ilustrasinya yang cerah dan lucu-lucu, adalah nilai-nilai moral yang bisa diambil. Mereka bisa saling tolong-menolong dan hidup rukun berdampingan, meskipun dari dua dunia yang berbeda. Yang besar tidak membuat yang kecil ketakutan, yang menyeramkan bisa juga tertawa karena yang kecil-kecil ini. Kehidupan mereka tampak selalu riang gembira dan menyenangkan.

Anak-anak akan belajar nilai-nilai positif dengan cara yang asyik dan tak menggurui.

Tony Wolf juga menulis beberapa buku lain untuk anak-anak – dan yang pasti tetap dengan ilustrasi yang menyegarkan mata – seperti serial Terbang Ke Masa Lalu. 




 

Harry Potter and the Goblet of Fire




Harry Potter and the Goblet of Fire
(Harry Potter dan Piala Api)
JK Rowling @ 2000
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. V, Oktober 2011
896 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

*Spoiler Allert*

Buku Harry Potter ke 4 ini, diawali dengan peristiwa yang menggembirakan (ya, terlepas dari Harry yang tiba-tiba saja merasakan nyeri di lukanya). Bersama keluarga Weasley, Harry menyaksikan secara langsung Piala Dunia Quidditich. Di lapangan yang luas, semua penyihir dari segala penjuru dunia berkumpul. Para penyihir panitia sibuk mengelilingi stadion itu dengan sihir, agar para muggle tidak curiga.  Di Piala Dunia Quidditich ini, pemain dari Bulgaria – Viktor Krum – menjadi idola.

Tapi, di balik keriaan Piala Dunia Quidditich, mereka dikejutkan dengan munculnya Tanda Kegelapan. Para Pelahap Maut – abdi setia Voldemort – kembali berkumpul.

Keseruan lain di buku ini adalah diselenggarakannya Turnamen Triwizard yang berhadiah 1000 Galeon. Kali ini Hogwarts menjadi tuan rumah. Sekolah ini kedatangan tamu dari sekolah sihir lain yaitu Beauxbatons dan Durmstrang.

Karena Turnamen Triwizard ini sangat berat, maka persyaratannya juga berat, siswa yang mendaftarkan diri harus berusia minimal 17 tahun. Ada saja yang berusaha mengelabui persyaratan ini, contohnya si kembar Fred dan George Weasley.

Di hari yang telah ditentukan, nama-nama pemenang dari masing-masing sekolah pun keluar dari Piala Api – mereka adalah Cedric Diggory dari Hogwarts, Fleur Delacour dari Beauxbatons dan … Viktor Krum dari Durmstrang. Tapi, tentu saja ada kejutan lain… sebuah kertas bertuliskan nama Harry Potter melayang keluar dari Piala Api.

Meskipun penuh pro dan kontra, keputusan itu tak bisa dibatalkan. Harry Potter harus tetap mengikuti Turnamen Triwizard. Banyak yang mencibir dan mencela Harry Potter. Mereka pikir Harry hanya cari sensasi. Bahkan Ron pun menjauhinya.

3 tugas berat menanti mereka – berhadapan dengan naga, menyelam ke danau yang dalam, dingin dan penuh makhluk bawah air yang menyeramkan dan menyelamatkan orang-orang yang terdekat – dan yang terakhir mencari Piala Triwizard di tengah-tengah labirin yang juga penuh bahaya.

Harry Potter ke 4 ini adalah seri yang paling gue suka. Bagi gue ini adalah buku yang paling emosional – yang pertama di dalam seri Harry Potter. Awal ‘kebangkitan’, buku yang mengawali saat-saat kegelapan di Hogwarts. Pertama kalinya ada kematian dan Voldemort pun ‘mendapatkan’ kembali wujudnya.

Harry Potter #4 ini juga berhasil membuat gue tegang selama membacanya – terutama saat Harry dan para peserta turnamen Triwizard ada di dalam labirin. Kalau biasanya, gue menutup Harry Potter dengan ceria, kali ini ada rasa kehilangan.

Ehem… ada yang main mata di sini… yang bakalan married di buku ke 7. Ada yang cemburu… ada yang naksir diam-diam…

Pendatang baru di dalam buku ini adalah Mad-Eye Moody – mantan Auror – yang menjadi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.

Dan, satu momen yang paling membuat gue ‘merinding’ adalah saat Harry Potter duel dengan Voldemort, ketika tongkat sihir mereka ‘beradu’, muncullah arwah dari korban-korban Voldemort – mulai dari Cedric, korban terakhir sampai ayah dan ibu Harry Potter. Mereka melindungi Harry dari serangan Voldemort, sehingga Harry bisa kembali lagi ke Hogwarts.


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:

Event Fun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee



Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku


Monday, April 29, 2013

Jalan Bandungan




Jalan Bandungan
NH Dini @ 1989
GPU – November 2009
438 hal.

Muryati, adalah anak seorang prajurit, yang ketika jaman perjuangan melawan penjajah Belanda, ia pun ikut ‘bergerilya’ di dalam hutan. Mengikuti ke mana pun ayahnya berjuang. Bersama keluarganya, ia harus hidup di hutan, bersembunyi dari penjajah. Di antara anak-anak, mereka tetap bermain, belajar, tapi adakalanya, mereka juga merasakan ketegangan di antara para orang dewasa. Tak jarang, suasana gelap, terdengar bunyi ledakan senjata. Mereka juga harus hidup berpindah-pindah, mencari tempat aman.

Di sinilah, pertama kali ia bertemu dengan Widodo, seorang prajurit anak buah ayahnya. Tapi, kala itu ia tak tahu siapa nama pemuda itu, meskipun ada rasa penasaran. Setelah, perang selesai, keluarga Muryati bisa kembali ke kota, menempati rumah yang nyaman dan aman. Barulah, Widodo kerap datang ke rumah mereka. Tutur kata dan sikap yang sopan menarik hati orang tua Muryati.

Singkat kata, Widodo pun melamar Muryati. Meski hati berkata lain, Muryati pun menerima anjuran orang tuanya untuk menerima lamaran Widodo itu. Tapi, berbagai kejanggalan sebenarnya sudah terlihat sebelum pernikahan resmi dilaksanakan – Widodo yang tak pernah memperkenalkan keluarga mereka dengan orang tuanya, Widodo selalu datang dengan pamannya, Widodo yang awalnya supel dan ramah, tiba-tiba jadi kaku dan sering mengatur. Muryati dibesarkan dalam keluarga yang demokratis, bebas mengeluarkan pendapat. Sosok Widodo yang seperti ini membuat hatinya berontak. Tapi, ketika ayahnya meninggal, Muryati tak punya pilihan lain kecuali menikah dengan Widodo.

Dan benar saja, Widodo ini, tipe laki-laki yang tidak mau diatur perempuan, maunya dilayani, dan gak mau ditanya apa pun yang berkaitan dengan pekerjaannya. Buat dia, yang penting uang gaji sudah dikasih ke istri, jadi istri gak perlu tanya macam-macam. Meski kadang protes, tapi ya Muryati tidak  bisa berbuat apa-apa.

Lalu, tiba-tiba saja, Widodo tidak pulang dan akhirnya Muryati mendapat kabar bahwa Widodo ditangkap karena terlibat dalam aktivitas partai terlarang.

Mulailah kehidupan Muryati sebagai istri seorang tahanan tapol, bagaimana kesulitannya untuk kembali mengajar karena status barunya itu. Beruntung Muryati memiliki teman-teman yang terus mendukungnya, ditambah dengan bantuan beberapa orang yang berpengaruh hingga akhirnya Muryati bisa pergi ke Belanda. Kemudian bertemu dengan Handoko, adik iparnya, yang akhirnya menjadi suami keduanya.

Sejujurnya, gue merasa salah pilih buku. Dari dulu, gue pengen baca karyanya NH Dini, dan kebetulan gue melihat buku ini ada di rak buku di rumah adek gue. Karena tema baca bareng BBI bulan ini adalah buku yang ditulis oleh perempuan atau tentang perempuan, gue rasa buku ini cocok untuk baca bareng. Tapi, ternyata gue kecewa. Buku ini gak mampu membangkitkan ‘emosi’ ketika gue membacanya. Mungkin ya, emosi sama si Widodo itu, tapi, selebihnya, gak ada rasa penasaran atau rasa empati dengan Muryati. Datar aja gitu…  Mungkin karena dari penuturan ceritanya. Di sini gue merasa membaca sebuah biografi yang tanpa ‘gejolak’. Cerita bertutur sejak Muryati kecil, sampai ia akhirnya dewasa melewati berbagai macam peristiwa. Mungkin minimnya dialog yang menyebabkan buku ini jadi kurang ‘greget’ (sekali lagi, buat gue ya…) Ceritanya menurut gue hanya difokuskan pada Muryati seorang. Padahal di awal gue berharap, ada konflik yang ‘seru’ seputar hubungannya dengan Widodo dan Handoko. Atau jatuh-bangunnya Muryati sebagai istri tahanan politik. Tapi, entah kenapa, konflik itu semua terasa lancar jaya aja. Seolah semua diterima begitu lapang dada oleh Muryati, sampai akhirnya cara berceritanya pun jadi biasa. Belum lagi, cara bicara yang sangat sopan, yang jadi terasa kaku. Bahkan di antara sesama sahabat, dialognya kaku banget. Padahal, salah satu yang bikin cerita itu menarik untuk gue dan enak dibaca, adalah dialog yang mengalir dengan ‘santai’.

Menurut gue, ya.. mungkin karena tokoh utama, tokoh sentral ada di Muryati, tokoh yang lain jadi ‘ketutup’. Di sini gue malah gemes dengan tokoh Handoko, yang harusnya menurut gue bisa membuat cerita lebih hidup, malah koq akhirnya jadi ‘diem’ dan ‘nurut’ aja gitu.

Karean hal ini, ketika membaca buku ini, maunya cepet-cepet aja. Ada rasa gak sabar. Ya, pengen tau ending-nya aja… setelah berpanjang-panjang dengan sedetail-detailnya, jadi apa sih akhirnya.

Tapi, terlepas dari ‘kekurangsreg-an’ gue dengan buku ini, kalau bicara tentang perjuangan seorang perempuan, menurut gue, sosok Muryati mewakili sosok perempuan yang kuat, tabah dan mau untuk maju. Sejak remaja, Muryati punya cita-cita, dan tidak ada keinginannya untuk cepat-cepat menikah. Keluarga juga mendukung cita-cita Muryati. Meskipun tetap harus pasrah apa pun yang dibilang suami, tapi Muryati tetap mau berubah dan berusaha untuk keluarga. Selain itu juga, terlepas dari penggambaran yang terlalu datar itu, di dalam dunia nyata, sebagai istri seorang tahanan politik, pastinya susah dalam pergaulan – omongan orang yang pedas, gunjingan, birokrasi yang bertele-tele, juga anak-anak yang mungkin minder (ini juga nih kurang ‘dikupas’)

Selain itu, teman-teman Muryati – sahabat-sahabatnya – Mur, Sri dan Ganik – juga bukan perempua yang lemah. Mur adalah seorang dokter, Sri yang suaminya selingkuh juga berani mengambil keputusan, lalu Ganik, dengan penyakit kanker yang dideritanya juga tidak menjadikan ia perempuan yang lemah. Mereka berempat saling memberi semangat untuk maju. Juga ibu Muryati, sepeninggalan suaminya, ia tak gengsi membuka warung yang menjual keperluan dapur, meskipun mereka tinggal di kawasan elite dan jadi bahan cemoohan orang.

Ok.. akhir kata.. adakah rekomendasi buku-buku NH Dini yang lain – yang mungkin bisa ‘mengobati’ kekecewaan gue?

#Posting bareng BBI bulan April 2013, kategori: Penulis Perempuan; buku tentang Perempuan

And the Winners are...


Dear All,

Ma'af ya, baru bisa bikin pengumuman pemenang BBI 2n Anniversary Giveaway Hop. Terima kasih untuk semua yang udah ikutan giveaway di blog Lemari Bukuku.

Dan yang beruntung adalah:


Nur Ailina

dan 


Dian

Selamat ya untuk Nur Ailina dan Dian - pemenang akan dihubungi via email dan twitter. Ditunggu konfirmasi alamat kalian via email (ferina.ardinal@gmail.com, atau bisa DM saya via twitter di @f3r1n4) dalam waktu 2 x 24 jam.

Untuk yang lain, ma'af kali ini, belum beruntung. Semoga ada kesempatan di giveaway yang lain. 

Terima kasih, sampai jumpa di Giveaway yang lain...

Thursday, April 25, 2013

Close Up Interview Anggota Blogger Buku Indonesia : Fenny Yusuf






Salah satu ‘keriaan’ dalam rangka ulang tahun Blogger Buku Indonesia (BBI) yang kedua ini, selain giveaway dan BBI berbagi, ada juga close up interview – yang intinya ‘mengupas-tuntas’ sosok salah satu member BBI, sesuai nomer undian yang udah ditentukan sama pihak panitia. Tujuannya, biar kenal sama anggota BBI yang lain, apalagi yang jarang-jarang ketemu.

Nah, maka dari itu… sesuai dengan nomer undian, gue kebagian meng-interview Fenny Jusuf. Untuk pemanasan, gue pun berkunjung dulu ke blog-nya, http://mybookstacks.wordpress.com/, dan inilah gambaran tentang Fenny yang ditulis di blog-nya:

Fenny Herawati Yusuf is me. I'm a girl who reads and have too many books. You’ll know that I do because I will always have an unread book in my bag and my shelves. A girl who spends her money on books instead of clothes. A girl who has a list of books she wants to read.



Mari sekarang, disimak hasil interview via email ini.



1.    Ceritain sedikit dong, tentang diri kamu - ya hmmm.. standard aja sih, tempat tanggal lahir, hobi,genre buku favorit, sekolah, dll..

Nama Fenny Herawati. Cuma sering aku tambahkan Yusuf, jadi Fenny Herawati Yusuf.  Kenapa sih sok-sok an ditambahin Yusuf? Karenaaa, Yusuf itu nama Eyangku, dan kami (aku, sepupu - sepupuku, dan paman - pamanku) suka aja menambahkan nama Yusuf di belakang nama kami. Tujuannya supaya keliatan aja bahwa Asih Agustyani Yusuf, Fitri Andini Yusuf, om Isak Saputra Yusuf, dll, adalah keluarga.

Sekarang Fenny berada di tingkat ketiga (tahun terakhir!) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Spesialisasi Administrasi Perpajakan. IP ku kemarin gak banyak, tapi alhamdulillah.. Nilai UTS Pemeriksaan Pajak-ku minggu lalu 93, lho! *gak penting banget* But Im really happy since actually  I have 'just-enough' standard of my academic. Menurutku semua orang punya prioritas dan keistimewaan masing-masing, dan prioritasku adalah menghafal Al Qur'an. Kenapa? Karena menghafal Al Qur'an itu asyik, sama seperti membaca buku. Menghafal dan membaca dapat menghilangkan galau dan menyibukkan pikiran dari hal-hal yang menyedihkan (since I have a tendency to think a lot about that sad things happened).

So, Im enjoying my time by myself. Tapi saya juga suka jalan - jalan, but mostly I like to do it by myself (atau, sama mamah, soalnya kalo jalan-jalan sama mamah kan dibayarin :p). Jadi, kalau ditanya apa hobi saya, hobinya jelas membaca, menghafal, serta jalan-jalan ke toko buku atau rumah makan (HAHA!), atau nonton film dan tidur sesuai keinginan dan kewajaran. Things that I usually do by myself.

Genre buku favorit.. kalau diliat dari jumlah buku sih udah pasti Fantasi Terjemahan. Tapi yang lainnya  juga suka kok. Pertanyaan yang tepat adalah genre buku apa yang nggak aku suka, gitu kali ya, kalau itu aku bisa jawab. Aku nggak pernah berminat beli (atau membaca) novel bergenre sejarah. Dan buku klasik yang masuk daftar 1001 Book You Should Have Before You Die. Karena pas baca beberapa buku dari daftar itu, aku nggak begitu menikmatinya. Tipe buku lain yang aku nggak suka adalah novel yang berdasarkan kisah nyata. Disamping aku jarang punya novel nonfiksi, aku juga kurang menikmatinya aja. Jadi, tergantung konten bacaannya juga. Kalau simpel, terstruktur, dan enak dibaca atau menimbulkan rasa penasaran, ya aku suka.


2.       Seandainya jadi tokoh di sebuah buku, kamu pengen jadi siapa?

If I could choose freely, I would like to be Jane Volturi. Kenapa ya? Soalnya dia itu keren aja, dan peran yang dimainkan Dakota Fanning cukup membuat saya makin suka sama tokoh Jane. Sayangnya ya, Jane nggak punya kisah tambahan (kemunculannya hanya sedikit sekali di Twilight) jadi kurang bisa mengkhayalkan karakternya.

3.  Kalau ada kesempatan bikin biografi, siapa tokoh yang pengen kamu tulis?

Diriku sendiri. Bukannya narsis sih, tapi aku merasa sedikit banyak pernah ngerasain pahit dunia :-p pengen cerita sudut pandangku tentang orang - orang, dan berbagai masalah. Tapi kalau harus benar - benar 'tokoh', aku pengen buat biografi Selena Gomez. *GUBRAK!*. Soalnya aku lagi ngefans sama dia saat ini *dikeplak masa*. Tapi aku nggak suka dia jadian sama Justin, aku sukanya kalau dia nikah sama Thomas Andrew Felton *lupakan* *nggak penting*. Tapi aku itu orangnya mood - mood an juga sih kalo ngefans sama artis *garuk - garuk kepala*

4. Tempat yang di buku yang pengen kamu datengin?

HOGWARTS! DIAGON ALLEY! Definitely. WOW banget lah itu settingnya. Bahkan aku setengah setengah berharap dan berkhayal bahwa Hogwarts itu memang ada di suatu tempat, dengan kisah Harry dan Ginny masih berlanjut. Di suatu tempat yang nyata tapi kita nggak tahu..

5. Buku apa yang suka kamu bayangin ada di dunia nyata? misalnya, ada tokoh yang kamu bayangin benar-benar ada.

Err.. Kayaknya jawabannya sama seperti poin nomor 4 ya? Ditambah Twilight dan Bartimaeus. Aku suka banget sama karakter Bartimaeus. Suka banget. Suka sifatnya, suka dialognya. Tidak seperti kedua buku lainnya (Twilight & Harry Potter), aku nggak begitu suka dunia Bartimaeus sih, yang menurutku tidak sehidup Twilight dan Harry Potter, tapi mungkin itu karena (setau saya) tidak ada film Bartimaeus. Berharap banget bisa terus mendengarkan pikiran - pikiran Bartimaeus yang odong abis itu.

6. Ada gak buku yang kamu gak puas sama ending-nya? Dan kalau ketemu atau bisa komunikasi sama penulisnya, kamu pengen bilang apa tentang buku itu?

The Fault in Our Stars? Aku bener bener ngga ngerti cerita itu mau dibawa kemana. Okey then, Gus meninggal. Terus?

Jika pertanyaannya bisa diperluas sedikit, aku nggak puas sama ending Nicholas Flamel, Vampire Academy, The Prophecy of The Sisters, dan Uglies. Karena penerbitnya tidak bisa melanjutkan terjemahan sekuelnya. Aku kecewa banget.

7. Siapa penulis yang pengen kamu temui - seandainya bisa? - boleh aja sih, kalo penulis
itu udah almarhum (silahkan berkhayal) - apa yang pengen kamu obrolin sama beliau? - gak harus tentang buku koq.

Aku suka sama Meg Cabot dan Sophie Kinsella (aku hampir punya semua buku mereka), tapi aku nggak mengharuskan untuk ketemu, sih.

Mungkin kalau bisa, Bukhari, pengen ngobrol banyak tentang agama, kenapa sekarang orang - orang lebih berpedoman pada motivator padahal beberapa kata kata motivator itu menyalahi agama (misal ada motivator yang nyuruh kita untuk nggak meminta kemudahan sama Allah, lah siapa dia kok membatasi kita untuk berdoa sama Allah, dan ngga ada larangan juga kita berdoa meminta kemudahan sama Allah), lalu ada ustad di Indonesia yang mengharamkan dan melaknat petugas pajak, padahal ada ulama lain yang lebih ternama di Arab Saudi (kalau tidak salah salah satu/dua imam besar), setuju sama pajak dan juga ada dalilnya. Aku heran aja apakah ustad yang bicara seperti itu mengedepankan kepentingan dirinya sendiri (tujuannya supaya hartanya nggak berkurang), padahal (ustad itu nggak ngerti) bahwa setiap hari dia pulang - pergi ngisi ceramah lewat jalan raya, itu uang bangunnya dari mana. Ibarat jika kita bikin acara arisan, kita pasti urunan buat beli makanannya kan, apalagi mau bikin negara. Kalaupun nggak setuju sama pajak ya udah nggak usah pake ngelaknat atau mengajak orang lain untuk melaknat orang lainnya. *jadi panjang deh ini jawabannya*. Pokoknya, aku mau ngobrol sama Bukhari untuk membahas permasalahan 'aneh' saat ini, dan pengen tau pendapat beliau dan saran beliau bagaimana bersikap. Bukannya mau dijadikan pedoman atau apa, tapi sebagai referensi aja, karena beliau itu terkenal dalam sifatnya yang baik sebagai pengumpul hadist.

8. Makanan favorit yang ada di buku apa sih? mungkin pengen nyoba daun lembas - nya hobbit, atau daun sarsaparila - nya smurf

Pengen nyoba kacang-segala-rasa Harry Potter (katanya emang beneran ada, ya!), cokelat kodok (tapi maunya yang bener bener melompat trus berhadiah kartu yang bisa bergerak), dan semua hidangan yang pernah disebut dan disediakan di Hogwarts dan di dunia Harry.

9. Terakhir.. apa kesan dan pesan untuk BBI?

Semoga bisa memberikan pengaruh buat penerbit Indonesia, jadi kita sering dapat buku gratis untuk direview.. hehe dan juga memberikan pengaruh buku mana aja yang harus diterjemahkan, juga terhadap kasus penutupan penerbit matahati (terkait beberapa buku berserinya yang tdk dilanjutkan terjemahannya). tapi juga perlu diperhatikan mana anggota yang benar benar cinta sama buku dan serius menjadi reviewer sama yang cuma ikut-ikutan aja..


Well… to tell you the truth, inilah pertama kalinya gue ber’interaksi’ dengan Fenny Yusuf. Terima kasih ya… Senang berkenalan dengan kamu, Fenny.. semoga kita bisa ketemuan ya J

Wednesday, April 24, 2013

Wishful Wednesday 29




Mengikuti jejak Astrid, dalam rangka World Book Day, maka kali ini yang masuk ke dalam wishlist juga buku yang berbau-bau ‘buku’. Lihatlah cover-nya yang unik ini, membuat gue merasa pengen ‘terjun’ ke dalam buku ini. Di goodreads sendiri, banyak yang memberi bintang 4-5 untuk buku ini.

The Shadow of the Wind adalah buku pertama dari serial The Cemetery of Forgotten Books.

Mari disimak sinopsisnya:




Barcelona, 1945: A city slowly heals in the aftermath of the Spanish Civil War, and Daniel, an antiquarian book dealer’s son who mourns the loss of his mother, finds solace in a mysterious book entitled The Shadow of the Wind, by one Juli├ín Carax. But when he sets out to find the author’s other works, he makes a shocking discovery: someone has been systematically destroying every copy of every book Carax has written. In fact, Daniel may have the last of Carax’s books in existence. Soon Daniel’s seemingly innocent quest opens a door into one of Barcelona’s darkest secrets--an epic story of murder, madness, and doomed love.

Yuk... yang juga mau ikutan Wishful Wednesday, ini rules-nya ya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Friday, April 19, 2013

Sherlock Holmes versus Kapten Kidd




Sherlock Holmes versus Kapten Kidd: Misteri Kapal House-Boat
(The Pursuit of the House-Boat)
John Kendrick Bangs @ 1897
Istiani Prajoko (Terj.)
Visi Media – Cet. I, Maret 2013
230 hal
(hadiah dari Visi Media dan @gila_buku)

Para arwah berkumpul, mereka kebingungan. Kapal pesiar tempat biasa mereka berkumpul, menghilang. Kapal bernama House-Boat ini diduga dibawa kabur oleh bajak laut terkenal bernama Kapten Kidd. Celakanya lagi, di dalam kapal itu tertinggal para perempuan – istri, adik, keponakan atau kekasih mereka.

Arwah-arwah ini, bukan sembarang arwah, melainkan para tokoh-tokoh terkenal  - entah yang memang dari dunia nyata, atau tokoh terkenal dari buku-buku. Sebut saja, ada Socrates, Nabi Nuh, Julius Caesar, Shakespeare, Napoleon Bonaparte, Mozart, dan lain-lain, lalu  di antara para arwah perempuan ada Ratu Elizabeth, Cleopatra, Helen dari Troya, Delilah, Portia – tokoh dari The Merchant of Venice.

Para arwah seleb ini biasa berkumpul di House-Boat untuk ya… bergaul gitu deh. Minum-minum, makan, atau sekadar ngobrol-ngobrol. Arwah ternyata butuh bergaul juga ya.. hehehe….

Saat para arwah laki-laki sedang berkumpul, mencari cara untuk menyelamatkan para arwah perempuan, munculnya arwah tak dikenal dengan sikap yang sok tahu dan sok yakin – yaitu arwah Sherlock Holmes. Sherlock Holmes menjabarkan teorinya tentang ke mana kapal itu dibawa oleh Kapten Kidd.

Tapi, ya dasarnya mereka ini arwah orang-orang ‘hebat’, mereka suka gak mau ngalah atau nerima pendapat yang lain. Saling cela teori yang dikemukakan, bahkan Sherlock Holmes pun sempat dipandang sebelah mata.

Sementara para arwah laki-laki sibuk berpikir, apa yang terjadi dengan arwah perempuan? Arwah perempuan ini ternyata cerdas-cerdas, mereka juga mencari cara untuk bisa lolos dari Kapten Kidd. Biar seharusnya dalam keadaan ‘genting’, mereka ini tetap tenang.

Jangan bayangkan sosok Sherlock Holmes seperti yang bisa ditemui di buku-buku karya Sir Arthur Conan Doyle. Sherlock Holmes di sini, meskipun tetap dengan pengamatannya yang teliti, tapi agak ‘tinggi hati’. Ia menikmati kekaguman para arwah itu terhadap analisanya, karena dia kesal karena ketenarannya ‘dimatikan’ oleh sang penulis. Kali ini Holmes tidak ditemani sama sahabatnya, dr. Watson.

… “Mulai sekarang … aku bisa kembali ke bumi lagi,  bebas dari biaya, terlepas dari kenyataan pencipta agungku menginginkan aku di sana atau tidak. Aku tidak pernah menyetujui dia mematikanku seperti yang dilakukannya itu padahal aku sedang berada di puncak ketenaran.” (hal. 57)

Mungkin pada awalnya, agak kesulitan membaca buku ini, karena banyaknya tokoh yang terlibat. Tak ada tokoh sentral atau utama, bahkan Sherlock Holmes yang disebutkan dalam judul pun, tak terlalu dominan.

Yang menarik dalam buku ini adalah isu ‘girl power’. Para arwah perempuan ini menuntut kesetaraan. Keadaan sudah berubah – dibandingkan saat mereka masih hidup – mereka menuntut persamaan hak. Dan ini sempat membuat arwah laki-laki itu kebat-kebit, kebingungan.

Para tokoh di buku ini memang ditampilkan berbeda dari pada dalam cerita aslinya. John Kendrick Bangs membuat parodi atas tokoh-tokoh cerita maupun yang nyata. Hingga akhirnya, kita akan mendapati sosok yang mungkin konyol. Misalnya saja Nabi Nuh yang mengeluh ketika kapalnya diejek oleh para arwah yang lain. Atau terkadang mereka juga saling menyindir.

The Pursuit of the House-Boat ini merupakan sekuel dari buku dengan judul A House-Boat on the Styx.

Wednesday, April 17, 2013

Wishful Wednesday 29






Minggu ini pengen masukin buku yang ringan-ringan aja, biar balance sama minggu yang hectic ini. Dua minggu ini absen deh ikutan Wishful Wednesday gara-gara gak sempet bikin.

Sebenernya gue gak terlalu suka baca kumpulan cerpen tapi karena di kumcer ini ada beberapa penulis yang gue suka, jadi bolehlah masuk daftar wishlist. Apalagi nih, konon kabarnya, cerpennya Ika Natassa bikin orang-orang pada ‘kepo’.

Silahkan disimak sinopsisnya:



Cinta < adj >: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.

Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini.

Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan” dan menunjukkan kreativitas mereka dalam tema abadi sepanjang masa.

Inilah tumpahan rasa dan obsesi karya aliaZalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, dan Shandy Tan.


Yuk... yang juga mau ikutan Wishful Wednesday, ini rules-nya ya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Saturday, April 13, 2013

BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop




Wah.. gak terasa, Blogger Buku Indonesia sudah menginjak usia yang ke 2 tahun. Anggotanya juga semakin banyak, bahasan bukunya juga makin seru…

Selama ulang tahun ya, Bebi… semoga tambah gembul, tambah banyak teman, tambah ‘berjaya’ dan semakin banyak info perbukuan yang bisa dibagi ke teman-teman yang lain. I am proud to be part of you… *peluk Bebi*

Dan, seperti tahun lalu, di hari ulang tahunnya, Bebi mau berbagi kebahagiaan dengan mengajak teman-teman Bebi untuk ikutan giveaway yang host-nya terdiri dari para anggota Bebi. Jadi, silahkan blogwalking dan semoga beruntung di salah satu blog.

Seperti tahun lalu juga, blog Lemari Bukuku jadi salah satu host untuk giveaway. Karena ultah Bebi yang kedua, jadinya, buku yang akan dihadiahkan juga ada 2 – yaitu, The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang) – John Green dan Pintu Harmonika – Clara Ng & Icha Rahmanti. Jadi kamu yang ikutan giveaway, bisa pilih buku yang kamu mau seandainya kamu menang.

Berikut sinopsis masing-masing buku


The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang) – John Green

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.

Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hazel tetap optimistis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?

Novel ini membawa kita ke dunia para karakternya, yang sanggup menghadapi kesulitan dengan humor-humor dan kecerdasan. Di balik semua itu, terdapat renungan mengenai berharganya hidup dan bagaimana kita harus melewatinya



Pintu Harmonika – Clara Ng dan Icha Rahmanti

Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?

Giveaway akan berlangsung dari tanggal 13 April sampai 26 April 2013. Pemenang akan diumumkan tanggal 27 April 2013. Pemenang akan dihubungi via email atau twitter.


Silahkan isi form rafflecopter di bawah ini… and Good Luck…. !!
a Rafflecopter giveaway

Wednesday, April 10, 2013

The Hunter




The Hunter (Pemburu)
(Judul Asli: Kogoeru Kiba)
Asa Nonami @ 1996
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – Desember 2012
536 hal.
(Gramedia Gandaria City)

Seorang laki-laki tewas terbakar di sebuah restoran keluarga. Peristiwa ini sungguh tidak biasa. Pertama, karena laki-laki ini tiba-tiba saja terbakar ketika baru duduk di dalam restoran itu, kedua, di sekitar tempat duduk tidak ada benda-benda pemicu terjadinya kebakaran, misalnya kabel listrik atau mungkin kompor, ketiga, ada bekas gigitan anjing di kakinya. Dan pria ini adalah satu-satunya korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Pihak kepolisian bekerja keras mencari bukti-bukti di tengah reruntuhan bangunan dan memeriksa mayat laki-laki tersebut. Dibentuklah sebuah tim untuk kasus ini. Tim tersebut terbagi untuk menyelidiki identitas dan latar belakang laki-laki tersebut, saksi mata di lokasi kejadian, para penyewa kantor yang ada di gedung yang sama dengan restoran keluarga, dan penyelidikan tentang kemungkinan digunakannya bahan peledak atau bom waktu yang menyebabkan laki-laki tersebut terbakar. Laki-laki ini belakangan diketahui bernama Takuma Sugawara atau dengan nama asli Teruo Hara.

Detektif Takako Otomichi, mantan polisi patroli sepeda motor, dipasangkan dengan detektif senior bernama Tamotsu Takizawa. Sejak awal mereka berdua dipasangkan, ‘suasana’ cenderung tak  bersahabat – pertama, karena sikap sini Takizawa, kedua, karena Otomichi yang perempuan. Langkanya keberadaan perempuan, membuat Otomochi dipandang sebelah mata. Di awal, Otomichi bersikap menjaga jarak, menjadi pengikut Takizawa dan cenderung diam. Bukan karena Otomichi begitu menghormati Takizawa, tapi bisa dibilang Otomichi juga gak terlalu senang dengan pasangannya yang kaku ini. Otomichi juga tak ingin terlihat lemah di hadapan Takizawa.

Kasus Teruo Hara belum menunjukkan titik terang, kembali ditemukan korban bernama Kazuki Horikawa. Korban ditemukan dalam keadaan mengerikan. Korban tewas digigit oleh anjing. Dilihat dari bekas gigitan, jejaknya sama dengan yang ada di tubuh Teruo Hara. Mulailah diselidiki lebih lanjut apa hubungan antara kedua pria ini.

Korban kembali berjatuhan dengan ciri-ciri yang sama – yaitu tewas karena serangan seekor anjing. Dan tampaknya, anjing ini bukanlah anjing biasa, melainkan anjing dengan ukuran tubuh yang tampaknya lebih besar daripada anjing lain.

Otomichi yang tekun mencatat, berkesimpulan bahwa bukan tidak mungkin anjing ini adalah perkawinan silang antara anjing dan serigala. Ciri-cirinya, anjing serigala ini akan menurut apa yang diperintahkan tuannya. Ia akan mengingat segala perintah dan akan menuntaskan tugas-tugas yang diberikan.

Siapa yang memiliki anjing serigala ini? Siapa yang melatihnya hingga mampu melakukan perbuatan yang mengerikan? Apa motifnya? Dendamkah? Hal ini yang menjadi fokus penyelidikan Takako Otomichi dan Takizawa.

Sementara itu, selain disibukkan dengan penyelidikan kasus pembunuhan berantai ini, pembaca juga diajak mengetahui apa yang ada di balik sosok kedua detektif ini. Persamaan dari keduanya adalah sama-sama sudah berpisah dengan pasangan masing-masing, sama-sama kesepiaan. Otomichi berpisah karena mantan suaminya selingkuh, sedangkan Takizawa ditinggal oleh istrinya. Untung dipasangkannya kedua detektif ini gak berujung pada kisah romantis. Meskipun sih, biar sedikit gengsi, mereka berdua saling peduli.

Otomichi sedang dalam masa ‘keemasan’ di karirnya, belakangan ia dipercaya untuk mengejar si anjing serigala ini dengan motornya. Adakalanya, ketika sedang mewawancarai saksi, Otomichi hanya duduk manis, membiarkan Takizawa yang akan terus memburu petunjuk baru dari saksi.

Sementara Takizawa yang semakin tua, terkadang agak susah bergerak karena tubuhnya yang menggemuk, tapi tak mengurangi kemampuannya untuk menganalisa jika ada petunjuk baru. Sosok Takizawa juga sering kali tak sabaran.

Ketika muncul petunjuk tentang ‘anjing-serigala’, gue sempat berpikir, apakah cerita ini akan mengarah ke cerita fantasi, apakah hewan itu adalah werewolf. Karena anjing serigala ini digambarkan cerdas dan mampu menyelesaikan tugas, meskipun tuannya tak ada di sampingnya. Tapi, namanya juga anjing-serigala, semakin banyak ‘darah’ serigala di dalam tubuhnya, maka sifatnya akan semakin mirip serigala, bukan lagi anjing.

Sosok polisi, khususnya Takizawa di sini tidak digambarkan sebagai  superheroes yang ganteng, dan berbadan bagus. Tapi, dengan masalah-masalah pribadi mereka, menjadikan mereka lebih manusiaswi, terutama sosok Takizawa yang mulai kewalahan dengan bentuk badannya.

Otomichi berusaha tampil menjadi perempuan yang kuat dan punya kemampuan di tengah-tengah dominasi kaum pria yang sering memandangnya sebelah mata hanya karena fisiknya dan sering meragukan kemampuannya. Tapi, saat-saat Otomichi mengejar si anjing serigala dengan motornya, rasanya jadi ‘adegan’ yang menggambarkan kebebasan – entah bagi Otomichi, juga bagi si anjing-serigala. Di sinilah Otomichi, kalau gue liat, berada di tempat yang ‘pas’.

Seperti novel-novel thriller Jepang yang beberapa kali gue baca, kembali digambarkan tindakan kriminal yang sadis dan bernuansa gelap.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang